Butuh beberapa minggu untuk menjadi utuh. Oh ... bukan, mungkin lebih tepatnya adalah berpura-pura utuh. Lona bahkan melewati minggu-minggu itu tanpa rasa ingin tahu. Dia menutup mata dan telinganya dari realita yang sedari kapan lalu mencoba mengganggu.
Sang bunda yang selalu mengajaknya bicara juga Mama, orang tua Hava, yang selalu berusaha membujuknya, Lona acuhkan begitu saja. Seolah-olah kalimat mereka hanya menggantung di udara tanpa sampai pada dirinya. Lona bahkan melewatkan momen-momen pencarian badan pesawat yang nyatanya hanya berupa puing-puing saja.
Ada Hava? Tidak, tentu saja.
Rasanya, Lona ingin mengelak dan lari. Berharap semua adalah ilusi. Tapi, kakinya kini justru bertumpu pada tanah di samping makam yang nisannya bertuliskan nama sang tunangan, Barra Ahava. Tanpa raga utuh yang terkubur di dalam sana.
Katanya itu tangan Hava. Sial ... Lona ingin tertawa saja. Bagaimana bisa tubuh sang tunangan hanya berupa tangan? Kemana yang lainnya? Diawetkan? Atau justru akan dijadikan pajangan di museum yang bertuliskan, 'Salah satu korban dari kecelakan pesawat Airness Asia.'
Lona kira kebahagiaan yang selama ini rekat dikehidupannya adalah gambaran dari masa depan. Tapi ternyata, itu cuma bagian dari masa lalu yang Lona sendiri tidak yakin akan hapus dalam ingatan.
Lona tatap gundukan tanah dihadapannya itu. Setidaknya, ia ingin tatap wajah Hava untuk terakhir kalinya. Membelai paras rupawan yang biasanya selalu penuh tawa dan cium keningya. Setidaknya itu yang Lona ingin, sebelum benar-benar berpisah dengan laki-laki yang selalu bawa terang pada hidupnya.
Tapi, yang ditemukan justru hanya berupa tangan yang sudah putus dan tak lagi berbentuk utuh. Jari-jemarinya bahkan hanya tersisa tiga. Meski ada cincin dengan inisial L yang tersemat di jari manisnya, rasa-rasanya Lona tak ingin percaya.
Mungkin saja ada yang menemukan cincin itu jatuh tergeletak lalu memasangkannya pada jari manis dari tangan yang ditemukan.
Bisa saja, bukan?
Tapi percuma mengelak, realita apapun yang berusaha Lona tampik nyatanya justru berbalik dan memukul Lona lebih keras lagi.
Karena pada akhirnya, Hava memang sudah mati, hilang dan tak bisa Lona temui raganya lagi. Matanya bahkan sudah sangat kering, tak ada lagi tangis yang pecah selama proses pemakaman.
Ikhlas? Tidak tentu saja. Lona hanya merasa hilang hingga tak tau lagi harus keluarkan emosi semacam apa.
Suara langkah kaki tertangkap di telinga Lona. Dengan cara yang tak lumrah, Lona rasakan dadanya seperti terhimpit besi tak kasat mata ketika matanya tangkap banyak orang mulai berdatangan dan berkerumun untuk menghampirinya. Sesak, Lona tak suka.
Dan sebelum orang-orang itu sampai, Lona lebih memilih berbalik lalu pergi meninggalkan pemakaman dan disusul oleh Bundanya dan kedua orang tua Hava. Lona sepenuhnya lupa akan konsekuensinya; dicaci dan dimaki.
Langkahnya berhenti di sebuah pohon rindang dengan bunga kuning yang bermekaran. Sama sekali tak ada cahaya yang menyelinap, buatnya rasakan tenang tak terkira.
"Sayang." Panggilan selembut sutra itu tertangkap oleh telinganya. Lona menoleh, menatap sang bunda yang kini menatapnya dengan tatapan kelewat sedu.
"Lona menyedihkan ya, Bun?"
Tak ada tanggapan dan justru dekapanlah yang Lona dapatkan. Sang bunda mendekapnya erat, memberinya kalimat-kalimat penguat yang sama sekali tak berfungsi bagi Lona.
Tidak, bukan karena tak menghargai, tapi dirinya sudah terlanjur patah hati. Perih yang rekat di hati, sama sekali tak membuat Lona jerih. Dirinya bahkan makin terjatuh dalam lubang gelap yang membuat dirinya makin terlihat pedih.
"Itu beneran Hava, Bun?"
Masih ada penyangkalan disetiap kata dalam kalimatnya. Dan bisa apa sang bunda, selain hanya terus mengucap, "Tenang ada Bunda di samping Lona."
Tak lama setelah kallimat itu, suara Mama Hava terdengar, buat Lona mau tak mau lepaskan dekapan Bundanya dan alihkan atensinya.
"Sayang, mampir ke rumah dulu ya, nak? Mama mau kasih kamu sesuatu."
Tawa terselip di alam bawah sadarnya, menertawakan betapa miris kehidupannya. Dia baru ingat, bukankah setelah ini, ia tak lagi bisa panggil wanita paruh baya dihadapannya ini dengan sebutan Mama?
"Lona tetep panggil Mama dengan sebutan Mama ya, nak?" Dan pikirannya ternyata berhasil dibaca.
Lona kira perih yang tadi menghimpit dadanya sudah raib, tapi nyatanya makin dijepit; perih dan sakit. Bagaimana mungkin, Lona bisa lupa jika keluarga Hava berisi orang-orang baik, sama seperti Hava.
Sosok laki-laki yang Lona rasa tidak akan pernah raib dari ingatannya.
Lona mengangguk untuk jawab ajakan Mama Hava. Langkahnya dituntun, dia menurut dan ikut. Tak tahu apa yang akan ditunjukkan, tapi firasatnya berkata, itu tentang Hava.
Selama perjalanan, Lona memilih untuk pejamkan mata. Hindari cahaya yang masuk dari celah jendela mobil yang membawanya.
Entah apa yang salah, Lona sama sekali tak mengerti, tapi setiap kali matanya tangkap cahaya, dia selalu ingat tentang kepergian Hava saat itu juga.
"Ayo turun, kita masuk ya, nak."
Langkahkan kakinya pelan, Lona singkirkan ragu yang coba menjeratnya.
Dan ketika pintu dibuka, hening ... tak ada lagi yang menyambut kedatangannya seperti hari-hari sebelumnya.
"Hai, sayang. Kok nggak ngomong mau ke sini."
"Hai, cantikku. Sini masuk, gimana harinya hari ini?"
"Hai, Lona aku, apa aja yang kamu lewatin hari ini, ada yang ganggu perasaan kamu, nggak?"
"Lona Lona Lona, Lona cuma punya aku!"
"Sayangggg! Masa Mama mukul aku!"
"Lona ihhh, aku capek tau hari ini, berat banget, masa sama Pak Dosen aku disuruh revisi terus."
Kalimat-kalimat itu terngiang, masih segar dalam ingatannya bagaimana Hava selalu sambut dirinya. Memanggil namanya, mengakuinya, mengadu dan mengajaknya bercerita.
Hava selalu berikan dekapan erat tanpa ia minta, berikan usapan-usapan lembut dikepalanya dan ucapkan kata-kata sayang untuk menenangkannya. Hanya Hava yang selalu bisa jadi obat untuk lelahnya.
Satu tetes air mata lolos, Lona kira dia akan terbiasa. Tapi ternyata, menginjakkan kaki di tempat yang menarik kembali ingatannya tentang Hava mampu buat hatinya berjerit ngilu. Perih dan sakit. Lona tak bisa.
"Ma, Lona di sini aja ya? Lona belum siap buat pergi ke kamar Hava."
Dan bisa apa sang Mama selain mengangguk menyetujuinya?
Lona bawa langkahnya menuju sofa. Duduk di sofa yang selalu ia duduki bersama Hava tiap kali ia berada di sini. Terselip tawa dibatinnya, rasa-rasanya semua tempat ada sosok Hava.
Lona rindu sosok Barra Ahava, disampingnya, dengan raga utuh yang bisa merengkuhnya kapan saja.
Kini dirinya terluka, Hava. Sangat-sangat terluka. Dan harus bercerita pada siapa? Siapa yang akan mendengarnya kali ini? Tidak ada. Tidak ada. Tidak ada.
Lona mengulang kalimatnya sebanyak tiga kali, dia tak bisa lagi, berdiri dengan kakinya sendiri ketika separuh jiwanya pergi.
"Ini ponsel Hava." Kalimat itu menarik kembali seluruh kewarasan Lona.
Matanya bersitatap dengan sang Mama dan beralih pada benda pipih yang Mama sodorkan padanya.
Itu ponsel lama Hava.
"Mama nggak tau isinya apa. Tapi, ada note di ponselnya, sayang. Ini untuk Aalona Xiomara dan Mama cuma pengen ngasih itu ke kamu. Mama pengen nyampein apa yang emang Hava mau. Diterima ya?"
Tangannya bergerak, menerima dan menggenggamnya erat-erat.
'Sakit ... Hava. Sangat sakit, kenapa kamu harus pergi?'
Satu minggu berhasil Lona lewati tanpa hadirnya sosok laki-laki yang ia cintai. Meski satu minggu itu penuh dengan batu sandungan, tapi Lona berusaha untuk tetap tegap berdiri di atas kakinya sendiri.
Benda pipih pemberian Mama Hava hanya tergeletak tanpa daya di atas meja. Lona kira ia sanggup buka ponsel Hava saat itu juga. Tapi tidak, dia justru tak memegangnya hingga satu minggu lamanya.
Ia bawa langkah kecilnya menuju meja, menarik kursi dan duduk di sana. Ponsel warna silver dengan inisial H&L di cassingnya. Lona jelas ingat, Hava bilang ponselnya hilang entah kemana, makanya tunangannya itu beli yang baru.
Tapi, laki-laki itu bohong, karena ponsel itu kini justru berada digenggamannya.
Nyeri, dadanya seperti terhimpit benda tajam tak kasat mata, lagi. Sudah satu minggu, tapi Lona masih tak bisa terbiasa dengan rasa nyeri di dada yang sering hampiri. Asing, semua rasa yang Lona terima secara dadakan itu buatnya linglung tanpa henti.
Mata coklat terangnya tatap ragu ponsel ditangannya itu, seperti mau dan tidak mau untuk buka lockscreen ponsel itu. Tapi, ibu jarinya tetap bergerak pelan, tekan tombol untuk nyalakan, hingga buat tangan kirinya remas kuat celana bahan yang sedang menempel pada tubuhnya.
Lockscreen ponsel itu berhasil kejutkan Lona dalam sesak. Ada Hava dan dirinya yang sedang tersenyum menatap kamera. Foto mereka tiga tahun yang lalu, saat dimana laki-laki itu nyatakan rasa suka padanya.
Senyum yang mengembang diwajahnya tunjukkan raut senang, tapi matanya tak akan pernah bisa berdalih, ada pedih yang terselip dari redup matanya yang kini berair.
Lona usap paras Hava yang ada di layar ponsel itu, langitkan kata-kata rindu yang ia harap mampu buatnya tenang meski dadanya rasakan sesak tiba-tiba. Tak sadar, jika usapan pelan itu buat kunci layar terbuka dan tampilkan wallpaper bertuliskan ‘Hai, Lona sayang, ini Hava. Apa kabar?’
Buat satu tetes air mata lolos begitu saja.
Telapak tangan kirinya makin remat kain bahan pada celana yang ia pakai hingga sengaja sentuh daging pahanya sendiri dan pasti akan timbulkan bekas keunguan nanti.
Tapi, Lona sama sekali tak peduli. Perempuan itu lebih memilih untuk gulirkan layar ponsel dan mulai cari apa yang ingin Hava beri tunjuk.
Hanya ada dua aplikasi di ponsel canggih itu, galeri dan aplikasi obrolan. Jari-jemarinya bergerak gelisah, sebabkan telunjuknya tak sengaja tekan galeri dan buat aplikasi itu terbuka.
1111.
Angka itulah yang berhasil Lona tangkap untuk pertama kalinya. ‘My Coffe’, nama satu-satunya folder yang ada buatnya mau tak mau tekan untuk membuka.
Fotonya dan Hava. Entah bagaimana cara tunangannya itu untuk kumpulkan semua, tapi Lona bersumpah semua foto itu buatnya ingin lari ke makam sekarang juga. Dia ingin peluk laki-laki itu dan adukan seluruh resah dan sakit yang ia alami akhir-akhir ini.
Tapi, tidak, Lona tak bisa lakukan itu sekarang. Dan perempuan itu memilih untuk menutup galeri karena tak ingin buka kenangan untuk saat ini.
Tangannya bergerak pelan, tekan aplikasi obrolan dan menunggu hingga aplikasi itu terbuka.
Dan semua yang tampil di layar ponsel itu buat rasa keterkejutannya makin meronta. Mulutnya terbuka, seakan-akan hendak ucapkan kata tapi suaranya tercekat dan hanya menggantung di langit-langit mulutnya.
Kenapa hanya ada nomor ponsel lamanya yang sudah mati di sana? Dan Lona jelas tak bodoh untuk bisa lihat ada percakapan di dalamnya.
Meski ragu kuasai, Lona beranikan diri untuk tekan pesan obrolan itu dan menggulirnya hingga obrolan paling atas, dia ingin tahu apa yang selalu tunangannya kirim untuk dirinya melalui nomornya yang sudah lama mati itu.
+6289xxxxxxxxx
11-12-2019
(Hai, Aalona, perempuan yang sudah buat Hava rasakan nyaman sebegininya.)
(Apa kabar?)
(Hava mau, u do well yahh, karena Hava tau, Lona pasti selalu lakuin yang terbaik untuk diri Lona sendiri.)
(Lona, waktu kamu udah bisa buka pesan ini, itu pasti waktu aku udah nggak ada sama kamu, karena emang aku ingin kamu lihat ini sampai pesan paling akhir yang aku tulis di sini.)
(Jadi … selamat berkelana yah. Aku nggak tau bakal nulis apa, tapi aku harap tulisan ini bisa sampai di tangan kamu nantinya.)
11-01-2020
(:p)
(Wkwk. Gajelas banget ya, aku?)
(Tapi, aku mau cerita hari ini.)
(Kamu cantik bangettt, sksksahfkjlka.)
(Gila, aku sampek tremor tau waktu ketemu tadi, haha. Keliatan pasti ya?)
(Emang cupu sih, aku. Nggak mau muji langsung, masi ngerasa awkward, padahal udah sebulan pacaran, wkwk.)
(Tapi, gapapa.)
(Sebenernya, kamu tuh cantik tiap hari tau, tapi hari ini beda aja, auranya keluar semua, hahha.)
(Hava sayang kamu, Lona.)
(Aduh skksakahakk makin ngalor ngidul ketikannya.)
(Bai.)
11-02-2020
(Apa kabar cantik?)
(Tadi siang kamu cerita kalau kamu lagi sebel sama dosen kamu.)
(Katamu, dosenmu galak dan kamu nggak suka.)
(Haha.)
(Lucu.)
(Selalu lucu.)
(Mau nggak jadi pacar aku?)
(Ehh … tapi, emang kamu punya aku sih dan selalu punya aku.)
(Selalu.)
11-03-2020
(Hai, sayang.)
(Hari ini, aku capek bangettt.)
(Tadinya mau cerita sama kamu, tapi kamunya lagi di luar kota sama Bunda.)
(Aku, nggak mau ganggu.)
(Tapi, capek Lona.)
(Hari ini banyak banget cobaannya.)
(Kayak semua yang aku lakuin tuh nggak pernah bener.)
(Kacau, Na.)
(Semua kacau dan nggak sesuai sama ekspektasi aku.)
(Apa emang karena ekspektasi aku yang terlalu tinggi ya?)
(Andai aja kamu disini, cantikku.)
(Pasti udah aku peluk sama uyel-uyel.)
(Kamu tau, ‘kan? Kamu adalah obat paling manjur buat bisa tenangin aku.)
Brak! Lona balikkan ponsel itu ke meja dihadapannya.
Ia tak bisa untuk lanjutkan membaca. Rasa nyeri didadanya tak main-main, buat lolos air matanya tanpa henti. Lona sakit, jelas sangat kesakitan karena terlalu paksa diri untuk kuat yang jelas belum ia temui.
Air mata yang Lona kira sudah kering bahkan mengalir deras tanpa henti. Tangannya bergerak cepat, pukuli dadanya yang rasakan sesak. Beri stimulasi pada dirinya sendiri bahwa ia akan baik-baik saja.
Beri tau pada alam bawah sadarnya untuk tetap baik-baik saja.
Lona tak pernah sangka, bahwa Hava akan lakukan hal sedemikian rupa dalam diamnya. Ia tak pernah mengira, bahwa Hava selalu kirim pesan pada dirinya setiap bulannya.
Kenapa? Kenapa tak sampaikan pesan-pesan itu langsung kepadanya. Kenapa harus kirimkan pesan itu pada nomornya yang sudah mati hingga tak sampai padanya.
Apa memang begitu cara laki-laki itu tinggalkan jejak hingga buat Lona rasakan sakit sedemikian rupa?
Rasa-rasanya Lona ingin tertawakan isi kepalanya yang makin tak waras dari hari ke hari.
***
Note: Tanda '()' adalah penunjuk pesan.