Mentari pagi dengan cahaya yang tak begitu silau menyinari halaman rumah Andira, rumah Andira biasa saja tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Andira saat ini menginjak usia 22 tahun dan dia juga masih lajang, selama Andira bekerja di perusahaan Ergan, Andira tak menyadari sama sekali bahwa Ergan diam-diam mencintainya. Sering kali Ergan memberikan sesuatu seperti barang barang berharga pada Andira tetapi Andira menganggapnya hal yang biasa. Andira hanya berfikiran bahwa Ergan merupakan sosok pria yang baik padanya dan juga suka memberi, Andira sama sekali tak pernah mengarahkan pikirannya ke situ bahwa Ergan jatuh hati padanya. Meskipun Andira berkali-kali merasakan bahwa dirinya seperti dispesialkan oleh Ergan tetapi Andira tetap dengan pemikiran yang sama bahwa Ergan hanya menganggap Andira sebagai pekerja atau paling tidak temannya. Karena Andira tahu, tidak mungkin seorang CEO suka pada orang yang tak mampu menempuh pendidikannya karena masalah ekonomi. Selain Andira bukan seorang yang pernah menjadi mahasiswa di kampus karena Andira tak pernah kuliah, Andira juga tidak memiliki profesi yang bagus seperti teman sebayanya.
"Pak Ergan emang baik banget ya, beruntung banget aku pernah dibaikin sama pak Ergan. Tapi dia orangnya juga suka marah-marah, hmmm aku jadi sedikit takut," ucap Andira.
Gadis itu kini tlah bersiap untuk bekerja, usai dia mandi dan berganti pakaian, ia melangkahkan kakinya pada cermin yang ada di kamarnya itu untuk bersolek tipis agar wajahnya terlihat cantik dan menawan. Tanpa make up pun sebenarnya Andira sudah terlihat sangat cantik, bahkan lebih cantik ketika dia berpenampilan dengan wajah yang natural dibanding dengan make up. Bagaimana tidak? Andira mempunyai alis yang tebal, bibir merah tipis dan menawan, hidung yang mancung dan juga kulit yang putih. Apalagi ketika Andira tersenyum, semua mata pria pasti akan tertuju padanya. Jika diceritakan sangat sulit untuk menceritakan dan mengekspresikan kecantikan Andira ini. Perlahan dia mengoleskan bedak pada wajahnya secara merata tak lupa ia juga meraih sebuah lipstik dan mengolesnya di bibirnya itu. Tak lama ia berdandan di depan cermin, akhirnya dia tlah siap dan segera mungkin pergi ke tempat kerjanya.
Setiap hari Andira ketika pergi ke tempat kerja biasanya menggunakan kendaraan sepeda motor scoopy miliknya. Sesampainya ia di depan rumah dengan kunci motor yang menggantung di jari telunjuknya itu. Tiba-tiba dia mendapati suasana yang berbeda dari biasanya. Bagaimana tidak? Ada sebuah mobil hitam yang terparkir di halaman rumahnya, mobil itu tak asing bagi Andira.
"Itu mobil siapa ya? Perasaan aku pernah liat deh tu mobil," ucap Andira dalam hati.
Andira hanya mematung diri di tempatnya dan tak bergerak sedikit pun sambil memandangi mobil itu. Pintu dari mobil itu pun terbuka, dan seorang pria mulai muncul dari mobil berwarna hitam. Karena pandangan Andira sedikit kabur, ia pun menyipitkan matanya untuk mengetahui siapa pria itu.
"Kok kayak... "
"4njing! Itu pak Ergan, itu bener pak Ergan gak sih? Aduh aduh.. Gua harus apa, gua harus apa.. Haduh haduh," ucap Andira panik dan sedikit terkejut karena seorang CEO itu datang ke rumahnya.
Perlahan Ergan melangkahkan kakinya menuju gadis yang sedang berdiri itu, Andira sangat panik namun dia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Langkah demi langkah ia tempuh hingga akhirnya Ergan tlah berada tepat pada hadapan Andira.
"Pak Ergan? Ada perlu apa Pak? Silahkan masuk dulu.. " ujar Andira ramah namun sebenarnya hatinya sudah pargoy sejak tadi.
"Tidak usah, aku hanya ingin mengajak kamu untuk berangkat ke kantor bersama.. Apa kamu bisa ikut denganku?" tawar Ergan.
Ucapan Ergan membuat gadis yang ada di hadapannya itu membelalakkan matanya dan sedikit menelan ludahnya. Ia berharap bahwa ia salah dengar karena sangat tidak menyangka bahwa Andre datang ke rumahnya dan mengajaknya berangkat bersama.
"A-apa? Apa aku salah dengar?" tanya Andira memastikan kembali.
"Tidak, kamu tidak salah dengar. Ayo kita jalan bareng," jawabnya santai.
"Apa bapak tidak malu?" tanya Andira gugup.
"Kenapa harus malu? Aku tak malu, ayo lah jangan menolak, aku tak ada niat jahat padamu," ujar Ergan.
Tak lama mereka bernegoisasi akhirnya Andira menyetujui ajakan Ergan di situ, walaupun hatinya masih berterbangan rasa gugup dan takut tetapi ia sudah menyiapkan mentalnya untuk berjalan dengan Ergan dengan mobilnya yang mewah itu. Di perjalanan mereka tak saling bicara satu sama lain dan terlihat kaku, salah satu dari mereka tidak ada yang memulai obrolan terlebih dahulu apalagi Andira yang sudah terlihat gugup dan kulitnya sudah terasa dingin. Ia tak berani sekali kali melihat Ergan yang sedang mengemudi, yang seharusnya Ergan mengajak Andira ngobrol terlebih dahulu tetapi Ergan hanya diam dan bersikap dingin.
Tak tau apa yang sedang ada di pikiran pria itu karena ia baru pertama kali Ergan mengajak Ghea ke dalam satu mobil yang sama. Tak lama kemudian, mereka pun tlah sampai di perusahaan itu. Kebetulan pintu Andira tidak bisa dibuka walau Andira mencoba untuk membukanya berulang kali. Tetapi bagaimana lagi? Pintu mobil dekat Andira hanya bisa dibuka dari luar.
"Biar aku saja yang membukanya dari luar," ucap Ergan.
Ergan segera turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Andira, terlihat sangat romantis jika dilihat padahal itu hanya perlakuan sederhana. Banyak mata di perusahaan itu yang memperhatikan mereka berdua, karena sedikit tak menyangka bahwa Ergan akan sangat dekat pada seorang penjaga kantin yang usianya masih muda itu.
"Ayo, turunlah pelan," ucap Ergan.
"Terima kasih pak," jawab Andira penuh ragu sembari mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya dan ia baru menyadari bahwa saat ini dia menjadi pusat perhatian di perusahaan itu.
Tentu saja Andira merasa malu dan tidak percaya diri, mungkin wanita lain jika diantar oleh Ergan akan merasa senang dan bangga. Tetapi tidak dengan Andira yang mempunyai kepribadian yang lemah lembut dan tak suka cari perhatian pada pria mana pun. Andira merupakan sosok yang tampil apa adanya.
"Aku harus cepet cepet pergi dari sini, kenapa aku jadi pusat perhatian sih.. Aku malu banget, " batin Andira dengan raut wajah cemas.
"Pak, saya izin untuk masuk dulu ya.. " ucap Andira. "Baik, silahkan," jawab Ergan.
Dengan cepat, Andira segera melangkahkan kakinya meninggalkan Ergan. Ergan sangat khawatir jika perlakuannya pada Andira membuat Andira ilfeel padanya karena ini baru pertama kali, Ergan nekat mengajak Andira untuk pergi berangkat bersama.
"Tidak apa-apa, masih ada ketiga anak buahku yang bisa membantuku jadi aku tak perlu khawatir soal itu. Kali ini akan menjadi urusan mereka," ucap Ergan dengan senyuman miring dan tatapan yang kosong.
Jam dinding tlah menunjukkan pukul 09.00 pagi, gadis itu tampak sedang bekerja melayani pembeli di kantin itu. Meski pekerjaan Andira hanya seperti itu, tetapi Andira sangat senang dan menyukai pekerjaannya. Bahkan bukan hanya 1-2 orang saja yang menyukai sosok Andira yang baik dan ramah. Namun hampir seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan itu menjadi terhipnotis oleh paras cantik Andira.
"Andira, tolong kamu belanja ini semua ya.. Karena bahan-bahan di sini hampir habis untuk masak," ujar Bu Agel sembari menyodorkan kertas yang berisi catatan belanja yang harus dibeli.
"Hmm? Oh.. Oke oke Buk, aku berangkat sekarang nih?" tanya Andira sambil melihat pada catatan itu.
"Iya Dira, kamu bisa pergi sekarang.. Biar Ibu dan Asri yang jaga kantin," jawab Bu Agel.
Setelah mendengar perkataaan Bu Agel, Andira pun langsung pergi ke pasar sesuai yang Bu Agel suruh.
-
Diperjalanan Andira melihat 3 orang laki-laki yang sepertinya sedang memperhatikan Andira. Orang laki-laki itu tak lain adalah Zaki, Vito dan Yudi. Mereka adalah anak buah Ergan yang sempat diminta untuk membawa Andira kehadapan Ergan. 3 pria itu perlahan melangkahkan kakinya ke arah Andira, sementara Andira saat itu merasa perasaannya sudah tidak enak setelah melihat keberadaan 3 orang itu yang mulai mendekatinya.
"Kenapa orang itu datang kemari? Apa dia ada perlu dengan aku?" batin Andira sembari menatap ketiga orang itu.
Tak lama melangkah Vito, Yudi dan Zaki akhirnya telah sampai di hadapan Andira. Hal pertama yang dilakukan adalah memberikan mereka senyuman dan respon dari ketiga orang itu adalah membalas senyuman Andira.
"Apakah kamu bisa ikut kita sekarang?" tanya Vito.
"Kemana? Kalian siapa ya? Ada perlu apa?" tanya Andira gugup.
"Ada teman kami yang yang ingin bertemu dengan kamu, bisa kamu temui sekarang?" ucap Zaki
"Maaf, aku sedang sibuk dan aku banyak urusan. Jika dia mau bertemu aku kenapa dia tak menemui aku langsung? Mengapa aku yang harus menemuinya? Emangnya dia siapa?" ujar Andira.
"Jika kamu tidak menemuinya sekarang, maka kami akan dalam masalah, jadi tolong temui dia sekali saja," ujar Andira.
" Okelah aku akan menemuinya sekarang, kalian ini benar-benar menggangguku," ucap Andira kesal.
Setelah Andira menerima ajakan dari Vino, Andira pun mengikuti mereka meskipun di dalam hatinya merasa ragu ingat Ketiga orang itu. Niat Andira hanya ingin menolong Vino, Yudi dan Zaki agar mereka tak kena masalah jika Andira benar-benar tak menemui seseorang yang mereka maksud.
Perlahan gadis polos itu memasuki mobil yang digunakan ketiga orang itu ketika menemui Andira, sepanjang perjalanan semuanya diam dan tak ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. Andira mulai mengarahkan pandangannya pada spion dan kemudian ia alihkan kembali ke arah jendela untuk melihat jalan apa yang sedang dilalui mereka saat ini.
"Kalau boleh tahu kita mau ke mana? Apa masih jauh tempatnya? Soalnya aku ada pekerjaan lain," ucap Andira.
"Tinggalkan dulu pekerjaan kamu itu nona, ada seseorang yang perlu kamu temui yang lebih penting daripada itu," ucap Zaki meringis.
"Aku benar-benar tak mengerti seseorang yang kalian maksud, siapa seseorang yang kalian maksud itu? Mengapa kalian tidak memberi tahu namanya padaku? Apakah orang itu mengenalku?" tanya Andira dengan segudang pertanyaannya.
"Nanti pasti kamu tahu sendiri seseorang yang akan kamu temui, dan tentu saja orang itu mengenalmu dan kamu juga mengenalnya. Jadi kamu tak perlu khawatir, lagi pula dia bukan orang jahat. Begitu juga dengan kami yang bukan orang jahat," ucap Vito.
"Baiklah, kalau gitu cepatlah kendarai mobilnya agar aku bisa cepat sampai," ujar Andira.
Mendengar itu Vito langsung menaikkan gasnya sesuai yang Andira inginkan, mobil pun melaju ke tempat dimana Ergan saat ini berada. Tak lama mereka menempuh perjalanan, akhirnya mobil mereka berhenti pada suatu tempat yaitu di sebuah rumah kecil yang entah Siapa yang memiliki rumah itu. Itupun turun dari mobilnya begitu juga dengan kedua temannya dan juga Andira. Andira melihat sesuatu di sekelilingnya yang terasa asing.
"Ini kita di mana sih? Kenapa kita bisa sampai sini? Aku rasa ini sudah sangat jauh dari tempat aku bekerja," ucap Andira dengan nada khawatir.
"Kamu tidak perlu khawatir nona, sekarang kamu bisa masuk ke dalam rumah itu," ucap Yudi sembari menunjuk ke sebuah rumah kecil yang tak jauh dari sampingnya.
"Rumah siapa itu? Kalian nggak mau macam-macam kan sama aku?" ucap Andira yang semakin panik.
"Di sana ada seseorang yang harus kamu temui, dia tak akan jahat padamu tapi sepertinya dia akan memberi kejutan untuk kamu. Sedangkan kita bertiga, kita akan menunggu kamu disini hingga semua urusan kamu selesai dengan orang itu," ucap Zaki.
Andira masih merasa tak yakin dengan ucapan ketiga orang yang ada di hadapannya itu, bagaimana tidak? Semuanya berjalan dengan sedikit aneh. Tetapi di sisi lain Andira juga penasaran siapa seseorang yang sangat ingin menemuinya hingga membawa Andira ke tempat seperti ini.
"Tolonglah, aku takut masuk ke dalam sendirian. Bisakah salah satu dari kalian menemani aku untuk masuk ke dalam?" ucap Andira sambil menelan ludahnya.
"Oke baiklah, aku akan mengantarmu masuk ke dalam," ucap Vito.
Vito pun melangkahkan kakinya ke arah rumah itu, disusul oleh Andira yang ada di belakangnya.
Langkah demi langkah ia lewati, sudah berada tepat didepan pintu rumah itu. Vito pun mulai membuka rumah itu dan masuk ke dalam, disusun oleh Andira. Perlahan kakinya melangkah dengan pandangan mata yang melihat di sekelilingnya. Ruangan Itu tampak gelap, dan seperti tak ada orang disana. Perasaan Andira benar-benar sudah tidak baik, begitu juga dengan pikirannya yang mulai negatif thinking.
"Kenapa ruangan ini sangat gelap? Apa kamu coba menipuku dan bermain-main denganku?" Andira dengan menatap Vito dengan sorot mata yang tajam.
"Dengar, aku tak menipumu. Orang itu ada di sini dan sebentar lagi dia akan muncul, bisa aku tinggal sekarang?" ucap Vito.
"Kamu mau keluar? Dan meninggalkan aku di tempat yang gelap seperti ini? Laki-laki macam apa kamu? Mana sosok pria yang kau bilang ingin menemuiku? Jangan mentang-mentang aku perempuan terus kamu pikir aku akan takut padamu? Aku sama sekali tak takut padamu tuan," tandas Andira.
Jika ini bukan perintah dari Ergan, mungkin situ telah menghabisinya saat ini juga.
'Jdor!!'
Suara balon membuat Vito dan Andira terkejut, suara balon itu bersamaan dengan nyalanya lampu.
Ternyata di ruangan yang gelap itu tidaklah semenakutkan yang Andira kira, setelah Andira mengarahkan matanya ke sekeliling ruangan itu Ia mendapatkan Ergan, dengan senyuman menyeringai Ergan menghampiri Andira. Sementara itu ia meninggalkan ruangan itu begitu saja.