Hari-hari pertama bekerja sebagai sekretaris sekaligus memenuhi kebutuhan medis Arga terasa berat bagi Siska. Namun, ia mencoba bertahan demi masa depan dan demi membayar hutang ibunya. Arga, meski tampan dan karismatik, menunjukkan sisi yang jauh berbeda saat berada di kantor. Sikapnya yang tegas dan terkadang kejam membuat Siska merasa tertekan.
Suatu pagi, setelah menyelesaikan tugas-tugas rutinnya, Arga memanggil Siska ke kantornya.
"Siska, ada hal penting yang perlu kita bicarakan," kata Arga dengan nada serius.
Siska memasuki ruangan dengan perasaan cemas. "Apa yang ingin dibicarakan, Pak Arga?"
Arga menatap Siska tajam. "Kondisi kesehatan saya membutuhkan ASI dalam jumlah yang lebih banyak dan lebih cepat. Karena itu, saya memutuskan untuk membawa kamu ke dokter spesialis agar bisa mempercepat produksi ASI-mu."
Siska terkejut mendengar permintaan tersebut. "Tapi, Pak Arga, saya merasa tidak nyaman dengan itu..."
Arga memotongnya dengan nada dingin. "Ini adalah bagian dari kontrak yang sudah kamu setujui. Saya tidak akan menerima penolakan."
Dengan berat hati, Siska setuju untuk mengikuti Arga ke dokter. Mereka menuju klinik spesialis yang mewah di pusat kota. Setibanya di sana, dokter menyambut mereka dengan ramah dan mulai menjelaskan prosedur yang akan dilakukan untuk mempercepat produksi ASI.
"Prosedurnya melibatkan penggunaan alat khusus yang akan merangsang payudara untuk memproduksi lebih banyak ASI. Proses ini mungkin akan terasa tidak nyaman, tapi hasilnya akan sesuai dengan harapan," jelas dokter.
Siska merasa semakin cemas, namun ia tidak memiliki pilihan lain. Ia harus menjalani prosedur tersebut demi mempertahankan pekerjaannya. Dokter kemudian memandu Siska ke sebuah ruangan khusus dan mempersiapkan alat tersebut.
Arga mengikuti mereka masuk ke ruangan dan berdiri di dekat Siska. Ia memperhatikan dengan seksama saat dokter memasang alat tersebut pada payudara Siska. Prosedur dimulai, dan Siska langsung merasakan rasa sakit yang cukup intens. Ia mencoba menahan tangisannya, tapi air mata mulai mengalir di pipinya.
Arga, yang awalnya hanya memperhatikan dengan wajah serius, tiba-tiba menunjukkan ekspresi berbeda. Matanya memperhatikan setiap gerakan dan perubahan pada tubuh Siska dengan intensitas yang berbeda. Ada sesuatu dalam dirinya yang mulai bangkit melihat payudara Siska diperlakukan dengan cara tersebut.
"Kamu baik-baik saja, Siska?" tanya Arga dengan nada yang terdengar seperti campuran kepedulian dan ketertarikan.
Siska mengangguk pelan, meski jelas terlihat kesakitan. "Saya baik-baik saja, Pak..."
Arga mendekat dan meletakkan tangan di bahu Siska. "Saya tahu ini sulit, tapi kamu harus bertahan. Ini untuk kebaikan kita berdua."
Setelah beberapa waktu, prosedur selesai. Dokter memberikan instruksi tambahan kepada Siska mengenai cara merawat payudaranya dan bagaimana memastikan produksi ASI tetap optimal. Siska mendengarkan dengan seksama, meski pikirannya masih kacau.
Saat mereka meninggalkan klinik, Arga memandang Siska dengan pandangan yang berbeda. "Saya ingin payudaramu tumbuh lebih besar, Siska. Itu akan sangat membantu."
Siska merasa tidak nyaman dengan pernyataan tersebut, tapi ia hanya bisa mengangguk. "Saya akan berusaha, Pak."
Arga tersenyum tipis. "Bagus. Saya yakin kamu bisa melakukannya."
Hari-hari berikutnya, Siska harus menyesuaikan diri dengan rutinitas baru yang melibatkan perawatan khusus untuk memperbesar dan mempercepat produksi ASI. Setiap kali ia merasa kesakitan, bayangan wajah ibunya yang kejam dan hutang yang menumpuk membuatnya bertahan.
Arga, di sisi lain, semakin sering memperhatikan Siska. Ia tampak semakin tertarik dengan tubuh Siska dan bagaimana perubahan yang terjadi padanya. Meskipun awalnya hanya demi kebutuhan medis, kini hasrat lain mulai bangkit dalam dirinya.
Suatu malam, setelah seharian bekerja keras, Siska kembali ke rumah dengan tubuh lelah dan pikiran penuh. Ia merenungkan keputusan yang telah diambil dan apa yang harus dihadapinya ke depan. Meskipun merasa tertekan, Siska bertekad untuk terus bertahan demi masa depan yang lebih baik.
Siska mulai menyadari bahwa hidupnya telah berubah secara drastis sejak menerima tawaran Arga. Tekanan dan kesakitan yang harus ia hadapi setiap hari adalah harga yang harus dibayar demi mencapai impiannya. Meski begitu, Siska tetap tegar dan berusaha menjalani setiap hari dengan penuh keberanian.
Dalam hati, Siska berharap suatu hari nanti semua perjuangannya akan terbayar. Ia berharap bisa keluar dari cengkeraman hutang dan menjalani hidup yang lebih baik. Namun, untuk saat ini, ia harus bertahan dan menghadapi segala rintangan yang ada di depannya dengan kepala tegak.
Siska merasa sakit di bagian payudaranya. Rasa sakit itu datang sebagai hasil dari prosedur yang telah ia jalani beberapa hari sebelumnya. Meski begitu, ia tetap bangkit dari tempat tidur dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia harus menjalani harinya dengan penuh tanggung jawab meski ada rasa sakit yang terus mengganggunya.
Sesampainya di kantor, Siska langsung menuju ruangannya dan memulai pekerjaannya seperti biasa. Namun, tidak lama setelah ia duduk, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia melihat ke bawah dan terkejut melihat bajunya basah oleh ASI yang merembes keluar. Siska merasa panik sejenak, mencoba mencari cara untuk menyembunyikan noda tersebut. Ia mengambil jaket dari kursinya dan menutupi dadanya, berharap itu bisa menyamarkan situasi yang memalukan ini.
Di tengah usahanya untuk tetap tenang, telepon di mejanya berdering. Suara Arga terdengar dari ujung sana.
"Siska, tolong buatkan saya kopi dan bawa ke ruang kerja saya," perintah Arga dengan nada tegas.
"Baik, Pak Arga. Segera saya buatkan," jawab Siska sambil mencoba menenangkan dirinya.
Siska berjalan menuju pantry dengan langkah cepat. Di sana, ia mulai membuat kopi untuk Arga sambil berharap bahwa bajunya tidak terlalu terlihat mencolok. Setelah selesai, ia membawa kopi tersebut ke ruang kerja Arga.
Arga menunggu di depan meja kerjanya, matanya langsung tertuju pada Siska saat ia memasuki ruangan. Mata Arga menyipit, memperhatikan dengan teliti setiap gerakan Siska. Saat Siska mendekat, Arga melihat adanya noda basah di sekitar payudara Siska yang tertutup jaket.
"Siska, ada yang tidak beres dengan bajumu," kata Arga tiba-tiba.
Siska merasa gugup dan mencoba menutupi dadanya dengan lebih rapat. "Maaf, Pak. Saya... saya mengalami kebocoran ASI."
Arga berjalan mendekat, tatapannya intens. "Itu artinya produksi ASI-mu meningkat. Bagus, tapi sepertinya kamu butuh bantuan untuk mengatasinya."
Siska hanya bisa diam, merasakan ketegangan yang semakin meningkat. Arga mendekat lebih dekat lagi, hingga jarak mereka hanya beberapa inci.
"Saya ingin mencoba menyusu langsung darimu, Siska," bisik Arga dengan suara rendah namun tegas.
Siska terkejut dan mundur beberapa langkah. "Pak Arga, saya... saya tidak yakin..."
Arga tidak memberinya kesempatan untuk melanjutkan. Ia menggenggam tangan Siska dan menariknya ke kamar pribadinya yang ada di belakang ruang kerja. Siska mencoba melawan, tapi kekuatan Arga terlalu besar.
Setelah mereka berada di dalam kamar, Arga menutup pintu dan memandang Siska dengan tatapan yang penuh hasrat. "Jangan khawatir, Siska. Ini akan membantu kita berdua."
Siska merasa tidak berdaya. Arga mendekat dan mulai membuka kancing jaket serta blus Siska. Dengan lembut namun tegas, ia menyingkirkan pakaian yang menghalangi, hingga payudara Siska yang penuh dengan ASI terlihat jelas.
Arga mendekat dan mulai menyusu langsung dari payudara Siska. Siska merasa campuran rasa sakit dan aneh, tetapi ia mencoba untuk tetap tenang. Namun, tangan Arga tidak diam. Ia mulai meremas payudara Siska dengan lembut namun penuh gairah, membuat Siska mengeluarkan desahan pelan.
"Pak Arga, tolong..." bisik Siska dengan suara tertahan antara rasa sakit dan kenikmatan.
Namun, Arga tidak berhenti. Ia terus menyusu dan meremas payudara Siska dengan lebih intens, menikmati setiap tetes ASI yang keluar. Siska merasa tubuhnya bereaksi dengan cara yang tidak bisa ia kendalikan. Desahannya semakin keras, dan ia merasa campuran rasa sakit dan gairah yang membingungkan.
Arga akhirnya berhenti setelah beberapa waktu. Ia menatap Siska dengan tatapan puas dan berkata, "Kamu melakukan pekerjaan yang baik, Siska. Teruslah seperti ini, dan kita akan baik-baik saja."
Siska hanya bisa mengangguk, merasa lelah dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Ia merapikan pakaiannya dan keluar dari kamar pribadi Arga, mencoba menenangkan diri.
Hari itu, Siska terus merasa tidak nyaman. Namun, ia berusaha keras untuk tetap fokus pada pekerjaannya. Meskipun mengalami rasa sakit dan tekanan yang luar biasa, Siska tahu bahwa ia harus bertahan. Ia harus menjalani hari demi hari dengan penuh keberanian demi masa depan yang lebih baik.
Setiap kali rasa sakit itu datang, Siska mengingatkan dirinya bahwa ia melakukannya demi keluarganya, demi membayar hutang ibunya yang menumpuk. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua pengorbanannya akan terbayar suatu hari nanti.
Namun, tekanan di kantor semakin berat. Arga terus memperhatikan Siska dengan intensitas yang sama. Ia sering memanggil Siska ke ruangannya, meminta bantuan dan kadang mengulangi kejadian yang sama. Siska merasa semakin tertekan dan bingung, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain selain bertahan.
Di tengah segala kesulitan ini, Siska mulai menyadari bahwa ia harus menemukan cara untuk keluar dari situasi ini. Ia harus menemukan kekuatan dalam dirinya untuk menghadapi Arga dan segala tekanan yang ada. Siska tahu bahwa perjalanan ini masih panjang dan penuh dengan rintangan, tetapi ia bertekad untuk tetap kuat dan tegar.
Meskipun hari-hari di kantor terasa semakin berat, Siska terus menjalani tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Ia berusaha sebaik mungkin untuk menyeimbangkan antara pekerjaannya sebagai sekretaris dan kebutuhan medis Arga. Di balik semua tekanan dan rasa sakit, Siska tahu bahwa ia harus bertahan demi masa depan yang lebih baik.
Dalam hati, Siska berharap suatu hari nanti ia bisa keluar dari cengkeraman Arga dan hidup dengan bebas. Namun, untuk saat ini, ia harus bertahan dan menghadapi segala rintangan dengan kepala tegak. Ia harus menemukan kekuatan dalam dirinya untuk terus maju, meskipun perjalanan ini penuh dengan kesulitan dan tantangan.
Setiap hari adalah perjuangan, tetapi Siska bertekad untuk tidak menyerah. Ia tahu bahwa hidupnya telah berubah secara drastis, tetapi ia percaya bahwa suatu hari nanti ia akan menemukan kebahagiaan dan kedamaian yang selama ini ia cari. Hingga saat itu tiba, Siska akan terus bertahan, menghadapi setiap rintangan dengan penuh keberanian dan tekad.