Bab 2

Kita tak akan bisa memilih kapan sebuah masalah datang pada kehidupan kita. Kita juga tak bisa memilih masalah seperti apa yang akan kita hadapi. Mudahkah atau begitu rumit untuk di selesaikan.

Apapun itu, kita hanya punya dua pilihan pasti. Menghadapi masalah itu dan berusaha mencari titik penyelesaiannya seperti seorang ksatria.

Atau ... malah lari terbirit-birit dari masalah itu, seperti tikus kecil ketakutan lantaran di buru seekor kucing jalanan.

Dan aku?

Apa aku masuk dalam kategori yang kedua karena melarikan diri dari masalah yang aku hadapi?

Mungkin ya, tapi jelas aku bukan seperti tikus kecil yang sedang di buru dan ketakutan, aku lebih senang menyebutnya seperti seekor tikus yang sedang berusaha mencari sarang baru lalu hidup tenang di sana.

--------------

Melupakan Langit, mungkin hal yang mudah bagiku. Tapi melupakan kenangan-kenangan bersama Langit, aku termasuk orang yang payah. Entahlah, mungkin aku yang terlalu mencintainya, atau aku terlalu bodoh karena sudah begitu mempercayainya.

Untuk sejenak wajah Langit kembali melintas dalam benakku. Menyebalkan sekali.

"Mama, capek-capek masak bukan buat di liatin Yuraaaa," tegur Mama sambal menepuk pundakku. Menyadarkanku dari lamunan yang tidak begitu penting tadi.

"Maaf, Ma," sesalku dengan senyum hambar, berusaha menyembunyikan kegalauanku dari Mama.

"Kamu lagi ada masalah?" tanya Mama usai meneguk sedikit air putih dari gelasnya. Beliau sudah selesai dengan makan malamnya.

Aku menggeleng pelan, "Nggak kok Ma. Lagi capek aja," elakku dan kemudian kembali melanjutkan makan.

"Bagaimana kerjaan kamu, Yura? Lancar?" Papa yang sedari tadi diam mulai buka suara. Semoga saja tak akan ada pembahasan tentang Langit malam ini.

"Alhamdulillah lancar kok, Pa," sahutku sambal meraih gelas lalu meneguk isinya perlahan.

"Lalu bagaimana dengan Langit, kapan dia akan melamar kamu?"

Harapanku sirna, Papa akhirnya membahas soal langit. Pertanyaannya sukses membuatku tersedak.

Apa yang harus aku katakan pada Papa dan Mama. Haruskah aku mengatakan yang sejujurnya sekarang? Bagaimana aku menjelaskannya kalau antara aku dan Langit sudah tidak ada apa-apa lagi.

"Kamu nggak apa-apa sayang?" tanya Mama dengan wajah cemas.

"Nggak kok, Ma. Nggak apa-apa."

"Nggak baik loh pacaran lama-lama," ujar Papa lagi setelah menyudahi makannya.

"Iya, Pa. Yura tahu. Tapi kalau untuk nikah sekarang apa nggak terlalu buru-buru?" Aku mencoba sebisa mungkin untuk mengelak pembahasan yang seperti ini. Apalagi sekarang statusku tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun.

"Kamu ngomong apa sih? Buru-buru apanya? Kalian sudah sama-sama dewasa. Usia kamu hampir 27, Yura Anindita. Mau nunggu sampai kapan kamu baru mau menikah?" Mama terdengar semakin mendesakku.

"Iya, Mama kamu benar. Lagipula nggak baik, terlalu banyak membuang waktu dengan pacaran begitu." Papa seolah tak mau ketinggalan menimpali.

"A-aku mau aja Ma, Pa, nikah secepatnya. Tapi aku sama Langit ... ," kata-kataku tertahan di ujung lidah.

Jika aku jujur Papa akan sangat marah. Pasalnya Langit pernah berjanji akan menikahiku saat hubungan ini berjalan satu tahun. Tapi pada kenyataannya hubungan itu malah kandas di tengah jalan.

Aku tahu betul, Papa tak pernah bisa mentolerir itu. Beliau benci sekali dengan orang yang ingkar janji. Papa pasti akan sangat marah, bukan hanya pada Langit tapi juga padaku.

"Kamu sama Langit kenapa? Belum siap?" Papa terlihat sangat penasaran. "Atau ... kalian lagi berantem?"

Aku diam. Aku mulai kelimpungan untuk mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan Papa barusan. Haruskah aku jujur sekarang? Atau lebih baik aku merahasiakannya dulu. Setidaknya, sampai aku benar-benar siap menceritakan semuanya.

Aku menundukkan kepalaku kian dalam. Sumpah aku tak berani menatap kedua pasang mata yang sedang menyorotku sekarang menanti jawaban dariku.

"Yura, lihat Papa. Sebenarnya ada apa antara kamu sama Langit?" tanya Papa sekali lagi dengan nada lebih tegas kali ini.

Setelah sepersekian detik, aku memberanikan diri untuk menatap kedua orang tuaku, "Aku sama Langit, udah selesai Ma, Pa," jawabku dengan perasaan gugup namun sedikit lega juga. Lega karena akhirnya aku tak perlu berbohong lagi perihal Langit.

Papa tak berkomentar, Ia hanya diam sambal menggeleng-gelengkan kepala. Diamnya Papa, adalah tanda kalau dia benar-benar sedang kecewa sekarang. Kecewanya tentu bukan pada Langit saja tapi juga aku.

Aku adalah orang yang keukeuh meyakinkannya kalau Langit adalah yang terbaik, hingga pada akhirnya penilaianku sendiri itu salah.

Sementara itu, Mama hanya bisa menghela nafas panjang. Dari awal hubunganku dengan Langit, Mamalah yang menaruh harapan paling besar pada Langit untuk segera menikahiku. Tapi pada akhirnya aku terpaksa membuat kedua orang tuaku menelan pil pahit kekecewaan malam itu.

Maafin Yura Ma, Pa.

***

Keesokan harinya dikantor, aku sedang mengemasi barang-barang yang harus aku bawa keluar dari kantor. Jujur saja, ada perasaan yang begitu menggangguku saat ini.

Harusnya aku bahagia, karena hari ini adalah waktuku untuk meninggalkan semua kenangan itu. Tapi yang terjadi malah kebimbangan yang sedang berkecamuk di dalam dadaku.

Pembicaraan antara aku, Papa dan Mama kemarin malam sungguh mengganggu pikiranku.

"Ra, Kamu kenapa?" tanya Indy, yang memang sejak tadi turut membantuku mengemasi ruangan kantor yang harus aku tinggalkan untuk di tempati karyawan baru nanti.

Aku menghela nafas panjang, "Mama sama Papa udah tahu soal aku dan Langit."

"Bagus donk. Itu artinya kamu nggak perlu pusing mikirin cara nutupin kenyataan kalau kamu sama Langit itu udah selesai. Udah bubar." Indy tampak bersemangat sekali menanggapi ucapanku. Tampaknya dia juga sama leganya seperti aku kemarin malam, Tapi ... bukan itu masalahnya.

"Masalahnya ... mereka bakal ngejodohin aku sama anak temennya. Katanya, mereka nggak mau aku salah pilih lagi," ucapku mulai memaparkan isi pembicaraan kami tadi malam.

"Ya bagus donk. Itu artinya mereka sayang sama kamu, Ra. Yakin deh, pilihan orang tua kamu nggak akan salah."

"Tapi aku nggak mau di jodohin. Ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi, Indy."

"Iya ... iya aku ngerti. Tapi nggak ada salahnya kan kamu coba buat jalanin. Siapa tahu salah satu anak dari temen Papa kamu itu memang jodohnya kamu. Bisa aja kan?"

Indy benar. Tak ada salahnya untuk dicoba menjalaninya. Tapi ... dijodohin? Hal seperti itu bahkan tak pernah terlintas dalam pikiranku sama sekali. Bahkan dalam mimpipun tidak.

"Anyway, kamu yakin mau pergi dari sini?" tanya Indy sembari memegang pundakku dengan wajah penuh harap agar aku membatalkan niatku.

"Mau sampai kapan kamu nanyain itu terus, Ndy? Ratusan kali? Ribuan kali? Atau jutaan kali? Itu nggak akan mengubah keputusan aku. Lagian pengajuan resign aku udah di acc kok sama Pak Anton," sahutku dengan nada penuh keyakinan. Yakin kalau aku tak akan berubah pikiran.

"Tapi ... Ra, jadi seorang reporterkan impian kamu dari lama. Sayang bangetkan kalau kamu tinggalin."

See ... lagi-lagi Indy mencoba menahan kepergianku. Dia memang tidak mudah menyerah. Tapi apa dia lupa betapa batunya sahabatnya ini? Aku tak akan semudah itu berubah pikiran, apalagi mengubah keputusan yang sudah sangat aku yakini.

"Jadi reporter memang impian aku, dan itu sudah terwujud. Sekarang waktunya, aku mengejar impian aku yang lainnya, Ndy," sahutku sambil tersenyum ringan. Sementara tanganku masih sibuk merapikan meja yang harus aku tinggalkan.

"Emangnya, apa lagi impian besar Yura Anindita kali ini?" tanya Indy terlihat begitu penasaran.

"One day, kamu akan tahu dengan sendirinya," jawabku santai sambil berjalan keluar ruangan dengan membawa kotak kecil yang berisi barang-barang milikku.

"Yuraaa, jangan sok misterius gitu deh," celoteh Indy dan kini berjalan beriringan denganku.

Aku hanya tersenyum menanggapi Indy. Aku memang sengaja merahasiakannya karena bagiku, soal impian yang belum terwujud tak begitu perlu di ketahui oleh semua orang.

"Kamu mau kemana?" Kehadiran cowok bertubuh jangkung, berkulit sawo matang, dengan pakaian rapi kini berdiri di hadapanku. Menghentikan langkahku dan Indy.

Huft...kenapa dia harus muncul lagi sih?

***

Bab 3

Antara percaya dan tidak tapi aku yakin semua orang pasti mengalaminya. Mungkin salah satu dari kalian juga pernah seperti ini.

Ada kalanya, semakin kita berniat melupakan seseorang, semakin kita ingin mengambil langkah untuk menjauh dari orang itu, entah kenapa dia justru malah sering muncul. Seolah mereka punya radar sekaligus misi untuk menggagalkan semua upaya yang kita lakukan.

Yups, tampaknya hal itu juga yang sedang aku alami sekarang. Tapi tentu saja Langit bukan berniat menggagalkan upayaku. Pasti ada hal lain yang membuat dia akhirnya menemuiku. But what?

--------

"Kamu mau kemana?" Kehadiran cowok bertubuh jangkung, berkulit sawo matang, dengan pakaian rapi kini berdiri di hadapanku. Menghentikan langkahku dan Indy.

Tentu saja dia bukan orang asing bagiku. Aku terlalu mengenalnya, sangat mengenalnya hingga akhirnya aku juga yang kepayahan melupakannya. Mengesalkan sekali. Yups ... dia Langit.

"Bukan urusan kamu!!" jawabku ketus dan beranjak pergi. Tapi langkahku tertahan karena Langit kini menarik pergelangan tanganku dan menggenggamnya cukup erat.

No ... sangat erat hingga aku merasa kesakitan sekarang.

"Tunggu. Aku perlu bicara sama kamu," pinta Langit yang tentu saja tak akan aku turuti. Untuk apa lagi aku bicara dengan orang yang tak menghargai perasaanku sama sekali.

"Nggak bisa." Aku menepis tangan Langit yang sedari tadi menggenggam erat pergelangan tanganku.

"Aku perlu bicara sama kamu," ucap Langit lagi kembali meraih pergelangan tanganku. Kali ini rasanya dia menggenggamnya jauh lebih erat dari sebelumnya.

"Langit udahlah. Kalau Yura bilang nggak bisa itu artinya nggak bisa. Jangan maksa deh." Indy yang sedari tadi diam menjadi penonton mulai angkat bicara agar Langit segera enyah dari hadapanku. Tak lupa dia juga menepis tangan Langit dariku.

Langit diam sejenak dan menatap marah pada Indy. Tatapan yang aku definisikan sebagai peringatan pada Indy agar diam dan tidak ikut campur. Dan sepertinya ... dia cukup sukses mengunci mulut Indy. Sahabatku tak lagi mengoceh.

"Yura please. Aku harus bicara sama kamu," pintanya lagi dengan tatapan yang sedikit melunak.

Tatapan teduh yang dulu selalu membuat hati ini rindu untuk melihatnya lagi dan lagi. Tatapan yang sekarang kembali membuat dada ini terasa sesak. Gugup.

Dan ... wait, stop it Yura, kamu tidak boleh luluh segampang itu lagi. Ingat upaya kamu untuk melupakan manusia yang satu ini. Ingat Yura ... Ingat.

"Mau bicara apa?" tanyaku masih dengan nada ketus, sambil membuang pandanganku ke arah jendela.

Ya ... aku tak akan bersikap lembut lagi dengannya. Aku tak ingin perasaan itu kembali hadir di tengah-tengah kami hanya karena tatapan teduhnya itu. Aku tak ingin kembali larut dalam perasaan sayang yang kini hanya berjalan secara sepihak.

Ya ... aku akui, aku masih punya secuil perasaan sayang untuk laki-laki ini. Ingat ... hanya secuil dan aku tak ingin itu menjadi besar hanya karena hal begini. Tidak.

"Bicara aja sekarang. Aku nggak punya banyak waktu," sambungku lagi dengan tatapan sinis.

"Nggak di sini, kita ke rooptop," sahut Langit lagi yang mulai memancing emosiku.

"Apa bedanya rooftop sama di sini. Toh ... apa yang mau kamu omongin topiknya tetap sama kan?" Aku mulai jengkel dengan semua permintaanya. Ayolah ... aku sudah bersumpah pada diriku sendiri kalau aku tak akan pernah ke rooftop itu lagi.

Kali ini Langit tak menjawab. Ia justru menggenggam erat pergelangan tanganku dan menyeretku paksa mengikutinya. Tindakannya begitu tiba-tiba hingga tanpa sadar aku menjatuhkan kotak yang sejak tadi aku bawa dan sukses membuat isinya berserakan di lantai.

Indy yang melihat aku dibawa pergi tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah Langit. Indy jelas sudah tahu kalau Langit akan mengamuk jika dia ikut campur.

***

"Lepasin!!" pintaku sambil menepis tangan Langit, saat kami telah tiba di rooftop.

Semilir angin dan hangatnya mentari pagi langsung menyapa kami, saat kami tiba di sana. Tapi kehangatan itu justru tak berefek pada hatiku yang saat ini sedang dilanda emosi akibat perlakuan Langit yang seenaknya.

Langit berjalan menjauh dariku dan berhenti di ujung rooftop. Tatapannya mengarah jauh ke langit luas. Aku hanya diam memperhatikannya sambil mengusap pergelangan tanganku yang masih terasa sakit karena ulahnya.

Sebuah tanda tanya besar mengambang dibenakku. Bagiku tak ada lagi hal penting yang harus dibicarakan dengannya pasca putus.

Bagiku, saat dia bilang hubungan ini telah selesai maka saat itu pula cerita kami berakhir.

Cukup lama rasanya aku menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Apa sebenarnya mau pria ini? Menyeretku secara paksa hingga ke sini dengan alasan ingin bicara.

Tapi setelah di sini Ia hanya diam dan membiarkanku menunggu tanpa kejelasan dengan beragam dugaan yang ada dibenakku.

"Masih belum mau bicara juga?" tanyaku yang mulai kehilangan kesabaran.

"Kalau gitu aku permisi." Aku membalikkan badan dan ingin bergegas pergi meninggalkan tempat ini.

"Tunggu!!" serunya mulai bersuara dan sukses menghentikan langkahku.

Walau aku tak membalikkan badan, aku bisa mendengar dengan sangat jelas suara langkah kaki Langit yang kini berjalan mendekat ke arahku. Dekat dan semakin dekat, hingga aku tersentak saat Ia kembali menarik tanganku memaksaku membalikkan badan.

Dan benar saja, kini Ia berada tepat di hadapanku. Jarak kami mungkin hanya berkisar 30 senti. Ia menatapku dengan tatapan khasnya, teduh dan menyejukkan hatiku yang sempat panas.

Jantungku Kembali berdetak tak beraturan. Nafasku sesak. Yura sadarlah. Jangan biarkan diri kamu jatuh cinta lagi pada Langit.

Wake up Yura ... sadarlah. Luka yang dia ciptakan saja masih belum sembuh. Batinku menjerit tak karuan.

Aku mundur beberapa langkah dari Langit, sambil kembali menepis tangannya dari pergelangan tanganku.

Aku melemparkan pandanganku jauh ke langit luas walau harus dihadang oleh bias sinar matahari. Sungguh, itu jauh lebih baik daripada aku harus beradu pandang dengan langit yang berwujud manusia itu. Itu malah lebih menyakitkan bagiku.

"Kamu sebenarnya mau bicara apa?" tanyaku dengan nada dingin. Tak ingin larut dengan suasana yang tadi nyaris membuatku jatuh padanya lagi.

"Kalau kamu memutuskan keluar dari kantor hanya karena ingin menjauh dari aku. Lebih baik kamu batalkan niat kamu." Ucap Langit membuka topik pembicaraan yang sedari tadi aku tunggu.

See ... dia menemuiku bukan karena dia masih memiliki perasaan yang sama atau ingin meminta maaf, lantaran sudah mematahkan hatiku. Sampai kapanpun sepertinya dia hanya akan memikirkan dirinya sendiri saja.

"Apapun alasan aku keluar dari pekerjaan ini, itu bukan urusan kamu. Mau tetap bertahan di sini atau pergi, itu sepenuhnya jadi hak aku Langit. Bukan kamu," jawabku dengan tatapan kesal. Aku benci saat dia bersikap seolah-olah peduli padahal sebenarnya tidak. Fake ....

"Come on, Ra, jangan kekanak-kanakkan kayak gitu. Kamu tahu siapa orang yang paling disalahkan sama Pak Anton atas pengunduran diri kamu? Aku. Aku ... Yura," ungkap Langit yang semakin memperkuat dugaanku.

Ya ... kepeduliannya kali ini memang hanya karena dia tak ingin namanya jelek di mata Pak Anton. Atasan kami di kantor.

"Lalu, apa peduliku?" tanyaku tak mau ambil pusing. Masa' bodoh dengannya sekarang.

"Dasar egois. Ya kamu batalinlah rencana kamu. Supaya Pak Anton tahu, kalau aku bisa mempertahankan karyawan kebanggaannya yang memutuskan berhenti dari pekerjaan cuma karena aku putusin," kata Langit dengan super PDnya.

Aku memandanginya dengan tatapan tak percaya. Serius, tanganku mulai gatal ingin mendaratkan sebuah tamparan kepipinya, saat dia mengatakan kalau aku egois.

Tapi niat itu ku urungkan karena aku pikir tak ada gunanya. Itu hanya akan membuatku semakin terlihat kekanak-kanakkan dimatanya. Dalam situasi seperti ini aku harus lebih tenang.

"Egois? Ya, masa' bodoh dengan penilaian kamu ke aku sekarang. Yang pasti aku nggak akan mengubah keputusan aku," ujarku dengan nada penuh keyakinan.

" .... "

"Dan satu hal lagi, aku keluar dari sini itu bukan semata-mata karena kamu Langit. Kamu itu cuma jadi alasan kesekian berhentinya aku dari sini. Jadi ... jangan kepedean."

Langit masih diam. Dia hanya memandangiku dengan tatapan tak terbaca. Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya sekarang, yang jelas aku tidak boleh lengah. Aku tidak boleh luluh lagi dengan pesonanya.

Aku menghembuskan nafas kasar setelah cukup lama menunggu Langit bicara lagi. Tapi yang ditunggu malah betah membisu.

"Udah selesai kan? Udah nggak ada hal yang perlu dibicarakan lagi kan? Kalau gitu aku pergi."

Aku melangkah menjauh meninggalkan Langit, tapi sedetik kemudian ucapannya kembali menghentikan langkahku.

"Kalau kamu nggak mau batalin niat kamu demi aku, seenggaknya lakuin itu demi Mama," seru Langit spontan membuatku bingung.

Dari dulu, setiap Langit bicara soal Mamanya, hatiku selalu luluh. Kemarahan yang meluap-luap bagai lava panas sekalipun bisa tiba-tiba berubah menjadi sedingin gletser di kutub utara.

Mungkin terdengar lebay, but ya ... aku selalu kalah jika hal itu berkaitan dengan orang tua. Terlebih lagi ini soal Mamanya Langit.

Aku tahu betul, Langit hanya hidup bersama Mamanya. Papanya sudah meninggal sejak Langit berusia 6 tahun. Dunia Langit semakin tidak baik-baik saja setelah Mamanya di vonis mengidap kanker otak 7 bulan lalu.

"Pak Anton tahu betul masalah apa yang terjadi antara kita. Dan kalau aku nggak berhasil ngebujuk kamu, beliau bakal mecat aku," ungkap Langit sambil berjalan mendekat ke arahku lalu kemudian berdiri persis di hadapanku.

"Dan kalau aku dipecat, dengan cara apa aku harus dapetin uang buat pengobatan Mama?"sambungnya lagi kian menatapku dalam.

Kata-kata Langit kali ini sungguh membuat hatiku tersentuh. Walau Ia tak bisa sedikitpun menghargai perasaanku, setidaknya dia punya sedikit nilai lebih karena rasa sayang pada Mamanya yang begitu besar.

"Demi Mama, aku mohon batalin rencana kamu, Ra,"pinta Langit mengiba.

Kudapati mata Langit kini mulai berkaca-kaca. Rasa ibaku seketika muncul ke permukaan. Aku tak mungkin membiarkan Langit dipecat hanya gara-gara keegoisanku. Itu sama saja aku membahayakan kesehatan Mamanya.

Tapi ... jika aku tetap berada di sini, bagaimana aku bisa melupakan semuanya?

"Kamu juga sayangkan sama Mama?"tanya Langit seraya meraih kedua tanganku lalu menggenggamnya erat. Ia memperlakukan aku seolah-olah aku masih kekasihnya. Aku tahu ini hanya taktik Langit agar aku mau mengabulkan permintaannya. Hmm ... dasar menyebalkan.

"Ya ... aku juga sayang sama Tante Anggi. Mama kamu. Tapi ... bukan berarti aku mau memenuhi permintaan kamu," jawabku masih keukeuh dengan keputusan yang sudah kubuat.

"Ra, kamu nggak kasihan sama Mama?"

Kali ini, aku tak ingin menjawab pertanyaan Langit. Aku menatapnya sebentar lalu beranjak pergi begitu saja. Masa' bodoh dengannya yang mungkin sedang mengumpat kesal di belakangku.

Hmm siapa bilang, aku tak merasa kasihan dengan Mamanya? Malah jika boleh, aku akan membantu pengobatan Tante Anggi. Aku sengaja menolak permintaannya karena aku yakin ada cara lain agar aku bisa tetap pergi dari sini tanpa harus menyulitkan siapapun.

Ya ... pasti ada.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED