"Begini saja, saya akan mengantarkan anda pulang, tetapi anda harus menjawab beberapa pertanyaan saya lagi selama diperjalanan. Deal or no deal?"
Badai tahu bukan perkara mudah ditinggalkan calon suami ditengah-tengah meriahnya pernikahan. Bahkan menurutnya Ochi termasuk cukup hebat dengan tidak mengalami hysteria yang berlebihan. Kalau wanita yang lain pasti sudah mengamuk dan mengacak-acak gedung pernikahan. Wanita itu ternyata cukup kuat walau wajahnya selalu terlihat ingin menangis.
"Ok deal."
"Mari ikut saya. Mobil saya diparkir disana." Badai berjalan cepat melintasi jalan setapak menuju ke arah gerbang gedung.
Katanya saja polisi, abdi negara yang taat. Tetapi memarkir mobil saja sembarangan. Ochi yang seumur hidupnya menyukai keteraturan tidak tahan untuk tidak menyuarakan pendapatnya.
"Maaf pak polisi. Bukannya seharusnya anda parkir ditempat yang sudah disediakan, yaitu di dalam basement sana. Ini mengapa Anda malah parkir melintang di depan gedung seperti ini? Bukannya saya bermaksud untuk menggurui, tetapi sebagai seorang abdi negara sikap arogansi itu tidak baik terlalu diumbar-umbar dimuka umum. Jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga."
Ochi adalah seorang guru TK. Dia tidak tahan kalau melihat ada sesuatu yang menyimpang dari jalurnya, tetapi malah dia masa bodohkan. Ochi bukanlah orang yang membudayakan sikap pembiaran. Dia ini adalah seorang guru. Kalau bukan orang-orang dengan professi seperti dirinya yang mencoba meluruskan atau minimal menasehati orang yang berbuat kesalahan, mau jadi apa negara ini kelak bukan?
Badai yang baru saja masuk kedalam mobil, memandang penuh spekulasi pada wajah sendu tapi ternyata cukup cerewet dihadapannya ini. Dia berpikir seharus nya dia mengabaikan saja kata-kata celaan pengantin yang ditinggal ini. Tetapi dia adalah seorang polisi. Pantang baginya meninggalkan kesan membiarkan orang berfikir yang salah tentangnya.
"Saya ini seorang polisi, Bu. Efisiensi kerja dan faktor keselamatan tentu juga menjadi salah satu bahan pertimbangan saya. Begini, gedung yang baru saja di ledakkan itu mempunyai kemungkinan bisa runtuh sewaktu-waktu akibat dahsyatnya ledakan dan daya getar nya. Mungkin saja gedung di dalam basement terlihat baik-baik saja, tetapi komponen bagian dalamnya hancur. Hanya saja itu tidak terlihat jelas dari luar. Dan untuk mencegah terjadinya kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, seperti kemungkinan mobil saya tertimbun teruntuhan gedung misalnya, makanya saya sengaja parkir didepan gedung. Tidak ada sedikit pun maksud saya untuk mempertontonkan sikap arogansi saya. Semua itu saya lakukan hanya demi untuk kepraktisan bergerak saja. Tidak lebih, tidak kurang. Sudah jelas, Bu?"
"Jelas dan masuk akal. Hanya saja, saya kan tidak mengatakan kalau anda harus parkir di basement gedung yang sudah di bom tadi, akan tetapi digedung yang sebelahnya lagi. Biasakan untuk mendengar sampai selesai kalimat seseorang dalam setiap pembicaraan. Baru anda menjawabnya."
Ochi membuka mobil setelah Badai menekan remote dan kunci mobil yang di lock otomatis terbuka. Setelah Ochi duduk dengan tenang dan memasang sabuk pengaman, barulah Badai menyusul masuk dan duduk di kursi pengemudi. Ochi melihat Badai memanjangkan lengannya dan meraih tas ransel yang tergeletak di kursi belakang. Setelah merogoh-rogoh sejenak ia pun mengambil sebuah ponsel lagi. Sepertinya ponselnya yang pertama tadi telah kehabisan daya. Ochi mendengar Badai membicarakan masalah angka-angka yang tidak di mengertinya dengan seseorang. Sekitar tiga menit kemudian ia menutup telepon dan kembali menelepon seseorang. Sepertinya ia mengatakan pada anak buahnya yang ada di dalam gedung bahwa ia akan mengantarkannya pulang dengan mobil pribadinya. Ochi ingat, polisi yang satu ini memang tidak keluar dari mobil khusus tadi. Tetapi dia memang mengendarai mobil sendiri. Mereka baru berkendara sekitar lima menit saat Badai sepertinya sudah tidak sabar untuk menginterogasinya lagi.
"Bu Oceania. Apakah saat--"
"Tolong jangan menanyai saya dulu. Saya ingin beristirahat sejenak selama anda menyetir. Oh ya, jangan melanggar rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan. Jadilah polisi yang baik." Ochi langsung menyenderkan kepalanya pada jok mobil dan memejamkan matanya.
Badai mendengus, kenapa rasanya jadi sipengantin yang ditinggal ini yang mendadak polisi? Katanya capek mau istirahat, tetapi dari tadi cuma dia saja yang sibuk berbicara. Unfaedah lagi topiknya!
" Selain anda dan calon suami anda, siapa saja yang seharusnya ada didekat-dekat anda saat akad akan berlangsung? Kalau calon suami anda hadir dan pernikahan anda tadi terlaksana, maksud saya. Karena menurut anak buah saya, pusat ledakannya itu tepat ditempat ijab kabul." Polisi ini kembali bersuara. Sepertinya ia belum puas untuk menginterogasinya.
"Bapak penghulu, saya, calon suami tidak tahu diri itu, dan kedua orang tua Saya." Ochi menjawab masih dalam posisi tiduran dan mata terpejam.
"Kedua orang tua anda. Lalu kedua orang tua mempelai pria. Apakah mereka tidak datang?" Ochi menghela nafas panjang. Topik yang sensitif untuk saat ini.
"Mereka tidak datang. Saya bukanlah menantu yang mereka harapkan." Sahut Ochi lirih.
"Oke, tolong sebutkan nama dan alamat calon suami tidak tahu diri anda itu."
"Banyu Biru Siliwangi, Pondok Indah Blok A7."
"Jadi kamu adalah laut biru nya si Banyu?" Badai seperti menggumam sendiri. Tidak menyangka kalau calon suami tidak tahu diri nya wanita ini adalah Banyu, sahabat nya waktu SMP dulu. Hanya saja setelah lulus SMP mereka pun lost contact.
"Kalau ingin bertanya, usahakan dengan nada dan intonasi yang benar. Bisik-bisik itu tidak sopan dan sama sekali tidak beretika. Selain itu, saya juga tidak dengar!" Ochi menjawab datar. Badai menghela nafas kesal. Perempuan ini taktis sekali. Setiap kata-kata yang dikeluarkannya selalu saja membuat Badai dongkol. Semakin cepat tugas ini selesai, maka semakin baik untuk menjadi ke stabilan emosinya.
"Apakah anda mempunyai mantan kekasih, Bu? Atau siapa saja yang kira-kira tidak senang dengan pernikahan anda?"
"Saya tidak punya mantan kekasih sama sekali. Pacar pertama saya ya calon suami tidak tahu diri itu saja."
"Apa alasan dia membatalkan pernikahan kalian?"
"Sudah saya katakan, saya tidak tahu. Anda harus menanyakan nya sediri pada Mas Banyu. Laki-laki dan pemikirannya merupakan suatu misteri dalam hidup saya."
"Mungkinkah dia membatalkannya karena dia ada hubungannya dengan peristiwa peledakan gedung itu?" Tanya Badai lagi.
"Tidak. Mas Banyu bukan type orang yang seperti itu. Dia baik, setidaknya sebelum dia meninggalkan saya sendirian begitu saja digedung pernikahan hari ini."
"Saya selalu terbuka terhadap segala kemungkinan, Bu. Didunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Anda juga tidak menyangka akan ditinggalkan sendirian pada saat akad nikah bukan?" Badai menjawab datar. Wajah Ochi langsung memerah.
"Anda mengejek atau menyukuri keadaan saya pak polisi?" Ochi langsung membuka matanya dan duduk tegak.
"Tidak keduanya. Tidak ada untung nya bagi saya untuk mengejek ataupun mensyukuri keadaan anda. Tetapi musuh anda pasti mengatakan YA. Musuh anda pasti ingin sekali melihat kehancuran anda." Ochi mendengus. Polisi ini tidak ada sedikit pun menunjukkan rasa simpati sama sekali. Dasar batu!
"Mas Banyu orang yang sopan dan baik. Dia tidak mungkin ingin mencelakai saya."
"Alright. Kalau begitu kita lepaskan saja kemungkinan itu untuk satu hari ini.
"Pekerjaan anda adalah sebagai seorang guru TK bukan? Apakah ada konflik dengan rekan kerja, guru-guru dan staff lain atau orang-orang yang sering bersinggungan dengan anda misalnya?"
"Tidak ada pak polisi. Orang-orang yang sering bersinggungan dengan saya itu adalah murid-murid saya yang semuanya masih berusia balita."
"Ada ancaman? Dari wali atau orang tua murid misalnya." Ochi mendesah kesal. Makin lama dia merasa pembicaraan makin melebar kemana-mana.
"Tidak ada pak polisi. Anda pikir saya tidak menyadari kalau saya punya musuh? Huh?"
"Belum tentu."
"Anda sedang berusah membuat saya ketakutan atau bagaimana ini?"
"Saya cuma meminta anda untuk melihat diri anda sebagai orang luar. Coba periksa kembali kehidupan pribadi anda. Pikirkan orang-orang yang mungkin tidak menyukai anda. Lepaskan saya dalam hal ini. Karena walaupun saya juga tidak menyukai anda, tetapi saya baru mengenal Anda setelah bom itu meledak. Tolong maksimal kan kinerja otak anda."
Kali ini Ochi tidak tahan lagi. Dia langsung saja memukuli dada sang polisi sekuat tenaga. Saat ini sebenarnya dia butuh pelampiasan dan sedikit rasa simpati. Tetapi mengapa polisi berhati batu ini tidak menyadari. Mobil tiba-tiba berhenti. Dan tanpa mengatakan apa-apa polisi itu menahan pukulan Ochi dengan satu tangan dan memborgol kedua tangannya sekaligus!
"Anda sudah gila atau bagaimana? Mengapa anda memborgol saya? Saya kan bukan seorang penjahat?!"
"Ini adalah tindakan preventif yang harus saya lakukan sebelum anda menjadi lebih brutal lagi." Sahut Badai kalem. Ochi merasa darahnya mendidih tiba-tiba. Polisi ini belum tahu seberapa mengerikannya kalau seorang wanita marah!
Ochi dengan geram langsung saja menggigit lengan Badai sekuat-kuatnya. Dia pikir setelah memborgol kedua tangannya Ochi tidak bisa berbuat apa-apa? Huh yang benar saja!
"Jangan coba-coba memancing emosi saya, karena apa bila saya membalas, maka saya akan memilih bagian yang lain dari tubuh anda untuk saya gigit. Mengerti?!" Badai menekan rahang Ochi dengan kesal. Gadis ini sikapnya tidak terduga sama sekali.
"Apa anda sebagai seorang polisi tidak pernah memakai perasaan dalam menginterogasi seseorang sehingga terlihat lebih manusiawi?"
"Kalau kami para penegak hukum lebih mengutamakan perasaan dibanding dengan logika dan alat bukti, bisa hancur negara ini!"
Brakkk!!! Brakkk!!
Ochi kaget saat ada sebuah mobil secara sengaja menabrak mobil mereka dan terus berusaha mendorong mobil mereka sampai ke ujung jalan. Badai dengan sigap berusaha mengendalikan kemudi dan bertahan agar mobil nya tidak keluar jalaur dan menabrak warung penjual nasi disamping mobil mereka. Setelah menabrak mobil mereka, mobil itu pun meluncur cepat meninggalkan mereka disertai dengan kepulan asap dari knalpot mobilnya.
"Anda masih berani bilang kalau anda tidak punya musuh sama sekali setelah mobil itu nyaris menabrak kita? Demi Tuhan! Gedung diledakkan, mobil ditabrak. Sebetulnya apa yang sudah anda lakukan sehingga orang ini ingin sekali melenyapkan anda?"
Belum lagi Ochi sempat menjawab, ponsel polisi disamping nya ini berdering. Sang polisi kaku ini mulai melakukan pembicaraan sambil berulang kali melirik kepadanya. Ochi mulai mengerutkan dahi saat mendengar polisi itu mulai
menyebut-nyebut lokasi apartemennya berkali-kali sebelum akhirnya menutup pembicaraannya.
"Anda tidak bisa kembali keapartemen anda saat ini, Bu Guru."
"Kenapa? Anda ada keperluan mendadak sehingga anda tidak bisa mengantarkan saya kesana? Ya sudah tidak apa-apa. Saya pulang sendiri saja. Tetapi tentu saja anda harus terlebih dahulu membuka borgol Saya."
"Bukan. Apartemen anda sedang kebakaran hebat saat ini. Dan untuk tindakan pengamanan sementara, anda akan pulang kerumah saya. Sepertinya kasus anda ini cukup serius. Orang ini benar-benar menginginkan kematian anda."
"APAAAA?!!"

Ochi melongo. Sepertinya hari ini dia sedang benar-benar diuji. Bayangkan saja, sudah ditinggalkan calon suami, gedung pernikahan di ledakkan, ini masa apartemennya juga dibakar! Masyaallahhh emang nya dia salah apa coba? Dia ini bukan politikus, artis atau pun anak orang kaya yang kemungkinan memiliki hatersnya bejibun. Dia ini cuma anak seorang mantan supir dan juga berprofessi sebagai seorang guru TK biasa saja. Kematiannya juga tidak akan mempengaruhi apa-apa dan siapa-siapa.
"Kenapa harus pulang kerumah, Bapak? Saya kan masih punya orang tua. Saya akan pulang kerumah orang tua atau kakak saya saja."
Badai menggelengkan kepalanya sambil berkata," tidak bisa. Karena si peneror ini pasti sudah menyelidiki orang-orang terdekat Anda. Buktinya dia bisa membakar apartemen anda seperti membakar sampah saja." Badai mulai memberikan gambaran logis tentang gawatnya situasi saat ini pada Ochi.
"Be—begitu ya?" Ochi menjawab tergagap. Dia speechless. Dalam waktu sehari saja hidupnya sudah berantakan semua.
"Tapi kita akan singgah sebentar kerumah orang tua kamu dulu. Ada yang harus Saya tanyakan dengan mereka sebagai saksi sebelum gedung diledakkan. Itu memang prosedur dari kepolisian. Sekalian saya juga ingin minta izin kepada orang tua anda perihal pengamanan sementara anda dengan tinggal di bawah perlindungan institusi saya. Sekali pukul dua masalah terselesaikan sudah."
Badai berbicara dengan nada yang begitu dingin dan datar. Seolah-olah segala kemalangan bertubi-tubi yang dialami oleh Ochi bukanlah sesuatu hal yang penting baginya.
"Memang cara bekerja anda yang begitu tidak punya empati terhadap masalah orang lain, atau memang para penegak hukum harus heartless seperti sikap anda ini?"
Ochi tidak suka melihat cara bekerja Badai yang terlihat dingin dan terstruktur tanpa sedikit pun ada unsur empati didalamnya. Sedikit senyum ramah atau tepukan dibahu pasti akan membuat Ochi merasa lebih terhibur.
"Apa yang anda sebut dengan heartless itu kami menyebutnya sebagai kode etik dan efisiensi kerja. Sekarang sebutkan alamat rumah orang tua anda. Saya tidak suka kalau disetiap perempatan jalan harus selalu membangunkan Anda hanya demi mencari jalan yang benar."
Setelah menyebutkan alamat rumah orang tuanya, Ochi pun kembali menyandarkan tubuhnya dalam-dalam ke jok mobil sambil memejamkan matanya. Kali ini dia ingin benar-benar tidur dan melupakan semua masalahnya sehari ini.
Badai terdiam termangu setelah berhenti pada alamat rumah yang disebutkan oleh Ochi tadi. Dia merasa ada yang salah disini. Mengingat gedung pernikahan mewah yang hanya bisa di booked oleh orang-orang yang keadaan finansialnya sudah grade super premium, rumah ini sangat sederhana. Jauh dibawah ekspektasi nya. Jangan-jangan alamat ini salah. Badai melirik pada sipengantin yang ditinggal dengan tatapan miris. Dia masih tertidur dengan pulasnya. Badai perlahan melepaskan borgol dikedua tangan Ochi. Mengelus-elus sebentar pergelangan tangan yang tampak agak memerah itu agar aliran darahnya kembali lancar.
Elusan tangan Badai membuat Ochi langsung terjaga dan mendelikkan matanya.
"Apa yang anda lakukan, Pak Polisi? Anda mau melecehkan saya didepan rumah orang tua saya sendiri?"
Ochi segera menepiskan tangan Badai dengan kasar. Ochi paling membenci laki-laki yang mesum. Mas Banyu nya saja tidak pernah diizinkan oleh Ochi untuk memesrainya secara berlebihan. Walau pun terkadang Mas Banyu nya sampai sakit kepala karena menahankan hasratnya yang tidak terlampiaskan. Tetapi Ochi telah berjanji kepada diri sendiri bahwa hal-hal seperti itu tidak boleh dilakukan sebelum mereka sah sebagai pasangan suami istri. Dan polisi buluan yang cuma dikenalnya dalam waktu kurang lebih setengah jam ini sudah seenak udelnya saja mengelus-elus pergelangan tangannya.
"Maaf ? Anda bilang apa tadi? Melecehkan Anda? Sekarang lihat baik-baik pergelangan tangan anda. Lihat saya bilang!"
Ochi pun mulai memperhatikan kedua pergelangan tangannya yang memerah dan tampak tertekan besi borgol hingga berbekas seperti gelang dikedua tangannya.
"Saya hanya mencoba membantu melancarkan peredaran darah dipergelangan tangan anda agar menjadi lancar kembali. Bukan melecehkan anda. Anda ini sangat suka sekali mengambil kesimpulan sendiri dan cenderung negative thinking terus menerus. Tidak capek apa mengarang bebas terus?"
"Maaf."
Ochi hanya mengucapkan satu patah kata. Dia adalah type orang yang tidak malu untuk meminta maaf duluan kalau memang dia salah. Itu adalah hal wajib yang selalu dia ajarkan pada murid-muridnya. Dan sebagai seorang guru, dia pun selalu mempraktekkan kapan saat harus ia harus meminta maaf.
Badai terdiam. Luar biasa. Kamus wanita tidak pernah salah dan selalu tidak pernah mengaku salah ternyata tidak berlaku pada ibu guru yang lurus ini. Banyu memang bodoh!
"Assalamualaikum."
Dengan bahu yang mulai ditegak-tegakkan Ochi mengucapkan salam. Dia tidak ingin ayahnya yang sedang sakit menjadi bertambah terpuruk keadaannya. Cukup dia saja yang hancur lebur, jangan kedua orang tuanya.
"Walaikumsalam."
"Astaga Ochi, kamu kenapa lama sekali baru menghubungi ibu sih? Apa Banyu sudah menghubungi kamu, Nak? Dia ada dimana sekarang?"
"Astaga ibu, mengapa ibu malah menanyakan keadaan Mas Banyu duluan sih? Mengapa ibu tidak bertanya tentang keadaan Ochi? Apakah Ochi sedih, malu atau kece—"
"Ibu lihat kamu kan keadaannya baik-baik saja. Makanya ibu merasa tidak perlu menanyakannya lagi. Ochi, Ibu tahu kamu marah, Nak. Tapi—"
Ochi menaikkan sebelah tangannya kepada Ibunya. Memohon agar ibunya berhenti berbicara. Ochi sangat tidak percaya kalau ibunya jauh lebih mengkhawatirkan keadaan calon suami sialannya itu dibanding dengan dirinya sendiri. Anak kandungnya.
"Marah? Bu seharusnya ibu juga marah pada Mas Banyu karena dia sudah mempermalukan Ochi
Bu, anak kandung Ibu. Tidak bisakah ibu marah padanya demi Ochi, Bu?"
Ochi mengguncang-guncang kedua tangan ibunya meminta perhatian . Begitu inginnya ia dibela oleh ibunyw sendiri, alih-alih malah membela calon menantu keparatnya itu.
"Tentu saja ibu marah, Ochi. Tetapi marah nya ibu itu marah yang memakai akal sehat. Kamu harus memaafkan Banyu ya, Nak? Mungkin Banyu hanya masih bingung dengan keputusan yang dia ambil. Karena bagi laki-laki keputusan untuk menikah itu bukan hal yang main-main."
"Jadi bagi perempuan menikah itu adalah hal yang main-main? Begitu maksud ibu? Kenapa sih ibu tidak pernah membela Ochi sekaliiii saja, Bu?"
"Karena kalau ibu tidak membela Banyu, kita semua akan jadi gelandangan. Paham kamu, Ochi?"
"Maksud ibu a—apa?" Otak Ochi mulai berfikir keras. Pemikiran tentang sesuatu mulai menciutkan perasaannya. Jangan bilang kalau—
" Semua yang ada di dalam pikiran kamu itu benar Ochi. Banyu lah yang selama ini menopang hidup kita. Dia lah yang membeli apartemen itu untuk kamu, alih-alih menyewanya. Dia juga yang sudah membeli rumah ini. Membiayai pengobatan dan terapi kaki ayahmu. Bahkan biaya hidup ayah dan ibu sehari-hari semua dia yang menanggungnya, Nak. Maafkan ibu kalau selama ini membohongimu. Tapi kita kan memang butuh uang untuk hidup. Apalagi sejak ayahmu lumpuh dan tidak bisa menyopiri ayahnya lagi. Banyu lah yang mengurus hidup kita selama hampir tiga tahun ini, Ochi."
Ochi langsung jatuh terduduk. Berarti benar! Kedua orang tua Mas Banyu tidak pernah menyetujui hubungan mereka berdua karena mengganggap Ochi hanya akan memanfaatkan harta benda Banyu saja. Dan itu ternyata benar adanya!
" Tapi Ochi tidak bisa, Bu. Ochi bahkan tidak ingin melihat muka Mas Banyu lagi. Ochi benar-benar merasa ditelanjangi didepan orang banyak, Bu. Mas Banyu bahkan sudah membuat Ochi viral didunia maya dengan caption mempelai yang tertinggal. Ochi tidak sanggup untuk melanjutkan hubungan ini, Bu. Tidak sanggup!!"
"Kalau begitu kamu tidak ingin ayah kamu sembuh hah? Jangan egois Ochi?!" Ibu nya mulai marah. Kehilangan sumber pundi-pundi emasnya membuat Ibunya gelap mata.
"Ayah tidak perlu di terapi dirumah sakit lagi. Toh ayah disana cuma di tatah tatah berjalan seperti anak belajar jalan saja, koq. Dirumah ayah juga bisa melakukannya sendiri. Jadi kita tidak perlu uang Banyu lagi untuk kerumah sakit. Ayah setuju denganmu, Nak. Kamu tidak perlu lagi berhubungan dengan laki-laki pengecut itu selamanya. Seorang laki-laki itu yang dipegang kan kata-katanya. Kalau bibir baru berucap dan masih basah, namun langsung dilanggar apa itu namanya? Ayah tidak rela kalau kamu menghabiskan waktu mu dengan laki-laki seperti itu."
EHEMMM!!
Badai berdeham. Saling serunya mereka bertiga beradu pendapat, mereka bahkan sampai tidak sadar telah menganggurinya.
"Selamat siang Bapak dan Ibu. Saya Badai Putra Alam, petugas dari DENSUS 88. Saya ingin mengabarkan bahwa gedung pernikahan putri bapak dan ibu baru saja diledakkan oleh orang yang tidak dikenal. Dan diduga sepertinya ada orang yang ingin mencelakai putri bapak karena apartemen putri bapak juga terbakar tiba-tiba. Kami menduga itu juga ada kaitannya dengan peledakan gedung pernikahan anak bapak sebelumnya.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, maka kami akan mengamankan putri bapak dalam pengawasan divisi kami. Jadi untuk sementara waktu putri bapak akan tinggal tinggal ditempat yang kami sediakan. Setelah situasi dan kondisi aman terkendali atau minimal kondusif, putri bapak akan kami kembalikan dalam pengawasan bapak dan ibu sebagai orang tua nya."
Badai menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya dengan singkat, padat dan jelas. Sepertinya efisiensi adalah nama tengahnya. Kedua orang tua Ochi tampak shock. Mereka sama sekali tidak menduga akan terjadi hal yang luar biasa seperti ini.
"Tetapi apakah pantas kalau anak saya tinggal di tempat yang akan anda sediakan? Anak saya ini kan perempuan. Belum lagi kalau calon suaminya nanti marah." Bu Ranti tampak keberatan kalau anak gadisnya nya akan ikut ketempat perlindungan Badai. Bagaimana pun anaknya kan seorang perempuan.
"Putri ibu bukan akan tinggal bersama dengan saya. Tetapi dia akan tinggal di rumah kakak ipar saya yang hanya berjarak beberapa blok saja dari rumah saya. Ibu tidak usah khawatir. Team kami sedang menyelidiki mata rantai semua kejadian ini. Mudah-mudahan dalam waktu beberapa hari lagi, putri Ibu sudah bisa kami pulang kan kembali." Kedua orang tua Ochi terdiam. Keadaannya memang sedang berbahaya.
"Kalau begitu saya akan mengganti pakaian saja dulu sebentar, Pak Badai. Bu, baju-baju lama Ochi masih ada di lemari yang biasa tidak, Bu?" Ibunya mengangguk. Tanpa membuang waktu lagi Ochi segera masuk kedalam kamar lamanya dan berganti pakaian.
Sepuluh menit kemudianOchi telah mengganti pakaian pengantinnya dengan gaun rumah sederhana. Wajahnya polos tanpa sentuhan make up sedikitpun. Bahkan rambutnya hanya di kuncir buntut kuda. Terkadang Badai heran sendiri, untuk apa para wanita sampai membayar mahal para make up artist, kalau ternyata wanita terlihat jauh lebih cantik manusiawi dengan riasan sederhana. Buang-buang uang saja bukan?
"Saya titip anak saya ya, Pak Polisi. Tolong dijaga dan dilindungi keselamatannya." Pak Darmawan mendorong pelan kursi rodanya dan menepuk pelan bahu Badai.
"Siap, Pak!" Badai menjawab dalam sikap militer seorang polisi.
"Ochi, bagaimana kalau nanti Mas Banyu mu menelepon dan mencarimu, Nak. Ibu harus bilang apa coba?" Ibunya masih saja terlihat tidak rela melihat Ochi dibawa pergi oleh Badai.
"Katakan saja bahwa Ochi sudah kawin lari dengan seorang perwira polisi!"