"Mbak Jihan?" Sapa Bu Susi ramah.
"Iya Bu ini saya... Saya mohon jangan bilang pada siapapun kalau saya datang kesini ya bu!" pinta Jihan.
"Oh iya mbak, beres," jawab Susi ramah.
"Tadi, berapa hutang Mas Randi bu? Biar saya yang membayarnya," tanya Jihan menjelaskan.
"Oh iya, tadi hanya 35 ribu saja yang belum di bayarkan mbak," jawab Susi ramah.
"Baiklah... Ini Bu, saya kasih 200 ribu ke Bu Susi, nanti kalau suami saya kesini mau ngutang lagi, kasih saja ya Bu! Bu Susi kasih Bonnya ke saya, biar saya yang bayar," pinta Jihan, seraya menyerahkan 2 lembar uang 100 ribuan pada Bu Susi.
Setelah menyerahkan uangnya, Jihan pamit pergi dari warung. Karena khawatir akan ada yang melihatnya dan melaporkan pada kedua orang tuanya.
Yang dari pertama memang sudah tidak menyukai Randi, karena tak punya pekerjaan sama sekali. Mereka bahkan sering mengatakan bahwa Randi hanya modal tampang saja.
---
Sampai di rumah, Randi langsung menyiapkan segalanya.
Bahkan menyiapkan Mie untuk Johan, setelah Johan memintanya tanpa ada rasah bersalah sedikitpun.
Jihan sendiri sudah masuk ke dalam kamar, karena tidak ingin suaminya curiga.
Selesai menyiapkan segalanya, Randi menyerahkan kopi kepada mertuanya dan Mie kepada Johan.
"Nah bagus seperti ini, jadi ingatlah bahwa saat ini kamu numpang di sini," ucap Zaskia tanpa ragu, bahkan saat Randi menyerahkan kopi permintaannya.
'Astakhfirullah... Jadi saya hanya di anggap numpang selama ini, Jika bukan karena demi Jihan, aku juga tidak mau tinggal disini," batin Randi seraya menghela nafas panjang, sebelum mengeluarkanya perlahan.
Randi selalu berusaha ramah walaupun hatinya terasa pahit.
"Iya Bu, kalau gitu saya permisi dulu," jawab Randi sebelum berbalik, siap untuk memberikan Mie kepada Johan.
"Randi sebentar!" panggil Zaskia lagi dengan nada tinggi.
Randi pun menghentikan langkahnya sebelum berbalik kembali menatap Zaskia.
"Iya Bu, apakah masih ada yang lain?" tanya Randi dengan wajah datar, karena dia memang sudah terlalu lelah.
Seharian ini menemani istrinya manggung, dan sekarang di suruh melayani keluarga istrinya. Sungguh Randi sudah sangat kelelahan.
"Nanti setelah si Johan dan aku telah selesai, sekalian kamu cuci gelas dan piringnya. Ingat! Juga bersihkan pecahan gelas yang ada di dapur tadi. Kamu juga harus mengganti gelas yang pecah, karena gara-gara kamu tidak peka tentang urusan seperti ini, aku jadi membanting gelas," ucap Zaskia tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Tapi bukankah hal seperti itu tugas seorang wanita ya Bu? Lagian..."
"Sudah jangan bantah! Atau kamu ingin berpisah dari Jihan?" potong Zaskia dengan suara lantangnya sebelum Randi selesai bicara.
Mendengar ucapan pantang dari Zaskia, Randi hanya bisa menghela nafas untuk menenangkan diri.
Setelah itu, baru menjawab, "Ya baik Bu,"
Randi hanya bisa menjawab dengan "iya" karena hanya itu yang bisa mwmbuat mertuanya diam.
"Sabar....' batin Randi, sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Zaskia.
'Salah siapa, nikahin putri kesayangan kami, saat kamu tidak ada kerjaan. Aku benar-benar sangat menyesal, telah merestui pernikahan kalian!' batin Zaskia sembari tersenyum sinis.
---
"Ini Johan, mie nya!" ucap Randy, seraya menyerahkan sepiring Mie goreng pada Johan.
"Nah gitu dong Mas, jadi kan Mas sedikit berguna di rumah ini, tidak hanya numpang makan dan tidur saja," balas Johan dengan senyum sinisnya.
"Astakhfirullahallazim....." hanya itu yang keluar dari mulut Randi, karena dieinya tidak mau ribut.
"Gak usah nyebut deh mas, kayak orang paling suci saja!" sahut Johan menegur Randi.
"Baiklah Joh, kalau begitu aku permisi ke kamar dulu, mau istirahat," ucap Randi dengan wajah datarnya, sebelum berbalik dan kembali ke kamarnya.
Ceklek....
Randi masuk ke kamarnya, dan melihat bahwa istrinya sudah tertidur.
Randi pun hanya bisa menghela nafas sebelum duduk di sisi ranjang.
"Kenapa cobaan selalu datang padaku Tuhan? Apa sebenarnya kesalahan dan dosaku ini," gumam Randi pelan, karena takut istrinya akan terbangun.
Tanpa disadari Randi, ternyata Jihan belum sepenuhnya tertidur. Dan pada akhirnya, Jihan bisa mendengar dengan jelas gumaman suaminya tersebut.
Jihan benar-benar sangat kasihan pada suaminya. Yang bahkan rela melakukan segala hal, demi mempertahankan pernikahannya.
Terus terang, Jihan merasa sangat malu dengan keluarganya yang sudah sangat kelewatan.
'Maafin aku Mas... Aku janji, suatu saat nanti akan bawa kamu keluar dari rumah ini," batin Jihan penuh tekad.
Jihan mencoba untuk tidak mengeluarkan suaranya. Walaupun sebenarnya Jihan ingin menangis dengan keras.
"Kamu semakin cantik sayang..." ucap Randi sebelum mencium kening istrinya.
Setelah itu, Randi pun berbaring di sebelah Jihan, dan memeluk Jihan dari belakang.
Jihan sendiri langsung berbalik dan membalas pelukan Randi, begitu merasakan bahwa suami tercinta telah memeluknya.
Randi adalah seorang pria yang memiliki tampang sempurna dan tidak banyak dimiliki pria lain.
Itulah alasan Jihan begitu tertarik sebelum akhirnya jatuh cinta padanya.
Tak lama setelah keduanya saling berpelukan, Jihan bisa mendengar dengkuran halus Randi.
Karena Jihan merasa Randi sudah terlelap, dia membuka matanya perlahan untuk menatap wajah tampan suaminya.
Randi adalah lelaki dengan tampang sempurna, kulit putih, badan tegak dan tinggi 180 cm, memiliki tubuh atletis karena sering olahraga, hidung mancung dan bibirnya berwarna merah muda, sangat sempurna untuk semua gadis mendambanya.
Jihan merasa sangat bersyukur karena Randi mau menerimanya.
Dahulu Jihan merasa kurang yakin bahwa Randi yang memiliki tampang sempurna ini mau menjadi pacarnya, apalagi sampai menjadi suaminya.
Jihan sebenarnya bersedia melakukan apapun untuk suaminya. Bahkan siap membiayai hidup suami tercintanya bila nanti Randi tetap tidak memiliki pekerjaan.
Karena sebelum pandemi, dirinya sudah kebanjiran Job manggung kesana-kemari.
Jihan sudah benar-benar bersiap dan memikirkan jalan kedepanya harus bagaimana.
Namun sayang sekali, Tuhan berkehendak lain.
Tiba-tiba datang Virus Covid-19, yang membuat pemerintah melarang semua yang berkaitan dengan kerumunan.
Ini yang membuat cita-citanya untuk membeli rumah setelah menikah, menjadi kacau. Pada akhirnya Jihan menggunakan uang yang di simpannya untuk biaya hidup sehari-hari. Karena Jihan tidak tahu sampai kapan pandemi akan melanda.
Bahkan banyak teman artisnya yang lain juga beralih profesi untuk mendapatkan uang.
Jihan masih beruntung, karena dia punya sedikit tabungan. Jadi bisa di gunakan untuk kebutuhan sehari-harinya bersama suami.
"Mas, kamu pasti capek kan? Biar nanti Jihan yang beresin semuanya untuk kamu," ucap Jihan pelan, karena takut membangunkan suaminya.
Jihan perlahan membuka dan melepaskan tangan kekar Randi yang memeluknya sebelum beranjak dari tempat tidur.
Ceklek....
Pintu di buka dengan perlahan, sebelum Jihan benar-benar keluar dari kamarnya.
Wanita yang memiliki tubuh indah, kulit mulus dan wajah menawan itu. Langsung pergi kedapur untuk membersihkan pecahan gelas.
Terlihat di wastafle juga sudah ada piring bekas mie dan gelas bekas kopi yang sepertinya masih baru.
Jihan tidak banyak bicara dan hanya membersihkan semua dengan cepat, agar tidak ada orang yang tahu.
Setelah semua beres, Jihan kembali masuk kamarnya untuk istirahat dengan memeluk suaminya.
***
Randi membuka matanya pelan saat mendengar adzan subuh.
"Ayo sayang, sholat dulu sudah pagi!" bisik Randi, tepat di sebelah telinga Jihan. Sebelum menciumi pipinya agar terbangun.
Jihan pun sontak membuka matanya perlahan saat merasakan kehangatan bibir Randi di pipinya.
"Iya Mas, Jihan bangun," jawab Jihan dengan ramah.
"Kita jama'ah di rumah saja ya mas!" tambah Jihan sembari, tanganya mengelus pipi Randi.
"Iya sayang," jawab Randi sembari tersenyum.
Jihan langsung saja mencium bibir suaminya yang manis, karena memang sudah sangat tidak tahan.
Namun tidak di balas oleh Randi, melainkan langsung di lepaskan oleh Randi.
Randi melakukan itu, karena ingin segera wudhu dan sholat.
"Nanti saja ya sayang mesra-mesraannya, sekarang kita shalat dulu," ucap Randi lembut sembari jari telunjuknya menyentuh bibir Jihan.
"Iya deh," jawab Jihan pasrah.
Saat seperti ini, keduanya benar-benar lupa, akan hal menyakitkan yang sering menimpa Randi.
Namun momen indah ini tak bertahan lama, ketika tiba-tiba terdengar teriakan.
"Randi!!!"
"Randi!!!"
"Randi!!!"
Suara Zaskia benar-benar sangat keras saat memanggil Randi.
"Ada apa lagi sih ibu ini! Pagi-pagi begini, sudah teriak-teriak gitu," gumam Jihan tak senang.
Karena Ibunya telah mengganggu keromantisannya dengan Randi.
"Sudah-sudah, biar Mas keluar dulu, sekarang kamu bersiap untuk shalat dulu! Nanti Mas nyusul," ucap Randi lembut. Dan itu cukup membuat Jihan merasa sangat tersentuh.
Setelah itu, Randi segera turun dari ranjang dan keluar kamar untuk menemui mertuanya.
"Mas, kamu sangat baik, semoga pandemi cepat berakhir dan kita bisa mencari tempat tinggal untuk berdua. Agar tidak ada lagi gangguan saat kita sedang memadu kasih," do'a Jihan saat matanya juga berkaca-kaca.
"Amin,." sahut Randi. Yang ternyata masih memegang selot pintu kamar.
Maka dari itu Randi jelas bisa mendengar do'a istrinya.
Jihan yang mendengar suara Randi hanya tersenyum seraya meneteskan air mata.
"Kamu memang lelaki sempurna Mas, hanya mungkin orang tuaku belum menyadari hal itu," gumam Jihan pelan seraya meneteskan air mata.
---
"Ada apa Bu?" tanya Randi langsung, setelah bertemu dengan ibu mertuanya.
"Kamu belum ada pekerjaan kan? Sekarang kamu cuci semua pakaian ini! Kamu seorang laki-laki bukan? Seharusnya ini adalah pekerjaan yang mudah untuk seorang laki-laki," jelas Zaskia bernada dingin. Saat dirinya mengacung pada 3 ember pakaian kotor.
"Bukankah seharusnya ini menjadi tugas wanita bu?" tanya Randi mencoba bernegosiasi dengan tetap tenang.
Semakin hari Ibu mertuanya semakin kelewatan. Dengan meminta hal-hal aneh yang seharusnya di kerjakan oleh seorang wanita, akan di lemparkan pada menantunya.
"Kamu tinggal kerjakan saja apa susahnya, jangan banyak ngeluh, ini adalah rumahku, jadi aku yang menentukan aturan di rumah ini," jawab Zaskia dengan meninggikan suaranya.
"Ada apa ini berisik sekali!" tiba-tiba tersengar suara yang sangat familiar menyahut.
Suara itu datang dari belakang keduanya. Hal itu membuat Randi dan Zaskia menoleh kebelakang.
"Eh bapak," sapa Zaskia ramah.
"Ini Randi pak, dia tidak mau mengerjakan tugas yang aku berikan untuknya," tambah Zaskia menjelaskan.
"Apa?" seru Shaleh dengan mengangkat kedua alisnya, sebelum dirinya menatap Randi, dan menambahkan, "Hey Randi, kamu itu disini hanya numpang, jadi cepat kerjakan perintah istriku!"
Randi hanya bisa menghela nafas panjang untuk menenangkan diri. Karena hanya itu yang bisa di lakukannya saat ini.
Setelah itu Randi menjawab, "Baiklah Pak, akan saya kerjakan,"
Randi benar-benar menurut, dirinya membawa pakaian yang kotor itu ke kamar mandi umum di depan rumah mertuanya.
"Ha ha ha kamu paling bisa ya nyiksa orang," ucap Shaleh pada istrinya saat tertawa.
"Ya salah dia sendiri, tak punya kerjaan kok berani-beraninya nikahin putri kita. Seharusnya dia bersyukur karena kita juga bersedia menampungnya," jawab Zaskia mencemooh.
---
Randi sendiri, saat ini sedang mencuci pakaian kotor itu di kamar mandi, depan rumah.
"Halo mas Randi, selamat pagi mas?" sapa seorang gadis remaja bernama Elisa.
"Eh Elisa, ya selamat pagi... Kok nyuci baju sendiri? Memangnya kamu tidak sekolah ya?" jawab Randi sebelum bertanya balik, dengan senyuman.
"Kan hari ini tanggal merah Mas, Mas Randi kok nyuci sendiri, emang dimana Kak Jihan?" jawab Elisa sebelum kembali bertanya dengan ramah.
"Oh dia masih tidur, mungkin kelelahan," jawab Randi asal.
"Oh, seperti itu.... enak ya Mas jadi Kak Jihan, sudah punya suami ganteng, bahkan suaminya juga rela mengerjakan tugas-tugas yang seharusnya di kerjakan oleh seorang wanita," ucap Elisa seraya menatap Randi, dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kamu terlalu memujiku El," balas Randi ramah, sebelum mengucek kembali pakaian yang dia cuci.
'Kamu memang pria paling sempurna Mas Randi,' batin Elisa sembari tersenyum sendiri.
"Permisi Mas Randi, bolehkah kita nyucinya barengan?" tanya Elisa meminta persetujuan.
"Iya silahkan El," jawab Randi mengangguk. Sebelum dirinya bergeser ke samping untuk memberikan ruang bagi Elisa.
"He he terimakasih Mas Randi," ucap Elisa.
Sebelum dirinya mengangkat seember pakainya dan meletakan di sebelah Randi.
Keduanya mencuci pakaian dengan begitu santai, sampai matahari mulai terlihat dari ufuk timur.
"Aku duluan ya El," ucap Randi berpamitan, saat dirinya mengangkat pakaian basah yang baru ia cuci.
"Iya Mas," jawab Elisa dengan anggukan.
Tanpa di sadari, ada mata yang menatap keduanya dengan tajam.
"Kurang ajar kamu Randi! Berani sekali kamu deketin Elisa," gumam Johan tak terima. Saat dirinya juga menatap Randi dengan tajam.
Randi sendiri, langsung menjemur pakaian di tempat jemuran. Sebelum akhirnya, masuk kembali ke rumah dan bertemu dengan Jihan.
"Mas, kamu dari mana? Kok bawa ember segala," tanya Jihan yang penasaran.
"Ini dari kamar mandi depan rumah, tadi habis nyuci pakaian," jawab Randi santai.
"Apa? Kamu nyuci pakaian? Pasti Ibu yang nyuruh kamu, ya kan Mas?" seru Jihan dengan nada tak percaya.
Bukan niat Jihan membentak Randi, hanya saja Jihan tidak menyangka jika ibunya akan semakin kelewatan.
Jihan benar-benar merasa tidak enak dengan Randi yang di perlakukan layaknya seorang babu.
Dulu saja Jihan yang mengejar cinta Randi, tapi sekarang suaminya itu di perlakukan seperti ini oleh keluarganya.
Jihan benar-benar tak habis pikir dengan keluarganya sendiri.
"Sudahlah Han, tidak apa..." jelas Randi menenangkan
"Oh iya maaf, Mas jadi gak bisa shalat bareng kamu," tambah Randi menjelaskan.
Itu setelah Randi ingat bahwa dirinya belum shalat subuh. Padahal tadi sudah janji mau shalat subuh berjamaah dengan istrinya.
"Iya Mas, tidak masalah kok... Sebelumnya maafin Ibuku ya Mas," ucap Jihan bernada tak enak.
"Iya... Sudah Mas maafin kok Han, oh iya mau sarapan apa kamu?" jawab Randi sebelum bertanya.
"Aku ngikut aja, Mas maunya apa,?" jawab Jihan, sebelum bertanya kembali.
"Kok malah balik nanya, gimana sih kamu, kalau Mas ya terserah Jihan saja..." jawab Randi menjelaskan saat tersenyum.
"Hehe iya Mas, maaf... Gimana kalau kita masak sayur asem saja Mas?" ucap Jihan menawarkan.
"Iya, itu terserah Jihan saja, Mas ikut, karena apapun yang Jihan masak pasti enak," jawab Randi setuju.
"Yasudah, Mas bawa ember ke kamar mandi dulu ya Han?" tambah Randi menjelaskan.
"Iya Mas," jawab Jihan dengan anggukan.
Setelah itu, Randi pun berlalu pergi ke kamar mandi.
"Kak Jihan, aku mau bicara..." suara Johan tiba-tiba datang.
Saat Jihan hendak pergi berbelanja. Dan pada akhirnya, Jihan pun menghentikan langkahnya sebelum berbalik.
"Ada apa Johan,.??" tanya Jihan santai.
"Kak Jihan tolong ya jagain suaminya, jangan deket-deket sama Elisa, dia itu gebetan aku!" jelas Johan dengan meninggikan suara, seolah tidak peduli dengan saudara kembarnya.
"Apa? apa maksutmu bicara seperti itu Johan?" tanya Jihan yang kurang mengerti.
"Ya pokoknya, saya peringatin kak Jihan juga, jangan terlalu percaya pada suami yang sok polos seperti Mas Randi. Tadi aku lihat, Mas Randi cari-cari kesempatan untuk deketin Elisa, sewaktu mereka mencuci pakaian di depan!" jawab Johan menggerutu.
"Ah itu tidak mungkin, Mas Randi tidak akan berbuat seperti itu, aku sangat kenal dengan Mas Randi, dan aku sangat percaya bahwa suamiku tidak akan berbuat seperti itu," jelas Jihan mencoba tetap tenang.
Walaupun dadanya sedikit sesak setelah mendengar yang di katakan Jihan barusan.
"Itu terserah Kak Jihan saja, aku hanya memperingatkan. Supaya kedepannya, kak Jihan lebih berhati-hati. Jangan mudah percaya pada seseorang, walaupun itu suami sendiri," ucap Johan dengan wajah datarnya, "Aku tidak akan pernah biarkan Elisa jatuh ke tangan Mas Randi, apapun yang terjadi," tambah Johan menegaskan, sebelum berbalik dan pergi begitu saja.
Jihan merasa dadanya sesak setelah mendengar cerita dari Johan. Dia selalu percaya kepada suaminya, bahkan sampai sekarangpun masih begitu.
Tapi tetap saja tidak bisa dipungkiri, jika saat ini dirinya sedikit curiga dengan hal itu.
Apalagi Johan juga berkata dengan sangat yakin.
'Apakah kamu mulai bosan dengan keluargaku Mas,' batin Jihan merasa khawatir.
Tentu saja Jihan Khawatir, karena jelas Elisa masih gadis SMA yang memiliki kulit putih mulus, tubuh sexi, jika senyum terlihat lesung pipinya sangat manis.
Bahkan sudah banyak sekali lelaki tergoda denganya, ini termasuk si Johan.
Jihan tidak bisa tidak merasa khawatir, setelah memikirkan masalah ini.
Apalagi, selama ini Jihan melihat sendiri jika Randi selalu di perlakukan tidak adil oleh keluarganya.
Jihan yang hendak pergi ke warung untuk berbelanja. Akhirnya mengurungkan niatnya dan kembali ke kamar dengan wajah di tekuk.
Di dalam kamar, Jihan termenung dan melamun. Membayangkan seandainya dia sampai di tinggalkan Randi. Pria yang sangat di cintainya itu.
Ceklek...
Suara pintu di buka membuyarkan lamunan Jihan yang sedang berpikir kemana-mana.
Randi masuk perlahan, dan tersenyum saat melihat istrinya. Sebelum kemudian Randi ikut duduk di sebelah Jihan.
"Mas...." ucap Jihan sedikit ragu.
"Iya sayang, ada apa?" tanya Randi bernada lembut, karena merasa ada yang aneh pada istrinya.
"Ah tidak apa Mas," jawab Jihan dengan senyuman yang di paksa.
Randi seperti tidak dapat menyadari kegelisahan Jihan saat ini, pada akhirnya Randi hanya bisa tersenyum padanya.
"Baiklah sayang, jika tidak ada yang lain, aku mandi dulu ya?" ucap Randi berpamitan.
"Iya Mas..." jawab Jihan mengangguk.
Setelah itu, Randi masuk kekamar mandi di dalam kamarnya untuk mandi dan membersihkan diri.
Setelah Randi benar-benar masuk kekamar mandi, Jihan mulai berpikir dalam hati, 'Tidak mungkin kan Mas Randi kegaet wanita lain, seraya dia tidak berubah sama sekali padaku. Atau mungkin tadi itu hanya karena Johan saja yang terlalu cemburu. Melihat Mas Randi nyuci di kamar mandi umum bersama dengan Elisa. Ya benar, Elisa dan Mas Randi pasti disana karena hanya nyuci barengan saja, tidak lebih,'
'Tapi Mas Randi kan bisa nyuci pakaian di kamar mandi sebelah dapur, kenapa juga Mas Randi harus nyuci di kamar mandi umum, ahhhhh' tambah Jihan menerka-nerka.
"Ah, jangan sampai Mas Randi di gaet wanita lain," gumam Jihan bertekad, karena masih merasa khawatir dan takut. Jika sampai Randi di gaet wanita lain.