"Keluarga Braja sudah pasti terkenal di mana-mana. Jadi, kamu langsung masuk kantor dan diatur jadwal mengajar. Karena Bu Cut juga cuti melahirkan."
"Bapak nggak lihat CV saya?" tanya Neta heran. Setidaknya ada basa-basi dan formalitas. Ia tahu, ayahnya telah mengatur semua ini. Tapi bisakah ia punya pengelaman agar bisa ia ceritakan pada anaknya kelak? Bagaimana ia berjuang? Bukan semuanya berjalan mulus seperti ini. Hufh... Neta merasa hidupnya terlalu monoton.
"Tidak perlu. Lulusan luar negri tak perlu diragukan kredibilitasnya." Neta membuang wajahnya kesal. Huh, ini tidak adil! Padahal ia tahu ada yang lebih berkompeten dari dirinya tapi masih saja politik Nepotisme terjadi seperti ini. Papanya selalu saja menjual nama Braja saat Neta ingin masuk sekolah atau memulai sesuatu dan semuanya dilancarkan. Terkadang, Neta merasa miris dengan kaum yang berada di bawahnya, berjuang mati-matian sampai tersiksa tapi nasib tak pernah berpihak pada mereka—saat mereka membuka mata kemiskinan terus saja menggerogoti mereka. Bukan seperti dirinya yang membuka mata dengan disuguhi barang-barang mahal yang diimpor khusus.
Neta mengangguk. Ia adalah dosen baru, berkata nama Braja ia punya ruangan khusus setara Dekan fakultas. Benar-benar nepotisme yang kelewatan.
Dan sekarang, Neta langsung masuk ke ruangannya yang sudah disambut dengan nyaman dan hiasan yang ibunya sendiri yang menurunkan orang untuk merancang ruangan ini, agar ia nyaman berada di sini. Padahal, Neta bukan dosen tetap. Ia hanya mengajar per jam, dan tak perlu dibayar. Lagian, ia juga banyak endorsan dan acara talk show yang harus ia isi. Tapi, sekarang Neta harus memotong beberapa jam sebelum menjalani profesi yang ingin ia tunjukan.
Ia tak menyangka, kembali dari luar negri, dirinya kebanjiran job tawaran. Mengisi talk show bagiamana kuliah di luar negri dengan penampilannya yang selalu dirawat dari bayi, maka Neta langsung kebanjiran endorsan kecantikan, dan membuat Neta kewalahan dan ia langsung menghire seorang asisten pribadi. Tapi saat sekarang, ia menjadi dosen jadi tak ada pengawal. Neta ingin seperti dosen normal yang lainnya.
Bosan di dalam ruangan. Neta berjalan menuju koridor fakultas yang akan ia ajar. Fakultas ilmu kelautan dan perikanan.
Neta ingin menghitung berapa ruangan agar ia tidak salah ruangan saat mengajar nanti.
Heels miliknya mengema di seluruh koridor ruangan. Mendadak koridor fakultas sepi. Wanita cantik dengan penampilan glamournya memakai kaca mata hitam, penampilannya memang lebih cocok jadi bintang iklan daripada dosen. Ia yakin, mahasiswa yang akan ia ajar takkan fokus. Salahkan saja orang tuanya.
"Shit! Bisa-bisanya jumpa si tengil itu. Mana senyum-senyum tak jelas." umpat Neta sambil bersembunyi di balik pilar. Demi suara sengau Shinchan ia ingat betul mantan rese ini. Kalau boleh jujur, Darris adalah satu-satunya mantan pacar Neta. Ia tak pernah pacaran sebelumnya. Dan hubungan mereka pergi begitu saja, karena ia kuliah di luar negri.
"Kamu nggak akan pernah bersembunyi dariku cantik. Aduh, nggak tahu mantan aku makin menggoda." Jantung Neta mau copot saat ia berbalik dan Darris sudah memeluk dirinya. Gadis itu hanya melotot. Ugh... Ini anak turunan ular dari mana sih?
"Welcome back baby." bisik Darris, membuat Neta menahan napasnya. Ugh... Petir mana petir, tolong sambar anak ini.
Neta memandangi Darris yang setara tingginya. Yang terkahir ia ingat, si tengil ini lebih pendek dari dirinya. Jantung Neta rasanya mau lepas, tapi ia tak munafik ia suka berada dekat Darris.
Mungkin petualangan baru akan dimulai.
Jika surga di telapak kaki ibu, bagaimana kalau dibalik neraka di tangan mantan? Agar Neta bisa menghanguskan mantannya yang rese ini.
"Ehem. Maaf kamu tidak sopan, saya dosen di sini." Neta langsung mendorong Darris. Kenapa harus kampus ini? Padahal ayahnya bisa memilih kampus lain, memang sia-sia saja. Padahal, padahal Neta sudah melupakan si tengil ini. Tapi kembali berdiri di hadapannya dengan senyum andalan yang sangat menyebalkan seperti ini.
"Aku udah tahu kok sayang. Itu suatu kebanggaan buat aku, selamat ya." Mata Neta hampir lepas dari sarangnya saat Darris mencium pipinya. Ya Tuhan anak ini benar-benar. Bagaimana memukul kepala Darris agar laki-laki ini sadar?
"Aku teriak nih, pelecehan." ancam Neta. Darris makin terkekeh. Tak menyangka mantan pacar akan semakin bening dan dewasa seperti ini. Mana wanginya bisa-bisa bikin khilaf. Jujur, Darris pernah berciuman. Karena bundanya selalu memberi wejangan.
"Kamu boleh pacaran, tapi jangan sampai cium bibir. Kalau nggak mau, bunda sunat bibirnya pakai sengatan lebah." ancam Bunda Darris. Si bungsu di keluarga raja hutan langsung bergidik ngeri. Bundanya masih saja kolot. Apa salahnya ciuman? Walau ciuman bisa menyebarkan penyakit, tapi jika dilakukan atas cinta suka sama suka maka akan semakin membuat ketagihan. Ya, Darris hanya tahu sebatas teori.
"Bunda aku sering nanyain kamu."
"Aku aja tak kenal bunda kamu." jawab Neta sengit. Darris makin terkekeh. Benar juga, mungkin setelah ini ia bisa mengenalkan calon istrinya pada calon mertua. Ia yakin, bundanya pasti jatuh cinta dengan kecantikan Neta apalagi ia terlihat begitu dewasa sekarang.
"Ciee... Kode minta dihalalin. Sabar dong, abang kan belum lulus. Entar lulus kerja, ngumpulin uang dulu. Baru kita nikah." Neta memadang lawannya. Bahkan jika detik ini ia meminta orang tuanya menikah tentu mereka akan mengabulkan tapi dengan banyak syarat. Siapa orangnya? Kaya tidak? Turunan siapa? Keluar kayu jati juga? Atau sudah bangun berapa perusahaan? Bukan seperti ini yang bahkan belum lulus kuliah.
Neta menggeleng, kenapa ia harus memikirkan si tengil ini? Darris takkan pernah masuk daftar calon menantu potensial. Bukan mau meremehkan, tapi Neta yakin keluarga Darris hanya keluarga yang ingin sesuatu harus menabung dulu. Bukan seperti dirinya.
Wanita itu mendorong Darris dan berlalu pergi ke ruangannya. Tak ada hal yang menyenangkan di dunia ini. Selalu berjalan monoton.
Neta mulai membuka laptop, mungkin ia bisa reschedule kehidupan sehari-hari yang akan ia jalani. Satu hal yang Neta syukuri dari orang tuanya adalah, mereka tidak menuntut dirinya untuk bekerja di perusahaan malah sebagai tenaga pengajar yang artinya orang tuanya sangat peduli pada lingkungan.
Mungkin saat ada waktu luang, Neta bisa mengunjungi tempat terpenci dengan fasilitas pendidikan yang sangat menyedihkan dan bisa ia sumbang untuk kemajuan pendidikan yang lebih baik. Mungkin bisa ia mulai tahun depan. Walau ia yakin, orang tuanya takkan mengizinkan dirinya berada di pelosok daerah. Orang tuanya pasti khawatir ia tak bisa menyesuaikan keadaan. Hidup serba ada dan ia sekarang ia tak bisa berbuat apa-apa. Seperti tidak ada pasukan ienternet, atau kurangnya air bersih yang membuat kulitnya yang terawat langsung rusak dalam satu hari. Belum banyak nyamuk, binatang kecil, binatang melata.
Keluarga Neta sangat aktif membantu yayasan sosial, yayasan peduli kasih pada orang yang berkebutuhan khusus atau yang terkena penyakit. Ia tahu, orang tuanya rutin memberi donasi setiap bulan. Walau donasi setiap hari juga mereka tidak akan jatuh miskin dalam hal sekejap mata, kecuali makin kaya uangnya makin melimpah.
Neta meyandarkan kepalanya di kursi empuk tersebut sambil berpikir, langkah apa yang akan ia ambil. Ia belum yakin untuk mengajar ini, tapi ia harus jadi wanita mandiri yang tak boleh bergantung pada orang lain, ada juga saatnya ia akan hidup tanpa campur tangan orang tuanya.
Neta langsung mengalihkan pandangannya saat ada yang mengentuk pintunya. Bu Nina—ketua jurusan. Neta berusaha tersenyum sopan karena mereka orang tua.
"Kamu ya. Tadi pak Dekan langsung turun tangan dan saya langsung kesini." Neta terseyum canggung. Model-model manusia penjilat! Neta yakin, jika ia bukan berasal dari keluarga jati boro-boro disambut seperti ini, bahkan ia bisa diludahi hanya karena latar belakangnya miskin. Neta menggeleng dengan kenyataan kejam ini. Bagaimana mungkin manusia bisa melakukan hal ini?
"Begini, mungkin kamu sudah dengar ya dari Pak Decan kalau Bu Cut sedang cuti mau melahirkan dan beliau banyak anak bimbingan, mungkin bisa ditransfer ke kamu." Neta diam. Bahkan mengajar saja belum ia sudah diwajibkan untuk membimbing skripsi anak orang. Bagaimana kalau ia gagal? Ough, sistem pendidikan macam apa ini? Bisa-bisa Neta membuat mahasiswanya bunuh diri karena terlalu banyak ia menyuruh mereka membaca jurnal. Neta sudah terbiasa membaca jurnal bahkan sekarang ia masih memiliki akses jurnal mungkin ia bisa membagi sedikit tips untuk mahasiswa bimbingannya. Walau jurnal yang begitu berat.
"Saya tidak masalah, maksud saya apa tidak dibagi yang berkompeten para senior. Saya bahkan belum mengajar."
"Alah gampang. Kamu sudah tahu metodenya bagaimana, tinggal memberi arahan coret kalau tidak sesuai hati biar mereka belajar. Suruh cari jurnal yang asli. Ibu tahu, lulusan luar negri itu bagus." Diam-diam Neta tak percaya dengan pemikiran kolot manusia ini, bagaimana bisa mereka mendewakan lulusan luar negri, walau saat sekolah di negri Neta bisa merasakan kesenjangan guru mengajar di luar dan dalam. Yang Neta suka dari sistem di luar negri adalah, dosen sangat mengerti mahasiswa dalam artian setiap masukan yang mereka diskusikan selalu dihargai. Dosen di sana tidak berlagak superior yang selalu gila hormat, mereka bisa berteman dengan mahasiswa dan saat diskusi mereka mengajak semuanya dan menerima semua masukan, bukan masukan yang tidak sesuai dengan hatinya lantas mahasiswa tersebut langsung dicela.
Mungkin Neta harus merubah pradigma ini. Walau ia juga harus mengikuti sistem mengajar disini.
"Ini pakai jadwal juga?"
"Pakai jadwal. Lihat hari mengajar kamu, dan cocokan dengan dan suruh mahasiswa mengikuti. Ingat, jika perempuan selalu benar, maka dosen maha benar." kata Bu Nia dengan songong. Neta hanya tersenyum kikuk, mungkinkah ia harus seperti ini juga? Memperlakukan mahasiswa seenak jidatnya?
"Baik Bu." Neta mengambil spidol di atas mejanya dan pura-pura melingkar di kalender. Padahal ia ingat, itu adalah jadwal makan malam di rumah omanya dan masing-masing orang tua membanggakan anak mereka. Siapa yang berprestasi, siapa yang punya perusahaan sendiri. Dan Neta membenci pertemuan seperti itu tapi ia juga tak bisa menghindar. Neta yakin, pertemuan nanti ia akan dijodohkan dengan kolega keluarganya yang juga juga berasal dari keluarga kayu jati. Neta benci perjodohan!
Bu Nia sudah keluar. Dan Neta merasa semakin muak dengan hidupnya yang penuh kepalsuan ini. Saat kamu hidup dengan sendok emas di mulutmu maka kamu juga akan banyak menjumpai manusia penjilat di sekeliling kamu. Tak ada yang benar-benar tulus.
Daripada begini, Neta lebih baik ikut organisasi kemanusia di Afrika daripada harus terjebak seperti ini.
"Permisi Bu. Saya ganti pembimbing dan mungkin saya ingin bertanya pada Ibu kapan mulai bimbingan?" Neta menatap lawan bicara. Ia yakin usia mereka hanya berjarak satu tahun, atau malah ada yang seumuran dirinya.
"Sini." Mahasiswa bernama Naya tersenyum. Kapan lagi ia menjumpai dosen pembimbing yang tak susah seperti ini.
Naya menyerahkan proposal miliknya. Neta mulia membaca proposal tersebut, konsep mereka lebih sederhana. Ini tak terlalu sulit baginya, mungkin ia juga bisa belerja sama agar mengahasilkan hasil akhir yang memuaskan.
"Ini kamu sudah yakin dengan objek penelitian?" Naya mengangguk, sambil menaikan kaca matanya. Berada di ruangan ini, serasa berada dalam hotel terasa begitu nyaman dan auranya beda. Apalagi parfum mahal milik Neta membuat ia merasa insecure seketika.
"Sebenarnya saya benci buang-buang kertas. Tapi memang kalian sudah terbiasa coret-coret bukan?" Neta melirik ke arah printer di sampingnya. Sebenarnya ia mendapatkan fasilitas printer dari kampus tapi mana mau ibunya memakai barang hibah yang sudah turun temurun, ibunya langsung membelikan printer terbaik dengan gambar cetak terbaik. Rasanya Neta ingin menyuruh mahasiswanya print di sini, tapi namanya tidak etis. Etos kerja seorang dosen tidak seperti itu.
"Cari referensi jurnal yang asli bukan hanya dikutip dari sana sini. Sudah saya tulis alamat jurnal lengkap, semuanya sudah dibayar. Jadi kalian bisa pakai free. Tapi jurnal asli yang pakai bahasa Inggris, kalian bisa terjemahkan sendiri." Naya dengan semangat mengangguk. Memang tugas akhir seperti ini harus banyak membaca jurnal.
Entah naluri atau apa, Neta selalu bisa melihat seseorang membutuhkan pertolongan atau dia butuh uang. Dan Naya, Neta bisa melihat jika gadis ini membutuhkan uang untuk biaya print tugas dan kebutuhan lainnya. Diam-diam Neta mengambil ambil amplop dan segepok uang ia masukan ke dalam. Dan menyisipkan dalam proposal Naya. Neta bisa menaksir sekitar 5-10 juta. Uang segitu, ia bisa masuk ke kamar orang tuanya dan banyak menjumpai uang berserakan. Walau sekarang, mereka lebih suka uang bentuk digital. Tapi Neta selalu menyiapkan uang cash, jika butuh seperti ini.