Bab 2

Belajar dari kematian Sarko yang membawa rahasia pribadi, termasuk rahasia hati dan pikirannya ke alam baka, Setro telah menceritakan kisah hidupnya kepada empat anaknya. Bukan hanya sekali dua kali Setro bercerita, tapi berkali-kali. Setro berharap kalau ada satu anaknya lupa, maka yang lainnya ingat.

Mereka harus ingat bahwa ayah mereka sebenarnya bukan kere, bukan orang miskin andai kata haknya tidak dirampas orang lain. Orang yang merampas haknya itu sebenarnya tidak layak disebut orang lain karena masih ada garis keturunan dengan ayah mereka. Orang yang merampas hak Setro itu Sarko, paman Setro.

Anak-anak Setro memanggil Sarko dengan sebutan Mbah Sarko, atau Kakek Sarko. Basudo, Setiyono, Setiyani, dan Tarnoto mungkin benci setengah mati pada Sarko. Namun mereka tidak bisa memungkiri bahwa Sarko adalah kakek mereka.

Bagi Setiyono, Setiyani, dan Tarnoto, mungkin penderitaan Setro tidak begitu menoreh luka di hati. Namun bagi Basudo, perampasan hak tanah milik Setro oleh Sarko membuat Basudo sangat terluka hatinya. Kemiskinan yang mendera, membuat Setro bekerja apa saja demi mencukupi kebutuhan anak-anaknya.

Setro bekerja sebagai tukang parkir gelap di Pasar Bubudan bagian timur. Pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Tawangtalun menyebutnya tukang parkir liar. Penderitaan Setro berimbas pada Basudo.

Basudo ikut menderita karena sejak kecil sudah harus bekerja membantu ibunya. Basudo bekerja membantu ibunya demi menghidupi ketiga adiknya. Dengan keadaan seperti itu, Basudo bisa lulus SMK jurusan mesin, sudah merupakan anugerah Tuhan yang tak terkira.

Luka hati Basudo membuatnya dendam pada Sarko. Ingin suatu saat nanti dia membalas dendam pada Sarko. Hanya saja, Basudo tidak bisa melampiaskan rasa dendamnya kepada Sarko karena Sarko sudah keburu mati!

Brengsek! Kenapa Sarko mati sebelum aku balas dendam pada si tua bangka itu?Umpat Basudo dalam hati saat melayat di rumah Sarko. Andaikata Sarko panjang umurnya, aku bisa menyiksa batinnya dengan caraku sendiri.

Pada saat Sarko masih hidup, Sarko sering menserviskan sepeda motornya di Bengkel Bleduk milik Sigrak. Basudo kerja di Bengkel Bleduk. Letak Bengkel Bleduk di sebelah timur Pasar Bubudan, tidak jauh dari tempat kerja Setro.

Setiap kali Sarko ke Bengkel Bleduk, Basudo berupaya mengerjakan sepeda motor orang lain, bukan sepeda motor Sarko. Kebenciannya terhadap Sarko sudah tidak bisa ditutupi lagi. Bagi Basudo, haram rasanya menservis sepeda motor Sarko!

“Kamu jangan seperti itu pada Paman Sarko!” nasehat Setro kepada Basudo suatu hari. Ketika keduanya makan siang di warung. Warung makan itu terletak di timur Pasar Bubudan.

“Apa pun kelakuannya pada kita,” lanjut Setro, “dia tetap saja kakekmu. Dia juga pelanggan di Bengkel Bleduk. Kalau kamu bersikap seperti itu pada Paman Sarko, lalu dia pindah ke bengkel lain, maka bosmu akan kehilangan satu pelanggan.”

“Kehilangan satu pelanggan sama saja berkurang penghasilan Bengkel Bleduk,” Setro menjelaskan. “Kalau kejadian itu makin hari makin bertambah, maka Bengkel Bleduk bisa banyak kehilangan pelanggan.”

“Akibat terburuk Bengkel Bleduk menjadi bengkel yang tidak laku dan tutup. Kamu mau kerja di mana kalau sampai bengkel tutup?” tanya Setro.

“Di sebelah timur Pasar Bubudan,” jawab Basudo dengan nada ringan. Lalu Basudo tersenyum, “Hanya bercanda, Pak. Baiklah, sejak besok Basudo tidak akan memperlihatkan perasaan bencinya pada Sarko.”

Sengaja Basudo tidak menggunakan panggilan ‘Kakek’ atau ‘Mbah’ ketika menyebut nama Sarko. Hal itu sebagai ungkapan ketidaksenangan Basudo pada Sarko.

“Nah, itu baru anak Bapak. Basudo…, kalau kamu ingin melakukan balas dendam pada Paman Sarko. Boleh-boleh saja, tapi jangan menggunakan kekerasan.”

“Jangan pula kamu melakukan sesuatu yang mencolok,” nasihat Setro. “Kamu bisa melakukan balas dendam dengan cara yang tidak kelihatan. Kamu bisa membuatnya sengsara seumur hidup tanpa diketahui bahwa kamulah yang menyebabkannya.”

“Caranya bagaimana, Pak?”

“Kamu kok seperti anak kecil saja, Basudo! Gunakan cara halus. Bahkan cara yang paling halus. Terserah bagaimana caranya, kamu bisa merancangnya sejak sekarang.”

Setro menambahkan, “Sejak sekarang, kamu bisa pikirkan bagaimana caranya agar kamu bisa dekat sama Paman Sarko. Setelah kamu dekat, kalau suatu saat kamu melakukan balas dendam, tidak ada yang mencurigaimu.”

Basudo mengikuti saran ayahnya. Namun keinginan Basudo untuk membalas dendam tidak terlampiaskan. Sarko meninggal dunia.

Sarko telah pulang ke alam keabadian, terbebas dari balas dendam. Basudo berada dalam penyesalan yang tiada ujung. Penyesalan seumur hidupnya.

Sekitar jam delapan Basudo bangun tidur. Ada sebuah rencana besar yang akan dia lakukan saat ini. Hari ini. Sebuah rencana yang telah dirancang selama tiga hari.

Dengan cara yang akan dilakukannya nanti, dia berharap persoalan yang dihadapi Setiyani selesai. Selesai tanpa menyisakan masalah lain. Selesai tanpa ada beban batin.

Kegiatan yang dilakukan Basudo seperti hari-hari sebelumnya. Bangun tidur setelah jam tujuh, mandi, sarapan, berangkat kerja dengan naik sepeda motor jenis bebek empat tak. Warna hitam sepeda motornya makin tampak kusam karena catnya sudah mengelupas dan berkarat.

Walau sepeda motornya sudah bermesin tua, tetapi terawat. Sepeda motor itu masih mampu melaju di atas sembilan puluh kilometer per jam. Basudo memakai helm warna hitam ke Bengkel Bleduk.

Memakai helm ketika ke Bengkel Bleduk merupakan sesuatu yang lain dari biasanya. Dalam keseharian, dia tidak memakai helm karena jarak dari rumah ke Bengkel Bleduk hanya beberapa ratus meter. Kelakuan Basudo yang lain dari biasanya, tidak mengundang kecurigaan siapa pun.

Setelah makan siang, Basudo pamit pada Sigrak. Dia pamit ke Tawangtalun untuk membeli gandum. Sigrak mengijinkan dengan pesan, “Setelah selesai keperluanmu, segera kembali ke bengkel!”

“Ya, Mas,” jawab Basudo singkat.

Basudo memenuhi pesan Sigrak. Tidak lebih dari tiga jam, Basudo sudah kembali ke Bengkel Bleduk. Bekerja seperti biasanya.

Sigrak sibuk menservis belasan sepeda motor. Dia tidak tahu pasti berapa lama Basudo pergi. Dia hanya memperkirakan kepergian Basuda sekitar satu sampai dua jam.

Kenyataannya, Basudo ke Tawangtalun sekitar tiga jam. Padahal kalau waktu normal, bepergian ke Tawangtalun hanya untuk membeli gandum, paling lama hanya membutuhkan waktu satu jam. Sigrak, atau siapa pun orang yang berada di Bengkel Bleduk, tidak menduga. Juga tidak menyangka apa yang sebenarnya dilakukan Basudo selain membeli gandum pesanan ibunya.

Basudo memang membeli gandum merk khusus yang tidak ada di Pasar Bubudan. Basudo langsung memulangkan gandum untuk bahan membuat makanan gorengan sebelum kembali ke Bengkel Bleduk. Namun ada suatu urusan selain urusan gandum.

Sesuatu yang lain telah dilakukan Basudo tadi. Suatu tindakan yang kelak sangat berpengaruh bagi peruntungan Basudo. Suatu tindakan yang menjadi dasar Basudo merajut jalinan kisah hidupnya. Kisah hidup yang penuh dengan genangan darah seiring melayangnya ribuan nyawa manusia…!

***

Bab 3

Demonstrasi mahasiswa minta penguasa turun, kenaikan harga sembako (sembilan bahan pokok) yang melambung tak terkendali, dan isu akan meledaknya kerusuhan sosial di ibukota, menenggelamkan berita kematian Ketua Kelompok Tukang Parkir (Kotupar) se-Kabupaten Tawangtalun.

Ketua Kotupar Kabupaten Tawangtalun bernama Migo. Nama lengkapnya Semigo, tetapi populer dipanggil Migo. Migo berwajah tampan, berkumis tipis, berlaku sopan. Perawakannya sedang, tidak tinggi, juga bukan pendek.

Di kalangan tukang parkir se-Kabupaten Tawangtalun, Migo sangat terkenal. Migo yang mengetuai Kotupar wilayah Kabupaten Tawangtalun. Kedekatan Migo dengan Sambikala, Bupati Tawangtalun, membuatnya bisa mendapatkan kedudukannya yang sekarang ini.

“Wajar saja Migo menjadi ketua Kotupar Tawangtalun,” kata Sobelah kepada Basudo suatu malam. Keduanya sedang duduk lesehan di atas tikar sambil menikmati wedang jahe dan aneka gorengan di angkringan Mbah Demung. Angkringan itu berada di timur Pasar Bubudan.

“Ketika mengikuti pemilukada dua tahun lalu, Sambikala mendapatkan bantuan dana yang besar dari Migo,” Sobelah mengemukakan alasan. “Sebagai balas budi atas bantuan Migo, Sambikala memberikan proyek parkir se-Kabupaten Tawangtalun untuk Migo.”

“Sejak menjadi ketua Kotupar, Migo makin berjaya kehidupan ekonominya,” Sobelah melanjutkan ceritanya. “Migo laki-laki yang beruntung. Punya istri cantik. Bisa cepat menumpuk uang para tukang parkir yang jumlahnya ribuan orang.”

Sobelah menyeruput wedang jahenya, lalu berkata, “Selain itu, dia juga terus menambah kekayaannya dengan membangun rumah baru. Rumah baru bukan hanya satu, tetapi dua sekaligus. Dua rumah untuk dua istri barunya!”

Basudo menimpali kata-kata Sobelah, “Sejak masih menjadi makelar sepeda motor, Migo memang sudah digilai banyak gadis. Begitu pula saat menjadi makelar mobil, Migo lebih digandrungi para gadis. Gilanya lagi, para gadis itu rela menjadi istri simpanan Migo!”

“Itu namanya keberuntungan yang tak disangka-sangka,” Sobelah menanggapi. “Sudah kaya, digilai banyak wanita. Tapi aku kasihan sama Lindri, istri pertama Migo. Lindri tidak berdaya apa-apa ketika Migo mempunyai dua gadis simpanan di dua kota yang berbeda.”

“Eh, dua gadis itu gadis simpanan atau istri simpanan?”

“Sama saja, Basudo. Intinya, mereka itu wanita simpanan, hehehehehe...”

“Siapa nama mereka? Jadi penasaran nih!”

“Kalau nggak salah, yang satu bernama Irene tinggal di Kota Sukagiri, Ibukota Propinsi Sukagiri. Gadis satunya bernama Nickita, tinggal di Kota Jayaloka, Ibukota Negara Indasoka.”

“Lindri selama hidupnya tidak pernah bekerja,” Sobelah menambahkan. “Dia tidak pernah merasakan suka-dukanya mencari uang. Lindri begitu lulus SMA langsung dilamar dan menjadi istri Migo. Lindri diam saja ketika ada selentingan kabar kalau suaminya menikah siri dengan dua gadis.”

“Bagi Lindri, yang penting Migo tetap pulang,” lanjut Sobelah. “Tidak berniat menceraikannya. Dalam hati, Lindri bahkan merasa minder terhadap saingannya. Dua gadis yang dinikah siri itu anak kuliahan.”

“Irene lulusan manajemen di Universitas Sukagiri Perkasa, Nickita lulusan hukum perdata Universitas Pancasakti Jayaloka,” kata Sobelah. “Universitas Sukagiri Perkasa adalah universitas negeri terbaik di Indasoka. Universitas Pancasakti kampus swasta paling bermutu di Indasoka.”

Semua orang Tawangtalun tahu kekayaan Migo makin menumpuk ketika dia membuka usaha dealer sepeda motor di Sukagiri dan Jayaloka. Dua dealer itu diserahkan kepada ‘manajer’ yang bernama lengkap Irene, SE dan Nickita, SH. Irene menjadi manajer Dealer Migo Sembada di Sukagiri, Nickita memegang jabatan manajer Dealer Migo Perkasa di Jayaloka.

Selain itu, Migo mengelola enam lembaga keuangan kecil-kecilan di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Tawangtalun. Untuk urusan yang terakhir ini, dia mempercayakan seorang lulusan akuntansi Bandras University di Negara Selapura.

Selapura negara super adidaya yang kekuasannya di atas bumi ini tak ada tandingannya. Seluruh negara yang ingin selamat sebagai sebuah negara di atas bumi ini harus tunduk pada Selapura. Termasuk adanya kewajiban bagi seluruh negara di dunia ini untuk menguliahkan sebagian warganya di Selapura.

Kalun, nama pemuda lulusan Bandras University, dipercaya Migo untuk mengelola enam KSP (Koperasi Simpan Pinjam) Migo Nani. KSP Migo Nani yang ada di enam kecamatan, dikelola Kalun sebagai manajer utama. KSP Migo Nani berkedudukan di Tawangtalun kota.

Sayang sungguh disayang….

Kisah hidup Migo mirip kisah hidup laron. Laron adalah binatang jenis serangga yang tinggalnya di dalam tanah. Pada saat tertentu, yakni musim hujan, keluar dari sarangnya untuk melihat sinar terang yakni langit.

Saat terbang ke langit, banyak binatang jenis burung dan unggas yang siap memangsanya. Saat laron sedang terbang menuju titik terang, disambar elang. Ada yang belum terbang tinggi sudah dipatok ayam.

Saat Migo berada di puncak ketenaran dan meraih banyak kekayaan, dirinya mati. Mati secara tragis. Mati karena mobil yang dikendarainya terjun bebas ke jurang yang dalam di Bukit Selolarang.

Bukit Selolarang terletak di selatan Kota Tawangtalun. Jarak antara Kota Tawangtalun dengan Bukit Selolarang sekitar enampuluh kilometer. Bukit Selolarang termasuk wilayah Kabupaten Tawangtalun, berbatasan dengan Kabupaten Wonojodas.

Di bukit itu tumbuh belasan vila mewah milik orang-orang kaya dari berbagai kota. Satu di antara vila itu milik Migo. Diperkirakan Migo pulang dari vilanya dalam keadaan mengantuk. Dalam keadaan mengantuk dan lengah, sehingga lepas kontrol.

“Kasihan sekali si Migo,” kata Sobelah sambil menikmati mendoan hangat. “Dia mati secara mengenaskan.”

Basudo tidak menanggapi kata-kata Sobelah. Basudo malah berkata, “Sudah malam. Aku pulang duluan ya! Sudah ngantuk.”

*

Koran lokal Tawangtalun Post memberitakan cukup mendalam tentang kematian Migo dibandingkan koran lain. Cukup mendalam dalam arti tidak hanya beberapa paragraf saja. Selain Tawangtalun Post, ada koran gosip alias koran kuning Harian Melawan yang sangat mendalam memberitakan kematian Migo.

Harian Melawan termasuk koran murahan berskala propinsi. Harga koran itu murah meriah. Banyak gambar sadis dan porno menghiasi beberapa halamannya. Harian Melawan mengupas lebih dalam kematian Migo dari sisi lain, yakni gosip, intrik politik, dan konspirasi.

Kaum intelektual dan profesional hanya tersenyum sinis. Dalam sebuah ulasan khususnya, Harian Melawan menduga ada konspirasi nasional yang mengincar nyawa Migo karena diindikasikan Migo ingin mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilihan presiden beberapa tahun ke depan!

“Mana mungkin ketua tukang parkir mau mencalonkan diri menjadi presiden?” Begitu tanya sinis banyak orang. “Agaknya redaksi Harian Melawan terlalu banyak nonton sinetron!”

Ketika orang-orang ramai membicarakan kematian Migo di Bengkel Bleduk, Basudo terlihat tenang. Tak peduli. Baginya yang penting bekerja sebaik-baiknya sebagai anak buah Sigrak.

Soal Migo mati, atau bupati meninggal dunia, atau menteri wafat, atau presiden mangkat, Basudo tidak ambil pusing. Rajin bekerja sebagai anak buah Sigrak adalah yang utama.

Sulitnya mencari kerja, membuat Basudo tidak ingin main-main dengan pekerjaannya. Tidak heran Sigrak sangat perhatian pada Basudo. Bahkan Basudo merupakan anah buah kepercayaannya dibandingkan enam anak buah lainnya.

Meskipun Basudo tidak peduli atas kematian Migo, tetapi diam-diam dia menyimpan berbagai macam koran terbitan lokal, regional, dan nasional yang memberitakan Migo. Basudo melakukan itu karena dia tertarik kasus kematian Migo.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED