Bab 2

Dante POV

"Kalian cari sampai dapat!"

"Baik, Tuan." Balas seorang pria berjas hitam dengan mata sipit berkacamata.

Ia kemudian berlalu meninggalkan ruanganku bersama dengan dua orang pria berjas hitam lainnya. Aku kembali melanjutkan aktivitasku mengecek beberapa dokumen sambil sesekali menghisap rokok yang kuapit di kedua jari kananku.

.

.

.

Sejam berlalu, aku masih membuka lembar demi lembar kertas yang kini memenuhi meja kerjaku. Sampai di menit selanjutnya ponsel keluaran terbaru milikku berdering dan mengacaukan konsentrasiku. Aku mengangkatnya.

"Bawa dia kemari, Kai." Titahku lalu mematikan sambungan telepon setelah mendengar penjelasan dari salah satu bodyguard setiaku.

'Hmm... Para tikus itu berhasil kabur rupanya. Tapi apa mereka sengaja meninggalkan anaknya untuk mengalihkan perhatianku?' Pikirku kemudian membakar sebatang rokok lagi dan menghisapnya kuat-kuat sebelum melanjutkan pekerjaanku yang sempat terhenti.

.

.

.

Kini kondisi meja kerjaku kembali rapi. Aku masih sibuk dengan rokok dan tablet milikku, membaca tentang data diri keluarga Prozky. Dua kancing atas kemeja putihku telah terbuka. Sepertinya vodka yang kuminum sedikit demi sedikit ini berhasil membuatku kegerahan di ruangan kerjaku yang sama sekali tidak panas.

Tok.

Tok.

"Tuan, Kai datang ingin menemui anda." Ucap samar samar seorang pria dibalik pintu kerjaku.

"Masuk!" Jawabku singkat.

Aku menghentikan segala kegiatanku kecuali merokok dan melihat ke arah pintu yang dibuka oleh seorang laki laki yang masih muda, tampak gagah dengan setelanya, kemudian bersandar seolah menahan pintu. Seorang pria berjas hitam berkacamata yang biasa ku panggil Kai lalu masuk ke ruanganku.

Aku memperhatikannya berjalan mendekat seraya tetap terduduk. Perhatianku kini mulai teralihkan dengan sosok gadis muda yang dicengkram keras oleh Kai dan tampaknya sudah pasrah. Sosoknya sangat kecil sehingga tertutup oleh badan Kai yang menjulang. Kai berhenti tepat didepan mejaku lalu memberikan salamnya dengan sedikit membungkuk.

"Jadi, bagaimana?" Tanyaku singkat.

"Maaf, Tuan. Tampaknya seisi rumah berhasil mengendus penggerebekan tersebut. Kediamannya tampak kosong. Tuan Dexter, Ibu Christine dan Tuan Taylor telah kabur tanpa jejak. Seisi rumah telah kami periksa, tetapi kosong. Maafkan kami atas ketidak becusan kami, Tuan! Sebagai gantinya, kami menemukan Nona ini di kamarnya." Jelas Kai sambil menarik gadis tersebut untuk berdiri disebelahnya.

Aku memperhatikan gadis tersebut, masih dengan dress tidurnya. Rambut panjangnya terurai dan terlihat sedikit berantakan. Matanya sembab dan menunduk melihat lantai. Aku yakin pasti dia menangis melihat kejadian brutal itu. Kedua tangannya mencengkram ujung dress dan dia menggigit bibir bawahnya. Dan dia tidak memakai alas kaki.

"Kai, setidaknya biarkan dia memakai sendal atau semacamnya. Lihat akibat perbuatanmu, kau membuat lantai rumahku kotor!" Aku menghembuskan asap rokokku.

"Maafkan saya, Tuan!" Kai kembali membungkuk meminta maaf.

Aku berdiri dari singgasanaku lalu duduk di sofa yang memang ada di ruang kerjaku sambil tetap membawa rokok dan segelas vodka yang ku minum tadi. Aku duduk dengan gagah dan memberikan sinyal agar Kai melepaskan gadis itu dan membawanya duduk di hadapanku. Kai mengerti keinginanku lalu menyeret gadis tersebut untuk duduk di seberang sana. Gadis itu terduduk tanpa ekspresi. Kai lalu berdiri disampingnya.

"Halo. Perkenalkan saya Dante." Ucapku memperkenakan diri.

Gadis itu hanya diam menunduk. Aku paham kondisinya. Kulihat Kai mulai melirik sinis gadis itu,namun jentikan jariku berhasil menghentikannya. Kai melihatku lalu kembali terdiam.

"Maafkan saya atas ketidak nyamanan ini. Tapi saya membutuhkan informasi tentang keberadaan Ayah, Ibu atau Kakakmu. Apa kamu tau dimana mereka?" Tanyaku sehalus mungkin.

Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya sedikit.

"Baiklah, Nona. Tampaknya usiamu sekarang sudah menginjak dewasa. Jadi saya perlu menjelaskan kondisi yang terjadi sekarang." Ucapku sambil menyesapi vodkaku.

"Saya masih menganggap kamu sebagai anak dari rekan kerja saya. Jadi akan saya jelaskan sesingkat mungkin. Jauh sebelum perusahaan Ayahmu itu sukses, saya meminjamkan modal yang nilainya tidak sedikit di perusahaan ayahmu. Tapi sayangnya, iming iming imbal jasa yang telah disepakati itu tidak pernah ayahmu tepati. Tentunya tidak masalah buat saya, tapi saya sangat tidak menyukai ingkar janji. Entah siapa dalang di balik itu semua, tapi saya yakin Ayahmu bisa dimintai pertanggungjawaban." Aku memperhatikan gadis itu dengan saksama mencoba untuk mencari tau ekspresi apa yang di keluarkannya, tapi nihil.

"Intinya Ayah, Ibu dan Kakakmu berhutang. Saya pernah mencoba menarik sedikit keuntungan dari perusahan Ayahmu, tapi siapa sangka uang yang sedikit itu ternyata berhasil menggoyahkan kestabilan perusahaannya. Lalu selanjutnya segala investasi atas nama keluarga Prozky dialihkan secara diam diam, entah kemana dan atas nama siapa. Yang jelas saya akhirnya menyuruh anak buah saya untuk mencari keberadaan keluargamu sampai ke rumahmu. Karena mereka selalu menghindar. Jadi, apa saya salah untuk mengambil kembali apa yang sebenarnya milik saya?" Aku melihat sedikit pergerakan di seberang sana.

Gadis itu mulai menangis sesenggukan dalam hening.

"Jadi, tolong. Bisakah kamu memberi tahu saya dimana keberadaan keluargamu?" Tanyaku sebaik mungkin mencoba memastikan sekali lagi.

"A-a-aku... Tidak tau, Paman." Balasnya terbata bata.

'Hah? Paman? Siapa? Aku?' Batinku.

"Ka-kami masih menikmati makan malam bersama tadi, lalu Kak Taylor sempat memelukku sebelum—" Kata katanya terputus, dia lalu kembali terdiam sejenak lalu menangis sambil menjambak rambutnya.

Dret!

Dret!

Dret!!!

Aku teralihkan dengan suara getar ponselku di meja kerja. Aku beranjak meraihnya lalu menjawab panggilan telepon dari Victor anak buahku yang lainnya, sama seperti Kai.

"Apa?! Mereka berhasil kabur ke Jepang?" Kagetku lalu menoleh ke arah gadis itu.

Dia segera menatapku tak kalah kagetnya. Aku bisa melihat bola mata coklatnya yang cerah itu mengeluarkan air mata. Kantung matanya yang membengkak. Hidungnya yang memerah. Serta bibirnya yang basah dan sedikit lecet akibat gigitannya sendiri. Dan ekspresinya, membuatku ikut— Ah, Bagaimana bisa dia membuat ekspresi seperti itu?

"Baiklah, bubar!" Titahku kemudian mematikan sambungan telepon.

"Maaf gadis kecil, tampaknya keluargamu meninggalkanmu sendirian." Ucapku sambil terus memperhatikan ekspresinya yang tidak berubah.

Aku berjalan mendekatinya. Menarik beberapa lembar tisu lalu berjongkok di hadapannya.

"Tampaknya gadis kecil ini sudah bukan siapa siapa lagi, Kai. Jadi sekarang bagaimana caranya agar hutang keluarganya lunas?" Aku menyeka kedua matanya dengan tisu tersebut lalu membuangnya di pangkuannya.

"Baiklah!" Ucapku kemudian berdiri lalu kembali duduk di hadapannya.

"Apa kemampuanmu?" Tanyaku.

Dia masih terdiam terpaku dengan tatapan kosongnya.

"Bagaimana caramu membayar seluruh hutang orang tuamu?" Tanyaku lagi.

Dia masih bergeming.

"Kalau kamu masih diam, saya jual kamu!" Ancamku.

Aku tidak suka diacuhkan.

"Aku suka memasak dan bersih bersih, Paman!" Balasnya segera tersadar dari lamunannya.

"Anak kecil yang terbiasa hidup mewah dari lahir sepertimu, bisa masak?" Tanyaku tak yakin.

"I-iya. Aku juga kuliah di jurusan tata boga, dan nilai praktekku selalu bagus. Jadi aku cukup yakin dengan kemampuanku." Belanya.

Aku terdiam sesaat.

"Baiklah, mulai sekarang kamu akan bekerja disini. Tanpa gaji sampai hutang orang tuamu lunas. Dan jangan harap bisa lolos dari saya, Lylia Prozky." Aku menyebut namanya setelah membaca singkat data dirinya dari Eugene anak buahku yang lain, sebelum mereka tiba di ruanganku.

Aku menghisap rokokku dan menghembuskannya yang kemudian dibalas batuk olehnya. Baiklah tampaknya kesadarannya sudah kembali.

"Ba-baik, Paman." Balasnya lesu.

"Mulai sekarang panggil saya Tuan, Lylia." Aku memperdalam suaraku.

"Ba-baik, Tu-Tuan." Ucapnya kikuk.

Dante POV END

***

Bab 3

Lylia POV

Aku melihat sesosok monster, bertubuh besar dengan rambut pendek tertata rapi. Rahang yang tegas dengan tatapan mata yang tajam seolah mengintaiku sedang duduk dengan gagah di kursi singgasananya sambil menghisap sebatang rokok. Kemeja putih ketatnya yang tidak terkancing itu semakin menampilkan lekukan bahu dan dada bidangnya. Dia memperhatikanku tapi aku sangat ketakutan untuk melihat sosoknya yang mengerikan itu. Aku menunduk.

"Aaa!" Teriakku sembari membuka mataku.

Aku kembali memimpikan monster itu. Dan itu bukan mimpi. Kehidupan baruku kini dimulai sebagai salah satu asisten masak sang monster. Aku kembali mengingat tatapan tajam kedua pria itu. Suara bariton dan aroma maskulin mereka yang menusuk hidungku, membuatku bergidik ngeri. Tak lama aku melompat dari kasur dan kepalaku terasa berat serta pengelihatanku berputar.

'Ini akibatnya kalau nangis berlebihan Lylia!' Batinku.

Kegiatanku terhenti sejenak. Selang beberapa menit kulihat jam kecil di dinding kamar menunjukkan pukul 4 pagi. Tanpa berganti pakaian, karena aku memang tidak membawa sehelai pakaianpun, aku segera berlari keluar kamar menuju arah dapur. Sesampainya di dapur beberapa orang lengkap dengan pakaian juru masaknya, tampak sibuk dengan kegiatan masing masing. Aku mencoba membaur meskipun mereka menatap heran ke arahku.

"Ayo, ayo bergerak! Kalau kalian punya waktu luang, kerjakan yang lain saja dan jangan berhenti!" Ucap seorang pria dengan setelan kemeja hitamnya.

Ah- pria yang membukakan pintu semalam!

"Halo Lylia, perkenalkan saya Harley. Senang bertemu denganmu." Sapanya menghampiriku.

"Saya ragu kamu bisa langsung bekerja hari ini, apa kamu butuh waktu istirahat sehari?" Tanyanya sambil sedikit membungkukkan badan ke arahku agar aku bisa lebih jelas mendengarkannya.

"Halo Tuan Harley, terima kasih sudah menerimaku. Aku dalam kondisi baik baik saja Tuan, hanya saja aku merasa tidak nyaman dengan pakaian yang belum terganti." Ucapku tersipu malu.

Harley tersenyum.

"Baiklah Lylia, saya akan memberitahukan Tuan Dante terlebih dahulu. Untuk sekarang, karena kamu tidak banyak membantu, alangkah baiknya kalau kamu kembali saja beristirahat di kamar. Saya akan memastikan sebelum siang nanti, kamu akan mendapatkan pakaian baru."

"Baik Tuan Harley, terima kasih." Aku menunduk lalu segera berbalik mengarah ke kamar sederhana yang kini menjadi kamar tidurku.

"Baik sekali Tuan Harley. Berbeda dengan serigala berkacamata dan monster itu." Dumelku sendiri.

.

.

.

Saat aku membuka mata kulirik jam yang menunjukkan pukul 5 sore. Aku terperanjak dan melihat koper asing di kamarku. Ada secarik kertas yang menempel di depannya.

'Silahkan gunakan.' Tulisnya.

Oh? Baiklah. Ku buka koper yang ternyata penuh dengan berbagai macam kaos dan beberapa dress, handuk serta pakaian dalam dan setelan baju dapur. Sepertinya ini janji Harley. Aku mengambil beberapa lembar pakaian dan handuk lalu berlari untuk bersiap siap.

Waktu berlalu. Aku berlari menuju dapur, kulihat dapur masih dengan kondisi yang sama. Beberapa orang tampak sibuk mempersiapkan makan malam. Aku melihat sosok Harley yang juga ikut sibuk mengamati mereka satu persatu. Aku menghampirinya.

"Selamat sore Tuan Harley, apa ada yang bisa aku bantu?" Ucapku malu karena ini sudah menjelang malam dan aku baru menampakkan batang hidungku lagi.

"Oh, Lylia. Saya pikir kamu akan tertidur seharian seperti putri tidur."

*jleb*

Sindirannya sama seperti sindiran ibuku.

"Saya dan yang lainnya sedang sibuk sekarang. Apa kamu bisa membuat kopi?" Tanyanya sambil tetap berjalan mengecek pekerjaan yang lain.

"Bisa tuan" Jawabku yakin. Ayah dan kakak dulu sering ku buatkan kopi, karena cita citaku adalah membuat cafe ku sendiri.

"Baiklah." Senyumnya.

"Sekarang pergilah ke gedung utama. Masuk dari pintu sebelah kanan, itu akan membantumu lebih cepat sampai ke minibar. Begitu sampai tolong buatkan Tuan Dante segelas kopi dan frappucino untuk Tuan Nicolas. Itu akan sangat membantuku." Terangnya sambil sedikit memberikanku senyuman.

"Baik tuan, kau bisa mengandalkanku!" Aku semakin semangat begitu melihat senyumnya.

"Aku berangkat kalau begitu, Tuan Harley!" Pamitku segera berbalik mencari gedung utama.

Aku terpaku setelah berhasil keluar dari gedung ke-dua dari tiga gedung. Gedung utama sangat besar berada di depan gedung dua dan tiga yang ukurannya hampir setengah dari gedung utama. Semalam pencahayaan kurang begitu jelas saat Kai dan Harley mengantarku ke kamar. Jadi aku tidak begitu memperhatikan kondisi sekitar.

'Luas sekali sarang monster ini!' Kagumku.

Aku tersadar dari lamunanku dan segera berlari menuju gedung utama. Beberapa orang berjas hitam berada di beberapa sudut gedung ini mulai memperhatikanku sekilas lalu berbisik kemudian. Semakin kupercepat lariku untuk menghindari tatapan aneh mereka.

'Kanan, kanan, kanan. Pintu kanannya dari arah mana ini?! Aku lupa menanyakannya!' Kuhentikan lariku.

'Kanan dari arah gedung utama atau kanan dari gedung kedua?' Aku menunjuk kedua pintu yang arahnya cukup berjauhan.

'Ah sudahlah!' Aku berlari mantap membuka pintu yang ku anggap pintu kanan gedung utama.

Perlahan ku tutup pintu sebelum berjalan seperti biasa. Tanpa kusadari ada sosok di sudut sana yang tengah memperhatikanhku. Aku berjalan menyusuri ruang demi ruang, sampai menemukan ruangan bar dengan koleksi minuman keras yang terpajang rapi dan mesin kopi yang lumayan lengkap.

'Dari segi mana bar ini disebut minibar?' Tanyaku dalam hati lalu berjalan mendekat.

Untung saja mesin kopinya hampir sama dengan milik kampusku, jadi aku masih bisa mengoperasikannya.

"Lu siapa?"

Aku tertegun mendengar suara laki laki dari balik mesin kopi. Saat aku mengintip, tampak seorang laki laki yang masih muda berpakaian santai namun rapi masih dengan tubuh besar berototnya.

'Apa semua laki laki disini mempunyai badan sebesar gorilla?' Batinku.

Dia tampak semakin memperhatikanku. Karena sadar di perhatikan, aku menghentikan kegiatanku lalu berjalan keluar bar lalu menghadapnya. Menunduk sesaat untuk memberikan salam.

"Halo, namaku Lylia. Mulai sekarang aku akan bekerja di sini. Mohon bimbingannya tuan—" Kata kataku terputus saat aku melihatnya.

"Nicholas. Panggil gue Nico." Jawabnya sembari menyimpan kedua tangannya ke kantong celana pendek yang sedang ia gunakan.

"Sejak kapan lu kerja di sini? Setau gue, Bokap nggak akan mempekerjakan anak di bawah umur begini."

"Hah? Tidak Tuan Nico. Saya sudah cukup umur untuk bisa bekerja. Meskipun sekarang sebenarnya saya masih kuliah dan sekarang saya bekerja untuk melunas—" Bayangan keluargaku melintas di otakku.

Aku terdiam. Mataku yang menatap Nico mulai terasa berat dengan air yang menggenang di pelupuk mataku dan siap ku jatuhkan. Kutahan dengan mencengkram sisi celanaku dengan kuat.

"Hey, Sans. Apapun alasannya gue nggak peduli. Setidaknya kita seumuran. Gue juga masih kuliah kok. Jadi panggil gue Kakak aja dari pada Tuan. Gimana Ly?" Ucapnya dengan senyuman santainya.

"Di sini nggak ada yang seumuran gue, pada Om-Om dan Tante-Tante semua. Setidaknya dengan adanya lu, minimal gue ngerasa ada teman seumuranlah. Biar lu juga nggak cepet jadi tua karena kelamaan bergaul sama mereka." Tawanya renyah.

Tersimpan niat baik di setiap kata katanya menurutku.

"Baik, Kak Nico." Ucapku sambil tersenyum.

Kakak...

"Ya udah, lu lanjutin gih bikin kopinya. Gue temenin sambil ngobrol ya." Nico menarik kursi minibar kemudian duduk di atasnya. Aku yang melihatnya kemudian berjalan masuk kembali melanjutkan kegiatanku tentunya di temani 'Kak' Nico. Setidaknya aku menemukan sosok yang bercahaya di sarang monster yang suram ini.

Lylia POV END

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED