Adrian melepas pelukannya, menghapus air mata Rein dengan lembut. Ia masih tak percaya jika kehidupan Rein menjadi berantakan seperti ini. Adrian membimbing Rein ke kursi rotan yang biasa dipakai Rein bersantai di beranda belakang itu.
"Bisa kau ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi Rein?" Dengan lembut dan hati-hati Adrian mencoba mengorek kejadian yang dialami wanita kesayangannya ini.
"Aku sudah lama hidup di neraka Ian… aku sudah lama tersiksa diantara tak ingin hidup tapi tak bisa mati." Rein kembali tergugu ia kembali menangis dan kali ini lebih keras. Adrian meraih jemari Rein yang bergetar digenggamya jemari yang terasa dingin itu hingga menghangat.
"Maafkan aku yang terlambat tahu hal itu Rein. Maafkan aku… sekarang aku ada disini, apa yang bisa ku lakukan untukmu?" Hibur Adrian dengan tulus sesaat ia lupa jika ia kemari karena pengakuan Rein yang telah melakukan kejahatan.
"Aku akan ditangkap kan Ian? Aku sudah melenyapkan Hary suamiku. Ia jahat… jahaaat…!" Rein mulai histeris dengan sigap Adrian kembali memeluk Rein dan terus berusaha menenangkannya.
"Sshhh… ssshhhh…. Ssshhhh… tenang lah… tenang … aku tak datang untuk menangkapmu Rein… aku datang sebagai teman, sahabatmu sama seperti dulu saat kau butuh aku. Aku datang kembali untukmu Rein. Tenanglah… tenang yaa?" bujuk Adrian sambil mengusap kepala Rein. Sekelebat ingatannya mundur di saat Rein menangis karena oma kesayangan Rein meninggal.
Rein sangat terpukul dan menjadi mudah menangis. Saat itu mereka masih kelas tiga SMP persahabatan mereka sudah berjalan dua tahun. Di saat Rein sangat bersedih itu pula kali pertama Adrian memeluk Rein untuk menenangkannya. Orang tua Rein sangat sibuk dan ia hanya anak tunggal. Setelah operasi secar yang dilakukan ibu Rein ketika melahirkannya ibu Rein memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi selain Rein. Untung Rein bertemu Adrian yang baik penyabar dan selalu jadi pelindung Rein.
Hal yang sama terulang momen pelukan itu terjadi lagi setelah sekian lama. Adrian merindukan itu namun ia tak punya nyali untuk mengatakannya kepada Rein. Ia akan membantu Rein dengan segenap daya yang ia punya. Adrian masih berpikir keras dan bertanya-tanya apa benar Hary mati di tangan Rein, apa mungkin wanita lembut yang penakut ini mampu melenyapkan Hary? Sesaat kemudian Rein sudah mulai tenang ia tak berteriak lagi. Wanita itu melepaskan diri dari pelukan Adrian dan Adrian menyodorkan sapu tangannya untuk membersihkan wajah Rein.
"Apa kau punya kotak obat? Memar di wajahmu… atau kita ke dokter saja yaa?" Pinta Adrian. Rein hanya menggeleng ia menolaknya karena jika dokter bertanya dari mana luka itu ia pasti akan kesulitan mengarang cerita. Adrian mengangguk ia tak ingin memaksa Rein pergi.
"Ian… kenapa sekarang kau baru mau menemuiku ?"
Adrian sejenak berpikir ia tak akan bilang kalau alasannya adalah ia patah hati karena Rein memilih menikah dengan Hary.
"Aku baru kembali dari tugas di kota lain Rein. Pekerjaanku membuatku sangat sibuk. Aku ingin mengabarimu sesekali tapi tampaknya nomer ponselmu sering berganti."
"Ian, malam itu Hary pulang dalam keadaan mabuk. Ia tampaknya sedang marah karena kalah berjudi, lalu ia memaksaku naik ke tempat tidur tapi aku menolak. Ia semakin naik pitam, rambutku di jambak dan aku dihempas ke lantai. Bajuku habis disobeknya aku berusaha melawan kebencianku sudah sampai di ubun-ubun. Tapi ia semakin beringas ia menamparku berkali-kali menendangku dan ia mencoba melakukan s**s an*l kepadaku. Aku melawan sebisaku aku sudah sering mendapat kekerasan seksual darinya tapi aku tak mau digauli dengan cara hewan. Aku memukul kepalanya dengan botol hingga pingsan. Aku tak tau mendapat kekuatan dari mana yang ku tau aku tak mau disiksa lagi olehnya." Pengakuan Rein membuat wajah adrian merah padam, tangannya terkepal dan giginya beradu menahan amarah.
"Aku menyeret tubuhnya ke danau itu dan menenggelamkannya disana." Mata Rein menunjuk ke arah danau, Adrian pun mengikuti kemana pandangan Rein tertuju. Sesaat Adrian ragu benarkah sekuat itu Rein bisa menyeret mayat Hary hingga ke danau yang jaraknya sekitar seratus meter?
Adrian menghembuskan nafasnya berat. Ia bingung apa ia harus memulai penyelidikan ? Apa Rein harus dibawa ke kantor polisi, Rein… iya Rein wanita yang belum terhapus sama sekali dari hatinya.
"Aku membunuhnya Ian…"
"Siapa yang terbunuh?" Tiba-tiba suara berat seorang pria muncul. Rein dan Adrian sama tersentaknya karena terkejut. Adrian mengamati laki-laki yang baru saja muncul dengan tas pakaian yang ia jinjing dengan seksama. Rein mendadak pucat pasi, sekujur tubuhnya gemetar.
Laki-laki itu mendekati Rein segera menyentuh dagu Rein dan memelototi memar di wajah Rein.
"Rein ada apa dengan wajahmu? Kau terluka? Kenapa rumah kita berantakan sekali? Apa ada perampok yang masuk? Kenapa kau tidak menghubungiku?"
Rein memalingkan mukanya ke arah Adrian yang masih sama terkejutnya dengan Rein.
"Hey… Kau Adrian kan? Teman sekolah Rein dulu? Kalau tidak salah kau seorang polisi kan?"
Adrian hanya mengangguk.
"Sayang… kenapa wajahmu jadi pucat begini? Apa kau baru saja melihat hantu hah?" Canda laki-laki itu namun benar bagi Rein di hadapannya ada hantu. Pria itu tersenyum atau terlihat seperti seringai.
"Maaf aku gak menelpon mu dulu sebelum pulang dari luar kota. Kau tau bisnisku berjalan sangat baik. Aku ingin memberimu kejutan, tapi ku rasa aku yang terkejut saat ini." Mata laki-laki itu melihat ke arah Adrian dengan sorot tajam.
"Ha-Hary… ka- kau…" Rein tak sanggup meneruskan kata-katanya lagi. Ia merasakan kepalanya mendadak kosong, pengelihatannya kabur sesaat sebelum semua menjadi gelap ia merasa jika lengan Hary menangkapnya sebelum jatuh ke lantai.
Adrian pun sangat bingung dengan cerita Rein. Semua menjadi seperti gambar slow motion di film-film. Ia membeku saat Rein jatuh pingsan namun dengan sigap Hary menangkapnya lalu membopongnya sendirian dan membawa Rein masuk ke kamarnya. Adrian masih membeku saat Hary kembali dan memintanya untuk pergi.
"Sepertinya Rein butuh istirahat dan aku akan mengabarimu jika Rein sudah pulih. Aku harus membawa Rein lagi ke psikiaternya jika situasinya sudah memungkinkan. Terima kasih sudah datang." Hary menepuk bahu Adrian sambil tersenyum. Tepukan yang membuat Adrian tersadar saat ini ia sangat bingung dan tidak bisa berpikir hingga ia hanya bisa memutuskan pamit dan pulang.
Hary mengambil krim obat dan mengolesi memar di wajah Rein. Ia tak habis pikir jika istrinya akan senekat ini dan menelpon Adrian si polisi itu. Ia mengambil jemari Rein dan mengecupnya pelan dengan penuh cinta serta kerinduan. Baginya Rein adalah segala-galanya ia akan menanggung semua salah dan memperbaiki segala sesuatu yang sudah rusak bertahun-tahun ini. Mata Hary masih lekat memandang Rein yang belum sadarkan diri.
"Aku mencintaimu lebih dari siapa pun Rein. Aku akan memperbaiki semua kesalahan ini. Siapa yang ingin kau buktikan mati malam itu? Maaf jika aku harus mengubah jalan ceritamu karena aku mencintaimu dan bersalah padamu."
Rein sudah sadar namun ia enggan membuka mata, wanita membiarkan telinganya yang berubah jadi pengelihatan. Ketakutan dalam diri Rein masih menguasai hati dan pikirannya.
Bagaimana Hary tiba-tiba muncul begitu saja? Jika bukan Hary yang ia tenggelamkan di danau lalu siapa? Apa yang terjadi dengan ingatannya atau apa kah yang sebenarnya sedang terjadi? Bergantian tanda tanya itu membentur kepala Rein. Ia mencoba membuka sedikit matanya mengintip dari kelopak matanya dimana Hary dan sedang apa. Tapi ia tidak menemukan sosok suaminya itu berada di dekatnya hingga ia mendengar langkah kaki yang menuju kamarnya.
Rein kembali memejamkan matanya seakan masih tak sadarkan diri. Telinganya menangkap suara kursi yang ditarik di dekat tempat tidurnya dan Hary duduk sambil mengambil jemari Rein mengelus, mencium dan menggenggamnya.
"Sayang… maafkan aku atas semua keadaan ini. Aku berjanji untuk memperbaiki semua ini dari awal lagi." Sebelah tangan Hary mengelus rambut Rein, semua sentuhan yang Hary lakukan begitu berbeda. Wanita itu semakin takut jika Hary berbuat baik seperti itu maka disaat marah atau suasana hatinya sedang tidak baik ia tak ragu memukuli Rein lagi.
"Beristirahatlah sayangku." Sebuah kecupan lembut mendarat di dahi Rein. Pria itu menaikkan selimut Rein dan meninggalkan Rein yang dikiranya belum sadarkan diri. Disaat pintu tertutup mata Rein membuka, tanpa aba-aba air matanya kembali meluncur deras ia sangat bingung tak tahu harus berbuat apa.
Andai saja orang tuanya masih hidup atau andai saja ia dilahirkan tidak sebagai anak tunggal, andai saja oma atau siapa pun keluarganya masih ada. Rein berbalik dan meringkuk di dalam selimut ia menangis lagi tanpa suara.
Hary memandangi lantai yang berantakan dengan perasaan sedih dan marah. Ia menyingsingkan lengan sweeternya dan mulai membersihkan pecahan-pecahan kaca dan merapikan barang-barang yang berjatuhan. Tangannya berhenti pada jejak tetesan darah dan jejak darah lainnya yang seperti dilap dengan kasar. Pria itu pun memutuskan untuk tidak meninggalkan jejak apa pun yang akan menyulitkan Rein jika benar Adrian akan memeriksa kasus ini.
Adrian tak boleh mendapatkan bukti apa pun yang memberatkan Rein, Hary tak ingin membuat Rein semakin jauh menderita jika harus menjalani hukuman. Meski pun akhirnya Rein tidak bisa membuktikan jika Hary sudah tewas karena ia sekarang ada bersama Rein. Hary mempercepat pekerjaannya semakin cepat ruangan ini bersih semakin cepat pula perasaan Rein pulih itu yang diharapkannya.
Setelahmenangis setengah jam Rein ternyata tertidur kembali. Rasa lelah jiwa dan raganya tak mampu menahan kantuk. Namun ia bermimpi buruk, ia melihat Hary datang mendekatinya dengan kondisi terakhir ia bersama Hary. Baju Hary koyak dan penuh darah pun dengan wajahnya karena luka akibat pukulan botol oleh Rein. Tak hanya itu ia juga memukuli Hary dengan tongkat baseball. Wajah Hary menyeramkan matanya melotot penuh amarah pada Rein dan mencoba mencekik Rein.
"Matilah bersamaku perempuan jala*g!" Leher putih Rein seketika memerah karena noda darah dan cekikan Hary yang membuatnya sesak nafas.
"Tidak…! Jangan ….! Peeeergiii...ku mohon… jangaaaaannn…!!!" pekik Rein. Disaat yang sama pintu terbuka dan Hary menghambur mendekati Rein dan memeluk istrinya dengan erat. Rein membuka matanya dan meronta ia takut karena merasa cekikan itu nyata. Namun, Hary semakin mempererat pelukannya ia ingin menyampaikan pada Rein jika ia masih punya kasih sayang. Rein terus meronta namun tak mampu bersuara hanya erangan tertahan dari kerongkongan Rein.
"Sayang… ssshhhhttt…. Ssshhhttt… tenang Sayang… kau hanya mimpi buruk. Tidak ada apa-apa semua baik-baik saja, aku mencintaimu Rein, aku tidak akan menyakitimu, aku berjanji."
Bisikan lembut Hary di telinga Rein membuat Rein berhenti meronta. Hary masih memeluknya dan mengusap-usap punggung Hary. Rein terkejut hal ini tak pernah dilakukan sekali pun oleh Hary.
"Si-siapa kau?" Rein melepaskan dirinya dan menatap wajah Hary yang putih mulus tanpa ada bekas luka sedikit pun. Hary mendesah pelan dan membalas tatapan mata istrinya yang masih diliputi ketakutan.
"Sayang … aku suamimu, aku Hary Ananta. Sayang… mulai detik ini aku berjanji akan menjagamu, memperlakukanmu dengan baik dan mencintaimu sepenuh hati seperti janji kita di awal. Maafkan… hmmm tidak… ampuni aku yang sudah membuatmu jadi begini." Hary mengelus rambut Rein lagi, matanya masih tidak percaya, pikirannya pun masih kacau.
"Aku baru saja selesai memasak untuk makan malam. Aah… atau kau ingin memesan sesuatu lewat daring?" tanya Hary dengan lembut. Rein menggeleng ia masih belum yakin dengan apa yang dilihatnya sekarang ini, laki-laki yang di depannya sedang mengaku sebagai Hary suaminya.
"Sekali pun Hary tidak pernah memasak. Ia pun tak pernah memeluk sambil mengelus punggungku. Kau bukan Hary," jelas Rein lagi meski ketakutannya belum pergi namun ia sudah bisa menguasai dirinya kembali.
"Sayang, bukankah aku sudah berjanji aku akan berubah? Ketika aku melihatmu di pelukan Adrian aku bersumpah akan berlaku baik kepadamu dan tak akan menyakiti dirimu. Sungguh…". Hary kembali memeluk Rein dan mengecup puncak bahu Rein. Ada desir kecil yang Rein rasakan. Pelukan yang lama Rein rindukan, pelukan saat mereka baru-baru pacaran. Hary senang mengecup bahu Rein namun kebiasaan itu hilang saat mereka usai tunangan dan menikah. Lalu hari ini mendadak kecupan bahu itu muncul lagi. Pelan-pelan lengan Rein melingkar di pinggang Hary ia mulai merasakan takutnya berkurang. Hary tersenyum merasakan Rein sudah mulai tenang.
Mata Rein menyapu seisi ruangan yang sudah bersih bahkan lantainya pun mengkilap. Ia menuju dapur pelan-pelan. Ketika Hary sudah menenangkannya dan memintanya ikut makan malam Rein mengatakan ingin mandi terlebih dulu. Ia sungguh terkejut dengan perubahan Hary meski rasa bingung itu masih ada. Hary menarik kursi dan mempersilakan Rein duduk, benar-benar Hary kembali seperti mereka masih pacaran dulu.
Mata Rein berbinar, ia melihat menu yang dimasak Hary meski sederhana tapi itu adalah kesukaannya. Ayam goreng tepung dan spaghetti. Ia mengambil potongan kecil dan mencicipinya. Rein kembali terkejut ayam goreng tepung ini rasanya persis dengan buatan omanya. Hary tersenyum kecil melihat binar mata istrinya mata yang selama ini redup tanpa sinar.
"Aku mencoba mengingat resep yang selalu kau gunakan untuk membuat ayam goreng, resep yang omamu ajarkan kan?" Hary ikut mengambil potongan ayam goreng itu dan menyantapnya dengan nikmat. Lalu menyodorkan seporsi spaghetti yang sudah ia buat.
"Makanlah selagi hangat."
Hary mengambil bagian spaghettinya di piring lain dan memakannya dengan lahap. Rein mencoba menepis bayangan Hary yang bertahun-tahun ini menemaninya dengan Hary yang sedang makan dengan lahap di depannya dan sesekali menatap jenaka ke arahnya.
"Apa kau mau cola?" tanya Hary ketika Rein tinggal menyisakan sedikit makanannya. Ia bersyukur Rein mau makan banyak malam ini tubuh Rein sudah kehilangan banyak bobot beratnya. Hary membelakangi Rein menuang cola ke dalam gelas. Ia dengan cekatan mengambil sesuatu di balik laci dapur tanpa sepengetahuan Rein.
Dengan gerakan cepat ia memasukkan dua butir obat ke minuman Rein dan membiarkannya larut sebentar dan menghilangkan jejak. Sambil menunggu ia menuangkan cola yang sama di gelasnya dan memasukkan botol obat itu ke kantong celana panjangnya. Ia berbalik dan tersenyum kepada Rein sambil menyodorkan minuman itu.
"Habis ini temani aku nonton film yaa," pinta Hary tanpa mengurangi senyum di wajahnya. Rein mengangguk ia menikmati setiap tegukan cola yang sudah dicampur Hary dengan obat sampai habis.
"Aku ke kamar mandi dulu," jawab Rein lagi. Tangannya terjulur hendak merapikan bekas makanan mereka tapi Hary memegang tangan Rein sambil menggeleng.
"Tidak, biar aku saja kamu ke kamar mandi saja, Sayang."
Rein sedikit ragu perubahan Hary yang mendadak dan kontras masih memberikan lompatan kejutan bagi Rein. Wanita itu pelan-pelan berbalik dan meninggalkan Hary yang sesaat kemudian berkutat dengan cucian piring.
Hary menggenggam remote tivi dengan posisi santai. Rein sudah membersihkan dirinya dan duduk di sofa yang agak jauh dari Hary.
"Sayaaang… kok duduknya disitu siih? Sini dekat aku, filmya seru lhoo!" Hary menepuk sofa di sampingnya meski ragu Rein tak menolak. Sudah lama sekali mereka tidak melakukan ini, Rein duduk di samping Hary dan lengan suaminya itu segera di letakkan di belakang bahu Rein.
Mata Hary tak lepas dari film barat aksi yang sedang ditontonnya itu. Hingga tak lama Rein merasa kantuk yang sangat. Beberapa kali ia menguap dan menutup mulutnya. Ia heran baru kali ini ia merasa kantuk yang luar biasa. Tangan Hary menyentuh kepala Rein, mengusapnya beberapa saat dan memiringkan kepala Rein agar bersandar di bahunya.
Rein mengikuti gerak tangan Hary tak butuh waktu lama Rein jatuh tertidur di pelukan Hary dengan sangat pulas. Hary mematikan tivi yang sebenarnya ia tak nikmati filmnya. Ia memang menunggu agar istrinya tertidur dibawah pengaruh obat yang sudah ia campur di minumannya.
"Maafkan aku Rein, aku harus melakukan ini." Ia mengecup puncak kepala Rein sesaat. Lalu mengubah posisi Rein agar mudah ia gendong ke kamar dan meletakkannya di tempat tidur. Hary merapikan selimut Rein, mematikan lampu lalu menutup kamar.
Pria itu berjalan menuju kamar kerjanya dan menelpon seseorang. Ia mengatakan sesuatu tentang danau di belakang rumahnya. Setelah usai menelpon ia mengingat jika ada sosok lain yang harus ia waspadai. Adrian, sahabat Rein dan cinta Adrian yang belum padam pada istrinya itu. Hary mengambil kunci kontak mobilnya dan merencanakan sesuatu. Paling tidak Rein malam ini akan tertidur pulas tanpa mimpi buruk sampai ia kembali.