Sesampainya di panti asuhan, Xaviera melihat banyak sekali anak-anak yang sedang bermain.
Xavier memegang jemari adiknya sambil berjalan menuju ruangan kepala panti. Xaviera memandangi sekitarnya sambil memegang sebuah boneka beruang pemberian mendiang ayahnya.
Seorang anak menyapa Xaviera ketika melintasi taman. Xaviera pun membalas sapaan anak itu. Xavier yang melihat itu pun menawarkan pada adiknya untuk bergabung pada anak-anak panti yang sedang bermain. Xaviera pun setuju.
Dengan tidak ikutnya Xaviera ke ruangan kepala panti membuat Xavier lebih leluasa menceritakan kondisi mereka tetapi tetap menutupi identitas adiknya.
"Kamu bermain bersama mereka, ya!. Kakak mau ke ruangan itu," Xavier menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah bangunan yang merupakan kantor kepala panti, Xaviera hanya mengangguk.
Xaviera pun di ajak oleh teman-teman barunya menuju taman bermain mereka. Xavier memandangi punggung adiknya yang ketika itu berjalan menuju taman bermain.
"Semoga ini adalah tempat yang tepat buat kamu, Xaviera." gumam Xavier.
Xavier melanjutkan perjalanannya menuju ruang kepala panti.
Pintu ruangan di ketuk oleh Xavier, si pemilik ruangan pun meminta Xavier masuk. Sebelumnya Xavier sudah menghubungi ketua panti dan sudah sepakat untuk mengantarkan Xaviera ke panti asuhan itu.
Ketua panti meminta penjelasan alasan Xavier menempatkan adiknya di panti asuhan. Mendengar penjelasan dari Xavier, kepala panti pun mengizinkan agar Xaviera untuk tinggal di panti asuhan.
Ibu Ratna yang merupakan kepala panti dan Xavier keluar dari ruangan untuk mempertemukan bu Ratna dengan Xaviera. Mereka berjalan menuju taman bermain.
"Kakak!," teriak Xaviera kemudian Xavier melambaikan tangannya dari kejauhan.
Terlihat Xaviera berlari untuk menyusul Xavier.
"Sepertinya kamu sangat dekat dengan adik kamu," ucap bu Ratna.
"Adikku adalah harta paling berhargaku. Aku mohon pada ibu untuk menjaga adikku," sahut Xavier.
"Itu sudah pasti."
Tak lama Xaviera sampai di hadapan Xavier. Kemudian ia pun menundukkan badannya untuk menyambut adik kesayangannya.
"Apakah hari ini kamu bahagia?," tanya Xavier.
"Aku bahagia, kakak. Mereka teman-teman yang sangat menyenangkan," jawab Xaviera.
"Ayo di salam dulu bu Ratna nya. Ibu ini yang akan menjaga kamu di sini,"
Xaviera menoleh ke arah bu Ratna dengan senyuman khasnya dan menuruti perintah kakaknya untuk memberi salam pada ibu Ratna.
"Wah, cantik sekali adik Grizelle dan juga pintar." puji bu Ratna sambil tersenyum.
Kemudian bu Ratna mensejajarkan tubuhnya dengan Xaviera.
"Di sini ada banyak ibu yang akan menjaga kamu," ucap bu Ratna sambil mengusap puncak kepala Xaviera.
"Wah, Grizelle akan memiliki banyak ibu dong," ujar Xavier dengan ekspresi senang agar adiknya mau tinggal di panti asuhan.
Xaviera terdiam saat kakaknya menyebut namanya yang bukan lagi Xaviera melainkan Grizelle. Xaviera belum terbiasa dengan penyebutan nama tengahnya.
Bu Ratna mengajak Xavier dan Xaviera menuju kamar anak-anak panti untuk meletakkan barang-barang milik Xaviera. Tak lupa Xaviera menggandeng tangan kakaknya saat menuju ruangan.
"Kak. Ketika bertemu ayah nanti, katakan aku merindukannya. Jangan lupa,ya!" pesan Xaviera pada Xavier.
Ucapan Xaviera membuat hati Xavier semakin teriris. Ingin rasanya ia segera membalas dendam pada mafia itu karena sudah merenggut kebahagiaan mereka. Ayah mereka adalah sumber kebahagiaan mereka.
"Iya. Nanti akan aku sampaikan pada ayah," ujar Xavier.
Saat membuka pintu ruangan, terlihat ada banyak tempat tidur dan lemari yang berjajar dengan rapinya.
"Wah, Grizelle tidur tidak sendiri lagi. Ada banyak teman yang akan menemani Grizelle tidur." Lagi-lagi Xavier mengubah ekspresinya menjadi ekspresi bahagia.
"Wah, asyiknya." Xaviera terlihat sangat bahagia.
Setelah menyusun barang-barang milik Xaviera di lemari, Xavier pun pamit untuk pergi. Awalnya Xaviera tidak mau melepaskan kepergian kakaknya dengan bujuk rayu dari kepala panti, akhirnya Xaviera pun merelakan kakaknya untuk pergi.
"Jangan lupa sampaikan pada ayah, aku merindukannya !" teriak Xaviera pada Xavier yang saat itu sambil terisak dan wajahnya di penuhi air mata.
Xavier tidak berani menoleh ke arah adiknya. Ia tidak ingin adiknya menyaksikan air matanya yang jatuh membasahi pipinya.
"Akan kakak sampaikan," sahut Xavier sambil melambaikan tangannya tanpa melihat ke arah adiknya.
Hati Xavier memang sudah hancur berkeping-keping ketika ayahnya di habisi para mafia. Kalau tidak ada adiknya, mungkin sudah tidak ada lagi semangat hidupnya.
Melihat Xavier yang sudah semakin jauh, bu Ratna pun mengajak Xaviera untuk bermain kembali dengan teman-temannya. Dengan langkah gontai, ia pun menuruti ajakan bu Ratna.
Dari kejauhan Xavier masih dapat melihat adiknya yang sedang bermain bersama teman-temannya tetapi tidak sebahagia sewaktu awal mereka datang.
"Kakak akan kembali lagi setelah menyelesaikan tugas yang harus kakak laksanakan, menghabisi orang-orang yang telah membunuh ayah," batin Xavier.
Sebelum pergi meninggalkan rumah, Xavier memberitahukan ke tetangganya bahwa rumah mereka akan di sewakan. Hal itu ia lakukan untuk menghindari ancaman dari mafia yang kemungkinan akan kembali lagi ke rumah mereka dan juga uang sewa rumah itu akan di gunakan Xavier untuk bertahan hidup sampai ia menemukan pekerjaan baru.
Tak butuh waktu lama, tetangga pun memberitahukan bahwa ada yang ingin menyewa rumah mereka. Xavier pun meminta agar penyewa bersedia menyewa rumah mereka selama sepuluh tahun. Penyewa menyetujui permintaan Xavier.
Xavier bersiap-siap mengemasi barang-barangnya karena besok rumah mereka akan mulai di tempati penyewa. Xavier tidak memberitahukan kepada tetangganya kemana ia akan pergi untuk menghindari para mafia yang kemungkinan akan datang kembali.
Xavier pergi ke luar kota. Sesampainya di sana ia tidak tahu hendak pergi kemana karena ia belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di daerah itu.
Merasa perutnya mulai minta di isi ulang, Xavier pun menuju rumah makan yang berada di sekitar posisinya saat ini.
Selesai makan ia mulai mencari tempat tinggal dengan harga murah. Ia pun mulai mencari melalui aplikasi pencarian dan akhirnya ia pun menemukan tempat yang ia inginkan. Bermodal dengan ponsel dan juga bertanya pada setiap orang yang ia temui, akhirnya ia sampai di tempat tujuannya. Sebuah rumah dengan ukuran kecil yang jauh dari padat penduduk.
Terlihat rumah itu sudah lama tidak di tinggalin dan pemilik rumah itu pun memberi harga sewa yang sangat murah agar rumah itu tidak terbengkalai.
Setelah serah terima kunci, rumah dengan halaman yang di tumbuhi ilalang itu pun segera di bersihkan oleh Xavier. Pada saat memasuki ruangan dalam rumah, sempat bulu kuduk Xavier bergidik. Rumah yang telah lama kosong sehingga meninggalkan kesan angker. Tapi apa boleh buat hanya rumah ini yang bisa di tempati Xavier dengan anggaran sesuai kantong Xavier.
Tak lama datang si pemilik rumah dengan membawa beberapa cat tembok dan sebuah kasur dari rumahnya. Segera Xavier mengecat dinding-dinding rumah dengan warna cat yang cerah untuk menghilangkan kesan horor pada rumah itu.
Xavier mulai merasa lelah karena setibanya di sini, ia sama sekali belum istirahat. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan di esok hari dan memikirkan rencana yang akan ia jalankan.
Xaviera tampak gelisah di atas kasurnya. Berkali-kali ia mengganti posisi tidurnya. Rasa rindu terhadap ayah dan kakaknya pun datang menyerang.
Xaviera duduk di pinggir kasurnya dan menghadap jendela.
Semenjak ia lahir, ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Tetapi tidak masalah baginya karena ayah dan kakaknya telah memberikan ia kasih sayang yang berlimpah tetapi kini ia harus jauh dari mereka.
Xaviera mengatur posisinya lagi. Ia duduk di tengah ranjangnya dengan posisi memeluk lututnya dan menunduk. Air matanya pun perlahan membasahi pipinya.
"Mengapa kalian membiarkanku berada di sini? Apakah kita tidak bisa seperti dahulu lagi?" Isak Xaviera.
Kemudian Xaviera turun dari ranjangnya dan berjalan menuju lemarinya. Ia mencari foto mereka bertiga. Saat menemukan foto itu air mata Xaviera tak juga berhenti. Jari mungilnya menyentuh foto ayah dan kakaknya.
"Aku belum terbiasa tinggal di sini. Aku ingin kita kembali berkumpul," gumam Xaviera.
Xaviera yang masih berusia tujuh tahun itu di tuntut untuk dewasa oleh keadaanya. Dimana kebanyakan anak seusianya masih bermanja pada orang tuanya.
Xaviera menegakkan kembali kepalanya dan menyeka air matanya. Saat menuju ranjangnya, tak sengaja ia melihat teman-teman sekamarnya yang masih berada di alam mimpi.
"Seharusnya aku bersyukur. Walaupun aku tidak tahu dimana keberadaan ibuku, aku masih sempat merasakan kasih sayang ayah dan kakakku. Sedangkan teman-temanku yang berada di sini tidak pernah merasakan kasih sayang keluarga bahkan mereka tidak mengetahui siapa keluarga kandung mereka," Xaviera mencoba menghibur diri.
"Grizelle, mengapa kamu belum tidur?," tanya ibu panti yang pada saat itu sedang bertugas memeriksa setiap ruangan di panti.
"Aku tidak bisa tidur, bu." jawabnya.
"Ada yang bisa ibu bantu untukmu?," tanya ibu panti.
"Aku hanya belum mengantuk, bu."
"Segeralah tidur. Anak seusia kamu harus cukup tidurnya untuk memaksimalkan pertumbuhan kamu. Ketika kamu bertemu dengan ayah dan kakak kamu nanti, ia akan bangga padamu karena kamu akan tumbuh menjadi anak yang pintar dan cantik," ucap ibu panti.
Mendengar ucapan ibu panti yang menyinggung ayah dan kakaknya seketika Xaviera kembali bersemangat. Ia segera merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya. Tak lupa sebelum tidur ia pun berdoa.
Perlahan Xaviera mulai menutup matanya dan mulai memasuki alam mimpinya.
Di dalam mimpinya, Xaviera bertemu dengan seorang pria dengan memakai pakaian serba putih. Wajah pria itu mirip sekali dengan wajah ayahnya. Wajah cerah dan juga senyum yang mengembang menghiasi wajah pria itu. Kemudian ia menggerakkan lengannya agar Xaviera mendekat. Xaviera pun menuruti pria itu. Pria itu memeluk Xaviera. Pelukan pria itu seperti pelukan ayahnya.
"Ayah," panggil Xaviera.
Tak lama datanglah seorang wanita yang wajahnya tersamarkan. Ia memaksa agar ayah melepaskan pelukannya terhadap Xaviera. Wanita itu membawa Xaviera dengan paksa. Xaviera terus memanggil-manggil ayahnya. Dari arah belakang ayahnya, ada seorang pria yang membawa sebuah pistol dan suara pistol itu menggema. Ayahnya pun tersungkur.
"Ayah... Ayah!" teriak Xaviera sambil membuka matanya.
Sekujur tubuhnya basah bermandikan peluh. Ia pun tersadar jika peristiwa yang ia lihat hanyalah mimpi. Ia melihat jam yang berada di dinding sudah hampir subuh. Ia pun kembali terjaga.
Xaviera kembali duduk diatas ranjangnya. Ia mulai mengingat peristiwa dimana ayah ya meminta ia untuk bersembunyi di ruang bawah tanah dan kemudian ia mendengar suara letusan sebuah senjata. Sebelum letusan itu terjadi terdengar ayahnya sedang adu mulut dengan dua pria. Xaviera tidak tahu percis siapa mereka. Ia hanya menuruti perintah ayahnya agar ia bersembunyi dan keluar ketika ayahnya memanggil tetapi sudah lama ia menunggu, ayahnya tak juga datang memanggilnya. Ketika ia keluar dari ruang bawah tanah, ia melihat ayahnya sudah tergelatak di lantai dan di samping ayahnya ada kakaknya yang sedang menunduk.
Xaviera juga mulai curiga dengan ucapan kakaknya yang mengatakan jika ayahnya sedang tertidur dengan posisi telungkup. Setelah itu ia di titipkan ke tetangga dan ketika malam barulah kakaknya menjemput Xaviera. Saat berada di rumah tetangga, ia pun melihat banyak warga sekitar yang berjalan ke arah rumah mereka. Ketika ia hendak mencari tahu, tetangganya itu melarang ia untuk keluar.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa ayah pergi tanpa permisi padaku. Biasanya juga setiap kali pergi kerja, ayah selalu berpamitan. Bahkan aku selalu mencium punggung tangan ayah," gumam Xaviera.
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Xaviera yang mungkin untuk saat ini ia tidak dapat menemukan jawabannya.
Terdengar suara pintu di buka. Ibu panti datang untuk membangunkan anak-anak yang masih tertidur.
Seketika panti kembali ramai dengan suara-suara penghuni panti. Ada yang sedang membersihkan ruangan, ada yang sedang mengantri di pintu kamar mandi, dan terdengar juga gelak tawa dari penghuni panti yang sedang mengobrol.
Xaviera mengamati teman-temannya. Wajah-wajah temannya yang sepertinya tidak memiliki beban hidup. Mereka tampak ceria dan menikmati hidup mereka.
"Aku yang seberuntung ini, masa kalah dengan mereka. Aku juga harus bisa sebahagia mereka. Mereka bisa masa aku tidak," Xaviera memotivasi dirinya sendiri.
"Hei Grizelle! Ayo gabung!," ajak Cika.
Awalnya Xaviera tidak peka dengan ajakan Cika. Karena ia masih asing dengan panggilan Grizelle.
"Grizelle. Ayo kita sarapan bareng!," Cika memanggil Xaviera kembali.
Xaviera menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Kamu, jadi siapa lagi? Hanya kamu seorang yang memiliki nama seperti orang bule. Grizelle.... Grizelle, aneh kamu." ucap Cika.
Segera Xaviera berjalan menuju Cika dan teman-teman.
"Sedari tadi aku lihat kamu bengong melulu di situ. Kamu kenapa sih?," tanya Cika.
"Aku belum paham betul kebiasaan di sini. Aku sepertinya perlu lebih banyak belajar," Xaviera mencari alasan.
Xaviera mengambil sarapan yang sudah tersedia di atas meja. Terlihat enak tetapi makanan itu tidak mampu membangkitkan rasa lapar Xaviera.
Xaviera hanya mengaduk-aduk makanannya saja tanpa memakannya sehingga Cika pun protes.
"Sepertinya hari ini kamu sedang tidak baik-baik saja," tebak Cika.
"Aku tidak lapar."
"Kamu harus makan. Kesehatan harus di jaga."
Xaviera hanya terdiam ketika Cika menegurnya sehingga membuat Cika penasaran.
"Sebenarnya kamu kenapa sih?" tanya Cika lagi.
"Aku rindu pada ayahku," jawab Xaviera lirih.
"Dengarkan aku! Kamu akan baik-baik saja di sini. Kami yang berada di sini tidak tahu siapa orang tua kami tapi kami di sini semuanya baik-baik saja. Simpan saja rindumu terhadap ayah kamu. Jika ia menyayangi kamu pasti ia akan datang menjemput kamu. Sudahi sedih kamu. Tetaplah bahagia bersama kami," Cika memberi nasihat pada Xaviera.
Usia Cika terpaut delapan tahun di atas Xaviera. Kisah hidup Cika hampir sama dengan Xaviera tetapi bedanya Cika mengetahui jika ayahnya meninggal sementara Xaviera tidak mengetahui jika ayahnya telah meninggal.