Bab 2

Pak Daniel pemilik perusahaan di kantor tempat Mila bekerja dulu sangat senang karena Mila bersedia kembali. Kinerja Mila yang profesional, disiplin, dan jujur membuat Pak Daniel kembali memanggil Mila bekerja disana.

"Terima kasih Mila. Kamu sudah bersedia kembali bekerja di perusahaan ini. Kamu bisa ajukan fasilitas apa yang dibutuhkan. Jangan sungkan," ucap Pak Daniel ramah.

"Saya yang berterima kasih, Pak. Karena Bapak sudah percaya sama saya. Semoga saya bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini," sahut Mila dengan sopan.

Hati Mila sangat bahagia karena akhirnya kini dia bisa kembali menjadi wanita karir. Apalagi, Ibunya sangat mendukung dengan keputusan Mila.

"Bu, alhamdulillah aku diterima kerja lagi. Aku senang banget, Bu," ucap Mila dengan mata berbinar karena kebahagiaan yang membuncah didadanya.

"Alhamdulillah Ibu ikut senang, Nak. Kamu gak perlu khawatir sama anak-anak. Selama kamu kerja, Ibu bisa bantu jaga mereka," ucap Ibu dengan senyum sumringah.

"Terima kasih banyak, Bu. Tapi, Ibu cukup awasi Aldan saja. Karena Nara akan ikut aku ke kantor. Kebetulan di kantor ada tempat penitipan anak. Aku gak mau Ibu kecapekan nantinya," ujar Mila mengusap lembut tangan keriput ibunya.

Bu Laras mengusap sayang wajah anak semata wayangnya.

"Terima kasih, Nak. Kamu selalu perhatian dan sayang tanpa batas sama Ibu. Alangkah beruntungnya Ibu dikaruniai anak sebaik kamu. Almarhum Bapak juga pasti senang sekali melihat kamu bekerja lagi. Karena kami tahu kamu itu sangat suka berkarir."

"Iya, Bu. Terima kasih Ibu selalu dukung Mila. Mila bahagia sekali jadi anak Ibu," ucap Mila memeluk erat tubuh renta ibunya.

*****

Arfan menjemput Mila di rumah ibunya. Mereka kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Mila mengutarakan niatnya untuk kembali bekerja. Awalnya, Arfan sedikit kesal karena Mila sudah menerima tawaran kerja sebelum bicara dengannya terlebih dahulu.

"Aku minta maaf karena gak bilang dulu sama kamu. Tapi, aku sudah sering bilang ke kamu tentang niatku untuk kembali bekerja. Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau berat untuk cari nafkah sendirian?" ungkap Mila.

"Kenapa mesti di perusahaan itu? Kamu mau mengulangi hal yang sama? Kamu diintimidasi oleh dua orang kepercayaan Pak Daniel?" ucap Arfan.

Dulu, ada dua orang kepercayaan Pak Daniel bernama Bu Ina dan Bu Dwi yang sangat iri dengan Mila. Mereka merasa tersaingi karena Pak Daniel selalu memuji hasil kerja Mila. Sampai suatu saat, Mila lelah dengan sikap buruk mereka berdua yang keterlaluan. Mila memutuskan resign meski ditahan oleh Pak Daniel.

"Pak Daniel sudah tahu semuanya. Ternyata gak lama setelah aku mengundurkan diri. Bu Ina dan Bu Dwi dipecat secara tidak hormat. Mereka juga ketahuan menggelapkan dana perusahaan," ujar Mila lembut. Dia bisa tahu kekhawatiran suaminya.

"Anak - anak bagaimana? Nara mau kamu titip ke Ibu? Aldan?" tanya Arfan memastikan.

"Aldan bisa pulang ke rumah Ibu sepulang sekolah. Nara aku titip ke penitipan anak di kantor," ucap Mila.

Mereka mengobrol seperti biasa dan tak ada lagi rasa marah. Mila enggan membahas kejadian di rumah Mas Ilham karena tak mau ribut. Mila memilih untuk diam.

******

Di kantor, Mila dipercaya menjadi sekretaris Pak David. Posisi yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Karena dia hanya lulusan sekolah menengah atas.

"Selamat datang, Bu Mila. Akhirnya, kita bisa kerja bareng lagi," ujar Pak David.

"Terima kasih, Pak David. Saya gak menyangka bisa jadi sekretaris Bapak. Tolong bimbingannya, Pak," Mila tersenyum manis ke arah pria muda berwajah blasteran yang menjadi bosnya.

"Saya yakin Bu Mila pasti mampu. Buktinya, Papa memilih Bu Mila untuk jadi sekretaris pribadi saya," ungkap Pak David.

Saat jam istirahat, Mila turun ke lantai bawah untuk menemui Nara putri kecilnya. Nara adalah anak yang ceria dan aktif. Usianya 2 tahun namun sangat pintar. Celotehnya selalu membuat gemas.

Mila membawakan kue brownies buatannya untuk pengasuh yang ada di sana.

"Bunda," panggil Nara berlari kecil ke arah Mila.

"Anak cantik bunda," sapa Mila memeluk tubuh mungil anak bungsunya.

"Nara suka di sini. Banyak teman - teman," ungkap Nara dengan wajah ceria.

Mila menatap haru buah hatinya yang kini berusia 4 tahun. Anak perempuan yang sangat mirip dengannya. Cantik, pintar, dan ceria.

Seorang anak berusia 1 tahun lebih tua dari Nara datang menghampiri mereka.

"Bunda, ini Lala teman aku," ucap Nara tersenyum senang.

Mila berkenalan dengan anak cantik tersebut. Paras Lala mengingatkan Mila dengan wajah seseorang.

"Salam kenal, Lala cantik," ucap Mila lembut.

"Salam kenal, Tante," sahut Lala tersenyum manis. "Ayah ...," Lala berlari ke arah seorang pria berkemeja navy yang berdiri di belakang Mila.

"Anak cantik ayah," sapa pria tersebut.

"Suara itu? Apa mungkin, ayahnya Lala itu ...," ucap Mila dalam hati. Dia ingin menoleh ke belakang namun tiba-tiba Nara mengajaknya bermain.

Lala menghampiri ayahnya. "Ayah, aku senang sekali bisa punya teman baru. Namanya Nara. Ayah mau aku kenalin?"

Lala melihat ke belakang namun Mila dan Nara sudah tak ada disana.

"Ya sudah, nanti saja kapan-kapan kenalannya. Ayah cuma mau kasih kamu ini," ujar Ayah Lala menyodorkan sebuah boneka baru.

"Terima kasih, Ayah. Lala suka sekali bonekanya," ucap Lala dengan wajah sumringah.

"Alhamdulillah kalau Lala suka. Ayah pamit kembali ke kantor, ya. Nanti kita ketemu lagi. Ayah jemput Lala sama Ibu," ucap Ayah Lala mengecup sayang kening anaknya.

******

Sepulang kerja, Mila menjemput Nara di tempat penitipan anak. Di sana Mila bertemu dengan ibunya Lala yang ternyata bekerja disana. Mereka masih satu gedung hanya berbeda perusahaan.

"Tante Mila," panggil Lala yang menggandeng tangan Nara. Lala berjalan ke arah Mila.

"Lala ... Nara ...," sapa Mila dengan senyum ramah.

"Bunda ...," panggil Lala ke arah seorang wanita seusia Mila yang juga memakai hijab.

Mila menoleh dan tersenyum ke arah wanita itu.

"Tante Mila. Kenalin ini bundaku. Bunda, ini Tante Mila," ucap Lala.

"Saya Mila. Bundanya Nara," ucap Mila menjabat tangan bundanya Lala.

"Salam kenal, Bund. Saya Nita, bundanya Lala. Kerja disini juga, bund? Di lantai berapa?" Tanya Nita ramah.

"Saya di lantai 10. Bunda lantai berapa?" Tanya Mila.

"Aku di lantai 11. Beda satu lantai kita," ujar Nita tertawa kecil.

Mereka tampak mudah akrab. Nita juga meminta nomor kontak Mila. Mereka senang karena Nara dan Lala juga mudah akrab.

Ponsel Nita berdering. Rupanya itu adalah panggilan masuk dari ayah Lala yang sudah berada di luar gedung.

"Suami aku sudah sampai di depan. Kita bareng saja, yuk. Biar kami antar," ajak Nita ramah.

"Kita bareng saja ke depannya. Suami aku juga kebetulan jemput," tolak Mila tersenyum.

Di lobby gedung, tampak seorang pria yang sangat dikenal Mila. Sosok yang meski dalam gelap dia akan mengenalinya. Pria berkemeja navy dengan tubuh tinggi dan bermata sipit. Pria yang selalu membuat jantungnya berdetak lebih kencang.

"Ferdy?" Jantung Mila seakan berhenti sejenak. Sosok yang dipanggil Lala dengan sebutan ayah. Dia adalah cinta pertama Mila.

Berjuta kenangan yang mereka lalui seakan muncul di benak Mila.

"Kenapa aku harus bertemu lagi dengan dia?"

Bab 3

Mila dan Ferdy saling menatap beberapa saat.

"Mila?" ucap Ferdy dalam hati.

Nita yang merasa bingung melihat sikap suaminya dan juga Mila.

"Ayah ...," Lala berlari ke arah Ferdy.

"Iya, sayang," sapa Ferdy meraih tubuh mungil Lala dan memeluknya seperti biasa.

Nita menghampiri Mila yang terlihat kaget bertemu Ferdy.

"Bunda Nara. Kenapa? Yuk, aku kenalkan sama ayahnya Lala," ajak Nita.

Lamunan Mila buyar. "Oh, gak apa-apa, Bund," sahut Mila tersenyum simpul.

Mila mengikuti langkah Nita dengan terpaksa karena Arfan belum juga muncul. Dengan perasaan campur aduk dia mendekat ke arah Ferdy. Pria yang sangat spesial baginya dahulu. Entah apa yang akan dikatakannya di depan Ferdy.

"Ayah, kenalin ini bundanya Nara. Teman baru Lala. Bunda Nara kenalin ini ayahnya Lala," ujar Nita tersenyum ramah.

"Ferdy. Ayahnya Lala," ucap Ferdy tersenyum simpul.

"Mila. Bundanya Nara," ucap Mila tersenyum simpul.

Nita mengajak Mila untuk ikut bersama mereka. Untungnya, Arfan muncul. Mila begitu lega dengan kedatangan suaminya.

"Terima kasih tawarannya. Itu suami aku sudah datang," ucap Mila tersenyum lega.

Arfan turun dari mobil lalu mendatangi isteri dan anaknya.

"Mas, kenalin ini Ayah dan Bundanya Lala," ujar Mila ke suaminya.

Arfan tersenyum lalu menjabat tangan Ferdy dan Nita bergantian.

"Salam kenal, saya Arfan."

Arfan mengajak Mila dan Nara untuk pulang. Mila melirik ke arah Ferdy yang tampak sangat acuh. Mereka layaknya orang asing yang tak saling kenal.

Ada perasaan lega namun kecewa. Karena Ferdy adalah cinta pertama untuk Mila. Meski hubungan mereka kandas 13 tahun lalu.

*****

Di dalam mobil, Mila hanya diam. Tak dapat dipungkiri kalau pikirannya masih tertinggal di lobby kantor. Bayangan wajah Ferdy yang acuh membuat Mila bertanya pada dirinya sendiri.

"Kenapa Ferdy sampai gak ngenalin aku? Dia itu benar-benar lupa atau pura-pura?" gumam Mila dalam hati.

Arfan melirik isterinya yang sedari tadi diam dengan tatapan heran.

"Kamu kenapa? Gak enak badan? 'Kok tumben diam saja?" Tanya Arfan penasaran.

Mila terkesiap dan lamunannya buyar. "Gak apa-apa, Mas. Nara tidur, kamu lagi setir mobil. Ya aku gak mau ganggu saja," sahut Mila.

"Kamu sudah kenal lama sama mereka?" Tanya Arfan.

"Baru saja, Mas. Lala itu teman baru Nara di tempat penitipan anak. Kenapa memangnya, Mas?" Tanya Mila.

"Gak apa-apa. Aku cuma ngerasa gak asing sama ayahnya Lala. Kayak pernah lihat tapi lupa," ungkap Arfan sambil mengingat-ingat.

"Cuma mirip kali, Yah," kata Mila yang tak mau kalau Arfan tahu kalau Ferdy adalah orang yang spesial di masa lalu.

"Bund, rencananya mulai bulan depan aku ditugaskan di Surabaya. Ada cabang baru disana. Aku akan sering dinas luar kota. Bagaimana menurut kamu?" Ungkap Arfan.

"Ya mau bagaimana lagi. Aku dukung apapun keputusan kamu," sahut Mila lembut.

"Oh, ya. Jabatan kamu sekarang apa di kantor?" Tanya Arfan.

"Aku diangkat jadi sekretaris Pak David. Anak sulungnya Pak Daniel," jawab Mila.

Arfan mengernyitkan dahinya. "Kenapa gak di posisi lain saja? Jadi sekretaris itu rawan jadi selingkuhan," ucap Arfan terdengar kesal.

"Maksud kamu apa?" Tanya Mila kesal.

"Aku bicara sesuai fakta yang ada. Banyak kasus perselingkuhan antara bos dan sekretaris," sahut Arfan dengan wajah sinis.

Mila tak membalas ucapan suaminya. Dia mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil. Ada rasa perih dihatinya. Karena suami yang harusnya memberi dukungan malah bicara dengan nada ketus bahkan berburuk sangka.

Arfan yang ditanggapi juga hanya diam dan kesal. "Kamu harus ingat kalau sudah berkeluarga. Jangan macam-macam! Fokus kerja saja," sambung Arfan.

"Iya, Mas," sahut Mila singkat.

Di sisi lain, Ferdy juga memikirkan Mila. Wanita yang pernah hadir dihidupnya. Ada perasaan bersalah ketika dia tak bisa menyapa Mila dengan baik.

"Maaf, Mila. Aku gak bisa menyapa kamu dengan benar. Bahkan pura-pura lupa," ujar Ferdy dalam hati.

"Mas, kamu kenapa? Ada masalah di kantor? 'Kok aku perhatikan diam saja dari tadi?" Tanya Nita mengusap lembut lengan sang suami.

"Gak apa-apa, Nit. Aku cuma agak capek saja hari ini. Banyak kerjaan," sahut Ferdy tersenyum simpul.

"Ya sudah, nanti kamu langsung istirahat saja pas di rumah. Sudah makan?" ucap Nita.

"Sudah 'kok," sahut Ferdy singkat.

"Eh iya, Mas. Aku tuh kayak gak asing sama wajahnya Bunda Nara. Mirip siapa gitu, ya," ujar Nita mengingat-ingat.

Ferdy terkesiap mendengar ucapan isterinya.

"Masa? Kamu sudah pernah ketemu mungkin sama dia."

"Aku baru pertama kali ketemu hari ini, Mas,"

"Semoga Nita gak ingat sama foto Mila yang pernah dia temukan di dalam dompetku," ujar Ferdy dalam hati.

"Bunda ... Ayah ... Lala suka sekali berteman sama adek Nara. Dia lucu dan pintar. Kapan Lala bisa punya adik?" Tanya Lala tiba-tiba yang sejak tadi fokus pada ponsel pintar miliknya.

Nita tersenyum manja ke arah sang suami. Wajah Ferdy juga memerah dengan pertanyaan sang anak.

"Nanti, ya, sayang. Bunda sedang banyak pekerjaan. Lala berdoa saja ya supaya bisa punya adik," ucap Nita lembut.

*****

Menjelang tidur, baik Mila dan Ferdy sama- sama tak bisa tidur. Kenangan demi kenangan saat mereka bersama tiba-tiba hadir. Hubungan mereka memang tak ada status kala itu. Tapi, kebersamaan mereka yang terjalin selama tiga tahun memberi kesan indah dan juga manis.

"Ya Allah. Kenapa kami harus dipertemukan lagi dalam situasi seperti ini? Lala dan Nara berteman. Mau tidak mau aku harus selalu bertemu dengan Nita juga Ferdy. Tak bisa ku pungkiri kalau Ferdy selalu punya tempat khusus di hati ini," ucap Mila dalam hati.

"Kenapa aku harus bertemu lagi dengan kamu, Mila. Susah payah aku pergi menjauh tapi kita ditakdirkan bertemu lagi. Kedekatan anak-anak kita bisa membuat aku dan kamu sering bertemu.

"Mila merasa sedih sekaligus senang. Aku sedih karena kita terpisah oleh dinding kaca yang jika pecah akan membuat luka. Tapi, aku cukup bahagia bisa melihatmu baik-baik saja. Meskipun aku tahu kamu sengaja tak mengendalikan di depan isteri dan anakmu," ucap Mila dalam hati yang tanpa dia sadari air matanya jatuh membasahi pipi.

Teringat saat terakhir kali Ferdy meninggalkannya tanpa alasan. Penantiannya selama enam tahun sia-sia. Padahal sikap Ferdy sangat jelas kalau dia memiliki perasaan yang sama terhadap Mila.

"Kamu adalah orang yang paling aku harapkan kala itu. Tapi, kamu juga orang yang paling menyakiti aku, Mas Ferdy,"

"Maafin aku, Mas Arfan. Aku gak bisa ke dalilnya perasaan ini. Aku gak semestinya memikirkan pria lain selain kamu," ucap Mila mengusap lembut pipi Arfan.

*****

Besoknya, Mila tak sengaja bertemu Nita yang baru saja turun dari mobil bersama Lala. Ada Ferdy juga yang ikut turun untuk mengantar anak semata wayang mereka.

"Bund, itu Kak Lala," ucap Nara menunjuk ke arah Lala dan kedua orang tuanya.

Mila melihat ke arah yang ditunjuk oleh Nara. "Mas Ferdy. Aku harus terbiasa dengan hal ini. Apalagi Nara dan Lala berteman baik. Aku harus bisa menjaga rahasia hubungan kami dulu."

Ferdy melirik keberadaan Mila sekilas sambil menggandeng Lala. Nara berlari kecil menghampiri Lala.

"Kak Lala," sapa Nara dengan senyum cerianya.

Lala meminta sang ayah untuk menggandeng tangan Nara.

"Bunda. Kami sudah seperti adik kakak beneran, ya?" Ucap Lala dengan sumringah.

Nita tertawa mendengar ucapan sang anak. Mila dan Ferdy justru terlihat canggung mendengarnya.

*****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED