Bab 2

Sudah lewat beberapa tahun lamanya setelah kelulusanku dari kampus laknat yang sudah menjadi tempat bernaungku selama 3,5 tahun. Takdir itu membawaku kepada sebuah pekerjaan yang cukup membuatku merasa nyaman. Kampus itu adalah saksi di mana aku pernah menjatuhkan hatiku kepada seseorang yang salah. Kesalahan itu terus membayangiku hingga sekarang. Aku benci jika mengingatnya, dan bodohnya diriku yang selalu mengingatnya. Kalau bisa aku ingin amnesia, aku ingin melakukan berbagai cara untuk mendapatkan penyakit itu. Aku benci kampusku. Aku benci Romeo Evans. Aku benci semua yang berkaitan dengan masa laluku, kecuali satu hal. Anakku.

Kalla Rei yang sekarang berbeda dengan Kalla Rei yang dulu. Tekanan hidup yang membuatku berubah, apalagi setelah ibuku meninggal karena serangan jantung. Ibu mana yang tidak akan kaget kalau putri tunggalnya hamil di luar nikah dan tidak jelas siapa ayahnya. Aku sendiri pun kaget mendapati diriku hamil. Aku tahu wanita dewasa yang hamil itu lumrah, tapi kalau tanpa ada yang mau bertanggung jawab ini tidak lumrah lagi, ini beban kehidupan, dan entah apa sebutan yang pas untuk menggambarkan keadaanku. Meskipun sekarang dunia semakin modern dan hamil duluan bukan hal yang tabu. Akan tetapi aku masih memiliki pemikiran kalau hal itu masih tidak sepantasnya terjadi. Selalu ada efek yang tidak mengenakkan yang akan timbul dari kondisiku yang hidup sendiri.

Untuk wanita yang masih bernapas dan berpijak di bumi, jangan mau jadi korban cinta buta. Aku pernah mengalaminya dan itu menyakitkan sekaligus menyengsarakan. Hamil tanpa keluarga, tanpa suami, tanpa memiliki uang, itu sungguh berat. Kalau kalian tidak percaya, silakan bertanya kepadaku. Aku tahu benar bagaimana rasanya. Ini sungguh menyakitkan, kalau bunuh diri tidak berdosa, mungkin aku akan mendaftar menjadi peserta. Tidak perlu test-test-an segala, aku sudah siap mati.

Aku tahu wanita itu makhluk yang selalu mengedepankan perasaan. Aku sendiripun tidak percaya kalau Romeo tega melakukannya kepadaku. Setelah aku memutuskan cinta tipuannya itu, aku meninggalkan kampus karena aku memang sudah lulus. Aku tidak peduli dengan Romeo yang gosipnya butuh waktu lama untuk menyelesaikan pendidikannya. Dia memang bodoh. Bahkan wanita baik sepertiku dia jadikan percobaan. Dia bodoh karena menyia-nyiakan diriku. Aku tidak bangga dengan predikat cumlaude yang kuperoleh, karena gara-gara diriku, ibuku meninggal. Dan dihari terakhir ibuku hidup, aku belum bisa membuatnya bangga. Aku menyesal. Belum mati saja aku sudah mendapat tiket gratis ke neraka dan tanpa diundi. Aku anak durhaka yang tidak berbakti kepada ibunya.

Stella Rei sekarang sudah besar, sudah hampir empat tahun, dan aku sudah berumur 26 tahun dua bulan yang lalu. Menjadi ibu muda itu merepotkan apalagi kalau harus bekerja dan pontang-panting sendiri membesarkan anaknya.

Aku pernah ingin menggugurkan Stella dengan meminta bantuan seorang dokter, tapi aku malah kabur ketika dokter hendak melakukan tugas mulianya itu. Aku menyebutnya tugas mulia, karena tindakannya bisa meringankan beban kehidupanku. Aku acungi jempol bagi seorang wanita yang tega membunuh anaknya sendiri, karena hal tersebut membutuhkan mental yang luar biasa kuat, dan aku tidak memilikinya. Aku tidak tega melakukannya, aku ini wanita lemah, tidak sekuat bayangan kalian. Aku bukan wonder woman yang pekerjaannya membunuh monster apalagi manusia. Aku hanya wanita biasa yang merana dalam hidupnya.

Aku tertawa kalau mengingat betapa takutnya diriku kala itu. Masih mengenakan pakaian rumah sakit, bertelanjang kaki, dan berjalan tanpa arah. Aku berlari keluar seperti orang bingung. Menyetop taksi dan memutuskan untuk pulang ke rumah, setelah membuat seorang driver taksi kebingungan. Aku sudah seperti orang gila. Untung saja bapak-bapak yang membawaku pulang cukup baik, dia sama sekali tidak meminta uang kepadaku. Mungkin dia tahu kalau aku sedang depresi berat.

Masa laluku memang suram, makanya aku mewanti-wanti kalian untuk tidak melakukan hal serupa. Kata orang mencintai sesuatu terlalu berlebihan akan membuatmu menangis karenanya. Aku mencintai Romeo teramat sangat hingga membuatku patah hati begitu dalam. Aku menyesal karena menyerahkan segalanya kepada laki-laki yang menurutku tidak layak disebut lelaki. Aku tidak melakukannya sekali atau dua kali dengan Romeo. Aku sering melakukannya dan ketika aku sadar, aku sudah hamil, dan aku sudah kehilangan Romeo untuk selamanya. Kalau sudah seperti ini, tidak ada jalan bagiku untuk bahagia. Pada kenyataannya aku harus berjuang sendirian untuk bisa hidup bersama anakku yang masih belia.

Kalau waktu bisa diputar kembali, aku mana mau menyerahkan segalanya kepada lelaki yang bukan suamiku. Cinta kadang bisa membuat wanita cerdas sepertiku mendadak menjadi bodoh tak tertolong. Kalau kalian bertanya bagaimana perasaanku sekarang, aku akan mengatakan kalau aku sangat menyesal, dan penyesalan selalu tiba di akhir cerita. Ketika penyesalan itu datang sudah terlambat untuk memperbaikinya. Aku menerimanya dengan lapang dada meski pada awalnya tidak ada keikhlasan sama sekali. Lama-lama aku terbiasa dan mengambil banyak pelajaran dari masa laluku yang kelam itu.

Sejak saat itu aku mulai benci dengan lelaki tampan dan lelaki yang pura-pura baik. Tanpa seorang lelaki aku bisa hidup lebih baik. Aku sadar kalau tidak semua laki-laki itu bejat. Ada yang baik kepadaku dan dengan tulus membantuku. Aku tidak perlu menyebutkan namanya, karena orang itu bukan untuk dikonsumsi oleh publik. Dia sudah berkeluarga dan sudah memiliki anak juga. Kalian tenang saja, aku tidak ada niatan untuk menjalin hubungan percintaan dengan dewa penolongku itu. Aku sudah kapok untuk memulai hubungan yang baru. Aku belum siap sakit hati untuk kesekian kalinya.

Keluarganya membuatku terus bertahan dalam kondisiku yang memburuk sejak melahirkan. Beban hidup yang berat dan tanpa pendamping hidup. Aku tidak mengerti cara merawat anak dan keluar dari perasaan sedihku yang berkepanjangan. Waktu yang mengajarkanku untuk bisa menerima kehidupanku. Awalnya aku menyalahkan Tuhan yang membuat garis kehidupan yang menyedihkan, tapi aku mengerti tanpa luka itu mana mungkin diriku menjadi wanita yang tegar seperti sekarang.

Udara malam begitu menusuk kulit. Pakaianku sudah panjang, tapi masih bisa merasakan dingin. Aku memasuki pusat perbelanjaan, mengambil barang-barang yang kubutuhkan sebelum pulang ke rumah. Stella akan senang kalau dibelikan buah stroberi kesukaannya. Apapun yang berbau stroberi, Stella akan melahapnya dengan penuh suka cita. Anakku memang gadis kecil yang menggemaskan. Diumurnya yang masih sedikit, dia sudah pintar bermain piano. Sepertinya anakku itu berbakat menjadi seorang pianis. Apapun cita-citanya, aku akan terus mendukungnya. Menjadi seorang pianis memang belum tentu menghasilkan banyak uang, tapi aku ingin anakku bahagia. Dia satu-satunya yang sangat berharga, setelah aku kehilangan banyak hal tentunya. Dari sekian banyak rasa kehilangan, hanya Stella yang tersisa. Sejak Stella hadir aku menjadi tidak sendirian lagi, meskipun awalnya Stella lahir dari kesalahanku.

Manusia pasti pernah melakukan kesalahan, begitu juga dengan diriku. Percuma jika terus terpuruk dengan penyesalan. Terus menjalani hidup adalah pilihan yang kupilih, aku yakin akan ada kebahagiaan untukku suatu hari nanti.

***

Bab 3

Seperti biasa, Paman Louis dan Bibi Kelly duduk berpelukan di depan televisi. Kadang-kadang mereka akan tidur di rumahku, kalau kebetulan aku memiliki banyak pekerjaan dan mengharuskan lembur. Bibi Kelly adalah asisten rumah tangga yang membantuku membersihkan rumah dan merawat Stella. Sedangkan Paman Louis adalah suaminya yang tidak sengaja mengantarkanku pulang ketika kabur dari rumah sakit beberapa tahun yang lalu. Aku tidak mengerti dengan takdir Tuhan. Aku rasa dunia cukup sempit, karena dari sekian ribu driver taksi, aku cukup beruntung mendapatkan Paman Louis sebagai orang yang mengantarku pulang.

Paman Louis adalah orang terpilih yang sampai sekarang masih menyayangiku karena hidupku cukup malang. Aku mengerti kalau Bibi Kelly dan Paman Louis adalah orang yang tulus, tapi aku masih merasa tidak enak hati kalau terus menerus menyusahkan mereka. Terlalu banyak jasa yang mereka berikan kepadaku yang tidak mampu aku bayar. Aku beruntung pernah mengenal mereka.

“Aduh romantisnya.” Aku menggoda Bibi Kelly yang masih saja salah tingkah, padahal mereka sudah cukup lama menjadi suami istri.

“Stella baru saja tidur.” Bibi Kelly memberikan informasi tanpa aku minta. Mana ada balita yang masih bisa bertahan sampai jam sepuluh malam? Aku tersenyum melihat kebersamaan mereka.

“Kalla, malam sekali baru sampai ke rumah? Marahi saja bos mu itu kalau sering-sering membuatmu lembur.” Paman Louis menatapku dan kubalas dengan kekehan.

“Ah, Paman bosan ya, menungguku pulang?” Aku meletakkan belanjaan dan menatanya secepat kilat.

“Bukan begitu, tidak baik wanita berkeliaran malam-malam. Kalau kau tidak keras kepala, paman tidak keberatan kalau disuruh menjemput.”

“Tidak usah, Paman. Aku bisa pulang sendiri. Lihat, aku baik-baik saja. Kalian jadi kan, ke rumah Samantha? Kasihan, dia sudah hamil besar.” Aku membuat pengalihan agar mereka tidak perlu mengkhawatirkanku.

“Besok kami akan berangkat, bagaimana kalau Stella ikut?” Bibi Kelly menatapku. Meskipun dari jarak yang cukup jauh, aku tahu kalau mereka berharap Stella diperbolehkan untuk ikut. Sudah waktunya mereka peduli dengan cucu mereka sendiri. Lagipula aku bisa merawat Stella selama mereka berada di dekat Samantha.

“Tidak apa-apa, Stella anak yang pintar dan bisa diatur. Kalian pergilah, aku titip salam untuk Samantha. Aku akan mengunjunginya nanti kalau cutiku sudah disetujui oleh bos gilaku itu. Aku sudah lama tidak berkunjung ke rumah Samantha” Aku terkekeh sendiri, mengingat kebaikan dan kejahilan Samantha yang selalu menganggapku seperti saudara perempuannya.

“Padahal kami akan senang kalau Stella ikut.” Paman Louis berkomentar. Ada kesedihan tersirat di wajah tuanya.

“Jam berapa kalian berangkat, aku titip sesuatu, ya? Untuk anak Samantha.”

“Kemarin saja kau sudah memberinya kereta bayi, padahal bayinya masih tenang di perut ibunya.” Kelly berkomentar dan ikut membantuku menata bahan makanan yang aku beli.

“Itu akan berguna, Bibi. Aku akan marah kalau bibi tidak mau membawanya, karena aku sudah membungkusnya seindah mungkin.”

“Terserah kau saja. Kau itu keras kepala seperti ibumu. Melihatmu aku jadi teringat dengan ibumu yang sering menyuruhku membawa pulang makanan untuk diberikan kepada Samantha” Bibi Kelly tampak menerawang saat dulu dia membantu ibuku menjadi asisten rumah tangganya. Ibuku mengalami kelainan jantung dan tidak bisa melakukan banyak pekerjaan. Ibuku dulunya adalah seorang wartawan yang beralih profesi menjadi editor di salah satu penerbit besar.

Aku tersenyum. Setiap membahas soal ibu, aku jadi semakin merasa bersalah. Andai hari ini ibu masih hidup, pasti aku bisa membuatnya bahagia. Tapi sayang, saat ini aku hanya bisa berdoa semoga ibuku berada di surga.

Setelah sedikit bercakap-cakap dan makan malam, aku menemani mereka sebentar di depan tivi. Aku tidak mengikuti acaranya, karena aku malah asyik mengobrol dengan Bibi Kelly. Ketika mereka berpamitan untuk tidur, karena memang sudah larut, aku baru mencari anakku ke kamarnya. Hari ini mereka menginap, karena memang kadang-kadang malas untuk pulang ke rumah mereka yang letaknya satu blok dari tempatku tinggal.

Aku mengambil posisi ternyaman dan memeluk Stella. Tidurnya damai. Sebentar lagi ia akan masuk sekolah, sudah waktunya Stella bersosialisasi dengan teman-teman seusianya. Stella merengek berkali-kali, dan sebentar lagi usianya 4 tahun, sudah waktunya bagiku untuk melepasnya bebas bermain di luar sana. Meskipun ada kekhawatiran yang kupikirkan. Wajar terjadi, karena diriku begitu mencintai Stella dengan sepenuh jiwaku.

Hidupku sudah tenang sekarang, meskipun hanya memiliki Stella. Aku tahu kalau Romeo Evans tidak akan mau ambil pusing soal diriku. Aku hanya pacar taruhannya. Romeo tidak pernah tahu bagaimana kehidupanku yang sekarang. Aku memang menyingkir dari siapapun yang mengenaliku. Romeo tidak tahu kalau Stella adalah anaknya. Begini lebih baik, karena semakin diungkit, aku yang akan tersakiti. Sudah cukup cintaku dipatahkan oleh dirinya. Aku tidak mau Stella tersakiti gara-gara tidak diakui oleh ayahnya sendiri. Aku mengingat dengan benar, kalau ada seseorang yang begitu dicintai oleh Romeo. Aku akan membiarkan mereka bahagia dengan rumah tangga mereka.

Romeo Evans itu apa? Hanya laki-laki banci yang terlalu sombong yang selalu menganggap kalau dirinyalah yang terhebat. Dia memang hebat sekarang. Semua orang tahu kalau dia adalah lajang yang diincar oleh para calon mertua. Ketampanannya saja sudah terlihat sejak aku masih kuliah. Kalau dia tidak tampan mana mungkin aku khilaf atas dirinya? Wajahnya begitu memikat dan sulit untuk dilupakan. Kadang aku malas untuk mengakui kebodohanku itu.

Sekarang dia tidak hanya tampan, tapi juga kaya raya. Hotelnya ada di mana-mana. Setiap melintasi jalan raya, aku kadang melihat wajahnya yang sedang terpampang di dinding gedung yang tinggi. Semakin dewasa Romeo Evans menjelma menjadi sosok pria bertubuh kekar dengan wajah diatas rata-rata. Iklan hotelnya hilir mudik tersaji di tempat-tempat umum, belum lagi baliho-baliho yang menggambarkan betapa berkuasa dan berpengaruhnya seorang Romeo di negaranya. Apa mereka tidak tahu kalau aku sangat terganggu dengan iklan-iklan itu? Apa mereka tidak tahu kalau Romeo adalah bagian dari masa lalu yang ingin aku tanggalkan?

Aku sangat benci ketika bosku dengan centilnya menciumi majalah yang sering memunculkan potret Romeo Evans. Mereka tidak tahu kalau orang yang mereka puja-puja adalah seorang pecundang yang sebenarnya. Mereka hanya melihat ketampanan dan kekayaan Romeo tanpa mau melihat kepribadiannya yang buruk. Hanya korbannya saja yang mengerti bagaimana keburukan sifatnya.

Kalau aku adalah ibu yang melahirkan Romeo, aku akan merasa sangat malu dengan kelakuan anaknya itu. Kalau bisa aku akan menghajarnya sampai babak belur karena telah melukai hati anak gadis orang dan membuatnya hamil di luar nikah tanpa mau menanggung beban hidupnya. Beruntung sekali Romeo, karena aku bukan ibunya.

Aku jengkel ketika kepopulerannya melebihi artis, semakin melihat gambar-gambarnya kepalaku jadi pusing. Setiap aku melihatnya, yang terbayang adalah betapa aku sangat membencinya. Aku membencinya karena diriku pernah begitu sangat mencintainya. Aku malas menceritakan bagaimana hubunganku dulu ketika bersamanya. Dia itu seperti serigala bertopeng pangeran. Mereka tidak tahu seberapa jahatnya seorang Romeo Evans, andai mereka tahu, apakah mereka masih menghormatinya? Kalau mereka tahu kebusukannya apa mereka masih mau memuja dan menjadikannya idola?

Aku menghirup aroma bedak Stella dan memejamkan mata. Dunia tidak akan kejam kepada anak semanis Stella. Meskipun dalam tubuh Stella terdapat sebagian diri Romeo, aku pastikan anakku tidak akan tumbuh seperti ayahnya. Aku akan menjaganya agar Stella Rei tetap menjadi gadis manisku, bukan seorang pecundang nan menyedihkan seperti Romeo Evans.

Ini bukan sekedar kata-kata dari hatiku. Ini lebih seperti janji yang akan aku tepati sampai akhir.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

My Baby

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED