Nuning melihat Bu Niar keluar dengan hati yang resah dan Nuning tidak bisa menahan air matanya lagi. Nuning menangis terisak. Dia takut seandainya memang Bu Niar akan mengirim santet padanya. Nuning belum pernah tahu tentang santet sama sekali, dan tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya kalau dikirimi santet. Jantung Nuning berdebar tak menentu, kekhawatiran dan ketakutan merenggut jiwa Nuning.
Nuning beritighfar berulang kali agar hatinya tenang, tetapi yang ada malah hati Nuning semakin takut dan semakin risau. Nuning segera mengambil air wudhu dan mengambil Al quran. Nuning bertilawah dengan pelan di kamar, air matanya masih bercucuran perlahan.
"Ya Allah ampunilah aku. Ampunilah aku yang takut dan khawatir pada kehidupan duniawiku. Ampunilah Nuning, ya, Allah," bisik Nuning pelan, Nuning mengusap air mata yang terus bercucuran di pipi, dan ketenangan itu mulai melingkupi hatinya. Nuning mulai merasa yakin bahwa Allah pasti akan melindunginya. Bukankah Nuning selalu mengikuti kajian dengan Ustadz Irfan tentang akidah.
Ah, setelah Nuning pindah ke sini, Nuning sudah lama sekali tidak ikut kajian di pesantren ruqyah di Karang Pandan lagi. Rindu juga rasa hati ini. Rindu dengan kelembutan nasihat Ustadz Irfan dan Pak Sapto. Nuning tersenyum dan berencana akan mengajak Edwin ke Karang Pandan sebentar saja. Pasti menyenangkan sekali.
Karang Pandan adalah kota asal Edwin, Nuning dari Karang Sari. Tidak jauh memang, tetapi mereka bertemu di ibukota dan setelah menikah Nuning resign dari pekerjaannyasebagai HRD di sebuah perusahaan asing besar yang begerak di bidang kosmetik, dari sana juga Nuning juga memiliki banyak rekan bisnis yang menyemangati Nuning untuk membuka bisnis kosmetik alami rumahan, dan dengan modal nekad, maka lahirlah Lembayung Senja. Brand kosmetik milik Nuning, yang berinti pada kosmetik berbahan alami dan kosmetik aman untuk siapa saja.
Alhamdulillah Lembayung Senja bisa melesat sukses dengan cepat karena banyak sekali artis yang mampir ke salon Mak Ci dan mencoba kosmetik tersebut dan cocok, bahkan kemudian menjadi pemakai tetap Lembayung Senja. Nuning tetap konsisten dengan kata 'rumahan' sehingga Lembayung Senja menjadi sebuah brand kosmetik yang eksklusif dan tidak pernah diproduksi secara massal.
Nuning mendesah.
Nuning diminta Edwin untuk di rumah saja, menjadi ibu rumah tangga. Edwin sama sekali tidak keberatan Nuning berbisnis Lembayung Senja, asalkan tidak meninggalkan kewajiban Nuning sebagai seorang istri. Nuning mengigit bibir dan berpikir, kenapa masalah itu malah muncul di sekitar rumahnya sendiri? Rasanya hati Nuning sedih dan merana. Padahal yang menyebabkan Nuning sedih, ya, hanya satu orang, tetapi kenapa semua jadi kena imbasnya, ya?
"Astaghfirullah! Aku malah lupa lagi, ya, Allah. Semua rasa ini berasal dariMu, seharusnya kukembalikan semuanya kepadaMu, Ya Allah," bisik Nuning lirih dan Nuning bertilawah lagi.
Ah, rasa hati ini semakin lega sekarang. Nuning tahu Allah maha mengetahui apa yang dibutuhkan hambaNya. Nuning berharap rasa risau ini tidak datang lagi suatu saat nanti.
**
Sore itu Nuning sedang membersihkan rumput liar di halaman depan, ketika Nuning mendengar sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumahnya. Nuning mendongak dan melihat Edwin keluar dari dalam rumah dengan wajah cerah.
"Pak Dimas, Ning," kata Edwin.
Nuning melongo. Pak Dimas bossnya Mas Edwin? Saking terkejutnya Nuning malah hanya bisa berdiri tegak melihat Dimas Setiawan, salah satu milyuner Indonesia, mengunjungi rumahnya di desa ini. Nuning melihat Pak Dimas menyalami Edwin dan berpelukan. Kemudian Pak Dimas membukakan pintu samping mobilnya dan keluarlah wanita tercantik yang pernah dilihat Nuning. Oh, itu kan Lintang, istri Dimas Setiawan!
Nuning benar-benar hanya bisa berkedip dan tidak benar-benar sadar ketika wanita cantik itu mendekatinya dan tersenyum manis.
"Mbak Nuning, ya?" tanya Lintang dengan lembut. Nuning tersadar dari lamunannya. Nuning memandang Lintang tak percaya.
"Bu Lintang?" tanya Nuning dengan terpesona memandang wajah Lintang yang putih bersih, glowing bagaikan transparan, kecantikan Lintang benar-benar muncul dari dalam.
"Ya, saya Lintang. Salam kenal," jawab Lintang sambil tersenyum manis. Dia mengulurkan tangannya pada Nuning. Dengan ragu Nuning menjabat tangan lembut itu.
"Salam kenal juga, saya Nuning, Bu Lintang," jawab Nuning dengan agak gemetaran. Dimas menghampiri mereka dan juga memerkenalkan diri dan berbasa-basi sebentar. Membuat Nuning semakin grogi.
"Ning, kok diam saja!" tegur Edwin. Nuning tersadar, dan segera meminta tamunya untuk masuk.
"Saya nggak mau kalau ngerepotin, lo, Bu Nuning. Saya hanya mau nanya tentang Lembayung Senja," bisik Lintang pada Nuning. Nuning terkejut, Lintang tersenyum dan mengangguk.
"Beneran nggak usah repot, ya, Mbak?" bisik Lintang lagi, Nuning mengangguk dan tersenyum mengiyakan.
**
Nuning tidak tahu di luar pagar, Bu Niar tersenyum mengejek.
"Sombong sekali kamu, Ning! Tunggu saja pembalasanku!" desis Bu Niar dengan wajah merah membara, "tunggu pembalasanku!"
Bu Niar menyebarkan bubuk hitam dan air di kebun Nuning dari balik pagar rumah Nuning. Bu Niar tersenyum puas.
"Kutunggu kebangkrutanmu, Ning!" seru Bu Niar dengan wajah sangat puas.
**
Kedatangan Dimas dan Lintang ke rumah Nuning membuat Nuning begitu bahagia. Dia melupakan sejenak kekhawatirannya tentang santet yang akan diberikan Bu Niar padanya. Nuning juga terpesona pada Lintang yang sangat cantik jelita dan istri orang kaya raya, bahkan kalau tidak salah Dimas pernah menjadi orang kaya ketiga di Indonesia, dan tetap masih mau berbisnis. Konon Lintang sudah memakai Lembayung Senja dan cocok, dan sekarang dia berjualan Lembayung Senja di kelompok pengajiannya.
"Awalnya saya pakai lulurnya, Mbak. Harumnya enak banget, lembut, nggak menyengat dan modern. Kemudian pas sabun cuci muka saya habis, saya ditawari Maharani sabun cuci muka Lembayung Senja. Qadarullah, cocok banget, Mbak. Seneng banget. Setelah itu saya tidak ragu lagi, saya beli paket untuk kulit normal. Alhamdulillah sampai sekarang saya sudah empat kali repeat order di Maharani," cerita Lintang.
Ah, Nuning hampir menangis mendengar testimoni Lintang.
"Mbak Maharani yang jadi wedding organizer, kan, Bu?" tanya Nuning.
Lintang mengangguk.
"Ya, Mbak. Maharani itu teman saya SMP dan SMA," jawab Lintang, "terus Maharani merekomendasikan alamat panjenengan, dia bilang harusnya saya jadi reseller saja. Eh, nggak tahunya Mbak Nuning istrinya Pak Edwin. Kalau Pak Edwin saya sudah kenal sejak dulu," kata Lintang sambil tertawa geli.
Nuning tersenyum bahagia. Rezeki memang tidak akan ke mana, dan kebanyakan manusia terlalu mengkhawatirkan hal yang belum pasti dan belum dijalaninya.
Sore itu Lintang memborong semua paket yang ada di rumah Nuning, bahkan karena ada yang kurang, Nuning pun harus mengambil beberapa paket dari rumah Bu Imas dan Bu RT. Mereka semua ikut senang dan bahagia. Nuning pun merasa sangat bahagia, tidak sia-sia dia merinris bisnis kecil Lembayung Senja, hingga menjadi besar ini.
Bu Imas histeris melihat Lintang dan Dimas. Dia gugup dan ujung-ujungnya minta foto bersama.
"Ya Allah, mimpi apa saya semalam? Hari ini rumah saya didatangi selebritas Indonesia!" seru Bu Imas. Tetangga-tetangga yang lain berdatangan dan ikut berfoto dengan Lintang yang memang cantik jelita. Termasuk Bu Niar. Bu Niar dengan kejulidannya, benar-benar keheranan, kenapa kompleksnya begitu ramai sore itu. Ternyata ada milyuner Indonesia yang mampir ke rumah Nuning. Jiwa kebencian Bu Niar semakin meronta-ronta, dia menyesal tadi tidak langsung frontal menghadapi Dimas dan Lintang, kan, lumayan, dia bisa menaklukkan milyuner Indonesia, pasti dia akan terkenal.
Bu Niar benar-benar gugup ketika dia minta foto dengan Lintang. Semua kalimat julidnya yang akan disampaikan pada Lintang benar-benar menguap ketika mereka bersalaman. Aduh, jadi begitu, ya, kalau orang kaya. Wanginya lembut, bersih, glowing, bajunya branded, semua barangnya branded, tetapi sama sekali tidak menonjol, berbeda sekali dengan Bu Niar kalau mau kondangan dan memakai baju, tas dan perlengkapan yang menunjukkan merek, tetapi jelas palsu. Ah, Bu Niar benar-benar grogi, dan dia malah ingin memiliki niat buruk lain pada Lintang.
Tak lama kemudian Dimas Setiawan memohon maaf kepada semua karena dia akan segera pulang dan segera berpamitan kepada semuanya dan menggandeng tangan Lintang untuk segera meninggalkan tempat itu. Semua terpesona pada kemesraan Dimas pada Lintang.
Bu Niar panik. Dia belum mendapatkan apa yang didapatnya dari Lintang. Oh ... tetapi ada foto itu! Oh, ya dia bisa menggunakan foto Lintang.
**
Semenjak foto Lintang yang memborong produk Lembayung Senja, rumah Nuning tidak pernah sepi. Banyak sekali wanita-wanita kelas atas, teman Lintang, yang datang langsung ke rumah Nuning dan membeli Lembayung Senja lansung dari Nuning. Mereka berfoto dan meng-upload foto mereka di media sosial mereka, membuat Lembayung Senja semakin terkenal.
Bu Niar nyaris murka.
Rencananya membuat bangkrut Nuning malah gagal, dan yang terjadi adalah sebaliknya. Bisnis Nuning malah semakin sukses, dan kabarnya Nuning sudah mengirimkan barang sampai ke manca negara juga.
Dengan kemarahan yang berdentam-dentam di dada, Bu Niar mendatangi dukun yang kemarin dimintai tolong olehnya. Dukun itu memandang Bu Niar sinis.
"Yang kemarin saja belum ada tumbalnya, sekarang malah minta yang baru lagi!" teriak dukun itu kesal. Dia melotot ke arah Bu Niar.
Bu Niar tidak takut, dia bahkan juga ikut melotot kepada dukun itu.
"Pokoknya saya mau yang satu ini saja! Yang pertama itu digagalkan saja!" Bu Niar balas berteriak.
Dukun itu menjengit.
"Tidak bisa, dong! Enak saja! Kalau mau dibatalkan kamu harus memberiku tumbal dulu!"
Bu Niar mencebik, dia merengut maksimal.
"Baiklah! Baiklah! Apa tumbal untuk santetnya?" tanya Bu Niar tidak sabar.
Dukun itu tersenyum licik.
"Nyawa!"
Bu Niar tidak terkejut. Pastilah korban santetnya nyawa. Bu Niar mengambil foto yang telah disiapkannya dari rumah.
"Ini tumbalnya! Ini yang mau saya pelet," kata Bu Niar sambil menunjukkan foto itu pada dukun tua di depannya.
Dukun itu mengangguk. Dia memberi tanda silang merah di pipi Lintang dan menusuk jarum pentul kecil di foto korban tumbal. Bu Niar tersenyum puas.
"Puasa lagi, ya! Puasa mutih empat puluh hari dan hapalkan mantra ini : Niat ingsun amatek ajiku si semar mèsem... mut-mutanku inten... cahyané manjing pilinganku kiwa lan tengen... sing nyawang kegiwang... apa manèh yèn sing nyawang kang tumancep kumanthil ing telenging sanubariku... ya iku si jabang bayi lalu kamu sebut namanya sebut namanya. Dibaca petang menjelang gelap tiga kali, dan disembur pakai air ini. Pasti manjur!"
Bu Niar mengangguk dan menerima sebotol air mineral dengan penuh kelegaan.
"Lima juta!" seru dukun itu. Bu Niar menjengit.
"Mahal sekali, Mbah," protes bu Niar. Dukun tua itu tertawa jahat.
"Itu biaya pembatalan santetnya juga."
"Oh, ya tumbalnya kapan Mbah matinya?" tanya Bu Niar dengan datar.
"Sekarang sedang proses, tenang saja. Nanti malam pasti mati," jawab dukun itu, juga dengan santai
Bu Niar mengangguk dan memberikan sejumlah uang yang diminta dukun itu. Kemudian dia berpamitan pulang.
Di perjalanan Bu Niar menikmati pemandangan alam di sekelilingnya. Angin semilir melewati tubuhnya. Ah, semua masalah ini akan berjalan lancar, dia akan memelet Lintang dan akan meminta semua barang-barang branded milik Lintang. Lumayan.
Bu Niar berfokus di jalan di depannya, tetapi tiba-tiba dari belakang ada bunyi klakson keras sekali. Bu Niar terlonjak kaget, motornya oleng dan kemudian kendaraan besar itu menyerempet motor matik Bu Niar, membuat motor Bu Niar terguling dan terjatuh di jurang ....
**