Celeste terpaku di tempatnya, napasnya tercekat saat Adrian berdiri di ambang pintu ruang makan. Pandangan pria itu penuh dengan amarah yang membara, tetapi juga luka yang dalam.
Ia terlihat begitu berbeda dari yang terakhir kali Celeste melihatnya-tidak ada lagi senyuman lembut atau tatapan penuh kasih. Sekarang, hanya ada kemarahan yang nyaris tak terbendung.
"Kau sudah menjadi istrinya," suara Adrian tajam, penuh kepedihan. "Bagaimana kau bisa melakukannya, Celeste?"
Celeste menelan ludah. Tangannya mencengkeram erat tepi meja, seolah berharap itu bisa menahan tubuhnya yang terasa lemah.
"Aku tidak punya pilihan, Adrian," suaranya nyaris berbisik, penuh keputusasaan. "Kau tahu aku tidak pernah menginginkannya."
Adrian tertawa pendek, tetapi tidak ada humor di dalamnya. Hanya kepahitan yang mendalam.
"Tidak punya pilihan?" matanya menatapnya tajam. "Kau bisa lari bersamaku. Aku sudah menyiapkan segalanya. Tapi kau tetap memilih untuk menikahi pria itu. Ayahku."
Kata terakhir itu diucapkan dengan penuh rasa jijik dan kepedihan.
Celeste merasakan hatinya mencelos. Ia tahu Adrian tidak akan pernah mengerti. Tidak ada yang akan memahami betapa beratnya tekanan yang ia hadapi-keluarganya, kehormatan, ancaman yang tersembunyi di balik segala kemewahan yang tampak dari luar.
"Aku tidak ingin ini, Adrian," suaranya nyaris pecah. "Tapi aku harus melakukannya."
Adrian menggelengkan kepalanya, rahangnya mengeras. "Jadi itu saja? Kau menyerah begitu saja?"
Celeste tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap Adrian dengan air mata yang menggenang di matanya.
Adrian menghela napas panjang, menutup matanya sejenak seakan berusaha menahan emosinya.
"Aku mencintaimu, Celeste," suaranya lebih pelan kali ini, tetapi tetap penuh dengan luka. "Dan aku tahu kau juga mencintaiku. Jadi katakan padaku..." Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatapnya dalam. "Apakah kau benar-benar bisa menjadi istrinya? Tidur di ranjang yang sama dengannya? Melupakan segalanya tentang kita?"
Celeste merasa dadanya sesak. Ia ingin berteriak bahwa tidak, ia tidak akan pernah bisa. Bahwa setiap sentuhan Dominic akan terasa seperti belati yang menghujam jiwanya.
Tapi kata-kata itu tidak pernah keluar.
Sebaliknya, yang terdengar hanyalah suara langkah kaki di kejauhan.
Adrian langsung berdiri tegak. Celeste menoleh dengan panik-dan saat itu juga, pintu ruangan terbuka.
Dominic Mercer berdiri di sana.
☆
Ruangan itu dipenuhi ketegangan yang begitu tebal hingga hampir terasa mencekik. Dominic memandang keduanya dengan sorot mata dingin, tak terbaca. Tatapan itu berhenti pada Adrian sejenak sebelum akhirnya beralih ke Celeste.
"Apa yang terjadi di sini?" suaranya terdengar tenang, tetapi ada ketajaman tersembunyi di dalamnya.
Celeste membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Adrianlah yang akhirnya berbicara. "Aku hanya ingin berbicara dengan istrimu, Ayah," katanya, nadanya penuh tantangan. "Atau itu tidak diperbolehkan?"
Dominic tidak bereaksi. Ia hanya menatap putranya selama beberapa detik sebelum berjalan masuk dan berdiri di samping Celeste. Tangannya terulur, menyentuh bahu istrinya dengan gerakan yang terlihat lembut-tetapi Celeste bisa merasakan tekanan kuat dari genggaman itu.
"Tentu saja diperbolehkan," jawab Dominic akhirnya, tetapi ada sesuatu dalam nadanya yang membuat bulu kuduk Celeste berdiri.
Adrian menatap ayahnya dengan tajam. "Lalu, kau tidak keberatan jika aku membawa Celeste keluar untuk berbicara lebih lama?"
Dominic tersenyum kecil. Senyum itu tidak menghangatkan-sebaliknya, terasa seperti peringatan.
"Dia istriku sekarang, Adrian," katanya dengan nada rendah tetapi penuh otoritas. "Jika dia ingin pergi, dia bisa memintaku sendiri."
Celeste merasa jantungnya berdetak kencang. Ini adalah ujian.
Dominic ingin melihat apakah ia akan memilih Adrian atau tetap berada di sisinya.
Adrian juga menyadarinya.
Celeste menunduk, tidak berani menatap keduanya. Ia tahu jika ia mengatakan bahwa ia ingin pergi dengan Adrian, Dominic tidak akan tinggal diam. Dan konsekuensinya... ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
Jadi, ia mengambil keputusan yang paling aman.
"Aku... lelah," katanya akhirnya, suaranya hampir tak terdengar. "Aku ingin beristirahat."
Keheningan yang terjadi setelahnya begitu menusuk.
Adrian menatapnya, matanya dipenuhi dengan rasa sakit yang nyata. Celeste ingin menjerit, ingin memberitahunya bahwa ini bukan pilihannya. Bahwa ia hanya mencoba bertahan.
Tetapi Adrian tidak akan pernah memahaminya.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Adrian berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Celeste dengan Dominic yang masih berdiri di sisinya.
☆
Saat pintu menutup, Dominic tidak segera melepaskan genggamannya dari bahu Celeste. Sebaliknya, ia menekan sedikit lebih keras, membuat Celeste menegang.
"Kau membuat keputusan yang tepat," katanya akhirnya, suaranya rendah dan penuh makna.
Celeste hanya mengangguk kecil.
Dominic akhirnya melepas genggamannya, tetapi sebelum pergi, ia menundukkan diri dan berbisik di telinganya.
"Aku tidak suka berbagi, Celeste," bisiknya. "Dan aku tidak akan ragu untuk memastikan bahwa kau hanya menjadi milikku."
Jantung Celeste berdetak semakin kencang.
Saat Dominic pergi, meninggalkannya sendirian di ruang makan yang kini terasa begitu dingin, Celeste menyadari sesuatu.
Ia mungkin telah memilih untuk tetap di sisi Dominic hari ini.
Tetapi suatu hari nanti, pilihannya mungkin akan menentukan kehancuran bagi mereka semua.
Malam itu, Celeste terbaring di ranjang luas yang kini menjadi miliknya-ranjang yang seharusnya menjadi simbol kebanggaan sebagai istri Dominic Mercer. Namun, bagi Celeste, tempat ini lebih terasa seperti jeruji besi yang mengurungnya dalam pernikahan yang tidak diinginkannya.
Langit-langit kamar yang tinggi tampak begitu jauh, seolah-olah mengingatkannya betapa kecil dan tak berdayanya ia di dalam dunia yang kini harus ia jalani.
Pikirannya terus melayang pada tatapan Adrian sebelum ia pergi-tatapan penuh luka, penuh kekecewaan. Apakah ia kini membencinya? Ataukah Adrian masih berharap ia akan berubah pikiran?
Ketukan pelan di pintu membuatnya tersentak.
Celeste menegakkan tubuhnya dengan gugup. Ia tahu hanya ada satu orang yang bisa datang ke kamarnya pada malam seperti ini.
Benar saja, saat pintu terbuka, Dominic berdiri di ambang pintu.
Pria itu masih mengenakan kemeja putihnya, dengan lengan yang tergulung hingga siku. Rambutnya tampak sedikit berantakan, tetapi ekspresinya tetap tajam dan penuh kendali.
Celeste menggenggam selimutnya erat. "Apa kau membutuhkan sesuatu?"
Dominic menutup pintu dengan perlahan sebelum berjalan mendekat. Ia tidak langsung menjawab, hanya mengamatinya dalam diam, seperti sedang menilai setiap ekspresi yang melintas di wajahnya.
"Apa kau takut padaku?" akhirnya pria itu bertanya, suaranya rendah tetapi tajam.
Celeste menggigit bibirnya. "Aku tidak tahu," jawabnya jujur.
Dominic mengangkat alisnya, seolah tertarik dengan jawabannya. "Kau tidak perlu takut, Celeste," katanya, lalu meraih dagunya dengan lembut, memaksanya untuk menatapnya. "Selama kau setia padaku."
Celeste menahan napas. Ada sesuatu dalam caranya berbicara yang membuatnya merasa seolah-olah ia sedang diperingatkan.
Dominic mendekat, dan Celeste bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang begitu dekat. "Aku tahu Adrian datang menemuimu tadi," katanya pelan.
Jantung Celeste berdetak lebih kencang. "Dia hanya ingin berbicara," jawabnya cepat.
Dominic tersenyum kecil, tetapi tidak ada kelembutan di sana. "Tentu saja."
Pria itu lalu mengangkat tangan Celeste, membelai jari-jarinya dengan sentuhan yang seharusnya lembut, tetapi terasa seperti belenggu.
"Aku tahu Adrian mencintaimu," katanya, matanya tetap mengunci milik Celeste. "Tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil apa yang sudah menjadi milikku."
Celeste menelan ludah. "Aku bukan barang, Dominic."
Senyum Dominic tidak luntur. "Tidak," katanya. "Tapi kau adalah istriku."
Saat ia menekankan kata terakhir itu, Celeste tahu bahwa Dominic tidak hanya sedang mengingatkannya tentang statusnya-ia sedang mengukuhkan kepemilikannya.
Lalu, seolah-olah percakapan tadi tidak pernah terjadi, Dominic menurunkan tangannya dan melangkah mundur.
"Istirahatlah, Celeste," katanya sebelum berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkannya dengan napas yang masih tersengal.
Namun sebelum pintu tertutup sepenuhnya, ia sempat melontarkan satu kalimat lagi.
"Dan ingat... aku tidak suka dikhianati."
☆
Keesokan paginya, suasana rumah terasa lebih mencekam daripada biasanya. Para pelayan tampak lebih diam dari biasanya, seolah takut akan ada badai yang meledak kapan saja.
Celeste tahu alasannya.
Saat ia turun ke ruang makan, Adrian sudah ada di sana. Duduk di ujung meja, mengenakan kemeja hitam dengan kancing atas yang terbuka, memperlihatkan leher kuatnya.
Mata mereka bertemu, dan Celeste bisa merasakan ketegangan di antara mereka.
Namun sebelum ada yang bisa berbicara, Dominic muncul, berjalan santai ke dalam ruangan dengan keanggunan yang selalu dimilikinya.
Tanpa berkata apa-apa, ia menarik kursi dan duduk di samping Celeste, lalu mengangkat cangkir kopinya dengan tenang.
"Jadi," kata Dominic sambil mengaduk kopinya perlahan. "Apa yang kalian bicarakan tadi malam?"
Celeste langsung menegang.
Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap ayahnya tanpa ekspresi. "Aku hanya ingin mengucapkan selamat pada Celeste atas pernikahannya."
Senyum kecil terbentuk di bibir Dominic. "Bagus," katanya. "Karena aku ingin memastikan bahwa tidak ada kesalahpahaman di antara kita."
Adrian tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya. "Oh, tidak ada kesalahpahaman, Ayah," katanya dengan nada sarkastik. "Semuanya sangat jelas."
Dominic menaruh cangkir kopinya dengan tenang, lalu bersandar. "Senang mendengarnya."
Celeste merasakan napasnya tercekat. Ia tahu ini bukan sekadar percakapan biasa-ini adalah pertempuran tersembunyi di antara dua pria yang sama-sama ingin mengklaimnya.
Ia merasa seperti berada di tengah badai yang siap meledak kapan saja.
Dan entah bagaimana, ia tahu bahwa ini baru permulaan.
☆
Hari itu, Celeste mencoba menghindari Adrian sebisa mungkin. Ia tahu semakin banyak mereka berbicara, semakin berbahaya situasinya.
Namun, saat ia berjalan di sepanjang koridor menuju perpustakaan, sebuah tangan menariknya dengan cepat ke sudut ruangan yang lebih sepi.
Celeste terkejut saat mendapati Adrian berdiri di depannya.
"Kita harus bicara," katanya, suaranya lebih rendah dari biasanya.
Celeste menggeleng panik. "Adrian, ini berbahaya-"
"Aku tidak peduli," potongnya tajam. "Kau tidak bisa terus seperti ini, Celeste. Aku tahu kau tidak bahagia dengan pernikahan ini."
Celeste memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang mengancam jatuh. "Itu tidak penting. Aku sudah membuat keputusan."
Adrian mengangkat tangannya, menyentuh wajah Celeste dengan lembut. "Katakan padaku satu hal, Celeste," bisiknya. "Jika aku menyuruhmu pergi bersamaku sekarang... akankah kau ikut?"
Celeste terdiam.
Ia ingin mengatakan iya. Ia ingin mengatakan bahwa ia akan meninggalkan segalanya dan pergi bersamanya.
Tetapi bayangan wajah Dominic muncul dalam pikirannya.
Pria itu tidak akan pernah membiarkannya pergi begitu saja.
Ia bukan hanya suaminya sekarang-ia adalah pemiliknya. Dan jika ia berani mengkhianatinya, Celeste tahu ia akan membayar harga yang sangat mahal.
Akhirnya, dengan hati yang berat, ia menarik diri dari Adrian dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa."
Ekspresi Adrian berubah. Dari harapan menjadi kekecewaan yang dalam.
Ia mundur selangkah, menatapnya dengan luka yang jelas di matanya.
"Kau memilihnya," katanya dengan suara dingin.
Celeste tidak bisa menjawab.
Dan saat Adrian pergi, Celeste tahu bahwa keputusannya hari ini akan mengubah segalanya.
Tetapi pertanyaannya adalah... apakah ia telah memilih dengan benar?