Bab 2

Waktu sudah menunjuk angka tiga sore. Bastian tengah menunggu Elvina yang masih ada kelas di jam terakhir di hari itu.

“Nunggu adek udah kayak nunggu pacar lo, Bas,” ucap Ditto, teman dekat Bastian.

Pria itu kemudian mengulas senyumnya. “Nunggu siapa, To?”

“Biasa. Lo sendiri nggak bisa apa, biarin Elvina pulang sendirian? Jangan dijagain terus tuh adek. Gak bisa dapat jodoh gara-gara elo, entar.”

“Daripada dia dapat jodoh yang nggak bener, mending gue kekang dari sekarang, To. Gue gak mau dia salah mendapatkan cowok. Dia adek gue satu-satunya. Gak bisa gue biarin hidupnya hancur.”

Ditto menepuk-nepuk bahu Bastian. “Kakak yang perhatian dan baik hati. Kalau Elvina bukan adik elo, udah lo pacarin. Iya, kan?”

“Apaan sih. Yaa nggak lah. Gilak aja gue jatuh cinta sama adek sendiri.”

“Kan seumpama, Bastian. Bukan beneran. Kalau beneran, bisa diamuk netizen Indonesia lo, Bas.”

Sontak pria itu terkekeh mendengar ucapan Ditto. “Nggak akan, Ditto. Kenapa lo mikir ke arah sana sih? Suka, sama adek gue? Isi dulu pertanyaan yang gue kasih ke elo.”

Ditto menggelengkan kepalanya. “Nggak akan bisa, gue ngalahin kecerdasan elo, Bas. Mau sampai kapan elo kasih pertanyaan sulit buat para cowok yang deketin Elvina? Bisa jadi perawan tua entar tuh cewek.”

“Sampai gue menemukan cowok yang benar-benar tulus mencintainya. Sayangnya melebihi dari gue.”

“Yaa nggak bakalan ada, ngehe. Lo sayang ke Elvina karena dia adek elo. Sedangkan cowok di luaran sana, suka sama Elvina karena melihat dia sebagai cewek. Gimana sih, lo!”

Sementara Bastian hanya menerbitkan senyumnya. Tak ingin membahas hal konyol yang bisa membuatnya semakin tak tentu arah dengan perasaannya saat ini. Hingga akhirnya orang yang sedari tadi ia tunggu tiba di sana. Berjalan dengan langkah santainya kemudian melambaikan tangan pada sang kakak yang belum dia ketahui tengah memiliki perasaan padanya.

“Kakak ganteng. Maaf yaa, harus nunggu lama. Dosennya tiba-tiba masuk soalnya,” tutur Elvina sambil menerbitkan senyum manisnya.

Bastian tersenyum tipis. Ia mempersilakan Elvina masuk ke dalam mobilnya. Yang kemudian Bastian melajukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang sambil memutar musik kesukaan mereka.

Elvina sangat menyukai semua yang disukai Bastian. Hanya taekwondo yang tidak bisa ia ikuti dari sang kakak.

“Dek?” panggil Bastian kemudian.

Elvina menoleh ke arahnya. “Ada apa, Kakak?”

“Emang salah ya, kalau Kakak sayang banget sama kamu?” Pertanyaan itu terbesit begitu saja setelah otak dan hatinya berperang secara terus menerus.

Elvina menatap dengan lekat wajah gusar Bastian setelah bertanya seperti itu padanya. “Salahnya dari mana, Kak? Aku senang karena Kakak sayang banget sama aku. Nggak ada orang yang sayang banget sama aku selain Kakak, Mama dan Papa.”

Bastian menerbitkan senyumnya. Padahal, rasa sayangnya sangat berbeda dengan rasa sayang orang tuanya itu. Dia menyayangi Elvina sebagai wanita, bukan sebagai adik. Ingin rasanya Bastian mencaci maki perasaannya sendiri karena dengan bodohnya mencintai adik yang masih belum ia ketahui jika Elvina adalah adik angkatnya.

“Rasa sayang Kakak ke kamu nggak akan pernah hilang sampai kapan pun, Dek. Jangan marah yaa, kalau Kakak terlalu mengekang kamu dekat dengan cowok lain. Kakak gak mau kamu kenapa-napa, Dek. Cowok jaman sekarang nggak ada yang bisa dipercaya seratus persen.

"Itulah kenapa Kakak sering kasih pertanyaan sulit ke cowok-cowok yang ingin dekat sama kamu.”

Elvina mengusap lengan kakaknya itu sambil menerbitkan senyum khasnya. “Aku cuma bercanda kok kalau Kakak marah sama aku. Justru, aku senang karena aku bisa punya alasan buat nggak lanjutin hubungan itu.”

“Kenapa gitu, Dek? Banyak yang suka sama kamu padahal.”

“Iyaa. Tapi aku lagi nggak mau buka hati dulu buat semua cowok yang deketin aku.”

“Kenapa?”

“Karena aku mau Kakak duluan yang punya pacar. Aku mau, Kakak punya orang yang bisa Kakak cintai. Jangan sampai orang lain ngira kita pacaran mulu, Kak. Malu tahu, nggak.”

Bastian tertawa dalam rasa yang tak bisa ia pahami. Tertawa campah, menertawakan perasaannya sendiri karena mencintai adiknya yang ternyata malu disebut-sebut sebagai pacarnya.

‘Aku akan segera membuang perasaan ini ke kamu, Dek. Jahat rasanya jika Kakak harus mencintai saudara sedarah. Jangan biarkan itu terjadi padaku, Tuhan. Aku mohon … buang perasaan ini jauh-jauh.' Bastian berucap dan memohon dalam hati.

Sampai akhirnya mereka tiba di rumah. Elvina memilih untuk langsung masuk ke dalam kamarnya karena lelah dan ingin istirahat. Pun dengan Bastian. Pria itu masuk ke dalam kamarnya setelah melewati kamar sang adik dan melihat adiknya tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.

Sorot matanya tidak bisa dibohongi jika Bastian memiliki rasa yang tak wajar. Menjadi polemik tersendiri untuk dirinya dan juga keluarga jika orang tuanya tahu tentang perasaan gilanya itu.

Tok … tok … tok!

Luna mengetuk pintu kamar anaknya itu. “Boleh Mama masuk?” tanya Luna di ujung pintu kamar sang anak.

“Boleh, Mama sayang. Sini.”

Perempuan itu segera masuk ke dalam kamar sang anak kemudian duduk di depan Bastian, di atas tempat tidur.

“Mama mau bicara serius sama kamu, Nak.”

“Ada apa, Ma? Ngomong aja, Bastian dengerin.”

Luna menghela napasnya dengan Panjang. Diambilnya secarik kertas yang sudah lusuh karena diremas oleh sang pemilik kertas itu. Luna memberikan kertas itu pada Bastian. “Katakan dengan jujur, Sayang. Ada apa?”

Bastian membuka kertas itu dengan perlahan. Rasa khawatir yang sudah lama sangat dia takutkan tengah terjadi padanya. Matanya membola sempurna, wajahnya memerah kemudian menelan salivanya. Jantungnya berdebar hebat. Takut akan Luna dan Edwin marah besar padanya.

“Ma … ma-maafin Bastian, Ma. Bastian janji, Bastian akan membuang perasaan ini jauh-jauh—”

“Kamu sungguh-sungguh mencintai adik kamu itu?”

Bastian menggeleng dengan cepat. “Bastian akan melupakannya, Ma. Kalau bisa, Bastian akan pindah kuliah ke luar negeri untuk melupakan Elvina, Ma. Bastian mohon, maafin Bastian.” Pria itu tengah menunduk sambil memegang erat kedua tangan sang mama.

Luna melepaskan genggaman itu kemudian memeluk Bastian dan mengusapi punggung sang anak dengan lembut.

“Mama tanya sekali lagi sama kamu, Nak. Kamu … sungguh-sungguh mencintai Elvina? Jujur sama Mama. Jangan takut, Sayang. Mama akan menjelaskan semuanya jika memang kamu sungguh-sungguh mencintai adikmu itu.”

Luna melepaskan pelukan itu. Ia mengadahkan wajah sang anak dengan tatapan sendunya. Bastian tak mampu berucap. Hanya bisa mengangguk dengan pelan kemudian menitikan air matanya.

“Sejak kapan, Nak? Sejak kapan kamu mencintai Elvina?”

Bastian mengusap wajahnya dengan kasar kemudian menghela napasnya dengan Panjang. Ia menatap dalam wajah sang mama yang sedang menunggu jawaban darinya. Pria itu mengulas senyum pasi, kecewa pada diri sendiri karena dengan beraninya menyimpan rasa pada sang adik.

“Sejak Bastian beranjak remaja. Waktu duduk di bangku SMA. Bastian sudah menyukai Elvina. Sayang Bastian ke Elvina bukan lagi tentang rasa sayang kakak pada adiknya. Melainkan sayang pada seorang wanita.

"Sampai sekarang, sampai akhirnya Bastian selalu geram sendiri kalau ada cowok yang dekat sama Elvina. Bastian cemburu. Bastian cemburu kalau El dekat dengan cowok lain.

"Itulah kenapa Bastian selalu mencari cara agar El gagal menjalin hubungan dengan semua cowok yang dekat dengannya. Sekali lagi, Bastian minta maaf. Bastian nggak tahu kenapa rasa itu tiba-tiba muncul. Dan … ya. Bastian sangat mencintainya.”

Luna mengulas senyumnya. Ia sangat menghargai kejujuran sang anak tentang perasaanya. Mau tak mau, Luna harus memberi tahu pada Bastian siapa Elvina sebenarnya.

“Elvina … kamu berhak mencintainya, Sayang. Elvina, bukan anak kandung Mama.”

Bab 3

Luna mengulas senyumnya. Ia sangat menghargai kejujuran sang anak tentang perasaanya. Mau tak mau, Luna harus memberi tahu pada Bastian siapa Elvina sebenarnya.

“Elvina … kamu berhak mencintainya, Sayang. Elvina bukan anak kandung Mama.”

Sontak Bastian membolakan kedua matanya dengan sempurna. “Ma-maksud Mama?”

Luna tampak mengembuskan napasnya dengan kasar. “Elvina. Saat usianya baru delapan bulan, dia harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan beruntun waktu itu. Miranda meninggal tepat saat Mama dan Papa menjenguk mereka. Orang tua Elvina hanya punya Mama di sini. Ibunya orang Makassar, dan ayahnya orang Padang.

“Ibunya El sahabat Mama waktu dia kuliah di sini. Di kampus kalian. Mereka ingin berkunjung ke sini setelah sekian lama nggak tengok Mama. Aris dan Miranda pergi ke suatu tempat tanpa membawa Elvina karena waktu itu dia udah tidur ditemenin kamu. Mereka mengalami kecelakaan ketika kembali ke rumah ini.

“Saat itu, Aris sudah meninggal di tempat. Sementara Miranda masih sadarkan diri namun sudah tak berdaya. Dia menitipkan Elvina pada Mama dan Papa. Jadikan dia anak Mama. Jika berjodoh, jodohkanlah Elvina dengan kamu. Itulah kenapa Mama tidak pernah mengusik perasaan kamu pada Elvina.

“Itulah kenapa kamu memiliki rasa yang berbeda pada Elvina. Karena dari awal kami sudah sepakat ingin menjadikan kalian sepasang suami istri. Tapi, bukan saatnya Elvina tahu tentang ini. Dia belum cukup dewasa untuk paham akan situasi ini. Cukup kamu saja yang tahu, dan tetaplah mencintai Elvina dengan tulus dan sayangi dia sebagai adik dan juga wanita.”

Penuturan Panjang lebar Luna lantas membuat Bastian tercengang. Elvina bukan adik kandungnya. Melainkan anak dari sahabat mamanya. Orang yang selama ini ia lindungi dan cintai adalah orang lain, bukan sedarah.

Bastian merasa keberuntungan tengah berpihak padanya. Senyumnya terbit seketika. Bahagia yang membuncah karena tahu jika dia bisa mencintai Elvina dengan sepenuh hatinya.

“Entahlah, Ma. Apakah Bastian harus senang atau sedih mendengarnya.” Bastian tampak mengusap air mata yang hampir menetes di pipinya.

Luna mengusapi punggung anaknya itu. “Tapi, itulah kenyataannya. Elvina bukan adik kandung kamu. Dan kamu berhak mencintainya. Jika Tuhan menjodohkanmu dengan Elvina, Mama sangat senang karena bisa mewujudkan harapan Miranda untuk terakhir kalinya.

"Tapi, jika Elvina ternyata bukan jodohmu, jangan kecewa. Karena semuanya sudah ketentuan Tuhan.”

Bastian mengangguk paham. “Mendengar bahwa Elvina bukan adik kandung Bastian aja ada rasa bahagia dan tenang, Ma. Apa kabarnya jika ternyata Elvina adalah jodoh Bastian. Bastian tidak akan pernah buat dia kecewa sampai kapan pun, Ma.”

“Iya, Nak. Setelah Elvina sudah cukup dewasa dan paham akan situasinya, Mama dan Papa akan menjelaskan secara detail dan akan membawanya ke makam orang tuanya. Mama dan Papa menguburkan mereka di sini. Karena mereka juga menikah tanpa ada restu dari orang tua mereka. Miranda yang ayahnya sudah meninggal itu lantas menikah dengan wali hakim.”

"Kenapa nggak direstui, Ma?”

“Karena adat, Sayang. Masih dipakai pada jaman dulu.”

Bastian tersenyum miring setelahnya. “Mirip novel si Zainudin dan Hayati, yaa.”

Luna terkekeh pelan. “Yaa … seperti itulah. Tapi, Mama tidak akan mengganggu hubungan kamu dengan Elvina. Terserah kamu kalau kamu masih mau adu bakat sama cowok yang mau deketin Elvina. Sampai nanti saatnya Elvina harus tahu semuanya, kamu harus siap dengan konsekuensinya.

"Jangan terburu-buru. Beri waktu untuk El mencerna semuanya.”

Bastian mengangguk antusias. “Bastian akan menunggu sampai waktu itu tiba, Ma.”

Luna mengusapi wajah anak semata wayangnya itu. “Bahagialah dengan pilihan hatimu, Nak. Mama aja gak nyangka kalau kamu bisa mencintai adikmu itu. Kalau saja ternyata El adalah adik kandungmu, sudah Mama tendang kamu dari rumah ini.”

Bastian kembali terkekeh mendengarnya. “Perasaan tidak akan pernah salah dalam menempatkan posisinya, Ma. Kenapa Bastian diberi rasa lebih pada Elvina, mungkin akan ada sesuatu terjadi di masa depan.”

“Iyaa. Ya udah, Mama keluar lagi. Mau tengok anak sekaligus calon mantu Mama.”

Bastian hanya mengulas senyumnya. Pipinya memerah karena mendapat lampu hijau dari sang mama. Siapa yang tidak bahagia setelah tahu orang yang kita cinta adalah bukan siapa-siapa kita.

Itulah yang tengah Bastian rasakan. Doanya ia ralat. Ingin diberikan terus rasa cinta itu agar sampai di mana mereka bisa Bersatu untuk selamanya.

Malam hari tiba. Waktu sudah menunjuk angka tujuh. Waktunya makan malam. Kamar Bastian dan Elvina berdampingan. Dua orang itu keluar secara bersamaan. Jantung Bastian seketika berdegup hebat saat melihat Elvina keluar dengan gayanya setiap hari. Rambut diurai dengan bondu motif hewan menempel di kepalanya.

“Halo Kakak ganteng. Sini, tangannya aku gandeng. Biar nggak jingkrak-jingkrakan lagi,” ujar Elvina kemudian menggandeng tangan Bastian.

Perempuan itu tampak biasa saja karena memang dia hanya tahu jika Bastian adalah kakak kandungnya. Sorot mata Bastian menandakan jika dia sangat mencintai wanita itu.

Pandangannya mantap menatap wajah manis Elvina. Hingga akhirnya mereka sampai di meja makan, Elvina melepaskan gandengan itu kemudian duduk di sana.

“Oh ya, Ma. Tadi El lihat di TV ada berita. Kisah cinta unik gitu, Ma.”

“Kisah cinta unik kayak gimana, Sayang?”

“Eeeumm. Jadi dia tuh pacaran sama cowok, terus dikenalin ke orang tuanya. Eeeh ternyata si cowoknya anak kandung ayahnya. Anak hasil dari selingkuhan ayahnya. Hahaha … lucu ya, Ma. Ada-ada aja orang-orang di luaran sana.”

Edwin pun tertawa mendengar cerita Elvina. “Ada yang lebih unik lagi dari itu, El.”

“Apa tuh, Pa?”

“Ada cowok. Dia suka sama adiknya sendiri, hahahaha.”

Bastian lantas menoleh cepat ke arah papanya. Beruntung dia tidak sedang menyuap nasi ataupun minum. Kalau tidak, dia akan tersedak lagi dan mengakibatkan kecurigaan.

“Waaah … ada yang kayak gitu juga, yaaa. Papa lihat di TV juga?”

Edwin menggeleng kemudian menyantap nasi dan lauk yang sudah Luna siapkan untuknya. “Bukan. Tapi, ada. Dikasih tahu juga kamu nggak akan percaya dan gak akan kenal.”

“Percaya kok. Soalnya ada yang kayak gitu. Kak Bastian nih contohnya.”

Semua orang yang ada di sana lantas tercengang mendengar ucapan Elvina. Sementara perempuan itu melemparkan cengiran pada keluarganya itu.

“Just kidding Mama, Papa, Kak Bastian. Gitu aja pada kaget. Kayak yang iya aja. Udah pasti Kak Bastian sayang sama El, orang adeknya super imut kayak gini.”

Bastian lantas menarik hidung adiknya itu. “Gak usah geer, Elvina. Kamu emang imut, tapi nyebelin. Suka minta jajan dan malu-maluin teriak panggil Kakak kalau lagi main basket.”

“Nyebelin-nyebelin gini banyak yang suka tahuuu. Emangnya Kakak. Jatuh cinta sama orang yang gak pernah balas cintanya. Ungkapin dong, Kak! Jangan diem aja. Mau … nanti ceweknya dicomot orang? Entar nangis tujuh hari tujuh malam lagi. Gak bisa antar jemput aku lagi.”

Bastian hanya mengulas senyumnya. Orang tuanya tahu siapa yang disebutkan Elvina itu. Orang itu adalah dia sendiri. Yang bilang pada Bastian agar mengungkapkannya.

Edwin lantas mengusap lengan sang istri kemudian mengulas senyumnya dan mengangguk kecil. Agar tetap diam dan sabar menunggu sampai waktunya tiba.

“Kakak jawab iihh!!” omel Elvina kemudian.

“Jawab apa sih, Dek?” tanya Bastian dengan suara lembutnya.

“Kapan ungkapin ke cewek yang Kakak suka itu.”

Bastian menggaruk hidungnya. “Kapan-kapan, yaa. Gak bisa sekarang, mau fokus kuliah dulu. Ceweknya juga sampai sekarang masih sendiri. Semoga sampai waktunya tiba, dia masih sendiri.”

“Oooh. Mau fokus kuliah dulu. Ya udah deh. Aku tunggu sampai Kakak lulus. Eeeh … fokus kuliah? Sampai S-3 dong?” tanya Elvina kembali dengan mata membola sempurna.

Bastian terkekeh melihat ekspresi lucu Elvina. “Iyaaa. Kenapa?”

Elvina menggeleng. “Aku mau punya pacar kalau Kakak udah nyatain cinta sama cewek itu. Kalau ada yang suka sama aku, jangan lupa ajak duel lagi, yaa!” kata Elvina sambil menaik turunkan alisnya.

Bastian tersenyum sendu. Bagaimana bisa Elvina berpikir ke arah sana. Seolah memberi ruang untuknya agar bisa memiilikinya tanpa ada orang yang bisa mengusiknya. 'Bukan hanya fokus kuliah. Tapi, fokus mencintai kamu juga, El.'

“El, kenapa mau nunggu Kakak punya pacar dulu baru setelah itu El punya pacar?” tanya Luna ingin tahu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED