Bab 2

Baru saja Sawitri selesai menunaikan sholat azhar empat rakaat, saat ia dengar suara suaminya berbincang dengan ibu mertuanya. “Tumben mas Burhan pulang cepat.” Gumam Sawitri. Bergegas ia melepaskan mukenanya dan menggantung di gantugan khusus mukena yang ia sediakan di dalam kamar sederhana itu. Dan segera ia keluar kamar untuk menemui suaminya.

Tapi tunggu…sepertinya ada tamu lain…seorang perempuan…

siapa ya kira-kira…

Manik Sawitri sedikit memicing, saat melihat seorang wanita duduk berdempetan sangat dekat dengan suaminya. Rabut sebahu wanita itu terlihat diwarnai.

“Oh sudah bangun rupanya, menantu Ibu. Sini Wit!” Bu Masita yang memang bila siang hari banyak tinggal di rumah anak dan menantunya, melambaikan tangan pada Sawitri yang berdiri di ambang pintu.

Tamunya perempuan jadi Sawitri tak mengenakan hijab tadi. “Kenalkan ini Nuri, calon istri kedua Burhan.” Tandas bu Masita tanpa tedeng aling-aling. Buat tangan Sawitri yang siap menyalami sang tamu, hanya menggantung di udara.

Seperti petir di siang bolong yang akan membawa kemarahan hujan, begitulah perasaan Sawitri melihat senyum suaminya, senyum ibu mertunya dan wanita yang bernama Nuri yang sedang tersenyum jumawa ke arahnya.

_________________

“Maksudnya apa ini, Mas?” tak terima rasanya Sawitri dengan kata-kata mertuanya barusan. Sawitri tak terima bila harus di madu. Mana ada perempuan yang rela dimadu. Cukup geram Sawitri kali ini, hampir habis kesabarannya.

Burhan yang ditanya oleh istrinya menghela napas panjang. Sebenarnya ada rasa tak tega melihat posisi Sawitri sekarang ini, namun remasan kuat Nuri pada jemari kirinya, buat Burhan nekat menggores luka pada sanubari wanita sabar yang telah membersamainya dua tahun lebih ini. “Jadi, yang ibu katakan barusan itu benar, Wit. Nuri ini calon adik madumu.” Seperti godam yang dihantamkan di palung hati sawitri. Sakit dan perih luar biasa dirasakan wanita dua puluh enam tahun ini.

“Jadi yang kamu bilang lembur hampir tiga bulan ini, ternyata kamu jalan sama perempuan binal ini, Mas?” gelegar suara Sawitri menahan amarah.

“Jaga mulut kamu, Sawitri!” hardik Burhan pada istrinya itu.

“Perempuan apa namanya Mas, yang jalan dengan suami orang kalau bukan perempuan binal?” tatapan Sawitri nyalang menguliti gundik suaminya. Memang cantik dan bahenol, di tambah pakainnya yang cukup ketat ditubuhnya, menampakkan semua aset berharganya.

“Cukup Sawitri!” kali ini bu Masita yang angkat suara, membela kelakuan busuk putranya. Sementara Nuri yang memang sadar diri salah, malah berpuran menangis dengan wajah memelas.

“Aku memang cinta sama mas Burhan, Mbak. tapi bukan berarti aku perempuan binal hu…hu..hu…” Nuri sudah memainkan dramanya sendiri. Sebisa mungkin air mata buayanya ia keluarkan demi menggaet simpati calon mertuanya yang tampak gembira dengan kehadirannya sebagai duri di rumah tangga Burhan dan Sawitri.

“Kamu sudah bikin calon mantu ibu, nangis.” Geram bu Masita pada istri sah putranya.

“Sudah sayang, tenang dulu. Biar mas jelasin lagi sama Sawitri.” Burhan langsung memeluk tubuh kekasih gelapnya. Merasakan benda kenyal itu menempel di dada bidangnya.

Rasanya seperti luka yang ditaburi garam, begitulah perasaan Sawitri melihat bagaimana suami dan ibu mertuanya memperlakukan kekasih gelap mas Burhan itu di hadapan matanya. Tak ayal kaca-kaca yang mengaburi pandangannya sedari tadi akhirnya jatuh juga, pecah menjadi deraian air yang mengaliri pipi kuning langsat miliknya. Sakit dan perih itu yang dirasa Sawitri. Ingin rasanya ia menjambak gundik suaminya ini. Namun ia menahan tangannya itu yang baru saja tersentuh air wudhu.

Sawitri akan mengadukan semua ini pada Rabb-nya.

__

“Kamu nggak apa-apa, Sayang?” bujuk Burhan pada Nuri yang terlihat merajuk sepulangnya dari rumah Burhan. Sekarang ini mereka bukan lagi bertemu di hotel, tapi bertemu di rumah kontrakan dua kamar milik Nuri. Lumayan luas dan tenang.

Nuri tak ingin lagi menyembunyikan hubungannya dengan Burhan, sebab tadi ibu pria itu sangat merestui hubungan mereka, hanya adiknya saja yang tadi nampak tak senang saat pulang sekolah melihat Nuri tadi di rumah kakaknya.

Anak kecil itu gampang saja, tinggal dikasi uang jajan. Aman. Restu untuk bersatu dengan Burhan akan Nuri dapatkan. Tinggal bagaimana ia harus membuat kekasihnya ini menceraikan istrinya yang lugu itu. Nuri tak ingin membagi Burhan dengan wanita lain. Hanya untuk dirinya saja, satu-satunya wanita dalam hidup mas Burhan nanti.

Nuri lupa bila ia sedang berusaha membagi cinta suami wanita lain untuk dirinya. Dan drama merajuk pun berlanjut.

“Aku sampai dikatain perempuan binal, Mas.” Nuri berpura menyeka air mata di netra yang ia pasangi softlens coklat itu.

“Maafkan, Sawitri sayang, Mas akan beri pelajaran sama dia.” Burhan mulai memeluk tubuh semok itu dari belakang. Bahkan dengan sengaja ia taruh tangannya di bagian dada milik Nuri, merasakan puting keras wanita itu.

“Gimana kalau dia jambak aku tadi, Mas?” netra coklatnya itu sudah kembali mengeluarkan air mata buayanya. Buaya betina tepatnya.

“Tidak akan mas, biarkan.” Sahut Burhan cepat, sambil menciumi tengkuk mulus Nuri. Birahi keduanya selalu meledak bila sedang berdekatan begini. Nuri yang mendapat ciuman di tengkuknya sudah meremang saja.

“Pokoknya aku nggak mau jadi adik madu mbak Sawitri, Mas.” Nuri sudah benamkan wajahnya yang berlinang air mata di dada bidang milik Burhan. “Mas pilih aku atau istrimu itu!” raung Nuri kembali tersedu, tentu saja Nuri takut kehilangan pria gagah yang sedang memeluknya ini.

“Iya, Sayang.” Sahut Burhan, sambil berusaha mencerna kata-kata Nuri. Maksudnya ini bagaimana, haruskah ia menceraikan Sawitri? Padahal dulu ia berjanji akan pada pak Saleh, bila akan menjaga dan setia pada putrinya itu.

“Iya, apa? Aku mau jadi satu-satunya wanita yang kamu peluk begini, Mas.” Ucap Nuri lagi masih tersedu.

“Iya, Sayang, nanti Mas bicarakan sama Ibu dan Sawitri. Yang penting ini…Cuma buat mas saja.” Sahut Burhan.

“Mas, pengen, sayang.” Ucap Burhan dengan suara serak, sementara jemarinya sudah kembali berusaha membuka kancing blouse putih yang cukup ketat itu.

“Ia Mas sabar dong. Ini punya, Mas koq.” Nuri membantu membuka kancing blouse itu dan…

“Wow,” Burhan langsung melahap benda kenyal itu di sofa ruang tamu milik Nuri. Bila gundiknya ini ngambek, gampang saja untuk mengembalikan moodnya. Dengan cara bercinta tentu saja. Lalu dengan tergesa keduanya melepas pakaian masing-masing, hingga tak sehelai benang pun menempel di tubuh keduanya.

Lalu kembali Burhan menunggangi tubuh gundik binalnya itu, mereka melanjutkan tiga ronde yang tadi siang di hotel. Bahkan malam ini Burhan tak pulang ke rumahnya. Ia dan Nuri sibuk memuaskan birahi liar mereka. Keduanya bergumul hingga dini hari, buat Nuri merem melek merasakan pentungan besar milik Burhan yang keluar masuk di kemaluannya yang berkedut-kedut. Segala macam rupa dan gaya mereka lakukan demi memuaskan birahi mereka yang dahaga. Keduanya saling menunggangi dengan liar, bahkan kata-kata vulgar tak henti mereka ucapkan yang buat birahi keduanya semakin panas.

Burhan begitu lihai membuat Nuri berkali-kali menjerit puas tanpa takut kedengaran tetangga sebelah. Mereka bermain gila dan liar di rumah kontrakan Nuri, meninggalkan Sawitri seorang diri yang sedang berlinar air mata, membiaskan perih luka-luka yang ia rasa. Mungkin dengan menangis akan bisa sedikit mengobati, perasaanya yang hancur.

Jika Burhan masih sibuk saling menunggangi bersama Nuri, maka Sawitri sibuk dengan do’a-do’a dan aduan pada sang Rabb subuh ini. Air matanya mengalir di setiap luka yang ia adukan. Memohon segala petunjuk atas rumah tangganya. Haruskah berakhir atau ia pertahankan. Sungguh ia tak ingin menjadikan rumah tangganya sebagai penjara untuk suami yang sangat ia hormati. Sawitri berusaha rela bila harus melepaskan. Namun jalannya janganlah semenyakitkan ini.

Rasanya netra wanita sabar ini tak bisa lelap. Sehabis sholat malam tadi, Sawitri berusaha memejam walau sebentar namun tak bisa. Lalu ide dan rencana – rencana indah muncul di benaknya.

Bab 3

Marah yang dirasakan oleh Sawitri kemarin adalah bentuk perasaan spontanitas seorang istri saat suaminya menodai pernikahan mereka.

Namun bila mas Burhan sudah memilih gundiknya itu dibandingkan dirinya, Sawitri bisa apa? Tak mungkin memaksakan perasaan cinta kan.

“Yang sabar, Bu Sawitri.” bu Fitri kawan guru di TK tempat Sawitri mengajar hanya bisa berkata demikian dengan nada getir.

Semua rekan sejawat di sekolah tempat Sawitri mengajar, sudah mengetahui gonjang ganjing masalah rumah tangga Sawitri. Mereka semua prihatin pada wanita dua puluh lima tahun ini. Sebenarnya beberapa rekan Sawitri sudah mencium gelagat tak beres dari Burhan. Sebab mereka ini tinggal di kota kecil yang pergerakan penduduknya bisa cepat diketahui, kemana saja dan sama siapa.

Bahkan bu Aini, ibu kepela sekolah TK pernah beberapa kali mendapati Burhan berjalan dengan wanita itu, namun beliau masih berfikir positif, mungkin rekan kerja.

Saat bu Aini, mendampingi suaminya yang memang serang tentara yang sedang ada kegiatan di salah satu hotel barulah bu Aini ngeh, saat melihat Burhan dan gundiknya itu keluar dari hotel sambil bergandengan tangan.

Namun sebagai ibu persit yang sudah diajar tata tertib bermasyarakat, tak serta merta bu Aini menyebarkan gosip ataupun memberitahu Sawitri tentang kelakuan suaminya.

“Ya mungkin sudah jalannya, Bu. Ini salah saya juga, sebab tak cermat memperhatikan penampilan.” Getir suara Sawitri mengucap itu. Mana sempat waktu untuk merawat dirinya. Setelah mengajar bahkan sering menghabiskan waktu di kebun belakang rumah suaminya.

“Pengen banget aku jambak perempuan itu, Bu.” Geram bu Fitria dengan wajah terlihat gemas.

Namun Sawitri hanya tersenyum kecut mendengarnya. Sawitri tak ingin ada ribut-ribut. Apalagi di hati suaminya sudah tak ada namanya. Sawitri tak akan memaksakan pernikahannya lagi. Biarlah bila akan berakhir. Sawitri siap tidak siap harus siap.

“Bu Sawitri harus berubah.” Bu Aini ikut memberi semangat.

“Iya, pokoknya ibu harus berubah, rawat diri, meski dengan bahan dan make up yang sederhana, insya Allah aku akan banyu Bu.” Bu Fitria menimpali lagi.

“Iya, kami bantu sebisa kami, tapi mohon maaf bila aku kasi baju-baju lamaku yang sudah nggak muat di badanku, apa bu Sawitri nggak tersinggung.” Bu Fitri yang seorang istri juragan sembako sedikit berbisik. Diantara rekan-rekakn guru memang bu Fitria ini yang paling stylish.

“Wah tentu tidak, Bu. Saya senang sekali dengan perhatian, Ibu.” Sahut Sawitri dengan wajah sedikit berbinar. Membayangkan bajunya yang itu-itu saja nanti bisa di ganti-ganti dengan baju pemberian bu Firia.

“Di rumah juga ada make up, yang Cuma kupakai separuh, besok kubawa buat, Ibu.” Kali ini bu Sari yang juga istri tentara yang bersuara.

“Ok, besok kita bawa semua yang akan kita beri untuk bu Sawitri, tapi kita harus bantu bu Sawitri mencari pekerjaan sampingan, bila sewaktu-waktu benar-benar ingin berpisah dengan mas Burhan, Financial bu Sawitri tetap tercukupi, jadi nggak mengahrap gaji honor yang dibayarkan tiga bulan sekali.” Tandas bu Aini. Perasaan iba juga dirasakan ibu berumur empat puluh lima tahun ini.

“Insya Allah, kalau kerja sampingan yang layak, nanti akan ada. Pokoknya bu Sawitri berbenah diri dulu. Kita ada siap membantu bu Sawitri.” Lagi bu Fitria memberi semangat yang luar biasa pada Sawitri yang pagi ini terlihat lemas dengan wajah sembab.

Lalu segaris senyum semangat juga terbit di wajah yang terlihat lelah itu. Tentu Sawitri harus siap-siap meninggalkan rumah suaminya, bila sudah tak diinginkan lagi. Mungkin akan kembali saja ke rumah bapaknya. Membersamai orang tuanya yang sekarang tinggal sendiri itu.

Ada lagi masalah yang Sawitri pikirkan, bagaimana cara memberitahu bapaknya, agar orang tua yang berprofesi sebagi petani itu tak sedih. Membayangkan wajah keriput dan kulit legamnya saja, sudah buat Sawitri berkaca-kaca lagi.

“Sudah, Bu jangan ditangisi lagi. Insya Allah setelah ini akan ada hidup yang baik untuk bu Sawitri.” Kembali bu Fitri yang lainnya menyemangati Sawitri.

“Lagian mertua bu sawitri cerewet dan judes pada ibu, kan.” Bu Aini pernah mendengar saat lewat depan rumah mertua Sawitri, terdengar tak ramah sekali mertua adik didiknya ini.

Lagi-lagi Sawitri hanya tersenyum getir, sebab yang bu Aini katakan adalah benar.

“Ayo, Ibu-ibu, murid -murid sudah banyak yang datang, kita sambut anak-anak dulu. Habis ngajar kita sambung lagi.” Bu Aini memberi komando pada guru-guru yang jumlahnya ada tujuh orang itu.

Segera Sawitri berjalan ek arah pagar, sekolah hari ini tugas Sawitri menyambut murid-murid di pintu gerbang.

Keceriaan anak-anak yang memakai seragam hari senin itu sedikit menghibur hati Sawitri yang masih sedih. Mudah saja kawan-kawannya mengucap sabar, harus berubah dan nasehat lainnya pada Sawitri. Namun kesabaran Sawitri benar-benar diuji kali ini. Apakah harus mengamuk ataukah tetap sabar dalam lukanya. Dan insya Allah Sawitri memilih sabar. Ditambah kebaikan rekan-rekan guru tadi, semakin menambah semangat dan rasa sabar Sawitri menjalani kehidupan selanjutnya.

Satu-persatu anak-anak berumur tiga samapi lima tahunsetengah itu salim dan memeluk tubuh Sawitri. Hal yang sama juga dilakukan Sawitri, menyapa muridnya satu-persatu dan memeluk tubuh mungil mereka, sesekali menenangkan dan membujuk anak-anak yang masih merajuk yang enggan ditinggal orang tuanya.

Lalu muncullah Shafiya, salah satu murid perempuan umur empat tahun mungkin, dengan rambut dikucir satu, berjalan ke arah Sawitri sambil menangis. Di belakangnya ada ayahnya yang mengikuti. Pak Safar namanya, Sawitri tahu dan kenal wajah-wajah wali muridnya.

Tampak ayah Shafiya itu memakai kemeja kerja bergaris biru, nampak kurang licin setrikaanya, sebab sedikit kusut dimana-mana. Pak Safar ini bekerja di kantor Telkom kalau tak salah. Posisinya sebagai apa, Sawitri kurang tahu.

“Kenapa nangis, Sayang?” segera Sawitri menyongsong langkah pelan muridnya, lalu digendong dan ia usap air mata di pipi mungil itu.

“Ay…ayah nggak bikinin aku sarapan bunda, hu hu hu…” terisak namun tampak lucu muridnya ini.

“Lho, terus, yang ayah bawa di kotak itu apa dong?” tanya Sawitri melirik sekilas kotak bekal di tangan ayah Shafiya.

“It… itu ayah beli di warung, selalu itu aja makanannya, Bunda” lagi, bahkan tangisan Safiyah bertambah kejer, nampak sakit hati sekali. “Aku juga mau dimasakin kaya teman-teman Bunda, teman-teman suka ejak aku, kalau aku nggak punya mama.” Kali ini isakan Shafiya terbata-bata.

“Maaf, Bu saya kesiangan bangunnya, ibu saya juga kurang enak badan jadi tak sempat masak untuk kami.” Ucap pak Safar merasa tak enak hati, sesekali ia lirik arloji di pergelangan kirinya.

“Tidak apa-apa, Pak. Biar saya yang bujuk Safiyah.” Ucap Sawitri kembali menenangkan muridnya itu yang masih setia bergelayut di gendongannya.

“Terima kasih, Bu. Maaf sekali lagi. Sudah merepotkan.” Pak Safar kemudian menyerahkan kotak bekal berbentuk boneka doraemon itu pada Sawitri. Sejenak tatapan kedunya bersirobok, namun Sawitri segera memutus pandangan.

“Bapak, ditinggal kerja saja, biar saya yang urus dan anter Safiyah pulang. Dekatkan rumahnya.” Ucap Sawitri membuat lega di hati ayah muridnya itu.

“Tapi aku nggak kuat jalan kaki kaya Bunda, Bunda pulang pergi sekolah jalan kaki kan,” ucapan polos Safiyah sedikit membuat Sawitri merasa malu. Sebab jarak rumah suaminya yang dua kilo itu bila pulang pergi jalan kaki berarti dia jalan empat kilo tiap hari, mana kadang panas maupun hujan tetap jalan kaki. Bagimana kulitnya mau kinclong coba bila sinar matahari mengahajar kuning langsatnya itu tiap hari.

Pak Safar yang mendegar itu sedikit terhenyak.

“Benarkah demikian, Bu? Ibu jalan kaki tiap hari?” tanya pak Safar dengan rasa iba pada wanita yang terlihat wajah sembabnya ini. Dari tadi sebenarnya pak Safar memperhatikan wajah dan mata yang sembab itu.

“Iya, Pak. Tapi tak apa, sudah terbiasa jadi tak terasa capeknya.” Jawab Sawitri dengan perasaan malu sebenarnya.

“Aku, mau dimasakin mama juga, Bunda. Di rumah aku, nggak punya mama.” Kata-kata Safiyah menyela mereka.

“Memangnya mamanya kemana, Nak, sakitkah?” tanya Sawitri dengan lembut.

“Kata ayah, mama pergi sama orang lain.” Ucap Safiyah sendu. Buat Sawitri menatap murid dan ayahnya itu bergantian dengan wajah bingung.

“Ibunya Safiya sudah menikah lagi dan memilik bayi juga, Bu.” Ucap pak safar pelan dengan raut sedikit getir.

“Oh maafkan saya, Pak. Saya tak tahu.” Benar Sawitri tak tahu bila Safiyah ini anak broken home. Dipikirnya mamanya Safiyah ini, sibuk bekerja juga atau sibuk mengurus rumah mereka yang cukup besar itu. Rumah Safiyah ini dua lantai.

“Tak apa, Bu.”

“Aku mau punya mama kaya bunda, boleh?” tanya Safiyah polos. Pertanyaan dari seorang bocah yang haus kasih sayang seorang ibu, yang sukses membuat ayahnya dan gurunya itu saling pandang dengan perasaan yang entah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED