Perselisihan antara yang baik dan yang jahat muncul secara bertahap. Demora terus mengusap layarnya hingga sampai dititik sebuah nama yang membuatnya berdiri dengan wajah khawatir.
“Papa … Papa dalam bahaya! Xena! Yuka!” seru Demora.
“Kami ada di sini, Nona.” Keduanya muncul dengan cepat.
“Antarkan aku untuk mengikuti perginya Papa.”
“Tapi, Tuan Mara sudah memperingatkan kami untuk tidak mengantarkan Nona ke sana.”
“Apa? Jadi … Papa sudah mengetahui hal ini?”
“Nona sebaiknya duduk dengan tenang, kami akan memastikan Tuan dalam keadaan baik-baik saja.”
Aneh untuk mengatakan bahwa meskipun dia tidak terlihat khawatir. Demora berdiri, dan sebuah dering telepon menghentikan langkahnya.
“Halo?”
“Papa sangat menyayangi dirimu, Demora.”
Boom!
“PAPA!”
Ketika dia selesai dengan teriakannya, tubuhnya melemah dan Xena dengan cepat menangkap Demora.
“Siapkan semua, berikan tugas pada Wood untuk mencari tahu mengenai kejadian yang menimpa Papa. Aku ingin semua mencari orang yang sudah melakukan ini.” Demora sangat bersungguh-sungguh dalam ucapannya kali ini.
Kemarahan yang dia miliki membuat hati baik itu berubah menjadi sosok yang kejam dan juga menakutkan. Tidak ada yang berani mendekat saat Demora sedang marah. Bahkan Rui sang adik angkat hanya bisa menatap dari kejauhan.
Sebelum dia bangkit, dan berdiri, pintu istana tiba-tiba terbuka dari luar. Seorang pria dengan kemeja hijau dan celana biru didorong oleh Wood dan jatuh ke tanah.
Wood meletakkan tangannya di pinggangnya dan memblokir pintu masuk Mansion, dan berkata dengan cara yang aneh.
"Maafkan aku kembali dengan terlambat, apakah ada hal yang aku lewatkan?"
“Seseorang membunuh Papa.”
Setelah itu, Wood membanting pintu dan merusak pintu hingga hampir terlepas.
Wood menatap wajah sedih Demora, dia bersumpah akan menemukan siapa orang yang berani melakukan hal itu pada Salvatrucha.
“Cari mereka, bawa ke hadapanku, dan biarkan aku menjadikan mereka makanan hewan peliharaanku,” ujar Demora dengan tegas.
Tanpa diduga, begitu jari-jari kaki menyentuh daun pintu, seluruh Mansion tiba-tiba menjadi gelap, dan seluruh Mansion terbungkus rapat oleh asap hijau yang tidak lain adalah boom air mata.
Demora segera diselamatkan oleh Xena dan Yuka, Raven berada di lantai atas dengan bidikan yang tepat menembak satu orang di sana.
“Nona, cepat masuk ke dalam Mansion milikmu!” ucap Xena.
“Kalian bagaimana?” tanya Demora.
“Kami akan menyusul.”
Demora berlari menuju ke Mansion miliknya. Bersembunyi ke dalam sebuah ruang rahasia yang terlihat sangat gelap dan seperti lorong panjang. Bersama Yuka, Demora berlari sampai di ujung tempat itu, sebuah garasi mobil tempat kendaraan milik Demora terparkir rapi.
Demora memelototi gerbang Mansion, dan menyesal karena keadaan. Dia merasa tidak berguna saat ini, semua orang yang ada di dalam Mansion berusaha untuk mempertahankan bangunan besar dan luas itu. Sedangkan Demora bertahan di sebuah bangunan kecil yang terletak tidak jauh dari Mansion.
Pada saat ini, hujan berangsur-angsur berkurang, dan Demora bisa merasakan jika pertarungan itu telah selesai.
“Sebaiknya tetap di sini sampai Wood datang dan mengatakan jika Mansion sudah siap,” jelas Yuka.
“Yuka, siapa yang menjemput Papa?” tanya Demora.
“Jagger sudah berada di sana, dan menemukan jasad Tuan Mara, aku mendapatkan pesan darinya untuk mempersiapkan rumah duka dan juga pembakaran jasad.”
“Yuka, kita akan menemui Papa di tempat Mama berada.”
“Ya, Nona.”
“Aku tidak bisa berpakaian dengan layak jika keadaan masih seperti ini. Apa kau bisa mendapatkan pakaian itu?”
“Tentu saja, Nona. Tunggulah di sini, dan Wood akan datang dengan membawakan semua kebutuhanmu.”
Demora mengangguk, lalu menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangan. Wanita itu kembali terpuruk, kehilangan seorang yang sangat dia cinta. Seorang yang sangat berjasa dalam hidupnya.
Demora terlihat tidak sadarkan diri setelah Yuka memberikan bius. Dia harus melakukannya, sebelum Demora merusak dan membantai orang-orang tidak bersalah di sekitar sana.
Tidak lama setelah itu, Wood datang dengan membawa satu nama yang sudah menjadi incaran Demora.
“Salvador bertingkah rupanya,” ujar Wood.
“Dia baru saja tertidur, kita siapkan semua dan membangunkannya saat Tuan sudah berada di rumah duka.”
Yuka memindahkan tubuh Demora ke atas ranjang. Lalu menyiapkan sebuah gaun hitam untuk hadir dalam acara pemakaman sang ayah.
“Yuka, aku tahu kau sangat sedih melihat Nona. Jangan pernah mengurangi kewaspadaanmu selama berada di sana. Kau tahu jika mereka bisa saja hadir dan mengganggu kegiatan pemakaman.”
“Aku mengerti, Wood.”
“Baiklah, aku akan pergi sekarang. Jaga Nona kita, karena setelah acara pemakaman selesai, dia akan menjadi pemimpin baru Salvatrucha.”
“Aku mengerti.”
Kepergian Wood membuat suasana menjadi hening. Yuka melihat wajah Demora yang sembab, perlahan … tangannya dengan lancang meneyntuh wajah lembut sang Nona.
“Aku akan menjagamu, apapun yang terjadi.”
***
Tubuh Mara terlihat berlubang, ada sedikitnya sepuluh peluru yang menembus tubuh kekar itu. Kulit tubuhnya yang terbakar, masih mengeluarkan aroma seperti daging panggang. Pria itu sudah berada di dalam peti mati. Terbujur kaku dengan jas hitam yang terakhir kali dikenakan. Tidak ada yang berani mengubah semuanya. Karena begitu tubuh itu tersentuh, aka nada bagian yang terlepas.
Demora berdiri di samping peti sang ayah. Dia tersenyum dengan berkata,” Papa, kau curang. Kenapa kau pergi bersama Mama dan meninggalkan aku?”
Tatapan mata yang kosong itu terlihat jauh mengerikan dari pada tatapan mata yang sedih. Ada banyak orang yang datang dan pergi di rumah duka. Rekan bisnis, colega, teman, kerabat, dan juga pesaing. Semua yang datang memberikan ucapan kesedihan.
“Nona, aku tidak begitu mengenal Tuan Mara. Tetapi … aku tahu kalian adalah kelompok yang sangat baik dalam setiap bisnis juga perdagangan yang dilakukan. Aku ikut bersedih karena kehilangan satu orang besar.”
“Tuan terlalu berlebihan, Papa memang orang baik di mata keluarga. Aku harap Tuan bisa bermurah hati untuk tidak berkata seperti itu lagi.”
“Nona!” seru Yuka.
“Papa sudah beristirahat, kau bisa pergi sekarang,” sambung Demora.
Yuka melangkah maju dan menyuruh orang-orang yang mengucapkan belasungkawa untuk menjaga jarak dengan Demora.
Proses pembakaran jasad dilakukan dengan cepat, dan Demora terlihat duduk menatap sebuah tempat dengan nyala api yang terlihat dari sana.
“Papa, sampai bertemu lagi.”
“Nona, kita akan kembali ke Mansion setelah ini.”
“Siapkan beberapa orang di ruangan latihan. Aku sudah tidak bisa menahan diriku, Yuka.”
“Baik, Nona.”
***
"Sepertinya aku mendengar kucing menangis,” ucap Demora sembari membersihkan pedang miliknya yang berlumuran darah.
Wood ragu-ragu dan berkata, "Apakah ada?"
Demora mendengarkan dengan penuh perhatian untuk sementara waktu, menjadi lebih yakin di dalam hatinya, bangkit dengan ringan, membuka pintu ruang latihan, dan melihat keluar.
Pada saat ini, awan pergi dan hujan berhenti, cahaya bulan yang cerah jatuh di pegunungan tandus ini, memotong bayangan atap, menerangi Xifu Begonia yang sangat mempesona di akar dinding.
Kucing datang dari balik tanaman di taman. Demora tersenyum dan mendekati kucing itu.
“Kucing cantik, aku akan membawamu masuk ke dalam kamar.” Demora meraih tubuh kucing itu dan membawanya pergi dari sana. Bulu di tubuh kucing itu basah oleh hujan, dan menempel di tubuhnya dengan berantakan, kepalanya terkulai sedih, terlihat sangat menyedihkan.
Sebuah ingatan entah bagaimana melayang di benak Demora, dengan jelas menunjukkan asal usul kucing itu. Demora menyuruh pelayan untuk membuat susu hangat, dan memberikannya pada si kucing. Sedangkan dirinya kini masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa noda darah.
Setelah orang tua aslinya meninggal, Demora merasa ada yang menghilang dari kehidupan sebelumnya. Kalimat terakhir sang ayah, membuat Demora merasa tidak percaya.
Demora tidak bisa menahan perasaan sedih dari kepergian orang tuanya, dan dengan lembut memanggil. "Papa … Mama, aku sendirian sekarang."
Berjongkok sambil berbicara, merentangkan tangannya untuk memeluk tubuhnya sendiri.
Demora telah selesai dengan kegiatan di dalam kamar mandi, dia terlihat sedang mengeringkan tubuhnya lalu mengenakan pakaian. Usai mengenakan penutup tubuh, Demora berjalan keluar dari sana dan menghampiri kucing bernama Shisan.
Shisan menjulurkan kedua cakar depannya dan mencondongkan tubuh ke arah demora, tetapi bagian belakang tubuhnya seperti terperangkap oleh selimut, tidak peduli seberapa keras ia berjuang, dia tidak dapat menyingkirkannya.
Demora tertawa, dia membantu Shisan untuk melepaskan diri dari selimut tebal itu. Shisan kini berada dalam pelukan Demora, tubuhnya terasa terayun hingga Demora kembali menurunkannya di atas ranjang.
Demora mendengar namanya dipanggil, dia berjalan ke luar dari kamar dan menemui Wood yang kini tersenyum lebar pada Demora.
“Jangan tersenyum! Kau terlihat jauh menakutkan saat tersenyum, Wood.”
“Kenapa kau berkata hal yang menyakitkan?” ujar Wood sembari memanyunkan bibirnya.
Demora tersenyum dan mencubit pipi pria itu. Kini mereka berjalan menuju ke Mansion utama dan menemui beberapa orang penting di ruang pertemuan.
“Nona, kami akan mengumumkan peralihan kepemimpinan Salvatrucha,” ujar Wood.
Dengan jantung yang berdetak tidak beraturan, Demora melangkah masuk ke dalam ruangan itu dan melihat ada banyak sekali orang yang duduk dan menantikan kehadirannya.
“Nona Demora, selamat datang,” sapa seorang pria paruh baya yang selama ini menjadi orang kepercayaan Mara.
“Paman Hendri, senang melihat kau baik-baik saja.”
“Nona, maafkan aku.”
“Tidak, terima kasih karena sudah berusaha dengan keras.”
Yuka menyentuh bahu Demora, dan dia kembali melangkah menuju kursi yang ada di bagian ujung ruangan. Duduk di tempat sang ayah biasa memimpin rapat, kini Demora terlihat jauh lebih sedih untuk menggantikan posisi besar itu.
“Wilayah ini akan menjadi tanggung jawabku, dan aku sudah membagi semua pekerjaan sesuai keinginan Papa sebelum tiada. Aku sudah pernah berbicara mengenai posisi ini dengan Papa, semua telah dirancang dengan baik oleh Wood. Dan dia akan memberikan laporannya pada kalian dalam sekarang!”
Sebuah hologram muncul di tengah meja rapat itu, Demora menunjukkan posisi mereka yang harus ditempatkan dengan baik. Bahkan ada beberapa ruang kosong yang harusnya memiliki seseorang, tetapi Demora tidak memberikan posisi pada siapapun di sana.
Wanita itu kini menengok ke belakang dan memberikan Yuka sebuah selebaran untuk dibagikan kepada mereka yang hadir di sana.
"Siapa saja yang akan bekerja sama dengan Salvador, bisa memberitahukannya padaku sekarang. Karena aku ingin tahu, bagaimana perkembangan perusahaan itu hingga bisa menjatuhkan Salvatrucha?" tanya Demora sembari memainkan bulpoin di tangannya.
"Kalau begitu Nona Demora, anda mungkin kecewa, tetapi Salvador tidak ada hubungannya dengan semua ini, dan bukan wewenang kami untuk memberikan informasi mengenai mereka."
Seorang laki-laki berparas tegas dengan tatapan mata yang tajam mengeluarkan kata-kata kasar dengan bercanda.
Mendengar suara itu, Demora mengangkat alisnya dan melihat seorang laki-laki duduk menyamping di dinding dengan kaki kanannya menggantung ke bawah, kaki kirinya ditekuk, tangan kirinya bertumpu pada lututnya, tangan kanannya memegang sebuah bulpoin yang dimainkan, tangannya lengan tergantung bebas di sisinya. Postur duduk terlihat sangat santai dan sulit diatur.
Pria muda itu sedikit memiringkan kepalanya, matanya beralih dari Demora, dan jatuh pada jam tangan di lengannya.
"Perusahaan ini sangat aku percaya, hingga kau menyinggung rekan lama, aku sungguh kecewa dengan rapat kali ini."
Mendengar kata-kata itu, Demora tiba-tiba mengendurkan tangannya yang akan meraih baretta yang ada di pinggang Yuka, menyipitkan matanya yang ramping, dan dengan marah dalam suaranya.
"Tuan Brake, lancang sekali anda berkata seperti itu di depanku. Bahkan anda sudah mempermalukan diri di depan para pemegang saham. Apakah tidak ada rasa takut akan kehilangan nyawa jika terus bersikap seperti ini ?"
Pria itu menggelengkan kepalanya dua kali, dan tiba-tiba melompat, tubuhnya seperti sangat ringan dan dia mengarahkan sebuah baretta pada Demora.
Dor!
Dengan cepat Wood yang berada di salah satu kursi dalam ruangan itu menarik pelatuknya. Pria yang terlihat ramah itu justru tidak akan segan dalam melepaskan amunisi untuk melindungi sang Tuan Putri.
Demora memandang tangannya yang kosong dengan tidak percaya, wajahnya berubah menjadi marah, dia melepaskan kakinya, memegang Baretta di masing-masing tangan, dan melepaskan dua amunisi tepat di kepala pria itu.
Tubuhnya tergeletak dengan darah yang mengambang di sekitarnya. Semua orang yang ada di sana terkejut hingga tidak bisa berkata lagi. Demora berdiri dengan arahan dari Yuka. Pria itu selalu berada di samping Demora untuk menahan amarah yang berlebihan.
“Nona, kembalikan Baretta milikku,” ucap Yuka dengan meraihnya secara perlahan.
Setelah mendapatkan baretta milik Yuka, Wood berdiri dan mengakhiri pertemuan hari ini. Mereka yang masih bernapas terlihat bergetar dan tidak bisa lagi mengucapkan salam pada Demora.
***
“Berikan aku informasi mengenai Salvador secepatnya! Aku tidak akan melepaskan siapapun yang bekerja sama dengan pria angkuh itu!” ujar Demora.
“Tidak ada yang pernah bertemu dengan Salvador sebelumnya. Hanya Tuan Mara yang mengenali wajah dari pemimpin mafia wilayah Kanada itu,” ujar Wood.
Setiap kali Demora melangkah, Wood menarik Yuka ke belakang. Pada akhirnya, kedua pria itu mundur ke pintu dengan punggung bersandar pada dinding. Berjalan di sepanjang tangga, selangkah demi selangkah, berhenti saat sudah berada di lantai yang diinginkan.
Semua memberikan waktu untuk Demora menyendiri di dalam kamarnya. Wanita itu duduk di balkon dan menatap ke langit gelap penuh awan mendung. Tidak ada bintang di atas sana, hingga dia merasa jenuh dan kedinginan.
Tiba-tiba saja terlihat ada kilatan cahaya merah di area pegunungan, sebuah lahan terbakar dengan lambing dari mafia Salvador. Bagi Demora, hal itu adalah sebuah tantangan yang harus dia terima.
“Aku akan mendapatkanmu dan aku sendiri yang akan membunuhmu, Salvador!” gerutu Demora dengan tangan yang mengepal.