Bab 2

Sepuluh tahun kemudian.

Terik matahari tidak menghalangi Ana untuk datang ke kampus. Hari ini adalah hari Jumat yang berarti seharusnya ia tidak ada kelas. Namun, entah kenapa dosen mendadak mengadakan kuis yang membuat para mahasiswa mengeluh tidak suka.

Jakarta adalah kota yang dipilih Ana untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Terlalu beresiko mengingat begitu cerobohnya dia. Namun dengan tekad dan kemauan, akhirnya orang tua Ana rela melepaskan anaknya untuk hidup mandiri, jauh dari kota asalnya. Kadang kemandirian akan menumbuhkan rasa kedewasaan. Prinsip itulah yang dipegang Ana sehingga dia memilih untuk hidup sendiri. Sekarang Ana dapat merasakan sendiri bagaimana sulitnya hidup dengan uang jatah bulanannya. Kadang jika tidak bisa menahan diri, maka di akhir bulan dia akan berpuasa. Namun Ana tidak menyesal, dia malah menikmatinya. Menikmati hidup dengan menambah banyak pengalaman.

"Permisi, Pak. Maaf saya telat." Ana tersenyum konyol menatap dosen yang tengah membagikan selembaran.

"Jam berapa ini? Saya sudah kasih waktu setengah jam buat anak yang sering telat kayak kamu gini, tapi masih telat juga," celetuk dosen yang membuat Ana menunduk pasrah.

"Maaf, Pak." Hanya itu yang bisa Ana ucapkan untuk saat ini.

"Ya sudah, masuk sana. Lain kali jangan seperti itu, coba hargai waktu."

Ana tersenyum dan mengangguk semangat. "Siap, Pak! Terima kasih."

"Nanti malam jangan lupa kamu kirim artikel berita tentang perang di Timur Tengah." Langkah Ana terhenti dan menatap dosen bingung.

"Maksudnya, Pak?"

"Kamu saya kasih tugas, buat artikel berita tentang perang di Timur Tengah. Satu saja tapi pakai bahasa inggris."

Ana mendadak lemas mendengar itu. Dia pikir dosen akan berbaik hati karena membiarkannya masuk. Namun tetap saja hukuman akan dia dapatkan. Seharusnya dia berhati-hati dengan dosen satu ini, mengingat begitu banyak kejutan yang membuat mahasiswa mendadak pusing seperti ini.

***

Kantin tidak terlalu sesak saat ini mengingat jika bukan lagi jam makan siang. Hari yang menjelang sore hanya menyisakan beberapa manusia yang tengah menikmati waktu luang bersama teman.

"Mbak Ida, pecel satu ya, Mbak. Lauknya telur aja, sayurnya dikit, nasi sama togenya banyakin biar subur, jangan lupa kerupuknya. Minumnya es teh ya, es-nya banyakin. Nggak pake lama dan terima kasih." Ana memesan makanannya dalam satu tarikan nafas.

"Makan modal 15 ribu aja banyak mau," protes Ally pada Ana.

"Namanya juga tanggal tua."

"Ya udah, Mbak. Aku samain aja makanannya," ucap Ally mengikuti Ana.

Ana melirik sahabatnya dengan sinis. Perasaannya tidak begitu baik sejak tadi. Memang sedikit menyebalkan mempunyai sahabat seperti Ally, tapi mau bagaimana lagi, sepertinya hanya dia yang mau berteman dengan orang konyol sepertinya.

Satu suapan pertama Ana sudah kembali tersenyum lebar. Memang makanan adalah kelemahannya. Dia begitu menyukainya sampai bisa melupakan harga dirinya sendiri. Makanan sederhana seperti inilah yang membuatnya teringat akan ibunya. Hanya dengan makanan, Ana merasa dekat dengan keluarganya.

Jika dulu Ana merasa biasa jika tidak menghabiskan makanan, tapi untuk sekarang dia mencoba untuk merubah itu. Entah kenapa melihat sesendok nasi yang tersisa saja membuatnya sedih. Itulah yang membuat berat badannya naik tiga kilo dalam beberapa bulan terakhir ini. Setidaknya jauh dari rumah membuat Ana sangat menghargai sesuatu yang datang di hidupnya. Dia menganggapnya sebagai pelajaran berharga yang tidak akan dia dapatkan di tempat lain.

"Ana!" Ana mengangkat kepalanya dan menatap Sarah yang memanggilnya.

"Ada apa, Kak?" tanya Ana memakan suapan terakhir makanannya.

"Kamu hari senin ada kelas nggak?"

"Ada tapi pagi. Kenapa?"

"Kamu gantiin Mas Adit besok Senin ya, buat liputan acara seminar di Fakultas Bisnis." Ana terdiam dengan bingung, sebenarnya dia sedikit malas karena minggu kemarin dia sudah menjadi tim kreatif di acara musik.

"Kan minggu kemarin aku udah ngisi program, Kak. Yang lain deh ya," ucap Ana memohon. Selain karena malas, tugas yang menumpuk harus segera diselesaikan.

"Nggak ada yang bisa, Na. Kakak-kakak juga pada PKL nanti. Udah kamu aja ya, lumayan loh bisa masuk seminar gratis, nambah ilmu juga. Mau ya?" Ana terdiam sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal. Dia juga tidak enak jika menolak Sarah yang merupakan seniornya di Lab TV.

"Aku jadi apa? Terus pembicaranya siapa?" tanya Ana pada akhirnya.

"Kamu jadi campers, nggak susah kan? Pembicaranya pembisnis sukses, masih muda, ganteng lagi. Seneng deh kamu liat yang bening-bening."

Ana mengangguk mengerti. "Ya udah aku mau, Kak. Kabarin aja besok waktunya. Oke."

"Oh siap, makasih ya, Na." Ana hanya mengangguk dan menatap Ally yang menatapnya bingung.

"Tugasmu apa kabar nanti?"

Ana mengangkat bahunya acuh, "Gampang lah, aku kan pinter.. kalau kepepet.”

"Yakin banget kamu, tugas lagi banyak-banyak-nya nih."

"Biarin, enak besok nggak masuk kelas." Ana hanya tertawa dan meninggalkan Ally ke tempat parkir. Dia harus pulang sekarang. Mengerjakan semua tugasnya sebelum tugas lainnya mulai berdatangan. Saat sedang memasang helm, Ally datang dengan banyak camilan di kantong plastik yang dia bawa.

"Aku ikut ke kos ya? Males pulang aku." Tanpa menunggu jawaban, Allly langsung duduk di atas motor membuat Ana menggelengkan kepalanya pasrah.

Ally adalah satu-satunya teman yang dekat dengannya sejak pertama kali masuk kampus. Sebenarnya Ana mempunyai banyak teman, tapi hanya Ally yang selalu ada di sampingnya. Percayalah, setelah Ana kuliah dan hidup sendiri, dia menyangkal habis-habisan tentang kehidupan anak kuliahan di FTV. Dia tidak merasakan kebahagiaan yang sama dengan apa yang mereka rasakan. Mungkin Ana belum merasakan padatnya jadwal karena masih semester awal tapi dia yakin suatu saat nanti perpustakaan akan menjadi destinasi favoritnya.

***

Ana membuka pintu aula Fakultas Bisnis dengan cepat. Dia melirik jam tangan sebentar dan kembali berjalan. Dia terlambat, lebih tepatnya kesiangan. Terlihat sudah banyak kru TV kampus yang sedang menyiapkan alat untuk liputan nanti. Tadi Sarah juga sudah menghubunginya berkali-kali untuk melakukan briefing terlebih dahulu sebelum liputan jam 9 nanti.

"Pagi, Kak Sarah," sapa Ana memperlihatkan senyum polosnya.

Sarah hanya melirik Ana sebentar dan mendengus jengkel, "Udah sana ke Bang Alex," ketusnya.

"Maaf deh, belum mulai juga kan? Semalem aku habis begadang nonton film. Film itu tuh yang lagi rame, bagus banget kak sumpah! Masa ya si-"

"Udah! Nggak usah spoiler kamu ya!" Ana hanya terkekeh mendengarnya. Dia dan Sarah memang termasuk movie addict, mereka selalu sharing tentang film-film terbaru.

"Katanya mau briefing dulu? Ayo, aku udah siap nih."

Tarikan pelan pada rambutnya membuat Ana menoleh ke belakang, "Briefing-nya udah selesai dari tadi. Nggak liat jam kamu? Udah jam setengah 9 juga baru dateng." Ana meringis begitu melihat ketua lab TV yang sudah berada di belakangnya.

"Hai, Bang. Udah sarapan?" tanya Ana mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

"Kenapa baru dateng?" Alex bertanya lembut.

"Begadang, Bang. Nonton Film katanya. Padahal semalem aku juga begadang melototin rundown tapi nggak telat juga," sahut Sarah ketus.

"Jangan marah-marah dong, Kak. Nanti keriput."

"Udah-udah, jangan ribut terus. Ana kamu pegang Cam 1 ya, sana cek kameramu dulu."

"Siap, Bos!"

***

Ana memfokuskan kamera pada MC yang sedang berbicara di panggung. Acara sudah dimulai dan aula terlihat seperti pelangi dengan warna almamater dari berbagai universitas yang berbeda-beda, tapi tetap yang paling mendominasi adalah almamater kampusnya.

"Mari kita sambut Bapak Davinno Rahardian!"

Suara tepuk tangan langsung memenuhi aula, terdengar juga suara teriakan wanita dan siulan. Ana sempat bingung dengan kehebohan yang terjadi tapi setelah melihat pria berjas naik ke atas panggung. Dia mulai mengerti kenapa para mahasiswi terlihat sangat bersemangat. Ana menatap pria di atas panggung itu dengan mata yang tak berkedip. Jika ketampanan Alex termasuk di atas rata-rata maka pria yang berdiri dengan gagah di sana sudah berada di level tertinggi, setinggi langit.

"Sungguh dahsyat ciptaanmu, Tuhan!" ucap Ana cukup keras, sedetik kemudian dia merasakan gulungan kertas yang mendarat di kepalanya. Siapa lagi kalau bukan Sarah, dia mengingatkan Ana untuk diam. Bisa saja suaranya akan bocor ke dalam rekaman video nanti.

Benar apa yang dikatakan Sarah, pembicara kali ini benar-benar sangat istimewa. Tidak heran jika tiket terjual habis dengan sangat cepat. Ana terdiam memperhatikan pria yang sedang berbicara itu. Setelah dipikir-pikir, Ana akan sedikit menurunkan tingkat ketampanannya karena pria itu terlihat sangat serius dan tidak menunjukkan senyumnya sedikitpun.

***

Seminar telah selesai sejak 15 menit yang lalu. Kru TV kampus juga sudah mengangkut alat-alat untuk dikembalikan ke studio. Ana dan kru lainnya sedang makan sekarang. Mereka mendapatkan jatah nasi kotak dari pihak penyelenggara.

"Eh, Pak Davinno tadi pidatonya keren banget ya."

"Pidatonya yang keren apa orangnya?"

"Ya orangnya, dong."

"Emang Pak Davinno ganteng banget tadi, wibawanya dapet. Jadi pingin gigit."

Ana terbatuk saat mendengar ucapan sekelompok wanita di belakangnya. Memang benar, kesan pertama yang dia lihat dari Davinno Rahardian adalah tampan, bahkan sangat tampan tapi ketampanan itu sedikit berkurang karena wajah datarnya.

"Aku udah selesai, pulang dulu ya, Kak."

"Aku antar ya, Na." Tiba-tiba Alex menawarkan diri.

Ana menggeleng cepat, "Nggak usah, Bang. Habisin aja makannya."

"Aku udah selesai kok, dianter aja ya?"

"Kosku deket, Bang. Depan kampus lagi. Aku juga bawa motor. Duluan ya."

Ana berjalan ke arah tempat parkir sambil memainkan ponselnya. Ketika akan menyeberang jalan, tanpa dia sadari sebuah mobil muncul dari tikungan dan akan menabraknya, tapi itu tidak terjadi karena mobil berhenti secara mendadak dan membuatnya terkejut. Jantung Ana berdetak dengan kencang. Dilihat kakinya yang gemetar. Bagaimana tidak? Jika bagian depan mobil bahkan sudah menyentuh kakinya. Ana merasa bersyukur saat mobil itu tidak menabraknya tadi.

Aku belum mati kan?

"Dek? Adek nggak papa?" Ana masih diam. Dia terlalu terkejut dengan peristiwa yang baru saja terjadi.

"Aku masih hidup kan, Pak?"

"Iya Dek, masih hidup. Lain kali kalau nyeberang hati-hati ya, jangan main HP terus. Bahaya, jadi rusak kan HP-nya." Ana hanya bisa mengangguk dengan pelan.

"Edo! Kasih kartu namaku. Kita harus ke kantor sekarang!" ucap seseorang dari dalam mobil.

"Ini kartu nama bos saya, nanti HP-nya diganti. Lain kali hati-hati ya." Pria bernama Edo itu kembali masuk ke dalam mobil.

Ana melangkah mundur, bermaksud memberi jalan pada mobil itu untuk lewat. Sebelum itu dia mengambil ponselnya terlebih dahulu yang sudah tergeletak mengenaskan di atas aspal. Saat mobil melaju di depannya, Ana melihat pria yang menjadi pembicara seminar tadi sedang duduk dengan gaya angkuhnya. Pria itu menatap Ana dengan lekat dan begitupun sebaliknya. Ana tidak tahu kenapa waktu seolah telah berhenti. Mereka saling bertatapan sampai mobil itu mulai menjauh.

Ana menyentuh dadanya yang berdetak dengan cepat. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba dadanya terasa sesak. Debarannya berbeda dengan peristiwa yang baru saja dia alami. Saat menatap mata tajam itu, Ana merasa bahwa hatinya yang kosong telah terisi kembali.

***

TBC

Bab 3

Ana menatap ponsel di tangannya dengan tatapan menerawang. Ibu jarinya menekan tombol menu, kemudian kembali, lalu ke menu lagi dan begitu seterusnya. Sudah seminggu berlalu setelah peristiwa di tempat parkir dan sudah seminggu pula Ana harus bertahan dengan ponsel jadul milik Ally, ponsel keluaran lama yang hanya bisa digunakan untuk telepon dan mengirim pesan.

Ana tidak memberitahu orang tuanya tentang kejadian seminggu yang lalu. Lagi pula dia tidak apa-apa, tidak ada luka di tubuhnya. Hanya rasa terkejut, itu saja. Ana meletakkan ponselnya dan mengeluarkan kartu nama milik Davin dari tasnya. Dia masih bingung, apa dia harus menghubungi pria itu terlebih dahulu? Ana merebahkan tubuhnya di atas kasur saat tidak menemukan jawaban yang tepat. Ditatapnya lagi kartu nama yang bertuliskan nama lengkap bertinta emas itu. Entah kenapa Ana bergerak mencium kartu nama itu dan benar saja, harum.

Ana meringis dan membolak-balikan kartu nama itu dengan dahi yang berkerut. Kartu nama saja bisa elegan seperti ini. Ana tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan pria itu setiap harinya.

***

Gedung tinggi di hadapan Ana saat ini membuatnya gugup. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba bisa seperti ini, padahal tujuannya hanya akan meminta ponsel baru dan selesai. Ana tidak akan berhubungan lagi dengan pria bernama dingin itu. Setelah berdiri cukup lama, akhirnya Ana memutuskan untuk masuk.

Dilihatnya penampilan para karyawan yang berlalu lalang dengan teliti. Mereka semua tampak elegan dan mewah. Seolah berseragam, mereka kompak menggunakan pakaian berwarna hitam, abu-abu, dan putih. Sedikit kaku memang, tapi setelah mengingat jika pemimpinnya sendiri juga kaku maka Ana tidak akan heran. Mungkin itu sudah peraturan yang ditetapkan. Setelah puas melihat penampilan para karyawan, Ana melihat penampilannya sendiri. Dia meringis begitu menyadari kekonyolannya. Sweatshirt maroon kebesaran sebagai atasan dan celana jeans hitam sebagai bawahan, serta sepatu converse yang sudah kotor tentu tidak menunjukan kesan formal sedikitpun. Dia tampak asing di tempat ini. Tidak terlalu memikirkan penampilannya, akhirnya Ana memilih untuk langsung ke resepsionis. Dia harus kembali fokus dengan tujuan awalnya untuk bertemu Davin.

"Ada yang bisa saya bantu?"

"Bisa bertemu dengan Pak Davinno?" Seketika ekspresi ramah resepsionis itu tergantikan dengan raut wajah anehnya.

"Apa sudah membuat janji sebelumnya?" Perubahan itu membuat Ana mengerutkan keningnya bingung. Dia sedikit kesal dengan tingkah resepsionis yang menatapnya dengan pandangan remeh seperti itu.

"Belum, Mbak."

"Kalau belum buat janji ya nggak bisa ketemu, Dek. Pak Vinno juga sedang sibuk, jadi harus buat janji dulu." Ana menghembuskan napasnya kasar mendengar itu. Tanpa diberi tahu dia juga tahu jika Davin adalah orang yang sibuk.

"Tapi Pak Davinno sendiri yang minta saya buat datang."

"Tetap nggak bisa, harus buat janji terlebih dulu." Wanita itu kembali bekerja dan Ana hanya bisa diam, "Kalau sudah tidak ada keperluan, saya harus kembali bekerja."

Ana terkejut mendengar itu. Wanita itu sudah jelas mengusirnya secara halus tadi. Dengan perasaan kesal, Ana mulai berlalu pergi, "Dasar tante medusa!" rutuknya pelan.

Ana berdiri di lobi dan berdiri dengan bingung. Sia-sia, percuma saja dia datang ke tempat ini jika akan diusir seperti ini. Ana terdiam mencoba berpikir bagaimana caranya agar dia bisa bertemu dengan Davin.

Lima menit,

Sepuluh menit, masih tidak ada ide.

Akhirnya Ana memutuskan untuk berhenti berpikir dan menghentakkan kakinya kesal. Pasrah, mungkin besok dia akan datang lagi ke tempat ini. Dengan membuat janji terlebih dahulu tentunya. Dia akan langsung menghubungi Davin.

Saat berjalan ke tempat parkir dia seperti melihat pria yang hampir menabraknya dulu. Terlihat orang itu sedikit terburu-buru untuk masuk ke dalam kantor. Ana yang tidak ingin menyia-nyiakan waktu langsung berlari mengejarnya. Sedikit lagi dan akhirnya Ana dapat menjangkau lengan itu.

"Haduh, Pak. Jalannya cepet banget." Ana berusaha mengatur napasnya.

"Loh, kenapa Adek di sini?" tanya Edo penasaran.

"Mau minta ganti rugi, Pak." Ana mengangkat ponsel Ally cepat.

"Kenapa nggak langsung masuk aja?"

"Udah, Pak. Nggak dibolehin masuk."

"Kok bisa? Udah saya kasih kartu namanya Pak Vinno kan?"

"Saya belum hubungi Pak Davin, Pak." Ana menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Lagian kenapa Mbak Resepsionisnya galak sih, Pak?"

Edo tertawa, "Kamu ini, ya udah ayo ikut saya masuk."

Saat melewati meja resepsionis, Ana menjulurkan lidahnya bermaksud untuk mengejek wanita yang mengusirnya tadi, tapi wanita itu hanya meliriknya sebentar dan bersikap tidak peduli. Menyebalkan sekali, jika Ana mempunyai perusahaan sendiri dia tidak akan memperkerjakan orang seperti itu. Percuma saja pintar tapi tidak mempunyai kepribadian yang baik.

***

Pintu lift terbuka di lantai 28 di mana ruangan Davin berada. Suasana lantai ini sama dengan yang di bawah tadi. Masih didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih. Terlihat sepi dan hanya terdapat 5 pintu di sini. Edo membawa Ana ke arah wanita cantik yang terlihat sibuk dengan kertas-kertas di mejanya.

"Lia?"

"Iya, Pak Edo. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Lia sambil berdiri.

"Tolong antarkan Adek ini ke ruangan Pak Vinno ya, saya masih ada urusan sama Pak Anwar." Melihat Lia yang mengangguk, Edo beralih pada Ana, "Kamu sama Lia ya, saya masih ada urusan."

"Iya, Pak. Terima kasih sudah diantar." Edo mengangguk dan berbalik pergi.

"Ayo, Dek. Ikut saya." Ana mengangguk dan mengikuti Lia yang berjalan menuju pintu paling besar di lantai ini.

Lia mengetuk pintu itu sekali dan kemudian menunggu. Setelah terdengar sahutan dari dalam, Lia mulai masuk dan diikuti oleh Ana. Pemandangan yang pertama ia lihat adalah punggung Davin yang sedang berdiri membelakangi pintu, sepertinya pria itu sedang melihat pemandangan jalan raya yang hanya dibatasi oleh dinding kaca. Ana mengedarkan pandangannya ke segala arah. Lagi-lagi dia salah fokus dengan desain ruangan Davin. Ruangan ini berbanding terbalik dengan keadaan di luar. Ruangan ini didominasi warna merah maroon dan hitam. Terlihat menyeramkan tapi juga elegan di satu sisi.

"Permisi, Pak. Ada seseorang yang ingin menemui Bapak." Lia berbalik menatap Ana, "Siapa Namanya, Dek?" lanjutnya.

"Ana, Mbak."

Davin berbalik saat mendengar suara bisikan itu. Dia menatap Ana lekat dan beralih pada Lia, "Kamu boleh keluar."

"Baik, Pak. Permisi."

Ana masih asik memperhatikan ruangan Davin, tanpa tahu jika dia sudah menjadi pusat perhatian pria itu sekarang. Davin berjalan mendekat mencoba menyadarkan gadis yang tengah menikmati suasana ruangannya itu. Ana terkejut saat tubuh besar itu sudah berada di depannya. Mau tidak mau dia mengalihkan pandangannya dan menatap pria yang ada di depannya itu. Tinggi badan Davin membuat Ana harus mendongak.

"Ada perlu apa menemui saya?" tanya Davin.

"Itu, Pak. Saya mau— gimana ya ngomongnya. Saya mau minta HP baru," ucap Ana sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Davin hanya mengangguk dan berjalan menuju kursinya, meninggalkan Ana yang masih berdiri di tengah-tengah ruangan seperti orang bodoh.

"Kenapa kamu minta HP sama saya?"

"Kan HP saya rusak waktu hampir ketabrak di kampus," ucap Ana berusaha untuk mengingatkan.

"Saya belum ada HP-nya. Besok aja kamu ke kantor saya lagi." Pria itu berucap santai yang membuat Ana kesal.

"Nggak mau, Pak. Nggak bisa sekarang apa? Mentahan aja deh nggak papa, biar saya beli sendiri," jawab Ana spontan. Dia menutup mulutnya cepat saat sadar jika dia telah bersikap tidak sopan di depan pria itu.

"Saya nggak ada uang tunai." Davin bersandar pada kursinya dan menatap Ana dengan dagu yang terangkat.

Ana merutuk dalam hati. Alasan apa itu? Jaman secanggih ini tidak susah untuk mengirim uang. Tidak mungkin jika pria seperti Davin tidak mempunyai kartu debit.

"Saya nggak mau ke sini lagi, Pak. Pegawainya Bapak galak-galak." Akhirnya Ana menggunakan alasan lain. Alasan yang menurutnya cukup kekanakan.

"Galak?"

Ana menggeleng cepat, mencoba untuk kembali mengarahkan pembicaraan ke topik utama. "Pokoknya saya mau sekarang, Pak. Jadi saya nggak perlu ke sini lagi dan urusan kita selesai." Ana berucap dengan berani.

"Terserah kalau kamu nggak mau." Ana terdiam saat melihat ada senyum tipis yang muncul di bibir pria itu.

"Ayo lah, Pak. Saya mohon sekarang ya, kasian Ibu saya minta video call terus. Saya nggak bisa bohong lama-lama."

"Besok, kamu bisa datang lagi besok."

Ana terdiam tidak percaya melihat respon dingin yang dia dapat. Kenapa sesulit itu untuk meminta haknya? Seharusnya masalah ini dapat diselesaikan dengan mudah bukan? Bahkan tanpa harus bertatap muka. Ana menggerutu sambil meremas bajunya kesal. Ingin sekali dia menangis, tapi tidak mungkin jika dia menangis di hadapan kulkas mode-on ini.

"Ya udah saya pulang, besok saya ke sini lagi. Bapak jangan ilang kalau dicariin. Kata Mbak Resepsionis kan Bapak orangnya sibuk." Melihat Davin yang hanya mengangguk, Ana memutuskan untuk keluar, "Permisi, Pak." Pamitnya.

"Tunggu." Panggilan itu membuat Ana menghentikan langkahnya. "Siapa namamu?"

Ana terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab, "Ana." jawabnya singkat.

Ana terpaku saat melihat sesuatu yang jarang terjadi, dia tidak salah lihat. Davin sempat tersenyum saat dia menyebutkan namanya. Meskipun senyumnya tidak sampai mata, tapi Ana yakin dia melihat senyum itu.

"Namaku Davinno." Ana mengerutkan keningnya saat tiba-tiba dia ia merasa seperti deja vu, dia seperti pernah mendengar kalimat itu sebelumnya.

"Saya pulang dulu." Ana bergegas keluar ruangan. Dia menyandarkan tubuhnya di balik pintu dan mengelus dadanya yang berdetak dengan kencang. Entah kenapa dia bertingkah seperti ini? Jantungnya juga kenapa bisa berdetak sekencang ini? Sepertinya Ana perlu dokter sekarang, dia tidak mau mempunyai penyakit jantung di usia muda.

***

TBC

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

MINE

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED