Bab 2

"Sena Davinia, artinya anak yang dilindungi dewi bulan."

"Dewi bulan? Kenapa dilindungi dewi bulan? Kan ada Tuhan."

"Hahahaha- buat cadangan, siapa tahu Tuhan sedang sibuk jadinya dewi bulan bisa membantu."

"Oh."

Itulah percakapan yang berulang kali Sena dengar dari cerita ibunya. Ayah membuat nama yang terlihat romantis lalu kakak laki-laki yang antusias menyambut kehadirannya di dunia ini.

Sena pikir selamanya bisa bahagia bersama mereka, tapi ternyata dia salah. Setelah tumbuh dewasa dan menjadi cantik, dia di jual ke seorang keluarga pria kaya untuk dijadikan istri ke putranya yang mata keranjang.

Sena kembali menatap cermin, sebentar lagi suami dan selingkuhannya masuk. Lebih baik dia keluar terlebih dahulu sebelum bencana itu datang!

Sekarang akhirnya dia percaya bahwa dirinya mengulang waktu.

Sena masuk ke dalam perpustakaan dengan gaun tidur panjang dan telanjang kaki, rumah ini memiliki perpustakaan besar. Ayah mertuanya sangat suka membaca.

"Nyonya."

Sena menoleh dan melihat sekretaris ayah mertua sedang menatap aneh dirinya.

Tentu saja. Sejak menikah, aku tidak pernah memegang buku lagi. Masuk ke perpustakaan pun ditertawakan suami ketika minta izin. Batin Sena.

'Kamu ingin menjadi orang aneh yang gila buku?'

Setelah dipikir ulang, aku yang terlalu bodoh karena takut dengan penilaian suami. Batin Sena lagi.

"Nyonya, ada apa? Kenapa anda di sini?"

"Aku-"

BRAK!

"Kamu yakin tidak ada orang di sini?"

Sena yang mendengar suara adik sepupu mendekat, sontak menarik tangan sekretaris ayah mertua ke balik rak buku perpustakaan yang tersembunyi.

"Aku selalu berkunjung ke sini, tidak mungkin ada orang. Hanya ada kita berdua di sini."

"Ah, kamu-"

"Sekarang, berikan semuanya kepadaku."

Sena mengerutkan kening dengan jijik begitu melihat suami dan adik sepupunya berciuman.

"Apakah anda kemari hanya untuk memergoki mereka?"

Sena yang berada di atas pria itu, menunduk dan tersenyum masam. "Tidak."

"Lalu?"

Sekarang Sena baru ingat, waktu itu suami dan sepupu masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk, dia mengira mereka akan melakukan hubungan tidak senonoh di kamarnya dan merasakan kekecewaan besar. Sekarang mereka melakukannya di perpustakaan-

Apakah waktu itu dia hanya iseng membuka pintu?

Sena tertawa ironis. "Aku berusaha kabur darinya dan sekarang malah harus melihat ini lagi?"

"Lagi?"

Sena balik badan lalu duduk santai dan mengambil sembarang buku yang ada di sekitarnya. "Biarkan saja mereka, pintu keluar satu-satunya harus melewati mereka dan sudah dikunci. Kita terpaksa terkurung di sini."

Sekretaris ayah mertua menatap tidak percaya Sena. "Nyonya, sebaiknya anda bicara ke tuan mengenai masalah ini."

"Apa yang bisa dibicarakan? Ayah mertua terlalu sibuk mengurus perusahaan, lebih baik aku menjaga diri dan menjauhi mereka."

Tidak butuh waktu lama bagi Sena untuk bersikap tidak peduli terhadap sang suami. Melewati tujuh kehidupan dengan rasa sakit yang sama otomatis membuat hatinya mati rasa di kehidupan yang kedelapan.

"Siapa nama kamu?" tanya Sena dengan nada suara pelan. "Aku selalu melihat kamu bersama ayah mertua, karena terlalu gugup waktu itu jadinya lupa dengan nama kamu."

"Adrian Abercio."

"Nama yang bagus."

"Terima kasih."

Adrian mendengar suara tidak menyenangkan di belakang lalu memberikan earphone ke Sena. "Anda mungkin tidak ingin mengotori pendengaran."

Sena menerima dengan senang hati. "Ide bagus."

Earphone dipasang ke handphone Adrian lalu melantunkan suara piano.

Sena konsentrasi membaca sambil mendengarkan suara piano sementara Adrian mengetik sesuatu di handphone.

Tidak lama, mata Sena menjadi berat lalu terlelap.

Adrian melirik Sena yang sudah tertidur, mengintip isi buku di pangkuannya.

Buku mengenai strategi marketing?

-------------

Sebelum Sena dijual untuk menikah dengan anak orang kaya, dia bercita-cita ingin menjadi marketing, mengejar target adalah tantangan untuknya.

Sayangnya, kedua orang tua Sena lebih memilih jalur lain dengan alasan demi masa depan anak.

Sena yang menyayangi kedua orang tuanya, tidak bisa membantah.

Harapan keluarganya, Sena bisa hidup nyaman dan aman lalu mereka bisa bebas dari hutang. Tapi ternyata hidup tidak semudah yang dibayangkan.

Suami Sena sangat membencinya, mengutuk kehadirannya dan lucunya tidak bisa menolak perintah sang ayah demi menjadi pewaris.

"Nyonya-"

"Mhm?"

Sena bermimpi sedang membagikan brosur ke berbagai macam orang dan menerima berbagai macam reaksi, dia tidak peduli dan tetap semangat membagikan brosur sekaligus menceritakan isi brosur.

"Nyonya!"

Sena terbangun ketika mendengar suara teriakan Adrian, telinganya sudah tidak terpasang earphone lagi. "Astaga, ada satu lagi yang belum aku kasih tahu!"

Sena melihat wajah datar Adrian. "Hah?"

"Nyonya, tuan dan kekasihnya sudah selesai. Apakah anda tidak kembali ke kamar?"

"Kamar?" Sena masih linglung lalu ingat kembali, saat ini dia ada di perpustakaan bersama Adrian. "Astaga, aku harus kembali!"

Adrian melihat Sena yang berlari panik.

Sena memegang kenop pintu lalu menunjuk Adrian. "Apa yang terjadi hari ini, jangan sampai diketahui orang lain."

"Tenang saja, rahasia aman di saya. Tapi saya tidak bisa berbohong di depan tuan besar."

"Yah, ceritakan saja kalau beliau bertanya."

"Baik."

Sena keluar perpustakaan dengan mengendap-endap, memastikan tidak ada yang melihatnya.

Sementara di dalam perpustakaan, Adrian melihat buku yang ditinggalkan Sena lalu membawanya.

-------------

"Maaf, tuan besar. Anda jadi menunggu lama saya."

"Biasanya kamu tidak pernah terlambat, ada apa? Apakah ada yang menghalangi kamu?"

"Tidak, saya tertidur tadi."

"Ah, seorang Adrian bisa melakukan kesalahan hahahaha-"

Tok! Tok!

Adrian membuka pintu dan melihat Ducan Emrick berdiri di depan pintu.

"Ayahku ada?"

"Tuan muda, tuan besar ada di dalam."

Ducan mendorong pintu dan Adrian sambil masuk ke dalam ruang kerja. "Ayah," sapanya dengan sopan.

"Ducan, darimana saja kamu?"

"Aku keluar sebentar untuk menghibur Sena."

Adrian yang sedang menutup pintu, mengerutkan kening.

"Ada apa dengan Sena? Kamu membuat masalah lagi? Harusnya kamu bisa menjaga dia dengan baik."

"Dia hanya tidak mau makan dan aku harus ada di sana, wanita yang merepotkan tapi aku sayang dia."

"Kamu harus menyayanginya dengan tulus."

Adrian berdiri di samping ayah Ducan.

"Kamu mau apa?"

"Ah, ayah- selalu mengerti keinginan anaknya."

"Apa yang kamu inginkan?"

"Aku mau melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, bolehkah aku pinjam pesawat pribadi ayah?"

"Perjalanan bisnis?"

"Aku ingin memperkenalkan bisnis kita ke luar negeri bersama tim, jika ayah tidak keberatan- bisa membiayai perjalanan kami, lagipula ini akan memberikan keuntungan banyak untuk kita di masa depan."

Adrian bertanya sambil memperbaiki letak kaca mata. "Tuan muda, untuk melakukan perjalanan ke luar negeri, wajib melakukan tes kesehatan dan kita membutuhkan uang lebih. Apakah anda bisa menjamin perjalanan ini akan memberikan banyak keuntungan untuk perusahaan?"

"Kamu ini bicara apa? Aku sedang bicara dengan ayahku, kenapa malah kamu potong?"

Ayah Adrian semakin tidak suka melihat reaksinya yang tidak dewasa. "Apa yang dikatakan Adrian benar, seharusnya kamu bisa berpikir panjang. Masih ada jalan lain untuk promosi produk kita."

Bab 3

Sena yang sedang minum teh dengan santai di taman belakang, kedatangan seorang wanita cantik dengan dandan menor, dari atas sampai bawah terlihat mewah dan bermerk.

Sena meletakkan cangkir teh dengan tenang. Di kehidupan pertama, dirinya sempat stres karena mengetahui sang suami memiliki wanita idaman lain dan dengan bodohnya, dia bunuh diri.

"Hallo."

Sena tidak menjawab, hanya fokus dengan majalah fashion di pangkuannya.

"Ah, percuma saja bersikap sombong di depanku. Suami kamu sudah sama aku lho."

"Terus?"

"Hah?"

Sena tidak mengatakan apa pun lagi.

"Hei, apakah kamu tidak marah?"

Sena tidak menjawab.

Wanita itu semakin salah paham lalu tertawa keras. "Ah, ingin bermain menjadi istri yang baik ya?"

Sena menutup majalah dan menatap jijik wanita itu. "Kamu tadi kemana?"

"Apa?"

"Tadi siang aku melihat pria yang kamu banggakan itu sedang bersama wanita lain, melakukan hal dewasa. Aku kira dia bersama kamu, ternyata bukan toh."

Wanita itu berdiri dan menggebrak meja dengan keras. "JANGAN BOHONG KAMU!"

Sena tersenyum. "Kenapa tidak minta tolong cek cctv di rumah saja? Tepat area perpustakaan, sekitar jam dua belas siang atau lebih. Itu jika kamu punya otoritas lebih."

Wanita itu menatap marah Sena lalu pergi.

Sena menghela napas lega dan kembali membaca majalah fashion, dengan kekayaan keluarga suami- dia bisa memiliki uang untuk bisnis. Sebelum ayah mertua meninggal dan dirinya didepak keluar dari rumah, lebih baik melakukan persiapan terlebih dahulu.

"Thrift shop sudah mulai digemari di Indonesia, apakah anda akan membuka bisnis ini?"

Sena terkejut begitu melihat Adrian lagi. "Astaga, kamu mengejutkan aku."

"Anda yakin akan membuka toko thrift shop?"

"Aku ingin membuka usaha kecil, tapi aku tidak terlalu paham tentang fashion sementara bidang ini banyak penggemarnya dan mudah menghasilkan uang banyak."

"Kenapa nyonya tidak membuka usaha yang digemari nyonya?"

"Usaha apa?"

"Apa yang anda sukai?"

Tangan Sena terhenti ketika mendengar pertanyaan itu, lalu menatap Adrian. "Coba ulangi."

Adrian menatap aneh Sena. "Apa yang anda sukai?" ulangnya.

Sena tersenyum kecil. Baru kali ini ada yang bertanya tentang hal itu, terakhir kali orang tuanya bertanya saat masih sd. Menanyakan barang apa yang dia sukai supaya semangat ke sekolah.

"Ada apa?" tanya Adrian yang tidak mengerti arti senyuman Sena.

Sena meregangkan tangannya ke depan. "Tidak ada yang pernah bertanya hal itu kepadaku setelah menginjak dewasa, aku sedikit terharu."

Adrian menjadi tidak enak lalu memberikan buku yang ditinggalkan Sena di perpustakaan. "Anda meninggalkan ini."

"Terima kasih banyak."

Adrian kembali melihat senyuman Sena. Cantik.

Adrian jadi teringat dengan sikap menyebalkan Ducan beberapa jam lalu.

"Ayah, aku hanya ingin melebarkan sayap bisnis kita. Kenapa menghalangi niat baik aku?" tanya Ducan yang menjadi kesal karena pertanyaan orang asing. "Adrian hanya orang luar, dia tidak mengerti apa pun tentang bisnis kita."

"Saya memang orang luar, mengutamakan profesional. Karena itu saya bertanya, siapa tim anda dan akan bertemu dengan siapa."

Ducan mendecak kesal. "Tidak sopan menanyakan hal itu."

"Tuan muda, sepertinya anda tidak paham. Untuk mengeluarkan dana, perusahaan harus tahu siapa saja yang keluar dan anda bertemu dengan siapa. Supaya waktunya jelas dan efisien."

"Jelas dan efisien? Kamu kira aku ke luar negeri untuk bermain?" tanya Ducan ke Adrian.

Adrian tidak menjawab pertanyaan Ducan.

"Ducan, apa yang dikatakan Adrian benar. Perusahaan harus tahu orang-orang yang akan berangkat supaya memudahkan kita melacak jika terjadi sesuatu di masa depan lalu siapa yang akan kamu temui untuk menghemat waktu selama di sana."

Ducan menatap cemas ayahnya. "Kenapa ayah selalu mendengar Adrian? Aku anak kandung ayah, aku bisa melakukan yang terbaik demi ayah."

"Tuan muda, tadi di perpus-"

"Apa? Kenapa di perpustakaan? Apakah kamu ada di sana?" tanya Ducan dengan cemas.

Ayah Ducan bingung dengan pertanyaan lain Adrian.

Adrian tersenyum. "Tidak, tadi saya di perpustakaan untuk istirahat."

Wajah Ducan berubah pucat, menatap horor Adrian.

"Saat itu, saya melihat buku menarik mengenai teknik marketing."

Ducan mengerutkan kening tidak mengerti.

"Seperti yang diberitahu tuan besar sebelumnya. Ada berbagai cara teknik marketing, tidak perlu repot-repot pergi ke luar negeri sampai masalah pandemi selesai."

"Kamu bicara apa? Jika kita tidak menunjukan produk dan menjelaskannya secara langsung, tidak akan ada yang percaya." Ducan bersikeras.

"Masalahnya, kita harus mengeluarkan biaya kesehatan untuk perjalanan jauh. Sebenarnya perusahaan tidak masalah mengeluarkan uang untuk biaya cek, yang jadi masalah jika mereka tertular sementara pemerintah tidak menyediakan tempat untuk orang-orang yang melakukan perjalanan dinas ke luar negeri, semua harus ditanggung perusahaan."

Ducan semakin bingung dengan penjelasan Adrian.

"Lalu kita harus kehilangan orang selama dua minggu, siapa yang akan back up? Kita cari orang lagi?" tanya Adrian ke Ducan. "Anda sudah lulus kuliah manajemen perusahaan, tentu anda sudah mempertimbangkan semuanya bukan?"

Raut wajah Ducan semakin jelek, pertanyaan Adrian menyudutkannya.

Adrian melirik tuan besar, menunggu reaksi seorang ayah yang sedang mengambil pertimbangan besar.

Ducan merayu ayahnya. "Ayah, aku bersungguh-sungguh. Ayah sudah mendengar hasil pekerjaanku kan? Semuanya memuaskan."

Adrian tahu, ayah Ducan sangat puas dengan hasil pekerjaan putranya. Yang membuat beliau kecewa adalah sifat mata keranjang Ducan, tidak bisa diam begitu melihat wanita cantik.

Ayah Adrian menghela napas panjang. "Lakukan semau kamu."

Ducan tersenyum bahagia. "Terima kasih ayah."

"Jangan lupa menyerahkan nama tim dan orang-orang yang akan kamu temui." Saran ayah Ducan.

Ducan mengangguk antusias. "Tentu saja, aku akan melakukan yang terbaik. Ayah tidak akan kecewa."

Adrian kecewa dengan keputusan ayah Ducan.

Ayah Ducan hanya mengangkat tangan, tidak ingin membahasnya lebih lanjut.

Kekecewaan Adrian semakin menumpuk, hingga tanpa sadar bertemu lagi dengan Sena di taman belakang ketika mengambil dokumen di perpustakaan, dia segera menghampirinya.

"Saya rasa bisnis fashion sudah banyak di berbagai tempat, bagaimana dengan membuka toko hewan?"

"Bukannya toko hewan juga berjamuran? Aku tidak mau, Indonesia kebanyakan tidak peduli dengan nasib hewan."

Adrian terkejut, Sena mampu menganalisa dengan baik. Dia tersenyum lega, setidaknya istri Ducan tidak sebodoh para kekasih yang lain.

Sayangnya, Adrian tidak tahu kalau Sena sudah melewati tujuh kehidupan untuk belajar menjauhi Ducan.

Sena masih meratapi majalah fashion dengan wajah sedih. Aku sudah mulai bosan dengan semua perlakuan Ducan tapi aku lebih bosan dengan kehidupanku di rumah ini. Ducan mulai terang-terangan selingkuh setelah ayahnya mulai sibuk bekerja lagi. Rumah sudah di dalam kekuasaan Ducan.

Adrian bisa melihat tangan gemetar Sena. "Apakah anda takut?"

Sena mengangkat kepalanya dan menatap Adrian.

"Kenapa tangan anda gemetar?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED