"Hem, maksud istri saya, bukan orang lain lagi. Dia adalah istrinya Daffa. Gimana, cantik kan Bu Nurma?" timpal pak Andri angkat suara.
"Is papa apa-apaan sih, ngapain pakai di bela segala gadis kampung itu," sungut Aruna dalam hati.
Aruna mengernyitkan alis sambil mengerucutkan bibirnya dan melihat dengan tatapan begitu tajam ke arah suaminya.
"Gimana, ma, cantik kan menantu kita?" tanya Andri, membuat Aruna jadi gelagapan.
"I-iya Bu Nurma. Ini istrinya Daffa, me-nantu saya," jawab Aruna gugup.
"Oh, iya cantik kok Bu Aruna, menantunya. Wajahnya ayu dan adem melihatnya. Eh iya, ada yang bilang katanya, menantu kamu dari kampung ya?" cerocos Bu Nurma membuat Aruna terbelalak.
"Ssstt, iya, dia dari kampung. Lihat saja penampilannya sangat kampungan," desis Aruna menatap sinis pada menantunya.
Sedangkan Daffa, dia hanya terdiam mendengar istrinya di bicarakan oleh orang lain. Sebagai suami bukan malah membela sang istri, ia justru membiarkan orang-orang menghina istrinya.
"Tega kamu mas, kamu diam saja disaat aku di hina oleh ibumu di depan temannya," gumam Sabira dalam hati seraya mengepalkan tangannya.
"Ma, sudah. Ayo kita nikmati acara ini. Oh iya, selamat ya Bu Nurma sudah mendapat menantu," ucap Andri menengahi.
"Iya, sama-sama pak Andri, menantu saya itu S2 loh Bu Aruna, dia lulusan dari Amerika. Cantik kan? wajahnya kayak bule-bule gitu," imbuh Bu Nurma bangga.
"Iya, Bu Nurma," sahut Aruna tersenyum kecut pada sahabatnya itu.
"Kalau gitu, kita pamit dulu ya. Maaf kami nggak bisa lama-lama karena masih ada acara lain yang harus kita datangi," lanjut Aruna menganggukkan kepala memberi kode pada yang lain.
Andri mengernyitkan alis setelah mendengar ucapan sang istri. Baru beberapa menit yang lalu mereka sampai di tempat acara, Aruna mengajak pulang.
Daffa dan Sabira pun mengiyakan ucapan Aruna. Lalu mereka pulang ke rumah.
"Kamu lihat Daffa, teman mama dapat menantu lulusan Amerika, S2 lagi. Kamu apa! dapat istri yang cuma tamat SMA. Malu-maluin kamu," cerocos Aruna setelah tiba di rumah.
"Sudah lah ma, untuk apa di ributkan hal sepele seperti ini. Wajar saja anaknya Nurma dapat istri sarjana, anaknya juga sarjana. Terus mama mau samakan Daffa yang tamat SMA, dapat istri sarjana. Mana ada seperti itu ma. Mama ini ada-ada saja," sahut Andri dan melengos pergi.
Aruna yang tampak kesal pada suaminya pun pergi keluar rumah entah kemana.
"Kamu lihat, gara-gara kamu mama dan papa aku bertengkar," hardik Daffa pada Sabira yang berdiri di sampingnya.
"Loh, mas, kok malah nyalahin aku sih. Bukannya kamu yang meminang ku saat pertama kali bertemu. Kamu yang mengajak aku menikah," sahut Sabira heran.
Pria berstatus suami Sabira itu pergi tanpa menggubris ucapan istrinya. Daffa masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam. Hingga Sabira sulit untuk masuk ke kamar.
"Tega kamu sama aku, mas. Kamu yang datang ke rumahku dan bilang ingin meminang ku lima bulan yang lalu. Tapi kini dengan entengnya kamu menyalahkan ku. Dan membiarkan aku menghadapi semuanya sendiri," batin Sabira seraya menghapus bulir bening yang keluar dari sudut matanya.
Karena lelah di perjalanan, Sabira pun mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dalam hitungan detik rasa kantuk menyerang dan ia pun tertidur.
"Sabiraaaaaa," teriak Aruna menyembul dari balik pintu.
Suara keras memekakkan telinga membuat Sabira terjaga dari tidurnya.
"Ayo ikut mama," ajak Aruna menarik paksa tangan Sabira.
"Mau kemana ma?" tanya Sabira sambil mengucek matanya.
"Nggak usah banyak tanya. Ayo ikut mama," ucap Aruna sedikit melengking.
Sabira mengikuti Aruna dengan berjalan kaki. Tak butuh waktu lama, mereka tiba di sebuah toko kue. Awalnya Sabira mengira ibu mertuanya akan membelikannya cake kesukaannya. Namun ternyata ia salah, tujuan mereka kesana hanya untuk menyuruh Sabira bekerja di toko kue tersebut.
"Aku mohon terima lah menantuku untuk bekerja disini, daripada dia tidak ada kerjaan di rumah. Mending kerja disini, dapat gaji untuk bantu-bantu suaminya," rayu Aruna pada pemilik toko kue.
"Baiklah, buk. Saya akan terima menantu ibuk kerja disini. Kebetulan toko kami membutuhkan tenaga kerja satu orang," sahut pemilik toko.
Netra Sabira membulat sempurna saat mendengar ucapan ibu mertua yang mengatakan bahwa dirinya tidak ada kerjaan di rumah. Padahal selama Sabira di rumah, pekerjaan rumah tidak ada habisnya.
Tanpa basa-basi dan tanpa meminta persetujuan dari Sabira, Aruna menyuruh menantunya untuk bekerja dengan alasan membantu ekonomi rumah tangga.
Daffa yang bukan pegawai kantor dan bukan pemilik perusahaan ternama menjadikan alasan yang kuat untuk menyuruh Sabira bekerja.
Pria yang berusia kepala tiga itu bekerja di bengkel motor dan mobil milik orang lain. Setiap hari Daffa pergi ke bengkel hingga pulang larut malam. Dengan gaji kecil, Daffa tetap bertahan bekerja di sana meskipun harga barang-barang sembako kini meroket.
"Jadi kapan menantu saya bisa bekerja Bu?" tanya Aruna antusias.
"Besok pagi bisa langsung kerja, buk. Jam delapan pagi harus sudah sampai di sini. Saya ingin semua karyawan saya disiplin," jawab pemilik toko yang bernama Karina.
"Oh kalau itu ibuk tenang saja. Menantu saya ini orangnya tepat waktu kok," sahut Aruna tersenyum manis pada Karina.
"Kalau gitu kami permisi dulu ya, buk Karina," pamit Aruna tersenyum simpul, Karina pun mengangguk dan membalas senyuman Aruna.
Aruna dan Sabira pun pergi meninggalkan toko kue tersebut.
"Ma, kok mama menyuruh aku kerja?" tanya Sabira penasaran.
"Jadi kamu nggak mau bantu Daffa cari uang? kamu hanya ingin menghabiskan uang anak saya tanpa tau jerih payah mencarinya," cecar Aruna mengehentikan langkahnya dan menatap tajam pada Sabira.
"Bukan gitu maksud aku, ma- " ucap Sabira tercekat karena Aruna memotong ucapannya.
"Alah, jangan banyak omong kamu. Pokoknya besok pagi kamu harus bekerja di toko kue itu. Mama nggak suka penolakan," cerocos Aruna.
"Ta-tapi, Aku harus minta persetujuan mas Daffa, ma," ucap Sabira tertunduk.
"Sudah, kamu nurut aja apa kata saya. Tinggal numpang aja belagu. Sok nggak mau kerja," sungut Aruna.
"Lagipula ngapain sih pakai minta izin dari Daffa segala. Dia pasti setuju sama rencana mama. Kamu fokus saja dengan pekerjaanmu. Jangan sampai kamu mengecewakan ibuk Karina. Soal Daffa biar saya yang ngomong," lanjut Aruna.
Dengan langkah gontai, Sabira mengikuti keinginan ibu mertuanya. Baru satu minggu ia menginjakkan kaki tinggal di kota dan menumpang di rumah mertua, mungkin ada baiknya ia mengalah sementara waktu.
"Ma, mama darimana?" tanya Daffa setalah mereka tiba di rumah.
Seketika itu netra Aruna membulat sempurna saat melihat Daffa berdiri di balik pintu. Ia mengitari sekeliling mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan putranya.
Wanita paruh baya itu tidak ingin memberitahu pada Daffa apa yang terjadi. Karena ia tau, pasti suaminya akan marah jika tau hal itu.
"Hem, ma- mama dari warung bakso mang Udin. Iya kan Sabira?" tanya Aruna melirik ke arah Sabira dengan sorot mata yang tajam.
"I-iya mas," jawab Sabira.
"Oh, tumben mama makan bakso, bukannya mama nggak bisa makan daging?" Daffa mengernyitkan alis.
"Iya mama nggak bisa makan daging, tapi dagingnya mama kasih ke Sabira," jawab Aruna asal.
"Oh, enak banget sih kamu makan bakso nggak ngajak aku," sungut Daffa seraya mengerucutkan bibirnya di hadapan Sabira.
Sabira hanya tersenyum kecut, karena yang di ucapkan Aruna bukan seperti kenyataan yang sebenarnya. Dia pun melangkah masuk ke dalam kamar.
Malam hari pun telah tiba. Semua kenikmatan santapan makan malam yang di buat oleh Sabira.
"Bagaimana ma, masakan Sabira, enak nggak?" tanya Daffa, menyuapkan sesendok nasi dan lauk ke dalam mulutnya.
"Biasa aja sih," ketus Aruna sambil menikmati makanan yang di kunyah nya.
Wanita paruh baya itu memiliki gengsi yang tinggi. Untuk memuji masakan Sabira yang enak pun dia enggan.
Setelah selesai makan, gegas Sabira mencuci piring kotor bekas keluarganya makan. Tak lupa Sabira menyapu dan mengepel lantai hingga malam mulai larut.
Mengingat besok pagi Sabira mulai bekerja di toko kue tersebut. Jadi besok pagi sebelum berangkat kerja, Sabira hanya membuat sarapan saja.
***
Keesokan paginya, Sabira bangun lebih awal. Menyiapkan segala sesuatunya serta sarapan untuk satu keluarga.
"Kamu mau kemana Sabira? tumben kamu pakai baju yang rapi," tanya Daffa heran.
"Hem, a-aku mauu," ucapan Sabira tercekat.
"Alah, palingan dia mau ke pasar Daff. Ngapain sih kamu tanya segala," sahut Aruna menyembul dari balik pintu.
"I-iya mas," jawab Sabira singkat.
Daffa mengangguk tanpa berkata apapun. Pria dingin itu terkesan cuek terhadap istrinya. Namun jika Sabira bersikap cuek padanya, maka Daffa akan marah bahkan tak segan-segan memberikan cap lima jari di bagian tubuh Sabira.
"Kalau gitu, aku pergi dulu ya ma, pa. Aku takut telat masuk kerja," pamit Daffa.
"Iya nak, hati-hati ya," ucap Aruna tersenyum manis pada putranya.
Daffa dan Pak Andri berangkat kerja menggunakan kendaraan roda dua milik mereka masing.
"Eh, sudah sana pergi kerja. Jangan sampai telat," ketus Aruna menatap sinis pada menantunya.
"Ma, mama belum kasih tau mas Daffa ma tentang aku bekerja?" tanya Sabira.
"Ngapain sih itu yang kamu pikirin. Lagipula saya sudah pernah bilang, soal Daffa biar saya urus," jawab Aruna meninggikan suara.
"Tapi ma, mas Daffa itu suamiku, aku wajib memberitahu padanya kemanapun aku pergi," sahut Sabira.
"Baru juga jadi istrinya lima bulan yang lalu. Saya ini orang yang telah melahirkannya. Jelas dong dia lebih dengar ucapan saya daripada kamu," ucap Aruna pongah.
"Sudah sana pergi kerja, jangan sampai telat. Ingat! kamu harus jaga nama baik saya di toko kue itu. Jangan buat malu," lanjut Aruna meluapkan kekesalannya.
"Iya ma," ucap Sabira.
***
"Maaf bu, apa saya telat datangnya?" tanya Sabira gugup
"Hem, tidak Sabira, kamu tidak telat. Semoga kamu betah ya kerja di sini," ucap Bu Karina, pemilik toko kue.
Hari-hari telah berlalu, kini Sabira sudah satu bulan kerja di toko kue milik ibu Karina. Sabira pun sudah mulai akrab dengan pemilik toko dan karyawan lainnya.
"Sabira, nanti pulang kerja kamu jangan pulang dulu ya, ibu ingin bicara sama kamu," ucap Bu Karina, Sabira pun menganggukkan kepala.
Satu jam kemudian, tepat pukul lima sore, toko kue sudah tutup dan Sabira menemui ibu Karina.
"Bu, maaf, ibu mau bicara apa? tadi ibu menyuruh aku jangan pulang dulu," tanya Sabira setelah mengetuk pintu.
"Duduk dulu, Sabira," perintah Bu Karina.
Sabira yang menuruti perintah Bu Karina dan mendaratkan bokongnya di sofa yang sudah di sediakan.
"Ibu sempat dengar gosip orang di dekat sini, katanya kamu di rumah, hem maaf, kalau ibu lancang. Kamu menyuruh mertua kamu membersihkan rumah dan segala macamnya ya?" tanya Bu Karina.
"Hah, apa? maaf bu, aku nggak sejahat itu sama mertua ku. Justru aku yang selalu di suruh mama bersih-bersih, masak, dan semuanya," ucap Sabira jujur.
Pantas beberapa hari ini Sabira mendengar cemoohan orang-orang tentang dirinya. Awalnya dia mengira hanya sebagai gosip saja. Namun ternyata gosip itu telah sampai di telinga Bu Karina.
"Jadi, apa yang di gosipin itu nggak benar, Sabira?" tanya Bu Karina lagi.
"Iya Bu, aku merasa jadi babu di rumah mertua ku. Kalau aku melakukan kesalahan, mama selalu memarahiku," jawab Sabira dengan jujur.
"Lalu suami kamu? apa dia membela kamu?" tanya Bu Karina penasaran.
Sabira menunduk seraya menggelengkan kepala. Sang suami yang seharusnya jadi pelindung istri, justru sebaliknya. Dan tidak peduli akan hal itu. Sudah beberapa kali Sabira mengadu akan sikap ibu kandung suaminya, namun tak di gubris oleh Daffa.
Pria berstatus suami itu selalu membela sang ibu daripada istrinya sendiri. Batin Sabira menangis, rasanya Sabira tidak sanggup menjalani kehidupannya. Kehadirannya di keluarga suami sama sekali tak di hargai.
Jika ada acara kumpul keluarga, Sabira menjadi juru masak dan tukang cuci piring dengan alasan Sabira hidup menumpang di rumah itu.
"Sabira, maaf kalau ibu lancang terhadap rumah tangga kamu. Kita sebagai perempuan jangan mau di rendahkan meskipun dari keluarga suami kamu sendiri. Kamu punya harga diri Sabira, kamu harus bisa menuntut hak kamu sebagai bagian dari keluarga itu. Jika kamu nggak sanggup tinggal bersama mereka, kamu ajak suami kamu pindah dari rumah itu. Tinggal di kontrakan sendiri lebih nyaman daripada tinggal dengan orang yang tidak menghargai kamu," ucap Bu Karina panjang kali lebar.
"Aku sudah meminta mas Daffa untuk pindah, tapi mas Daffa nggak mau, Bu. Katanya kalau ngontrak boros uangnya," sahut Sabira, menghapus bulir bening yang membasahi pipinya.
Sakit hati atas sikap ibu mertua dan keluarga suami yang lain cukup membuat pikirannya menjadi kacau. Batinnya tersiksa, bahkan suaminya sendiri mengganggap dirinya sebagai pembantu di rumah itu.
"Kalau begitu, kamu harus lebih tegas lagi Sabira terhadap suami kamu. Ingat! kamu harus tetap waras untuk menjalani rumah tanggamu. Tidak baik jika rumah tangga jika orang tua ikut campur. Karena itu akan memecah belah hubungan kami dan suami kamu," usul Bu Karina.
"Baik, Bu, saya coba untuk lebih tegas lagi sama mas Daffa. Do'akan saya, Bu, semoga mas Daffa mau mengerti apa yang aku rasakan," sahut Sabira.
Wanita dua puluh lima tahun itu pamit pada Bu Karina dan pulang ke rumah.
"Darimana saja kamu, Sabira?" seru Daffa sedikit meninggikan suara.
Sabira terperanjat, karena ia tak menyangka bahwa Daffa lebih dulu pulang ke rumah.
"Hem, a-aku dariii," ucap Sabira terbata-bata.
"Kamu ini, suami pulang kerja bukannya di sambut malah keluyuran nggak jelas," celetuk Daffa.
"Keluyuran, mas? aku ini- "
"Sudah, jangan banyak alasan kamu. Ibu sudah bilang ke aku kalau kamu tiap hari keluyuran entah kemana," cecar Daffa.
"Awas aja, kalau besok aku pulang kamu nggak ada di rumah, aku nggak akan segan-segan menghukum kamu Sabira," lanjut Daffa menatap tajam pada sang istri.
Netra Sabira membulat sempurna mendengar ucapan suaminya. Ingin rasanya dia mengatakan semua sikap buruk wanita yang telah melahirkan suaminya itu.
Uang hasil keringat Sabira untuk memenuhi keperluan dapur. Sedangkan uang hasil kerja Daffa di pegang oleh Aruna. Dan tidak di berikan pada Sabira. Uang itu di habiskan oleh ibu mertua dan kedua iparnya.