Jalanan Ibu kota tentu saja tidak selenggang jalanan kota-kota lainnya. Butuh waktu cukup panjang untuk sampai dari tempat satu ke tempat lainnya. Begitu juga yang dialami oleh Xavera. Wanita itu merenungkan kejadian yang baru saja terjadi. Ia memang mencari pria mapan yang kaya raya agar hidupnya tidak sengsara, tapi melihat tindakan Kellan yang mengerikan itu, dirinya seakan ingin mencoret kaya raya dari daftar persyaratan calon jodohnya.
Bagaimana tidak? Berhubungan dengan orang kaya yang bucin parah, bisa menyebabkan serangan senat senut di kepala secara mendadak, apalagi kalau hadiah yang tidak biasa diberikan oleh pasangannya. Meskipun seharusnya Xavera bersyukur karena Kellan bersikap royal padanya, tapi disisi lain wanita itu begitu takut jika dikemudian hari mereka bertengkar, lalu putus dan Kellan meminta semua pemberiannya dikembalikan. Lebih baik daftar persyaratannya diganti menjadi pria yang kaya, ah--tidak, seharusnya berkecukupan yang tidak berlebihan memberinya hadiah. Cukup beli mobil, cukup jalan-jalan, cukup tampan. Karena benar kata orang, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, contohnya kekayaan Kellan bagi Xavera.
Wanita itu menarik napas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk turun dan masuk ke sebuah kafe coffee yang sedang hits di kalangan anak muda Ibu kota milik sahabatnya. Xavera mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah kaca di mana ada seseorang yang berdiri di sana tersenyum padanya sambil melambai.
Xavera melangkah santai dan beberapa pasang mata pria menatap langkah kaki jenjangnya ketika menaiki satu per satu anak tangga di sana. Tatapan kucing lapar seperti itu sudah sangat sering Xavera dapatkan, tidak hanya di ruang publik, tetapi saat di kantor pun demikian.
Wajah rupawannya membuatnya cukup menarik perhatian para kalangan jantan. Perpaduan wajah Perancis, Italia dan Indonesia membuatnya tampak begitu sempurna. Fisiknya sangat menunjang jika ingin menjadi seorang model, tapi Xavera tidak menginginkan semua itu. Ia tidak ingin terkekang dan hidup terpenjara dalam kontrak yang mewajibkan dirinya jauh dari berbagai skandal kehidupan.
"Hello, Le!" sapa Xavera ketika ketukan pintunya sudah dijawab oleh pemilik ruangan.
Wajah cantik dan segar menyambut kedatangan Xavera yang terlihat selalu kusut setiap saat mereka bertemu.
"Apa lagi kali ini?" tanya Lea to the point.
Lea adalah salah satu sahabat baik Xavera yang sama sekali tidak memiliki rasa basa basi padanya dalam berbicara. Ia selalu to the point dan tidak suka bertele-tele.
"Gue putus sama Kellan." Jawaban singkat Xavera sukses membuat kedua bola mata hitam Lea melotot lebar.
Wanita berambut sebahu itu bergerak dan mengambil tempat duduk di sebelah Xavera sambil menarik bahu sahabatnya itu agar menatapnya.
"What! Putus? Lo gila yah?" kaget Lea.
Xavera memutar bola matanya malas dan menyandarkan punggungnya pada punggung sofa.
"Jawab, Xa, kenapa lo bisa putus? Ini seorang Kellan, loh," desak Lea dengan menggoyang-goyangkan lengan Xavera.
Xavera berdecak kesal melihat perbuatan heboh Lea padanya. Wanita cantik itu melipat sebelah kakinya ke atas kursi melepas high heels yang ia kenakan dan menghadap Lea. Xavera menatap lekat Lea dan mengambil napas panjang lalu mengembuskannya begitu saja.
"Dia gila!" jawab Xavera ambigu.
Lea memutar bola matanya lalu memberi toyoran dengan telunjuknya pada dahi Xavera, "yang ada itu, elo yang gila. Bisa-bisanya sekelas Kellan, lepas gitu aja," rutuk Lea.
"Dih, gak mau gue pacaran sama orang begituan. Dia itu---fix orang gila, Le. Lo gak tau aja gimana dia itu. Pokoknya dia itu mengerikan." Xavera mencoba menjelaskan, tapi tetap terdengar ambigu bagi Lea.
Lea mencoba menelaah penjelasan Xavera, tapi tetap tidak bisa diterima dengan baik oleh wanita itu. "Jelasin ke gue dengan sejelas-jelasnya. Kenapa dia gila? Gila apa sih? Masa iya, pengusaha sesukses Kellan gila? Kalo lo yang gila, gue sih percaya aja," kata Lea dihadiahi cubitan di lengannya dari Xavera.
"Sialan lo. Apa alasannya gue bisa jadi gila? Gue mah sehat, waras, logika sama hati gue jalan seimbang, seiya, sekata juga. Enak aja lo malah ngatain sahabat sendiri gila," sanggah Xavera dan dibalas kibasan telapak tangan oleh Lea.
"Udah buruan, jelasin ke gue. Kenapa putus?" desak Lea penasaran.
"Gini yah. Gue ceritain baik-baik ke elo. Dia tiba-tiba mau beliin gue tiket buat berangkat ke Perancis. Terus dia juga nyuruh gue milih warna mobil yang harganya, ah-sudahlah, lo pasti bakal pingsan dengernya. Itu adalah hadiah terhoror yang pernah gue dapetin selama hidup hampir tiga puluh tahun ini." Cerita Xave bersemangat.
Lea mengelus-elus lengan Xavera mencoba menenangkan padahal jantungnya mencelos mendengar cerita sahabatnya yang kelewat beruntung mendapatkan kekasih kaya raya.
"Terus nih, yah. Kemarin-kemarin dia ngasih gue emas batangan. E-M-A-S, asli no kw-kw. Mau gila gue," desah Xavera.
Mulut Lea menganga mendengar cerita yang keluar dari mulut sahabatnya. Betapa beruntungnya hidup Xavera mendapatkan pria sebaik dan sekaya Kellan, tidak hanya itu sebenarnya Xavera setiap kali mendapatkan kekasih selalu pria yang levelnya high class hanya saja, mungkin kepala Xavera ada gangguan sehingga wanita itu selalu ketakutan dan memutuskan pria-pria kaya raya itu. Lea sudah kehilangan kata-kata menasihati Xavera.
"Xa, please calm!" Lea memegang kedua lengan Xavera dan mengisyaratkan agar wanita itu menatap dirinya.
"Tatap mata gue, Xa. Liat gue! Jawab jujur apa yang gue tanyai sama elo ini," kata Lea dengan serius.
Xavera menatap lekat kedua bola mata Lea. "Sorry, Le, mata lo ada beleknya sebelah kanan," celetuk Xavera membuat suasana serius menjadi mengesalkan.
"Xa, bisa gak lo serius bentar. Gue mau ngomong sama elo, malah elo bikin gagal fokus gini. Emang sialan elo nih," gerutu Lea sambil membersihkan kotoran mata kanannya.
"Yah, kan, emang beneran mata lo ada belek. Gue cuma ngasih tau aja, Njir!" kata Xavera membela diri.
"Balik ke topik utama kita, sebenernya pria kayak apa sih yang elo cari? Kellan, dia itu sosok pria maha sempurna bagi kita kaum wanita pecinta kehedonan, Xa. Sekarang elo sia-siain gitu aja. Astaga! Gue gak habis pikir. Di saat wanita lain di luar sana ngejer dia, elo malah putusin," oceh Lea dan Xavera mengurut dahinya yang tiba-tiba pening.
"Coba aja gue belom kawin, udah gue gebet itu si Kellan, terus bila perlu gue iket, gue buahi deh dia, biar langsung sah gue jadi ahli warisnya," kata Lea menggebu.
Xavera menggeleng sambil bergumam, "bagus elo yang jadi bininya, Le. Laki lo buat gue aja."
Cubitan kecil mendarat di lengan Xavera saat Lea mendengar gumaman sialan wanita single itu.
"Mau lo jadi PSTS?" kata Lea cukup ngegas.
"Apaan PSTS? Gue taunya PNS? PTS? PSTS apaan Persatuan Single Tanpa Status?" jawab Xavera dengan wajah bingung.
Lea menggeram sambil memejamkan matanya, "PSTS itu Perebut Suami Temen Sendiri. Lo mau kayak gitu? Gue jambak ntar, atau gue tabrak pake pesawat laki gue?"
"Gue gak minat sama Aldebaran, Le. Serius deh, lo obral juga gue gak minat. Bukan tipe gue yang bewokan gitu," kata Xavera sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengah bersamaan.
"Ya Tuhan, cukup satu aja temen gue yang modelannya begini, jangan ada duanya. Bisa gila muda gue," keluh Lea.
Lea begitu menyayangkan sifat Xavera yang plin plan dengan pilihannya. Disaat dipertemukan dengan pria yang hampir sempurna, ia malah berlari meninggalkannya dengan alasan pria itu gila. Lalu beberapa bulan yang lalu, Xavera putus karena wajahnya kurang menyakinkan menjadi seorang pengusaha bermobil Ferrari, kemudian mantannya yang lain, diputuskan juga karena kurang terlihat gahar, tidak memiliki otot lengan seperti model-model bule celana dalam di majalah itu. Entah, pria seperti apa yang sebenarnya bisa membuat Xavera yakin dan berusaha bertahan.
"Jadi, mau lo apa sekarang? Mau cari pacar kayak mana lagi?" tanya Lea.
Xavera menatap muram memandang ke arah karpet di bawahnya. "Gue bingung," gumam Xavera.
Suara ketukan pintu menyela pembicaraan kedua wanita yang sedang di fase melankolis itu. Lea berjalan menuju pintu untuk melihat siapa tamu yang datang ke ruangannya. Sepasang bola mata Lea nyaris keluar melihat kehadiran topik utama pembicaraannya dengan Xavera saat itu.
Kellan, pria itu berdiri dengan gagah perkasa membawa sebuah buket bunga mawar berwarna pink berukuran cukup besar di depan pintu sambil tersenyum ke arah Lea.
"Boleh saya masuk dan menemui Xavera?" tanya Kellan memecah keterkejutan Lea.
Wanita itu mengangguk pasrah sambil memberikan jalan agar Kellan bisa masuk ke dalam ruangannya. Xavera sontak berdiri melihat Kellan di sana. Pria itu seakan momok yang menakutkan bagi dirinya saat ini.
"Baby balabala, i'm so sorry," kata Kellan saat berdiri di hadapan Xavera sambil menyodorkan buket bunga besar itu.
Xavera hanya bisa menghela napas beratnya. "Aku gak bisa hidup tanpa kamu, Xave. Kamu adalah belahan jiwaku," ucap Kellan.
'Kantong kresek mana sih, gue mau muntah dengernya,' batin Xavera yang tiba-tiba mual.
"Le, kayaknya gue butuh Sterbak deh," kata Xavera mengabaikan ucapan Kellan.
"Aku kenal sama ownernya, nanti aku minta persyaratan buat buka franchisenya, Baby. Kamu tenang aja, sebentar yah." Xavera dan lea menganga mendengar ucapan Kellan.
Xavera dengan cepat memanfaatkan keadaan, wanita itu segera memasang kembali high heels dan mengambil tas tangannya untuk menghindari Kellan sementara waktu ini. Ia seolah disadarkan tentang bagaimana Kellan sebenarnya. Pria itu berlebihan dalam hal apa pun, dari perkataan, tindakan, semuanya membuat hal-hal yang baik di mata Xavera mengabur bahkan tergerus hilang begitu saja.
"Fix! Dia gila, Le. Gue cabut aja, gue serahin ke elo." Xavera berbisik dan bergegas secepat kilat ke luar dari ruangan Lea menuruni tangga dengan buru-buru.
Wanita itu berjalan dengan tergesa-gesa sambil terus menoleh ke belakang beberapa kali seakan sedang dikejar maling sehingga siapa pun di depannya ditabrak begitu saja dan akhirnya Xavera terjatuh karena menabrak sesuatu yang keras dan kukuh.
"Ya Tuhan, ini jodoh gue!" gumam Xavera saat ia menyadari satu hal.
Jangan lupa kasih KOMEN SEBANYAK-BANYAKNYA!!!
*****
Kedua bola mata cokelat terang, alis tebal, hidung mancung, rahang terpahat begitu indah dengan bulu-bulu halus di bagian dagu serta rambut sedikit berantakan, tubuh tinggi menjulangnya dibalut dalam pakaian santai sukses membuat tatapan Xavera terkunci di satu titik. Wanita itu bahkan enggan beranjak dan tangannya memilih melingkar di bagian yang keras dan bidang itu. Senyum manis wanita bergincu cokelat muda itu tersungging di dalam dekapan seorang pria asing memakai T-shirt berwarna hitam.
"Hei, apa yang kau lakukan. Pergi sana! Shit, lepaskan aku!" hardik seseorang pemuda asing pada Xavera.
Lengan Xavera yang mendekap erat tubuh orang asing itu dilepas paksa begitu saja oleh sosok pria yang diklaim sebagai jodohnya.
"Are you crazy? Siapa kau ini? Sembarangan memelukku. Pergi sana!" usir pria berkaos hitam itu pada Xavera dengan tatapan mata penuh kekesalan.
Xavera tersadar dan membelalakkan kedua bola matanya lalu mendengkus tidak percaya dengan ucapan seseorang yang berdiri di depannya.
'Kaku banget bahasanya, kayak kanebo kering,' batin Xavera.
Akan tetapi, suara kecil berasal dari hatinya memadamkan rasa tersindir dengan ucapan kasar yang keluar dari mulut pria asing itu. Xavera malah tersenyum lebar seperti orang bodoh memandang takjub wajah bak pangeran yang tiba-tiba jatuh dari langit untuknya.
"Kamu jodoh aku, gimana aku mau pergi kalo jantungku sudah degeun degeun sama kamu," kata Xavera tanpa malu.
"What! Oh, Lord! Bicara apa kau ini, Tante. Lepaskan saya!" kata pria muda itu yang sukses seketika membuat Xavera melepaskan pelukannya lalu mengubah ekspresinya dengan memberi tatapan tajam pria itu.
"Tante?! Hei, gue gak setua itu untuk jadi tante lo, Babe! Kita lebih cocok jadi pasangan sehidup semati," ucap Xavera mulai menggila.
Xavera begitu baik dalam memainkan ekspresi wajahnya, dalam hitungan detik dari raut kesal berubah menjadi manja serta menggoda kembali. Ia seakan kehilangan kesan wanita tegas dan angkuh ketika bertemu sosok pemuda asing berwajah tampan itu.
Pria muda itu memejamkan mata dan menggeram kesal. Ia memilih melangkah melewati Xavera dan hendak masuk ke dalam kafe yang baru saja wanita itu tinggalkan.
"Babe, kamu mau ke mana? Tunggu aku!" Xavera mengeekor dan secara tidak sadar ia masuk lagi ke dalam kafe di mana ada Kellan yang harus ia hindari.
Bahasa Xavera pun ikut campur aduk karena begitu kakunya kata-kata yang dipakai oleh pria muda yang kadar ketampanannya ala bad boy-bad boy di novel. Xavera meyakini jika pria muda kinyis-kinyisnya itu adalah pria dari negara asing, bukan asli warga Indonesia.
Lagi-lagi Xavera tanpa sengaja menabrak pria itu, tapi kini bagian punggung, bukan dadanya karena pria itu berhenti mendadak tanpa aba-aba. Xavera mengelus hidung mancungnya yang terasa sedikit nyeri. Kepala wanita itu mengintip sedikit untuk mencari tahu kenapa berondongnya berhenti mendadak. Tak ayal, kedua bola matanya melebar kembali melihat sosok yang berdiri menjulang seolah sengaja menghalangi langkah pria muda yang berjalan di depan Xavera.
Tatapan tajam bak laser pembasmi jerawat di salon kecantikan diberikan oleh Kellan ke arah pria muda itu. Keduanya beradu pandang.
"Minggir, kamu menghalangi jalan saya," kata Kellan penuh penekanan.
Pria muda yang tidak bisa dideteksi ekspresinya oleh Xavera, hanya diam bergeming sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam celana jeans hitam robek di bagian lutut yang ia pakai.
"Kamu gak ngerti bahasa minggir? Dasar anak muda kurang ajar," ketus Kellan mulai terpancing emosi karena sikap pria di depannya.
Pria muda itu menoleh ke belakang, tepat ke arah Xavera. "Apa yang dia katakan? Apakah dia meminta saya untuk menyingkir?" kata pria itu dalam bahasa Inggris pada Xavera.
Bukannya memberikan jawaban, tapi Xavera malah melingkarkan lengannya dengan cepat ke lengan pria muda tampan itu dan sedikit menariknya ke belakang memberi celah agar Kellan bisa melewati mereka.
“Baby?!” Kellan terkejut mendapati Xavera yang ternyata ada di belakang pria muda itu. Tubuhnya tertutupi sehingga Kellan tidak begitu menyadari keberadaan wanita cantik yang meninggalkannya begitu saja.
"Baby balabala, kenapa kau tiba-tiba pergi? Aku sudah memberi tahu pada temanku kalau kau akan membuka frenchise, besok ia akan datang ke kantormu untuk menjelaskan persyaratannya," ucap Kellan antusias saat melihat Xavera.
Ekspresi Kellan mendadak berubah seakan ingin menelan Xavera hidup-hidup dan pria muda di hadapannya saat melihat lengan keduanya bertaut satu sama lain.
"Siapa dia? Kenapa kamu peluk lengannya kayak gitu? Apa dia---keponakan kamu?" tanya Kellan dengan nada bicara kesal bercampur marah pada Xavera.
Xavera memutar bola matanya malas. Wanita itu sengaja menyandarkan kepala pada lengan pria muda yang tidak ia ketahui namanya itu.
"Ini pacar baru aku. Jadi, stop ngikuti aku atau ngeganggu aku lagi, okay!" kata Xavera sukses membuat Kellan sedikit oleng dan melotot tidak percaya.
Pria muda itu sendiri hanya berdiri tanpa berucap satu patah kata pun, mengamati kedua orang yang sedang beradu argumen satu sama lain tanpa ingin melepaskan pelukan di lengannya yang dilakukan oleh wanita yang tidak kenalnya. Kellan terkekeh setelah beberapa detik terkejut, "leluconmu sama sekali tidak lucu. Berhentilah berbohong. Aku sangat mengetahuimu, kau tidak mungkin menyukai pria muda seperti ini," ejek Kellan sambil tertawa menatap Xavera dan pria muda itu bergantian.
Xavera melotot marah kearah Kellan yang bersikap seolah mengetahui dengan pasti apa yang disukai dan tidak disukainya. Wanita itu benar-benar harus melepaskan diri dari pria saiko seperti Kellan. Ia memang mata duitan, tapi tidak menerima semua pemberian pria yang tidak masuk akal seperti yang Kellan berikan.
Satu kecupan diberikan Xavera di sudut bibir pria muda itu membuat Kellan dan pria itu menoleh horor ke arah Xavera.
'Anjir! Bibir laknat ini tau aja sama cowok ganteng, nyosor kayak angsa. Gak ada akhlak, tapi kok jadi pengen nambah lagi,' pikir Xavera konyol.
Kedua pria itu tetap menatap Xavera dengan tatapan mematikan seolah ingin mencabiknya saat itu juga. Akan tetapi, Xavera memilih mengabaikan tatapan itu dan tetap melakukan tindakan nekat untuk kedua kalinya. Ia mengulang kembali mencium sudut bibir pria dalam gandengannya itu, seperti apa yang ia pikirkan sebelumnya.
Sebelum sisi dajal Kellan muncul atau bahkan roh pria muda nan tampan itu kembali ke jiwanya, Xavera memilih menarik dengan tenaga kuda, tubuh pria asing itu agar mengikutinya berlari dari kafe untuk masuk ke dalam mobilnya.
Bak kerbau dicucuk hidung, pria muda itu ikut berlari dan masuk ke dalam mobil Xavera terbirit-birit mengikuti apa yang wanita itu lakukan. Aura kemarahan Kellan terasa membakar Xavera, untuk itu ia segera injak gas dari halaman parkir kafe, menculik si pria muda nan tampan bersamanya.
"Xaveraaaaa! Fuck you!" teriak Kellan frustasi.
"Aku gak akan ngelepasin kamu gitu aja. Bisa-bisanya kamu ciuman sama bocah, sedangkan aku gak pernah kamu cium selama kita pacaran," gumam Kellan emosi.
Pengusaha kaya raya itu melangkahkan kaki dengan perasaan kesal, marah, kecewa dan penasaran menuju pelataran parkir, ia memilih untuk angkat kaki dari kafe itu setelah Xavera pergi meninggalkannya begitu saja. Lea dan dua pegawainya ikut menyaksikan drama antara dua pria dan satu wanita dari kaca kafe mereka, hanya bisa terdiam terpaku dan berakhir saling pandang sambil menggeleng. Mereka bertiga seolah sedang beradu akting dalam sebuah drama.
Untung saja keadaan kafe saat itu hanya didatangi oleh beberapa orang saja dan mereka tidak begitu memedulikan keadaan di sekitar, jika keadaan sebaliknya, pasti drama cinta segitiga entah sama sisi atau sama siku milik Xavera sudah diabadikan oleh kamera jadul dan viral masuk ke Mak Lambe.
🐣🐣🐣🐣🐣
Roh pria muda itu sudah kembali ke jiwanya. Pria itu menoleh Xavera dengan tajam seakan siap menyayat-nyayat seluruh bagian tubuh Xavera.
"Stop!"
Decitan rem mobil Xavera mendadak berbunyi. Untung saja mereka berdua sedang berada di jalanan yang cukup sepi, jika tidak---mungkin keduanya sudah berakhir di balik jeruji besi atau di balik papan yang gelap gulita.
"Astaga! Kamu ini berdosa sekali, teriak-teriak begitu. Bikin jantungan dan untung kita masih selamat," rutuk Xavera saat pria itu tiba-tiba memerintahkannya berhenti tiba-tiba.
"What are you doing! Dasar, Tante-tante crazy!" bentak pria itu.
"Shut up! Don't call me, Tante!" Xavera balas membentak.
"I'm not your Tante, understand! I'm your destiny. We're soulmate." sambung Xavera sambil mengisyaratkan pertautan antar jari telunjuk kanan dan kirinya menjadi satu.
Pria muda itu menggosok wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan lebarnya. "GOD! Apa kau baru saja keluar dari rumah sakit jiwa? Kau mengalami gangguan jiwa? Kau mengklaim saya sebagai jodoh, mengatakan saya pacar, mencium saya sembarangan dan sekarang kau menculik? Apa kau masih waras? Banyak sekali tindakan kriminal yang kau lakukan kepada saya," ketus pria itu.
Xavera bereaksi seolah wanita itu tidak melakukan tindakan yang merugikan apa pun dan membalas enteng rentetan makian pedas yang keluar dari pria muda di sebelahnya.
“Aku bukan lulusan rumah sakit jiwa. Aku sangat waras mangkanya bisa ngelakuin semuanya ke kamu. Aku rela terpenjara di dalam hatimu selamanya,” jawab Xavera dengan cengiran lebar di bibirnya. Wanita itu bahkan dengan beraninya mengedipkan sebelah mata, mencoba menggoda.
Xavera mengulurkan telapak tangannya ke depan tubuh pria asing itu.
"Aku Xavera Grizelle, masih muda mempesona." Xavera memperkenalkan dirinya.
"Nama kamu siapa, Babe?" tanya Xavera.
"Tezza," jawab pria itu cepat, mengabaikan uluran tangan Xavera. Wanita itu bukannya marah, tapi malah tersenyum penuh kemenangan.
Sambil mengurut pelipis, pria bernama Tezza itu membuka pintu mobil dan melangkah ke luar membuat Xavera terkejut bukan kepalang. "Eh, jodoh mau ke mana?" pekik Xavera.
Baru saja wanita cantik itu ingin menyusul Tezza, tiba-tiba pintu bagian penumpang terbuka lagi.
"Dengar, Tante Xavera. Mulai sekarang, jangan ganggu hidup saya lagi. Jangan ikuti saya." Tezza memberi peringatan tegas.
Pria itu membanting pintu mobil Xavera dengan kencang, sukses membuat si empunya mobil terkejut dan menggerutu, "belom lunas ini cicilannya, woi! Astaga!"
Lagi-lagi, saat Xavera ingin turun dan mengejar Tezza, kedua bola mata wanita itu menangkap bayangan Tezza yang sudah memasuki salah satu taksi di belakangnya dan memutar balik.
Xavera menghela napas berat. "Gue yakin, kalo jodoh pasti ketemu lagi. Kalo gak ketemu, yah, gue cari nanti sampe dapet," gumam Xavera melihat taksi yang membawa Tezza pergi menjauhi mobilnya.
"Seumur hidup sudah tiga puluh tahun, gue baru kali ini ngerasain love at first sight. Gila, jantung gue berdebar-debar kencang kayak ditagih utang. Fix, sih ini. Tezza adalah jodoh gue yang baru netas. Gue yakin itu." Xavera bermonolog sambil mengelus-elus dagunya.