Joana merasakan kedua tungkai kakinya melemah. Efek wiski membuat Joana terhuyung ke samping. Untung saja telapak tangan kanannya lebih dulu meraih ujung meja.
Sejenak Joana terdiam. Bukan karena tidak berani menghampiri Levin. Namun, Joana harus memastikan ia bisa berdiri tegak kembali.
Joana sudah cukup malu dan terluka mendapati kenyataan dirinya diselingkuhi. Dia tidak ingin semakin terlihat menyedihkan ketika nanti berhadapan dengan Levin dalam keadaan lemas tak berdaya. Bahkan menopang tubuh sendiri pun tidak mampu.
Merasa jika keseimbangannya sudah lebih baik. Joana melangkah dengan tatapan mematikan. Kemurkaan jelas terlihat dari raut wajahnya. Untuk mengalihkan perasaan meledak-meledak dalam hati. Joana mengepalkan telapak tangan sekuat mungkin, hingga buku-buku jarinya memutih.
Joana menyempatkan meraih sebuah gelas berisi koktail, yang entah milik siapa. Dengan menggenggam gelas di tangan kanan. Joana berdiri di hadapan Levin, yang masih memejam menikmati sentuhan dari kedua sisi.
Joana merasakan napasnya tercekat. Hingga suara cicitan saja tak mampu terucap.
Lengan kanannya terangkat dengan getar yang terlihat jelas.
Byur!
"Aaargh, sialan!"
"Kenapa? Aku mengganggumu?!" Joana tiba-tiba bisa mengeluarkan suara menusuk. Padahal sebelumnya area tenggorokannya terasa tercekat.
Manik hijau zamrud Joana menatap dengan tatapan membunuh. Netra yang biasanya memancarkan binar cinta itu seketika terlihat kosong tanpa arti.
Wajah Levin berubah pucat. Ekspresi yang sejak tadi menunjukkan kenikmatan, hilang seutuhnya berganti kegugupan luar biasa.
Adegan saat Joana menyiramkan minuman tadi. Ternyata memancing perhatian orang-orang yang berada di dekat mereka.
Berbeda dengan Levin yang tampak terkejut setengah mati melihat kehadiran Joana. Keempat wanita yang sejak tadi memberi service justru tampak santai. Seolah mereka sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini. Hal itu semakin membuat Joana terbakar dalam hati.
"Joa, kenapa ... kenapa kamu di sini? I-ini tidak seperti yang kamu lihat. Perempuan-perempuan sialan ini yang lebih dulu merayuku. Aku tidak bermaksud mengkhia--"
"Cukup, Levin! Aku tidak mau mendengar alasan konyolmu. Kau sudah membohongiku. Menyakitiku. Mengkhianatiku, dan sekarang kamu ingin membodohiku juga? Kau pikir aku tidak punya otak untuk berpikir?! Bahkan orang bodoh sungguhan pun tahu kalau kamu menikmati sentuhan mereka, berengsek! Selera selingkuhmu terlalu rendahan!" maki Joana dengan napas memberat.
Dadanya bahkan terlihat naik-turun. Terlihat jelas jika dirinya sedang menahan ledakan emosi.
Beberapa orang yang mendengar ucapan Joana justru menanggapi dengan tawa terang-terangan.
"Joa, tolong maafkan aku. Aku bersumpah tidak akan melakukan hal ini lagi. Tolong beri aku kesempatan."
Joana lebih dulu menjauhkan tangannya, sebelum telapak tangan Levin berhasil meraih pergelangan tangannya.
"Masalah tadi pagi bahkan belum selesai, dan kau sudah mencari masalah lain yang lebih parah seperti ini. Seharian ini aku khawatir karena kau tidak menghubungiku! Kau tahu kalau aku hampir saja membuang ego untuk mencarimu lebih dulu sepulang dari sini?!" ujar Joana berapi-api.
Levin belum sempat menjawab. Sebab, suara Joana kembali terdengar lebih dulu.
"Ternyata seperti ini kelakuanmu. Mungkin saja setiap kali ada masalah, kau melampiaskannya dengan perempuan bayaran. Kau laki-laki paling hina yang pernah kutemui selama ini!" lanjut Joana mengeluarkan semua makian yang menumpuk dalam hati.
"Joa, kau salah paham. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya--"
"Hei, penipu! Bisa-bisanya kau bilang tidak pernah melakukan ini sebelumnya? Aku bahkan sudah menghafal mukamu yang setiap malam setor cairan di sini. Benar, 'kan?!" salah seorang pria dengan tato yang memenuhi seluruh lengan berseru lantang, sembari meminta pendapat pada pengunjung yang lain.
Gelak tawa kembali terdengar. Sekarang lebih keras daripada sebelumnya. Tidak ada satupun di antara pelanggan kelab itu, yang tidak menganggukan kepala.
Levin terlihat mengetatkan rahang, dan langsung menghampiri pria yang baru saja berteriak lantang mengenai dirinya.
Brug!
Kepalan tangan Levin bergerak cepat menargetkan wajah pria tadi.
"HEI, SIALAN!"
"BERANI SEKALI KAU!"
"KALIAN YANG SIALAN!" Levin balik meneriaki mereka.
"Siapa yang menyuruh kalian ikut campur urusanku?! Urus saja jalang kalian masing-masing!" maki Levin sembari menunjuk para wanita yang mendampingi pria-pria itu.
"Cuih! Kami memang pemain perempuan. Tapi kami tidak sepertimu yang masih bisa bicara omong kosong di tempat ini. Sudah jelas bersalah, tapi masih membela diri. Kau terlihat seperti tidak punya harga diri!" salah satu dari sekumpulan pria itu menyahut seraya menunjuk wajah Levin.
Demi Tuhan! Joana sudah sangat malu dengan keadaan ini. Sampai-sampai semua kalimat yang ingin diucapkan menghilang total dari benaknya.
Joana yang sudah tidak tahan berada di tempat itu, lantas memilih pergi. Dia sudah tidak bisa melihat tingkah Levin. Pria itu tidak hanya mengabaikannya, tetapi hendak mengajak orang lain bertengkar pula.
Hal yang paling Joana syukuri malam ini adalah ia datang bertepatan dengan waktu weekend. Banyaknya pengunjung yang hadir, membuatnya dengan mudah menghilang dan tak terlihat oleh Levin.
Semakin jauh meninggalkan lokasi Levin tadi. Kekuatan kakinya pun perlahan mulai melemah lagi. Joana terus memaksa berjalan dengan pandangan berkaca-kaca.
Demi mengalihkan rasa sakit hatinya, dan menahan desak air matanya yang ingin keluar. Joana menggigit bibir dalam sekuat yang dia mampu. Hingga merasakan karat dari bibirnya yang terkoyak.
"Astaga, Joa. Kau dari mana saja?! Aku mencarimu dari tadi!"
Joana mengabaikan pertanyaan Vinka, yang terdengar sangat khawatir.
"Shake-kan wiski, tequila, vodka atau apapun itu yang bisa membuatku mabuk sampai pingsan!" Joana tiba-tiba memesan sambil menepuk meja bar.
Sang pria bartender tampan itu hanya merespon dengan senyum lebar, sembari menyiapkan pesanan Joana.
"Joa, kau gila?! Kau sudah mulai mabuk. Kenapa menambah minuman yang kadar alkoholnya tinggi lagi?! Tidak! Kau harus minum yang rendah--"
"Vinka, please! Untuk malam ini bisakah kau tidak melarangku lagi? Aku ... aku hanya ingin minum," lirih Joana. Tatapannya terlihat kosong dan berembun.
Menyadari jika telah terjadi sesuatu pada Joana. Vinka sampai terdiam. Hanya berselang beberapa detik. Vinka meraih tubuh Joana untuk dipeluk.
"Katakan manusia biadab mana yang sudah menyakitimu? Aku akan menghajarnya untukmu," bisik Vinka sembari mengelus punggung Joana. Terlebih saat merasakan pundak Joana bergetar disertai dengan cairan hangat yang membasahi ceruk leher Vinka.
"Le-levin. Dia--"
"JOANA?!"
Ucapan Joana terpotong begitu mendengar teriakan Levin. Joana seketika melepas pelukan Vinka. Bersamaan dengan Vinka yang langsung menoleh ke belakang, dan menemukan Levin yang menatap sekitar.
"Laki-laki sialan itu. Aku akan membunuhnya! Kau tunggu di sini." Vinka tiba-tiba berdiri dengan raut wajah tegang menahan amarah.
Di antara semua orang yang mengenal Joana. Vinka adalah sosok yang paling tahu Joana luar-dalam.
Joana bukan tipe wanita cengeng. Namun, ketika wanita itu tidak bisa lagi menahan tangisnya. Maka bisa dipastikan seseorang telah menyakitinya begitu dalam, dan Vinka tahu itu.
Joana yang tidak ingin tinggal lebih lama di tempat itu, lantas meraih dua botol tequila, kemudian membawanya pergi tanpa membayar.
Sang bartender tidak menahan, karena tahu Vinka akan kembali dan membayar minuman-minuman itu.
Joana terus berjalan tanpa arah dan memasuki lift yang membawanya ke lantai dua, sambil meneguk minuman itu langsung dari bibir botol
Prang!
Joana terjatuh hingga botol yang berada di tangan kanannya membentur lantai.
Susah payah Joana berdiri. Sebab, efek minuman itu mulai bekerja, merenggut akal sehatnya.
"Levin berengsek! Binatang itu kenapa tidak mati saja?!" Joana meracau sambil mendorong beberapa pintu kamar VVIP.
"Buka! Buka!" dengan mata yang hampir tertutup, Joana terus mengendor pintu kamar di lantai itu. Namun, sayang semua pintu itu tidak ada yang terbuka.
Hingga saat Joana berdiri di pintu kamar terakhir. Tanpa ragu, Joana langsung mendorong pintu kamar tersebut.
Brak!
Joana yang kehilangan keseimbangan seketika tersungkur ke lantai.
"Siapa kau?" suara bariton yang terdengar sexy itu membuat Joana terkekeh layaknya orang gila.
Joana memandang dua kaki dengan jari-jari besar yang berada tepat di depan wajahnya. Posisinya kini masih merayap di lantai, sedang pria asing itu berdiri menjulang di depan mukanya.
"Siapa kau?!" pertanyaan kedua itu kembali terdengar. Namun, Joana belum juga menjawab.
"Uhuk!"
Joana justru tersenyum dan tertawa kecil begitu mendengar suara batuk pria asing itu. Namun, senyumannya hanya bertahan dalam hitungan detik. Sebelum ekspresi mukanya berubah drastis menjadi murung. Tatapan matanya pun ikut meredup.
"Berdiri!" seru pria itu lagi.
Alih-alih bangkit dan meminta maaf. Joana justru semakin menumpahkan tangisnya dengan pipi yang melengket ke lantai.
Alkohol itu benar-benar merenggut kesadaran Joana sampai ketitik terakhir pertahanannya. Dia bukan peminum yang andal seperti Vinka. Maka jangan heran, jika keadaannya sudah seperti orang gila sekarang.
Joana menangis sesegukan sambil kedua kakinya terentak ke lantai. Gerakan kakinya yang liar, tidak sengaja menendang pintu hingga ruangan itu tertutup sepenuhnya.
Pria yang sejak tadi memandangi Joana dengan tatapan aneh, langsung melangkah pergi tanpa berkata apapun. Ia tetap membiarkan Joana berguling di sana, tanpa ada niatan untuk melempar tubuh molek itu ke luar.
Tidak! Pria itu bukannya tidak terganggu dengan suara entakan kaki dan tangisan Joana. Namun, karena pria itu pun sama telernya seperti Joana.
Perbedaannya, kesadaran pria itu masih ada sedikit, dan mampu berjalan walaupun kondisi pencahayaan ruangan yang minim. Tidak seperti Joana yang seperti orang gila, hanya bisa menangis di lantai.
Pria itu kembali duduk di kursi empuk. Berhadapan dengan meja bundar tinggi berisi beberapa botol minuman berkelas, yang diambil langsung di gudang khusus minuman.
Minuman berkelas itu biasanya dipersiapkan bagi orang-orang berkantong tebal dan kebanyakan disediakan untuk bos eksekutif yang datang berkunjung.
Entah pria itu berada di kategori mana. Joana tidak ingin peduli, karena yang diinginkan wanita itu sekarang hanyalah menangis sepuasnya sambil melayangkan makian untuk Levin, yang sudah membuatnya terluka dan kecewa malam ini.
"Apa kau akan terus menangis di situ?"
Joana seolah tuli dan tidak mendengar pertanyaan pria asing itu.
"Be-rengsek, dia pikir hanya di-dia saja, yang bisa se-lingkuh?" Joana meracau tidak jelas. Bagaimana bisa seorang wanita berkelas dan anggun sepertinya berakhir di lantai kamar kelab dengan rambut awut-awutan seperti ini?
"Hei, bangun! Daripada kau menggila di situ. Lebih baik temani aku."
Indera pendengaran Joana menangkap suara pria asing itu untuk kesekian kalinya.
Joana mengangkat kepala pelan-pelan. Manik hijaunya mengarah pada siluet pria bertubuh tegap, yang hanya mengenakan celana kain panjang dengan tubuh atas yang polos.
Sejenak Joana terpaku menatap bentuk tubuh yang indah itu. Abdomen yang terbentuk dari latihan berat. Sering kali membuat Joana terpaku lama.
'Tampan sekali,' batin Joana setelah melihat wajah pria asing itu. Meski pencahayaan minim, tetapi karena pria itu duduk di samping jendela kaca, di mana cahaya lampu dari luar masuk melalui jendela kaca itu. Joana mampu melihatnya sedikit jelas.
Dalam hati Joana berpikir. Bukan hanya Levin saja yang bisa mendapatkan penggantinya. Dia pun bisa melakukan itu. Dengan wajah cantiknya, siapa yang akan menolaknya?
Jika sebelumnya Joana tidak mengakui dirinya bisa menjerat pria dengan wajahnya. Maka malam ini, dia akan membuktikan pada dirinya sendiri. Jika ucapan orang-orang di luar sana benar.
Demi membuktikan jika dia mampu. Joana perlahan bangkit dari lantai. Saat berhasil berdiri. Saat itu pula Joana merasakan kepalanya seperti berputar-putar.
Pandangannya tidak fokus. Meski begitu, ia tetap melangkah ke arah sosok pria asing itu.
Brak!
"Pelan-pelan! Kalau sampai botol ini pecah. Kupecahkan pula kepalamu."
Joana memang tidak sengaja menabrak meja berisi botol minuman kelas mahal itu.
Jika saja Joana tidak sedang mabuk. Ia bisa membeku di tempat setelah mendengar ancaman yang terdengar serius itu.
Tanpa dipersilakan, Joana langsung mengambil tempat di depan pria asing itu, sembari tangannya meraih gelas bekas yang masih terisi setengah.
Langsung saja Joana meneguk isi cairannya hingga tandas.
Buk!
"Argh ... nikmat!" Joana meletakkan gelas sloki di atas meja dengan kekuatan penuh. Untung saja gelas itu tidak pecah.
Selang beberapa detik kemudian, Joana menjulurkan sloki ke depan pria itu. Meminta untuk dituangkan.
Pria asing dengan wajah setampan Dewa Yunani itu menuangkannya hingga penuh.
Meski toleransi alkohol Joana sangat payah. Namun, gadis itu sama sekali tidak berniat berhenti.
"Sudah cukup. Kau akan mati." Pria asing itu menahan pergelangan tangan Joana, yang hendak meraih botol lainnya.
Joana mengangkat pandangan. Hingga keduanya bertatapan dalam jarak yang dekat.
"Mati? Hahaha ... kalau begitu biarkan aku mati." Joana meracau sembari menunjuk bola mata pria itu dengan telunjuk kirinya.
"Owwh, matamu cantik sekali," gumam Joana sambil mencondongkan wajahnya lebih dekat. Hanya untuk melihat netra hazel terang milik pria tampan itu.
"Alis yang menukik indah. Bola mata terang. Kelopak mata yang terbentuk sempurna. Hidung mancungmu juga bagus sekali. Rahangmu tegas, dan ini ... kenapa lembut sekali?"
Joana rupanya sudah benar-benar gila. Dia tidak hanya memuji biasa. Namun, jemarinya mengelus lembut setiap inci wajah pria itu.
"Kenapa ... kau ... tampan sekali? Kau ma-manusia?"
Pria yang sejak tadi mendapat sentuhan lembut itu, menangkap pergelangan tangan Joana yang hendak bergerak ke lehernya.
"Otakmu sudah tidak berfungsi dengan baik," ujar pria itu sembari menunduk dengan posisi menopang kepala menggunakan telapak tangan kirinya. Sejak tadi kepalanya juga terasa berat. Meski kesadarannya sedikit tertarik. Namun, ia masih bisa berucap jelas dan tidak tersendat-sendat seperti Joana.
Joana mendesah kasar sembari mengalihkan pandangan ke arah jendela kaca. Menatap kendaraan yang berlalu-lalang di luar sana. Sedetik kemudian kepalanya rubuh ke atas meja. Ekspresi sedih itu kembali hadir--melunturkan senyum yang sempat timbul saat memuji pria tadi.
"A-aku memang sudah gila. Bisa-bisanya terluka hanya karena melihat si berengsek itu selingkuh?! Ke-napa? Kenapa aku harus sedih karenanya, sedangkan dia baru saja bersenang-senang dengan wanita lain? Ini tidak adil .... seharusnya dia juga ikut terluka. Tapi kenyataannya, kenapa hanya aku?"
Joana meluapkan kekesalan yang menumpuk dalam hati.
"Aku ... sangat menyedihkan." Lanjut Joana. Kini suaranya terdengar semakin lirih.
"Balas si berengsek itu, bodoh! Dunia belum kiamat, dan hidupmu tidak akan hancur, hanya karena dia menyakitimu. Kau ... jangan hancur sendirian."
Mendengar nasehat itu. Sesak di dada Joana seolah terangkat begitu saja.
'Benar! Aku tidak akan hancur hanya karena dia selingkuh. Bukankah tadi aku ingin membuktikan kalau tidak hanya dia yang bisa mendapatkan selingkuhan? Aku pun bisa!'
Kedua telapak tangan Joana terangkat cepat, lalu menangkup dua pipi pria asing itu.
Tatapan keduanya kembali bertemu. Joana dengan gilanya berucap, "Habiskan malam ini bersamaku."