Bab 2

" Cekrek."

"Wi, Dewi, sayang."

Daun pintu di buka Raihan berjalan menyusuri ruang tamu, lalu kemudian menuju dapur, tapi tetap tak di temukan juga apa yang dia cari.

Dia pun beranjak ke kamar pribadinya dan membuka pintu kamar.

Berlahan-lahan dia berjalan dan duduk ditepi tempat tidurnya, dimana terdapat istrinya yang terlelap, dengan mata yang masih sembab karena lelah sehabis menangis.

"Maafkan aku sayang, aku khilaf tadi," ucap Raihan sambil berlutut di bawah kaki istrinya.

Dewi yang tadinya sudah tak menangis kini kembali terisak, seraya memalingkan wajahnya. Hatinya masih sangat sakit hti dengan perlakuan Raihan tadi pagi, pipinya masih merah bekas tamparan dan juga tubuhnya masih terasa sakit akibat perlakuan suaminya tersebut.

"Kamu tidak mau memaafkan aku sayang, tolong jangan marah padaku, aku masih sangat mencintaimu, jadi tolong maafkan

aku," mohon Raihan dengan tetap berlutut dan menggenggam kedua tangan Dewi.

Dewi masih memalingkan wajahnya dia masih enggan untuk menatap suaminya yang telah menyakitinya, air mata nya malah menetes setelah mendengar permohonan maaf dari Raihan suaminya.

"Dewi, tolong tatap wajahku, apakah kamu sudah tak mencintaiku?, sehingga kamu tak sudi menatap wajahku lagi?" ucap Raihan dengan mata berkaca-kaca.

Kali ini Dewi mulai memutar wajahnya menatap suaminya, dia menatap penuh makna seperti banyak sekali pertanyaan demi pertanyaan yang akan di lontarkan tapi entah kenapa lidahnya kelu, sehingga dia hanya bisa menatap Raihan dalam-dalam.

"Jadi kamu mau kan memaafkan aku sayang? aku janji gak akan mengulangi perbuatan seperti itu lagi padamu," Raihan kembali memohon, sembari kedua tangannya memegang bahu istrinya.

Dewi hanya bisa mengangguk pelan, tanpa bisa berucap sepatah kata pun. Raihan kini memeluk erat istrinya tersebut karena telah memaafkan dirinya.

"Hueeeeeek, hueeeeek."

Dewi tiba-tiba berlari ke kamar mandi perutnya sangat mual, Raihan yang kebingungan segera mengejar istrinya ke kamar mandi, dan berteriak dari luar.

"Sayang kamu tidak apa-apa kan? sayang jawab dong, kamu tidak kenapa-kenapa kan?"

"Tok,tok,tok."

Raihan terus menggedor- gedor pintu kamar mandi, karena tak ada jawaban dari dalam, tapi suara Dewi yang sedang muntah masih terus terdengar.

Lima menit kemudian Dewi keluar dari kamar mandi, tapi dia langsung berlari mendekati sebuah kalender yang tergantung di dinding ruang tamu lalu menghitungnya.

Raihan yang masih kebingungan terus menguntit Dewi sampai keruang tamu.

"Ada apa Wi?, ada apa dengan kalender ini kenapa kamu seperti orang bingung juga?" tanya Raihan.

"Ternyata aku sudah terlambat haid selama satu minggu mas," jawab Dewi.

"Lalu apa hubungannya dengan mual-mual mu itu?" tanya Raihan lagi masih dengan wajah yang bingung.

"Sekarang coba mas ke apotik depan beli alat tes pack gitu," perintah Dewi.

"Apa beli tes pant?" sahut Raihan.

"Bukan tes pant tapi tes pack mas," ujar Dewi sambil menepuk jidatnya.

"Oh iya beli itu, oke aku ke apotik depan dulu ya," pamitnya sambil terus mulutnya komat kamit menghafal kan apa nama yang harus di belinya.

Setengah jam kemudian Raihan sudah kembali sembari membawa sebuah bungkusan kecil, lalu langsung di berikannya pada istrinya.

Dewi yang sudah mempersiapkan sebuah wadah berisi urine nya sendiri kemudian mencelupkan alat tes kehamilan tersebut kedalam wadah dan menunggunya dengan perasaan deg-degan.

Setelah menunggunya selama tiga menit alat itu pun di ambil dan hasilnya membuat Dewi tersenyum bahagia.

"Alhamdulilah."

Raihan yang masih kebingungan mulai bertanya apa yang membuatnya sebahagia itu, dia pun menghampiri lebih dekat lagi, hingga tubuh keduanya saling menempel.

"Apa yang membuatmu sebahagia itu sih," ujar Raihan penuh tanda tanya.

"ini mas, " Dewi menunjukan hasil tes pack itu yang menujukan ada garis dua ke suaminya.

Raihan yang masih bingung hanya memutar-mutar alat tersebut, tanpa tahu itu artinya apa.

"Apa kamu tak bahagia mas? setelah melihat hasil tes pack itu," tanya Dewi.

"Emangnya ini apa? dan garis dua itu artinya apa?" kening Raihan berkerut menandakan dia sedang berpikir tentang alat yang sedang di pegangnya.

"Masa kamu gak ngerti sih mas itu artinya apa."

"Serius aku bener-bener gak ngerti sayang,"

Raihan pun mengembalikan alat tersebut [pada Dewi istrinya.

"Ini artinya aku hamil mas, kita akan punya anak," sahutnya dengan sumringah.

"Apa!, kamu hamil? berarti aku akan jadi ayah dong, buah cinta kita sayang," tutur Raihan penuh suka cita.

Sejurus kemudian Raihan memeluk erat istrinya lalu berlutut untuk menciumi perut Dewi, dia begitu bahagia karena akan menjadi seorang ayah.

Dewi yang melihat perlakuan Raihan padanya tak kalah bahagia dan senangnya. Dia berharap dengan kehamilannya ini Raihan bisa berubah sikap padanya dan mau bekerja .

Terserah mau kerja apapun yang terpenting bisa kerja dn tidak bergantung pada orang tuanya lagi.

"Aku akan kabarkan ini pada orangtuaku, kamu tunggulah dirumah saja ya, jaga kandunganmu," pesan Raihan.

Setelah berpesan Raihan berlari menuju rumah kedua orang tua nya dimana disana berkumpul semua kelurga besarnya. Dia bermaksud ingin membagi kebahagiaan pada keluarga besarnya.

Tapi harapannya tak sesuai keinginan, pak Karim dan bu Sukma hanya menjawab sekenanya saja.

"Cuma dewi hamil aja segitu senengnya kamu, memangnya dengan hamilnya dewi kamu akan dapat uang banyak atau pesta yang besar, dewi tidak selevel dengan Riri istri adikmu itu yang kehamilannya membawa berkah buat keluarga kita, karena keluarga Riri yang kaya raya," ucap pak Karim dengan nada sinis.

Dua dari tiga adik Raihan memang sudah menikah dan pernikahan mereka di gelar secara besar-besaran karena kelurga wanita yang kaya raya dan berkecukupan.

Rendi yang mempunyai istri bernama Riri, dan Danu yang mempunyai istri bernama Karin.

Mereka berdua menikah lebih dulu dari pada Raihan, maka tak heran pak Karim lebih menyukai kedua menantu perempuannya itu dari pada Dewi.

Entah apa yang menjadi alasan pak Karim yang selalu membanding-bandingkan kedua menantunya itu dengan Dewi.

Padahal setiap mereka ada kesulitan selalu Dewi yang mau paling depan dibandingkan Riri dan Karin.

Dewi juga sering datang kerumah mertuanya hanya untuk membereskan rumah dan membantu bu Sukma memasak ataupun sekadar membantu pekerjaan ibu mertua nya tersebut.

"sudah sana pulang!, jangan sampai kehamilan istrimu merepotkan kita-kita disini," usir pak Karim.

"Iya pak, kalau begitu aku pulang dulu," pamit Raihan.

Entah kenapa Raihan tak pernah bisa membantah atau pun membela, jika istrinya di perlakukan tidak selayaknya sebagai seorang menantu oleh kedua orang tuanya tersebut.

Padahal Dewi istrinya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi menantu yang baik untuk keluarga besarnya itu, tapi semua usahanya seakan sia-sia belaka.

Bab 3

"Besok kita periksa kandunganmu ke dokter ya sayang," ucap Raihan.

"Memang kamu ada uang mas?" jawab Dewi.

"Tenang saja, kan masih ada bapak sama ibu, aku bisa minta uang pda mereka untuk membawamu ke dokter."

"Tak usah mas kalau harus minta kesana. Biarlah aku ke puskesmas aja."

"Udah kamu tunggu disini dulu ya, aku mau kerumah ibu."

Raihan segera beranjak pergi kerumah kedua orang tuanya, dengan langkah yang di percepat agar segera sampai.

"Bu, aku minta uang dong, untuk bawa dewi ke dokter periksa kandungannya," pintanya.

"Apa!, ibu tak salah dengar, kamu minta uang untuk periksa kedokter?" ujar bu Sukma.

"Iya bu, aku kan tidak bekerja, jadi aku tak punya uang untuk bawa istriku periksa, kalau tak minta sama ibu aku harus minta sama siapa lagi."

Ibu Sukma tiba-tiba berlalu pergi masuk kedalam kamarnya tanpa berkata sepatah katapun, Raihan mengejar ingin menuntut penjelasan.

Di saat yang sama datang lah Riri membawa keranjang berisi buah-buahan, lalu mengetok pintu kamar mertuanya tersebut.

"Ibu ini Riri, apa saya boleh masuk?'

"Cekrek."

Pintu terbuka bu Sukma keluar dari kamar, menyambut Riri mereka berpelukan dan cium pipi kiri dan pipi kanan.

Raihan hanya bisa melihat, tanpa bisa berkata apapun.

"Bilang sama Dewi, kalau mau periksa kedokter suruh dia cari uang sendiri, kerja atau minimal minta sana ke orang tuanya, seperti Riri . Jangan malah minta-minta seperti ini," tukas bu Sukma.

"Tapi bu."

"Sudahlah sana pulang bilang ke istrimu suruh dia kerja, jangan malah kamu yang di tuntut suruh kerja terus, untuk memenuhi keinginan dia dan bilang juga jadi istri itu jangan boros buang-buang duit hanya untuk kedokter doang," tambahnya.

"Dewi tidak minta kedokter kok bu, itu semua keinginan mas Raihan," ujar Dewi.

Yang entah sejak kapan berada di sana dan mendengar semua ucapan ibu mertuanya tersebut yang sangat sinis terhadapnya.

"Ayo Ri, masuk ke kamar ibu," ajak bu Sukma pada Riri. Mereka berdua bergandengan masuk kedalam tanpa menghiraukan kehadiran Dewi ditempat itu.

Raihan tak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa mengajak Dewi pulang dari rumah itu.

Beberapa bulan kemudian kandungan Dewi sudah menginjak usia enam bulan, dan seperti keinginan bu Sukma, kini Dewi sudah bekerja walaupun sebagai buruh cuci dirumah orang, bagi Dewi yang penting halal dan tak bergantung terus menerus pada mertuanya hanya untuk makan sehari-hari dan bayar kontrakan.

Sedangkan Raihan masih tak berubah, Raihan makin tak bisa di atur, setiap hari kerjanya hanya tidur, main, dan makan saja.

Walaupun terkadang ketika pulang main suka membawa uang entah uang dari mana, tapi Dewi masih mensyukurinya.

"Mas kandunganku semakin membesar dan sebentar lagi aku melahirkan, apakah mas masih belum mau bekerja juga untuk biaya melahirkan anak kita mas," ucap Dewi di kala mereka sedang duduk berdua Dewi nonton televisi dan Raihan sedang bermain game di handphonenya.

" Mas, mas, mas Raihan, kamu dengar gak sih apa yang aku bicarakan." Dewi mengguncang-guncang bahu Raihan berharap dia menjawab apa yang diucapkannya.

" Dasar anj*ng, ganggu aja orang lagi asyik-asyik main," bentak Raihan.

"Bisa diem dulu gak, jangan bawel, nyuruh-nyuruh aku kerja, nanti juga kalau aku mau kerja aku kerja, gak usah pake di suruh-suruh," tambahnya.

" Tapi mas."

" Sudah diam lah dulu kamu tuh, kalau masih ngoceh ku tampar nanti," hardik Raihan pada istrinya, sambil tatapannya terus ke layar handphone.

Dewi tersentak mendengar kata-kata Raihan yang menurutnya sangat kasar, kata-kata yang dulu belum pernah dia ucapkan selagi mereka masih pacaran. Kini terdengar lantang dengan menyebutnya seekor binatang.

Bulir-bulir bening siap terjun dari pelupuk mata Dewi, hatinya teriris mendengar kata-kata itu dari bibir orang yang dia cintai, isak tangis pun mulai terdengar samar, menandakan dia sedang menhan air matanya agar tak jatuh membasahi pipinya.

"Nangis lah yang kenceng, terus nangis jangan berhenti sebelum jari-jariku mendarat di pipimu, setelah itu aku akan pergi dari rumah ini dan tak akan kembali selamanya," ancam Raihan.

Dewi menghentikan tangisnya, dia takut Raihan akan pergi meninggalkannya sendiri di kota yang asing baginya, karena seumur hidup baru inilah Dewi pergi dari kampung halamannya di jakarta dan kini tinggal di sebrang pulau untuk ikut suaminya.

Jika Raihan pergi meninggalkannya apa yang akan terjadi padanya apalagi kondisi dia yang sedang mengandung.

Dewi mengusap air matanya lalu pergi masuk ke kamar, sedangkan Raihan tetap fokus bermain game, dan tak menghiraukan kepergian istrinya tersebut.

Di dalam kamar Dewi meratapi nasibnya, hatinya menjerit tanpa suara hanya lirih yang terdengar dari bibirnya.

"bapak, ibu, maafkan Dewi, karena dewi dulu tak mendengar nasehat kalian."

Air matanya kian deras kala mengingat ucapan orang tuanya dulu, tapi segala penyesalan itu kini tak ada gunanya lagi.

Nasi telah menjadi bubur, kini Dewi hanya bisa pasrah menerima semuanya.

Dewi beranjak dari tempat tidurnya untuk kekamar mandi, dia ingin mengambil wudhu untuk sholat isya, hanya kepada tuhanlah dia menumpahkan segala keluh kesahnya atas semua yang terjadi.

Disaat sedang berdoa tiba-tiba dia mendengar Raihan berteriak.

"Dewiiiiiiii, buatkan aku teh manis, cepat!"

"iya mas sebentar."

Dewi tergesa-gesa melepas mukenanya dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan teh manis buat suaminya.

"Ini mas."

Dewi menghidangkan teh itu di atas meja, sedangkan Raihan masih tetap fokus ke layar handphonenya dia masih bermain game favoritnya.

Tangan kanannya berusaha meraih gelas dan meminum isinya.

"Byuuuuuuuur."

Raihan menyiramkan teh hangat itu ke tubuh istrinya.

"Emang dirumah ini gak punya gula ya? kenapa teh itu rasanya pahit sekali," tukasnya.

"Gula kita emang sudah abis mas,aku belum gajian jadi belum bisa beli gula," sahut Dewi lirih.

Sambil membersihkan bajunya karena basah, perut buncitnya pun tak luput terkena percikan air hangat tadi.

"Dasar istri gak berguna!, gula abis aja gak bisa usaha nyari gitu kemana supaya ada," teriak Raihan.

Tangannya meraih cangkir tersebut dan membantingnya ke lantai, kemudian dia berlalu pergi entah kemana.

Kini tinggallah Dewi sendirian dengan deraian air mata dia membereskan pecahan demi pecahan kaca yang berserak di lantai.

Dam tak sengaja melukai jarinya dan berdarah, tapi rasa sakit itu tak di hiraukan nya

karena dia merasa ada yang lebih sakit dan berdarah lagi selain jarinya, yaitu hatinya.

Bagaimana tidak orang yang sangat dicintainya bahkan dia rela melawan orang tua nya demi bisa bersama orang yang di kasihinya.

Tapi semua pengorbanan itu tak berarti apa-apa dimata orang yang di cintainya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED