Alaina masih berdiri terpaku di tempatnya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu dalam sorot mata Dylan Callahan yang membuatnya gelisah-sebuah ancaman yang terselubung dalam kata-kata manis yang tajam seperti belati.
Namun, ia menepis perasaan itu. Dylan selalu membencinya. Sejak dulu, pria itu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyindir atau menatapnya dengan kebencian yang mendalam. Tapi itu hanya kemarahan masa lalu, bukan? Dylan Callahan adalah pria yang berbahaya, tapi ia tidak akan berani menyentuhnya secara langsung.
Atau setidaknya, itulah yang Alaina pikirkan.
Saat pesta berlanjut, Alaina memutuskan untuk menjauh dari keramaian. Ia membutuhkan udara segar untuk menenangkan pikirannya. Dengan langkah ringan, ia menyelinap keluar menuju balkon yang menghadap taman belakang. Angin malam yang dingin menerpa kulitnya, membuatnya sedikit menggigil.
Ia memejamkan mata sejenak, menikmati ketenangan sesaat. Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.
"Terlalu mudah menebak ke mana kau akan pergi," suara rendah dan dalam itu terdengar dari belakangnya.
Alaina tersentak dan menoleh. Dylan berdiri di ambang pintu balkon, bersandar santai pada kusen dengan tangan di sakunya. Matanya yang tajam memperhatikannya, seolah menelanjangi setiap gerakan dan ekspresinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" suara Alaina terdengar lebih tegang dari yang ia inginkan.
Dylan melangkah mendekat, membiarkan bayangan tingginya menelan Alaina dalam kegelapan. "Aku bisa bertanya hal yang sama padamu."
"Aku hanya ingin udara segar," Alaina mencoba terdengar tenang, meskipun perasaannya mengatakan ia harus segera meninggalkan tempat itu.
Dylan menyeringai, sebuah senyuman yang tidak benar-benar menunjukkan kebahagiaan. "Kau tahu, Alaina, kau tidak seharusnya terlalu percaya diri. Tidak semua orang di sini menginginkan yang terbaik untukmu."
Alaina menegang. "Apa maksudmu?"
Dylan tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan sesuatu dari sakunya-sebuah gelas kristal berisi anggur merah yang berkilauan di bawah cahaya bulan.
"Minumlah," katanya, mengulurkan gelas itu padanya.
Alaina menatapnya curiga. "Aku sudah cukup minum."
Dylan tertawa kecil. "Hanya seteguk. Anggur terbaik dari koleksi ayahmu. Akan sangat disayangkan jika kau menolaknya."
Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Alaina ragu. Tapi ia tidak ingin terlihat pengecut di hadapan pria itu. Ia mengambil gelas itu dan meneguk sedikit, merasakan rasa anggur yang kaya dan pahit di lidahnya.
Beberapa detik berlalu.
Lalu tiba-tiba, dunia di sekelilingnya mulai berputar.
Alaina merasakan kepalanya menjadi berat, kelopak matanya semakin sulit terbuka. Nafasnya tersengal, dan kakinya melemas.
"Dylan..." suaranya nyaris tak terdengar saat tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Dylan menangkapnya sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
"Kau seharusnya lebih berhati-hati, Alaina," bisiknya di telinganya sebelum semuanya menjadi gelap.
Alaina terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Tubuhnya terasa lemah, setiap sendi terasa berat seolah terikat oleh sesuatu yang tak terlihat. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tapi gerakan itu terasa lemah dan sia-sia.
Matanya terbuka perlahan, dan yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit kamar yang asing. Cahaya redup dari lampu meja menyinari ruangan yang terasa dingin dan kosong.
Ketakutan mulai merayapi dirinya.
Di mana dia?
Apa yang terjadi?
Pakaian yang dikenakannya masih sama dengan gaun malamnya, tapi ada sesuatu yang terasa salah. Perasaannya mengabur antara mimpi dan kenyataan. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum semuanya menjadi gelap-Dylan, anggur, dan kemudian... kekosongan.
Jantungnya berdetak kencang.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, dan Dylan muncul. Ia berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sulit ditebak, matanya gelap dan tak terbaca.
"Akhirnya kau bangun," katanya dengan nada datar.
Alaina merasakan ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan. "Apa yang kau lakukan padaku?"
Dylan tidak menjawab. Ia hanya menatapnya lama sebelum akhirnya berkata dengan suara yang begitu dingin hingga menusuk tulangnya.
"Kau sudah mendapatkan apa yang pantas kau terima."
Dunia Alaina runtuh saat kata-kata itu menggema di kepalanya.
Alaina menatap Dylan dengan mata membelalak, jantungnya berdegup liar seperti akan meledak dari dadanya.
"Apa maksudmu?" suaranya bergetar, ketakutan mulai mencengkeramnya dengan erat.
Dylan tidak menjawab segera. Ia berjalan masuk ke dalam kamar dengan langkah santai, seolah ruangan ini adalah miliknya, seolah ia mengendalikan segalanya. Tatapannya dingin, tak ada belas kasihan di sana.
"Aku hanya membalas apa yang telah dilakukan keluargamu," katanya akhirnya, suaranya rendah, penuh kebencian yang mendarah daging.
Alaina mencoba bergerak, tapi tubuhnya masih terasa lemas. Kepalanya berdenyut hebat, efek dari obat yang ia sadari telah diberikan padanya.
"Ka-kau..." Napasnya memburu, mencoba mengumpulkan kepingan ingatannya yang berserakan.
Dylan mendekat, berdiri di tepi ranjang, melihatnya dari atas seperti seorang raja yang menghakimi seorang pesakitan. "Sekarang kau tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya," katanya pelan, namun tiap kata menusuk dalam, penuh penghinaan.
Alaina terengah, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. "Kau tidak punya hak untuk melakukan ini padaku!"
Dylan tersenyum sinis. "Dan ibuku tidak pantas mati karena pengkhianatan ayahmu."
"Ayahku tidak-"
"Jangan berani-beraninya kau menyangkalnya!" Dylan membentaknya, matanya berkilat penuh amarah. "Ayahmu menghancurkan ibuku. Membuatnya hidup dalam penderitaan sampai kematiannya. Dan kau? Kau tumbuh dalam kemewahan, dalam kebohongan keluargamu, seolah tak ada yang terjadi!"
Alaina menggigit bibirnya. Ada banyak hal yang ia tidak tahu, banyak rahasia yang keluarganya sembunyikan. Tapi apa pun kesalahan ayahnya, itu bukan alasannya untuk dihukum seperti ini.
"Apa yang kau lakukan, Dylan?" suaranya hampir tak terdengar.
Dylan menatapnya lama sebelum akhirnya berbisik, "Aku memastikan kau tidak akan pernah melupakan malam ini."
Ketakutan menusuk tulang Alaina.
Dylan berbalik, menuju pintu. "Pulanglah, Alaina. Atau mungkin, setelah ini keluargamu tidak akan menginginkanmu lagi."
Alaina ingin berteriak, ingin memaki, ingin melawan. Tapi tubuhnya terlalu lemah, dan pikirannya terlalu kacau untuk memahami semuanya.
Dan saat Dylan menutup pintu di belakangnya, ia menyadari satu hal.
Hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
---
Tiga minggu berlalu.
Alaina mengurung diri di dalam kamarnya, menolak bertemu siapa pun. Makanannya hanya disentuh sedikit, tubuhnya semakin lemah, dan pikirannya terus dihantui oleh malam itu.
Dylan tidak pernah menghubunginya, tidak pernah muncul di hadapannya lagi. Seolah bagi pria itu, semuanya sudah selesai.
Tapi bagi Alaina, ini baru permulaan.
Karena pagi ini, saat ia akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya dan menemui dokter keluarga, ia menerima berita yang menghancurkan segalanya.
"Kau hamil, Nona Sinclair."
Kata-kata itu menggema di kepalanya, menghancurkan setiap pertahanan yang selama ini ia bangun.
Hamil.
Ia menatap dokter itu dengan ekspresi kosong, jari-jarinya mencengkeram lengan kursi dengan kuat.
"Tidak... tidak mungkin," bisiknya.
Dokter itu menghela napas, menatapnya dengan penuh simpati. "Aku bisa melakukan tes lain jika kau mau, tapi hasilnya sangat jelas. Kau mengandung, dan usia kandungannya sekitar tiga minggu."
Alaina ingin muntah. Tangannya gemetar saat ia menyentuh perutnya. Ada kehidupan di dalam dirinya-sesuatu yang seharusnya menjadi anugerah, tetapi dalam situasi ini, terasa seperti kutukan.
Dan yang paling menyakitkan?
Ia tidak tahu siapa ayah dari anaknya.
Malam itu, ia dibius. Ia tidak ingat apa pun setelah kepalanya mulai pusing di balkon. Tidak ada ingatan yang bisa dijadikan pegangan. Hanya ada kegelapan, kehampaan, dan ketika ia terbangun, hanya Dylan yang ada di sana.
Apakah Dylan...?
Pikirannya kacau. Ia tidak tahu harus percaya pada apa. Tapi satu hal yang pasti-hidupnya benar-benar telah berakhir.
Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya. Hanya ada satu orang yang bisa memberikan jawaban.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga minggu terakhir, ia menghubungi Dylan Callahan.
Panggilan itu hanya berdering dua kali sebelum diangkat.
"Aku sudah menunggumu menelepon," suara Dylan terdengar di ujung sana, tenang, penuh kemenangan.
Alaina menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis.
"Aku hamil."
Hening.
Dylan tidak langsung merespons. Tapi Alaina bisa mendengar tarikan napasnya yang berat.
Lalu akhirnya, ia tertawa.
Tawa rendah yang dingin dan penuh ironi.
"Bagus," katanya akhirnya. "Itu berarti rencanaku berhasil."
Alaina merasa dunia di sekelilingnya runtuh seketika.