Malam itu Saraswati duduk sendirian di meja bundar paling depan, menatap panggung dengan cahaya kemerahan. Kedua matanya sedari tadi terjerat pada sosok lelaki tampan yang kini sedang menyanyikan lagu bernuansa Jazz.
Lelaki berpenampilan kasual yang mengenakan jaket kulit coklat itu, duduk di atas kursi tinggi sambil memegang mic. Wajah maskulin selaras dengan gema bariton yang mencuri telinga seluruh pengunjung di bar ini. Sesekali lelaki itu membelah rambutnya yang gondrong dengan sebelah tangan.
Tampan, itu yang ada di kepala semua yang hadir menonton nya.
Tatapan lelaki itu berkali-kali menemukannya. Meredup sayu, tiap kali ia tersipu malu akibat senyuman kelewat manis yang dalam sekejap melumpuhkan hatinya. Saraswati yakin bukan sekadar kebetulan tatapan mereka berkali-kali bertabrakan, hanya karena ia duduk di meja paling depan.
Tidak pernah Saraswati sangka, akan menemukan lelaki yang begitu menarik di bar rekomendasi salah seorang kenalannya. Sepulang kerja di Jumat malam, ia hanya berniat melepas penat dengan sepiring pasta dan segelas bir di atas meja. Siapa sangka, di bar yang tidak terlalu ramai pengunjung ini ia mendapatkan penampilan panggung mengesankan dari lelaki yang tampak begitu sensual.
Saraswati sebenarnya tidak begitu menyukai musik.
Tetapi akhir-akhir ini ia mencoba mendengarkan demi menyamakan selera dengan beberapa kolega bisnisnya. Namun suara dalam dan berat penyanyi dengan penampilan unggul di atas panggung, membuat musik yang sedang dimainkan begitu menyatu dengan telinganya.
Lebih tepatnya, menyatu dengan kedua matanya.
Entahlah. Mungkin lelaki itu memang atraktif dan terlanjur memikat sehingga apa saja yang dilakukan terlihat bagus-bagus saja. Mungkin juga karena lelaki manis itu mengenakan jaket merah yang selaras dengan pencahayaan panggung.
Riuh tepuk tangan menjadi penutup dari lagu yang baru saja selesai dibawakan. Lelaki itu dan personil band lainnya turun dari panggung, hanya menyisakan seorang pianis yang bertahan memainkan instrumen.
Lelaki itu mendekat sambil mengurai senyuman yang membuat jantung Saraswati berdetak lebih kencang.
“Sendirian?” tanya lelaki jangkung yang sudah berdiri di depan mejanya.
“Seperti yang kamu lihat, saya sendirian.” Saraswati tidak menerima pertanyaan basa-basi.
“Boleh... duduk?” Lelaki itu tersenyum sambil bersiap menarik kursi di hadapannya. Seperti sudah tahu akan jawabannya.
“Silahkan.”
Jawabannya membuat lelaki menawan yang terlanjur mencuri puja- pujinya itu tersenyum malu, kemudian duduk dengan manis di hadapannya.
“Saya Fadly .” Lelaki itu percaya diri memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan. Mungkin agar terkesan tidak terlalu formal.
Saraswati mengamati lekat-lekat wajah Fadly yang menawan.
“Boleh saya tahu nama kamu?” Fadly bertanya dengan tatap antusias.
Senyuman Saraswati lepas begitu saja. Lelaki bernama Fadly yang duduk di hadapannya bahkan hanya mengenakan kaos dan celana jeans, yang dipadu dengan jaket merah. Tetapi entah mengapa bisa terlihat begitu seksi. Apa karena kulit kecoklatan dan rambut sedikit gondrong yang luar biasa enak dilihat?
Ditambah, Fadly luar biasa sopan. Apa karena malam ini ia masih mengenakan pakaian kantoran sehingga Fadly akhirnya bersikap lebih formal?
“Saraswati . Panggil aja Saraswati ,” jawab Saraswati tanpa ragu meski selama ini ia lebih sering dipanggil Saras. Tetapi entah mengapa untuk lelaki tampan asing berwajah manis ini ia membuat pengecualian.
“saras asli orang Jakarta?” Fadly bertanya penuh minat.
“Iya. Kamu?”
“Saya asli Jogja. Jawa tulen.” Fadly lagi-lagi memamerkan senyuman manisnya.
Saraswati mengulum senyuman kagum sambil diam-diam memuji dalam hati, mas-mas Jawa memang bukan maen!
“Boleh saya temenin ngobrol? Kalau Saras mau. Saya sudah nggak ada panggung lagi.”
Mana bisa Saraswati menolak mas-mas Jawa dengan daya pikat yang kelewat manis ini? Fadly seperti diproduksi dari pabrik gula. Tidak. Saraswati meralat pemikirannya barusan.
Saraswati bertekad ia harus berhati-hati pada lelaki jenis gula Jawa seperti Fadly , atau hatinya akan terbebani oleh harapan pada pesona yang sulit dimentahkan oleh perempuan mana pun. Terlebih sepasang mata elang dan hidung mancung yang membuat Saraswati diam-diam semakin memuji pesona otentik khas jawa di hadapannya.
“Suara kamu bagus. ,” puji Saraswati terus terang.
“Seksi ya?” tanya Fadly dengan kerlingan menggoda.
Saraswati tidak bisa tidak tertawa. Tidak bisa tidak sedikit gugup. Sebaliknya, Fadly tidak sedetik pun terlihat salah tingkah. Fadly seperti begitu yakin dengan apa yang dikatakan juga dilakukan.
Iya. Seksi. Saraswati hanya mampu menjawab di dalam hati.
“Saya biasa nyanyi di sini setiap Selasa dan Jumat.” Kedua mata Fadly menemukan tatapannya. Ada sesuatu di sana, seperti percikan yang mengisyaratkan ketertarikan. Jadi apakah ini petunjuk bahwa ia bisa menemukan Fadly di sini setiap hari Selasa dan Jumat?
Fadly mengangkat sebelah tangan sambil memanggil waiters yang melintas. Menyapa dengan candaan karena sepertinya sudah akrab, lalu memesan minuman beralkohol. Dari jenis minuman yang dipesan, Saraswati menduga pemuda di hadapannya juga seorang peminum.
“Nggak keberatan kan kalau saya ngerokok?” tanya Fadly sambil mengeluarkan sekotak rokok dan korek api. Fadly sungguh tahu, jika tidak memerlukan jawabannya.
Lelaki seperti ini, sungguh idamannya. Tidak kelewat hati-hati bersikap di depan wanita. Percaya diri bersikap apa adanya. Sedikit memimpin. Lelaki yang terlalu baik, memang kadang gagal tampil menarik di mata wanita sepertinya.
“Silahkan.” Saraswati menjawab santai.
Pemantik dinyalakan. Bibir seksi menghembuskan asap beberapa kali.
Saraswati tenggelam dalam pemandangan yang entah kenapa terasa sangat lelaki. Wajah, sikap, suara, intonasi, bahkan tatapan, juga senyuman pabrik gula Fadly , semuanya terasa lekat dengan aura jantan.
Mas-mas Jawa emang manis. Sejenak Saraswati menunduk malu demi menyembunyikan senyuman samar di wajah.
“Temenin saya minum mau?” Fadly menatap lekat kedua matanya.
Saraswati hanya menjawab dengan senyuman. Tentu saja ia mau. Ia rasa minum sedikit tidak akan membuatnya mabuk, meski tadi ia sudah menghabiskan bir dengan kadar alkohol yang rendah. Saraswati pikir tidak ada salahnya sesekali minum dengan lelaki setampan Fadly , mumpung suasana hatinya sedang bagus dan ia ingin bersantai menikmati malam.
“Selain nge-band, kamu sibuk apa?” Saraswati tertarik tahu lebih jauh.
“Saya di sini tiap Selasa sama Jumat. Selain hari itu, di tempat lain.” Fadly memiringkan kepala sedikit.
“Ah I see... kamu pemusik.”
“Pengamen,” ralat Fadly .
Saraswati menenggak bir-nya. Benar dugaannya. Lelaki di hadapannya tidak berprofesi sebagai pegawai kantoran, seperti kenalannya yang lain. Melihat Fadly yang tampil dengan rambut semi gondrong, sepertinya lelaki itu memang pekerja seni. Kedua mata Saraswati baru saja menangkap tindikan dengan anting di salah satu daun telinga Fadly .
“Cia pasti pingin santai habis pulang kerja, tapi jadinya keterusan di sini.” Fadly menebak sebelum menenggak minuman yang baru saja datang.
“Keliatan ya?”
“Kirain nungguin saya.” Fadly melirik piringnya yang telah kosong juga gelas bir-nya yang juga nyaris kosong.
Tawa kecil Saraswati berderai. Sial. Ia ketahuan. Memang nyatanya keberadaan Fadly yang membuatnya betah berlama-lama di sini.
Mereka tenggelam dalam obrolan santai. Saraswati menceritakan profesinya sebagai pengusaha retail dan eksportir dan hobinya nongkrong santai sepulang kerja. Fadly juga bercerita mengenai pekerjaannya sebagai pengamen yang kerap manggung dari satu tempat ke tempat lain. Selain itu Fadly menceritakan jenis alat musik apa saja yang dikuasai dengan baik, membuat Saraswati tenggelam dalam topik yang sama sekali berbeda dengan dunianya.
Malam beranjak kian larut. Fadly menambah pesanan minuman, dan Saraswati bertahan ikut minum.
Kepala Saraswati sudah bertambah berat. Entah sejak kapan jemari mereka sudah saling tertaut di atas meja. Mereka menertawakan banyak hal. Di depan kasir Fadly bersikap gentle dengan mengeluarkan dompet, berniat membayar total tagihan.
Tawa Saraswati berderai saat lelaki itu mengeluarkan kartu tanda penduduk.
“Eh keliru.” Cengiran Fadly mengembang lebar. Saraswati menggelayut manja pada lengan Fadly . Ia melihat deretan kartu di dompet Fadly . Meski sedikit mabuk, kedua matanya jeli melihat kartu kredit platinum berlogo bank ternama di dompet Fadly .
Apa? Apa pengamen ini kaya raya? Saraswati sekali lagi melirik wajah Fadly yang memilih memberikan kartu lain kepada kasir.
Tentu saja Saraswati tahu, kartu kredit jenis platinum hanya diberikan kepada mereka yang berpenghasilan besar setiap bulannya. Di bank tempatnya bekerja dulu sebelum ia memutuskan menjadi seorang pengusaha kartu kredit platinum hanya bisa diberikan kepada nasabah yang berpenghasilan minimal seratus juta per bulan. Tentu saja fasilitas yang diberikan sungguh setara dengan gaya hidup nasabah. Di antaranya nasabah bisa menikmati berbagai layanan bertaraf internasional seperti luxury golf club, bon appetite club, visa platinum club, juga executive lounge di berbagai airport tanah air.
“Mau lanjut ke mana?” tanya Fadly saat ia berjalan sempoyongan di samping lelaki itu, yang dengan sigap menyangga tubuhnya agar tidak jatuh.
Saraswati menatap hotel di seberang jalan.
Persetan itu hotel check on cek out gairahnya sedari tadi sudah memuncak. Saraswati hanya ingin segera berdua-duaan di dalam kamar dengan Fadly . Seolah sudah saling tahu maksud masing-masing, mereka menyeberangi jalanan yang sepi dengan derai tawa.
Saraswati hanya ingin merasakan kehangatan lelaki menawan yang baru saja ditemuinya malam ini. Sungguh penasaran sejauh apa Fadly mampu membuatnya terseret dalam arus pesona. Sudah lama Saraswati tidak merasakan hal seperti ini dan malam ini Saraswati hanya ingin membebaskan dirinya. Saraswati pikir, tidak ada salahnya bersenang-senang dengan lelaki teramat menarik seperti Fadly .
“Mmmhh... Fadly ... “ Saraswati merengek kecil saat di dalam kamar dengan pencahayaan remang, kejantanan Fadly membuat kewanitaannya terasa sesak.
Sudah sangat becek di bawah sana. Fadly malam ini membuat kewanitaannya yang sudah lama kering berdenyut berkali-kali. Cara lelaki itu melakukan pemanasan sungguh sesuai dengan imajinasi setiap kaum hawa di muka Bumi.
Tidak terburu-buru, sabar, dan terlihat luar biasa ikhlas. Dalam sekejap hatinya merasa nyaman, karena Fadly membuatnya yang sudah absen bercinta selama dua tahun tidak merasa bersalah.
Saraswati kerap merasa tidak enak jika membuat lelaki menunggu lebih lama lagi saat sudah berada di puncak gairah. Namun Fadly , antusias menyentuh setiap inchi tubuhnya seperti mainan baru.
Seperti dugaannya, Fadly memang benar-benar jantan. Segala yang ada pada diri lelaki itu tidak ada yang tidak jantan. Ia dilecut gairah saat melihat kulit langsat Fadly bersanding dengan kulit putih pucatnya. Ia tenggelam dalam rengkuhan lengan Fadly .
Saraswati memekik kecil, berkali-kali saat irama pergerakan Fadly membuat tubuhnya berguncang. Napas Fadly bau alkohol, begitu juga napasnya. Tetapi mereka tidak bisa berhenti melumat bibir satu sama lain.
Kepalang nikmat, Fadly membawa rasa itu datang lagi. Membuat rintihannya lepas berkali-kali.
“Hmmh Fadly ! Oh Fadly ! Iyaa iyaaa!” Saraswati tak kuasa menahan bibirnya saat kejantanan Fadly yang tengah mengaduk-aduk liang kewanitaannya berhasil membawanya pada geliat kenikmatan yang kian menebal. Seluruh rasa malunya luntur saat bibirnya yang berisik membuat gerakan Fadly makin mengencang.
Saraswati memekik tertahan saat tubuhnya melenting saking tidak tahannya terhadap rasa yang menerjang hebat. Saraswati hanya bisa meringis saat jerat tatapan Fadly menemukannya. Tatapan yang seolah mengatakan aku akan melakukan apa saja untukmu. Lumatan panas di bibir seolah tegas menyatakan saat ini kamu milikku.
Tempaan dahsyat Fadly memanjakan titik ternikmatnya berkali-kali. Membuat Saraswati menjadi semakin basah dan hilang berkali-kali dalam ledakan kenikmatan.
Ia mengerang panjang di pelukan Fadly . Kedua tangannya kembali menjambak kuat-kuat rambut Fadly yang tadi sudah ia buat berantakan.
Sial. Laki-laki ini hebat. Rasanya sungguh terbayarkan sia-sia mengering sendiri selama satu tahun. Fadly bahkan belum tampak lelah, malah tersenyum tipis penuh kebanggaan. Seolah yang tadi itu belum apa-apa.
“Mmmm.... “ Saraswati menggumam malu-malu. Sungguh tidak menolak jika diberi lagi, meski badan sudah lemas.
Fadly memagut pelan bibirnya, berciuman kecil, seolah masih bisa sabar.
“Fadly .... kamu ganteng banget. Jantan banget... “ Kedua tangan Saraswati menangkap gemas wajah Fadly , seolah tidak lagi malu memuji dewa seks-nya malam ini.
Fadly tersenyum dan kembali bergerak.
“Owh Fadly ..... “
Suara dengkuran membuat Saraswati mendecih kesal.
Dengan berat hati ia membuka mata dan kelewat kaget saat menemukan lelaki asing di sampingnya.
Hah?
Saraswati menatap linglung dirinya yang berada di dalam selimut yang sama dengan lelaki itu.
Tatapannya menerjang panik apa pun di dalam kamar yang tampak kelewat biasa saja.
Tunggu, seingatnya semalam ia menyantap pasta dan minum bir sambil menikmati live .
Lalu kenapa dengan dirinya saat ini? Apa ia berakhir di hotel esek-esek dengan seorang lelaki random? Saraswati luar biasa shock saat menemukan dirinya telanjang bulat di balik selimut.
Terperangah, Saraswati menatap sekali lagi wajah lelaki yang mendengkur di sampingnya. Perlahan muncul bayangan mas-mas jawa dengan senyuman pabrik gula yang mendatangi mejanya semalam.
Sial. Jadi mereka sampai sejauh ini? Saraswati menyesali kebodohannya yang mengambil tindakan ceroboh saat sedang mabuk. Sejujurnya, ia bahkan sedikit lupa bagaimana bisa sampai di hotel ini bersama.... eh siapa namanya?
Tunggu. Siapa namanya? Saraswati menatap sekali lagi wajah pemilik kelamin kelewat gagah yang membuatnya dilanda nikmat semalaman. Sial, yang Saraswati ingat hanya bagaimana bibirnya ternganga saat melihat kelamin lelaki gula jawa.
Aishh kelamin! Eh Gula Jawa!
Sungguh terlalu. Ia lupa namanya tapi ingat kelaminnya. Maksud Saraswati rasa kelaminnya.
Haduh! Saraswati menggigit bibir bawahnya sambil menahan cemas.
Tentu saja Saraswati tidak ingin membangunkan lelaki gula Jawa cendol dawet. Jadi dengan gerakan perlahan ia beringsut menuruni ranjang. Tanpa sengaja sebelah kakinya menginjak dompet yang tergeletak begitu saja di lantai.
Saraswati segera memungut dompet hitam berbahan kulit di bawah kakinya. Sekali lagi melirik wajah tampan lelaki gula Jawa yang masih mendengkur di atas ranjang.
Siapa namanya? Aku nggak boleh lupa. Saraswati segera membuka dompet di tangannya dan mencari KTP lelaki gula Jawa . Kedua matanya melebar saat menemukan KTP yang dimaksud.
Fadly Surya.
Saraswati membaca nama pejantan tangguh yang semalam menarik celana dalamnya dengan gigi. Masih terbayang bagaimana saat Fadly memanjakannya di bawah sana. Sejauh ini, yang terbaik.
Bagaimana lidahnya bermain di klitoris nya. Bagaimana penisnya menusuknya nikmat.
Kedua mata Saraswati membelalak lebar saat ia melihat tanggal lahir Fadly .
Apa? Dia sepuluh tahun dibawah ku..?
Saraswati menjatuhkan KTP Fadly begitu saja saat daya kejut bertegangan tinggi membuat punggungnya langsung menegak.
Ia secara sembrono bercinta dengan anak kemarin sore? Saraswati nyaris menangis saat menemukan KTM Fadly di dalam dompet.
Sial!
Sial!
Siaaaaaaaaaaal!
Jadi semalam ia bercinta dengan berondong berusia yang usia nya sepuluh tahun dibawahnya.
Sial! Saraswati berharap ia salah baca tetapi tidak ada yang salah dengan ketikan di KTP juga kedua matanya.
Jadi Fadly berondong? Bahkan jarak usia mereka terpaut jauh sepuluh tahun.
Kenapa Fadly semalam begitu gagah selayaknya laki-laki tiga puluh tahunan yang sudah berpengalaman dengan wanita? Saraswati juga merasa kesulitan menebak usia laki-laki karena sering menjumpai lelaki berpenampilan menarik yang ternyata awet muda.
Pembawaan diri dan segala hal yang ada pada Fadly bahkan sudah layak disandingkan dengan pria yang jauh lebih dewasa. Fadly sepertinya juga berpenghasilan seratus juta setiap bulannya.
Rasanya kelewat malu. Sungguh terasa kurang pantas.
Saraswati mengembalikan KTP Fadly ke dalam dompet yang ia letakkan di atas meja. Selanjutnya ia mulai mengenakan pakaiannya yang tercecer.
Ia harus segera pergi dan menganggap tidak pernah terjadi apa pun. Ia tidak ingin berurusan dengan Fadly lebih jauh lagi. Setampan apa pun, berondong bukan tipenya. Apalagi yang berjarak sepuluh tahun. Saraswati mengenakan heels-nya dan menyambar tas-nya, kemudian sekali lagi menatap Fadly . Langkahnya tertahan sejenak di ambang pintu yang sudah terbuka.
Semalam memang luar biasa indah, sebelum ia mendapati kenyataan.
Bradoz nama band-nya saat ini, sudah berdiri selama lima tahun dan cukup dikenal di kalangan pecinta musik pop koplo meski hanya membawakan lagu-lagu penyanyi lain.
Bradoz juga sudah punya nama di restoran, dan kafe, yang berimbas pada semakin seringnya job berdatangan. Ia sendiri merupakan personil yang bergabung paling akhir dan sudah menjadi vokalis tetap Bradoz selama tiga tahun sejak saat masih duduk di bangku kuliah.
Semua ini berawal dari perpanjangan kontrak dengan Tante Sandra pemilik Cafe.
Sepertinya, tante yang satu itu sudah kelewat bucin dengannya, sehingga menyetujui kenaikan tarif sebanyak 70%℅.
Fadly benar-benar merasa hidupnya sedang berada di atas angin. Kembali teringat, bagaimana pertemuan pertamanya dengan Sandra delapan bulan yang lalu.
Tetapi jika masih dianugerahi wajah tampan dengan fitur sangat lelaki seperti rahang tegas dan tatapan elang, tidak apa-apa juga kan menggunakannya untuk sesuatu yang menguntungkan? Terutama jika otak agak-agak kosong dan modal terbesar dalam kehidupan hanya wajah yang tampan juga kelamin yang ehm, besar.
Oh satu lagi. Keras maksimal.
Setuju!
Fadly sekali lagi menatap penampilannya di depan cermin toilet.
Fadly Surya, mahasiswa tingkat akhir. Hobi menyenangkan wanita.
Fadly tersenyum sendirian.
Manis banget. Fadly diam-diam memuji senyuman menawan dari wajahnya sendiri.
Dengan sepenuh kagum ia menatap pantulan bayangannya sendiri.
Pemilik wajah menawan ini, baru saja berulang tahun yang ke-25, tepat satu minggu setelah wisuda. Fadly memang sempat menunda kuliah dan juga telat lulus. Intinya, tidak terlalu niat mengejar target akademis.
Tahun pertama lulus SMA, ia memilih menghabiskan malam dengan tampil dari panggung ke panggung demi mengejar cuan yang kini terasa begitu receh. Bersama teman-teman band-nya, ia kerap mengisi acara di kafe, pub, bar, juga kelab malam.
Tentu saja karena wajahnya tampan dan suaranya lumayan, ia didaulat mengisi posisi vokalis meski juga sangat mahir bermain piano.
Sampai saat ini ia setia bertahan dengan hobi yang sekaligus menjadi pekerjaan sampingannya, meski jenis musik yang diusung sudah berbeda. Fadly bersama band-nya yang sekarang hanya membawakan musik pop koplo. Bersama band-nya saat ini, Fadly sudah sering mendapatkan job untuk mengisi acara di kafe, hotel, wedding event, hingga acara perusahaan.
Awalnya hasil dari bermain musik memang tidak seberapa, apalagi harus dibagi sama rata sejumlah personil band. Tidak cukup untuk hidup enak dan nyaman di Jakarta.
Akan tetapi saat ini, Fadly bisa mengantongi antara delapan hingga lima belas juta dalam sebulan hanya dari bermain band.
Jika saja ia bermain dalam band yang mengusung lagu-lagu top 40, Fadly yakin penghasilannya bisa lebih banyak lagi. Akan tetapi, Fadly sudah terlanjur jatuh cinta pada musik pop koplo dan hanya ingin memainkan jenis musik ini. Ia tidak begitu ambisi mengejar uang receh dari bermain band, karena sudah mendapatkan nominal yang berkali-kali lipat lebih besar dari hasil menjual diri kepada tante-tante kaya.
Fadly cukup puas terhadap berapa pun nominal uang yang ia dapatkan dari bermain musik.
Meskipun demikian, Fadly belum rela untuk meninggalkan profesi utamanya sebagai pemuas wanita.
Perjalanan karirnya sebagai pemuas wanita berawal ketika di suatu malam ia mabuk setelah mengisi acara soft launching di sebuah bar. Setelah menuruni panggung, ia berada satu meja dengan wanita pemilik bar yang malam itu bersikap sangat baik kepadanya.
Wanita yang sudah tampak tidak muda lagi itu menjamu teman-teman band-nya dengan minuman paling mahal. Tiba-tiba ia ditinggalkan berdua saja dengan wanita berwajah oriental yang sedari tadi tampak tertarik hanya mengobrol dengannya.
Demi kesopanan Fadly bertahan menemani wanita pemilik bar, meski kepala sudah terasa berat dan bicara sudah melantur ke mana-mana. Seingat Fadly, keesokan harinya ia terbangun di kamar hotel yang terlihat luas dan mewah.
Fadly tentu saja tekejut. Memang bukan yang pertama kalinya ia melakukan hal seperti itu. Beberapa gadis cantik di kampus, sudah silih berganti luluh di dalam pelukannya sampai pagi. Akan tetapi, baru kali itu ia bermalam dengan wanita yang sudah lumayan berumur.
"Wah Sayang, sudah bangun!" Wanita itu mencubit gemas ujung hidung mancungnya, sebelum menangkup kedua pipinya. "Kamu semalem mabuk, tapi pinter banget!"
Pinter? Saat itu Fadly dilanda bingung. Tante itu kok tahu kalau Fadly termasuk mahasiswa berprestasi.Bahkan nilai ujian semesternya bertaburan nilai A dan B.
"Pinter apa Tante?" Ia bertanya heran.
"Idih pura-pura bego!" Tante yang ia sudah lupa namanya itu mencubit gemas pinggangnya. "Karena semalem kamu bikin Tante happy, nih buat kamu!" Wanita itu menyodorkan uang sepuluh juta tepat di depan hidungnya.
"Wah, wah banyak banget Tante!" Fadly terperangah saat menggenggam uang sepuluh juta. Bahkan tangannya saat itu sedikit gemetaran saking tidak percayanya.
Sejak kapan mendapatkan uang jadi semudah ini? Pikir Fadly saat itu.
"Duh gemes banget!" Tante itu mencubit keras sebelah pipinya, sampai ia meringis kesakitan. "Bisa Tante tambahin kalau kamu mau!"
"Hah? Ditambahin?" Fadly menatap tak percaya sampai memiringkan kepala. Tunggu, apa ia masih mabuk? Fadly menampar sebelah pipinya sendiri.
Ternyata sakit.
Wanita itu tergelak melihat sikapnya, kemudian mencubit gemas ujung dagunya.
"Tante keburu ke airport, suami Tante udah mau landing. Telpon Tante ya?" Wanita itu meletakkan kartu nama di atas bantal.
Berawal dari penawaran menggiurkan itu, ia memilih menjalani profesi ini untuk membiayai masa depannya kelak.
Fadly sungguh tahu kapasitas dirinya.
Ia tidak pintar. Ia juga tidak pernah aktif dalam kegiatan kampus. Ia menjalani kuliah hanya demi selembar ijazah yang dulu ia kira akan membuatnya selamat dari nasib menjadi pengangguran.
Soal asmara pun tidak jauh beda.
Biaya mengencani seorang gadis cantik sama sekali tidak murah. Setidaknya ia harus keluar uang bensin dan uang makan, juga tetek bengek lainnya. Wajahnya tidak akan mampu bersaing dengan anak-anak orang kaya yang membawa mobil keren keluaran terbaru. Ini baru pacaran, belum melamar anak orang.
Jadi atas dasar itu, Fadly menerima tawaran Tante Agnes pengusaha kaya raya yang menjadi tante pertamanya.
Memasuki semester empat di kampus, ia sudah tidak mengejar para mahasiswi cantik. Siapa sangka, jauh-jauh kuliah di Jakarta, ia malah berakhir menjadi simpanan tante-tante kaya. Fadly, menyembunyikan rapat-rapat sisi kehidupannya yang satu ini dari semua orang.
Sesuai permintaan tante Michele, ia sudah tidak diperbolehkan menjalin hubungan dengan para gadis, di mana hal itu dulu selalu menjadi ciri khas-nya.
Berhembus gosip di fakultasnya, jika sesungguhnya ia telah patah hati. Mantan terakhir percaya diri menatap iba saat mereka bertemu di kampus. Beredar gosip menyedihkan, Fadly Surya trauma dengan perempuan hingga memilih jomblo. Fadly tidak peduli, yang penting nominal di rekeningnya mengalir deras.
Fadly teliti memperhatikan wajahnya sendiri di cermin.
Bagus. Fadly memiringkan wajahnya ke kanan lalu ke kiri. Berikutnya Fadly menatap kemeja putih sedikit longgar yang ia kenakan. Ujung lengan kemeja sengaja digulung sampai siku agar terlihat lebih santai. Tubuhnya kurus, jadi ia menghindari mengenakan kemeja slim fit. Meski bukan kurus yang sampai menampakkan tulang rusuk, tetap saja kemeja slim fit ala pegawai kantoran bukanlah seleranya. Meski begitu Fadly tetap menjaga tubuhnya agar tetap ideal dengan rajin fitnes dan berenang, juga jogging. Tentu saja meski pun tidak bertubuh atletis, ia harus tetap berusaha agar sedap dipandang. Setidaknya meskipun kurus, tubuhnya masih terlihat ideal.
Masalah kurus ini sebenarnya juga faktor keturunan. Dari dulu, tubuhnya hanya segini-segini saja dan tidak mudah gemuk.
Fadly memutuskan membuka tiga kancing kemeja paling atas, demi menambah daya tarik. Meski tidak berkulit putih pucat, dadanya teramat mulus dan selama ini Fadly percaya diri memamerkan kulit kuning sedikit kecoklatan miliknya. Kata para tante, kulitnya seksi.
Fadly kembali merapikan rambutnya. Untuk perkara merapikan rambut, ia bisa melakukannya berkali-kali. Rambutnya sedikit gondrong dengan poni yang nyaris menutupi kedua mata
Memang sengaja. Biar tante-tante penasaran.
Fadly mundur sejenak beberapa langkah demi melihat celana jins hitam ketat yang membungkus tungkai jenjangnya. Ujung kemejanya yang panjang telah menyelamatkan tonjolan di bagian depan celana yang sudah pasti tercetak jelas. Fadly mengecek kembali boots yang ia kenakan. Sedikit ber-hak dengan ujung runcing. Tingginya 180 cm, boots ini sudah pasti akan membuatnya lebih tinggi sedikit. Tidak apa-apa, wanita suka lelaki bertubuh jangkung.
Oke sudah ganteng. Fadly kembali menata sedikit rambut hitamnya dengan jemari tangan sambil mengamati wajah tampannya di cermin.
Kaca mata hitam ia sampirkan begitu saja di bagian depan kemeja, di antara kancing yang terbuka.
Fadly kembali duduk sendirian di salah satu meja lounge hotel berbintang, sambil menunggu menu pesanannya tiba. Fadly menyalakan sebatang rokok sambil mengecek ponselnya. Ibu jarinya menggaruk sedikit sebelah telinganya yang sedikit gatal, tepat di bagian anting-anting emas-nya.
Tidak ada kegiatan khusus selain hanya makan siang sambil tebar pesona sebelum malam nanti ia tampil menghibur pengunjung di tempat biasanya.
Fadly memutuskan tidak memperpanjang kontraknya dengan Tante Agatha yang mengajaknya tinggal dan hidup selama delapan bulan di Bali Ia beralasan tidak bisa meninggalkan band-nya selama itu. Mereka memilih mengakhiri kontrak secara baik-baik.
Meski terdengar menggiurkan, Fadly belum siap meninggalkan kehidupannya yang telah terbangun nyaman di Jakarta. Ia masih ingin bertemu dengan teman-temannya dan menyantap nasi goreng kambing langganan di tempat biasa. Memang hanya sesepele itu alasannya. Jadi siang itu Fadly kembali menebar jaring demi mencari calon tante baru.
"Ahaahahahhaa! Berondong lah yaa!" Suara gelak tawa dari meja di seberang sana menarik perhatian Fadly. Telinganya menangkap cepat kata berondong yang baru saja terlontar dari sekumpulan tante-tante yang tampak melempar pandangan ke arahnya.
Apa mereka semua menyadari kehadirannya yang sudah tentu tampak begitu janggal? Hanya sendirian melewatkan waktu di lounge yang sepi sambil plonga-plongo tidak jelas.
Fadly memberanikan menatap ke arah sana. Tiga orang tante-tante berpenampilan menarik tersenyum menatapnya. Senyuman Fadly mengembang malu-malu. Ia menggaruk sejenak hidung mancungnya dengan bantalan jemari.
Fadly sengaja menaikkan pergelangan kaki kiri, bertumpu pada lutut satunya sambil bersandar nyaman pada kursi. Berlagak kembali acuh memainkan ponsel, sebelum diam-diam melirik kembali. Satu tante paling cantik yang duduk di paling ujung, lagi-lagi tertangkap basah sedang mencuri pandang ke arahnya.
Tante berwajah oriental dengan rambut hitam sebatas leher itu mengenakan dress elegan dengan riasan tipis tidak mencolok. Kedua mata elang Fadly dengan cepat menilai tas Chanel di atas meja si tante. Oke si tante lumayan kaya. Apa suaminya pengusaha? Fadly diam-diam mengamati targetnya dengan lebih teliti.
Sebentar, yang di sebelah tante itu memakai Hermes. Tapi tampak lebih tua seperti menjelang nenek-nenek.
No.
Fadly segera mengembalikan minat pada tante cantik incarannya. Secara sadar kembali mengurai senyuman sambil mempertahankan sikap malu-malu melirik si tante.
Si tante menjilat sejenak bibirnya sambil mengangkat gelas wine, lalu minum dengan lagak sedikit menggoda.
Fadly ikut mengangkat gelasnya, terang-terangan ke arah si tante kemudian menenggak minumannya sendiri tanpa melepaskan jerat matanya.
Sekilas si tante tertunduk malu, sebelum kembali menatapnya dengan berani.
Sudah dimulai.
Masih mempertahankan senyuman di wajah, Fadly mempersilahkan si tante agar pindah duduk ke hadapannya dengan lirikan mata yang disertai isyarat gerakan kepala.
Dahi si tante sedikit berkerut sambil memberi isyarat melalui lirikan mata, yang mengarah pada teman-teman satu mejanya.
Fadly membalas isyarat si tante dengan menunjukkan ponselnya, kemudian jemari membentuk telepon yang ditempelkan di telinga. Tidak lupa sebelah mata sengaja mengedip genit.
Si tante tersenyum lebih lebar kemudian bangkit sambil menyambar tas-nya di atas meja. Tatapan mereka saling mengunci sepersekian detik, sebelum si tante semakin menjauh. Fadly melihat wanita itu berjalan menuju toilet dan sempat mencuri pandang pada bokong yang masih kencang.
Fadly memiringkan kepala sedikit sambil menimang-nimang. Not bad, kemudian menerka-nerka apa sikap barusan tadi merupakan isyarat untuk menemui si tante di toilet wanita?
Bukan kan? Fadly sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Tidak. Ia bukan lelaki sekelas main di toilet. Apalagi ini toilet lounge hotel berbintang, bisa-bisa ia digrebek satpam hotel. Lagi pula, wanita terhormat lebih memilih bermain di kamar sekelas suites ketimbang di bilik toilet.
Wanita kaya raya cenderung lebih suka berlama-lama dimanjakan dengan suasana yang terbangun romantis. Berendam berdua, makan malam romantis di kamar hotel, dan bercengkerama sebelum masuk ke sesi yang sesungguhnya. Ia tidak hanya harus ahli menggoyangkan pinggulnya di atas ranjang, tetapi juga harus pandai memuja wanitanya. Segala sikapnya yang paling kecil sekali pun, harus mengisyaratkan pemujaan.
Fadly memutuskan menunggu. Wanita itu pasti akan mendatanginya jika memang benar-benar menaruh minat.
Fadly menoleh sejenak dan melihat tante cantik incarannya muncul dari toilet. Fadly segera kembali pada posisi semula, sengaja berlagak tidak menyadari bahwa tante itu akan melewatinya.
Suara heels menggema dari derap langkah anggun. Si tante melewati mejanya dan meninggalkan selembar tisu di atas meja. Aroma parfum ikut tertinggal. Fadly tersenyum melihat nomor si tante yang ditulis dengan lipstik.
Dalam hati diam-diam mengucap syukur, setelah satu minggu setia makan siang di lounge hotel, akhirnya ia kembali menjaring calon klien.
Selama ini Fadly memilih bekerja sendirian dalam menemukan kliennya. Ia terbiasa melakukannya dengan sangat rapi dan hati-hati. Bahkan teman-teman satu band-nya tidak tahu jika diam-diam ia menjalani profesi terselubung ini. Mereka hanya tahu ia selalu mendapatkan perhatian wanita. Tidak jarang ia menerima traktiran minum-minum dari para wanita yang terkesan akan penampilannya di atas panggung.
Dari sanalah ia sering mendapat permintaan untuk tampil di tempat lain, yang notabene juga menguntungkan teman-teman satu band-nya. Namun terkadang ia menyelipkan misi terselubung jika menemukan wanita potensial.
Cara paling aman adalah meninggalkan kartu namanya. Ia bukan pekerja formal, bukan juga pebisnis. Tetapi ia harus memiliki kartu nama. Ia hanya mencantumkan profesinya sebagai singer, sebatas itu saja. Kartu namanya juga tampak biasa saja, yang penting calon klien potensialnya tahu harus ke mana untuk menghubunginya. Jika saling tertarik, mereka akan kembali membuat janji di lain tempat tanpa harus diketahui oleh teman-teman satu band-nya sebagai pria cendol dawet gula Jawa.