Bab 2.
Sampai di lantai tiga, aku celingukan mencari ruang Boss. Ada satu ruangan di depan pintunya bertuliskan "Direktur Marketing dan Operasional." Mungkin ini ruangan yang di maksud Miss Caterine tadi. Dengan membaca doa dalam hati, perlahan ku ketuk pintunya.
Tok ... tokk ... tokk ...
"Masukk!" sahut suara dari dalam.
Kreekk ...
Pintu ku buka. Seorang lelaki berkacamata minus, sedang duduk di belakang meja. Ia menatap serius ke layar komputer, tanpa perdulikan kehadiranku.
"Maaf, Pak, saya ingin mengantarkan hasil rekapan data untuk di tanda tangani," ucapku.
"Iya, sudah tau! Letak di meja dan tunggu di kursi itu!" sahutnya dengan nada angkuh.
Ku amati wajah lelaki di depan ini, waduh ... sepertinya lelaki ini yang menyenggolku tadi. Keringat dingin mulai membasahi kemeja yang kupakai. Padahal ruangan ini suhunya dingin banget seperti di dalam kulkas.
"Hey, jangan melamun! Ini sudah saya tanda tangani, bersiap-siaplah! Kita akan rapat dengan dewan Komisaris!" titahnya sambil mengangkat wajah.
"Hahh ... kamu!!!" teriaknya. Aku dan si Boss sama-sama kaget. Ia menyipitkan mata sambil berkata.
"Kamu yang tadi menabrak saya di ruang absensi?!" ucapnya dengan suara berat.
"Maaf, Pak! Saya permisi," aku langsung buru-buru keluar dari ruangan itu. Hampir saja map biru tertinggal di meja kerjanya.
Setelah berada di luar pintu, aku menarik napas lega. Ternyata yang kutabrak tadi pagi adalah seorang CEO di perusahaan ini. Lagi pula aku tak sengaja kok. Dia saja yang jalan tak pakai mata, asal nyelonong saja.
Syukurnya aku bisa langsung kabor dari hadapannya. Kalau tidak, pasti sudah di interogasi oleh CEO yang angkuh itu. Gegas aku masuk kembali ke dalam lift menuju lantai dua. Untungnya di lift sedang ramai, jadi tak kumat pobhiaku.
"Loh, kamu kenapa, kok kemejanya basah begitu? Habis lihat hantu, ya?" tanya Miss Caterine heran.
"Enggak Papa kok, Mbak," sahutku pelan.
"Hm, Miss tau nih! Pasti kamu baru pertama kali ketemu dengan CEO ganteng itu, kan!?" cecarnya.
"Ahh, Miss sok tau, deh," jawabku.
"Asal kamu tau aja, ya! Sudah dua kali Miss punya asisten admin. Tapi dua-duanya gak betah bekerja di kantor ini, karena CEOnya galak!" jelasnya.
"Masak sih, Miss?" tanyaku kaget.
"Beneran loo, sama persis seperti kamu! Keluar dari ruangan Boss CEO, kemejanya basah bermandikan keringat!" ledeknya.
"Memangnya Miss gak seperti itu, ya kalau bertemu CEO galak itu?" tanyaku kepo.
"Iya, Enggaklah! Ngapain takut, orang umur CEOnya masih di bawah, Miss! Paling seumuran kamu atau lewat dikitlah!" jelasnya sambil tertawa.
*******
Di dalam hati, aku membenarkan ucapan Miss Caterine. Sampai nama CEOnya saja aku belum tau, padahal sudah satu bulan bekerja. Nanti saat rapat akan ku selidiki siapa dia, sebab aku mulai penasaran dengan sikap sombongnya.
Saat rapat berlangsung, aku tak bisa fokus dengan isi rapat yang dibicarakan. Syukurnya
aku hanya asisten, tugasnya hanya menemani Sementara Miss Caterine yang mencatat semua hasil rapat.
Aku terus mengamati CEO dan beberapa orang peserta rapat. Salah satunya ada dewan komisaris. Beliau adalah orangtua dari CEO tersebut. Aku tau karena mereka duduk berdampingan. Namanya Surya Hutomo. Sedangkan di dada sebelah kanan CEO ada bed bertuliskan nama Calvin Hutomo, mereka duduk berdampingan.
Baru pertama kali aku di ajak ikut rapat, ini permintaan CEO tersebut. Itu karena posisiku sebagai asisten Mbak Caterine jadi harus paham tentang perusahaan ini, begitu alasannya. Waktu rapat selama dua jam, berlalu begitu saja.
"Kamu asisten admin yang baru, ya?" tanya Tuan Surya Hutomo.
"Iya, Tuan," sahutku sambil membungkukkan badan. Kami berpapasan ketika hendak keluar ruang rapat.
"Kamu sudah tamat kuliah?" Tuan Komisaris mulai kepo.
"Belum Tuan, sedang menyusun skripsi!" jawabku sopan sambil menundukkan kepala.
"Bekerjalah yang rajin dan teliti, siapa tau kamu bisa jadi asisten tetap di sini!" pesannya.
"Baik, Tuan." Aku menganggukkan kepala dan menyilakan beliau untuk keluar ruangan terlebih dahulu.
Dari jauh CEO tersebut mencuri pandang ke arahku. Pasti ia penasaran dengan apa yang sedang kami bicarakan. Hm, Bapaknya saja ramah, mau bertegur sapa. Nah, ini anaknya kok bisa sombong begitu, ya?
"Cieee, yang baru tegur sapa dengan calon mertua!" ledek Miss Caterine.
"Aiih, apaan sih, Miss? Fitnah banget ituu!" jawabku sambil cekikikan.
Sebenarnya hatiku bersorak dalam hati, siapa yang tak mau jadi menantu dari seorang pengusaha terkenal dan istri seorang CEO tampan. Pasti di luar sana berebut wanita yang ingin mencuri hati CEO tersebut.
"Kalau besok ada jadwal meeting, kamu mau ikut gak?" tanya Miss Caterine.
"Kalau diperbolehkan, saya mau Miss!" ucapku bersemangat. Pasti di sana bertemu CEO ganteng lagi, pikirku.
"Ya, sudah, hampir jam istirahat, kamu bereskan semua berkas di atas meja! Setelah itu kita makan siang di kantin!" ajaknya.
Gegas ku bereskan semua lembaran tugas yang berserakan di atas meja, kemudian menyusunnya dengan rapi. Setelah itu kami pun keluar menuju lift untuk turun ke lantai bawah menuju kantin.
*******
"Cla ... buruan! Entar antri yang masuk ke lift!" Miss Caterine menarik tanganku.
"Iya, Miss," sahutku setengah berlari.
Tiba di pintu lift, sudah menunggu beberapa orang yang hendak turun untuk makan siang.
"Miss ... kita pindah ke lift sebelah sana, yuk!" ajakku sambil menunjuk lift di sebelah kanan.
"Oke!" Miss Caterine mengekor di belakangku.
Begitu pintu lift terbuka kami segera masuk.
"Heyy, tahan! Jangan tutup liftnya!" ucap suara di belakang kami, aku menoleh ke asal suara, degg ... lelaki bertubuh atletis itu sudah berdiri sejajar denganku.
Tiba-tiba keringat dingin mulai mengalir membasahi kemeja yang ku pakai. Melihat situasi ini, Miss Caterine langsung menyapa Boss CEO dengan sopan.
"Silakan masuk, Pak! Hendak turun makan siang juga, ya, Pak?!" tanya Miss Caterine.
"Hm, iya," sahutnya ketus.
Setelah basa-basi yang singkat itu, kami pun saling diam, kebetulan di dalam lift hanya kami bertiga. Mungkin karyawan lain enggan satu lift dengan CEO yang sombong.
Dengan ekor mata, ku perhatikan CEO ini mencuri pandang ke arahku. Ia menelisik inci demi inci semua yang ada ditubuhku. Sedang Miss Caterine sibuk membalas pesan di ponselnya.
Pintu lift terbuka, kami persilahkan CEO tersebut lebih dulu keluar. Dengan langkah angkuh ia berjalan keluar gedung. Berarti ia makan siang ke luar kantor bukan di kantin.
"Enggak usah gitu amat merhatiin CEO ganteng itu! Entar gak bisa tidur loo," ledek Miss Caterine sambil menggoyangkan telapak tangannya di depan mataku.
"Ahh, Miss ini dari tadi ngejek terus deh!" protesku sambil mengusap keringat di dahi.
"Habisnya kamu itu lucu, deh! Setiap melihat CEO, selalu kemejanya basah! Memangnya kamu takut, ya?" Miss Caterine heran.
"Enggak juga sih, Miss! Saya hanya takut di pecat saja bila melakukan kesalahan."
"Maklumlah, Miss, saya bekerja sambil kuliah. Kadang kurang fokus karena kelelahan sehabis bekerja!" jelasku.
"Iya juga, sih. Kamu harus pandai mengatur waktu antara kuliah dan pekerjaan. Sebab dua-duanya penting, karena keduanya adalah masa depan kamu."
Mobil CEO tadi sudah pergi meninggalkan halaman parkir. Enak banget jadi Direktur, makan siang boleh keluar gedung. Pergi ke tempat mana saja yang disukainya.
Baru saja CEO tadi meninggalkan kantor, datang seorang wanita seksi berdandan menor. Ia menegur Miss Caterine, lalu menanyakan keberadaan CEO tersebut.
Bersambung ....
Bab 3.
Mobil CEO tadi sudah pergi meninggalkan halaman parkir. Enak banget jadi Direktur, makan siang boleh keluar gedung. Pergi ke tempat mana saja yang di sukainya.
Baru saja CEO tadi meninggalkan kantor, datang seorang wanita seksi berdandan menor. Ia menegur Mbak Caterine, lalu menanyakan keberadaan CEO tersebut.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan Tuan Calvin! Dia ada di mana ya?" tanya wanita itu padaku.
"Oh, maaf, Mbak! Tuan Calvin baru saja keluar untuk makan siang," jawabku.
"Oh-shiitt!" wanita itu langsung menggerutu.
"Kamu karyawan baru, ya?" selidiknya.
"Iya, Mbak," jawabku.
"Cla ... yuk ke kantin, di tunggui dari tadi kok malah ngobrol di sini!" Miss Caterine menarik tanganku sambil menyimpan hape di kantong roknya.
"Iya, Miss," sahutku lalu berlari kecil di belakangnya.
"Ngapain sih kamu ladeni wanita itu?" Miss Caterine sewot.
"Memangnya siapa wanita itu, Miss?" tanyaku sambil mensejajari langkahnya.
"Dia itu wanita penggoda! Mantan pacar Tuan Calvin," jelasnya.
"Oh-kira-in mantan istri," celetukku pelan.
"Enggak-lah, Tuan Calvin itu masih muda. Kan sudah Miss bilang usia-nya lebih sedikit dari kamu," jelasnya panjang lebar.
"Udah-ah, yuk, makan! Dari tadi membahas tentang dia terus!" ucapku.
Aku dan Miss Caterine memesan dua porsi nasi ayam sambal ijo plus dua gelas es lemon tea. Tak sampai sepuluh menit, pesanan sudah datang, kami makan dengan lahapnya.
Kali ini entah kenapa napsu makanku jadi mengebu-gebu. Kalau sedang banyak tugas atau pikiran, tak biasanya aku seperti ini. Sekarang aku sedang sibuk menyusun skripsi.
Butuh waktu khusus untuk menyelesaikan tugas akhir. Kadang sampai di rumah, sudah lelah dan mengantuk sekali. Tak sempat lagi memegang makalah untuk di ketik melalui laptop. Memang benar kata Mama, jangan sampai kuliahku terabaikan karena bekerja.
Habisnya hendak bagaimana lagi, kalau mengharapkan hasil dari toko peninggalan Papa saja, tak mencukupi. Belum lagi Kak Roy yang sering ambil uang seenaknya di toko.
Sejak Papa pergi untuk selamanya, sifat kakakku berubah drastis. Ia sering mabuk dan jarang pulang. Mobil butut peninggalan Papa sempat di gadaikannya karena kalah berjudi.
"Hey, Cla, makan kok sambil melamun sih?"
"Eh-oh iya, saya minta maaf, Miss!"
Miss Caterin membuyarkan lamunanku, ia heran, kenapa sekarang aku sering melamun.
Aku jelaskan padanya perihal Kakakku, yang sering menyusahkan Mama. Seenaknya minta uang untuk mentraktir pacarnya.
"Yuk, waktu istirahat kita sudah habis!" ingat Miss Caterine. Setelah membayar makanan yang kami makan, aku dan Mbak Caterine meninggalkan kantin.
******
Ketika berjalan menuju lift, dari jauh ku lihat di depan pintu masuk, terdengar suara berisik
Aku berhenti melihat ke arah suara tersebut. Ternyata wanita seksi dan CEO angkuh itu sedang berbicara, sepertinya mereka sedang berdebat. Miss Caterine mencolek lenganku sambil berbisik, "CLBK!"
"Apa-an CLBK, Miss?" tanyaku kepo.
"Cinta Lama Belum Kelar!" sahutnya sambil cekikikan menutup mulut.
Aku mendengar berdebatan mereka, karena jarak kami hanya dua meter dari pintu depan.
"Lebih baik kamu pulang sekarang, Elsa! Gak malu di dengar orang!" usir CEO tersebut.
"Aku gak mau pulang! Sebelum kamu terima aku lagi!" jawab wanita itu sewot.
"Hubungan kita udah selesai, Elsa!" ucap CEO itu dengan tegas.
"Kamu sendiri yang meninggalkan aku, demi lelaki lain! Kamu lupaa!" teriak CEO di telinga wanita itu. Wanita yang bernama Elsa itu langsung terdiam. Ia mengeluarkan tisu kecil dari tas brandednya, lalu mengusap sudut matanya yang basah. Ia mulai menangis terisak-isak.
"Ma-afkan aku, Calvin! Aku me-mang sa-lah!" iba-nya dengan suara terbata-bata.
"Sudah-lah, lebih baik kamu pulang! Aku sedang banyak kerjaan!" ucap CEO itu dengan suara pelan.
Begitu CEO meninggalkan wanita itu, kami langsung balik badan, pura-pura mengantri di depan lift. Pintu lift terbuka kami segera masuk dan CEO itu sudah ada di belakang kami, ia ikutan masuk. Aku menyapanya sambil menundukkan kepala.
Seperti biasa Miss Caterine sibuk dengan hape di tangannya. Kami saling diam, sampai tombol di pintu lift terbuka menunjukkan lantai tiga. CEO tersebut menyimpan hape ke dalam sakunya kemudian berlalu seiring tercium wangi parfum khas lelaki.
Diam-diam, aku mulai mengagumi pribadi CEO yang sombong ini. Walaupun gayanya angkuh, tapi mendengar pertengkarannya dengan wanita tadi, aku jadi terenyuh.
Cowok sekaya dan setampan ini, masih bisa di sakiti oleh wanita tersebut. Ia tak punya waktu untuk memanjakan dan menuruti semua keinginan wanitanya. Itu cerita yang ku dengar dari Miss Caterine.
Wanita seksi itu sering datang ke kantor untuk melepas kangen. Profesinya sebagai model membuatnya banyak di gandrungi kaum lelaki. Baik di dunia maya maupun dunia nyata.
Sementara CEO ganteng ini, lebih suka menghabiskan waktu di kantor hingga menjelang Magrib. Padahal jam pulang kantor sampai pukul lima sore saja.
*******
Semua karyawan tak ada yang berani mengusik wanita seksi itu. Miss Caterine sering menemani wanita tersebut menunggu CEO, kalau beliau sedang keluar kantor. Dan mengalirlah cerita dari mulut wanita itu tentang hubungan percintaan mereka.
Sampai wanita itu digosipkan selingkuh dengan seorang model senior. CEO yang sombong ini langsung murka. Ia menangkap basah wanita bernama Elsa ini di sebuah hotel. Ia terlibat kasus prostitusi online. Aku menarik napas dalam, mendengar semua cerita Miss Caterine.
"Seperti kisah di sinetron, ya, Miss!" ucapku.
"Miss yakin, CEO tersebut masih cinta dengan kekasihnya. Tapi kasus prostitusi itu sudah mencoreng nama baik keluarga CEO. Hubungan mereka tak mungkin di teruskan!"
"Kasus yang memalukan, pasti di kenang seumur hidup oleh masyarakat," ucapku.
"Padahal penghasilan sebagai model, sudah lebih dari cukup. Tapi kenapa wanita jaman sekarang lebih memilih cari selingan sebagai wanita panggilan," celetukku.
"Gaya hidup wanita sosialita seperti itulah. Berapa saja uang yang mereka punya, tak pernah bisa menutupi kebutuhan hidup yang glamour," cecar Miss Caterine.
"Cla ... kalau nanti, kamu jadi orang kaya dan terkenal, hiduplah sederhana, bergayalah sewajarnya. Jangan ikuti napsu dunia," pesan partner sekaligus atasanku ini.
"Iya, Miss," sahutku pelan.
"Memang benar kata Mama Saya, Miss! Demi uang orang sering menghalalkan segala cara."
"Aihh, kita kok jadi membahas masalah pribadi mereka, ya," kata Miss Caterine sambil tepuk jidat.
"Habisnya mereka bertengkar di lingkungan kantor. Gimana gak jadi bahan rumpi-an kita!"
"Hati-hati, Cla! Entar kamu jatuh cinta beneran loo, dengan CEO galak itu." ingatnya.
"Haa-haa, emang CEO itu tipe-nya seperti saya ya, Miss?" Aku ingin dengar penilaiannya.
"Ihh, siapa tau CEO merasa cocok! Kamu kan gadis pintar!" pujinya.
"Ahh, Miss bisa aja deh," aku tersipu malu.
"Harusnya kamu aminkan doa saya, jangan ragu seperti itu," ucapnya sambil terkekeh.
Tiba-tiba aku jadi optimis dengan ucapan Miss Caterine. Walaupun aku hanya gadis sederhana, ekonomi keluarga juga pas-pasan. Mama seorang single parents. Jauh banget di bandingkan dengan kehidupan CEO ini.
Akan tetapi, aku berhak punya mimpi seperti wanita di luar sana. Ingin punya masa depan yang tinggi, setinggi cinta yang ingin kugapai. Apa mungkin semua itu berjalan sesuai harapan.
Bersambung ....