Mobil yang dikendarai Bernando Thomas tiba di sebuah rumah megah bergaya Victorian. Alana yang ada di samping laki-laki itu pun ternganga karena tak pernah dijumpai rumah megah secara langsung di depan matanya.
"Ini adalah rumah orang tuaku. Kita akan tinggal di sini," ujar Bernando Thomas berceletuk di dalam mobil.
Alana masih dirundung tak percaya, karena dia tak pernah menduga akan menjadi bagian dari keluarga Bernando Thomas meski hanya sebatas menjadi seorang istri sewaan. Tak bisa dipungkiri Alana memang sedih, dadanya begitu teriris karena dia harus memerankan peran wanita asing yang tak pernah dia temui, wanita asing yang hanya dia kenali bernama Calista.
Alana juga merasakan miris karena dia harus merelakan dirinya dan kehidupannya, tetapi mau bagaimana lagi? Semua demi sang ibu.
"Pakailah! Aku tidak ingin orang tuaku menanyakan cincin pernikahanku dan Calista," ujar Bernando Thomas seraya menyerahkan cincin silver dengan batu permata biru itu.
Alana tak menerima cincin yang telah ada di hadapannya itu. Wanita itu sejenak melihat betapa cantik dan indahnya cincin yang diberikan oleh Bernando Thomas.
'Cincinnya sangat cantik. Pasti aku sangat bahagia jika aku memang betulan istri dari Pak Dokter Thomas,' batin Alana berharap-harap.
"Alana," panggil, Bernando Thomas yang seketika menyentak lamunan Alana.
"Eh? Ya, Pak? Sa-Saya akan pakai," ujar Alana buru-buru seraya mengambil cincin dari dalam kotak bludru berawarna navy itu. Kemudian dengan segera Alana menyematkan cincin berlian itu ke jari manisnya.
Diam-diam, Bernando Thomas mengamati setiap tindakan Alana. Laki-laki itu bahkan melihat jelas Alana menyematkan cincin berlian dengan ukuran Calista ke jari manis wanita bernama Alana.
"Pas ya? Aku kira tidak," ujar Bernando.
"Itu adalah ukuran Calista, aku pikir kamu tidak akan pas memakainya," imbuh Bernando lagi.
Alana terkekeh kecil sesaat. "Pas kok," timpalnya singkat.
"Baguslah kalau begitu," ujar Bernando Thomas seraya mengangguk-angguk.
"Alana," panggil Bernando Thomas dengan serius yang sontak membuat Alana menoleh ke arah Thomas.
"Ya, Pak?"
"Mulai sekarang jangan panggil aku "Pak". Panggil seperti suami istri saja. Panggil aku "Mas," ujar Bernando Thomas yang menyentak Alana bahkan menyebabkan pipi wanita itu bersemu merah jambu.
Alana tak menimpali dengan segera. Wanita itu sibuk dengan semua kata yang bergerumbul di dalam benaknya. Perasaannya campur aduk dan debar jantungnya juga semakin meningkat. 'Aku harus memanggil Mas?' batin Alana bertanya lagi seraya dirundung debar-debar.
Tak bisa dipungkiri debar jantung Alana semakin meningkat, perasaannya tak karuan karena dia mesti memanggil Bernando dengan sebutan Mas. 'Ingat Alana! Ingat! Pak Dokter ini bukan suamimu, dia hanya meminta bantuanmu dan kamu juga membutuhkan uang darinya. Jangan baper, Alana! Jangan baper!' batin Alana menasihati dirinya sendiri.
Alana lantas menghela napasnya panjang berusaha menghilangkan rasa berkecamuk dalam dada. "Ba-Baik, Pak. Eh, Mas," ujarnya lalu terkekeh kecil.
"Bagus. Sekarang namamu juga Calista dan aku akan memanggilmu dengan Calista," ujar Bernando Thomas mengingatkan.
Alana mengangguk kecil dengan tatapan sendu. Wajahnya juga diliputi ragu. Kesenduan wajah Alana pun menimbulkan gelisah serta pedih bagi Bernando Thomas. Hingga akhirnya, untuk pertama kalinya Bernando Thomas menepuk pundak Alana yang sontak menyebabkan wanita itu menoleh ke arah Bernando Thomas.
"Aku tahu kamu belum terbiasa dengan hal ini, Alana. Tetapi, aku yakin kamu akan mulai terbiasa ke depannya," ujar Bernando dengan senyum tulus di bibirnya.
Alana mengangguk kecil. "Iya, Mas. Saya akan mulai terbiasa kok," timpal Alana berusaha menyesuaikan diri.
"Baguslah. Aku akan selalu membantu kamu jika terjadi kesulitan," ujar Bernando.
"Kalau begitu, sekarang ayo masuk ke dalam," imbuh Bernando mengajak Alana.
Alana dengan segera mengangguk kecil menuruti laki-laki yang berprofesi sebagai dokter sekaligus laki-laki yang membantu perawatan ibunya itu.
Alana melenggang mengekori Bernando yang melangkah ke dalam rumah megah. Alana mengamati setiap detail rumah megah sebelum masuk ke dalamnya. Wanita itu semakin sendu karena dia sadar setiap langkahnya yang tersisa adalah langkah Alana Swastika dan ketika dia sudah masuk ke dalam rumah megah itu, dia sudah berbeda, dia menjadi Calista, istri dari Bernando Thomas.
*
Alana tiba di dalam rumah megah, wanita itu tersenyum mengembang kala mengetahui wanita paruh baya dan laki-laki paruh baya tersenyum dengan kedatangannya.
Wanita paruh baya itu tak lain tak bukan adalah ibu Bernando Thomas, bernama Adya Dimitri dan laki-laki paruh baya itu adalah ayah dari Bernando Thomas bernama Ben Dimitri.
"Hallo, Sayang! Apa kabar? Sudah lama sekali tidak bertemu. Bagaimana bulan madunya? Dan bagaimana perjalanannya?" tanya wanita paruh baya itu seraya memeluk Alana dengan penuh kasih, senyum sumringah nan hangat pun melingkupi.
Alana mulai merasakan dirinya diterima dalam nama Calista Thomas. Dan dia juga mulai menyesuaikan dengan keadaan.
"Ma, tanya satu-satu saja dong. Kita baru pulang loh," ujar Bernando Thomas menyela setelah mendengar Alana mendapatkan cecaran pertanyaan dari sang mama.
Wanita paruh baya itu terkekeh kecil mendengar complain dari sang putra semata wayang. Dan dengan segera, Adya Dimitri melepas dekapannya dari Alana.
"Maaf ya, Sayang. Mama terlalu bahagia dengan kedatangan kamu dan Thomas. Mama juga sudah rindu dengan kalian. Kamu dan Thomas sudah di Belanda selama 2 bulan lebih. Jadi maklum ya," ujar wanita paruh baya itu dengan hangat.
Alana terkekeh kecil mendengar penuturan wanita yang ada di hadapannya itu. "Tidak apa-apa kok, Ma," timpal Alana berusaha menyesuaikan diri.
"Keadaan Calista dan Mas Thomas baik, Ma. Kami menikmati Belanda selama dua bulan," imbuh Alana tak lupa dengan senyum tipisnya.
"Syukurlah, Sayang. Mama dan Papa ikut bahagia kalau begitu," sahut laki-laki paruh baya yang tak lain tak bukan adalah papa Bernando Thomas.
"Kalau begitu, sekarang istirahatlah, Nak. Papa dan Mama yakin perjalanan panjang kalian melelahkan. Ajak istrimu naik, Thomas. Biar dia istirahat," imbuh laki-laki paruh baya itu.
"Iya, Pa," timpal Bernando Thomas dan segera mengajak Alana naik ke lantai dua.
Tak ada yang tahu jika Bernando Thomas telah berada di Indonesia. Kedua orang tuanya hanya mengetahui bahwa Bernando Thomas dan sang istri baru saja tiba setelah melakukan penerbangan dari Belanda.
Rencana Bernando Thomas benar-benar berjalan mulus. Laki-laki itu lega karena tidak mendapatkan kecurigaan sama sekali dari papa dan mamanya.
"Terima kasih, Alana. Aku tidak tahu jika kamu sangat pandai berakting," ujar Bernando Thomas seraya membukakan pintu kamarnya.
Alana terkekeh kecil meski miris. Bagaimanapun juga ada perasaan tak nyaman di dalam dada Alana karena dia mesti melakukan kebohongan kepada kedua orang tua yang tak tahu apa-apa itu.
"Tidak masalah, Pak. Saya dulu pernah bermain drama ketika SMA. Jadi, hal ini sedikit mudah bagi saya," timpal Alana bohong.
"Baguslah kalau begitu," timpal Bernando Thomas dengan seutas senyum di bibirnya.
"Oh ya, sekarang ini adalah kamar kita. Aku dan kamu akan tidur di sini. Tetapi, kamu tenang saja. Kita tidak akan tidur seranjang. Aku akan tidur di sofa dan kamu tidur di ranjang," imbuh Thomas menjelaskan.
Alana tak menimpali dengan segera, wanita itu sibuk meneliti setiap jengkal yang ada di kamar itu. Ranjang king size dengan berselimut putih yang halus dan juga kamar luas yang bercat putih salju begitu rapi dan sangat terawat.
"Saya tidur di sofa saja tidak apa-apa kok, Pak," ujar Alana.
"Tidak... tidak. Kamu tidur di ranjang saja. Dan satu lagi, Alana. Aku sudah katakan, panggil aku Mas. Aku ingin kamu terbiasa dengan itu agar kamu tidak lalai memanggilku dengan Pak ketika bersama dengan kedua orang tuaku," timpal Bernando Thomas dengan tegas.
Alana mengangguk seraya terkekeh kaku. "Baik, Mas."
"Baguslah, kalau begitu sekarang istirahatlah, Alana. Kita akan makan malam bersama nanti malam," ujar Bernando Thomas yang segera diangguki Alana.
Alana dengan segera melenggang menuju ranjang putih berkuruan king size itu. Wanita itu lantas merebahkan tubuhnya dan melemaskan otot-ototnya. Sejenak dia juga memandangi Bernando Thomas yang tengah memunggunginya dan berkutat dengan laptopnya.
Pikiran Alana jauh mengawang kala melihat Bernando Thomas. 'Kalau aku jadi istrinya sungguhan pasti sangat bahagia, sayangnya aku hanya sebagai Calista istrinya,' batin Alana penuh harap-harap mengkhayal.
Alana terbangun dari lelapnya tidur, dia menggeliat pelan seraya melirik jam dinding yang telah menunjukan pukul 17.00 sore.
"Astaga, aku sudah tidur berapa jam?" Alana buru-buru bangkit dari ranjang setelah mengetahui bahwa dia tertidur cukup lama. Akan tetapi tanpa dia sangka-sangka di saat yang bersamaan Bernando Thomas baru saja keluar dari kamar mandi yang seketika menyebabkan Alana tersentak dan oleng bahkan hampir jatuh.
Tetapi dengan segera Bernando Thomas meraih pinggang ramping Alana sehingga wanita yang berada di tepi ranjang itu pun tak jatuh.
Sayangnya, keberadaan Bernando Thomas yang tengah merengkuh pinggang Alana dan berada di jarak yang sangat dekat dengan wanita itu pun menyebabkan Alana bersemu. Terlebih lagi dengan keadaan Bernando Thomas yang tanpa atasan sehingga menampilkan tubuhnya yang kekar, bahkan roti sobek yang pun terlihat sangat jelas. Tak hanya itu, Alana juga terkesima dengan ketampanan laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu.
"Tam-Tampan," lirih Alana seraya menatap lekat dan teduh Bernando Thomas yang ada di hadapannya.
Sontak saja suara pujian Alana menyentak Bernando Thomas yang tengah merengkuh pinggang ramping Alana. Tanpa disangka-sangak senyum Bernando Thomas begitu tulus kala mendengar pujian lirih dari Alana. Laki-laki itu bahkan terkekeh kecil diimbuhi kekehan kecil.
"Terima kasih, kamu juga cantik," ujar Bernando Thomas kemudian dengan segera menegakkan kembali tubuh Alana yang sesaat lalu oleng.
Alana sontak tersipu malu kala mendengar pujian dari Bernando Thomas. Terlebih lagi kini tangan Bernando Thomas yang masih bertakhta di pinggang rampingnya itu.
"Kok kelihatannya malu-malu begitu sih?" tanya wanita paruh baya yang tak lain tak bukan adalah mama dari Bernando Thomas.
Sontak saja suara yang berada di ambang pintu itu menyentak Thomas dan Alana. Keduanya bahkan dengan segera menoleh kepada sang mama.
"Ma-mama?" suara Bernando Thomas terkejut.
"Kenapa Mama tidak ketuk pintu dulu?" tanya Bernando Thomas lagi dengan penuh penekanan.
Wanita paruh baya itu terkekeh kecil mendengar complain dari sang putra semata wayangnya. Lantas dengan segera menghampiri Bernando Thomas dan Alana yang berada di tepi ranjang.
"Kalau Mama tidak ketuk kan Mama bisa lihat kemesaraan Calista dan kamu yang masih malu-malu itu," ujar wanita paruh baya itu lalu kembali terkekeh kecil.
Alana sontak semakin tersipu malu mendengar penuturan wanita paruh baya itu, bahkan dia hanya menunduk.
"Sekarang kan Mama jadi tahu kalau kalian di Belanda belum membuatkan cucu untuk Mama," ujar wanita paruh baya yang sontak menyebabkan Calista dan Thomas tersentak kaget.
"Mama." Suara Bernando Thomas mulai mengeluh dan tatapannya pun berubah sedikit terusik.
"Ya kan? Ketahuan. Nanti kita bahas di meja makan. Mama dan Papa tidak ingin kamu dan Calista menunda-nunda. Mama dan Papa ingin kamu dan Calista gas saja," imbuh wanita paruh baya itu kemudian segera melenggang dari kamar putih salju.
Selepas kepergian wanita paruh baya itu, suasana kamar Bernando semakin hening. Terlebih lagi setelah mendengar penuturan sang mama yang ingin cucu. Wajah Alana juga menjadi merah bersemu, begitu juga dengan perasaan Alana yang semakin tak menentu. Apalagi dengan status Alana yang bukan siapa-siapa di keluarga terpandang itu.
"Jangan dipikirkan apa yang Mama katakan ya," celetuk Thomas yang menyentak lamunan Alana.
"Em... iya, Mas. Aku tidak memikirkannya," ujar Alana berusaha santai dan tidak memikirkan apa pun. Dia juga menutupi kegaduhan hatinya dengan senyum kecil di bibirnya.
"Mama memang begitu, tetapi aku harap kamu tidak terpengaruh sama sekali, Alana," imbuh Thomas kemudian segera diangguki oleh Alana dengan cepat.
"Kalau begitu, segera siap-siap ya. Kita akan segera turun dan makan malam bersama," imbuh Bernando Thomas dan segera diangguki Alana lagi.
"Iya, Mas."
Alana buru-buru melenggang ke kamar mandi dengan cepat meninggalkan Bernando Thomas di tepi ranjang. Wanita itu dirundung kecamuk hebat baik perasaannya juga benaknya.
'Mungkin aku akan bahagia jika semuanya menjadi nyata. Jika aku benar-benar istri dari seorang Bernando Thomas tetapi segalanya hanya bayangkanku saja,' batin Alana dipenuhi gelisah, kemudian helaan napasnya berat di balik pintu kamar mandi.
*
Tak lama setelah Alana membersihkan dirinya. Wanita itu segera melenggang menuju ke ruang makan. Terlebih lagi, Bernando Thomas juga meninggalkan pesan untuk segera turun.
Alana merasa asing di dalam rumah megah itu, terlebih lagi dia juga memandangi foto-foto Bernando Thomas dengan Calista yang bermesraan. Sungguh, perasaan Alana semakin runyam dan dirundung sendu.
'Sebenarnya ini bukan tempatku, aku tidak layak di sini. Aku orang asing, tetapi demi ibuku aku di sini,' batin Alana mengulang kata yang sering dia ucapkan seraya memandangi salah satu foto wedding Calista dan Bernando Thomas.
'Pak Dokter terlihat sangat mencintai istrinya,' batin Alana lagi kala melihat foto wedding itu dan semakin hancur perasaan Alana, karena Alana semakin tersadar bahwa dirinya tak bisa menggantikan Calista sebagai seorang istri bagi Bernando Thomas meskipun hanya pura-pura.
Alana menghela napasnya cukup panjang, setelahnya wanita itu pun kembali melenggang menuju ke ruang makan. Tetapi tanpa dia sadari, Alana melihat keberadaan Bernando Thomas yang berada tak jauh di hadapannya.
"Ma-Mas?" ujar lirih Alana yang kaget dengan keberadaan Thomas.
Bernando Thomas tersenyum laki-laki itu terlihat sendu kala sesaat lalu dilihatnya jelas Alana tengah memandangi foto weddingnya dengan sang istri, Calista. Sungguh, Bernando Thomas juga merasa bersalah karena dia menempatkan Alana pada posisi yang sulit.
"Maaf," ujar Bernando Thomas lirih seraya menghampiri Alana.
"Maaf untuk apa, Mas?" tanya Alana bingung.
"Maaf karena sudah membuatmu memerankan diri sebagai Calista, Alana. Maafkan aku," ujar Bernando Thomas dengan penuh kesenduan.
Alana tersenyum seraya menundukkan wajahnya untuk sedetik. Lalu wanita itu kembali menatap Bernando Thomas. "Tidak ada yang salah di antara semua ini, Mas. Aku dan Mas saling membutuhkan. Kita dipertemukan karena ini. Jadi, tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja," ujar Alana.
"Terima kasih, Alana. Aku berhutang banyak kepadamu," timpal Bernando Thomas kemudian mengusak kecil surai legam Alana yang sontak kembali menimbulkan suara gemuruh dalam dada Alana.
Sungguh, sikap Bernando yang tiba-tiba itu makin menyebabkan perasaan Alana dirundung tak menentu. 'Jantungku selalu berdebar kalau kamu selalu bersikap manis seperti ini, Bernando? Aku bahkan harus menyadarkan diriku bahwa aku hanyalah sebatas wanita sewaanmu,' batin Alana bergumuruh dan berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
"Sekarang, kita turun ya. Papa dan Mama sudah menunggu di bawah," imbuh Bernando Thomas yang menyentak lamuanan Alana.
"I-Iya."
Tanpa pikir panjang lagi, Alana dan Bernando Thomas pun segera melenggang menuju ruang makan.
Ketika telah tiba di ruang makan, dilihatnya dengan jelas ruang makan yang telah terisi penuh dan kedua orang tua Bernando Thomas pun tengah menunggu mereka berdua di sana.
"Ayo duduk, Sayang! Kalian pasti lapar," ujar wanita paruh baya itu dengan segera meminta Alana untuk duduk di sampingnya.
"Mbok Rumi sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua. Ada udang asam manis kesukaan kamu," imbuh wanita paruh baya itu.
Alana hanya mengangguk kecil seraya tersenyum kaku. "Iya, Ma. Terima kasih banyak," ujar Alana.
"Sama-sama, Sayang. Sekarang ayo makan malam dulu ya."
Setelah itu, area ruang makan menjadi hening sesaat dan fokus pada makanan mereka masing-masing.
"Bernando, Sayang. Mama sudah bilang kan tadi? Kamu harus segera memberikan cucu pada Mama dan Papa. Gas saja!" celetuk wanita paruh baya itu.
"Iya, Nak. Papa juga inginnya kamu segera punya momongan. Calista juga sangat matang untuk mengandung," sahut laki-laki paruh baya alias papa dari Bernando Thomas.
Lagi-lagi masalah cucu yang menyentak kepala Bernando Thomas. Laki-laki itu benar-benar muak mendengar permintaan dari kedua orang tuanya. Sungguh, Bernando Thomas tak pernah membayangkan jika kedua orang tuanya itu mengetahui hal buruk bahwa Calista telah tiada.
"Ma, Pa, please Beranando sudah pernah bahas ini. Bernando dan Calista belum siap," tegas Bernando seraya menghentakan sendok pada piringnya.
"Apa yang membuatmu belum siap, Nak? Mumpung Mama dan Papa bisa bantu rawat anak kamu suatu saat nanti, semuanya akan baik-baik saja. Jadi, tunggu apa lagi? Masa kamu mau menunggu sampai Papa dan Mama sudah tidak ada?" cecar wanita paruh baya itu.
Bernando semakin runyam mendengar penuturan sang mama. "Terserah Mama mau bilang apa, yang penting Bernando belum siap untuk memiliki anak," tegas laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu.
"Bernando harus ke rumah sakit sekarang. Ada pasien yang harus Bernando chek," imbuh Bernando dan segera melenggang meninggalkan ruang makan dengan penuh kesal.
Alana melihat ketegangan yang terjadi, perasaannya semakin kacau. Terlebih lagi me;ihat Bernando Thomas yang emosional, Alana juga tak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Bernando kala mendapatkan tekanan dari orang tuanya.
'Andai saja jika kedua orang tua dia tahu bahwa Calista sudah tidak ada. Pasti tidak akan seperti ini,' batin Alana sendu.
"Nak," panggil wanita paruh baya itu yang menyentak lamunan Alana.
"Eh? Ya, Ma?"
"Maafkan Bernando ya. Dia mungkin sedang banyak pekerjaan di rumah sakit. Jadi, dia bersikap seperti itu," ujar Adya, tak lain tak bukan adalah ibu Bernando.
"Iya, Ma. Tidak apa-apa kok," timpal Alana secukupnya.
"Ya sudah, sekarang makan dulu ya. Ini habiskan udang asam manis kesukaan kamu," ujar wanita paruh baya itu seraya menyodorkan udang asam manis kepada Alana.
Alana hanya mengangguk dengan senyum kakunya. 'Bagaimana aku bisa makan udang sebanyak ini? Jika aku makan sebanyak ini, alergiku pasti kambuh,' batin Alana bergemuruh.