Ketika di perjalanan ke hotel tempat mereka menginap, Elif berjalan dengan kesusahan, karena gaun panjangnya itu.
"Ih, ini gaunnya kok ngeselin banget, Elif, kan jadi susah jalannya!" Elif mengeluhkan gaunnya itu, untuk kesekian kalinya.
"Biar saya bantu," Jovan berkata dengan intonasi tenang, seperti biasa. Elif memekik tertahan karena merasakan tubuhnya yang di angkat ke atas.
Baru saja Elif akan protes, Jovan menatap Elif dengan tajam. "Diam, dan jangan berontak!" ucap Jovan, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
****
"Pelan-pelan Om, sakit." ringis Elif, memukul kecil paha Jovan.
"Makanya diem dulu, jangan banyak gerak!" balas Jovan, lalu melanjutkan aksinya.
Elif meringis menahan rasa sakit di punggungnya, yang kini tengah dipijat oleh Jovan. "Om, udah dulu aja, sakit!" Elif berucap dan menarik bajunya, agar menutupi punggung polosnya.
"Makanya, nurut sama saya. Dibilangin malah ngeyel, jatuh, kan jadinya!" Jovan mencibir Elif, yang kini tengah menelungkupkan dirinya sendiri atas kasur.
"Saya mandi dulu. Kalo ada apa-apa, berteriak saja." ucap Jovan, lalu beranjak pergi ke kamar mandi.
Selepas Jovan pergi, Elif tanpa sengaja, mengingat momen ketika dirinya jatuh dari gendongan Jovan. Karena Elif sendiri banyak bergerak, dan berontak meminta untuk dilepaskan.
Entah karena kesal, Jovan tiba-tiba melepaskan tangannya dari tubuh Elif. Dan berakhirlah dengan Elif yang jatuh sehingga pantat dan pinggangnya membentur lantai dengan keras.
Wajah putih Elif sedikit memerah, mengingat kejadian memalukan itu. "Aduh .... Elif kok bodoh banget, ya?" ucap Elif lirih.
***************
Setelah beberapa menit di kamar mandi, Jovan akhirnya keluar dengan rambut basahnya.
Elif dengan polos memperhatikan setiap lekuk tubuh Jovan, yang sekarang tengah memakai baju tidurnya, "Om Jovan, perutnya lucu banget, ada enam kotak." ucap Elif dengan nada lugu dan tatapan polosnya.
Jovan berhenti mengancingkan bajunya itu. Lalu, menatap Elif dengan tatapan datar. "Kenapa? Mau pegang?" tanya Jovan.
Elif dengan wajah panik, menggeleng dengan cepat. "Enggak mau, Elif takut." ucap Elif, disusul dengan cengiran polosnya.
Entah apa yang di pikirkan oleh Jovan, dia malah membuka kembali bajunya dan melemparkannya ke sembarang arah, membuat Elif kebingungan.
"Om, bajunya kok dibuka lagi? Nanti kedinginan, Om."
"Saya gak akan kedinginan, kok." ucap Jovan, lalu membaringkan tubuhnya sendiri, di samping kanan Elif.
"Elif, Kamu tidak Ingin tidur?" Jovan bertanya dengan nada datarnya.
"Elif susah tidur, Om." jawab Elif, "Lalu? Om sendiri gak mau tidur?" lanjut Elif.
"Saya juga susah tidur," Jawab Jovan. "Boleh bagi selimutnya gak?" Lanjutnya dengan canggung.
"Iya Om, boleh." Elif berkata, lalu menyerahkan separuh selimut besar itu kepada Jovan.
"Bagaimana .... Jika kita mengobrol? Seperti, menceritakan sedikit kehidupanmu?" tanya Jovan, dengan ragu-ragu.
"Boleh, Om." Elif menjawab, lalu menatap Jovan yang berada di sisinya.
"Siapa yang mengejarmu tadi?" tanya jovan.
Elif mengedipkan matanya polos, "Katanya Elif mau di jual sama tante Elina, tapi Elif gak mau. Elif kabur deh."
"Oh begitu. Bolehkah kamu menceritakan kehidupanmu?" Jovan tidak mendengar perkataan apapun yang keluar dari mulut Elif. "Tidak perlu malu. Ceritakanlah." ucap Jovan lembut
Elif sedikit menghela nafasnya, sebelum akhirnya mulai bercerita, "Elif sejak kecil, sudah tinggal di panti asuhan. Elif tidak tahu siapa orang tua Elif."
Jovan melihat mata Elif mulai berkaca-kaca, "Baiklah, tidak usah dilanjutkan ceritanya, kita tidur sekarang saja!" ucap Jovan. Lalu, Menarik tubuh mungil Elif, agar mendekat ke arahnya. Mendekapnya dengan lembut, menyalurkan rasa hangat kepada tubuh Elif.
"Selamat malam, semoga mimpi indah." bisik Jovan, tepat di telinga Elif.
***
"Meira Elifa, cepatlah bangun!" ujar Jovan, menepuk kecil pipi Elifa.
Elif hanya menggeliat kecil di atas kasur king size itu, membuat Jovan mendengus dengan kasar.
"Cepatlah bangun! Jika tidak, Saya akan meninggalkanmu sekarang juga!" ujar Jovan, sedikit menaikan intonasinya.
Elif masih tidak bergerak sedikitpun, membuat Jovan kembali mendengus kasar untuk kedua kalinya. Dan dengan sedikit kasar, Jovan menggendong Elif ke dalam kamar mandi, membuat Elif refleks membuka matanya dengan kaget.
"Aduh, Om, Turunin Elif! Elif janji bakal mandi sekarang." ucap Elif masih dengan ekspresi kagetnya.
Jovan hanya diam, lalu menurunkan Elif dari gendongannya ke dalam bathub yang telah diisi oleh Air hangat. "Sekarang, cepatlah mandi! Jika tidak, saya yang akan mandikan kamu!" ucap Jovan dengan nada tegasnya.
"I—iya, Om," ucap Elif dengan wajah terpaksa,
"O—Om, gak m--mau keluar?" tanya Elif dengan gugup.
"Saya gak akan keluar, sampai kamu benar-benar membuka seluruh bajumu!" Ucap Jovan disusul dengan senyuman devilnya.
Sementara itu, di lain tempat
"Alice! Kau benar-benar gila! Kau bersetubuh dengan pria ini?" ucap seorang wanita, menatap Alice dan Jack dengan tajam.
"A—apa salahnya? K—kami saling mencintai, ibu!" balas Alice dengan mata yang berkaca-kaca.
Ariana —Ibu dari Alice—hendak menampar pipi putrinya itu, namun gerakannya tertahan oleh sebuah tangan kekar yang menahannya.
"Jangan pernah sentuh Alice! Dia tidak salah apapun!" Jack berkata dengan nada tegasnya, membuat Ariana memutar bola matanya dengan malas.
"KALAU BEGITU, INI SEMUA GARA-GARA KAU, JACK!" ujar Ariana, "JIKA SAJA KAU TIDAK KEMBALI KE SINI LAGI, ALICE PASTI SUDAH MENIKAH DENGAN JOVAN." Ariana kembali berucap.
"Ibu! Cukuplah mengatur kehidupan diriku! Aku ingin hidup bersama dengan Jack! Apakah itu salah?" tanya Alice disela-sela Isak tangisnya.
"Terserah kau saja!" ucap Ariana, pergi meninggalkan ruangan bernuansa pink itu.
Isak tangisan pilu terdengar semakin kencang, Alice benar-benar kecewa kepada orang tuanya itu. Dia hanya ingin hidup bahagia, bersama Jack! Hanya itu saja. Mengapa begitu sulit?
***
"Selamat pagi, Om!" sapa Elif kepada Jovan dengan riang.
"Ya, selamat pagi." ujar Jovan, Tampa mengalihkan perhatian dari laptop miliknya itu. "Jika kamu lapar, makanlah terlebih dahulu." Jovan kembali berucap.
"Elif nunggu aja, Om. Elif 'kan gak tahu dimana tempat makannya." ucap Elif dengan polos.
"Baiklah, kita pergi sekarang saja!" ujar Jovan, lalu bangkit dari duduknya.
Setelah sekitar sepuluh menit mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di rumah makan yang mereka tuju. Elif menatap rumah makan itu dengan tatapan berbinar.
"Rumah makannya besar banget, pasti makanannya mahal." ucapan Elif membuat Jovan mengernyit bingung.
"Lalu? Apa masalahnya jika makanannya mahal?" tanya Jovan.
"Elif miskin Om, gak punya uang." ucap Elif dengan polos, membuat Jovan membelalakkan matanya.
"Ayo, kita masuk!" ajak Jovan kepada Elif. "Saya yang bayar." lanjutnya, menarik tangan Elif dengan lembut.
"Sekarang, kau duduk dulu di sini," Jovan berkata yang dibalas angguk, kan oleh Elif.
Setelah mendapat persetujuan dari Elif, Jovan pun segera pergi memesan makanan.
Elif menatap sekelilingnya dengan mata yang terus berbinar.
Tanpa sengaja, Elif melihat kucing putih yang sangat menggemaskan, tengah berada di depan rumah makan itu.
"Woah, kucingnya lucu banget," ucap Elif, lalu menghampiri kucing putih itu. Namun sayangnya, kucing putih itu malah lari pergi ke jalanan.
"KUCING, AWAS!" Elif berlari dengan cepat menghampiri ke jalanan, ketika melihat sebuah mobil yang akan menabrak kucing putih itu. Dan akhirnya ...
'BRAK'
"A—duh, Sa—sakit banget."
""KUCING, AWAS!" Elif berlari dengan cepat menghampiri ke jalanan, ketika melihat sebuah mobil yang akan menabrak kucing putih itu. Dan akhirnya ...
'BRAK'
"A—duh, Sa—sakit banget."
***
"Ma—maafin Elif, Om." ucap Elif sembari menahan perihnya alkohol menyentuh kulitnya. Sementara itu, Jovan hanya fokus mengobati luka Elif, tanpa menjawab apapun perkataannya.
"Hiks, ja—jangan diam aja dong, Om!" tangisan Elif pun pecah, membuat Jovan menghela nafas dengan gusar.
"Diamlah! Jangan banyak berbicara!" ucap Jovan tetap fokus terhadap luka Elif, yang tengah diobatinya.
"Om, Maafin Elif, ya?" Elif kembali berucap. Membuat Jovan menghentikan pergerakan tangannya, yang kini tengah memasang perban pada lutut Elif yang terluka.
"Bukankah saya sudah bilang jangan kemana-mana? Untung saja saya datang tepat waktu. Jika tidak, bagaimana nasibmu?" ucapan Jovan, sukses membuat Elif menunduk, kan kepalanya.
"Emm, Om? Ku—kucing tadi kemana?" tanya Elif dengan takut-takut.
"Gak ada, udah mati." jawab Jovan. Dia menatap Elif yang kini kembali akan menangis. "Udah, jangan nagis! Sekarang kamu makan dulu, ya?" ucap Jovan, yang di balas angguk, kan kecil oleh Elif.
"Saya beresin barang-barang dulu."
***
"Om? Masih lama banget perjalanannya?" Elif bertanya.
"Hm, masih lama." jawab Jovan sembari fokus menatap laptopnya.
Sekitar 30 menit kemudian, mereka telah sampai di mansion megah milik Jovan. Ketika mereka keluar dari mobil, para bodyguard lantas membungkuk hormat kepada mereka. Elif yang bingung, dengan polosnya ikut membungkuk 'kan badannya.
"Jangan bertingkah seperti itu, Elifa!" Jovan menatap Elif sebentar, lalu melanjutkan langkahnya yang terhenti.
"Ya, maaf, Om ... Elif gak tau." Elif mengerucutkan bibirnya dengan lucu.
"ADUH, MENANTU MAMAH UDAH DATANG." Diana datang dengan hebohnya, lalu memeluk Elif. "Kamu sehat, Sayang? Mamah kangen banget sama kamu." ucap Diana, yang di balas angguk 'kan lucu oleh Elif.
"Kita masuk dulu, yuk!" Diana menarik Elif agar masuk kedalam mansion, melupakan Jovan yang berada di belakangnya.
"Ini anaknya mamah itu, saya? Apa anak kecil itu?" lirih Jovan menatap nanar punggung kedua wanita yang kini pergi meninggalkannya.
********
Sekarang, Elif dan seluruh keluarga Jovan tengah berkumpul ria di dalam ruang keluarga. Ada Elif, Mamah Diana, Papah Sagara, Jovan, Daffa, Alana, dan juga si kecil Alan.
Daffa Adijaya adalah anak pertama dari Diana Adijaya dan juga Sagara Adijaya, yang kini telah memegang separuh perusahaan yang telah di wariskan oleh Sagara —Ayah Jovan— kini dia telah menikah bersama Alana Smith Adijaya dan di karuniai seorang putra, yang diberi nama Alan Smith Adijaya.
"Gimana malam pertamanya? Lancar, Van?" tanya Daffa dengan wajah mesumnya, yang di hadiahi cubitan maut dari Alana.
"Kamu gak boleh gitu! Itu, kan privasi." Alana berkata dengan wajah garangnya.
"Ya, kan, penasaran." jawab Daffa dengan cengengesan.
Jovan yang mendengar perkataan dari Daffa, tidak kalah menatap Daffa dengan tajam. "Pertanyaan yang tidak sopan!" mendengar Jawaban Jovan, Daffa lantas mendengus kasar.
"Atau mungkin ... Lo belum merawanin tuh anak, ya?" tanya Daffa dengan senyuman smirknya. Daffa kembali memperhatikan anak tampannya, yang kini tengah bermain dengan istri dari Jovan.
Jovan hanya diam, enggan menjawab pertanyaan random itu dari Daffa.
"Aduh, Mamah baru inget, Jov," Diana berucap dengan wajah paniknya, "Tadi, Orang tua Alice marah-marah sama Mamah, karena anaknya gak jadi nikah." lanjut Diana, masih dengan ekspresi yang sama.
"Ah, ya, Jov. Papah juga penasaran, ceritakanlah!" ucap Sagara dengan tenang. Jovan, pun akhirnya mulai menceritakan tentang kejadian malam 'itu' kepada keluarganya.
Sementara itu, Elif yang tidak mengerti apa yang tengah Jovan dan keluarganya obrolkan, memilih diam dan bermain bersama Alan.
"Alan, makan pudingnya yang banyak! Biar cepat besar," Elif dengan antusias, kembali memberikan puding coklat untuk Alan.
"Mamam? Eyif ugha maam," Alan menyuapi Elif dengan tangan mungilnya.
"Alan makan aja, Elif makannya nanti." Elif berucap, menolak puding dari Alan. Alan dengan polosnya menatap Elif, dengan bibirnya yang mulai melengkung ke bawah, pertanda akan menangis.
"Hiks, Eyif mam ugha, Alan ndah maam." Alan sudah hampir menangis, membuat Elif dengan cepat menerima puding itu.
"Iya, Elif makan kok." ucap Elif, dengan terpaksa memakan puding itu.
Alan yang tadinya hampir menangis, kini kembali ceria dan memakan puding dengan lahap, sesekali menyuapi Elif agar memakan puding itu juga.
****
Saya mandi terlebih dahulu," ucap Jovan lalu masuk kedalam kamar mandi, yang ada di kamarnya itu.
Elif memperhatikan kamar Jovan yang bernuansa hitam itu, Elif melihat sebuah foto besar yang berada di dinding kamar Jovan, lalu mendekat untuk melihat lebih Jelas. Di foto itu, terdapat dua orang anak kecil dan juga Mamah Diana dan Papah Sagara. Lalu, pandangannya turun untuk melihat sebuah foto kecil yang berisi seorang wanita cantik, dan Jovan yang tengah saling bertatapan.
"Ini siapa? Cantik banget." ucap Elif, dengan senyuman kecilnya.
'Cklek'
Terdengar pintu kamar mandi yang tengah dibuka, Elif bergegas menyimpan foto itu, dan membalik, kan badannya.
"Om, mandinya udah?" tanya Elif dengan cengiran lucunya, membuat Jovan mengernyit heran.
"Kamu tidak lihat? Saya sudah selesai mandi?" Jovan balik bertanya.
Elif yang menyadari kebodohannya, lalu bergegas pergi kekamar mandi, meninggalkan Jovan yang tengah geleng-geleng kepala akibat tingkah lakunya.
"Bajumu sudah disiapkan oleh Mamah di sana." ucap Jovan, lalu mulai mengeringkan rambutnya.
Setelah hampir setengah jam, Jovan mulai khawatir dengan apa yang dilakukan Elif di dalam sana.
"ELIF, APAKAH KAU INGIN KEDINGINAN DI KAMAR MANDI?" tanya Jovan sedikit berteriak, agar Elif mendengarnya.
"UDAH OM, TAPI BAJUNYA ANEH. ELIF MALU KALO KELUAR." Jawab Elif dari kamar mandi.
"KELUARLAH, NANTI KAU KEDINGINAN!" Jovan berfikir mungkin baju yang dikasih ibunya itu sedikit kebesaran? Ah, entahlah.
'Cklek'
Elif keluar dari kamar mandi, dengan tangan yang menutupi dadanya, dan juga bagian Kemaluannya. Elif menatap takut-takut kepada Jovan.
"O—om jangan lihat Elif te—terus! Elif malu." Elif berucap dengan wajah yang mulai memerah.
Jovan meneguk ludahnya dengan susah payah, dan terus memperhatikan Elif dari atas sampai bawah berulangkali, membuat sesuatu di bawah sana menegang dengan sempurna.
"A—apa kau ingin menggodaku? Elifa?" tanya Jovan dengan terbata-bata.
Elif hanya diam mematung di tempatnya, tidak berani untuk bergerak karena takut akan tatapan lapar dari Jovan. Sementara itu, Jovan mulai menjilat bibirnya sendiri dengan sensual dan mulai mendekati Elif dengan wajah laparnya.
"O—om, m—mau apa?" Elif berucap, dan mulai mundur dengan perlahan. Mata polos Elif membulat kaget, ketika merasakan punggungnya membentur dinding dengan keras. Kini, Jovan berada tepat di depannya membuat tubuh kecil Elif sedikit bergetar.
'Cup'
Bibir mungil Elif bersentuhan dengan bibir tebal milik Jovan, membuat Elif melotot dengan kaget.