Bab 2

"Turun kakek, bahayaa!” teriak Melodi sambil menarik badan kakek itu dari atas pagar jembatan besi. Melodi melihat ke sekeliling untuk mencari pertolongan, heran hari ini tidak ada satu pun kendaraan atau orang yang lewat, padahal biasanya jalanan ini yang cukup ramai.

“Lepaskan, aku,” ujar kakek itu galak, matanya melotot memandang Melodi, lalu bersiap memanjat pagar besi jembatan itu lagi.

“Kakek sebetulnya mau ngapain sih?” tanya Melodi, tangannya tetap memegang lengan kakek itu erat.

“Bukan urusan kamu, gadis kecil!”

“Sekarang jadi urusanku karena aku melihat Kakek di sini,” ujar Melodi.

Tiba-tiba kakek tua itu mendorong Melodi hingga terjatuh, kemudian dengan cekatan naik kembali ke atas besi pagar jembatan. Tangannya direntangkan, pandangannya kembali kosong, mulutnya komat-kamit, entah apa yang ia ucapkan.

Melodi bangkit dan segera menarik sekuat tenaga kemeja kakek itu tepat sebelum ia melompat, gadis itu kehilangan keseimbangan hingga jatuh berguling nyaris menubruk sisi lain jembatan yang pembatasnya sudah rapuh.

Ia merinding memandang aliran deras sungai Cisadane, berapa meter di bawahnya.

“Ayo kubantu kamu bangun.”

Melodi tertegun, kakek itu mengulurkan tangannya kepada Melodi.

“Terimakasih Kek,” ujar gadis itu sambil membersihkan kemejanya. Ia memeriksa tangannya yang terasa perih, ternyata ada beberapa luka goresan.

“Maaf, jadi bikin kamu terluka,” ucapnya lalu duduk di rerumputan di samping Melodi.

Melodi tersenyum, “Sebetulnya Kakek mau ngapain tadi?”

“Bodoh! Ya lompat lah dari jembatan, memang kamu pikir mau latihan terbang.”

Melodi meringis, ia memandang lelaki tua di sebelahnya. Sebetulnya tidak terlalu tua, umurnya paling sekitar enam puluh tahun atau lebih sedikit.

“Maaf, maksudku kenapa Kakek mau lompat?”

Lelaki itu mendengus kesal, kalau saja gadis ini tidak menariknya, mungkin tadi ia sudah lompat dari jembatan, segala beban kesedihan, luka, kesepian dan kehilangan akan lenyap.

Melodi terkikik.

“Kenapa kamu tertawa?” tanyanya galak. Tatapan matanya yang tadi kosong, kini ada seberkas sinar kehidupan lagi.

“Kakek salah memilih tempat dan waktu untuk bunuh diri.”

“Apa maksudmu, aku tahu tempat ini akan sepi karena di ujung jembatan sana sedang ada perbaikan jalan, jadi tidak akan ada kendaraan yang lewat.”

“Kebetulan aku sering lewat jembatan ini, makanya Kakek jadi bertemu denganku, kebetulan juga waktunya sore hari, ini saat-saat aku sering menghabiskan waktu di sini, melihat matahari tenggelam.”

Melodi menunjuk ke arah Barat. “Lihat Kek, matahari yang tenggelam di balik pepohonan seberang sungai, indah sekali.”

Lelaki itu ikut menatap ke tempat matahari tenggelam, matanya kembali berbinar, Melodi menarik napas lega, setidaknya ada denyut kehidupan lagi di wajah lelaki itu. Jadi kecil kemungkinan kalau ingin berbuat nekat lagi hari ini.

“Harusnya tadi aku bisa bertemu dengan Anjani lagi,” ucapnya sambil menatap Melodi tajam.

“Anjani itu siapa?”

Lelaki itu menjitak kepala Melodi pelan. “Dasar enggak sopan, kamu harus memanggilnya Nenek Anjani.”

“Ooh, maaf. Kan saya enggak tahu kalau anjani itu nenek-nenek.”

Sekarang lelaki itu terkekeh geli. Gadis ini unik sekali, bisiknya dalam hati.

“Nenek Anjani, sudah meninggal?”

“Iya, Anjani sudah meninggal tiga bulan lalu, namun beberapa hari ini aku selalu bermimpi bertemu dengannya, ia mengajakku menyusulnya agar bersama-sama kembali.”

“Memang Kakek yakin, Nenek Anjani senang bertemu Kakek dengan cara seperti tadi?”

Lelaki itu memandang Melodi galak. “Terus aku harus bagaimana agar bisa bertemu dengannya lagi. Sepeninggalnya, aku sangat kesepian, tidak ada yang peduli pada kesedihanku.”

“Kakek punya anak dan cucu?”

“Mereka tidak peduli padaku.”

“Kakek kan bisa melakukan sesuatu untuk mengusir kesedihan, membaca misalnya atau berkebun.”

“Gadis sok tahu.”

Melodi meringis, jadi teringat kakeknya, sepeninggal nenek, ia menghabiskan hari-harinya untuk berkebun dan atau shalat di masjid.

“Kakek lapar?”

“Aku datang ke jembatan ini niatrnya mau bunuh diri, bukan mau jalan-jalan, mana sempat berpikir untuk makan dari pagi tadi.”

Melodi teringat empat buah klappertart yang belum sempat dibagikannya. Ia membuka cooler box dan menyodorkan sebuah untuk lelaki itu, lalu mengambil untuk dirinya sendiri.

“Makan Kek, kue ini lembut sekali, aroma kayu manisnya bisa menenangkan pikiran, mengusir kekalutan dan mendatangkan kebahagiaan. Di samping mengganjal rasa lapar tentunya.”

Lelaki itu tersenyum dan langsung memakan klappertart yang diberikan Melodi, dalam sekejap satu cup langsung habis. Ia tidak menolak saat disodori dua cup alumunium foil yang tersisa.

“Kamu yang membuat sendiri klappertart ini?” tanyanya.

“Iya, aku hampir tiap hari membantu mama membuat kue ini.”

“Enak sekali kue buatanmu.”

Melodie berseri-seri wajahnya karena mendapatkan pujian. Membuat klappertart adalah bagian dari kesehariannya.

“Kamu juga wangi kayumanis, seperti Anjani. Dulu waktu mudanya sangat senang membuat kue ini, saat membubuhkan kayu manis sering mengenai bajunya. Ah kamu mengingatkan aku kepadanya lagi.”

“Aku memang suka aroma kayumanis kek, makanya aku membubuhkan kayumanis pada parfumku. Ini aku meraciknya sendiri.”

“Kamu gadis yang pintar.”

Melodi tersenyum, tiba-tiba ia melihat wajah Kakek itu memucat, “Kakek sakit?”

Ia mengangguk. “Kepalaku agak pusing.”

“Rumah kakek di mana? Mau aku antarkan pulang?”

“Aku…aduh kepalaku.”

Melodi sedikit panik. “Udah kakek ke rumahku aja ya, tidak jauh dari sini kok, tuh di belakang gedung apartemen ada kampung kecil. Rumahku di sana.”

Melodi membimbing lelaki itu, menuruni gundukan rumput tempat mereka duduk tadi, tubuh kakek makin lama semakin berat karena bertumpu padanya. Gadis mungil itu harus bersusah payah membawanya sampai ke rumah.

Melewati jalan menuju belakang apartemen, peluh mulai mengalir dari tubuhnya, bobot badan kakek itu semakin berat bertumpu padanya, akhirnya ia membopong di punggungnya. Duh kakek kenapa harus pingsan segala?

-----

“Melodi, siapa kakek ini?” tanya Mama setengah berbisik, saat ia membantu Melodi membersihkan badan lelaki tua yang masih pingsan itu.”

“Aku tidak tahu Mama, tadi bertemu dengannya waktu ia mau loncat dari atas jembatan Cisadane.”

Mama menatap Melodi tidak percaya, “Kamu jangan sembarangan bicara!”

“Ye, beneran Ma. Tadi aku menariknya agar turun dari pagar jembatan itu. Telat sedikit tubuhnya langsung melayang nyemplung di sungai, mana airnya lagi deras-derasnya lagi.”

Mama menghela napas panjang, menatap lelaki tua itu, entah siapa dia. Melodi ada-ada aja membawanya ke rumah segala.

“Ma, maaf. Klappertatrnya aku bagikan di jalan, daripada dibawa pulang lagi ke rumah,” ucap Melodi.

Mama tersenyum, “Hampir lupa, tadi Nyonya Clara menelepon Mama, ia meminta maaf karena mendadak harus berangkat ke luar kota, ada urusan pekerjaan. Tadi dia transfer pembayaran klappertart yang batal itu, sekalian pesanan untuk minggu depan.”

Melodi terlonjak bahagia, rencana Allah selalu indah untuk hambaNya.

Mama menatap Melodi dengan wajah serius.“Mel, bagaimana kalau keluarga kakek ini mencarinya, kita tidak tahu siapa dia dan di mana rumahnya? Yang paling Mama takutkan adalah kita dituduh menculiknya.”

Alis Melodi terangkat. “Menculik? Uh Mama, masa aku menculik kakek-kakek, apa motifnya coba. Kalau mau menculik mendingan cowok ganteng sekalian, biar aku enggak jomblo lagi.”

Mama langsung menjitak kepala Melodi.

“Sebaiknya kamu ke rumah Pak RT, laporin masalah ini, biar kita enggak disalahkan kalau ada apa-apa.”

Melodi mengangguk setuju, ucapan Mama betul. Setidaknya Pak RT lebih tahu apa yang harus dilakukan sehubungan dengan adanya kakek itu di rumah mereka.

Tiba-tiba kakek itu bangun. “Jangan lakukan itu, tolong jangan lapor siapapun, nanti harga sahamku bisa meluncur turun!”

Melodi saling berpandangan dengan mamanya, harga saham? Tadi mau bunuh diri sekarang memikirkan harga saham

Bab 3

“Ya ampun, Kakek. Istigfar…aku tahu Kakek masih terpukul dengan kehilangan Nenek Anjani, tetapi bukan berarti Kakek juga harus kehilangan akal sehat. Sudah sekarang istirahat saja di sini, besok aku pinjem motor Kang Asep kasep gumasep buat anterin Kakek pulang ke rumah.”

Mama langsung menjewer telinga Melodi, “Jangan bicara tidak sopan pada orang tua!”

“Aduh Mama, sakit tahu.”

“Awas kalau pinjam motor Kang Asep, itu motor khusus buat cowok.”

“Iya, Ma. Enggak,” jawab Melodi sambil mengusap telinganya yang memerah karena dijewer mamanya.

“Maafkan anak saya ya Pak, kalau bicara suka enggak pakai konsep, asal nyeletuk aja,” ujar Mama.

Kakek tertawa, “Maaf saya sudah merepotkan keluarga di sini. Perkenalkan nama saya Wira.”

Mama tersenyum sambil membantunya duduk bersandar pada bantal. “Tidak apa-apa. Maaafkan kalau sambutan kami kurang berkenan.”

“Ini lebih dari cukup, saya sangat berterimakasih kepada anak ibu, siapa ya namanya?”

“Melodi, Kek,” jawab Melodi yang duduk di samping dipan.

“Wah, nama yang bagus sekali,” pujinya. “Terimakasih ya, pasti tadi kamu repot sekali membawaku sampai ke sini.”

“Tidak apa-apa Kek, yang lebih repot itu kalau Kakek tadi sukses melompat ke sungai.”

Kakek Wira melotot pada gadis bermata coklat itu, tetapi beberapa saat kemudian ia tersenyum, sambil menepuk pundak Melodi.

“Untung ada kamu.”

Melodi tertawa, ia bahagia melihat wajah Kakek Wira sudah menemukan sinarnya kembali, sangat berbeda dibandingkan ketika bertemu di jembatan tadi sore.

“Senang melihat Kakek tersenyum.”

“Asal kamu tahu Melodi, salah satu yang membuat aku mempunyai semangat untuk hidup kembali adalah saat menikmati klappertart buatanmu. Aroma kayumanis itu membuatku teringat Anjani. Seperti yang kamu bilang, ia pasti tidak akan suka kalau aku ingin bertemu dengannya dengan cara yang seperti itu.”

Mama ikut duduk bersama, “Anak saya memang pintar membuat klappertart,” pujinya dengan bangga sambil mengacak-acak rambut putri semata wayangnya.

“Melodi, boleh kakek pinjam ponselmu?”

Melodi mengangguk, ia kemudian mengambil ponsel dari atas nakas dan menyerahkannya kepada Kakek Wira.

Tidak berapa lama kemudian, lelaki tua itu menelepon seseorang, entah apa yang dibicarakan karena Mama menyuruh Melodi untuk meninggalkan Kakek Wira sendirian supaya ia leluasa berbicara.

Malam telah larut, ketika pintu rumah diketuk dari luar. Melodi yang saat itu sedang mengerjakan tugas kuliahnya langsung bangkit menuju pintu.

“Selamat malam, saya datang mau menjemput Bapak Wira.”

Seorang lelaki bertubuh tinggi gagah berpakaian serba hitam berdiri di depan pintu. Melodi sedikit tengadah memandang lelaki itu. Matanya kemudian beralih pada sebuah mobil hitam mengkilat yang diparkir di halaman.

“Bapak siapa?”

“Saya orang yang diutus untuk menjemput Bapak. Tolong beliau harus segera pulang.”

Kening Melodi berkerut, ia khawatir lelaki itu berbohong, pura-pura menjemput ternyata orang yang bermaksud jahat kepada Kakek Wira. Entahlah meski baru kenal sebentar ia merasa mempunyai ikatan batin pada lelaki tua itu.

“Tolong sebutkan dulu nama Bapak, baru nanti saya bangunin Kakek Wira.”

Lelaki itu memandang Melodi dengan matanya yang tajam. “Nona tolong jangan mempersulit tugas saya.”

“Tapi Kakek Wira ada di rumahku karenanya aku bertanggung jawab melindunginya,” ujar Melodi ngotot.

Dari dalam mobil turun seorang lelaki lagi, memakai pakaian yang sama dengan lelaki yang berada di depan pintu. Mereka kemudian berbicara setengah berbisik, sehingga Melodi tidak mendengar apa yang diucapkan.

“Kami tidak bermaksud jahat kepada Kakek Wira, justru kami tadi ditelepon diminta beliau untuk menjemputnya.”

Melodi memandang mereka berdua dengan wajah tidak percaya, ia masih merasa khawatir. Tiba-tiba Kakek Wira keluar dari kamar, rupanya ia mendengar keributan di luar.

“Oh, kalian sudah datang,” ucapnya.

Melodi memandang Kakek Wira. “Kakek kenal dengan mereka?”

Kakek mengangguk.

“Melodi, Kakek pulang dulu ya, sekali lagi Kakek ucapkan terimakasih. Sampaikan salam pada mamamu, jangan bangunkan dia, kasihan pasti harus bangun pagi sekali untuk membuat kue.”

Melodi mengangguk.

Kakek Wira mengelus kepala Melodi, kemudian mengikuti kedua lelaki yang telah menunggunya di samping mobil hitam mewah itu.

Melodi melambaikan tangannya, rasanya berat juga melepas Kakek Wira pergi.

----

Pagi sekali Mama sudah heboh membangunkan Melodi, ia langsung menyeret gadis itu ke depan televisi.

“Ada apa sih Ma?” tanyanya sambil menguap.

“Coba kamu perhatikan orang yang sedang diwawancara di televisi itu.”

Melodi mengucek matanya, Kakek Wira?

“Kakek yang kamu tolong itu ternyata bukan orang sembarangan, lihat dia masuk televisi dan diwawancara masalah perusahaan gitu.”

Melodi terpaku melihatnya.

“Untung ya dia sudah pergi dari rumah kita, Mama paling takut berurusan dengan orang-orang penting.”

Melodi menatap mamanya, “Kita ternyata masih harus berurusan dengan Kakek Wira.”

“Memang ada apa?”

Gadis itu berlari menuju lemari belajarnya, lalu mengambil sebuah benda kecil berwarna hitam dan menyerahkan pada mamanya.

“Dompet Kakek Wira tertinggal di atas dipan.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED