Seperti perkataan dan perkiraan putri Fahrani, Ayahandanya sudah mendapat laporan dari pengawal pribadinya Chyou. Saat ini putri Fahrani baru saja tiba di kerajaan TangXing bertepatan dengan matahari terbenam di ufuk barat dan menyisahkan goresan jingga kemerah - merahan di langit.
Putri Fahrani yang sangat lelah karena perjalanan yang cukup jauh dan memakan waktu yang cukup lama pula hanya bisa mendesah saat kaisar Xing Guang Zhao telah menunggu kedatangannya tepat di halaman aula utama kerajaan TangXing yang luas.
Raut wajah pria paruh baya yang masih nampak sehat bugar dan masih tetap tampan di usianya yang telah menginjak 45 tahun lebih itu nampak tidak bersahabat. Dari pancaran mata Ayahanda yang putri Fahrani tangkap, ada kemarahan besar yang ia pancarkan.
"Katakan pada Ayahanda? Apa saja yang mereka lakukan padamu!" Kata kaisar Zhao tegas.
"Ayahanda, aku lelah. Bolehkah aku istirahat saja? Kurasa Chyou sudah menceritakan semuanya" balas putri Fahrani memelas sambil melangkah gontai menghampiri kaisar Zhao.
Kaisar Zhao hanya mampu mendesah. Seharusnya ia tak menyuruh putri kesayangannya yang mengantikannya atau seharusnya ia menemani putrinya disana sehingga tak ada seorang pun yang berani mengejek ataupun menghina putri kesayangannya. Sayangnya, ada pekerjaan penting dan masalah dalam istana yang harus ia selesaikan bersama putra mahkota Xing Huang Fu yang kini berusia 19 tahun.
Semenjak permaisuri Xie Qiao Feng meninggal dunia 14 tahun yang lalu saat melahirkan putri mereka. Segala urusan istana dalam juga menjadi tanggung jawab kaisar Zhao. Terlebih lagi hingga saat ini kaisar Zhao tak ingin mengangkat seorang permaisuri dikarenakan khawatir kedudukan putra mahkota Fu akan goyah dengan persaingan perebutan takhta antara pangeran ataupun ketenangan dan kedamaian putri Fahrani dengan sikap beberapa ibu sambung (ibu tiri) yang kadang bersikap keras, kasar, kejam dan pilih kasih kepada anak yang bukan terlahir dari rahimnya.
"Baiklah, istirahatlah yang cukup. Dan jangan memikirkan masalah yang menimpamu hari ini. Biarkan masalah itu Ayahanda yang tangani" kata kaisar Zhao yang entah mengapa membuat perasaan putri Fahrani merasa tidak enak dengan segala rencana yang akan Ayahandanya ambil.
Keesokan harinya, putra mahkota Fu nampak melangkah tergesah menuju istana utama dimana kaisar Zhoa tengah menunggunya diruang kerja Ayahandanya. Raut wajah putra mahkota Fu menampilkan raut wajah datar. Seperti Ayahandanya, kemarin ia juga mendengar laporan mengenai mei meinya yang di permalukan di kerajaan TangShi. Karena hal itu ia kini berpendapat jika Ayahandanya memanggilnya sepagi ini pasti karena akan membahas masalah itu dengannya.
"Mengapa kau lama sekali putra mahkota Fu?" Tanya kaisar Zhao saat putra mahkota Fu baru saja tiba.
Putra mahkota Fu yang mendapat pertanyaan dengan nada tidak sabaran dari Ayahandanya lantas memutar bola matanya malas "itu karena Ayahanda memanggil Ben Gong tiba - tiba disaat matahari bahkan belum menampakan diri" balasnya dengan nada sindiran yang membuat kaisar Zhao terkekeh karena sifat dingin dan kejam putra mahkota Fu yang menurun dari dirinya.
"Katakan solusi apa yang akan Ayahanda ambil mengenai masalah kemarin?" Tanya putra mahkota Fu langsung pada intinya.
"Tak bisakah kita berbasa - basi sebentar? Kau sangat serius nak!" Keluh kaisar Zhao yang membuat putra mahkota Fu lantas ingin pergi karena Ayahnya sangat membuang - buang waktu.
Melihat putranya yang hendak pergi, kaisar Zhoa lantas menahannya "baiklah, baiklah. Kau menang. Sekarang dengarkan Ayahanda".
Putra mahkota Fu yang selalu serius, teliti dan selalu berpegang pada prinsipnya itu lantas berhenti dan membalikan badanya kembali menghadap kaisra Zhao. Kaisar Zhao yang melihat putranya yang datar dan kaku itu lantas memberi isyarat agar putranya duduk.
"Ini masalah mengenai mei-meimu" ungkap kaisar Zhao saat putra mahkota Fu telah duduk bersebrangan dengannya.
"Ben Gong sudah tahu!" Balas putra mahkota Fu ketus.
Sejak kelahiran putri Fahrani yang membuat Ibunda mereka meninggal dunia, sejak saat itu pula putra mahkota Fu membenci adik kandungnya itu karena kini ia harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Terlebih lagi, adiknya itu selalu saja dimanjakan oleh ayahandanya yang kadang membuat ia merasa muak juga merasa cemburu dengan perhatian kaisar Zhao pada putri Fahrani.
Padahal selama ini kaisar Zhao menyayangi mereka dan memberi perhatian yang sama rata. Namun perasaan benci dan cemburu putra mahkota Fu membutakan mata hatinya yang menutup semua fakta akan hal itu.
"Lalu?" Tanya putra mahkota Fu membuyarkan semua pikirannya.
"Pergilah ke kerajaan TangShi dan bawa surat resmi Ayahanda langsung kepada kaisar Huang" jawab kaisar Zhao.
"Apa isi surat ayahanda?" Tanya putra mahkota Fu curiga.
"Tentu saja isinya mengenai pemberhentian kerja sama antara kerajaan TangXing dan kerajaan TangShi" balas kaisar Zhao santai.
"Ayahanda..!".
"Ayahanda tau jika kau berteman baik dengan putra mahkota Shi Wei Zhe, Ayahanda juga sangat tahu jika kau masih membenci mei - meimu. Tapi Nak, mei - mei mu masih bagian dari kita. Ia juga keturunan kerajaan bahkan lahir dari rahim yang sama denganmu." kaisar Zhao menjeda "bagaimanapun kita harus tegas menagani masalah ini. Kau pasti masih ingat bukan prinsip kita?" Tanya kaisar Zhao yang di angguki putra mahkota Fu yang masih berusia 19 tahun.
"Menghina keluarga kerajaan sama dengan menghina kerajaan itu sendiri!" Jawabnya.
"Ayahanda tahu kau sudah cukup dewasa dalam mengambil sikap. Jadi Ayahanda berharap kau mengambil tindakan yang benar untuk kerajaan kita dan mengesampingkan masalah pribadimu terhadap mei - meimu" tambah kaisar Zhao bijak.
******
Putra mahkota Fu menuruti keinginan Ayahandanya. Bagaimana pun apa yang Ayahandanya katakan adalah hal yang benar. Walaupun ia masih membenci mei - meinya hingga detik ini, tapi penghinaan yang di terima adiknya jelas menunjuk pada Ayahanda, dirinya bahkan kerajaannya.
Kini putra mahkota Fu telah sampai di gerbang utama kerajaan TangShi setelah melewati perjalanan yang memakan waktu setengah jam dengan mengendarai kereta kerajaan TangXing. Harusnya ia akan sampai lebih awal lagi dengan menunggangi kuda, namun Ayahandanya khawatir jika ada seorang atau lebih yang ingin mencelakainya di tengah jalan. Alhasil, putra mahkota Fu mengendarai kereta dan di kawal para prajurit dengan kemampuan bela diri dan tarung diatas rata - rata.
Tak hanya para prajurit yang berkemampuan bela diri dan tarung di atas rata - rata, Ayahandannya dan juga Xing LiangYi yang merupakan saudari kandung kaisar Zhao itu sepakat untuk menurunkan Jendral besar Wei Li Jun yang merupakan suami dari bibinya itu untuk ikut serta mengawalnya.
Semua ini sangat berlebihan. Padahal putra mahkota Fu merasa ia bahkan bisa menjada dirinya sendiri dengan kemampuan dan bakatnya, terlebih lagi ia juga memiliki orang - orang ahli tanpa sepengetahuan Ayahandanya.
"Apakah jendral ini perlu menemani anda masuk, yang mulia?" Tanya Jendral Jun yang menyentak putra mahkota Fu dari lamunannya.
Putra mahkota Fu lalu menoleh pada pada pamanya, ia dengan kesal berkata "mengapa paman bersikap sangat sopan dan formal seperti ini?" Tanya putra mahkota Fu merasa tidak nyaman dengan sikap formal pamannya.
"Walaupun jendral ini di kenal kejam dan pemberani, tapi jendral ini juga harus tetap bersikap sopan dan formal pada junjungannya" jawab jendral Jun.
"Terlepas Ben Gong adalah junjungan paman, tapi Ben Gong masih tetap ponakan paman. Tak bisakah paman bersikap santai dan biasa saja?" Tanya putra mahkota Fu keras kepala.
"Baiklah, baiklah" kata jendral Jun menyerah "jadi apakah kau ingin pamanmu ini menemanimu masuk?" Tanya jendral Jun lagi.
"Tidak perlu. Aku sudah bukan lagi anak kecil yang setiap saat selalu bergantung pada orang lain" balas putra mahkota Fu yang di angguki jendral Jun.
Setelah itu, putra mahkota Fu akhirnya melangkah masuk dan menemui kaisar Huang siang ini. Saat ia baru saja melewati gerbang utama kerajaan TangShi, seorang kasim nampaknya sudah menunggu kedatangannya. Kasim itu lantas menuntunnya menuju istana dalam dimana kaisar Huang telah menunggunya di istana utama.
Putra mahkota Fu tidak perlu terkejut akan hal itu. Walaupun kedatangannya tanpa pemberitahuan sebelumnya, namun nampaknya kaisar Huang telah bersiaga.
Karena terlalu berlarut dalam pikirannya, putra mahkota Fu tak merasa bahwa ia telah tiba di istana utama. Kasim yang mengantarnya pun kini berpamitan setelah memberi beberapa intruksi dan membukakan pintu istana utama.
Putra mahkota Fu mengikuti segala intruksi yang kasim itu berikan, hingga akhirnya ia tiba depan ruangan kerja kaisar Huang dimana ia kembali disambut beberapa kasim dan dayang yang berjaga diluar.
"Yang mulia... putra mahkota Xing Huang Fu telah datang!" Umum seorang kasim.
"Suruh ia masuk!".
Pintu ruangan kerja kaisar Huang dibuka oleh dua orang kasim, putra mahkota Fu lantas masuk saat pintu ruang kerja kaisar Huang terbuka lebar. Saat ia telah memasuki ruang kerja kaisar Huang, didalam ruangan tersebut ternyata tidak hanya ada kaisar Huang. Di dalam ruangan itu juga ada pangeran Hung dan pangeran Wu, hanya putra mahkota WeiZhe yang tak nampak batang hidungnya dan hal itu membuat putra mahkota Fu mendengus saat ia menemukan jawaban dimana keberadaan sahabatnya itu.
"Seharusnya putra mahkota TangXing memberi kabar terlebih dahulu. Sehingga kami bisa menyambutmu dengan meriah" ucap kaisar Huang saat ia melangkah menghampiri kaisar Huang dan kedua putranya yang kini berdiri menyambut kedatangannya.
"Hal itu tidak perlu yang mulia kaisar Huang. Terlebih lagi putra mahkota ini hanya sebentar disini" jawab putra mahkota Fu yang membuat ketiga orang dihadapannya meneguk salivanya dengan susah payah.
"Putra mahkota ini hanya akan menyampaikan amanat Ayahanda untuk menyerahkan surat resmi pemberhentian kerja sama antara kerajaan TangXing dan kerajaan TangShi secara sepihak".
"Apa? Bagaimana mungkin kalian memutuskannya begitu saja, padahal dalam kontrak kerajaan TangXing dan kerajaan TangShi masih akan bekerja sama dalam waktu 2 tahun!" Kata kaisar Huang tidak terima.
"Dengan penghinaan yang kalian lakukan pada putri kerajaan kami, seharusnya pemberhentian kerjasama dengan kerajaan TangShi adalah ganjaran yang ringan. Seharusnya kalian sadar jika kami bahkan bisa meratakan kerajaan TangShi detik ini juga atas penghinaan kalian pada keturunan kerajaan TangXing --" putra mahkota Fu menjeda "-- Seharusnya kami juga mengambil uang yang kami tanam untuk bantuan pembangunan kerajaan TangXing dan segala barang yang telah kami berikan, namun kami masih berbaik hati dengan hanya memberhentikan kerja sama secara sepihak dan jika kalian menolak dan keberatan dengan keputusan Ayahanda, kerajaan kami akan menjadi yang pertama mengibarkan bendera perang kepada kerajaan TangShi!" Tambah putra mahkota Fu yang membuat ketiga orang dihadapannya kehilangan kata - kata.
Putra mahkota Fu tak peduli dengan ekspresi ketiga pria beda usia dihadapannya. Ia telah menyampaikan amanat Ayahandanya, juga telah menyerahkan surat resmi pemberhentian kerja sama dengan menaruhnya di atas meja bundar yang ada di tengah ruangan. Tugasnya telah selesai, sehingga ia lantas berbalik pergi tanpa memberi hormat.
Tak berselang berapa lama kepergiannya, kaisar Huang jatuh dan terduduk lemas di atas lantai ruangan kerjanya yang dingin dengan tatapan matanya memancarkan kekosongan. Pangeran Hung dan pangeran Wu berteriak memanggil kaisar Huang, mereka bahkan membantu Ayahandanya untuk kembali berdiri. Sayangnya kedua kaki kaisar Huang kini tak memiliki tenaga.
Hanya dalam sekejap, semua energi yang ada pada tubuhnya seakan hilang bersamaan dengan otaknya yang seketika memberi gambaran mengerikan kerajaan TangShi tanpa bantuan kerajaan TangXing yang selama ini membantu kerajaan mereka lebih banyak dari kerajaan - kerajaan lain di bawa naungan kekaisaran Tang.
"Kita dalam masalah!" Gumam kaisar Huang putus asa.
Putra mahkota Fu tiba di kerajaan TangXing ketika hari telah beranjak sore. Langit kerajaan TangXing kini dihiasi oleh goresan jingga kemerah - merahan yang nampak sangat indah dimata putra mahkota Fu. Semilir angin sore berhembus menerpa dan menyapu kulitnya, putra mahkota Fu lantas memejamkan matanya dan menikmati angin yang berhembus di gasebo belakang kediamannya yang berada di istana timur.
Saat ia menikmati waktu yang tenang ini, Chyou datang dan membawa pesan kaisar Zhao yang memintanya menyusul Ayahandanya itu ke istana barat.
"Yang mulia putra mahkota, yang mulia kaisar meminta anda untuk menyusulnya ke istana barat saat ini juga" kata Chyou menyampaikan perintah kaisar Zhao
Kedua mata putra mahkota Fu yang sempat terpejam lantas terbuka lebar, ia berbalik menghadap Chyou dan menampilkan raut wajah tidak senang saat pengawal pribadi sekaligus teman kecilnya itu menyebut istana barat.
Istana bagian barat merupakan kediaman Fahrani. Selama ini putra mahkota Fu tak pernah mengunjungi tempat itu dengan sukarela kecuali jika Ayahandanya menurunkan perintah atau Ayahandannya memaksanya. Kebencian putra mahkota Fu sudah mendalam, bahkan akar kebenciannya kini sudah tak terhingga seberapa dalam ia terus merambat dan melebarkan anak cabang dari akarnya.
Kehilangan Ibunya diusia ia masih sangat membutuhkan sosoknya sangat membuat putra mahkota Fu sangat terpukul dan kehilangan. Alasan kematian Ibundanya adalah sosok adiknya hingga 14 tahun usia putri Fahrani, rasa benci itu tak kunjung surut ataupun hilang terkikis oleh waktu.
Kebenciannya pada putri Fahrani malah semakin bertambah seiring dengan segala prilaku yang ia tunjukan selalu membawa masalah dan petaka untuknya dan juga untuk kerajaannya. Tiada hari tanpa melakukan kegaduhan, sikapnya yang kekanakan dan manja selalu saja berhasil membuatnya sering kali tak mampu mengontrol emosinya. Selain membuat onar, fisiknya dan pengetahuannya sangat memalukan. Karena terlalu dimanja oleh kaisar Zhao, putri Fahrani selalu saja mengabaikan kewajibannya sebagai seorang putri.
Tak perlu membuang - buang tenaga untuk mengetahui maksud dan alasan kaisar Zhao memanggilnya, tentu saja hal itu tidak jauh dari putri Fahrani yang selalu menciptakan kegaduhan dan masalah untuk mereka. Karena terlalu sering berada disituasi yang sama dengan pembuat onar yang sama, hal itu membuat putra mahkota Fu terbiasa dengan kegaduhan dan masalah yang putri Fahrani ciptakan. Ia tak akan terkejut jika Ayahandanya memanggilnya untuk meminta bantuan ketika tak mampu menangani segala kelakuan dan perilaku buruk putri Fahrani.
"Masalah apa lagi yang gadis itu ciptakan? Tak bisakah ia berhenti membuat kegaduhan dan masalah sehari saja?" Tanya putra mahkota Fu tak mampu menyembunyikan nada geramnya.
"Yang mulia putri tidak membuat masalah apapun, Yang mulia putra mahkota. Hanya saja sejak pulang dari kerajaan TangShi hingga hari kembali malam, yang mulia putri tak kunjung keluar dari kamarnya" jelas Chyou
"Itu yang kau bilang bukan menciptakan masalah? Kau pikir dengan mengurung dirinya seperti itu tak membuat orang khawatir?" Tanya putra mahkota Fu yang langsung membuat Chyou menunduk dalam dan bergumam "bagi pengawal ini apa yang dilakukan yang mulia putri bukanlah sebuah masalah, kekhawatiran semua orang saja yang sangat berlebihan" lirihnya
"Apa yang kau bilang?" Tanya putra mahkota Fu yang langsung di balas gelengan oleh Chyou dan dengan cepat menjawab "pengawal ini tak mengatakan apapun" sangkalnya yang membuat putra mahkota Fu memincingkan matanya curiga karena ia jelas - jelas melihat teman kecilnya itu menggumamkan sesuatu.
Chyou menampilkan raut wajah tenang seakan ia memang tak mengatakan apapun agar putra mahkota Fu berhenti menatapnya curiga. Saat putra mahkota Fu mendesah dan melangkah lebih dulu meninggalkannya, saat itu pula Chyou akhirnya bisa bernafas dengan lega. Sedari tadi ia menahan nafasnya hanya karena tatapan putra mahkota Fu yang sangat mengintimidasi baginya.
Setelah melalui jalan utama menuju istana barat yang juga merupakan istana bagian dalam, kini putra mahkota Fu kembali menginjakan kakinya pada tempat yang sangat tak ingin ia pijaki ataupun singgahi.
Istana barat adalah kediaman sekaligus saksi bayi mungil berlumuran darah itu kini tumbuh menjadi gadis yang sangat ia benci. Bukan hanya karena ia lahir dengan harus mengorbankan nyawa Ibundanya, tapi ia juga terlahir dengan fisik dan pengetahuan yang sangat memalukan.
Tiada hari tanpa cercaan, hinaan atau makian semua orang lontarkan padanya, fisiknya yang sangat jauh berbeda dari kebanyakan putri dan nona muda diluar sana membuatnya selalu mendapat hujatan yang ikut berimbas pada kerajaan TangXing.
Tak ada yang gadis itu tahu selain hanya mengejar sang pujaan hati yang malangnya menolaknya di depan banyak orang. Entah sudah berapa banyak masalah yang ia ciptakan, entah sudah berapa banyak cacian, makian, hujatan dan penghinaan yang mereka dapatkan karenanya selama 7 tahun lamanya.
Sampai saat ini, dengan kebencian yang semakin hari semakin besar. Bagi putra mahkota Fu, gadis yang sangat tak ingin ia sebutkan namanya ataupun anggap sebagai saudarinya walaupun kerap kali kaisar Zhao, bibi dan juga pamannya bahwa ia adalah mei meinya, namun dimatanya ia masih seorang pembunuh!
*****
Di istana barat, tepatnya di pavilium Yue. Putri Fahrani sedari tadi hanya membaringkan dirinya sambil menatap langit - langit kamarnya. Penolakan pangeran Hung terus terbayang dalam memori ingatannya dan hal itu membuatnya merasakan ada ribuan pisau tak kasat mata yang menikam jantung dan hatinya secara bersamaan.
'Ben Wang tidak akan pernah menyukai wanita jelek, gendut dan yang berdandan dengan riasan yang sangat tebal'
'Seharusnya kau sadar diri jika wanita jelek sepertimu sama sekali tak sebanding dan bisa bersanding dengan Ben Wang'
Perkataannya yang begitu menyakitkan terus berputar, hingga pada akhirnya ia kembali menangisi nasibnya yang nampak begitu malang.
Dulu ia pikir, dengan harta dan kekuasaan yang dimiliki Ayahandanya bersama dengan kerajaan TangXing yang mendukungnya dari belakang, ia bisa mendapatkan semua yang ia inginkan. Namun semua yang ia miliki nampaknya tak berarti, pria yang ia puja dan suka tak balik membalas perasaannya.
Jangankan mendapat yang ia inginkan dan dambakan, malah yang ia dapatkan justrul penghinaan dan rasa malu. Usahanya selama 2 tahun mengejar pangeran Hung berbuahkan hasil yang menyakitkan. Fisiknya kembali di gunjingkan, dicela, dan dihujat di depan banyak orang yang menertawakannya. Mereka tertawa kencang tak peduli dengan statusnya yang lebih tinggi dari mereka.
Putri Fahrani beranjak bangun dari rebahannya, ia lantas mendudukan dirinya di pinggir peraduan. Tak berselang berapa lama ia beranjak bangun menuju sebuah cermin besar setinggi tubuhnya yang berada dekat pintu masuk permandian.
Putri Fahrani berdiri dihadapan cermin. Ia lantas melihat pantulan bayangan dirinya yang nampak sangat gemuk, dan kulitnya kecoklatan dan nampak dekil. Melihat pantulan wajahnya, ia tersenyum miris. Air matanya kembali luruh, padahal ia sudah berusaha agar tidak menagis lagi.
Nyatanya rasa sakit yang ia rasakan sangat perih. Rasa sakit yang ia rasakan bahkan mengalahkan luka yang nampak. Seharusnya ia tau jika ia menyukai seorang pemuda di usianya yang masih 14 tahun, ia harus siap dengan segala kemungkinan dan salah satunya adalah sakit hati. Walaupun ia selalu meyakinkan dirinya bahwa siap menghadapi rasa sakit itu, tapi siapa sangka jika sakitnya akan seperti ini?
"Berhentilah menangis Fahrani! Kau nampak sangat menyedihkan!" Tegas putri Fahrani pada pantulan bayangan dirinya yang berada di cermin
Tapi hidupku memang sangat menyedihkan!
Selama 14 tahun hidupnya, ia salalu diliputi rasa bersalah. Penderitaan atas pilihan takdir akan kematian Ibundanya karenanya, juga kebencian putra mahkota Fu sudah cukup membuatnya terpukul. Jika ia bisa melalu sejala cela, hujatan dan makian semua orang karena fisiknya, rasa bersalah dan penderitaan panjang yang ia rasakan masih sangat sulit ia lalu.
Semakin hari kebencian putra mahkota padanya semakin besar, bahkan sejak ia masih kecil putra mahkota Fu memanggilnya sebagai seorang pembunuh, bukan seorang 'mei - mei'. Sampai detik inipun putri Fahrani tahu jika pandangan putra mahkota Fu padanya masih tetap sama, dimatanya ia masih seorang pembunuh.
.
.
.
Putra mahkota Fu tiba di pavilium Yue, didepan pintu kamar saudarinya itu telah berdiri kaisar Zhao dan putri LiangYi yang terus membujuk. Entah apa yang gadis itu lakukan didalam sana sehingga tak mendengar segala perkataan, bujukan dan rayuan yang dilontarkan oleh kaisar Zhao dan putri LiangYi yang merupakan bibinya.
"Gege, adikmu ini tak mendengar pergerakan apapun didalam!" Kata putri LiangYi saat menempelkan salah satu telinganya pada pintu kamar putri Fahrani yang tertutup sangat rapat.
"Apakah mungkin putri Fahrani sudah --"
"Berhenti mengatakan hal yang aneh dan buruk!" Potong kaisar Zhao cepat.
"Putri Fahrani tidak akan mengakhiri hidupnya hanya karena penghinaan yang ia dapatkan, ia sudah melewati banyak penderitaan dengan hujatan dan celaan banyak orang karena fisiknya. Selama ini ia masih berdiri dengan kokoh dibawah kalimat pedas dan sarkas yang menyayat hati, bahkan ia masih bertahan dibawa tekanan rasa bersalah serta penyesalan dan kebencian putra mahkota" tambah kaisar Zhao yang sangat percaya putrinya adalah gadis yang kuat dan juga hebat.
Perkataan kaisar Zhao sangat menohok hati putra mahkota Fu. Apa yang Ayahandanya katakan adalah hal yang benar. Walaupun fisik putri Fahrani dikatakan buruk rupa karena bertubuh gendut dan kulitnya nampak dekil bak rakyat jelata, satu hal yang membuatnya kagum adalah semangat dan kegigihannya. Ia tak mudah menyerah walaupun ada banyak orang yang berusahan menjatuhkannya, menekannya hingga titik kepercayaan dirinya jatuh kedasar. Namun putri Fahrani masih bisa bangkit, dan akan terus bangkit. Tak peduli berapa banyak orang yang tidak menyukai ataupun membencinya, tak peduli ada banyak rintangan yang akan menghadangnya. Ia terap semagat dan gigih untuk terus berusaha dan pantang menyerah meraih apa yang ia inginkan.
Lamunan putra mahkota Fu yang sampai saat ini tak disadari keberadaannya oleh kaisar Zhao ataupun putri LiangYi buyar saat putri LiangYi berkata -- "Tapi gege, adikmu ini bersumpah tak mendengar apapun didalam! Apakah Fahrani'er punya prajurit khusus yang anda perintahkan? Mengapa ia tak becus dalam bekerja! Putri Fahrani tak melakukan pergerakan apapun di dalam" ucap putri LiangYi khawatir.
Tak berselang berapa lama seorang prajurit berpakaian hitam dengan pinggiran bajunya terdapat sulaman benang perak dengan pola naga kecil menyita perhatian ketiganya. Prajurit yang kini menghadap mereka merupakan prajurit khusus kerajaan TangXing yang mana semua prajurit khusus memiliki kemampuan bela diri dan bakat bawaan di atas rata - rata.
"Lapor yang mulia, yang mulia putri Fahrani tidak sadarkan diri didalam kamarnya"
"Apa?" Putri LiangYi terkejut dengan laporan prajurit itu ia lalu dengan keras memukul pintu kamar putri Fahrani dan terus berteriak memanggil sang pemilik kamar.
Kaisar Zhao lantas memanggil beberapa prajurit untuk masuk dan mendobrak pintu kayu nan kokoh di hadapannya. Terlepas dari kecemasan, kepanikan dan kekhawatiran semua orang. Juga terlepas dari rasa kagum putra mahkota Fu yang sempat ada. Nyatanya gadis yang kini terbaring di atas permukaan lantai yang dingin setelah pintu berhasil di dobrak, gadis itu masih saja menyusahkan!