Bab 2

Seorang pria tampan duduk seorang diri di dalam pesawat pribadi milik kerajaan Arab−Khalid Arsyad−Pangeran kedua yang terkenal dengan kejeniusannya di dunia Informasi dan teknologi. Pria itu tersenyum melihat layar computer yang menampilkan foto gadis Jepang bernama Ayumi dengan masker penutup wajah.

“Aku masih belum berhasil melihat wajah kamu tetapi aku sudah jatuh cinta dengan setiap gerakan dan tindakan yang kamu lakukan.” Khalid menyentuh mata tajam yang sedang menatap dirinya.

“Gadis mafia atau Tuan Putri Kekaisaran Jepang? Aku terus mencari dirimu.” Khalid menutup layar komputernya.

“Ayumi Tadahsi, kita pasti akan bertemu.” Khalid melihat langit Arab yang sangat cerah dari jendela pesawat.

“Tuan Muda, silakan turun.” Seorang pramugari tersenyum cantik pada Khalid.

“Terima kasih.” Khalid membalas senyuman pramugarai dan beranjak dari kursinya.

Sebuah mobil mewah dengan lambang kerajaan Arab telah menunggu pria itu di pintu keluar, seorang pelayan membukakan dan menutup pintu mobil untuk Khalid. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju Kerajaan.

Fauzan Arsyad−pria tampan dan terlalu sempurna itu terlihat sibuk di ruang kerjanya menyelesaikan banyak dokumen kenegaraan. Sejak kembali ke kerajaan Fauzan benar-benar berkutat dengan pekerjaan, ia bahkan tidak sempat membaca surat dari banyak putri untuk dirinya. Pria yang sangat gila kerja tetapi tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai hamba Tuhan.

Berkas yang tersusun tinggi bagaikan menara itu telah menutupi surat-surat cinta dan lamaran dari banyak gadis di seluruh dunia tidak disentuh sama sekali oleh pria yang terlihat dingin itu. Fokus pekerjaan tidak membuat dirinya lupa akan kewajiban atas perintah sang Pemilik Alam semesta. Ketika waktu salat telah tiba pria itu akan langsung bergegas menuju Masjid tanpa menunda lagi.

“Tuan Muda.” Asraf berdiri di samping Fauzan.

“Ya.” Fauzan menjawab tanpa melihat Asisten pribadinya.

“Pangeran kedua telah tiba di Istana.” Asraf memandang wajah lelah Tuannya.

“Syukurlah, akhirnya ada yang akan membantu diriku.” Fauzan tersenyum dan beranjak dari kursi.

“Apa yang bisa aku bantu?” Seorang pria yang tidak kalah tampan dengan Fauzan tersenyum di depan pintu.

“Khalid, saudaraku.” Fauzan segera memeluk pangeran kedua untuk melepas rindu. Melihat kedua saudara yang butuh waktu bersama, Asraf segera pamit keluar dari ruangan.

“Apa kabar Kak?” Khalid membalas pelukan Fauzan.

“Alhamdulilah, aku sangat merindukan dirimu.” Fauzan menepuk punggung Khalid dengan lembut.

“Aku juga merindukan dirimu saudaraku.” Pangeran kedua melepaskan pelukan mereka.

“Lihatlah, apa yang kamu lakukan selama ini sehingga ada banyak berkas yang harus dikerjakan?” Khalid tersenyum tampan.

“Aku berkeliling dunia dan membiarkan semuanya menjadi penuh.” Fauzan menarik tangan saudaranya duduk di sofa.

“Pria paling sempurna ini tetap bisa melakukan kesalahan.” Khalid menatap wajah lelah Fauzan.

“Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanya milik Allah.” Fauzan menyenderkan tubuhnya di sofa yang empuk.

“Setidaknya kamu adalah manusia yang Allah ciptakan dengan sempurna.” Khalid menatap Fauzan.

“Aku berharap kamu atau saudara lainnya yang akan menjadi raja.” Fauzan tersenyum.

“Kami tidak mungkin melakukan itu.” Khalid menepuk pundak saudara tertuanya.

“Apa kamu menemukan gadis yang menarik perhatian selama berkeliling dunia?” Khalid beranjak dari kursi dan mengambil minuman dingin dari lemari pendingin.

“Terakhir kali aku dari Indonesia.” Fauzan tersenyum.

“Gadis Indonesia sangat manis dan cantik.” Khalid memberikan botol minuman dingin berisi air mineral kepada Fauzan.

“Lumayan.” Fauzan tersenyum, ia menerima botol minuman dan meneguknya.

“Bagaimana dengan lamaran pernikahan?” tanya Khalid yang kembali duduk di depan saudaranya.

“Aku harus menyelesaikan semua perkerjaan yang telah aku timbun.” Fauzan tersenyum.

“Kamu sengaja melakukan itu.” Khalid tersenyum lebar.

“Ini hanya sebuah trik dan bukan penipuan.” Fauzan tertawa lepas bersama Khalid.

“Apa kamu sudah bertemu dengan Ayesha dan Kenzo?” tanya Fauzan.

“Ya, suami Ayesha adalah pria yang tampan dengan ciri khas wajah Arab.” Khalid menatap Fauzan.

“Kamu benar, aku tidak begitu memperhatikan wajah Kenzo.” Fauzan seakan baru menyadari ketampanan Kenzo yang berbeda dengan warga Indonesia.

“Apakah kamu tahu tentang latar belakang keluarganya?” tanya Khalid menyelidiki.

“Dia tumbuh dan besar di pesantren, tidak ada yang tahu tentang orang tuanya.” Fauzan terlihat serius.

“Kamu sangat tidak teliti memilih suami untuk Ayesha.” Khalid menatap wajah Fauzan.

“Mereka memang sudah ditakdirkan bersama.” Fauzan tersenyum.

“Ya, aku tahu dia pria yang baik tetapi setidaknya kamu bisa berusaha mencari tahu tentang keluargannya.” Khalid beranjak dari sofa dan berdiri di depan jendela kaca yang menghadap ke istana Ayesha dan Kenzo.

“Aku tidak memikirkan sampai kesana, selama mereka berdua bahagia itu sudah cukup.” Fauzan kembali ke kursi kerjanya.

“Kamu selalu berpikiran baik tentang semua orang.” Khalid tersenyum dan berdiri di depan Fauzan.

“Apa yang kita pikirkan itulah yang akan kita dapatkan.” Fauzan menyerahkan berkas pada Khalid.

“Apa ini?” Khalid menerima berkas dari saudara tertuanya.

“Mulailah bekerja.” Fauzan tersenyum.

“Aku baru saja tiba, aku harus beistirahat terlebih dahulu.” Khalid meletakkan kembali berkas di atas meja.

“Ah, apa aku juga perlu membantu membaca dan membalas surat cinta ini?” Khalid lebih tertarik dengan banyak surat dari para gadis untuk sang Pangeran.

“Lakukan saja dan ambil yang kamu suka.” Fauzan kembali fokus dengan pekerjaanya.

“Baiklah.” Pria itu segera mengambil semua surat yang ada di meja kerja Fauzan dan membawanya ke meja dekat sofa mewah.

“Apa kamu tidak jadi istirahat?” Fauzan melirik Khalid yang bersemangat memilih surat-surat cinta untuk calon Raja.

“Aku akan membacanya dengan rebahan di sofa, mungkin bisa membuat diriku tertidur.” Khalid mengedipkan matanya.

“Hah, bagaimana dengan perjalanan cinta kamu?” tanya Fauzan.

“Bekerjalah, aku juga tidak punya waktu untuk bertemu gadis pujaan hati.” Khalid memilah surat berdasarkan Negara asal dan matanya tertuju pada surat tanpa Stempel kerajaan ataupun kekaisaran. Surat dari Negara Indonesia berbentuk Jas berwarna hitam sangat kontras dengan surat-surat lain dengan warna terang dan lembut ciri khas seorang wanita.

“Berapa lama surat-surat ini menumpuk?” Khalid mengambil surat dengan tampilan berbeda dan merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk.

“Aku tidak tahu, kamu bisa melihat waktu kedatangannya.” Fauzan menjawab tanpa melihat Khalid.

“Apa semua surat bisa masuk keruang kerja Kamu?” Khalid melirik Fauzan yang fokus dengan pekerjaanya.

“Aku meminta petugas tidak pilih-pilih dengan semua surat yang masuk.” Fauzan melihat sekilas kepada Khalid tersenyum tampan padanya.

“Viona Alexander.” Khalid membaca nama yang tertera di sudut amplop berwarna hitam.

“Ini pasti surat dari penggemar karena tanpa stempel kerajaan, aku sangat tertarik dengan warna dan bentuk amplop surat ini, sangat berbeda.” Khalid bersiap untuk menyobek ujung amplop dengan sigap tangan Fauzan merebut surat dari adiknya.

“Apa?” Khalid terkejut dan langsung duduk di Sofa. Ia melihat Fauzan memperhatikan surat yang sekarang berada di tangannya.

“Apa dia kekasih kamu?” Khalid tersenyum.

“Aku tidak punya kekasih.” Fauzan memasukan surat ke dalam saku celananya.

“Benar, jika dia kekasih kamu kenapa harus menulis surat? Gadis itu tentu bisa menghubungi dirimu.” Khalid kembali merebahkan tubuhnya.

“Ponselku sudah tidak aktiv lagi sejak aku kembali ke Arab.” Fauzan kembali ke kursi kerjanya.

“Hmm, aku curiga dengan surat itu.” Khalid memejamkan matanya.

Fauzan mengeluarkan surat Viona dari sakunya, ia tersenyum melihat amplop hitam bergambar tubuh pria dengan jas hitam dan berdasi putih garis-garis, dasi yang ia gunakan di hari terakhir bertemu dengan gadis itu. Ia sudah tidak tahu berapa lama tidak berhubungan dengan Viona, karena terlalu banyak pekerjaan yang menyambut kedatangannya sejak kembali ke Kerajaan.

Manusia pada umumnya selalu memiliki sebuah perasaan bernama rindu. Rindu bisa muncul pada setiap manusia untuk apapun dan siapapun. Tentu saja manusia yang memahami perasaannya akan memahami bahwa rindu adalah hal fitrah dan normal yang akan dimiliki. Rindu biasanya dikesankan kepada seseorang yang dicintai atau dimiliki perasaan tertentu.

Bab 3

Khalid beranjak dari kursi dan berjalan mendekati Fauzan, ia melihat surat dari Viona tergeletak di sudut meja ditekan dengan siku tangan saudaranya.

“Sudah waktu Zuhur.” Khalid menepuk pundak Fauzan.

“Kamu benar.” Pria tampan itu tersenyum dan menutupi semua berkas yang ada di atas meja serta mematikan computer.

“Ayo pergi bersama.” Fauzan beranjak dari kursi dan merangkul Khalid. Dua pria tampan itu berjalan bersama menuju Masjid Kerajaan. Surat berbentuk Jas berwarna hitam telah terjatuh dan terbang terbawa angin seakan ia ingin mengelilingi Istana Kerajaan Arab. Setelah salat mereka menuju ruang makan keluarga. Semua berkumpul untuk menikmati makan siang bersama.

“Fauzan, kapan saudaramu akan datang semuanya?” tanya Raja pada Fauzan ketika mereka telah berkumpul di ruang keluarga.

“Sepertinya bulan depan Ayahanda.” Fauzan menunduk.

“Bagaimana dengan surat dari putri Negara lain, apa kamu sudah membaca dan membalasnya?” tanya Raja lagi.

“Maafkan saya Ayahanda, saya belum membukanya.” Fauzan melirik Khalid yang hanya diam begitu juga dengan Kenzo dan Ayesha.

“Ayah telah memilih beberapa kandidat yang pantas untuk dirimu mungkin kamu bisa memilih salah satu dari mereka yang pasti lima Negara terkaya.” Raja tersenyum.

“Baiklah Ayah.” Fauzan tersenyum.

“Kalian berdua kapan memberikan kami cucu?” pertanyaan Raja mengejutkan Kenzo dan Ayesha.

“Apa?” Kenzo dan Ayesha serempak bertanya.

“Maaf Ayah, karena masih bulan madu kami belum bertemu dengan dokter.” Ayesha tersenyum lembut.

“Baiklah, jangan terlambat.” Raja dan Ratu beranjak dari kursi.

“Khalid, laporkan semua pekerjaan kamu pada Fauzan!” Raja berjalan meninggalkan putra dan putri mereka diikuti Ratu.

“Iya, Ayahanda.” Khalid menunduk.

“Kak, apa aku harus melaporkan sekarang?” Khalid melihat kearah Fauzan.

“Beristirahatlah di istana kamu terlebih dahulu.” Fauzan tersenyum.

“Terima kasih saudaraku, istanaku bersebelahan dengan dirimu.” Khalid tersenyum tampan.

“Ayesha, apa kamu akan menetap di istana?” tanya Khalid pada adiknya.

“Aku akan mengikuti kemanapun suamiku pergi.” Ayesha tersenyum, ia memeluk lengan kekar Kenzo.

“Kamu sangat beruntung Kenzo membuat aku iri.” Khalid menepuk pundak Kenzo.

“Terima kasih Pangeran Khalid.” Kenzo tersenyum.

“Aku akan kembali ke Istanaku.” Fauzan beranjak dari sofa.

“Aku juga.” Khalid mengkuti Fauzan.

“Bagaimana dengan kita berdua sayang?” Kenzo menatap lembut pada istrinya.

“Aku akan menuruti perintah suamiku.” Ayesha tersenyum.

“Bagaimana jika kita membuatkan cucu?” Kenzo tersenyum menggoda dan Ayesha hanya tersipu mendengarkan ucapan Kenzo.

***

Khalid berjalan menyusuri pinggiran istana Fauzan, ia melihat surat yang tadi direbut dari tangannya tergeletak di depan jendela raksasa yang terbuka. Pria tampan dan masih lajang itu mngambilt surat Viona.

“Tertiup angin atau ia buang?” Khalid tersenyum dan membawa surat itu ke kamarnya.

Khalid−pangeran kedua membuka jas dan kemeja yang ia gunakan, merebahkan tubuh lelah di atas tempat tidur yang empuk, memperhatikan surat unik yang ada di tangannya.

“Aku tidak akan membukanya karena aku tidak punya hak tetapi jika surat ini sudah dibuang mungkin aku boleh membacanya.” Khalid tersenyum dan meletakkan surat Viona di atas meja samping tempat tidurnya. Pria itu memejamkan mata untuk beristirahat.

Fauzan duduk elegan di depan meja kerjanya untuk membereskan banyak berkas. Pria itu cukup kuat bekerja dengan sedikit istirahat, ia hanya berhenti ketika waktu salat, makan dan tidur yang hanya beberapa jam, olah raga ringan di pagi hari setelah subuh untuk menjaga kondisi tubuhnya. Pangeran pertama melihat setumpuk surat yang telah tersusun rapi di meja tamu.

“Khalid sangat rajin merapikan surat-surat itu.” Fauzan tersenyum.

“Surat? Surat Viona.” Pria itu baru teringat dengan surat gadis Indonesia yang ia letakkan di atas meja.

“Kemana surat gadis itu?” Fauzan segera memeriksa semua berkas yang tergeletak di atas meja, ia bahkan harus masuk ke kolong meja untuk menemukan surat Viona dan membuat berantakan kembali surat-surat yang telah disusun rapi oleh Khalid.

“Apa? Tidak mungkin kamu keluar dari jendela?” Pria tampan itu segera keluar dari ruangannya dan mencari ke tepi jendela yang terbuka lebar.

“Dimana surat itu? Aku bahkan belum membacanya.” Fauzan mengacak rambutnya, ia merasa sedikit kesal karena kehilangan surat dari Viona.

“Aku sangat penasaran apa yang ia tuliskan di dalam surat itu.” Tangan-tangan kekar Fauzan menyibah rumput dan bunga yang ada di depan Jendela.

“Hah, tidak mungkin pelayan membersihkannya.” Fauzan menyerah.

“Kemana kamu menghilang?” Pria itu terus berbicara sendirian.

“Bahkan surat kamu saja bisa mengacaukan hariku.” Kaki panjang itu kembali melangkah ke dalam ruangan.

“Baiklah, kamu tidak mau aku baca.” Fauzan kembali berkutat dengan pekerjaannya tetapi ia tidak bisa fokus dan masih memikirkan surat Viona.

“Ah, aku akan menanyakan kepada Khalid, mungkin ia melihatnya.” Fauzan menghentikan pekerjaanya karena sudah waktu asar, ia merapikan meja kerja dan memasukan semua surat ke dalam kotak agar bisa dibawa kekamar. Pria itu harus membersihkan diri dan melaksanakan perintah Allah. Selesai salat Fauzan menarik tangan saudara keduanya untuk bebicara.

“Khalid, tunggu sebentar.” Tangan Fauzan menghentikan langkah kaki Khalid.

“Ada apa Kak?” tanya Khalid dan tersenyum tampan kepada saudaranya yang melirik Kenzo.

“Aku mau kamu melaporkan pekerjaan kamu.” Fauzan tersenyum, pria itu tidak mau menanyakan tentang surat Viona di depan saudara iparnya yang cukup mengenal gadis Indonesia itu.

“Baiklah.” Khalid percaya dengan permintaan Fauzan. Mereka berjalan bersama menuju istana Pangeran Pertama.

“Khalid, apa kamu melihat surat Viona?” Fauzan langsung bertanya ketika mereka berdua telah sampai di pintu istana.

“Apakah surat itu termasuk laporan pekerjaanku?” Khalid tersenyum.

“Kamu yang terakhir bersama dengan diriku di ruang kerja.” Fauzan menatap tajam pada adiknya.

“Ada hubungan apa kamu dengan gadis Indonesia itu?” Khalid tersenyum menggoda Fauzan.

“Kami hanya rekan bisnis.” Wajah Fauzan terlihat serius.

“Benarkah, tetapi aku curiga karena kamu membedakan dengan surat-surat lainnya.” Khalid memicingkan matanya.

“Sudahlah, dimana surat itu?” Fauzan mengadahkan tangannya.

“Ada di kamarku.” Khalid berjalan masuk ke istana Fauzan.

“Apa?” Fauzan menarik tangan Khalid.

“Aku menemukannya di atas rumput depan jendela kamu, aku pikir kamu telah membuangnya.” Khalid kembali tersenyum.

“Kembalikan kepadaku sekarang juga!” Fauzan semakin serius menatap pada saudaranya.

“Bukankah kamu mau aku melaporkan pekerjaanku?” Khalid tersenyum, pria itu sangat ingin menggoda Fauzan yang terlalu serius dengan pekerjaan dan bahkan tidak bisa bercanda.

“Aku akan mengambilkan langsung ke kamar kamu.” Fauzan keluar dari istananya dan berjalan menuju istana Khalid.

“Ada apa dengan pria ini? Ia tidak pernah begini.” Khalid berlari melewati Fauzan.

“Apa yang kamu lakukan berlari seperti anak kecil.” Fauzan menaikkan salah satu alisnya.

“Aku mau membaca surat itu terlebih dahulu.” Khalid tertawa dan melanjutkan langkah kakinya.

“Apa? Hey Khalid.” Fauzan ikut berlari mengejar Khalid. Kenzo dan Ayesha tersenyum melihat dua saudara yang kejar-kejaran dari balkon kamar mereka. Khalid masuk ke kamarnya dan mengambil surat yang tergeletak di atas meja.

“Berikan padaku!” Fauzan menatap tajam pada Khalid yang tersenyum.

“Katakan padaku, apakah dia special?” tanya Khalid.

“Kamu tidak punya hak untuk menanyakan privasiku.” Fauzan tetap tenang.

“Baiklah, aku menemukan surat ini di luar istana kamu berarti ini milikku.” Khalid mau membuka amplop surat.

“Apa yang kamu lakukan?” Fauzan segera merebut surat dari tangan Khalid.

“Aku curiga pada Kakak.” Khalid tersenyum.

“Terserah.” Fauzan segera memasukan surat ke dalam saku kemeja dan berjalan keluar dari kamar Khalid.

“Ayolah, aku sangat penasaran dengan isi surat itu.” Khalid mengikuti Fauzan.

“Laporkan segera pekerjaan kamu dari Dubai.” Fauzan menatap tajam pada Khalid.

“Tenang saja, aku selalu bisa menyelesaikan semua pekerjaanku dengan baik.” Khalid menepuk pundak Fauzan, pria itu sangat ingin membuat Fauzan kesal.

“Kita adalah saudara, bagikan sedikit kebahagian dirimu padaku.” Mata Khalid melirik surat yang terselip di saku depan kemeja Fauzan.

“Baiklah saudaraku, mari berbagi pekerjaan.” Fauzan tersenyum tampan dan berjalan kembali ke istananya.

“Sikap kamu membuat aku semakin penasaran dengan gadis bernama Viona.” Khalid tersenyum penuh rencana.

Rasa penasaran yang terdapat dalam diri manusia adalah hal yang normal dan manusiawi. Bahwa tidak bisa dipungkiri lagi bahwa rasa penasaran yang termat sangat dapat mengganggu siklus hidup seseorang bilamana dia sendiri tidak dapat mengendalikan dan memberikan solusi bagi rasa penasarannya itu. Bertanyalah jika kamu penasaran akan seseuatu, jangan menyimpannya sendiri hingga menyiksa diri.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED