Setelah berdiskusi dengan suaminya, Alisha menjadi lebih tenang. Seperti biasa, wanita muda berparas ayu itu, juga tersenyum ramah pada para ibu-ibu yang mengerubuti tukang sayur keliling. Seketika, mereka menghentikan bisik-bisik itu ketika dari kejauhan melihat Alisha berjalan mendekat.
"Selamat pagi, Ibu-Ibu," sapanya sopan.
Dari beberapa ibu-ibu yang berada di situ, hanya satu orang ibu yang sejak tadi hanya memilih menjadi pendengar. Dia berkali-kali menggelengkan kepala mendengar pembicaraan mengenai uang Bu Siti, pemilik warung yang hilang tadi malam. Wanita paruh baya dengan hijab lebar itu lebih fokus pada apa yang akan dibelinya daripada menyahuti ucapan para tukang ghibah kampung.
"Mbak Alisha mau masak apa, Mbak?" tanyanya pada Alisha yang masih mengedarkan pandangan pada isi gerobak sayur.
"Belum tahu Bu, masih bingung."
"Mas Bintang dinas to Mbak?" tanyanya lagi dengan ramah.
Sedangkan tiga orang ibu-ibu yang tadi membicarakan pesugihan dan uang hilang hanya melirik-lirik ke arah Alisha dan Bu Halimah yang terlihat akrab.
"Hari ini libur, Bu."
"Enak ya jadi Mbak Alisha, punya suami polisi tiap bulan gajinya gede!" sahut si ibu dari grup gossip.
Alisha hanya tersenyum. "Alhamdulillah, Bu," ujarnya santun lalu memutuskan membeli sedikit sayuran dan lauk seadanya karena dia berencana akan pergi ke danau pagi ini.
Setelah membayar, Alisha memilih pamit lebih dahulu. Dia ingat akan suaminya yang masih lari pagi, jadi dia tidak ingin telat membuat sarapan. Sepeninggal Alisha, para tukang gossip kembali beradu argumen.
"Heran saja, padahal kata suamiku, tadi malam uang dari Pak Bintang sudah diludahi, kok masih saja hilang ya?"
"Eeh, Yu. Kan uang dari Pak Bintang dua puluh ribu, yang hilang seratus ribu, katanya Yu Siti.''
"Iya, tuyul tuh kalau ngambil bukan yang kecil Bu, yang besar, tapi satu lembar. Eeh, tadi Mbak Alisha belanja pakai uang seratusan. Coba Kang nanti dilihat barangkali uangnya ikut hilang."
Si tukang sayur dan Bu Halimah hanya menggelengkan kepala. Akhirnya, wanita berwajah ayu itu pun tak tahan untuk bersuara. "Ibu-Ibu, kalau menuduh orang tanpa bukti itu jatuhnya fitnah, lho. Memangnya, Ibu-Ibu nggak takut diibaratkan memakan bangkai daging saudaranya sendiri? Jangan sampai Mas Bintang tahu istrinya difitnah," nasihatnya dengan sabar dan bijak.
"Tapi, Bu Haji, bagaimana bisa kita membuktikan kalau mereka nggak melihara tuyul atau cari pesugihan? Gaji polisi kan nggak besar Bu kalau seperti Mas Bintang. Kita bisa lihat sendiri bajunya Alisha nggak ada yang beli di pasar, Bu. Bajunya mahal-mahal."
"Semua itu wang sinawang Mbak," sahut Bapak Tukang Sayur sambil menghitung belanjaan Bu Halimah.
"Justru, karena nggak tahu kebenarannya, jadi kita nggak bisa menuduh mereka kan Ibu-Ibu? Mari Bu, mau masak dulu," pamitnya sembari tersenyum ramah.
"Belanja banyak banget Budhe Halimah?" tanya seorang perempuan muda yang tengah menggendong anaknya menuju ke tukang sayur.
"Iya Fit, mau buat ngirim orang metik cengkeh."
*
Sementara itu ... laki-laki bertubuh tegap dengan setelan kaos pendek dan celana sebatas lutut tengah berlari-lari di lapangan desa. Kulit kecoklatannya yang basah oleh keringat tampak mengkilat terkena sinar matahari pagi. Sedangkan di satu sisi telinganya terpasang wireless handsfree untuk mendengarkan musik.
"Olahraga, Mas Bin?" sapa bapak-bapak yang tengah mengendarai motor dan memelankan motornya ketika dekat dengan Bintang.
"Nggih Pak, mau ke kebun?" tanya balik Bintang ketika memperhatikan jok motornya ada beberapa karung yang digulung.
"Iya, Mas Bin."
"Panen nggih, Pak?" tanya Bintang lagi.
"Iya, cengkehnya Pak Haji Imran, Mas Bin. Kerja Mas Bin," jawabnya yang diangguki oleh Bintang.
"Nggih Pak, yang penting halal nggih."
"Nah, yang penting itu Mas. Ya sudah Mas, itu teman-temannya sudah pada datang."
Bintang menatap ke arah dua buah motor butut yang ditumpangi 4 orang. Mereka hanya mengangguk sekilas pada Bintang yang berdiri di bibir jalan.
"Monggo Mas Bin."
"Mari Pak, monggo hati-hati Pak, kerja, habis hujan pohon licin."
"Terima kasih, Mas."
Bintang menatap ketiga motor yang menjauh. Dia tersenyum sekilas, udara di desa ini memang terasa sangat sejuk. Suasana desa yang asri jauh dibandingkan dengan kota tempat asalnya yang cenderung panas. Surabaya.
Beberapa belalang kecil melompat dari rumput ketika rumput itu terinjak. Harum rumput bercampur tanah basah semakin menenangkan hati laki-laki itu.
Bintang melangkahkan kakinya menuju ke rumah yang jaraknya sekitar satu kilometer. Sesekali dia menyapa orang yang ditemuinya di jalan.
"Assalamu'alaikum," sapanya saat memasuki halaman rumah yang agak luas dengan tanaman berbagai macam bunga dan cabai di dalam pot.
"Waalaikumsalam, Mas. Ayo cuci tangan terus sarapan Mas," ujar Alisha sambil menenteng wadah kecil yang terisi cabai hijau.
"Hm, masak apa Dik? Cabe masih ijo kok dipetik?"
"Aku buat tahu isi, Mas."
Bintang tersenyum, dia mengusap kepala istrinya yang tertutup hijab itu dengan sayang. Kemudian keduanya memasuki rumah untuk sarapan. Setelah itu, mereka bersiap menemani sang istri ke danau yang berada di utara kota ini.
"Selalu saja ya Mas kalau aku belanja itu disindir-sindir." Alisha kembali mengeluh sambil merapikan hijabnya di depan cermin.
"Yang sabar, jangan terpancing sama omongan orang yang nggak suka lihat orang lain maju. Aku malah bangga sama kamu. Hanya bermodalkan laptop atau ponsel, kamu bisa jadi jutawan."
"Tapi, kupingku panas juga, Mas!" sahut Alisha masih kesal.
Lagi-lagi, Bintang hanya tersenyum lalu menarik tangan istrinya menuju ke teras samping rumah mereka yang berfungsi sebagai garasi.
"Mas nggak bawa motor saja? Nanti pasti kalau ada tetangga lihat nyinyir lagi deh."
"Sayang, jarak danau lumayan jauh kalau kehujanan di jalan bagaimana? Biarkan saja mereka nyinyir. Mobil kita sendiri ini. Lagian Ayah ngasih mobil untuk hadiah pernikahan kita bukan buat pajangan kan?" Alisha mengangguk membenarkan, lalu mengikuti suaminya masuk ke dalam mobil.
"Tuh kan, baju bagus-bagus belinya di toko semua. Mobilnya bagus. Paling kalau nggak cari pesugihan ya korupsi," cibir seorang ibu bertubuh tambun sambil menjemur padi di halaman rumahnya yang luas.
Dia mengangguk dan tersenyum manis saat Bintang membunyikan klakson lirih untuk menyapanya. Benar-benar mirip orang munafik ulung.
Sedangkan perempuan yang berbadan agak kurus itu, hanya bisa mengangguk menyetujui asumsi si perempuan bertubuh tambun.
Mereka menatap ke arah Honda City warna hitam itu yang semakin menjauh. Si ibu bertubuh tambun kembali sibuk menjemur padi, meratakan dengan kakinya sambil menautkan kedua sisi telapak tangannya di belakang pinggang.
*
Danau dengan dikelilingi hutan pinus itu tampak lumayan ramai. Ya, masyarakat dalam kota atau dari kota lain sering menghabiskan waktu mereka di tepi danau yang menjadi destinasi wisata Kota Reog ini. Apalagi, dengan adanya Mloko Sewu, maka para pengunjung bisa melihat dari ketinggian, danau dengan airnya yang hijau.
Setelah puas menikmati keindahan alam Telaga Ngebel dan makanan khas pinggir telaga, seperti nasi thiwul goreng dan ikan bakar, maka Bintang mengajak istrinya itu menuju ke Mloko Sewu. Tak henti-hentinya pasangan yang baru satu tahun menikah itu pun mengabadikan momen langka itu dengan kamera handphone.
"Jadi, ini ceritanya bulan madu tipis-tipis ya, Dik? Bagus banget."
Alifa mengangguk membenarkan. "Iya benar, tempatnya keren banget, Mas."
"Kamu berdiri di situ, aku fotoin dekat pohon pinus, madep sini. Jadi, biar kelihatan danaunya."
Alisha menurut, puluhan kali Bintang dan Alisha bergantian mengabadikan momen itu. Bintang tampak mendekat ke arah sepasang kekasih yang duduk tak jauh dari mereka untuk meminta tolong di foto. Dengan senang hati gadis itu memfoto bintang bersama Alisha.
"Sekali lagi ya, Mas. Mbaknya agak begini!" perintahnya sambil memberi instruksi yang langsung dituruti oleh Alisha.
"Kurang mesra Masnya," celetuk gadis itu yang membuat Bintang dan Alisha tertawa.
Saat hendak mengambil foto terakhir, handphone Bintang berdering tanda ada panggilan masuk. Sontak gadis itu mengulurkan handphone ke arah Bintang.
"Ada telepon Mas."
"Oh iya, terima kasih banyak Mbak."
Bintang segera mengangkat telepon tersebut dengan raut wajah terkejut. Dia menatap istrinya sekilas. "Baik. Siap, saya segera ke sana."
"Ada apa, Mas?" tanya Alisha yang melihat raut wajah tak terbaca dari suaminya.
"Pak Duki, katanya jatuh dari pohon cengkehnya Pak Haji Imran dan meninggal. Maaf Sayang, ayo kita pulang aku harus ke TKP, " jawabnya lirih.
* * *
"Dulu, desa ini aman Yuu, aman. Nggak ada kejadian aneh-aneh seperti ini. Tapi, kenapa sejak kedatangan kedua orang itu jadi banyak kejadian aneh ... ? Hu... huuu, benar-benar bawa sial. Bukan hanya sering ada duit yang hilang, tapi nyawa suamiku juga ikut hilang. Tadi pagi masih segar bugar, Buu ..."
Racau seorang perempuan berusia 30 tahunan meratapi kepergian sang suami yang tiba-tiba. Kedua matanya bengkak memerah. Di sebelahnya, seorang anak perempuan remaja juga menangis sesenggukan.
"Sepertinya benar mereka punya pesugihan. Kemarin malam, warung Yu Siti habis didatangi orang itu, paginya kehilangan uang. Terus tadi pagi bertemu orang itu juga, eeh ... Kang Duki jatuh dari pohon cengkeh. Katanya, waktu mereka bertemu, orang itu sempat bilang suruh hati-hati karena pohon licin. Seolah sudah tahu bakalan terjadi," timpal ibu lain sambil melirik-lirik ke arah Alisha yang datang bersama Bu Halimah.
Ucapan mereka yang tidak menyebut nama dan menggantinya dengan kata 'orang itu', tetapi lirikan sinisnya tertuju pada Alisha, jelas membuat Alisha harus menahan kesabaran yang berlipat. Dia menoleh, saat Bu Halimah yang mengusap-usap lengannya mengisyaratkan untuk selalu bersabar.
Perhatian para tetangga yang berkumpul di rumah almarhum Pak Duki, tertuju ke sebuah mobil ambulance yang berhenti di halaman rumah bergaya joglo itu.
Beberapa petugas dari rumah sakit turun dari ambulance dan membawa jenazah Pak Duki untuk dibacakan Yaasin sebelum dishalatkan.
"Mama, Mama! Kenapa tubuh Pakdhe Duki hijau seperti pohon pisang, Mama?" tanya seorang bocah berusia sekitar 4 tahun dengan polos.
Ucapan bocah laki-laki yang sedang memakan camilan itu, sontak membuat semua mata orang dewasa memandangnya. Ada beberapa diantaranya mengusap tengkuk dan lengannya yang meremang.
Pak Haji Imran selagi yang punya pohon cengkeh juga berada di antara mereka. Dia juga bertugas sebagai imam shalat. Kejadian yang menimpa Pak Duki memang murni kecelakaan, setelah dilakukan olah TKP dan mengumpulkan keterangan, dari beberapa teman Pak Duki yang bekerja bersama laki-laki nahas tersebut. Pak Haji Imran juga bertanggung jawab penuh atas musibah tersebut.
"Mama ayo pulang, aku takut. Itu kasihan Pakdhe Duki menangis di sana Ma, dia diikat sama anak kecil-kecil," racau bocah lugu tersebut sambil menunjuk ke sebuah arah.
Bu Halimah segera mendekati dan mengusap kepala bocah laki-laki yang mulai menangis ketakutan. "Fit, ajak pulang Rafli. Rafli pulang dulu ya, Nak. Main saja di rumah Budhe Imah, ada Dedek Sofi di sana."
Bocah itu mengangguk. "Ayo Mama ke rumah Dedek Sofi," rengeknya.
Fitri, ibu si bocah bernama Rafli itu mengangguk lalu menggendong anaknya. Rafli masih terus menoleh menatap takut-takut pada jenazah Pak Duki yang terbujur kaku di ruang tamu. Sesekali bocah itu menggedikkan bahu mengekspresikan kengerian.
Setelah membacakan Yaasin pada almarhum Pak Duki, kini jenazah dishalatkan dipimpin oleh Haji Imran.
Entah mengapa sejak menjadi imam shalat dan sering mengurus jenazah, baru kali ini Pak Imran juga merasakan hal aneh.
Sepanjang menjadi imam shalat bulu kuduknya meremang, yang membuatnya hampir kehilangan konsentrasi.
Bahkan, hal itu terjadi ketika prosesi pemakaman. Tubuh Pak Duki yang tergolong kecil untuk ukuran laki-laki juga terasa begitu berat, saat dimasukkan ke liang lahat. Prosesi pemakaman pun selesai. Tak berapa lama, mereka meninggalkan area pemakaman.
"Turut berduka cita Bu, semoga Pak Duki dilapangkan kuburnya dan di ..." Ucapan Bintang yang baru datang dari kantor dan langsung ke pemakaman, terhenti saat terdengar ucapan sinis dari istri Pak Duki.
"Pak Bintang nggak perlu pura-pura berbelasungkawa, Pak," sahutnya ketus dan melengos begitu saja. Kemudian berlalu bersama ibu-ibu yang lain.
"Astaghfirullah," ucap Bintang lirih sambil menggelengkan kepala samar.
"Ya, dimaklumi Pak Bin, namanya orang berduka. Apalagi, tadi pagi suaminya masih sehat, pulang tinggal jadi mayat."
"Dan anehnya, tadi si Duki sebelum jatuh sempat teriak, katanya ada anak kecil menarik-narik kakinya," celetuk laki-laki lain menimpali.
Bintang menatap dua orang yang baru saja berbicara itu. Dia ingat, laki-laki itu yang tadi pagi berboncengan hendak memetik cengkeh. Tetapi, Bintang tidak tahu namanya, yang Bintang ingat hanya Pak Rahmat yang tadi pagi sempat berbincang-bincang sebentar sebelum keempat temannya datang.
Ucapan laki-laki bertubuh kurus itu memancing perhatian para laki-laki yang hendak pulang ke rumah masing-masing. Tak terkecuali Pak Haji Imran dan yang lainnya.
"Sepertinya memang, kampung kita ini ada yang cari pesugihan."
Bintang menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyahut. "Pak, saya tidak percaya dengan apa itu pesugihan! Saya hanya percaya jika rejeki yang Allah kasih pada setiap hamba-Nya itu, tidak akan salah alamat."
"Lho, aku kan nggak bilang Mas Bin punya pesugihan, kenapa Mas Bintang sensi?" tanyanya dengan senyum mengejek.
"Saya tidak sensi Pak, tapi saya sudah muak dengan semua sindiran warga setiap kali bertemu istri saya. Kalau hal ini terus berlanjut, saya sebagai suami tidak tinggal diam Pak!" sahut Bintang lagi dengan tegas.
"Mas Bintang mau tuntut kami? Hoho, silakan Mas. Kami tahu Mas Bin punya kuasa untuk itu."
Bintang memejamkan mata menahan amarah. Dia beristighfar berkali-kali dalam hati menghadapi kengeyelan orang-orang seperti di depannya.
"Mau tuntut, tapi kalau nggak ada bukti Mas Bin yang pergi dari kampung sini, betul nggak?" tanya laki-laki kurus itu meminta persetujuan temannya.
Pak Haji Imran yang sudah tidak tahan, akhirnya bersuara, "Sudah cukup Bapak-Bapak! Kenapa di saat berduka seperti ini malah sibuk mencari kambing hitam? Kematian itu pasti dan mutlak kuasa Allah!"
"Tapi, Pak Haji, kematian Kang Duki nggak wajar."
"Bagaimana Bapak bisa mengatakan itu kematian tidak wajar? Bukankah pihak rumah sakit yang melakukan autopsi dan pihak kami yang melakukan olah TKP murni itu kecelakaan?" sahut Bintang dengan tatapan mata tajam.
Kedua orang di depannya saling pandang dan masih mencoba mencari pembenaran. "Ya, ya tadi kan ... kan, Kang Duki sempat teriak-teriak di pohon cengkeh, Mas. Lalu, tadi pagi bertemu Mas Bintang. Semalam warung Yu Siti juga kehilangan uang setelah Mas Bintang mampir!" asumsinya tanpa berpikir panjang.
"Ck, astaghfirullah," lirih Bintang dengan dada naik turun.
"Pak Narso sudah, berhenti suudzon. Mas Bin, sudah Mas. Nggak ada ujungnya kalau diladeni terus."
Bintang menatap Pak Imran lalu mengangguk pelan. Dia segera bergegas meninggalkan kedua orang yang masih menatap sinis padanya.
"Aku jadi takut kerja ikut Pak Haji. Kalau bukan Mas Bintang, masa iya Pak Haji yang punya pesugihan?" gumamnya yang langsung mendapatkan sentakan umpatan dari arah belakang.
"Bangsat ya kalian! Bapak sudah memberikan kalian pekerjaan malah berpikir Bapak punya pesugihan?"
Umpatan Farrel yang ternyata sudah ada dibelakang mereka membuat keduanya kaget.
"Farrel sudah, astaghfirullah!" sahut Pak Haji Imran sedikit berteriak pada anaknya.
Pemuda dengan wajah memerah menahan amarah itu tersenyum sinis. "Jangan-jangan justru salah satu dari kalian yang punya pesugihan, atau malah kalian berdua?" tanya Farrel sinis dengan tatapan menyelidik.
* * *