Bab 2

Enam bulan sudah berlalu sejak kejadian pahit yang dialaminya, kini Ayla dan juga Ferdy tinggal di Surabaya. Ferdy melanjutkan kuliah sambil bekerja disebuah percetakan kecil milik salah satu teman kampusnya. Sedangkan Ayla bekerja disebuah restoran mewah di kota tersebut.

Restoran mewah yang Ayla sendiri tidak tahu siapa pemiliknya. Karena menurut cerita dari Devi (sahabat Ayla) sang pemilik restoran jarang berkunjung ke Surabaya. Sehingga restoran tersebut dipercayakan pada Abram (kakak laki-laki Devi) untuk mengelolanya.

Dan Ayla bersyukur dengan bekerja sebagai pelayan di restoran itu, sejenak Ayla bisa melupakan kepahitan yang menimpanya beberapa bulan lalu. Walau kini status pernikahannya masih belum jelas, apakah akan terus berlanjut atau tidak?

Sedikit demi sedikit senyuman Ayla kembali seperti sedia kala. Masalah yang menimpanya enam bulan lalu  perlahan mampu terlupakan dengan kesibukan yang dilakukannya.

"Ay, sudah mau pulang?" tanya seseorang dari arah belakangnya, yang membuat Ayla terkejut.

"Eh kak Abram," ucap Ayla saat menoleh ke belakang mendapati ada Abram berdiri tepat dibelakangnya "Iya nih kak, udah habis shift aku, makanya mau langsung pulang." jawab Ayla yang kini memang sudah bersiap untuk pulang ke tempat kosnya.

Abram berjalan mendekati Ayla, dengan salah satu tangannya dimasukkan kedalam saku celana. Wajah Abram yang tampan semakin terlihat tampan di mata Ayla, apalagi dengan senyuman disudut bibir Abram. Membuat jantung Ayla berdebar-debar tidak karuan.

"Bagaimana kalau aku antar kamu pulang? hitung-hitung biar tahu dimana tempat kosan kamu." ucap Abram dengan sedikit bersemangat.

"Hah ... Kakak mau nganterin aku? Apa nggak merepotkan kak Abram, nanti?" tanya Ayla sedikit ragu, karena selama ini ia tidak pernah diantarkan pulang oleh siapapun. Ditambah status Abram yang kini menjadi bosnya, membuat Ayla sedikit merasa canggung.

"Enggak kok, yuk Ay." ajak Abram sambil menarik pergelangan tangan Ayla, sehingga membuat Ayla terkejut. Hal itu tentu saja membuat Ayla semakin gugup dibuatnya.

Ayla seakan tak percaya dengan apa yang dilakukan Abram barusan, yang bisa Ayla lakukan cuma bisa pasrah dengan ulah Abram itu dengan wajah tertunduk tersipu malu. Kalau ditanya apakah Ayla bahagia? Tentu saja jawabannya iya.

Karena sudah dari dulu Ayla menyukai Abram. Semenjak Ayla masih duduk dibangku SMA. Abram adalah salah satu seniornya. Tapi semenjak Ayla mendengar perkataan Abram pada temannya kalau hanya menganggap Ayla sebagai adiknya. Maka sejak saat itu Ayla mengubur perasaannya dalam-dalam.

"Jadi disini tempat kos kamu?" tanya Abram setelah sampai di tempat kos Ayla.

"Iya kak," jawab Ayla. "Kakak mau mampir dulu?"

"Gak usah, lain kali, pasti aku akan mampir, Ay," jawab Abram, kemudian Abram bersiap untuk membuka pintu mobil.

"Kalau gitu makasih ya kak, dan maaf sudah merepotkan kakak." jawab Ayla.

"Hm, lain kali traktir aku makanan enak sebagai ucapan terima kasihmu padaku, Ay," ucap Abram sambil mengerlingkan sebelah matanya.

"Hah, i-iya kak, kalau udah gajian aku akan traktir kakak," jawab Ayla gugup.

Tidak lama Abram pun pergi meninggalkan Ayla yang masih bingung dengan sikapnya. Tidak ingin banyak berpikir, Ayla pun masuk kedalam rumah.

Ferdy yang sedang asyik melihat televisi, pandangannya teralihkan kearah Ayla yang sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.

Ferdy tampak sedikit ragu untuk mengatakan sesuatu pada sang kakak yang masih sibuk dengan kegiatannya.

"Kak." panggil Ferdy.

"Hem, ada apa, dek?" jawab Ayla sekaligus menanyakan maksud Ferdy memanggilnya.

"E ... Gini kak, aku kan sudah mendapatkan tempat magang yang sesuai dengan yang kuinginkan, dan ini tawaran langsung dari kampus kak." ucap Ferdy hati-hati. Takut jika kakaknya akan marah kepadanya.

Ayla sejenak menghentikan aktifitasnya, Ayla melihat kearah Ferdy dengan tatapan ingin tahu. "Terus?" tanya Ayla seakan mengisyaratkan supaya Ferdy menceritakannya lebih lanjut.

"Perusahaan ini di Jakarta kak, kakak tahu gak perusahaan N.H group? Setidaknya pernah dengar gitu?" Ferdi antusias menjawab pertanyaan kakaknya.

"Hem, sepertinya pernah dengar sih dek," ucap Ayla berusaha mengingat. "Kenapa dengan perusahaan itu?" tanya Ayla sambil meneruskan kegiatannya menyusun makanan dimeja makan.

"Itu perusahaan terbesar se-Asia kak, seleksi masuk kesana sangat ketat, dari ribuan yang melamar kerja disana, hanya puluhan yang diterima." ucap Ferdy dengan semangat menjelaskan, sambil berjalan mendekat kearah sang kakak.

"Itu kesempatan bagus dong dek, berarti kamu salah satu orang yang sangat beruntung mendapatkan tawaran magang di perusahaan sebesar itu." ucap Ayla. "Ayuk sini cepat makan, nanti keburu dingin gak enak lagi."

Dengan segera Ferdy beranjak mendekati meja makan untuk makan malam bersama. Setelah duduk Ferdy mengambil nasi dan juga lauknya. "Tapi tempat magangnya ditempatkan di Jakarta kak, gimana dengan kakak disini?"

Sejenak Ayla terdiam, sedang menimbang-nimbang keputusan yang tepat untuk mereka berdua. "Kakak akan baik-baik saja dek, ini kesempatan langka, alangkah baiknya jika kamu menerima tawaran itu, kakak akan selalu mendukungmu." jelas Ayla.

"Kakak ikut ke Jakarta saja kak, aku tidak ingin jauh dari kakak,"

Ayla sangat memaklumi jika Ferdy tidak ingin berpisah dengannya. Selama ini mereka selalu melindungi satu sama lain. "Magang di Jakarta berapa lama sih? Kan setelah magang kembali ke Surabaya juga." ucap Ayla.

"Mungkin 3 bulan kak, atau lebih, belum tahu pastinya." ucap Ferdy.

"Kita bahas nanti lagi, sekarang sebaiknya kita makan dulu, dek," ucap Ayla.

Akhirnya mereka berdua makan dalam diam. Sebenarnya pikiran Ayla tertuju bagaimana dengan tempat magang Ferdy di Jakarta nanti. Biaya tinggal di ibu kota pasti mahal, belum lagi biaya yang lain-lain. Dapat uang dari mana nanti untuk itu semua?

Disela makannya, Ayla menghela nafas kasar, seolah ingin mengurangi beban berat yang ditanggungnya. Sejenak Ayla terpikir untuk mengambil sedikit uang tabungannya di ATM.

Selama ini walaupun punya ATM, Ayla jarang sekali memakainya. Ditambah selama 6 bulan terakhir tidak ada keperluan mendesak yang mengharuskannya mengambil tabungannya di ATM.

Setelah selesai makan, Ferdy membantu Ayla mengemasi bekas makan mereka. Sedangkan Ayla mencuci bekas masak dan juga bekas makan mereka berdua.

"Dek." panggil Ayla

"Iya kak." jawab Ferdi.

Ayla berbalik menghadap kearah sang adik yang bersiap untuk meninggalkan dapur. "Berapa banyak biaya yang kamu butuhkan selama nanti tinggal di Jakarta?" tanya Ayla.

Mendengar pertanyaan sang kakak, Ferdy sejenak terdiam. "Soal biaya disana, nanti aku akan nyari kerja, kakak tidak usah khawatir," jawab Ferdy.

Ayla menghembuskan nafasnya, seolah tidak suka dengan jawaban Ferdy. "Kapan kamu berangkat ke Jakarta?" tanya Ayla sambil berjalan mendekat ke arah Ferdy.

"Mungkin tiga hari lagi kak, surat dari kampus juga udah keluar," jawab Ferdy.

"Hm, baiklah, kalau gitu kakak istirahat di kamar duluan ya." ucap Ayla. Kemudian berjalan mendahului Ferdi.

Ferdi hanya mengangguk kemudian dia menuju ke ruang tamu untuk menonton acara televisi.

Dikamarnya Ayla sedang berpikir darimana dia bisa mendapatkan uang untuk biaya hidup Ferdi selama tinggal di Jakarta. "Besok akan aku cek dulu, masih berapa saldo di ATM, udah lama juga tidak pernah narik." gumam Ayla.

Karena memang selama beberapa bulan terakhir Ayla tidak pernah menarik uang di ATM miliknya. Segala kebutuhannya terpenuhi dari gajinya bekerja di restoran.

Malam semakin larut, Ayla pun kini telah berdamai dengan mimpi indahnya. Sedangkan Ferdy masih asyik melihat acara televisi kesukaannya.

Bersambung..

Bab 3

Pagi hari seperti biasanya, Ayla menyiapkan sarapan untuk adiknya sebelum berangkat kerja. Karena hari ini Ayla mendapat giliran shift pagi, maka dia bangun lebih cepat dari biasanya.

Setelah semua selesai Ayla pun bersiap untuk segera berangkat ke tempat kerjanya. Walaupun ini masih terlalu pagi, tapi tidak menyurutkan semangatnya. Dengan naik angkutan umum, Ayla akhirnya sampai di restoran tempatnya bekerja.

"Semangat, semangat!" Ayla menyemangati dirinya sendiri sambil mengepalkan tangannya ke atas. Wajah cerianya tergambar jelas saat ini.

Langkah kakinya kini menuju ke ruang ganti baju. Meletakkan tasnya di loker, mengambil seragam ciri khas berlogo nama restoran tersebut.

Seragam khas pelayan restoran kini telah dipakainya, pertanda jika Ayla sudah siap bertempur dengan rutinitas hariannya. Restoran masih tampak sepi, mungkin ini masih terlalu pagi untuk datang ke restoran mewah itu, hanya untuk sekedar mencicipi menu khas yang menjadi ikon restoran mewah tersebut.

Terlihat Ayla sibuk membersihkan meja, dari satu meja ke meja yang lain, tangannya sudah sangat cekatan melakukan semua pekerjaannya.

Abram yang baru datang dan memasuki restoran, melihat kearah Ayla yang sedang sibuk. Tanpa basa-basi Abram berjalan mendekatinya. "Ay, pagi sekali sudah datang kesini? Mau jadi pegawai teladan ya?" tanya Abram.

Mendengar sapaan sekaligus pertanyaan dari bosnya, Ayla pun menghentikan aktivitasnya dan menoleh kearah Abram sambil melempar senyuman khasnya. "Eh kak Abram, selamat pagi kak." sapa Ayla.

"Hem ... Ay, tumben-tumbenan kamu datang sepagi ini." ucap Abram seolah mengulang pertanyaan sebelumnya.

"Iya kak, sengaja datang lebih awal, karena nanti aku mau ijin keluar sebentar." jawab Ayla dengan senyum terbaiknya.

Abram mengerutkan keningnya, karena tidak biasanya Ayla meminta ijin untuk keluar. "Keluar kemana? Apa ada masalah?" tanya Abram.

Dengan sigap Ayla menggelengkan kepalanya diikuti gerakan tangan sebagai penanda jika tidak ada masalah. "Oh bukan, bukan kak, ini bukan masalah. Aku hanya ingin ijin keluar ke ATM sebentar kak, setelah selesai membersihkan semua meja ini." ucap Ayla dengan senyuman yang menambah kadar kecantikannya meningkat.

"Apa kamu butuh uang? Katakan saja jika kamu butuh uang, aku akan membantumu," ucap Abram semakin ingin tahu apakah Ayla ada masalah keuangan, sehingga membutuhkan uang simpanan di ATM-nya.

Ayla semakin bingung dengan sikap Abram terhadapnya, "Tidak kak, tidak ada masalah sama sekali, aku hanya ingin mengeceknya saja. Sudah lama juga aku tidak pernah melihat isi saldo di ATM ku kak." ucap Ayla dengan wajah riangnya.

Abram mengerutkan keningnya, kemudian mencodongkan tubuhnya ke depan, sehingga kepala Abram semakin dekat ke wajah Ayla. "Yakin tidak ada masalah?" Tanya Abram sepertinya tidak percaya dengan jawaban Ayla.

"I-iya kak," jawab Ayla gugup.

Mendengar jawaban Ayla, Abram menegakkan kembali tubuhnya. Kemudian menghela napas.

"Ya sudah, kalau memang mau ijin keluar, tapi ingat jangan ada yang kamu sembunyikan dariku, Ay," ucap Abram memberikan ijin pada Ayla. "Aku tidak ingin melihatmu ada dalam masalah sekecil apapun, karena apapun tentang kamu, itu sangat berharga bagiku." ucap Abram mengakhiri kalimatnya. Kemudian Abram berlalu menuju ke ruangan kerjanya.

Ayla mengerutkan kening, seakan tidak mengerti akan maksud perkataan dari Abram. Karena tidak biasanya Abram tertarik dengan kehidupan pribadinya. "Memangnya apa yang aku sembunyikan sih? Kok kak Abram bicara gitu?" gumam Ayla. "Terus apa coba maksud kak Abram bicara aneh seperti itu?"

Tidak ingin ambil pusing dengan sikap dan perkataan Abram, Ayla pun meneruskan kegiatannya sebelum ada tamu yang datang ke restoran.

Dan memang dalam seminggu sekali, Ayla selalu over shift dengan temannya. Hari ini adalah hari pertamanya untuk shift pagi. Dan biasanya kalau dapat giliran shift pagi akan lebih capek dari pada shift second.

Semua pekerjaan kini telah selesai dikerjakannya, Ayla pun mengambil dompet didalam tas. Kemudian berpamitan pada salah satu rekannya untuk keluar sebentar.

Jarak ATM dan restoran memang tidak terlalu jauh, sehingga cukup dengan jalan kaki saja. Dengan hanya  melewati beberapa ruko disamping restoran, letak ATM yang sedang dicari Ayla sudah terlihat. Pikiran Ayla kembali teringat dengan biaya magang Ferdi selama nanti di Jakarta.

"Semoga uang simpananku cukup untuk biaya magang Ferdi nanti selama dia di Jakarta," gumam kecil Ayla sambil berjalan menuju ke ATM.

Setelah sampai ke tempat yang dituju, Ayla ikut mengantri dengan yang lain. Ada sekitar sepuluh orang termasuk dirinya yang ikut dalam antrian. Pakaian seragam restoran yang dikenakannya memang begitu menonjol dibanding yang lain, sehingga mudah untuk di kenali.

Saat sedang mengantri di ATM, pandangan matanya menangkap sesosok tubuh orang yang mungkin saja di kenalnya. "Itukan ..." Gumam Ayla seakan tak percaya dengan penglihatannya sendiri.

Seakan tersadar jika itu tidak mungkin, Ayla segera menggelengkan kepalanya sendiri. 'Ah, tidak mungkin itu dia, Devi bilang informasi terakhir yang didapat, lelaki itu ada di luar negeri,' batin Ayla menepisnya.

Ayla pun kembali fokus dengan antriannya di ATM. Ayla berpikir mungkin dia salah lihat. Atau mungkin hanya kebetulan mirip saja. Toh banyak orang dengan wajah yang mirip di dunia ini, jadi tidak menutup kemungkinan jika itu juga hanya sebuah kemiripan.

Ya benar, jika Ayla merasa sedang melihat wajah sang suami yang enam bulan lalu menikahinya. Laki-laki itu sedang berjalan memasuki sebuah toko perhiasan bersama dengan seorang wanita yang bergelayut manja ditangannya.

Devi yang ingin membantu perceraiannya merasa kesulitan, karena minimnya informasi tentang siapa laki-laki yang sudah resmi menjadi suami Ayla. Seakan semua data tentang laki-laki brengsek itu raib tak berbekas.

Ayla hanya bisa pasrah menerima takdirnya. Bahkan Ayla tidak perduli lagi dengan statusnya yang kini sudah menjadi seorang istri. Yang Ayla tahu, kini dia harus berjuang menjalani kehidupan baru bersama sang adik kesayangannya.

"Maaf mbak, apa mbak bekerja di restoran mewah di sebelah ruko dealer motor itu?" tanya salah seorang yang ada dalam antrian dibelakang Ayla sambil menepuk bahu Ayla.

Ayla menoleh kearah orang yang bertanya kepadanya. "Iya kak, saya memang kerja disana. Kenapa kak?" Ayla balik bertanya.

"Tidak, tidak apa-apa mbak, cuma dari berita yang saya dengar, pemilik restoran itu masih muda dan ganteng. Kaya raya lagi mbak," ucap orang itu dengan antusias.

Mendengar penuturan orang itu Ayla mengerutkan keningnya. "Kurang tahu juga sih kak, selama saya bekerja disana belum pernah ketemu pemilik restoran, apalagi saya masih baru disitu,"

"Masa sih mbak? Padahal aku sering sekali ke restoran itu hanya untuk ketemu pemiliknya."

"Hem, iya kak." jawab Ayla sambil menganggukkan kepala. "Maaf kak, udah giliran saya masuk," ucap Ayla sambil menunjuk kearah pintu ATM.

"Oh iya iya mbak, silahkan,"

Dengan tersenyum ramah Ayla mengangguk kembali, kemudian masuk ke dalam ruang ATM.

Setelah mengetikkan angka pin yang tertera, kini Ayla mulai melihat saldo yang ada didalam tabungannya. "A-apa ini? Ke-kenapa isinya jadi sebanyak ini?" gumam Ayla terkejut bukan main melihat isi saldo rekening yang ada didalamnya.

Kakinya seketika lemas dan gemetar. Wajahnya juga terlihat pucat. "Tidak mungkin, ini pasti ada yang salah." gumam Ayla tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Dengan segera Ayla menyelesaikan transaksinya tanpa mengambil uang dari mesin ATM tersebut. Setelah itu Ayla keluar dari ruang ATM dengan begitu banyak pertanyaan. Wajahnya masih terlihat memucat akibat shock dengan apa yang dilihatnya dilayar kaca mesin ATM.

Bersambung ...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED