Tak...tak....
Tanpa sadar, langkah Ira bergerak tak tentu arah mengiringi hingar bingar jalanan kota, langkahnya tiba-tiba terhenti di jalanan ramai di sertai Kilauan lampu yang tak terhitung jumlahnya. Bola mata Ira tak lelah menelaah setiap lalu lalang manusia yang melintas, tak tergambar satupun raut wajah sedih seperti dirinya saat ini, mereka tampak bahagia dengan pasangan di sampingnya.
"Semua orang tak mengerti perasaanku, gak ada yang peduli padaku! " dalam batin kecewa, mengepalkan tangan dengan kuat.
Ira menatap langit. Hari semakin gelap, awan hitam memenuhi langit dengan cepat. Lalu lalang manusia perlahan berkurang berlarian tak tentu arah, hanya terlihat beberapa orang saja dengan payung di atas mereka.
Tik...tik....
Setetes air jatuh tepat dalam genggamannya. Dia kembali menatap langit, dengan memicingkan mata. Tak berselang lama, hujan turun dengan deras. Hingga membasahi sekujur tubuh mungil gadis itu di tengah keramaian kota.
"Mengapa harus orang tuaku yang kau ambil! Aku tak kuat lagi menerima semua ini!" batinnya, sembari merasakan setiap tetes air yang menimpa tubuh.
Tangisnya terhapus oleh derasnya air, langit seakan tahu apa yang dia rasakan sekarang. menangis bersama, larut dalam kesedihan.
***
DI RUMAH DUKA....
"Va, kejar kakakmu," perintah pak Ustadz.
"Akan aku cari nanti," jawab Alva degan wajah lesu.
Alva melangkahkan kakinya, keluar mencari sang kakak dengan perasaan campur aduk, sebagai seorang adik laki-laki, tanggung jawab besar dengan paksa harus dia pikul sendiri, di usianya yang terbilang sangat muda, hal itu tentu sangat berat Alva jalani, solusi dari semua situasi ini, tak ada yang bisa dia mengerti, keputusan apapun yang akan menjadi kepustusan akhir itulah yang hanya bisa Alva lakukan.
Satu persatu pelayat mulai pergi, menyisakan beberapa orang saja yang duduk melingkar di sini.
"Baiklah, saya akan langsung pada intinya," ucap Pak Ustaz.
"Siapa yang akan menjaga Heira dan Alva?" tanya Pak Ustaz mempersilahkan.
"Biarkan saya yang menjaga mereka," ucap Bu Ratna.
"Kalau begitu Bu Ratna yang akan mengurus Alva dan Heira."
"Tunggu! Saya juga bisa merawat mereka, rumah saya kan berdampingan dengan rumah ini, setidaknya akan lebih mudah bagi saya untuk memperhatikan mereka," ucap Bu Nina.
"Kalau begitu ada dua orang yang akan mengurus mereka."
"Tunggu! Saya juga sanggup menjaga mereka," ucap Bu Rani.
Pak Ustadz saling bertatapan dengan setiap orang yang Baru saja mengeluarkan pendapatnya, bingung akan keputusan yang akan di ambil.
"Begini saja, biarkan Ira dan Alva saja yang memilih, kita tunggu keputusan mereka," ucap Pak Amar.
Beberapa saat mereka terdiam kemudian beberapa orang mengangguk tanda setuju.
"Kalau begitu, sudah jelas, setelah kondisi mereka mulai membaik, kita tanyakan langsung kepada mereka." Pak Ustaz memberikan kesimpulan.
***
DI PEMAKAMAN UMUM....
Dalam keadaan basah kuyup, Heira melangkahkan kakinya melalui jalanan sepi menuju sebuah tempat. Langkah demi langkah tak bisa dia kendalikan, berjalan begitu saja mengikuti kata hati.
Sesampainya di sebuah tempat di pinggiran kota, kaki Ira berusaha mendekati gundukan tanah yang terlihat merah, bola mata Ira tak lepas dari bunga warna-warni di atasnya .
Seketika Ira terduduk di hadapan makam orang tua yang sangat dia cintai, dilihatnya padung bertuliskan nama kedua orang tua, keduanya dia usap pelan seraya mengelus nama yang sangat dia rindukan kala itu, dia tertelungkup di atasnya sambari mencurahkan segala sakit yang di deritanya.
"Ayah, ibu, lihat aku di sini. Maaf aku tak mengantar sampai ke sini, tapi aku datang juga kan? Aku anak yang baik kan? Lihatlah sekarang, aku sengaja datang ke sini, Ira anak ayah dan ibu sekarang sudah berubah lebih baik, jadi jangan tinggalkan aku, aku berjanji akan membahagiakan kalian, aku janji... aku janji...."
Ira tertelungkup dengan isakan tangis tak terkendali, lelah akan tangis yang tak henti-hentinya, hingga tubuh kecil gadis itu tak bisa menerima segala rasa sakit lagi, pada akhirnya dia tertidur dengan lukisan senyum yang tergambar jelas di wajahnya.
Tak berselang lama datanglah seseorang dantang menghampiri, menatap gadis kecil yang tengah tertidur pulas tak wajar, dia merapikan sedikit rambut Ira dengan lembut, menemaninya sebentar hingga dia terbangun.
***
DI RUMAH...
Ira membuka matanya dengan pelan, sinar mentari pagi begitu mengganggu tidur yang terasa singkat ini. Dia menaikkan tubuhnya hingga dalam posisi duduk di atas ranjang.
"Kakak sudah bangun?"
Ira tak menjawab, hanya memasang wajah datarnya sembari menatap sekilas.
"Aku akan mengambil makanan dulu, tunggu sebentar." Alva berlari ke luar untuk mengambil makanan. Tak berselang lama, Alva kembali dengan nampan yang berisi semangkuk bubur dan air putih, berjalan menghampiri Sang Kakak dengan penuh ke hati-hatian.
"Kak, makan ini." Alva menodongkan semangkuk bubur yang dia bawa dengan sepenuh hati.
Ira memalingkan pandangannya, tentu saja tindakannya itu membuat Alva menaruh kembali mangkuk di pangkuannya.
"Kak makan," paksa Alva.
Dia menodongkan sesendok bubur di hadapan sang kakak. Namun Ira masih tidak membuka mulutnya, tatapannya kosong, seperti orang yang tak memiliki semangat hidup.
Setelah beberapa kali percobaan, Alva tak mendapat balasan apapun dari sang kakak, dia meletakan semangkuk bubur di atas meja seraya beranjak dari duduknya.
"Jika kakak lapar, makanlah, aku akan berada di luar," ucap Alva halus. Dia pergi meninggalkan Ira, membiarkannya sendirian untuk beberapa saat.
"Huh."
Alva menyandarkan tubuhnya di balik pintu dengan mata terpejam.
Keesokan harinya, Alva kembali menyajikan makanan untuk sang kakak. Dia melangkah dengan penuh kekhawatiran, takut apa yang dia bawa tidak di sentuh sedikit pun oleh kakaknya seperti waktu kemarin.
Tok tok...
"Kak, aku masuk," ucap Alva.
Di dalam sana Ira masih tertelungkup di balik selimut tebal. Setelah hari itu, dia tak memakan apa pun, di tambah lagi kondisinya saat ini sangat menghawatirkan, sekujur tubuh bercucuran keringat, hingga membasahi tempat tidurnya.
"Kak, makan dulu," ucap Alva berusaha membangunkan Ira.
Ira tak bergerak sedikit pun, Alva yang merasa heran, mulai menepuk pelan tubuh Sang Kakak.
"Kak," ucap Alva.
Karena tak mendapat tanggapan apa pun, Alva membuka selimut yang menyelimuti Ira hingga se bahu.
Stt...
Alva melihat kakaknya bergetar memeluk kedua lengannya.
"Kak!" ucap Alva panik.
Dia menyentuh kening Ira, ternyata panasnya semakin tinggi, Alva segera lari keluar meminta pertolongan.
Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan seorang di belakangnya, dia meraba kening Ira dengan lembut.
"Bagaimana Pak?"
"Panasnya tinggi, kita harus bawa Ira secepatnya," ucap Pak Amar.
"Alva, beritahu Bu Nina," perintah Pak Amar.
"Baik Pak." Alva segera pergi secepat mungkin.
***
DI RUMAH SAKIT....
"Bagaimana keadaan Ira dok?" tanya Bu Nina.
"Dia mengalami panas biasa, untuk sementara makan obatnya secara teratur agar panasnya cepat turun."
"Terima kasih dok."
Bu Nina menghampiri gadis yang tengah terbaring di ranjangnya. Dia lihat Alva yang setia di sampingnya menunggu sang kakak membuka mata.
"Pak, bagaimana kalau Ira tinggal di rumah kita untuk sementara?" saran Bu Nina.
"Baiklah, Bapak juga kasihan melihat mereka," ucap Pak Amar seraya menatap kedua anak di sana.
Bu Nina membatin "Kalian pasti kuat."
***
Sesampainya di rumah, Ira berjalan menuju kamarnya dengan di papah sang adik. Setelah menolak tawaran Bu Nina, Dia memutuskan untuk tetap tinggal di rumah dengan di temani Alva.
Setelah Ira duduk di kasurnya, Alva segera pamit untuk membuatkan makanan.
"Kak, aku buat bubur dulu, kakak tidur saja sebentar, nanti aku bangunkan," ucap Alva kemudian pergi.
Setelah tak terlihat punggung Alva dari pandangannya, Ira berjalan sempoyongan mendekati pintu kamar seraya mengambil kunci dari dalam laci.
Clek...
Selesai mengunci pintu, dia kembali ke ranjangnya, membaringkan tubuh yang sakit ini.
"Hiks...hiks...."
Dia menenggelamkan wajahnya di balik bantal seraya mengingat kembali kesedihan yang menyayat hatinya.
...
Beberapa saat berlalu, Alva membawa semangkuk bubur menuju kamar kakaknya.
Clek...
"Di kunci?" Batin Alva.
Tok...tok....
"Kak!" panggil Alva.
Tak terdengar balasan apa pun dari dalam sana, dia menunggu sebentar, mungkin Kakaknya sedang berusaha membuka pintu.
Beberapa menit berlalu, Alva masih berdiri di depan pintu, dia mendengar samar suara rintihan dari dalam sana.
"Huh."
Alva menghela nafas berat sambil menatap bubur yang dia bawa dengan sepenuh hati. Tak terasa, keluar cairan dari pelupuk matanya, mengalir dengan sendirinya.
***
Hari mulai gelap, Alva terbaring di kursi tamu, dengan buku yang menutupi wajahnya.
Tok tok...
Dengan terpaksa, Alva segera bangun untuk membuka pintu.
"Va, Ira bagaimana?" tanya Bu Nina.
Alva tidak menjawab, dia malah kembali ke tempat duduknya tadi dengan kepala yang tertunduk.
Terlihat Alva menatap bubur di hadapannya. Tanpa mengucap kata, Bu Nina langsung mengerti akan situasi yang terjadi. Dia langsung menuju kamar Ira, mengetuk pintu dengan pelan.
"Ira?"
"Ira, bangun nak," lanjutnya.
"Ira, Alva bawa bubur untuk kamu nak."
"Ira, buka pintunya, sebentar saja."
Setelah beberapa kali percobaan, Ira masih tidak membuka pintu kamarnya, membuat Alva sebagai adik merasa semakin khawatir.
Setelah Berkali-kali mencoba membujuk Ira, tak ada hasil yang dia dapat, kemudian Bu Nina melangkah mendekati Alva.
"Alva, makanlah bubur itu, kamu pasti belum makan, nanti Ibu buatkan yang baru untuk Ira," ucap Bu Nina.
Alva hanya diam, namun setelah itu, dia mengangkat kepalanya dan langsung berlari keluar.
"Alva!" panggil Bu Nina.
Alva berlari ke luar, tanpa menghiraukan ucapan Bu Nina.
***
"Hiks...hiks...kalian pernah bilang tidak akan meninggalkan aku, apa buktinya sekarang? Kalian ingkar janji, aku benci kalian, aku benci semuanya!" batin Ira.
Tok tok...
"Aku ingin sendiri, jangan ganggu aku," batin Ira.
Tok tok ...
"Pergi! Aku tak ingin mendengar apa pun!"
Tok tok...
"Ira, ini makanan untukmu, bukalah sebentar."
Ira mendongak mendengar suara itu.
"Suara Ini..."
***