Aku mengatakan I love you bukan agar kamu membalasnya, tapi agar kamu mengetahui isi hatiku. Itu saja.
***
Wajahku memerah. Mungkin seperti cangkang Mr.Crabs di film spongebob. Duh, otakku sepertinya harus disapu!
"Udah dong Mi, Pi, jangan ngetawain Galih terus," pintaku memelas membuat mami semakin tertawa.
"Huh, ya sudah deh. Aku ke kamar dulu," tukasku lalu berdiri dari duduk.
"Eh, tunggu. Coba bawakan pisang coklat keju ini ke mantu mami. Barangkali dia malu keluar kamar," Kata mami.
"Hm, biar Galih ajak keluar kamar Mi,"
"Coba bawain dulu deh. Satu atau dua pisangnya. Suruh nyobain. Baru ajak dia kesini,"
Aku menurut lalu mengambil piring kecil dan mengisinya dengan tiga potong pisang goreng kemudian membawanya ke kamar.
Saat aku hendak masuk, tiba-tiba selintas ide muncul di kepala.
Kusembunyikan piring dibalik punggungku dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan membuka pintu.
"Yuhu Mbak sayang,"
Mbak Galuh tampak cantik dengan stelan blouse lengan pendek warna ungu muda beresleting depan dan celana warna hitam. Dia sedang menyisir rambut panjangnya di depan lemari baju yang memang ada kacanya setinggi badan.
Kututup pintu dengan segera dan mendekat padanya. Kulihat dari cermin gadis itu melirikku.
"Mbak,"
"Hm,"
"Mbak Sayang?"
"Hm, hm,"
"Astaga, pasangan macam apa kami ini. Ngobrolnya aneh," batinku.
"Mbak, cobain pisangku dong," godaku sambil terus mendekat ke arahnya.
"Aarghhh," mendadak istriku menutup mata.
"Tuh kan, dia pasti juga sama omesnya denganku. Hanya saja dia gengsi," batinku menahan tawa.
"Cie, dokter cinta. Ngapain tutup mata segala?"
"Habisnya kamu bilang kan cobain pisang. Dan aku belum siap," sahutnya masih melingkupi mata dengan jemarinya. Seolah jika melihatku bisa membuatnya sawan. Walaupun aku yakin dia mengintip sedikit.
"Hahaha, kamu mikir apa sih Mbak, lihat nih aku bawa pisang goreng coklat keju beneran. Kamu kira pisang apa," aku tak bisa menahan tawa lagi sambil mengulurkan piring ke depannya.
Perlahan dia menjauhkan tangannya dan membuka mata.
"Duh, kamu yaaa," dia mencubit lenganku keras.
"Aawww,"
"Astaga aku lupa, itu lengan yang baru saja kujahit kemarin," dia menutup mulutnya.
Aku meringis sangat kesakitan berlagak seolah lenganku baru saja terkena bom.
"Aduh, sakit banget Mbak. Periksa jahitanku dong,"
"Ya sudah sini aku lihat dulu, awas ya kalau lebay,"
Galuh menarik tanganku ke tempat tidur. Kami duduk berhadapan kemudian dia menggulung lengan kausku keatas.
Saat dia sedang serius membuka plester dan perban yang menutup luka jahitanku, aku mengelus pipinya yang seperti pualam lalu menciumnya secepat kilat.
Wajah Galuh memerah. Dan dia mencubit pipiku keras-keras.
"Kamu ya enak aja nyuri pipi orang,"
"Lah kan sudah sah,"
Dia terdiam.
"Mbak, jangan panggil aku kamu terus dong,"
"Yakali harus manggil elu gue?" dia mendelik.
Semakin cantik.
"Panggil aku 'Ngab'?"
"Ngab?" mbak tersayangku mengulangnya sambil tertawa.
"Kenapa nggak 'Bang' saja?" tanyanya kepo.
"Karena kalau 'bang' udah terlalu sering. Wes umum. Aku maunya yang antimaenstreem," sahutku menaikturunkan alis.
"Hm, boleh juga. Terus kamu manggil aku apa?" tanyanya.
"Hm, apa ya," aku berpikir sejenak.
"Mungkin...Gal?"
"Emangnya aku begal?" Dia merengut.
"Yawda luph aja deh, kepanjangan dari I luph you," putusku.
"Hahaha," dia tergelak memperlihatkan lesung pipinya.
Manis.
"Luph," kataku sambil menyelipkan anak rambut ke telinganya setelah sesi tertawanya selesai.
"Hm," Dia memandangku intens membuatku jantungku mendadak dangdut.
"Kenapa mau nikah sama aku?" aku menggenggam tangannya.
Dia menunduk.
"Apa aku hanya pelarianmu saja?"
Dia mendongak. Ekspresinya terkejut. Sepertinya tebakanku benar. Ada yang tertoreh di hati. Sakit. Seperti bisul yang tumbuh di pant*t.
"Karena...,"
"Nggak usah dijawab Luph, kalau emang sulit," tukasku kecewa.
"Ngab," dia memanggil.
Elah, kenapa gak jadi sedih denger dia manggil aku dengan sebutan yang sebenarnya bikin geli itu.
"Nanti kamu juga tahu semua tentang aku dan kenapa aku setuju dengan pernikahan ini. Yaaa, disamping karena didesak warga juga sih," sahutnya.
Aku menghela nafas.
"Ngab nggak ngampus?" tanyanya.
"Iya, habis ini. Ikut yuk, kukenalin sama teman-temanku. Kamu ambil cuti kerja kan?"
Dia mengangguk.
"Kamu jangan terlalu ngoyo kalau kerja ya. Walaupun masih kuliah, aku punya kerjaan lumayan,"
Dia membelalakkan mata.
"Kerja apa Ngab?"
"Aku nulis di platform-platform online. Ada juga yang sudah dibukukan di Gram*dia," sahutku.
"Wah, keren. Apa aja judul bukunya?" mendadak dia antusias.
"Banyak Luph. Pokoknya buku yang nama penulisnya Aksara Galih. Karena aku pakai nama pena,"
Mata Galuh membulat. "Jadi kamu penulis buku komedi misteri Beranak dalam Lumpur?"
Aku mengangguk.
"Wahhhh, aku nggak nyangka kamu yang nulis Ngab. Aku suka banget buku itu. Tapi kok nggak ada satupun buku di kamarmu?"
"Ada di perpustakaan keluarga. Baru setahun aku nulis Luph. Inginnya sih habis ini bikin percetakan indie,"
"Wah, aku seneng banget punya suami penulis kesayangan," dia memelukku.
"Hm, empuk," Eh.
Kali ini aku juga membalas pelukannya tanpa ragu.
"Luph, boleh minta sesuatu nggak?"
Dia mengangguk. "Bilang aja,"
"Tium dong," aku menunjuk bib*rku.
Dia memejamkan mata. Asik akhirnya dapat jatah juga. Rejeki suami sholih Gan!
Aku mendekatinya perlahan dan memegang kedua pundaknya. Galuh memejamkan mata kian erat dan aku kian bersemangat.
Saat jarak wajah kami tinggal beberapa inchi lagi, tiba-tiba,
"Duutttt,"
Astaga!
"Luph, kamu kentut?" tanyaku tertawa.
Wajah Galuh memerah dan dia mengangguk.
"Maaf, aku ga bisa nahan Ngab,"
"Elah, untung aja masih pengantin baru. Kentutnya bau duren," gumamku.
Melihat Galuh tertunduk malu, aku segera memegang dagunya, dan tersenyum ke arahnya. Kulantunkan sebuah pantun untuk menghiburnya.
"Burung perkutut burung kutilang, istriku kentut nggak bilang-bilang,"
Galuh tersenyum lebar. Tanpa kuduga dia menyahut, "Muka cemberut rambut dikuncir, jangan bingung ini cuma kentut bukannya petir,"
Aku melongo, "Yasalam, istriku ternyata gokil juga,"
Saking gemasnya kuraih kepala istriku dan kukecup langsung bagian bawah hidungnya tanpa slow motion biar nggak ada adegan angin kejepit yang menyela lagi!
Cuppp!
Tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu, "Galih..!"
Haduh!
Next?
Jangan pernah menanyakan padaku tentang seberapa besar cintaku padamu. Tapi, cukup Allah yang tahu seberapa sering namamu kusebut dalam doaku.
***
Aku segera menjauhkan wajah dari Galuh setelah mendengar suara dari balik pintu kamar.
"Galih...!"
Haduh, mami mengganggu saja.
Aku nyaris terlonjak kaget padahal posisi tanganku sudah menyentuh resleting bajunya.
"Iya Mi, sebentar," Refleks aku melompat menjauh dari istriku. Elah, kek pasangan nganu yang ketangkap razia aja.
"Lih, kamu sama Galuh mau dimasakin apa? apa mau masak sendiri?" suara mami dari balik pintu.
Ternyata walaupun tidak kukunci, mami tidak masuk ke dalam kamar. Mungkin sudah paham kalau anaknya ini sedang ingin mempraktekan pelajaran reprod*ksi.
Aku menoleh pada Galuh. "Kamu ingin makan apa Luph?"
"Aku nggak biasa sarapan pagi. Biasanya cuma minum jus buah saja. Kamu ingin kumasakin apa, Ngab?"
"Nasi goreng deh. Beneran nggak apa-apa kamu yang masakin?"
Galuh mengangguk dan meraba b*birnya. Pipinya merona.
"Enak ya. Entar lagi diulang yuk. Sekarang kita keluar kamar dulu deh," kataku tersenyum.
"Ya sudah, kalau gitu kita keluar kamar bareng ya. Aku ke dapur dan kamu mandi." Tukasnya.
"Eh, sebentar, kamu pakai baju apa? biar aku siapin," tawarnya.
"Hm, nggak usah repot-repot. Aku bisa pilih baju sendiri. Nanti aja kalau kamu sudah siap kamu yang lepasin bajuku," aku nyengir.
Galuh tersenyum malu. Kami lalu bergandengan tangan menuju pintu. Uhuy. Ada yang gandengan tapi bukan truk nih!
"Biar Galuh yang masakin Mi," tawar Galuh setelah membuka pintu kamar.
"Oh, gitu. Ya sudah. Ayo masak sama-sama," sahut mami
Galuh menurut dan mengikuti langkah mami menuju dapur.
Sedangkan aku dengan bersiul-siul happy karena telah berhasil melepas segel di b*bir menuju kamar mandi.
Sesampai disana, aku segera membuka kaus dan mengaca.
"Hm, sebenere emang gue ganteng, rajin menabung, sholih, sayang sama orangtua dan membuang sampah pada tempatnya. Jadi wajarlah kalau dapat rejeki bini cakep," Aku mengelus-elus pipi sendiri.
Lalu melihat otot perut. "Huft, sayang banget aku kerempeng. Kapan perut gue jadi kotak-kotak kek cita-cita gue selama ini," gumamku sambil memilin-milin kulit di perut.
"Lih, kamu di dalam bertapa apa gimana? nggak kedengaran suara air sama sekali. Papi kebelet nih," Terdengar suara papi menggedor pintu kamar mandi.
"Lah, kan bisa pake kamar mandi dalam di kamar papi. Galih juga lagi semedi biar tambah ganteng!" Aku tak mau kalah.
"Kamar mandi dalam di pakai mami, ayo Lih, buruan dah. Entar mbrojol di luar nih. Emang kamu mau ngepel bekasnya?" Ancam papi dari balik pintu.
"Waduh Pi, tunggu bentar!" Aku bergegas mandi secepat mungkin. Duh, hilang sudah kesempatan untuk mengagumi diri sendiri sebagai salah satu makhluk Tuhan paling keren di depan kaca.
Aku keluar dari kamar mandi tanpa kaus dan hanya mengenakan celana kolor selutut.
Kudapati papi tersenyum-senyum saat membuka pintu.
"Cie yang semalam nggak ngapa-ngapain?" ledeknya.
"Elah, papi malah membahas penderitaan anaknya," batinku.
"Daripada papi, sudah berumur tapi keramas mulu kalau subuh," balasku membuat papi mendelik.
Aku mengedikkan bahu seraya tertawa lebar dan berlalu dari kamar mandi langsung menuju kamar untuk ganti baju.
Setelah kaus warna biru navi dan celana jeans terpasang, aku menyisir rambut dan menyemprot parfum.
"Biar Galuh semakin tersepona," gumamku lalu menyambar tas ransel dan menuju ruang makan.
Terlihat Galuh yang baru saja selesai menata piring di meja. Matanya membulat saat menatapku.
"Dih, kenapa liatin aku mulu. Suami kamu ini emang kerennya level akut," tukasku bangga.
Galuh tertawa, "resletingmu Ngab, masih kebuka,"
"Ya ampun!" aku menunduk dan segera membetulkan resleting. Untung saja ketahuan di rumah, kalau ketahuan di kampus, pasti dikerubutin cewek-cewek.
"Makasih Luph udah ngasih tahu," aku memandangnya mesra lalu duduk disebelahnya.
"Iya sama-sama,"
"Dih pengantin baru, dunia serasa milik berdua ya. Yang lain ngontrak," seru mami saat keluar dari kamarnya lalu duduk di hadapan kami.
Papipun juga keluar dari kamar mandi dan langsung bergabung ke ruang makan.
"Hm, mami kek nggak pernah ngalamin," aku mencebik.
"Iya deh, kamu ngampus hari ini?" tanya mami sambil duduk di hadapanku dan Galuh. Lalu mengambil nasi goreng buatan Galuh.
Aku pun tak mau kalah ikut mengambil sarapan.
"Iya Mi, ada tugas presentasi,"
"La Galuh gimana?"
"Galih bawa juga ke kampus dong. Mau pamer ke temen-temen asyiknya nikah muda," tukasku.
"Hm, terus kalau kamu pas ada kelas, Galuh nunggu dimana dong,"
"Di kafe kampus bisa kok. Ada wifinya, viewnya bagus lagi,"
"Duh, manten baru pamer terosss," tukas mami.
"Iyalah, biar temen-temenku pada mupeng semua. Terus minta dikutuk nikah muda sama emaknya masing-masing," aku tertawa.
"Kalau makan jangan ketawa, entar keselek lo," Sela mami.
"Hm, ini udah keselek. Keselek cinta," tukasku melirik Galuh.
"Uhuuukkk, uhuuukk,"
Elah, aku yang ngomong sambil makan, istriku yang tersedak. Emang kita saling melengkapi. Eh.
"Minum dulu Luph," aku menyodorkan segelas air putih pada Galuh karena uhuk-uhuknya yang tak kunjung usai.
"Makasih Ngab," kata Galuh usai meminum air pemberianku.
Papi dan mami berpandangan. "Sebentar, kamu manggil apa tadi ke Galuh?"
"Luph," jawabku singkat.
"Hah? apaan tuh maksudnya?" papi jadi nimbrung.
"Kepanjangan dari I luph you," sahutku nyengir.
"Terus tadi Galuh manggil kamu apa?"
"Ngab, Mi," kata Galuh tersipu.
"Astaga Lih, kamu tuh ya. Jangan ngajari mantu mami macam-macam ah. Entar ikutan aneh kek kamu," mami tidak terima.
"Biar beda Mi dan bikin mesra," Aku mengedipkan mata pada mami.
"Dasar bocil! dulu mami ngidam apa sih waktu hamil kamu,"
"Yee, tapi aku keluar sehat dan ganteng kan. Ngomong-ngomong, nasi goreng buatanmu enak banget luph, coba dikit. Aaaaa..,"
Aku mengulurkan sesendok nasi ke arah Galuh.
Galuh dengan malu membuka mulutnya dan memakan nasi yang kusendokkan.
"Cie, suap-suapan. Jadi nganan!" seru mami melirik papi.
"Ayo sini Mi, papi suapin juga. Kita jangan mau kalah," seru papi bersemangat menyuapi mami.
Jadilah pagi itu seperti adegan lomba saling menyuapi istri masing-masing.
"Hm, heak ha hahi horeng huatan Haluh," (Hm, enak ya, nasi goreng buatan Galuh) kata mami sambil mengunyah makanannya.
"Lo..lo..mami aja ngunyah sama ngomong," sindirku.
Mami tersenyum malu.
"Ehem," papi berdehem. Kami menoleh pada papi.
Pria satu itu selalu berusaha menyelamatkan mami jika dalam posisi terpojok.
"Nama kamu Galih, istri kamu Galuh, apa jangan-jangan entar kalau punya anak namanya Galah?" Tanya papa.
Aku dan Galuh berpandangan. "Wah, ide bagus tuh Pi. Biar deh entar cucu papi namanya Galah," tukasku santai setelah meminum air putih karena nasi gorengku telah habis.
"Wah, jangan Lih!" papi menukas keberatan.
"Masak cucu dari kakek yang mirip sama Roy martin ini namanya Galah,"
"Makanya papi jangan ngasih ide yang aneh-aneh," tukasku lalu berdiri dan mencium punggung tangan mami dan papi diikuti Galuh.
"Galih berangkat dulu, Assalamualaikum," pamitku.
"Waalaikumsalam,"
Aku bergegas ke garasi dan mengeluarkan motor sport warna merah kesayangan lalu menaikinya lebih dulu.
"Kuy naik," kataku memindah tas ransel ke depan dada.
Galuh ragu. "Tapi entar aku duduknya nyungsep ke kamu, gimana," tanyanya bingung memandangi sadel motor.
"Emang itu yang bikin enak," aku tertawa nyengir.
Galuh tersipu lalu ikut naik di boncengan belakang.
"Pegangan ya luph,"
Aku melajukan motor dengan kencang lalu mengerem mendadak. Dan puuukkk, sesuatu yang empuk menabrak punggungku.
"Kamu sengaja ya," semprot Galuh menggelitiki pinggangku.
Aku tertawa. Emang!
"Dasar Ngab m*suuuuuum!" Galuh memprotes tapi tidak kupedulikan.
Tetap kulajukan motor dengan kencang dan mengeremnya mendadak berulangkali.
"Asiiikkk, pengantin baru lewaaat, tarikkk siiiiiist,"
next?