Bab 2

Setelah kata sah keluar, semua warga langsung pamit pulang. Banyak yang menatap iba Maura, tetapi wanita itu memamerkan senyuman. Saat menutup pintu, sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Maura berusaha menguasai emosi, lalu berbalik menatap dalam Hamdan.

"Mas ... lepaskan! Aku ngantuk, mau tidur." Maura sekuat tenaga menahan air mata yang hendak menetes.

"Ra ... maafkan Mas. Mas sudah menyakiti kamu." Kata itu terlontakan oleh bibir pria yang sekarang memiliki istri dua tersebut.

"Mas akan berusaha adil. Mas mencintai Mawar dan juga kamu." Maura tersenyum kecut saat mendengar ucapan Hamdan yang lancar tanpa hambat.

"Sudalah, Mas. Aku sangat mengantuk," ucap Maura. Ia berusaha menjauh dari tubuh Hamdan karena mereka tidak ada jarak sedikitpun.

Saat melangkah menuju kamar, Hamdan mengusapkan sesuatu.

"Mas ikut tidur bersamamu, setelah Mas mengantarkan Mawar ke kamarnya." Perkataan Hamdan membuat Maura membulatkan mata, ia langsung berbalik sambil berkata.

"TIDAKKK!" pekik Maura membuat Hamdan dan Mawar terkejut.

"Mas tidur saja bersama, Mawar. Ini, kan, malam pertama kalian," ucap Maura seraya menyindir membuat Mawar menunduk.

"Ya sudah, Mas tidur bersama Mawar. Mimpi indah, Sayang," seloroh Hamdan memegang pipi Maura dan mengecup kening istri pertamanya.

"Ayo Massss, aku sangat mengantuk," ajak Mawar. Wanita itu bergelayut manja di lengan Hamdan membuat Maura muak.

"Mbak, kami mau tidur dulu ya," kata Mawar. Maura langsung pergi tanpa menjawab ucapan adik madunya.

"Sayang, sekarang kita bisa melakukannya tanpa sembunyi-sembunyi. Mas sangat senang." Percakapan pengantin dadakan itu terdengar karena Maura mengintip mereka.

"Kalian boleh bersenang-senang, bersiaplah untuk besok Mawar. Kamu berani-beraninya masuk ke dalam rumah tanggaku," gumam Maura pelan. Lalu berbalik melanjutkan langkahnya ke kamar, di bilik itu Maura mengeluarkan semua air mata tanpa suara.

Maura tertidur saat jam menunjuk angka satu dini hari. Wanita tersebut langsung terbangun saat mendengar azan subuh, melakukan kewajiban sebagai umat muslim tanpa menunggu sang suami. Lelaki itu pasti tengah kelelahan melewati malam pertamanya, memikirkan hal itu membikin hati Maura sakit. Perempuan bermukena hijau, mencurahkan semua yang hinggap dalam kehidupan.

Suara dering ponsel mengalihkan tatapan Maura. Beruntung wanita itu selesai berdoa, dengan merapikan mukena ia langsung meraih benda pipih tersebut. Nama Mama mertuanya tertera, dia lekas menerima panggilan.

"Walaikumsalam, Mah," balas Maura, lalu ia menoleh saat pintu kamar terbuka.

"Siapa, Ra?" tanya Hamdan masih memakai setelan koko dan sarung.

"Mama, Mas," sahut Maura membuat Hamdan membulatkan matanya, ia langsung mendekat. Takut sang istri mengadu atas kelakukannya.

"Mama, di mana Delia?" tanya Hamdan merebut handphone Maura dari tangan wanita itu.

Maura mendengkus, ketahuan sekali pria itu takut Maura mengadu pada Wulan. Maura langsung tersenyum saat suara cempreng Delia terdengar di ponsel. Dia lekas berdiri di samping Hamdan sambil melambaikan tangan ke handphone.

"Sayang, kamu senang di rumah Oma?" tanya Maura mengulas senyum, kesedihannya meluap menjadi kebahagiaan saat mendengar celotehan putri pertamanya.

"Lia senang di rumah Oma, Bunda. Tapi Lia kangen Bunda," kata Delia membuat Maura meneteskan air matanya, teringat pengkhianatan sang suami.

"Sekarang Bunda jemput ya, sudah habis masa liburmu, Sayang," seru Maura dibalas anggukan lucu oleh Delia, gadis kecil itu tertawa bahagia tanpa beban.

"Sayang, Bunda akan memperjuangkan hakmu!" Batin Maura berseru lalu menyudahi perbincangan mereka, karena Hamdan harus bersiap berkerja.

"Sayang, mana pakaian kerjaku?" pinta Hamdan setelah mematikan sambungan video call.

"Kamu tidak mengadu pada Mama, kan?" tanya Hamdan menyelidiki, setelah menaruh ponsel Maura ke nakas.

"Untuk apa, ini masalahku. Aku tidak mau melibatkan mereka," sahut Maura ketus lalu mengambilkan setelan pakaian kerja dan berlalu pergi meraih tas slempang.

"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Hamdan saat Maura memegang gagang pintu.

"Apa kamu menjadi tuli? Sudah dengar bukan, aku mau menjemput Delia," seloroh Maura menatap kesal Hamdan, membuat pria itu salah tingkah.

Maura mengambil roti dan selai, hari ini ia ingin memakai itu. Terlihat Hamdan dan Mawar berjalan bersamaan menuju meja, Maura lebih memilih melahap makanannya dari pada memikirkan manusia yang sedang di dekat meja makan. Hamdan menatap beberapa selembar roti di meja, tidak dioles apapun.

"Sayang, mana sarapannya? Kenapa hanya roti saja," protes Hamdan menjatuhkan bokongnya ke kursi.

"Itu ada selai, oles saja dengan itu. Aku sedang malas masak, suruh aja istri barumu memasak," seloroh Maura membuat Mawar melotot pasalnya ia tak bisa memasak, ia membawa makanan hasil membeli di rumah makan.

"Oh ya, kamu, War. Jangan mengaku sebagai istri Mas Hamdan, apalagi menyuruh Delia memanggil Mama. Kamu hanya akan aku kenalkan sebagai pembantu rumah ini, status kalian tidak boleh diketahui oleh keluarga," tutur Maura tanpa gemetar sedikit pun, ia sudah menguatkan hatinya.

"Tidak bisa, Mbak! Mbak tidak boleh seperti itu, aku ini istrinya Mas Hamdan sekarang bukan pembantu," protes Mawar dengan nada menggebu-gebu.

"Iya, Sayang, kasian Mawar kalau dianggap pembantu," bela Hamdan membuat Mawar tersenyum.

"Kalau Delia mengamuk bagaimana? Dan bertanya-tanya kenapa dia bisa memiliki dua Ibu. Apa kalian mau tanggung jawab! Apalagi kalau Mama dan Ayah mengetahui kelakuan putranya," hardik Maura menatap tajam kedua manusia itu, sambil napas yang terengah-engah karena berucap dengan nada tinggi.

Bab 3

Semuanya telah pergi, tinggal Mawar yang berada di rumah. Ia mendengar suara tukang sayur langsung keluar, karena Maura memerintahkan dia belanja bahan makanan. Rasa kesal masih bersemayan di hati, wanita itu tidak terima saat akan diperkenalkan sebagai pembantu saja.

"Mang, tunggu!" pekik Mawar. Dia berlari mengejar tukang sayur yang tak mau berhenti, lalu dia berteduh saat ada beberapa Ibu-Ibu memanggilnya.

"Ish, Mamang nih apa-apaan sih! Sudah Mawar panggil malah nyelonong terus," cecar Mawar. Dia bergabung dengan Ibu-Ibu yang memilih bahan pangan, mereka langsung bergeser menjauh saat ada di dekat Mawar membuat wanita itu mengeryit heran.

"Maaf, Neng, disuruh istri Mamang. Jangan deket-deket ama Neng, Neng pelakor soalnya. Harus jauh-jauh kalau enggak, bisa kagak dikasih jatah Mamang," sahut Kang sayur.

"Mamang ini apa-apaan sih, mana mau Mawar ama Mamang. Inget umur, Mang!" ledek Mawar lalu menjulurkan lidah.

"Gak sopan kamu ngomong sama orang yang lebih tua, ternyata sikapmu yang asli seperti ini. Sangat menjijikan!" hina salah satu Ibu-Ibu yang memakai daster bercorak bunga.

"Apaan sih, Bu. Sewot aja, Mawar, kan, cuma bercanda. Iya, kan, Mang," ujar Mawar ingin membela dirinya tetapi tidak didukung kang sayur itu.

"Cantik-cantik kok pelakor, menyedihkan sekali, kasihan ibunya yang berusaha agar anaknya sukses di Jakarta," seru salah satu yang bertetangga dengan Mawar di kontrakan Ce Idah.

"Mah, Rania pengen sayur bayem nanti pulang sekolah," pinta Rania yang terbalut seragam SMP mendekati Ce Idah.

"Iya sayang, yang pinter ya belajarnya," balas Ce Idah sambil menyodorkan tangan agar Rania cepat pergi tanpa menyapa Mawar.

"Hai, Kak Mawar," sapa Rania membuat Ce Idah merasa kecewa. Ia langsung menarik tangannya agar Rania tidak mencium punggung tangan Mawar.

"Nia, jangan deket-deket Kak Mawar! Dia itu jahat, udah nyakitin Tante Maura," seloroh Ce Idah membuat Mawar kesal.

"Ce ini, apa-apaan sih?" Mawar tak terima.

"Emang bener, kan, kamu tuh pelakor. Sampah masyarakat!" hina Ce Idah sambil menunjuk wajah Mawar.

"Ce ... Anda tak sopan menunjuk-nunjuk seperti itu!" Mawar menepis tangan Ce Idah.

"Kamu memang pantas diperlakukan bak sampah, cepat pergi dari kontrakanku! Barang-barangmu sudah diluar," usir Ce Idah membuat Mawar melotot, ia langsung bergegas berjalan menuju kontrakan.

"Astaga," pekik Mawar terkejut. Barang-barang berantakan, pakaian berserakan di lantai.

"Cepat pergi sana, Pelakor! Jangan di sini, bikin malu aja, apa profesi lo pelacur," ucap seseorang yang melihatnya Mawar. Beberapa penghuni kontrakan langsung keluar saat mendengar suara makian seseorang yang tau bertuju ke siapa.

Perempuan itu tak berdaya, tidak mungkin bukan! Jika dia melawan mereka. Bisa-bisa bonyok wajahnya kalau berantem, dengan kilat ia memasuki pakaian ke koper lalu berjalan keluar. Tetapi langkahnya terhenti saat banyak penghuli kontrakan melemparkan sampah ke arahnya.

"Pergi jauh sana, Pelakor! Beruntung Mbak Maura baik, tidak mengarak kau yang bugil semalam," hardik salah satu yang lalu melemparkan telur membuat pecah di kepala Mawar dan menyerbak bau amis.

"Iya, dasar tak tau diri! Pelakor begini harus di basmi," sahut yang lain.

Dengan langkah cepat Mawar berlari, menghindar dari perlakukan mereka. Tubuh kotor, semua memperlakukan dia sangat tak berperikemanusiaan. Apakah kesalahannya terlalu besar sampai diperlakukan seperti itu, Mawar hanya mengejar cinta pertama saja.

"Apa salahku, padahal aku hanya menjalin hubungan dengan pria yang kucintai, kami juga sama-sama mencintai," ucap Mawar lirih seraya mengusap air mata yang menetes.

Jangan lupa baca ceritaku yang lain. Seperti

SAHABATKU MADUKU

Terpaksa mendua: memilih dimadu dari pada hamil

Malam pertama dengan kakak ipar

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED