Bab 2

"Meski kamu sama Will, tetap saja, dia kan anak cowok. Kamu sadar nggak, bella, kamu tuh anak perempuan. PE—RA—WAN. Mana boleh anak perempuan keluyuran sampai malam begini. Aaghh, bukan malam, ini udah pagi buta ya. Cepat pulang! Pokoknya pulang sekarang juga, bawa Willy sekalian. Awas saja kalo kamu berbohong!”

Ancam ibunya Anna tidak mau tahu, yang dia inginkan sekarang anak perawannya segera pulang. Ini karena Annabella ketahuan emaknya saat kabur dari kamar.

"Will nggak gitu kok, Ma, dia anak baik-baik dan penurut. Nggak akan macam-macam sama Anna, Ma," Anna mencoba menjelaskan dengan suara tak biasanya. Jika dihadapkan dengan sang mama, Anna akan bersikap seperti kucing penurut dan lemah agar dia tidak diamuk makin gede sama mamanya.

"Nggak usah bikin pembelaan ya. Kamu mau debat sama Mama? Hah? Cepat pulang, dalam 30 menit kamu nggak sampai rumah, jangan harap kamu bisa keluar lagi!" amuk sang ibu dengan nada oktaf yang tinggi.

"Iya, iya, Ma, aku pulang, ini lagi di jalan kok. Mama jangan marah lagi, ini udah ya mah, aku matiin dan tolong bukain pagarnya ya, Mah." Anna segera mematikan ponselnya. Telinganya sudah seperti terbakar oleh ocehan sang ibu.

"Yah … kebiasaan lo, nanti gue lagi yang kena marah mama lo," oceh sungut Will tidak terima kalau dia menjadi samsak tinju untuk Annabella.

"Ya ampun, segitu perhitungannya lo sama gue. Gue janji, pokoknya, asal kali ini selamat, uang menang taruhan tadi gue bagi 2 ama lo deh," bujuk Anna, dia sedang asik memasukkan kakinya dalam balutan celana jeans belel robek robek. Willy hanya bisa melirik kelakuan teman bar bar nya, dia bahkan sudah benar-benar tidak peduli kalau di sampingnya adalah laki-laki.

"Ann," ucap Willy penuh penekanan, tapi kepalanya tidak berani menoleh.

"Uhm, apaan?" Anna menjawab, tapi kini dia sambil memasukkan kedua tangan ke dalam kaos hingga terlihatlah dengan jelas dua benda kenyal Annabella tergencet di kedua tangannya.

"Ya ampun ANNABELLA, gila lo ya!" teriak Will kelabakan. Kepanasan. Otot-otot di bawahnya mulai geram dan tiba-tiba meronta tambah sesak. Bagaimanapun, dia tetap laki-laki normal dengan hawa nafsunya menggebu jika disuguhkan pertunjukan panas tanpa sengaja olehnya.

"Apaan sih? Bawel deh lo kayak mama gue. Berisik tauukk!!” dengus Annabella sudah benar-benar meloloskan kedua tangannya. Ciitt. Tiba-tiba mobil Willy berhenti dan dia menoleh pada gadis yang sudah berpakaian lengkap.

"Aww! Apaan sih, jangan berhenti mendadak dong!" oceh cicit Annabella ngomel, dia protes hampir saja kepalanya terbentur dashboard.

"Gila ya. Gue udah bilang berkali-kali, kalau lo ganti baju di belakang. Nggak usah di depan gue. Lo paham nggak sih, Ann? Lo benar-benar nggak ngerti bahasa manusia ya?" saking kesalnya Will sudah menekan emosi kepala atas dan bawahnya yang makin terasa nyut-nyutan.

"Ya ampun perkara ganti baju doang. Bawel. Ribut banget. Banyak omong Lo. Gitu aja lo sewot. Lagian bukannya lo nggak pernah nafsu ama gue. Lo bilang kan gue cowok juga kayak lo. Udah deh nggak usah debat sekarang. Cepet balik, mama gue nanti tambah ngoceh, nanti gue dan lo juga yang rugi kena Omelan dia."

Annabella malas berdebat panjang, bagi Anna dia tidak merasa ada sikap yang berbeda pada Will. Selama ini, Anna sudah menganggap Willy sebagai teman laki-laki yang bisa diandalkan.

Tapi itu dulu. Dulu memang Will biasa aja terhadap Anna. Namun, sejak peristiwa kehilangan kedua orangtuanya akibat kecelakaan pesawat tiga tahun lalu, yang menjadi teman curhat dan kemanapun adalah Anna. Perlahan, rasa pertemanan dalam hati Will pun terkikis.

Meski Anna cuek dan tomboy. Diam-diam dia selalu menjaga dan membelanya. Hanya saja, Anna memang tidak pernah peka dengan perasaan yang dia miliki.

Sekali lagi bagi Annabella anti mainstream pacar-pacaran. Buat dia, itu hanya bikin alergi gatal-gatal seluruh badan apa lagi menjalaninya. Karena dari itu, satu tahun belakang ini, perasaannya pada gadis itu berbeda.

"Bukan masalah ganti bajunya, Anna, Lo paham ga sih maksud gue? Gue ini cowok, lo cewek!" Willy menarik nafas dalam-dalam saat mencoba memberikan pengertian pada gadis itu. Rasanya kepala dia hampir meledak dengan sikap terlalu cuek Annabella.

"Udah deh, kalau lo mau ajak gue gelut ama ribut, jangan sekarang, besok aja, ok. Sekarang cepat pulang. Mama gue nanti tambah nyap nyap ini," meski slengean dan terkenal penguasa jalan saat balapan liar, Annabella akan ciut kalau dihadapkan dengan ibunya.

"Oke. Kita bahas ini besok. Sekarang pegangan yang kenceng!" sudah pasti Will menyerah dengan gadis itu, dia hanya bisa mengalah dan menarik nafasnya lagi.

Di lirik nya penampilan Anna sekarang sudah seperti anak kucing imut dan penurut. Anna menggerai rambut kuncir kudanya tadi dibiarkan terurai panjang, bergelombang dan tidak akan ada pernah mengira kalau penampilan gadis itu akan berubah 180 derajat kalau sudah nggak dihadapkan ibunya. Tidak akan ada yang tahu kelakuan anak perempuan semata wayang mereka kalau dia adalah si cewek tomboy dan doyan balapan liar.

Decitan suara mesin mobil langsung membuka gerbang rumah bercat putih dan bertembok tinggi itu. Mobil Willy masuk pekarangan rumah Anna. Dari dalam mobil, gadis itu sudah melihat ibunya mondar mandir di depan pintu sambil berkacak pinggang.

"Selamat malam, Tante," sapa Willy lebih dulu dan kebiasaan Ann kalau sedang disudutkan oleh masalah seperti itu, dia lebih memilih bersembunyi di belakang tubuhnya.

"Pagi, Will, ini sudah pagi. Bukan malam lagi tauk. Kalian kemana saja, hah? Kalau tadi mbok Roro nggak cek kamar kamu, Mama nggak tau ya kalau kamu keluar kamar tanpa izin," oceh dan delikan ibunya Anna saat tahu anak perawannya hilang dari kamar.

"I–iyyaaa, Tan, maaf, tadi mendesak. Hehehe, tadi aku ajak Bella melompat dari jendela," siap siap lah dia kena amuk ibunya Ann, padahal kalau di flashback ulang, Ann lah pelaku utama yang mengatur semua demi dapat taruhan jajan dari balapan 100 juta itu.

"Ya ampun, Will. Kamu bener bener deh. Bella ini kan anak perempuan, masa disuruh lompat sih? Hhuh!" spontan ibunya Ann menjewer telinganya Will.

"Aw, aw, ampun, Tan, ampuuuunn, maafin aku, Tan, aku janji nggak akan gitu lagi. Aku cuma ajak Bella keluar sebentar, lagian tadi kan malam minggu, Tan," ucap Will sekenanya mencari alasan. Padahal jelas tadi Ann bilang sedang belajar kelompok dengannya.

"Kamu juga ya, Bell, masih saja begitu. Mau aja diajak. Kalau mau keluar kan biasanya kamu bilang Mama, nggak usah kayak gitu. Mama ini khawatir dan cemas, Bell, Mama takut kamu kenapa napa," dari omelannya, tetap aja ibunya sangat mengkhawatirkan Ann.

"I–iya, maafin, Bella ya, Mah, Bell janji nggak akan kayak gini lagi. Sekarang Bell ngantuk banget Mah, boleh Bell istirahat?” ucapnya, lemah dan lembut. Ditambah pura-pura menguap. Ibunya hanya bisa mengusap dada. Mengkhawatirkan anak perawannya hilang takut di gondol maling.

"Ya sudah, Mama maafin sekarang. Pokoknya nggak ada ya kayak begini lagi. Mama akan kunci kamar, nggak ada uang jajan untuk kamu dan kamu nggak boleh keluar dalam 1 bulan. Itu hukuman kalau kamu ngulangin lagi," ucap ibunya penuh tekanan.

"Janji Mah, nggak akan ngulangin kok. Oya, Mah, Will nginep ya. Kasihan juga kalau pulang jam segini. Lagian kan ini hari minggu, Mah," Annabella sengaja menyelipkan izin saat sudah dimaafkan oleh ibunya.

"Ya sudah, nanti mau dibangunin jam berapa buat sarapan atau makan siang? Atau mau diantar ke kamar sama mbok Roro?" ucap ibunya melirik anaknya bergantian pada Will yang sudah lemas dan sedang mengucek-ngucek mata.

"Anterin aja deh, Mah, Bell lagi malas keluar kamar. Antar 2 porsi ke kamar ya, Mah. Aku mau tidur dulu," jawab Ann, kode keras saat gadis itu menggandeng lengan Will saat akan masuk ke dalam rumahnya.

Bab 3

Untung ibunya Ann percaya. Dia hanya geleng-geleng kepala saat melihat anak gadisnya ngeloyor pergi sambil menggandeng lengan Will. Saking percaya dengan Willy, ibunya Ann tidak pernah protes kalau anak perawannya membawa masuk dia ke dalam kamar. Ibunya percaya betul, karena dia sudah menganggap Willy seperti anak laki-laki di keluarga Lourdes.

Jadi William Bolton alias Willy sering menginap di rumahnya. Lalu untuk urusan backup memback up dia akan maju sebagai pembela gadis itu.

Suara pintu ditutup Ann. Kini Dia bisa bernafas lega.

"Gue mandi sebentar ya, Will. Badan gue lengket banget!" Ann berjalan ke arah lemari baju mengambil handuk dan memasuki kamar mandi yang tidak jauh dari lemari bajunya.

"Dasar cewek bar bar. Untung aja gue masih waras, Ann, kalau gue nggak tahan, tadi di mobil lo udah gua makan habis. Sabar Willy sabar, tunggu sebentar lagi. Ann pasti akan sadar dan memahami perasaan lo," comel hati Will kecut berbicara sendiri sambil menatap gadis itu masuk kamar mandi. Dia mengelus dada saking menahan diri dengan sikap Bar-barnya Ann.

“Will, Willy!!" teriakan Ann dari kamar mandi. Dia kaget dan mendekat, dia mengetuk pintu kamar mandi.

"Ada apa?"

"Tolong ambilin kutang ama daleman gue di lemari. Tadi gue lupa bawa," ucapnya tanpa dosa.

"Apaan?" Dia merasa telinganya salah dengar.

"Lo budek, yaaa? Gue bilang, ambilin kutang gue ama daleman. Ambil yang warna hitam. Lo ngerti kan?" Mata Will melotot sambil menelan ludah. Sekali lagi, dia dihadapkan dengan sikap bar-barnya.

"Lo jangan gila, Ann. Masa gue buka lemari baju lo!" protesnya. Dia bukan tidak terima, tapi didalam mobil saja dia sudah mengatur adik kecilnya agar tidak berbuat aksi yang nyeleneh. Eh, sekarang, si putri bar bar seakan menggoda dengan permintaan gilanya.

"Ya ampun, Will!" Dan, brakk!! Pintu kamar mandi dibuka, Ann keluar dari kamar mandi. Jeng jeng jeng, Ann melenggang tanpa dosa. Balutan tubuhnya hanya tertutup setengah. Selama ini, meski Wil sering menginap, dia tidak pernah bersikap seperti itu. Kebanyakan gadis itu langsung tidur menggunakan baju yang dipakainya. Tetapi, malam ini berbeda, Ann nggak ingin sampai ibunya tahu atau mencium aroma bensin ataupun knalpot motor dari tubuhnya.

"Elo kalo budek? Besok siang apa sore kita ke dokter THT. Masa lo nggak ngerti kutang. Ini kutang nih, ini…." Ann kembali melakukan aksi gilanya. Melemparkan kutang tadi ke wajahnya.

"Sialan lo! Gue paham kali. Tapi, gila aja, masa yang beginian gue yang ambil juga. Lo kira-kira sedikit. Begini juga gue masih lelaki normal," oceh cicitnya, sebenarnya dia sedang menegaskan diri dan memproklamirkan bahwa saat ini Willy tidak menganggapnya sebagai teman laki-laki lagi.

"Apaan sih, Lo? Nggak jelas. Ngapain sih ngomong begituan terus. Mau lo, Bram apa Bisma, sama aja, temen gue. Paham kan lo!" Mau dibilang bagaimanpun Annabella tetap nggak peka. Kembali Willy menghela napas dan mengusap dadanya.

"Terserah. Gue ngantuk. Gue tidur duluan!" Panas kalau terus beradu debat dengan Ann yang nggak mau kalah. Willy memilih pergi. Willy berjalan ke arah sofa yang nggak jauh dari kasur gadis bar-bar itu. Melemparkan diri lalu segera memejamkan matanya.

"Ya ampun, Ann, Kapan lo bakal ngerti perasaan gue," ucap Willy dalam hati.

Suara ketukan pintu berbunyi. Annabella berjalan mendekat dan membuka pintunya.

"Non Bella, ini mau ditaruh di mana?" seorang pelayan rumahan berusia paruh baya dengan pakaian daster sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

"Eh, mbok Ro, ini pasti Mama yang nyuruh ya?"

"Iya Non, Ibu bilang, non Bella laper. Jadi Mbok Roro tadi bikinin nasi goreng. Nggak apa-apa kan, Non? Soalnya kalau bikin makanan lain takut kelamaan, jadi Mbok bikin aja yang simple," Mbok Roro berjalan masuk saat Ann membuka pintunya.

"Iya, Mbok, nggak apa-apa kok. Yang penting aku masih bisa isi perut. Tadi pas belajar sama Willy, Dian belum sempat makan," ucapannya lemah gemulai berbeda dengan Ann saat berbicara dengan Willy.

"Huh, bisa aja tuh bacot si Ann kalo di depan pembantunya," oceh hati Willy lagi. Dia belum benar-benar tidur karena telinganya sedang menguping pembicaraan gadis itu dengan sang pembantu.

"Ya udah, Non, ini Mbok taruh sini aja ya," Mboki meletakkan nampan yang berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas air mineral.

"Iya, Mbok. Makasih banyak ya, Mbok. Aku jadi ngerepotin Mbok malam-malam begini, eh salah, maksudku pagi deh, hehehe," Ann menggaruk kepalanya yang tidak gatal berakting jadi putri malu lagi.

Mboki keluar kamar dan Ann segera menutup juga mengunci pintu kamarnya. Dia tidak ingin kalau tiba-tiba emaknya masuk atau Mbok yang dikenal sebagai intel emaknya menerobos juga melaporkan kegiatannya di dalam kamar bersama Willy.

"Woi! Bangun nggak usah pura-pura tidur lagi lo!" Teriakannya sambil melemparkan bantal ke wajah Willy yang masih pura-pura tidur.

"Anjaaaay!" Willy spontan terbangun tepat saat bantal yang dilempar tadi menghantam wajahnya, "kira kira sedikit, gue orang bukan patung!" omel cicit Willy lagi.

"Yaelah segitu aja lo sewot. Sini makan dulu. Lo juga lapar kan. Habis itu lo lanjut molor lagi," tetap saja bahasa Ann bar bar saat bersama dengan Willy. Willy duduk sebentar lalu beranjak dan mendekat kearah meja kecil di depan kasur Ann. Ann dan Willy duduk di lantai tanpa alas.

Diam diam Willy melirik cara makan gadis itu. Kaki satu dilipat dan yang satu jadi penopang tangannya. Benar benar makan seperti laki-laki.

"Ann!" jujur Willy merasa sedikit terganggu. Terganggu karena dengan posisi seperti itu dalaman hitam berenda milik Ann langsung terpajang dimata Willy.

Gadis itu tidur dengan memakai kaos kebesaran hingga kutang hitamnya juga terlihat tembus pandang dimata Willy.

"Hmmm!"

"Lo nggak bisa duduk yang benar?"

"Apaan sih lo?" Dia menoleh dengan mulut yang penuh dengan nasi.

"Astaga, Ann , ya ampun!" saking kesalnya Willy menoyor kepala gadis itu.

"Anjay! Sialan! Apaan sih? Nggak jelas banget sih lo!" omelnya, tapi dia nggak membalas toyoran Willy.

"Lo nggak bisa apa …." Willy sedikit ragu mengatakannya.

"Bisa apaan? Hmm?"

"Itu, duduk lo," Willy memberi kode dengan satu alisnya yang diangkat.

"Duduk gue? Kenapa duduk gue?" masih saja Ann nggak sadar diri.

"Iya, duduk lo, bisa gak lo bersikap layaknya anak perempuan," meluncur juga dari mulut Willy.

"Apaan sih??" malah Ann mengerutkan dahinya.

"Iya, lo kan perempuan, duduk lo bisa dong lebih sopan. Apalagi di depan cowok. Ditata gitu!" seketika mulut Ann membuka dengan lebar.

Hampir saja dia nggak percaya. Anna spontan menjatuhkan sendoknya lalu memegang jidat Willy, setelah itu tangannya dia agak sedikit mengangkat pantatnya. Menempelkan tangan tadi yang sempat di tempel di jidat Willy.

"Anjay. Salah minum obat. Sakit jiwa lo ya? Kok lo kayak emak gue. Atau jangan bilang ini emak gue yang nyuruh lo. Nggak gak. Gue yakin, lo salah minum obat," Anna masih nggak percaya kalo Willy akan mengatakan hal seperti tadi.

"Ya ampun, Anna, salah aja gue. Malah dikira gue salah minum obat. Lo tau gak sih? Gue tuh perhatian ama lo. Tolong peka sedikit, Ann. Gue sayang sama Lo, Ann!" oceh cicit Willy di hati lagi sambil menatap wajah gadis itu yang kaku kayak kanebo kering.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED