Usai menggertak manager pemasaran perusahaan rekanannya agar berhenti mengambil bahan bangunan dari perusahaan kompetitornya Alex pun meninggalkan mall Senayan City. Dia dijemput kembali di depan lobi oleh sopir pribadinya yang telah bertukar mobil mewah lain yang ia miliki di garasi rumahnya.
"Tujuan kita kemana selanjutnya, Pak Alex?" tanya sopir pribadi itu sembari mengendarai sebuah Audi A6 putih meninggalkan komplek mall Senayan City yang ramai.
"Sekarang pulang ke rumah saja, Pak Jono. Nanti malam antarkan saya ke Embassy Night Club," jawab Alex dengan santai sembari menatap keramaian lalu lintas dari kaca jendela mobilnya.
Keseharian bos perusahaan nasional itu serius, tapi santai. Dia cukup baik menyeimbangkan karier dan waktunya bersenang-senang. Ada hari-hari tertentu dia kelayapan menikmati hiburan malam di ibu kota, menonton konser, dan juga clubbing seru di night club yang ramai pengunjung untuk berburu wanita yang available untuk hubungan panas singkat bersamanya.
Ketika malam tiba, sekitar pukul 22.00 WIB Alexander Aimes turun dari mobil Audi A6 warna putih yang dikemudikan sopir pribadinya di depan lobi Embassy Night Club.
Lampu sorot warna-warni menyinari jalan masuk night club yang padat pengunjung itu. Kartu member VVIP yang ditunjukkan oleh Alexander Aimes memberikannya jaminan akses masuk ke dalam ruangan hingar bingar remang-remang itu.
Suara musik remix yang dimainkan oleh residen DJ night club itu menaikkan adrenalin seisi lantai dansa yang didominasi pengunjung berusia muda.
Sesosok wanita cantik bertubuh tinggi semampai dengan kulit seputih susu yang mengenakan mini dress halter neck fit body warna merah yang sedang berjoged di lantai dansa menyita perhatian Alex. Gerakannya sensual membangkitkan hasrat terpendam dalam diri pria itu.
Entah setengah teler atau memang seperti itu pembawaan alaminya, tatapan wanita itu begitu menggairahkan ke arah Alex duduk di depan meja bartender. Hal itu membuat Alexander Aimes tak tahan untuk berjalan mendekatinya.
"Halo, Nona ... kita berjodoh rupanya. Sudah dua kali hari ini kita berjumpa," ujar Alex sembari menggoyangkan tubuhnya mengikuti musik remix DJ di hadapan wanita itu.
Namun, tatapan mata wanita itu seperti tak fokus ketika dilihat dari dekat. Kini Alex tahu bahwa Winona Kim sedang setengah teler. Saat tubuhnya oleng, Alex segera menangkapnya sebelum terjatuh mencium lantai dansa.
"BUUKKK!" Lutut Winy spontan terangkat melesakkan sebuah hentakan telak ke organ sensitif Alexander Aimes yang seharusnya mendapat belaian kasih sayang.
"OUCH!" pekik tertahan Alex memegangi bagian di antara pangkal pahanya yang terasa begitu nyeri hingga membuat kepalanya seakan dipukul dengan martil. Ujung matanya basah menahan kesakitan yang dia rasakan di bagian kebanggaannya sebagai seorang pria. "Beraninya kau ...!" desisnya sembari menatap tajam penuh dendam kepada Winy.
"Kau yang cari masalah, Sir! Aku tak mau dipegang-pegang seenak udelmu, memangnya aku wanita gampangan?!" bela Winy tanpa merasa bersalah telah menyakiti seorang Alexander Aimes.
Dengan langkah sempoyongan wanita itu segera kabur meninggalkan Alex yang masih terpaku di tengah lantai dansa membungkukkan tubuhnya.
Rela tak rela, Alex hanya bisa menatap kepergian Winy menanti rasa nyeri itu sedikit mereda. Hajaran lutut tadi begitu full power hingga membuatnya tak berkutik.
Musik remix DJ masih terus dimainkan dan menyebabkan Alex seolah tenggelam dalam lautan manusia yang bergoyang menari setengah teler di lantai dansa. Sebuah cara yang buruk untuk melewati malam gemerlap di ibu kota.
Akhirnya Alex mampu menepi dari lautan manusia di lantai dansa dan duduk di kursi seberang bartender. "Buatkan aku gin tonik dengan es batu dan jeruk nipis, Dude!" pesan Alex kepada si bartender yang mengerti minuman yang diinginkan kliennya itu.
Segelas cairan bening dengan buih-buih kecil meletup dari dasar gelas tersaji di hadapan Alex yang segera meraih dan menenggak habis minuman berkadar alkohol tinggi itu. Efeknya cukup meredakan rasa tak nyaman di tubuh bagian bawahnya.
"Wanita sialan! Tunggu pembalasanku besok, kau harus membayar perbuatan kasarmu kepadaku tadi. Huh!" Alexander Aimes menggertakkan giginya geram sembari mencengkram gelas kaca di tangannya.
Sementara itu Winy yang masih sanggup memanggil taksi untuk mengantarkannya pulang ke rumahnya sedang tertidur di dalam mobil yang melaju di jalan raya yang mulai lengang jelang tengah malam.
"Yaelah ... cantik-cantik gitu, tidurnya ngorok!" gumam sopir taksi berusia awal 30 tahunan itu terheran-heran ketika mendengar suara alami Winy yang menyerupai knalpot sepeda motor di-gas.
Sesampainya di sebuah rumah tipe 54 yang berlokasi di perumahan kalangan menengah ke bawah, sopir taksi itu berdehem lalu berkata nyaring, "MBAK, BANGUN SUDAH SAMPAI PONDOK INDAH IMPIAN!"
Winy sontak kaget terbangun hingga nyaris terpentok kaca jendela karena panik. "Apaan sih, Pak?! Jangan teriak-teriak ngapa!" gerutunya dengan wajah cemberut.
"Seratus dua puluh delapan ribu ongkosnya, Mbak!" sahut sopir taksi itu jutek tanpa memedulikan protes Winy, dia menengadahkan tangannya di hadapan wanita itu.
"Sabar, aku ambil dompet dulu, oke?!" balas Winy dengan dongkol dan nada yang tak kalah jutek. Dia pun mencabut selembar uang rupiah merah dan juga biru lalu menimpakannya ke telapak tangan si sopir jutek. "Ambil kembaliannya!" tukasnya lalu membuka pintu taksi itu dan melenggang keluar mobil menuju ke pintu pagar rumahnya.
Dengan segera taksi itu tancap gas meninggalkan Winy sendirian mencoba membuka gembok pagar pintu rumahnya. Bulu kuduknya terasa berdiri ditiup angin malam dan suasana hening di komplek perumahan itu.
"KLONTANG!" Suara kaleng bir yang jatuh dari bak sampah penuh di depan rumahnya membuat Winy terpekik kecil dan melonjak di tempatnya berdiri.
"Meoongg ...." Seekor kucing berlari di jalanan kosong itu setelah mengais tempat sampah.
Winy pun memegangi dadanya dan berdecak kesal. "Tskkk dasar kucing garong, malam-malam ngagetin orang aja!" omelnya lalu dia pun segera masuk ke dalam rumah yang hanya dihuni oleh dia dan adik laki-lakinya yang masih SMA.
Bocah remaja itu tertidur di sofa dengan televisi menyala yang sedang menyiarkan film horor yang biasa diputar lepas tengah malam. Saat Winy masuk bertepatan dengan adegan hantu muncul di layar kaca itu.
"UWAAAAAAAAA!" jerit Winy histeris menutupi wajahnya.
Lionel yang kaget setengah mati mendengar suara jeritan kakaknya pun langsung bangun karena terjatuh dari sofa ke lantai. Sambil mengusap-usap bokongnya yang pegal karena terguling ke lantai barusan. Dia berkata dengan nada kesal, "Kakak ini ngapain sih baru pulang malah teriak-teriak kayak lihat hantu aja!"
"Matiin TV nya, Lio! Emang Kakak lihat hantu kali ..., tapi ... di TV. Hehehe," jawab Winy sambil meringis menatap adiknya yang mencebik kesal memandanginya.
"Udah gede masih takut hantu, Kak Winy payah!" ejek Lionel menekan remote untuk mematikan TV. Dia lalu berjalan memeluk kakaknya, "kutemenin bobo mau, Kak?"
Winy melepaskan lengan Lionel lalu menoyor kening adiknya itu. "Nggak boleh, kamu udah gede. Nanti malah khilaf bahaya! Udah sana bobo di kamarmu aja soalnya ini masih jam satu pagi. Kakak juga besok mau berangkat kerja hari pertama, doain betah kerjanya ya, Lio!" ujarnya lalu segera masuk ke kamarnya sendiri yang bersebelahan dengan kamar tidur Lionel.
Ketika sang mentari pagi menyapa dengan sinar hangatnya melalui tirai tipis di jendela kamar tidur Winy, alarm ponselnya berbunyi. Sudah pukul 06.00 WIB dan dia harus bersiap-siap sebelum masuk kerja hari pertama.
Sebuah lagu Crazy in Love dari Beyonce memulai harinya. Wanita blasteran Korea-Indonesia itu mandi di bawah shower sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan heboh. "Ooo ... oo ... oo ... oo! Crazy crazy I'm crazy in love!" Winy menyanyi dengan suaranya yang pas-pasan ala artis kamar mandi.
Setelah selesai mandi, dia mengenakan bathrobe dan memilih baju kantornya. Sebuah kemeja sutra lengan puff warna biru langit dan rok sepan yang tidak terlalu pendek warna putih yang Winy pilih sebagai outfitnya pagi ini. Dia akan memadukannya dengan scarf pelangi dengan aksen bros berbentuk pita warna keemasan.
Winy membedaki wajah mulusnya lalu memakai maskara agar bulu matanya tampak lentik dan juga membubuhkan liptint beraroma strawbery warna rossy pink di bibir seksinya yang sedikit tebal. Rambut panjangnya dia ikat model ekor kuda agar tidak ribet bila harus mengerjakan banyak pekerjaan di kantor.
Akhirnya setelah sesi dandan usai, Winy mengenakan sepatu high heels 12 cm warna putih yang senada dengan rok sepannya. Kemudian ia keluar dari kamar tidurnya menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama Lionel.
"Kakakku yang seksi, sarapan paginya sudah siap. Sandwich cheese smoked beef spesial buatan Chef Lionel Kim," ujar bocah remaja dengan seragam putih abu-abu itu menghidangkan sepiring sandwich yang tampak menggugah selera di hadapan Winy.
"Thank you, Chef! Kumakan ya ...," balas Winy lalu mengangkat sandwich itu dengan tangannya ke mulutnya untuk digigit. "Mmm ... yummy, Boy!" pujinya seraya mengunyah sandwich.
Seusai sarapan pagi bersama, kedua kakak beradik itu pun berpisah tujuan. Lionel berangkat sekolah dengan sepeda motor Vario miliknya, Winy berangkat kerja yang berbeda arah dari lokasi sekolah adiknya dengan mobil sedan Ayla putihnya yang sedikit ringsek karena menabrak Porsche kemarin siang.
Jarak antara rumahnya dengan kantor tempat kerja barunya sekitar satu jam dengan mobil pribadi sudah ditambah waktu macet jalanan kota Jakarta. Akhirnya mobil itu pun sampai di parkiran basement PT Everlasting Global International.
Dulu papa Winy juga memiliki perusahaan serupa ini, sayangnya perusahaan papanya kolaps karena persaingan bisnis dengan kompetitornya yang konon kabarnya menggunakan cara kotor. Karena kebangkrutan usahanya di Indonesia, papa Winy terserang stroke dan dibawa pulang ke Korea Selatan oleh mama Winy agar lebih tenang menjalani hidup sederhana di kampung halaman papanya.
Sedangkan, Winy yang baru saja lulus dari studi S2 di Australia belum bisa menangani perusahaan papanya sehingga perusahaan itu dilikuidasi untuk menutup utang bank. Sisa uangnya digunakan Winy dan Lionel untuk bertahan hidup sederhana di Jakarta.
Dengan langkah anggun, Winy masuk ke lift untuk naik bersama karyawan-karyawan perusahaan itu. Dia harus menemui calon bos barunya di lantai 30 yang juga menjadi lantai teratas gedung pencakar langit itu. Pak Jofran Kesuma memberikan instruksi lengkap untuknya melalui pesan W A kemarin siang.
Nama bos barunya itu Bapak Alexander Aimes, beliau tidak suka wanita bodoh dan pemalu. Harus selalu menjawab 'ya' untuk semua perintah dari bosnya itu. Pakaian kantor tidak boleh mengenakan celana panjang, harus rok di atas lutut tingginya, harus selalu wangi dan tidak berbau ketiak atau berbau mulut yang tak sedap.
Sebetulnya Winy agak stres ketika membaca pesan instruksi dari Pak Jofran Kesuma kemarin. Namun, gaji yang ditawarkan oleh perusahaan ini sangat menggiurkan 30 juta sebulan. Jadi Winy pun setuju membubuhkan tanda tangan di kontrak kerjanya yang dikirim via aplikasi hello sign kemarin siang juga.
"TING."
Pintu lift itu terbuka setelah hanya tersisa dirinya yang memilih tujuan lantai 30. Winy menguatkan tekadnya dan melangkah keluar dari lift menuju ke satu-satunya pintu ruangan yang ada di lantai itu. Sebuah meja kerja terletak di depan ruangan CEO yang dia duga adalah calon meja kerjanya sebagai sekretaris merangkap asisten pribadi Bapak Alexander Aimes.
"TOK TOK TOK."
"Come in!" jawab suara maskulin dari dalam ruangan CEO.
Winy pun membuka pintu ruangan di hadapannya lalu melangkah masuk dengan tenang. Ketika dia sudah berdiri di seberang meja bos barunya, matanya sontak membulat karena terkejut. Pria itu adalah pemilik mobil Porsche merah yang kemarin siang dia tabrak dari belakang.
Pria itu menyunggingkan senyum tipis di wajahnya. "Terkejut, Nona Winona Kim? Perkenalkan ... saya adalah Alexander Aimes, bos barumu. Sepertinya kita memiliki beberapa urusan penting yang butuh untuk diselesaikan sesegera mungkin," ujar Alex dengan intonasi jelas perlahan yang bagi Winy cukup menggelisahkan.
"Ehh ... umm, Pak Alex, apa ini tentang kerusakan mobil Anda kemarin?" tanya Winy berdiri tak nyaman di hadapan meja bosnya.
"Salah satunya ... dan apa kamu juga ingat semalam bertemu lagi denganku? Lututmu yang liar itu menyakiti bagian pribadiku dengan kejam!" ungkit Alex dengan nada dingin dan setajam silet.
Winy berusaha mengingat-ingat kejadian semalam dan ia segera menutup mulutnya dengan tangan serta membelalakkan mata indahnya itu karena terkejut. 'Pria kurang ajar yang semalam grepe-grepe di diskotik itu apa DIA?!' jerit Winy dalam hatinya.
Mata Alex seolah memahami apa yang sedang berputar di otak wanita cantik itu. 'Got you, Little Ass!' batinnya senang.
"Saya butuh permintaan maaf yang tulus darimu, Nona Winona Kim. Harga diri saya sebagai lelaki ternodai semalam ... dan tersakiti, saya kuatir serangan fisik itu dapat menyebabkan impotensi," tutur Alex dengan hiperbolis mengerucutkan bibirnya dan mengerutkan keningnya.
Rasanya Winy ingin memutar bola matanya, itu lebay, pikirnya. Semalam hanya wujud pembelaan dirinya saja sebagai wanita yang merasa terancam.
Bos barunya berdehem keras. "EHM!"
Senyum yang tampak tulus dengan mata bersinar ramah nampak dari wajah Winy. "Saya memohon maaf sebesar-besarnya dari dalam lubuk hati saya, Pak Alex!" ucapnya dengan jemari tangan tertaut di depan tubuhnya dan dia membungkukkan badannya sekali di hadapan Alexander Aimes.
"Di-ma-af-kan!" ucap Alex sepatah-sepatah. Dia lalu melanjutkan, "Mulai hari ini kamu tinggal di rumahku."
"Itu ... tidak mungkin, Pak," jawab Winy sedikit bengong.
"JANGAN KATAKAN TIDAK!" seru bos barunya dengan galak.
'Waduh kok galak ...,' batin Winy dengan hati mencelos. Dia lalu berkata, "Saya tidak bisa tinggal bersama Anda, Pak!"
"Kamu harus kerja jadi sekretaris merangkap asisten pribadiku sampai utang kamu lunas kalau nggak mau saya jebloskan ke penjara!" ancam Alex.
"Saya nggak mau, ini pemerasan namanya!" kelit Winy membalik badannya bergegas keluar ruangan CEO.
Dengan geram Alex mengejar Winy dan menangkap pinggangnya dari belakang. "Aku bukan penjual cabe di pasar, jadi jangan tawar-menawar denganku! Ingat ... di penjara banyak kecoa dan tikus, apa kamu mau membusuk di sana?"
"LEPASKAN!" teriak Winy sambil meronta liar di dekapan calon bosnya.
"Jangan mimpi!" desis Alex di telinga Winy sembari menyeringai seram. Dia meremas gundukan lembut di dada wanita itu.