Fiona menggelengkan kepala dengan pelan untuk mengusir bayangan tak senonoh yang melintas dalam benaknya. Namun, kepercayaan dikalahkan oleh keraguannya. Dengan hati yang bergejolak tak karuan, dan keringat dingin yang bahkan sudah menjalar di sepanjang garis punggungnya. Fiona menggertakkan gigi. Dia membulatkan tekad sebelum menekan gagang pintu hingga terbuka dengan suara pelan.
Benar saja, suara desahan yang saling bersahut-sahutan terdengar semakin jelas bergema di setiap sudut kamar.
Rahang Fiona hampir jatuh saat melihat dengan jelas bagaimana tubuh suaminya terhubung dengan tubuh wanita lain yang dia yakini sebagai Mbak Zoya itu. Pasalnya, siapa lagi wanita muda yang ada di rumah ini selain Mbak Zoya?
"Love you Mas, love you!" desah kenikmatan meluncur begitu saja dari bibir wanita yang sedang mengerang di bawah suaminya itu.
Benar saja. Ini jelas suara Mbak Zoya. Tidak salah lagi!
Intensnya percintaan dua insan itu membuat mereka tidak menyadari bahwa seseorang sedang mengawasi pergumulan mereka.
"Aku juga cinta kamu Zoya, sudah sejak lama. Sejak kamu belum menikah dengan Mas Agung," balas Mas Jaya dengan suara serak penuh nafsunya.
Deg,
Hati Fiona kian pahit saat mendengar pengakuan cinta mereka. Air mata tanpa sadar menetes dari sudut matanya. Betapa sakit hati yang dia rasa. Jadi selama ini, suaminya mencintai kakak iparnya? Dan apa katanya tadi, sejak kakak iparnya belum menikah dengan Mas Agung? Artinya sejak 7 tahun lalu? Atau bahkan mungkin lebih?
Lalu, posisi apa yang selama ini dia miliki di hati suaminya ini? Tolong jangan bilang dia hanyalah pelarian.
Sesaat, Fiona merasa kehilangan arah. Kepalanya membutuhkan waktu cukup lama untuk mencerna informasi yang dia terima. Dengan latar desahan yang datang silih berganti, perlahan Fiona akhirnya merasa jelas dengan semua situasi yang ada saat ini.
Sambil menggigit sudut bibirnya dengan keras, Fiona menghapus air mata yang membanjiri pipinya. Dia merasa air matanya terlalu berharga untuk ditumpahkan demi pria yang tak tau diuntung seperti suaminya ini.
Jemari Fiona terkepal erat hingga buku jarinya memutih. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa dia akan memergoki suaminya selingkuh. Jantungnya serasa diremas-remas. Tak pernah dalam hidup ini dia membayangkan bahwa rumah tangganya akan disusupi orang ketiga. Padahal dia selalu berusaha melakukan yang terbaik sebagai seorang istri.
Dia belajar memasak demi bisa menjaga perut suaminya. Dia belajar berdandan demi bisa selalu tampil cantik di depan suaminya. Dia bahkan rutin berolahraga dan menjaga pola makan demi mempertahankan tubuhnya agar tetap ramping dan sehat. Dia melakukan semua ini karena tidak ingin memberikan celah bagi suaminya untuk mendua.
Malangnya, dia justru mengetahui bahwa selama ini dia hanyalah pelarian dengan cara yang paling tidak elegan. Sungguh menyedihkan!
Rasa sedih yang tertanam dalam hatinya karena pengkhianatan tiba-tiba berubah menjadi kekesalan. Enam tahunnya yang berharga ternyata hanyalah kesia-siaan semata. Pria yang disebut-sebut suami ini ternyata tidak pernah benar-benar mencintainya.
Suara kulit beradu dengan kulit yang bercampur dengan suara terengah-engah membosankan itu membuat Fiona memutar matanya. Setelah menggiling giginya dengan penuh kebencian, dia melangkah keluar dari pintu dan menutupnya perlahan.
Fiona berdiri di balik pintu yang tertutup rapat itu. Matanya menatap nyalang pada pintu jati yang menyembunyikan sosok keduanya. Rasa-rasanya, cinta yang pernah dia miliki untuk suaminya itu telah lenyap dalam sekejap.
Sebab insiden ini, dia setidaknya harus bersyukur pada Tuhan karena belum menghadirkan anak di antara mereka. Jika tidak, Fiona tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Fiona kemudian memutar otaknya dengan cepat. Dia juga bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah dia akan berpasrah diri disini? Fiona menemukan hatinya meraung tak terima. Dia harus membalas dendam!
Sekuat tenaga, Fiona berusaha untuk menenangkan jantungnya yang bergolak. Setelah memantapkan diri, dia mendorong pintu dengan keras hingga menjeblak terbuka.
Show time!
"M-Mas Jaya!" jerit Fiona dengan sekuat tenaga. Dia memastikan suaranya cukup keras untuk bisa didengar oleh orang-orang di lantai bawah.
Dua tubuh yang masih terjalin itu pun segera berpisah begitu mendengar suara menggelegar Fiona. Buru-buru mereka menutupi tubuh polos mereka dengan selimut.
"Tega kamu, Mas!"
Fiona meraung sambil memeras air mata agar kembali membanjiri pipinya. Dia berjuang sangat keras untuk memberikan tampilan menyedihkan.
"F-Fi-Fiona?" Jaya membisikkan nama Fiona dengan lirih.
Fiona sendiri tidak menanggapi. Dia menunggu selama beberapa saat hingga terdengar suara gema langkah yang sedang menaiki tangga.
"Kenapa kamu mengkhianati aku sih, Mas?" Fiona berkata dengan gamang.
Nadanya terdengar begitu lemah. Hal itu menunjukkan betapa terpukulnya dia ketika melihat suaminya bergelung di bawah selimut dengan wanita lain.
"Ada apa sih rib ... ah!"
Mertuanya menjerit ketika melihat anak dan menantunya bersembunyi di balik selimut yang berantakan. Aroma pekat percintaan masih berputar di dalam kamar. Tidak butuh investigasi lebih lanjut untuk mengetahui apa yang telah dua insan tak bermoral ini lakukan di dalam kamar.
"Ada apa s ... "
Belum selesai kalimat yang ingin diucapkan oleh Mbak Arum, mulutnya telah lebih dulu bungkam. Dia tak kalah terkejutnya dengan sang ibu ketika melihat pemandangan tak senonoh di dalam kamar adiknya.
Sebelum suaminya sendiri sempat memasuki kamar sang adik, Mbak Arum bergegas menarik lengan suaminya menjauh. Dia tidak mau suaminya melihat tubuh polos wanita lain.
"Mas Jaya, kenapa Mas tega sama aku?" lirih Fiona dengan air mata yang semakin berderai. Nadanya terdengar begitu pilu.
"Ak ... "
"Udah cukup! Kalian pakai baju, dan temui ibu di bawah. Segera!" sela mertuanya dengan keras. Dia tidak memberikan kesempatan pada putranya untuk menyelesaikan kalimatnya.
"Bu, Mas Jaya ... "
Fiona hendak menyampaikan keluhannya. Namun, ketika dia menatap mertuanya, harapannya langsung pupus. Dia pikir ibu mertuanya ini akan berada di pihaknya, tapi sepertinya dia salah. Begitu mata mereka bersirobok, dia melihat sorot mata kebencian mertuanya justru dilayangkan padanya. Mulut Fiona segera bungkam.
'Lah? Enggak salah?!' dumel Fiona dalam hati.
* * *
"Kamu juga! ikut ibu ke bawah!" sentak ibu mertuanya pada Fiona. Bahkan nada suaranya terdengar lebih garang daripada saat dia berbicara dengan dua insan yang masih bersembunyi di balik selimut itu.
"M-Mas!" cicit Fiona tak rela.
Dia ingin berjalan mendekati ranjang yang terlihat menjijikkan itu dan menjambak rambut wanita tak tahu malu ini. Namun, cengkraman keras di lengannya membuat Fiona menghentikan langkahnya.
"Ikut Ibu!" desis mertuanya dengan mata melotot tajam pada Fiona.
Akibat kegemarannya membaca novel dan menonton drama, Fiona seolah bisa mengetahui bagaimana sikap yang akan diambil oleh sang mertua. Dari gelagatnya, Fiona yakin tebakannya pasti benar.
Meski jantungnya berdenyut menyesakkan. Fiona harus menahan semuanya. Dia menolak menjadi pihak yang kalah dan menyerah. Tidak peduli apakah dia akan merasa lebih menyakitkan dengan menjalankan rencana ini atau tidak, tapi yang pasti, dia harus membuat para pengkhianat itu menyesali adanya hari ini.
Tidak bisa dibiarkan!
Dia akan membuat seorang Sanjaya Adiguna menyesal hingga ke ruh-ruhnya karena telah selingkuh darinya. Dia akan membuat suaminya itu sadar, bahwa dia adalah istri terbaik yang pernah pria itu miliki.
Gelombang rencana seketika membanjiri kepala Fiona. Dia akan menunjukkan bagaimana dia menghempas suaminya ini. Nanti, begitu sang suami mulai menunjukkan gelagat penyesalan. Tunggu saja!
Sudut bibir Fiona berkedut samar. Dia berusaha untuk menahan agar antusiasme akan rencana yang baru saja berputar dalam kepalanya tidak sampai bocor keluar.
Dengan patuh, dia kemudian mengikuti langkah sang mertua menuju lantai bawah. Dia menuruni satu demi satu anak tangga dengan langkah gamang. Sorot mata kasihan yang paling dia benci pun menyambutnya di ruang keluarga.
"Fi, kamu baik-baik aja?"
Pertanyaan Mbak Arum membuat Fiona kembali memeras air matanya. Namun, dalam hati dia mengomel.
'Menurut ngana aja?'
"Mbak, kenapa Mas Jaya tega melakukan ini sama aku sih?" Fiona menyerut hidungnya. Dia kembali menangis tersedu.
"Ini juga salah kamu. Apa Ibu bilang 'kan? Kamu tuh gak becus urus rumah, dan urus suami! Kalau aja kamu dengerin kata Ibu, suami kamu gak mungkin selingkuh!" sentak Ibu dengan marah.
Benar-benar, kalimat ini membuat Fiona langsung kehilangan kata-kata. Bibirnya sampai tidak bisa lagi dikatupkan saat melihat kemarahan mertuanya yang begitu menggelegak. Bah, mana kemarahan itu ditunjukkan untuknya pula.
"Lagian kamu kenapa sih masuk ke kamar orang tanpa izin?"
Fiona menelan ludahnya yang terasa pahit. Tenggorokannya menjadi kering dengan hanya mendengar pertanyaan ini.
Inilah alasan kenapa dia menyebut ibu mertuanya tidak masuk akal. Jelas-jelas di sini dialah yang menjadi korban. Tapi kenapa dia masih dipersalahkan?
"Bu ... " sapaan yang datang dari atas tangga membuat suasana ruang keluarga segera jatuh dalam keheningan yang ambigu.
Mas Jaya dan Mbak Zoya yang telah berpakaian rapi menuruni satu demi satu anak tangga sambil bergandengan tangan. Tampaknya mereka mulai berpikir bahwa tidak ada gunanya lagi menyembunyikan hubungan mereka.
"Kalian duduk!" perintah mertuanya pada kedua orang itu sambil menunjuk sofa panjang di depannya dengan dagu. Meski terdengar tegas, tapi nada suaranya sudah jauh lebih lunak.
Cih. Fiona mendecih dalam hati ketika melihat perlakuan mertuanya yang berbanding terbalik terhadapnya.
Mas Jaya dan Mbak Zoya duduk bersisian di sofa panjang dengan patuh. Mereka bahkan tidak melirik Fiona yang terlihat mengenaskan. Sorot mata tegas mereka hanya menatap pada sang mertua yang sejak tadi hanya menghela nafas lelah.
"Lalu apa rencana kalian?"
'Nah, kan?' Fiona mendengus dalam hati kala mendengar intonasi lembut ibu mertuanya itu.
Meski sudah menduga bahwa sang mertua tidak akan mungkin berada dipihaknya. Tetap saja hati Fiona meradang. Kemarahan serasa sudah sampai di ubun-ubunnya. Namun, dia enggan melampiaskannya. Dia akan tetap bermain anggun. Dia akan membuat mereka merasa menang, kemudian membuat mereka jatuh sejatuh-jatuhnya. Lihat saja, dia bahkan tidak akan membuat hidup mertuanya ini aman, damai, apalagi sejahtera.
Dia pasti akan membuat suami dan mertuanya ini berlutut meminta kesediaanya untuk kembali menjadi keluarga. Dia akan pastikan hal itu benar-benar terjadi.
Apakah kalian pikir dia kejam? Tak mengapa. Dia tidak peduli. Dia akan tunjukkan bagaimana kejam yang sesungguhnya.
"Bu, Jaya mencintai Zoya. Jaya ingin menikahi Zoya." suaminya berkata dengan tegas. Menatap lurus ke manik mata tua ibunya.
Alis Fiona berkedut mendengar permintaan suaminya ini. Sepertinya memang benar, bahwa dalam hati pria ini dia tidak pernah memiliki arti. Begitu keras usaha Fiona untuk menumpahkan air matanya, tapi pria ini sama sekali tidak memiliki niat bahkan hanya untuk meliriknya.
"Zoya...?"
* * *