Bab 2

Rasa kaget Erina sepertinya tidak bisa terkendali lagi. Apalagi penasaran dengan suami dari sahabatku itu. Selama ini mereka sudah kenal sejak sekolah dasar. Sania mengetahui jika hari ini Erina akan menikah, bahkan wanita itu juga diundang. Lalu kenapa Sania pula tiba-tiba menikah di hari yang sama dengan dirinya?

Jemari tangan Erina sudah tidak tahan lagi, akhirnya ia mengetik sebuah pesan membalas story sosmed hijau dari sahabatnya itu karena memang ia sudah benar-benar tidak tahan lagi untuk menampung rasa penasaran.

[Loh, San, kamu kan aku undang ke acara pernikahan aku. Tapi kenapa kamu malah nikah juga hari ini? Kenapa juga wajah suamimu ditutupi stiker begitu?]

Sembari menunggu balasan pesan yang tidak kunjung dibuka oleh sahabatnya, guru les mata pelajaran sekolah itu pun pulang ke rumahnya dengan perasaan yang masih campur aduk. Antara marah dan kesal bersatu serta rasa kecewa dan juga rasa malu.

"Duh, Neng Erina kecut banget wajahnya nggak jadi nikah."

Tiba-tiba dia diolok.

Erina hanya menoleh dengan tetangga yang berpapasan di jalan dengan dirinya. Apakah mereka juga tidak memiliki anak gadis?

Apakah mereka tidak berpikir jika hal ini bisa terjadi juga kepada anak gadis mereka? Kenapa mereka bisa-bisanya menertawai semua kesedihannya hari ini.

"Meranalah dia, Bu. Nggak jadi malam pertama. Kikikik."

"Padahal sudah ngayalin ibadah bareng suami baru. Wakakakak."

Erina menghentikan langkahnya, sepertinya ia tidak pernah mencari masalah dengan siapapun di sini. Lantas kenapa mereka justru menertawai kegagalan menikahnya hari ini? Memangnya siapa yang tahu jika hari ini jembatan akan putus?

"Mau jadi mantu orang kaya, eh, tidak jadi. Sudah pasang tenda, sudah masak-masak semuanya dibuang mubazir."

"Loh, memangnya kenapa, Bu? Toh, pernikahan ini cuma ditunda, bukan gagal total." Erina mencoba menepis.

Gadis itu masih tetap saja menatap ke arah ibu-ibu yang tengah mencemoohnya, tanpa memikirkan jika di sini dialah korban. Memangnya siapa yang mengetahui bencana alam seperti itu jembatan yang biasanya mereka lewati masih kokoh lalu tiba-tiba dihantam oleh derasnya air. Siapa yang akan tahu?

Erina mengepalkan kedua tangannya, ucapan dari mereka benar-benar bukan ucapan seorang wanita yang sepertinya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh wanita lain. Apakah mereka tidak mengetahui hukum tabur tuai itu benar-benar ada?

Tak berselang lama, Erina melihat seorang ibu yang menggunakan jilbab begitu lebar menghampiri mereka. Sepertinya sosok itu tadi mendengar apa yang diucapkan oleh ibu yang lainnya.

"Kenapa kalian menyindir Erina, bukankah semua ini hanya sebuah kecelakaan saja dan setelah jembatan diperbaiki maka pernikahan itu akan segera dilanjutkan bukan? Kenapa justru kalian mencemoohnya seperti itu?"

Hanya wanita berjilbab itulah yang membela Erina, sedangkan yang lain hanya bisa mencemooh dan menghinanya. Tanpa peduli tentang apa yang dirasakan oleh wanita bersurai panjang tersebut.

"Itu memang benar, lantas apa yang kalian permasalahkan. Lagi pula tenda serta makanan itu kan uang dari ibuku, bukan kalian yang membiayai semuanya?" ungkap Erina kesal.

Erina kemudian berlari ke rumahnya. Mereka tidak ikut andil apa-apa, lalu mereka mengomentari tentang apa yang terjadi, sebaiknya mereka diam saja karena seluruh biaya juga ditanggung oleh keluarganya dan bukan ditanggung oleh tetangganya masing-masing. Tidak pantas mereka harus ikut campur mengenai hal ini.

***

Erina sudah mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih nyaman lagi. Menggunakan kebaya yang sudah kotor karena jalanan begitu becek, membuat ia gelisah, bahkan rumahnya pun sekarang sudah sangat sepi. Sanak keluarga yang jauh pun sudah pamit karena memang mereka sepertinya membutuhkan ketenangan daripada banyak orang yang mengeluarkan opini opini yang begitu sumbang.

Erina mendengus panjang dan duduk di sofa rumahnya. Ia mencoba menelepon Zaid sang kekasih, tetapi tidak ada jawaban. Hal tersebut benar-benar membuat dirinya panik,kenapa sejak tadi calon suaminya itu sangat sulit untuk dihubungi, apakah ada terkendala jaringan juga di rumahnya sampai-sampai sangat sulit ditelepon? Dia hanya ingin mendapatkan sebuah kejelasan atas pernikahan yang tidak jadi dilangsungkan tersebut. Banyak hal yang ingin dirinya ceritakan kepada lelaki itu, tentang cemoohan dari tetangga-tetangganya yang menyindir dengan begitu kejam.

Erina juga menghubungi wanita bernama Jamilah, selaku ibu kandung dari Zaid, tetapi tak kunjung diangkat juga. Erina semakin sebal.

"Kenapa mereka berdua sangat sulit untuk dihubungi?" Erina pusing dan juga sangat kesal karena keduanya tidak ada yang bisa ditelepon. Biasanya mereka langsung merespon jika ia menghubungi.

Erina akhirnya memilih untuk menaruh ponsel itu di meja karena ia sudah pegal sejak tadi menaruh gawai tersebut di telinganya. Berharap jika akan ada yang menjawab panggilan teleponnya. Berulang kali, bahkan ia sudah tidak menghitung berapa banyak panggilan telepon tersebut. Hanya berujung nomor yang anda tuju tidak aktif terus menerus.

Setelahnya, handphone Erina berdenting singkat dan dia mengecek ada pesan masuk dari Sania. Dia buru-buru membukanya.

[Eh, iya. Maaf ya, besti. Sebenarnya aku memang nikah juga hari ini. Aku nggak bilang sama kamu, takut kamu kecewa. Rencananya Setelah nikah aku mau datang ke acara kamu juga, tapi sayangnya kamu gagal nikah kan? Soalnya jembatan penghubung desa kita putus.]

Erina jelas kaget membaca pesan tersebut karena selama ini Sania tampak tidak memiliki gandengan. Lantas kenapa sahabatnya itu tiba-tiba menikah, saat ia sibuk untuk fitting baju, Sania seperti terlihat biasa saja.

[Kenapa kamu nggak jujur samaku, kalau kamu selama ini memiliki kekasih? Bahkan hari pernikahan kita juga sama, Sania.]

Erina kembali mengirimkan balasan tersebut kepada sahabatnya, karena ia benar-benar begitu terkejut dengan apa yang baru saja dia ketahui. Sebuah berita yang membuat hatinya berdebar dahsyat.

Dirinya juga sedikit merasa iri, pasti sekarang sahabatnya tengah berbahagia, berbeda dengan dia yang tengah dilanda rasa kecewa.

[Maaf, maaf, aku kira aku dan dia tidak berjodoh, ternyata kita berjodoh. Aku hanya tidak ingin mengumbar pasanganku aja.]

Erina banyak bertanya mengenai pernikahan Sania dan lelaki yang wajahnya ditutup oleh stiker itu, bahkan saat ditanya nama pun, Sania tidak mau menjawabnya. Namun, Sania berjanji kepadanya suatu saat nanti pasti akan mempertemukan Erina dengan suaminya tersebut.

[Suamiku orangnya pemalu, Erina.]

Begitulah pesan terakhir yang Erina terima dari Sania selaku teman dekatnya sejak lawas.

Wanita yang gagal nikah itu kembali mengotak-atik ponsel, setelah urusannya bersama Sania selesai

Namun, tiba-tiba dia melihat Zaid alias calon suaminya membuat story di sosmed hijau tersebut. Padahal sejak tadi dia tidak mau terus panggilan Erina.

'ALHAMDULILLAH, SEMUA BERJALAN LANCAR.'

Degh!

Erina heran setengah mati. Tadi lelaki itu sangat sulit dihubungi, bahkan pesan-pesan yang dia kirimkan put tidak mendapat balasan.

Lalu, lelaki itu bisa membuat story bahkan dengan caption yang benar-benar menyala untuk dirinya.

Lancar apanya? Pernikahan Zaid dan Erina gagal total. Jadi, tidak mungkin status itu ditujukan untuk acara akad mereka hari ini.

Jadi, lancar apa yang Zaid maksud? Pikiran Erina melayang-layang. Apa yang sedang dilakukan oleh lelaki pemilik kebun teh tersebut?

Bab 3

Tanpa menunggu lama, karena pesan yang ia kirimkan tidak mendapatkan jawaban, maka Erina langsung komen status pacarnya tersebut. Daripada dirinya selalu diliputi rasa curiga dan prasangka yang tidak benar kepada calon suaminya itu, lebih baik dia meluapkan saja rasa penasarannya daripada menduga-duga yang justru akan berakibat terjadinya berprasangka buruk dan menuduh yang tidak tidak mengenai kekasihnya itu.

[Kenapa kamu, Mas? Kenapa bikin status kayak gitu? Acara apa yang kamu maksud?]

Gadis itu benar-benar sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya, seperti sebuah teka-teki sulit yang harus dia pecahkan, bahkan hatinya pun masih saja merasa perih dan juga kecewa, akibat pernikahannya yang batal dilangsungkan hari ini. Apalagi orang-orang sudah berkata yang sangat tidak enak, membuat semuanya terasa begitu berat dan juga pahit untuk dirinya lewati.

Lelaki itu belum kunjung membalas. Semakin membuat Erina resah pastinya. Ia kemudian menelepon Zaid, hingga pada akhirnya panggilan itu diangkat setelah 2 panggilan tidak terjawab.

Karena lelaki itu sangat sulit dihubungi dan setelah bisa dihubungi benar-benar membuat dirinya merasa begitu lega. Walaupun hanya sebuah panggilan, tetap saja membuat dirinya merasa begitu tenang. Kabar dari lelaki itu memang selalu dirinya tunggu.

Dan, jembatan itu pun entah kapan akan direnovasi lagi dirinya belum mengetahui dan pastinya akan memakan waktu yang cukup lama.

"Untuk apa kamu membuat status seperti itu? Bukannya hari ini acara pernikahan kita batal karena jembatan putus? Lalu ucapan Alhamdulillah semuanya lancar itu untuk apa?" tanya Erina saat panggilannya berhasil tersambung.

Erina saja sampai tidak mau membuka sosial media, karena sangat malu pasti akan banyak teman-temannya yang menanyakan kenapa acara pernikahannya batal dilangsungkan hari ini dan dirinya yakin diantara yang bertanya tersebut hanya mereka hanya ingin tahu saja, bukan ingin memahami dirinya.

"Oh, aku bikin status buat aqiqahan anak temen aku, Erina. Mending aku hibur diri dengan pergi ke acara teman ketimbang meratapi pernikahan kita yang gagal hari ini," balasnya to the point.

Zaid si lelaki kaya pemilik kebun teh dari desa manggis itu mengakui kegelisahannya dan berusaha untuk mengalihkan perhatian dalam mencari kegiatan lain. Erina mendengarkan dengan seksama. Erina berpikir positif, kalau ini adalah alasan tervalid kenapa Zaid susah dihubungi sejak tadi.

"Aku boleh tahu nggak, Mas? Kalau begitu video call saja," pinta Erina.

"Jangan dulu, ya, karena aku lagi mau ngobrol dengan mereka, karena udah lama tidak bertemu, lain kali saja, ya," tolak Zaid.

Erina sudah melakukan sambungan video call, berakhir dengan penolakan dari lelaki itu.

Lalu Zaid mematikan telepon secara sepihak tanpa menunggu respon Erina lagi.

Erina semakin kesal dan perasaannya campur aduk saat ini. Dirinya bersandar kepada sofa, kenapa sih suaminya itu tidak merasa menyesal karena pernikahan mereka batal bahkan lelaki itu tidak berusaha untuk menghiburnya. Justru kenapa Zaid bertingkah aneh seperti ini? Semuanya benar-benar sangat di luar dugaan.

Setelah sambungan telepon dari calon suaminya itu putus, Erina kembali mengambil ponselnya lagi yang baru saja ditaruh di meja. Dirinya langsung saja menelepon Ibu Jamilah alias calon mertuanya. Karena dirinya sudah melihat jika nomor ponsel dari calon mertuanya itu sudah aktif, maka ia langsung tergesa-gesa untuk menghubunginya dan bertanya mengenai Zaid. Pasti wanita itu mengetahui dimana keberadaan dari calon suaminya tersebut.

"Halo, Bu. Sekarang Mas Zaid ada di mana ya, kok dari tadi sulit dihubungi?" tanya Erina setelah panggilan telepon tersebut tersambung. Dirinya benar-benar begitu penasaran karena semuanya sangat buram dan tidak ada kejelasan sama sekali.

"Zaid ada di rumah dan ibu juga di rumah, kenapa, Erina?"

Mendengar jawaban dari calon mertuanya itu justru membuat Erina semakin aneh saja, kenapa jawaban di antara keduanya tidak sama. Erina merasa begitu bodoh dan tertipu. Entah siapa sebenarnya yang berbohong di antara mereka berdua. Lantas, dirinya harus mempercayai siapa sekarang?

Zaid mengatakan jika dia sedang berada di tempat temannya, lalu ibunya mengatakan jika Zaid ada di rumah.

"Bu, kenapa sepertinya di rumah ramai sekali ya?" tanya Erina.

Wanita itu hanya mengatakan jika saudara mereka yang tadi hendak datang ke acara pernikahan, belum pulang dan masih menetap di rumahnya. Maka dari itu sangat ramai.

Erina yakin jika Zaid seperti menyembunyikan sesuatu di tengah musibah yang menimpa mereka berdua.

Calon mertuanya itu langsung saja menutup sambungan teleponnya karena mengatakan tidak enak dengan para saudaranya yang masih menetap.

Ibu Erina kemudian datang dan duduk di samping putri semata wayangnya itu. Wanita bernama Abidah tersebut mengusap punggung tangan Erina.

"Kamu harus sabar ya, Nduk, kamu tidak perlu mendengarkan omongan-omongan orang. Yakinlah pada dirimu sendiri, ini cuma musibah dan setelah jembatan diperbaiki semuanya akan baik-baik saja. Kamu dan Zaid bakalan menikah secepatnya," ujar Bu Abidah.

Erina memaksa tersenyum. Memang benar saat-saat seperti ini hanya ibunya lah yang mampu menjadi tumpuan bagi dirinya dan dijadikan tempat untuk mengadu serta berkeluh kesah.

"Iya Bu, Ibu juga yang sabar. Pasti Ibu terpukul banget karena kejadian ini."

Wanita itu mengangguk lalu terus saja memberikan semangat untuk putrinya agar tetap bisa melanjutkan hidup. Ini semua hanyalah sebuah musibah yang harus mereka lewati, anggap saja sebagai ujian pernikahan untuk dirinya dan Zaid.

"Ibu mau beresin sisa-sisa makanan di sini. Mau ngasih ke warga yang lain juga daripada basi nantinya."

Erina mengangguk, lalu dirinya juga membantu sang ibu untuk membereskan sisa-sisa pesta yang tidak jadi dilaksanakan tersebut. Memang sebagian masakan sudah dibawa pulang oleh para tetangga yang membantunya, lalu kue-kue yang mudah basi pun sudah dibagikan kepada semuanya. Namun, masih juga ada sisa yang wajib disortir kepada masyarakat yang belum dapat di desa tersebut ketimbang mubazir.

Entahlah jembatan itu pun pasti pembangunannya tidak akan sebentar dan memakan waktu, daripada busuk dan berjamur lebih baik dibagikan saja.

***

Jam sebelas malam dirinya belum bisa tertidur. Kejadian tadi, benar-benar mengguncang jiwanya, bahkan ia juga tidak bisa berpikir dengan tenang. Erina iseng menghubungi Zaid karena entah kenapa seharian ini lelaki itu tidak ada menghubungi yang lebih dulu.

Padahal biasanya pacarnya itu selalu rutin menghubunginya, jika ia tidak membalas pesannya pasti langsung menelpon. Namun, berbeda dengan hari ini. Lelaki itu seperti berubah dan tidak memiliki waktu lagi untuk dirinya. Erina ingin menanyakan apakah Zaid juga tidak bisa tidur karena peristiwa hari ini atau justru dia anteng-anteng saja seperti tidak terjadi sesuatu. Erina juga ingin bercerita tentang banyak sekali orang-orang yang sudah mencemoohnya.

Tak butuh waktu lama, Zaid pun langsung mengangkat telepon.

Suasana hening sekali, berbeda saat siang tadi. Karena tadi juga Erina tidak mampu mendengar dengan jelas suara pria yang masih berstatus sebagai tunangannya tersebut, sebab begitu bising.

"Kamu di mana, Mas?" tanya Erina.

"Aku sudah pulang dan sekarang aku lagi istirahat, Erina."

"Emmm, aku mau ceri-"

Belum sempat Erina menyelesaikan ucapan, tiba-tiba saja terdengar suara lembut nan asing dari seberang sana. Ya, lebih tepatnya di lokasi Zaid berada saat ini.

"Kamu teleponan sama siapa, Mas?" Begitulah yang Erina dengar.

Jantung Erina serasa melompat. Sedetik kemudian telepon itu sontak mati. Suara perempuan mana itu?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED