Bab 2

"Tuan Baskoro, aku akan segera menyingkirkan barang-barangmu," ujar Devina sambil menatap mata pria terhormat itu. Devina tidak pernah peduli pada apa pun semenjak kematian orang tuanya dalam kecelakaan mobil yang tragis.

"Aku yakin kamu tidak tertarik untuk menyimpan 'dekorasi' seperti itu, kan?"

Devina telah menikah setahun lebih, tetapi Jaya hampir tidak pernah pulang untuk menemuinya. Devina bisa menghitung berapa kali suaminya pulang ke rumah mereka hanya dengan satu tangan. Lalu, jika barang-barang itu bukan hiasan, untuk apa? Untuk mempercantik pemandangan?

"Lakukan apa saja yang kamu mau dengan barang-barang itu," ucap Jaya. Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh sarkasme Devina, tetapi matanya tertuju pada wanita itu. Jaya selalu tahu bahwa Devina mempesona seperti seorang dewi, tetapi sudah cukup lama sejak dia melihat istrinya dengan santai.

Hari ini, Devina bahkan tampil lebih cantik dengan gaun merah mudanya yang sesuai dengan cuaca di musim saat itu, mata kristalnya berkilauan seperti mata air, dan pipinya yang kemerahan dengan lesung pipitnya yang menggemaskan di saat dia tersenyum. Devina baru saja menginjak usia awal dua puluhan, tetapi di sinilah dia, mengakhiri pernikahannya yang berumur pendek dengan Jaya dan secara resmi menjadi seorang janda. Apakah semua ini salah Jaya?

Jaya menyadarkan dirinya untuk berhenti berpikir berlebihan, agar dia tidak berubah pikiran. Jaya tahu alasan mengapa dia menikahi Devina, dan itu masih jelas dalam ingatannya, tetapi dia sudah mengabulkan keinginan Devina. Devina sekarang memiliki semua kebebasan dan kekayaan untuk dirinya sendiri! Mereka berdua seperti dua jalur yang bersinggungan, saling mengganggu pada titik tertentu, sebelum melanjutkan perjalanan mereka masing-masing.

"Karta, kamu bisa mengantar Nona Salam pulang sekarang," pinta Jaya.

"Tidak, terima kasih. Aku akan pulang sendiri, Tuan Baskoro. Sebetulnya aku berencana akan membeli sebuah mobil mewah untuk diriku sendiri. Lagi pula, uang tunjangan yang sudah kamu berikan kepadaku cukup besar jumlahnya. Bahkan jika aku memutuskan untuk bermalas-malasan selama sisa hidupku, kekayaan ini akan cukup bagiku untuk menikmati gaya hidup mewah sampai akhir hayat nanti!" Devina melambaikan surat perjanjian perceraian di tangannya seperti bendera kemenangan. Dia berbalik membelakangi Jaya dan meninggalkan ruangan kantornya dalam sekejap.

Saat keluar dari ruangan, Devina bergegas untuk duduk di sofa terdekat di ruang tunggu, dengan kuat dia mencengkeram surat cerai itu di tangannya.

Dia berbisik pada dirinya sendiri, 'Akan kutunjukkan padamu, Jaya. Tanpa keluarga Baskoro dan Salam, aku akan memiliki kehidupan merdeka yang bahagia! Aku akhirnya bisa hidup dengan bebas.'

Setelah menenangkan pikirannya, Devina berdiri dan berjalan keluar dari pintu gedung perusahaan itu. Baru pada saat itulah Karta kembali ke ruangan kantor Jaya untuk melaporkan apa yang sudah dia amati.

"Tuan, dia telah meninggalkan gedung. Dia tampak berkecil hati, tetapi memudar begitu dia mampu menenangkan dirinya," lapor Karta. Karta telah bekerja untuk Jaya selama lebih dari lima tahun. Karta tahu segalanya tentang pernikahan Jaya dan Devina, tetapi hari ini adalah pertama kalinya dia melakukan kontak dekat dengan Devina. Bagi Karta, Devina luar biasa istimewa.

"Oke, kalau begitu beri tahu pengacara untuk menyelesaikan surat-suratnya secepat mungkin," Jaya memberi instruksi. Jaya memberikan instruksinya sembari membalik-balik halaman dokumen yang ada di hadapannya.

"Baik, Tuan," jawab Karta sambil meninggalkan ruangan kantor Jaya dengan segera.

Musim semi datang sedikit terlambat pada tahun ini. Devina dengan santainya berkeliaran di jalan-jalan paling ramai di Penang dengan tas mewahnya dan mengabaikan pemandangan mencolok yang ada di sekitarnya. Sejak Jaya menceraikannya, Devina menjadi bebas seperti merpati, tetapi dia tampaknya tersesat di dunianya sendiri.

Tidak ada pasangan di dunia ini yang memiliki kehidupan seperti mereka berdua. Mereka adalah dua orang asing tanpa koneksi. Mereka seolah-olah berasal dari dua alam semesta yang berbeda dan tidak cocok satu sama lain. Tapi sekarang setelah mereka berpisah, Devina merasa lega. Itu adalah pilihan yang terbaik untuk menceraikan Jaya. Dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan! Tanpa ada belenggu dari keluarga Salam, Devina akhirnya lepas dari sangkarnya. Sekali lagi, dia bisa menjadi dirinya yang sebenarnya.

Sudah lebih dari setahun dia menikahi Jaya, tetapi mereka jarang bertemu. Jaya bahkan tidak pernah repot-repot mengajaknya keluar ke berbagai macam acara dan perjamuan yang dia hadiri karena dia sudah memiliki wanita lain untuk menemaninya. Terkadang, dia pergi bersama pasangannya secara acak. Di acara berikutnya, dia akan muncul dengan salah satu bintang muda populer. Setelahnya, dia akan pergi bersama seorang model muda. Devina tidak pernah muncul di setiap pertemuan itu, padahal dia adalah istri Jaya! Betapa konyolnya hal ini, kan?

Bab 3

Faktanya, Jaya memperalat Devina untuk memenangkan proyek-proyek pekerjaannya atas persetujuan keluarga Salam, sementara Devina memperalat Jaya untuk melarikan diri dari keluarga Salam. Mungkin pernikahan mereka berdua hanyalah sebatas hubungan saling memberi dan saling menerima.

Devina yang sedang gusar tidak melihat seseorang bergegas menghampirinya dan menyambar tasnya, sampai akhirnya dia tersadar. Devina tercengang dengan aksi kejahatan yang melintas tepat di depan matanya, tetapi dengan cepat dia bereaksi mengejar perampok itu melalui jalan-jalan yang ramai!

"Hentikan pria itu! Dia merampas tasku!" teriak Devina, berharap ada seseorang yang akan menolongnya. Terlepas dari apa yang dia kenakan, baru kali ini di dalam hidupnya Devina mengejar seorang perampok. Sayangnya, Devina lupa satu ciri khas penting tentang tempat ini. Di sini, orang-orang individualistis dan tidak berperasaan. Jadi, tidak ada yang mau repot-repot datang untuk menolongnya. Beberapa orang bahkan hanya menyiulinya saja.

"Hei! Berhenti!" Devina berteriak. Napasnya terengah-engah saat dia berbelok ke tepi dalam pengejarannya. Jalan ini jauh lebih sepi dibanding dengan jalan yang dia lalui beberapa saat lalu, dan lebih sedikit orang yang lewat. Dia berpikir, 'Sepertinya hari ini adalah hari di mana aku kehilangan tasku dan semua isinya.'

Saat hendak menyerah dalam pengejarannya, sebuah mobil balap merah meluncur melewati Devina dengan ban panasnya dan melintas dengan akurat untuk menghentikan pencuri itu agar tidak kabur. Pencuri yang berlari untuk menghindar itu jatuh ke tanah dengan keras.

Devina mungkin terlihat seperti kuda yang kelelahan, tetapi dia bergegas melepas sepatu hak desainernya dan menghampiri pencuri itu telanjang kaki. Devina merampas tasnya kembali dan melemparnya ke samping. Kemudian Devina menginjak perampok yang sedang kesakitan itu sekeras yang dia bisa. Devina berkata, "Beraninya kamu mencuri tasku!"

Devina sangat marah saat ini. Dia meraih sepatu hak tingginya dan membenturkannya dengan keras ke kepala pencuri itu. Ketika selesai memukuli pencuri itu, dia berdiri tegak dan terengah-engah. Dia tiba-tiba teringat dengan pengemudi yang sudah menolongnya pada saat kesulitan tadi. Dia berpikir bahwa dia harus berterima kasih pada pengemudi itu atas kebaikannya.

Devina mendongakkan kepalanya, dan segera dikejutkan oleh sepasang mata tampan yang berseri-seri ke arahnya. Pria itu tersenyum menatapnya sambil bersandar di mobil. Matanya lembut, dan rahang maskulinnya memiliki garis bentuk yang paling sempurna. Bahkan wanita cantik seperti Devina tidak dapat dibandingkan dengan pesona luar biasa pria ini.

"Ah, terima kasih atas pertolonganmu," ucap Devina. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa lagi selain mengungkapkan rasa terima kasihnya saat berdiri tegak dengan memegang sepatu hak tingginya dan melirik pria menarik yang ada di hadapannya.

"Sama-sama, cantik. Aku tidak akan mengambil pujian untuk itu karena ini semua adalah kegigihanmu mengalahkan pencuri ini," jawab pria itu. Lalu pria itu mengambil tas di tanah dan menyerahkannya kepada Devina. Melihat sepatu di tangan Devina, pria itu menyeringai mengejek, "Kamu tidak tahu bagaimana cara merawat dirimu sendiri, ya?"

Pria itu menggelengkan kepalanya dengan kasihan, kemudian dia mengambil sepasang sepatu hak dari tangan Devina. Pria itu berjongkok dengan satu lutut dan dengan lembut membersihkan solnya sebelum menyelipkan sepatu kembali ke kaki Devina. Kemudian dia mengulangi kesopanan yang sama dengan kaki yang satunya, dan gerakannya tampak begitu mulia dan fasih seolah-olah dia sedang mendandani kakinya sendiri.

Devina ketakutan oleh tindakan insting pria itu dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Dia merasa seperti hewan peliharaan di tangan Jaya, tetapi pria ini membuatnya merasa seperti mangsa. Jauh di dalam lubuk hatinya, Devina berada dalam kepanikan yang histeris saat tindakan sopan itu terjadi. Ini adalah pertama kalinya dia bersikap seperti ini di depan orang asing.

"Kamu…"

Sayangnya, Devina menyerah pada kegelisahannya yang menyiksa. Dia tidak tahu siapa pria ini dan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dengan cepat Devina meraih tasnya, menggigit bibir bawahnya yang montok, dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu, tetapi entah bagaimana dia tidak bisa. Kakinya seperti tertanam di tanah, dan dia tidak bisa menggerakkan satu otot pun.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED