Bab 2

Keesokan harinya,

Langit kelabu menaungi pemakaman kecil itu, seolah turut berduka atas kehilangan Mariana. Rintik hujan jatuh perlahan, membasahi tanah merah yang masih basah oleh galian segar. Udara dingin menusuk, tapi tak sebanding dengan kehampaan yang menggerogoti hatinya.

Meski rasa sakit pasca operasi masih terasa, tetapi Mariana meneguhkan hatinya untuk mengantar bayinya ke peristirahatan terakhir.

Wanita itu duduk kaku di samping batu nisan, kedua tangannya saling mencengkeram erat di atas pangkuan. Mata sembabnya menatap kosong ke gundukan tanah merah yang baru saja ditutup. Di sanalah, di dalam bumi yang dingin itu, bayi yang seharusnya lahir dalam hitungan hari kini tertidur selamanya.

Suara ustaz terdengar khidmat saat ia membacakan ayat-ayat suci. Isak tangis pecah di antara keluarga yang hadir, tetapi Mariana sendiri hanya terdiam, tak mampu mengeluarkan suara.

'Sayang ... maafkan Mama.' Suara itu hanya terucap dalam hati Mariana.

Tidak ada air mata lagi yang bisa Mariana tumpahkan. Semuanya terasa hampa.

Di sisi lain, Bara berdiri dengan kepala tertunduk. Wajahnya menyiratkan penyesalan, tetapi Mariana tak ingin melihatnya. Sejak di rumah sakit, ia telah berkata dengan tegas bahwa pria itu tidak lagi memiliki tempat dalam hidupnya.

Bianca tak ada di antara mereka. Mariana bahkan tak ingin tahu di mana adiknya berada. Gadis itu tidak pantas berada di sini. Tak pantas menangisi bayinya yang tidak pernah bisa lagi Mariana genggam.

Di samping Mariana, ibunya sesekali menyeka air mata dengan ujung jarinya. Sang ayah berdiri di belakang mereka, wajahnya tegas namun matanya menyimpan duka yang mendalam.

Orang tuanya belum tahu kebenaran yang sesungguhnya.

Belum tahu siapa yang telah mengkhianati Mariana.

Belum tahu bagaimana dalam satu malam, hidupnya hancur berantakan-kehilangan suami, kehilangan anak, kehilangan segalanya.

Dan Mariana tak tahu apakah ia sanggup memberi tahu mereka.

Pemakaman telah selesai, dan satu per satu pelayat pun bubar. Namun Mariana sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.

Seorang perempuan setengah baya, ibu Mariana, menepuk pundaknya dengan lembut. "Mariana, kita pulang sekarang, hm?"

Mariana masih diam.

Pulang? Ke mana? Rumahnya sudah bukan rumah lagi.

Kamar yang telah ia persiapkan untuk bayi kecilnya dengan penuh cinta kini hanya menjadi ruang kosong yang menyimpan kepedihan. Dan kamar tidurnya bersama Bara hanya akan mengingatkannya pada pengkhianatan paling keji. Pria itu bergumul bersama adiknya tepat di atas kasur mereka.

Tanpa menjawab, Mariana hanya memandang tanah itu sekali lagi. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa serta bisikan yang entah berasal dari mana.

Ia menggigit bibir, menahan gejolak di dadanya.

Tatapannya tetap terpaku pada tanah basah itu, seolah berharap keajaiban bisa mengembalikan bayinya.

Namun, kenyataan tak sebaik itu.

Dengan langkah lemah, ia bangkit dari posisinya. Kakinya hampir tak sanggup menapak, seakan nyawanya sendiri ikut terkubur bersama bayinya.

Hari ini, Mariana bukan hanya kehilangan anaknya.

Hari ini, ia kehilangan segalanya.

***

Usai dari pemakaman, Mariana memilih pulang ke rumah orang tuanya. Setidaknya, masih ada tempat yang bisa dituju selain rumahnya bersama Bara.

Sepanjang perjalanan, Mariana menatap kosong jalanan di luar jendela mobil. Tidak ada percakapan yang terdengar di dalam kendaraan itu. Hanya deru napas yang bersahutan dalam keheningan.

Di samping Mariana, ibunya mengamati putri sulungnya itu dengan cemas. Sejak tadi malam, Mariana belum mengucapkan sepatah pun kata. Dan itu membuat ibunya merasa khawatir.

"Mariana," panggil ibunya.

Mariana menoleh ke samping, menatap ibunya dengan pandangan kosong. Bibirnya seakan terkunci, Mariana tidak mengucapkan apa pun.

Mata ibunya tampak berkaca-kaca. "Ibu mengerti kamu merasa sangat terpukul. Tapi, kamu harus kuat ya," ucapnya seraya menggenggam punggung tangan Mariana.

Kuat? Bagaimana ia bisa kuat di tengah semua hal yang memaksanya untuk hancur?

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai ayah Mariana memasuki halaman rumah. Begitu kendaraan berhenti, Mariana langsung turun dan melangkah masuk ke dalam kamarnya saat masih gadis dulu.

Mariana duduk di ujung ranjang dengan tatapan kosong. Tubuhnya masih terasa lemah, tetapi ada sesuatu yang lain-sensasi nyeri di dadanya.

Mariana menunduk. Pandangannya jatuh pada noda basah di bajunya. ASI.

Meskipun bayinya sudah tiada, tubuhnya masih mengira ada kehidupan yang harus ia beri makan. Tangannya gemetar saat menyentuh dadanya, dan tanpa bisa ditahan, tangisnya pecah lagi.

Bahkan setelah kehilangan segalanya, tubuhnya masih mengingat bahwa ia adalah seorang ibu.

Namun, kini tak ada lagi bayi yang bisa disusuinya.

"Ya Tuhan ...," lirih Mariana di sela isak tangisnya.

Ketukan pelan terdengar sebelum pintu perlahan terbuka. Di ambang pintu, ibunya berdiri sejenak sebelum melangkah masuk. Mata perempuan itu masih sembap, tetapi raut wajahnya tetap lembut saat menatap putrinya yang duduk diam di tepi ranjang.

"Mariana," panggilnya lirih. "Di luar ada Bara. Dia ingin bicara denganmu."

Mariana tidak langsung bereaksi. Ia tetap diam dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti di pipinya. Kepalanya terasa berat, pikirannya pun masih kacau. Perasaan sesak masih mengunci dadanya rapat-rapat.

Sang ibu melangkah lebih dekat, lalu duduk di sampingnya dengan ragu-ragu. Jemarinya menyentuh punggung tangan Mariana, mencoba memberikan sedikit kenyamanan.

"Apa kalian bertengkar?" tanya ibunya hati-hati.

Selama ini ia jarang sekali melihat Mariana mengabaikan suaminya itu. Sekali pun mereka bertengkar, dengan sifat Mariana yang berhati lembut, putrinya itu bahkan masih memperhatikan Bara.

Tapi kali ini ada yang berbeda. Mariana benar-benar mengabaikan Bara, bahkan terlihat tak sudi untuk menatapnya.

Mariana tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah kata-kata ibunya tidak sampai ke telinganya. Hening menyelimuti ruangan, hanya terdengar napas lirih di antara keduanya.

Setelah beberapa saat, Mariana akhirnya menoleh, menatap ibunya dengan mata sayu yang penuh luka. Suaranya nyaris tidak terdengar ketika ia berkata, "Aku akan menemui Bara."

Ibunya mengangguk pelan, namun raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Ia berdiri dan mengekori Mariana yang perlahan bangkit dari ranjang. Dengan langkah lemah, Mariana berjalan keluar dari kamar dan membiarkan ibunya mengikuti dari belakang.

Begitu tiba di ruang tengah, pandangannya langsung bertemu dengan Bara yang duduk di samping ayahnya. Pria itu tampak lelah, matanya merah seperti baru saja menangis. Namun Mariana sama sekali tidak peduli.

Ia tidak ingin mencari tahu apakah Bara benar-benar menyesali perbuatannya atau tidak. Baginya, semua itu sudah tidak ada artinya lagi. Kenyataan bahwa Bara membunuh anak mereka sama sekali tidak bisa ditepis begitu saja oleh Mariana.

Mariana berhenti tepat di depan Bara. Tanpa basa-basi, ia membuka mulut dan mengucapkan kata yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya dengan lantang.

"Aku ingin bercerai."

Bab 3

"Aku ingin bercerai, Bara. Aku tidak bisa lagi melihatmu tanpa merasa hancur."

Seisi ruangan seketika sunyi.

Bara menegang, wajahnya seketika pucat saat menatap Mariana yang berdiri dengan ekspresi kosong. Kedua orang tua Mariana pun tak kalah terkejut mendengar perkataan putri sulung mereka itu.

"Mariana ...," gumam Bara tak percaya. "Kita bisa membicarakan ini. Tolong jangan buat keputusan ceroboh seperti itu sekarang."

Mariana tidak bergeming. Matanya tetap menatap lurus ke arah pria yang telah mengkhianatinya dan membuatnya terluka lebih dari apa pun.

"Aku sudah memutuskan." Suara Mariana terdengar tenang, tetapi di baliknya ada luka yang begitu dalam. "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."

Bara melangkah maju, tetapi ayah Mariana langsung mengangkat tangan untuk menghentikannya. Tatapan tajam pria tua itu penuh peringatan saat menatap menantunya.

"Meski kami tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, sepertinya Mariana butuh waktu," katanya tegas. "Jika kamu benar-benar peduli padanya, kamu harus menghormati keputusannya."

Bara membuka mulut ingin membantah, tetapi ia tidak menemukan kata-kata yang tepat. Napasnya bergetar, dan untuk pertama kalinya, ia merasa ketakutan kehilangan Mariana.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Mariana berbalik dan melangkah menuju kamarnya dengan kepala tegak. Air matanya masih mengalir di pipi, tetapi kali ini bukan karena kesedihan semata.

Setelah menutup pintu kamarnya, Mariana berdiri mematung di tengah ruangan. Napasnya masih tersengal, dan tubuhnya gemetar karena emosi yang meluap-luap.

Tangannya mengepal kuat, sekuat tenaga berusaha mengendalikan diri. Namun saat ia melangkah menuju ranjang, lututnya mendadak lemas. Mariana jatuh terduduk di lantai, kepalanya tertunduk, sementara air mata mengalir tanpa bisa ditahan.

Suasana hening sejenak hingga ketukan pelan terdengar di pintu. Tak menunggu jawaban, ibunya kembali masuk. Wanita paruh baya itu menutup pintu dengan hati-hati, lalu berjalan mendekat dan duduk di sebelah Mariana.

"Mariana ...," panggil ibunya lembut. Suaranya dipenuhi kekhawatiran, tetapi juga ketegasan seorang ibu yang ingin memahami putrinya. "Ada apa, Sayang? Kenapa kamu tiba-tiba ingin bercerai dengan Bara?"

Mereka bahkan masih dalam suasana berduka. Dan kini kembali dikejutkan dengan keputusan Mariana yang ingin bercerai dengan suaminya. Ada apa gerangan ini?

Mariana masih diam. Pandangannya kosong menatap lantai.

Ibunya menatap Mariana dengan seksama, lalu menghela napas lirih. "Ayahmu mungkin bisa menerima alasanmu yang singkat tadi, tapi ibu tahu ada sesuatu yang nggak kamu katakan." Jemarinya terulur menggenggam tangan putri sulungnya itu dengan lembut. "Apa yang terjadi, Sayang? Mengapa tiba-tiba ingin bercerai?"

Masih tidak ada jawaban hingga beberapa saat.

Lalu, ibunya akhirnya bersuara. Nada suaranya pelan, namun dipenuhi keraguan.

"Mariana ... apakah Bara berselingkuh darimu?" Hanya itu satu-satunya alasan yang bisa ia pikirkan kenapa Mariana ingin bercerai.

Tubuh Mariana menegang seketika. Napasnya tercekat dan ia menutup matanya rapat-rapat. Mariana ingin menghindari kenyataan yang baru saja diucapkan oleh ibunya.

Gemetar hebat mulai merambat di bahu Mariana. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak ada satu kata pun yang keluar.

Melihat reaksi putrinya itu, hati ibunya langsung mencelos. Tanpa Mariana mengiyakan, ia sudah tahu jawaban. Jemarinya semakin erat menggenggam tangan Mariana, memberikan kehangatan di tengah kehancuran yang tak terbantahkan.

"Jadi, dia benar berselingkuh," bisik ibunya lagi, suaranya bergetar menahan tangis.

Dengan penuh rasa hancur, Mariana mengangguk. Sekali.

Seolah itu saja sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.

Ibunya menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Tapi Mariana belum selesai.

"Dia berselingkuh dengan Bia," suara Mariana begitu lirih.

Saat nama itu keluar, ruangan mendadak sunyi.

Ibunya membeku, matanya sedikit membesar seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bibirnya sedikit terbuka, ingin mengucapkan sesuatu tetapi tidak bisa.

"Bianca?" suara ibunya hampir bergetar. "Adikmu?"

Mariana menelan ludah dengan susah payah, lalu mengangguk lagi.

Sejenak, ibunya hanya menatap kosong ke depan. Wajahnya seketika pucat dan tangannya yang tadi menggenggam tangan Mariana kini melemah.

"Nggak ... itu ..." Mata ibunya berkaca-kaca, dan ia menggeleng tak percaya. "Nggak mungkin, Mariana. Dia adikmu ... bagaimana bisa?"

Mariana ingin menjawab, tapi tenggorokannya terasa kering. Ia menatap ibunya, berharap wanita itu bisa memahami tanpa perlu banyak kata.

Dan akhirnya, ia mengucapkan kalimat yang menghancurkan segalanya.

"Aku mendapati mereka tidur bersama di ranjangku ...."

Ibunya menutup mulut dengan kedua tangan, matanya membelalak.

Tetapi sebelum ibunya bisa bereaksi lebih jauh, Mariana melanjutkan dengan suara bergetar hebat.

"... tepat sebelum aku kehilangan anakku."

Hening.

Sesaat, ibunya tidak bergerak. Tidak berkedip. Tidak bernapas. Seolah kalimat itu baru saja merobek sesuatu di dalam dirinya.

Matanya yang sebelumnya sudah berkaca-kaca kini benar-benar dipenuhi air mata. Tangannya langsung menutup mulutnya, seakan mencoba menahan isakan yang mendadak keluar.

"Mariana ... Ya Tuhan ...."

Tubuhnya melemah, tetapi ia segera meraih Mariana dan menarik putri sulungnya itu ke dalam pelukan yang erat. Tangannya bergetar saat membelai rambut putrinya, seolah ingin menyerap semua rasa sakit yang Mariana rasakan.

Air mata Mariana mengalir semakin deras. Tangannya mencengkeram erat lengan ibunya, seperti anak kecil yang mencari perlindungan dari mimpi buruk. Namun seribu sayang, yang Mariana hadapi adalah kenyataan.

"Aku kehilangan semuanya, Bu. Bayiku, pernikahanku, keluargaku ...."

Ibunya semakin memeluk Mariana dengan erat. "Tidak, Sayang. Kamu masih punya ibu. Masih punya ayah. Kami di sini untukmu."

Mariana tidak tahu harus berkata apa. Yang ia tahu, saat ini, pelukan ibunya adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa sedikit tegar.

"Rasanya sakit sekali, Bu," lirih Mariana disertai isak tangis yang begitu pilu.

Ibunya mengusap punggung Mariana dengan lembut, membiarkan putrinya menangis sepuasnya dalam pelukan hangatnya.

"Ibu tahu, Sayang ... Ibu tahu."

Mariana semakin tenggelam dalam dekapan ibunya, tubuhnya bergetar hebat, dan napasnya tersengal di antara isakan yang tak kunjung mereda.

Lalu, dengan suara parau dan tersendat, Mariana berbisik di antara tangisnya, "Apa salah Mariana, Bu?"

Ibunya terdiam, Jantungnya seperti diremas kuat saat mendengar pertanyaan putrinya itu.

"Kenapa mereka begitu jahat sama Mariana?" Mariana mencengkeram lengan ibunya lebih erat, suaranya dipenuhi kepedihan yang begitu dalam. "Karena perbuatan mereka, aku jadi kehilangan anakku."

Kali ini, tangisnya pecah semakin keras.

Ibunya menutup matanya sejenak, menahan isakan yang nyaris keluar dari bibirnya. Luka putrinya adalah lukanya juga. Ia ingin memberikan jawaban, ingin menenangkan, tapi bagaimana bisa? Tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengobati rasa sakit sebesar ini.

Dengan suara gemetar, ibunya berbisik, "Kamu nggak melakukan kesalahan apa pun, Sayang." Jemarinya mengusap lembut rambut Mariana, mencoba menyalurkan ketenangan di tengah duka yang menyelimuti putrinya itu.

"Lalu kenapa, Bu?" Mariana tersedu. "Kenapa mereka melakukan ini padaku? Bara ... Bianca ... mereka mengkhianatiku, menghancurkan semuanya."

Ibunya menggeleng pelan, matanya penuh dengan kesedihan. "Beberapa orang memang buta oleh ego dan nafsu, Sayang. Mereka menyakiti tanpa berpikir, tanpa peduli bagaimana hancurnya orang lain."

Mariana terisak semakin dalam.

Ibunya menarik napas panjang, lalu meraih wajah Mariana dam menangkupnya dengan kedua tangan. Ia menatap putri sulungnya itu lekat-lekat, memastikan agar Mariana mendengar setiap kata yang akan ia ucapkan.

"Tapi dengar Ibu baik-baik, Mariana. Kamu nggak boleh hancur karena mereka."

Mariana menatap ibunya dengan mata yang masih dipenuhi air mata.

"Kamu boleh menangis sekarang, boleh merasa sakit. Tapi jangan biarkan mereka mengambil lebih dari ini," lanjut ibunya. "Jangan biarkan mereka menghancurkan sisa hidupmu."

Mariana terisak, hatinya masih terasa begitu sesak. Tapi di dalam tatapan ibunya yang penuh cinta, ia menemukan sesuatu yang hampir ia lupakan- sebuah harapan.

Ibunya mengusap air mata di pipi Mariana dengan ibu jarinya.

"Kamu berhak bahagia, Sayang." Suaranya sedikit bergetar, tetapi tetap lembut. "Dan Ibu janji, kamu nggak akan melewati ini sendirian."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED