“Selamat pagi bapak Banyu dan ibu Nayu. Perkenalkan, saya adalah Vino, kepala pelayan dari keluarga tuan Bratha. Tentu saja, bapak Banyu dan ibu Nayi sudah mengetahui tujuan dari kedatangan saya ke sini untuk mewakili keluarga tuan Bratha untuk melamar nona Sofia.”
“Ya, kami sudah mengetahuinya. Karena semalam, saya dan tuan Bratha sudah saling berkomunikasi.”
“Ya, karena kesibukan beliau dan jadwal yang sangat padat sehingga tidak memungkin beliau untuk bertemu langsung dengan pak Banyu dan ibu Nayu untuk melamar putri kalian.”
“Ya, tidak apa-apa. Kami bisa mengerti hal itu.”
“Mengenai mahar dan persiapan pernikahan lainnya nanti, akan dibicarakan oleh nyonya Lady dengan nona Sofia langsung saat nona Sofia sudah tiba di kediaman tuan Bratha.”
“Iya.”
“Bagaimana dengan nona Sofia? Apa kami sudah bisa menjemput nona Sofia untuk diantar ke kediaman tuan Bratha?”
“Sebentar. Saya akan panggilakan putri saya terlebih dahulu.”
“Baik, bu Nayu.”
Nayu segera pergi ke kamar putrinya untuk menghampiri Sofia yang tengah berdandan atas perintahnya.
Cklek,
Begitu Nayu membuka kamar putrinya, yang dia dapati adalah Sofia yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil memeluk boneka beruangnya dan menangis.
“Ya ampun, Sofia. Tingkah kamu masih seperti anak kecil sekali sih, nak. Coba dong bersikap lebih dewasa sedikit. Kamu kan akan bertemu dengan calon suami kamu dan juga calon ibu mertua kamu. Kalau posisi duduk kamu seperti ini, bisa-bisa baju yang kamu pakai jadi lecek. Padahal ibu sudah menyetrika baju ini sampai lima kali, biar terlihat halus dan rapi. Tapi, kamu malah bikijn baju ini jadi lecek. Padahal baju ini satu-satunya baju yang paling bagus yang kamu punya. Heuuuhhh… Sofia… Sofia…” Ibu terus mengoceh sambil menarik tangan putrinya, meminta Sofia berdiri di depan cermin, dan merapikan kembali penampilan putrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Dandanan kamu juga jadi luntur gara-gara kamu nangis.” Nayu terpaksa kembali mendandani ulang wajah putrinya agar terlihat cantik kembali.
“Bu, aku mau menarik jawaban aku kembali. Aku tidak jadi menerima lamaran itu. Aku benar-benar tidak mau, bu…”
“Tidak bisa, Sofia. Kamu sudah tidak bisa lagi menolak. Karena keluarga tuan Bratha sudah mendaftarkan pernikahan kamu dan Yesaya di KUA dan sedang dalam proses.”
“Baru dalam proses, kan? Masih belum jadi.”
“Jangan buat kesal ibu, Sofia. Kamu sendiri yang mengatakan kesediaan kamu semalam, kalau kalau kamu mau menikah dengan Yesaya. Setelah bapak kamu menghubungi dan memberitahu pada tuan Bratha, sekarang kamu malah mau membatalkannya. Kamu pikir, pernikahan ini hanyalah pernikahan permainan saja?”
“Tapi, aku hanya ingin mengenalnya dulu. Bukan berarti kesediaan aku menerima lamaran tersebut karena aku ingin menerima lamaran dan benar-benar mau menikah dengan Yesaya.”
“Ya sudah! Kamu katakan saja keberatan kamu untuk menolak lamaran ini dan membatalkannya saat kamu bertemu dengan tuan muda Yesaya dan nyonya Lady. Karena ibu dan bapak tidak mau mengatakan ulang tentang penolakan kamu ini kepada tuan Bratha. Ibu malu, Sofia. Dia sudah sangat baik pada keluarga kita selama ini. Kamu tahu? Setelah bapak kamu sudah tidak lagi bekerja sebagai tangan kanan tuan Bratha, tapi tuan Bratha masih rutin memberikan gaji pokok bapak setiap bulannya, sampai kami masih bisa membiayai sekolah kamu sampai tamat SMA. “ Nayu begitu jengkel dengan keputusan Sofia yang cukup plin plan.
Usai berdandan dengan rapi kembali, Nayu segera membawa keluar putrinya untuk diantar ke kediaman tuan Bratha bersama dengan beberapa pengawal.
Sofia hanya bisa pasrah saja saat ini untuk menghadapi ketidakadilan yang telah bapak dan ibunya lakukan padanya.
“Hikss…” Banyu tiba-tiba saja menangis. Dia menitikan air matanya di depan putrinya yang hendak pergi menuju kediaman Bratha.
Sofia yang melihat bapaknya menagis bukannya simpati, yang muncul di dalam dirinya justru rasa kesal.
“Untuk apa bapak menangis? Ini kan yang memang bapak inginkan.” Sofia mengatakan dengan nada sedikit kesal. Dia pun segera mencium tangan bapak dan ibunya untuk berpamitan. “Sofia berangkat dulu, pak, bu.”
Lalu, Sofia dibawa masuk ke dalam mobil sedan hitam yang sangat mewah, dengan pengawalan dari dua mobil di depan dan di belakang yang mengapit mobil yang Sofia naiki.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Bratha, tidak ada rasa gugup yang Sofia rasakan sedikit pun, yang ada justru rasa penolakan besar yang akan dia katakan dengan lantang di depan Yesaya dan ibunya Yesaya nanti. Sofia benar-benar sudah meneguhkan hal itu di dalam hatinya, kalau pernikahan ini tidak bisa berkompromi dengan masa depannya.
“Semangat, Sofia.” Ucapnya di dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri agar tidak lemah.
Setelah melakukan perjalanan selama satu jam lamanya, akhirnya Sofia tiba di kediaman tuan Bratha.
Baru sampai pintu gerbang kediaman tersebut saja, Sofia sudah dibuat takjub. Bagaimana tidak takjub. Pintu gerbang yang besar, mewah, dan seperti anti peluru itu terlihat dibuat khusus untuk kediaman rumah tuan Bratha. Tidak hanya itu, dua pengawal dengan pakaian khusus berdiri di depan pintu gerbang sambil membawa senjata api lengkap dengan topi anti peluru di kepalanya. Sudah seperti tantara saja. Begitu dia memasuki pintu gerbang nan megah tersebut, Sofia semakin dibuat lebih takjub lagi, karena rumah kediaman tersebut benar-benar sangat mewah, bak istana di negeri dongeng. “Ya Tuhan, ini aku lagi masuk ke dalam Istana tersembunyi yang tidak pernah aku ketahui kalau ternyata ada di dunia ini dan sangat dekat dengan rumah aku? atau, ini hanya mimpi?”
Sofia berkali-kali mengucek matanya, menepuk pelan kedua pipinya untuk menyadarkan dirinya kalau yang dia sedang lihat dan rasakan saat ini adalah nyata. Bak anak kecil, Sofia malah kegirangan sendirian. Tapi, lagi-lagi dia segera menyadarkan khayalannya saat ini yang dia anggap gila.
“No, Sofia. No!”
Sofia segera memposisikan duduknya normal seperti semula, dengan bersandar pada sandaran kursi dengan tenang dan berusaha untuk tidak terhanyut pada suasana indah yang ada di sekitarnya saat ini.
Iringan mobil pun berhenti di salah satu bangunan yang berada di Kawasan tersebut. Dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi dan beberapa dinding berhiaskan emas murni, bangunan tersebut semakin terlihat mewah dan elegan.
Saat Sofia hendak menuruni mobil, seorang pelayan pria sudah membukakan pintu untuknya terlebih dahulu. Sambil menyambut kedatangan Sofia dengan senyuman ramah, pelayan itu menayapa Sofia dengan mengatakan, “Selamat pagi, nona Sofia.”
Sofia dibuat beku untuk beberapa saat lantaran dirinya yang tidak pernah mendapatkan perlakuan seistimewa ini dari siapapun sebelumnya.
“Pa- pagi…” Sofia menyapa balik dengan canggung sekaligus gugup. Tapi, dia akan berusaha untuk tetap bersikap tenang.
***
“Terima kasih.” Ucap Sofia pada pelayan itu.
“Sama-sama, nona.”
Sofia meluruskan dan merapatkan kedua kakinya. Kedua matanya berkeliling melihat tempat tersebut. Tempat yang belum pernah Sofia datangi dan ternyata di dalamnya sangat indah.
“Aku menyukai tempat ini.” Sofia bergumam di dalam hatinya. Tempat yang nantinya akan menjadi tempat tinggal Sofia setelah dia sudah menikah nanti dengan sang pewaris.
“Nona Sofia, mari saya antar nona untuk bertemu dengan nyonya Lady. Karena beliau sudah menunggu kedatangan nona Sofia.” Seorang pelayan perempuan mengatakannya pada Sofia.
Sofia segera mengikuti arahan dari pelayan tersebut. Dia berjalan di belakang pelayan itu.
Sepanjang Sofia berjalan menuju ke tempat tujuannya, kedua mata Sofia tidak bisa berhenti untuk melihat-lihat tempat kerajaan tersebut. Indah dan menyejukkan. Hingga akhirnya Sofia tiba di sebuah ruangan yang cukup luas dan penuh dengan sentuhan tradisional dari daerah kota tempat tinggalnya.
“Hebatnya. Di zaman era digital seperti ini, tapi sentuhan budaya Indonesia tetap dipakai. Wajar sih, namanya juga kerajaan.” Sofia membantin.
“Silahkan duduk di sini. Nyonya Lady akan segera datang.” Pelayan tidak hanya mengantar Sofia sampai ke ruangan pertemuan, tapi juga pelayan sampai menunjukkan posisi duduk yang seharusnya Sofia duduki.
“Tunggu sebentar,” Sofia menahan cepat pelayan itu ketika pelayan itu hendak pergi meninggalkannya.
“Ya, nona? Apa ada yang nona butuhkan?”
“Iya.”
“Apa yang nona Sofia butuhkan?”
“Apa boleh kalau aku memakan cokelat yang ada di meja itu?” Sofia menunjuknya dengan kedua matanya ke arah toples cokelat yang terlihat enak.
“Silahkan kalau nona Sofia ingin mencicipinya.” Pelayan itu mengizinkannya.
“Okey. Terima kasih.”
“Apa ada lagi yang bisa saya bantu?”
“Tidak. Sudah cukup.”
“Kalau begitu, saya pamit dulu. Silahkan nona Sofia menikmati cemilannya selagi menunggu kedatangan nyonya Lady.”
“Baiklah.”
Setelah pelayan itu pergi, Sofia segera membuka toples berisi cokelat lalu dia mencicipinya.
“Hm. Lezat.” Sofia senang setelah dia menggigit kecil cokelat itu, karena rasanya sesuai dengan ekspektasi.
Sofia pun kembali mengambil cokelat itu beberapa kali. Selain dia menikmati rasa cokelat yang belum pernah dia makan. Sofia juga kelaparan setelah sempat menangis sebelum berangkat tadi ke kerajaan.
“EHEEMMM!”
Tangan Sofia tertahan sebelum cokelat yang kesekian kalinya masuk ke dalam mulut Sofia, ketika Sofia mendengar suara keras dari dehaman seorang pria.
Saat itu juga Sofia memutar perlahan kepalanya untuk melihat orang itu.
Deg!
Seketika jantung Sofia serasa berhenti berdetak begitu dia melihat sosok orang baru saja menyapanya dengan dehaman dari suaranya yang berat. Sofia menurunkan tangannya. Dia meletakkan cokelat itu di atas tisu, kemudian Sofia menelan savilanya sebanyak dua kali dengan pelan.
Sofia terkejut saat dirinya dihadapkan langsung dengan calon suaminya yang bernama Yesaya.
Satu kata yang langsung muncul dalam benak Sofia tentang sosok pria itu. “Tampan.”
Jauh dari perkiraan Sofia, kalau ternyata sang Pewaris Yesaya lebih tampan dari pada yang dia lihat di sosial media selama ini. Bahkan Yesaya tidak terlalu terlihat seperti pria yang berusia 33 tahun, melainkan Yesaya masih pantas untuk disamakan dengan pria yang berusia 28 tahun.
Tapi, dari ketampanan yang Yesaya miliki, sayangnya sang pewaris itu lumpuh. Sofia menghadapi calon suaminya duduk di atas kursi roda.
Kini, keduanya hanya saling melihat satu sama lain untuk pertemuan pertama mereka.
“Mau sampai kapan kamu berdiri di sana?” Yesaya mulai bicara pada Sofia.
Lamunan Sofia yang deep langsung pecah saat itu juga. Suara yang berat tapi ademin banget kalau didengar pakai telinga Sofia.
Sikap Sofia yang semula santai menjadi kikuk sekarang. “A- aku—”
“Duduklah.” Yesaya meminta. Lalu dia menghampiri Sofia sambil menekan sebuah tombol yang ada di kursi rodanya.
“Kok- bukan- nyonya- Lady- yang- datang- ke sini?” Sofia bertanya dengan terbata.
Tapi bukannya menjawab pertanyaan dari Sofia, yang Yesaya lakukan malah memperhatikan meja yang Sofia berantakin dengan bungkus cokelat yang dibiarkan berhamburan di meja tersebut.
Untung saja Sofia peka. Dia pun bergegas merapikan meja tersebut, sampai meja itu benar-benar rapi seperti semula.
Setelah meja itu rapi kembali, Sofia kembali duduk dengan rapi pula. Dia merapatkan kedua kakinya, meletakkan kedua tangannya di atas pangkuan kaki, dan sedikit menundukkan kepalanya.
“Siapa nama kamu?” Yesaya bertanya.
“Sofia.”
“Nama lengkap?”
“Shana Sofia.”
“Usia?”
“19 tahun.”
“Jadi, jelas ya berapa banyaknya jarak usia kita?”
“I- iya.”
“Berapa?”
Sofia segera menghitungnya. Lugunya, Sofia malah menghitungnya dengan jari-jari tangannya.
Sungguh. Kepolosan Sofia membuat Yesaya lelah. Dia sama sekali tidak percaya kalau dirinya akan dijodohkan dengan bocil.
“14 tahun.” Sofia menjawab.
“Wah. Rentang usia yang sangat jauh sekali. Dengan jarak usia kita yang sejauh itu, apa kamu yakin kalau kamu bersedia untuk menikah dengan saya?” Yesaya mencoba untuk memastikan hal riskan tersebut.
“Insya Allah.”
Jawaban yang membuat Yesaya tak bisa lagi mengajukan pertanyaan apapun selain menerima perjodohannya dengan seorang gadis perempuan yang terbilang masih bau kencur.
“Nyonya Lady tiba.” Seorang pelayan memberitahu dari luar ruang pertemuan tersebut.
Sofia segera bersiap-siap berdiri untuk menyambut wanita yang namanya pernah diberitahukan oleh ibunya, kalau wanita itu adalah calon ibu mertua Sofia.
Jantung Sofia bahkan jauh lebih berdebar saat dirinya mau menghadapi calon ibu mertuanya, dibandingkan harus menghadapi calon suaminya.
Lady masuk ke dalam ruangan. Wanita paruh baya itu terlihat sangat anggun di usianya yang sudah tidak lagi muda. Senyumannya saat melihat Sofia membuat Sofia merasa tenang.
“Ternyata calon ibu mertua aku baik. Alhamdulillah.” Sofia berucap syukur.
Selama ini Sofia memang tidak terlalu mengetahui dan mengenal tentang keluarga kerajaan yang ada di kota tempatnya tinggal. Bahkan sosok Yesaya baru Sofia lihat semalam, saat Sasha menunjukkan foto Yesaya dari sosial media pada Sofia. Jadi, Sofia benar-benar tidak tahu apa-apa mengenai tata cara kehidupan dan lainnya tentang keluarga kerajaan.
“Kamu yang namanya Sofia?” Lady menyapa dengan senyumannya yang sangat ramah.
“Iya, tante.”
“Tante?” Lady dan Yesaya terkejut mendengar panggilan yang Sofia berikan pada Lady.
Tapi, ya sudahlah toh Sofia belum mengetahuinya.
Sofia kembali duduk di kursinya setelah Lady duduk. “Begini. Tentu kamu sudah mengetahui mengenai perjodohan kalian berdua. Benar Sofia?”
“I- ya, benar. Saya sudah mengetahuinya.”
“Kepala pelayan Vino pasti juga sudah memberitahukan mengenai tanggal pernikahan kalian.”
“Itu— aku belum mengetahuinya. Mungkin kepala pelayan Vino sudah memberitahu bapak dan ibu.”
“Kalau begitu, saya akan memberitahu kamu untuk tanggal pernikahan kalian.”
“Pernikahan kalian akan dilaksanakan pada tanggal 10 Juli. Jadi, persiapkanlah dirimu sebagai calon pengantin. Tolong juga jaga sikapmu mulai sekarang sebagai calon menantu dari keluarga kerajaan. Karena setelah kamu menikah dengan putra saya, maka semua orang langsung menyorot semua aktifitasmu. Bisa dimengerti perkataan saya ini?”
“Bisa.” Sofia mengangguk kaku.
***