SUAMIKU TERNYATA SULTAN 2
"Sabar ya, Dek."
Semua orang langsung tertawa mengejek, saat Mas Adnan memanggilku dengan sebutan dedek.
"Abang, Adek. Cihh! Ga pantes banget tahu!"
Aku menghela nafas berat, rasanya muak terus meladenin orang-orang seperti ini.
"Bang, kita masuk ajalah! Jangan dengerin mulut c o m b e r a n mereka," ucapku.
Mereka semakin bersungut-sungut, Menghina dan mengejekku. Namun, tak ku gubris lagi.
Aku berlalu meninggalkan mereka, dan menarik tangan Bang Andan.
Namun pria itu malah menatapku, dengan binar kekaguman di matanya.
Aduh aku kok jadi salah tingkah di tatap kaya gitu. Padahal wajahnya tidak tampan tapi mampu membuatku dag-dig-dug seer.
"Kamu jangan dengerin omongan mereka," ucapku sambil meneliti wajahnya.
Andai tak terhalang dengan kulit yang hitam, dan bertompel di wajahnya. Dia pasti sangat tampan.
Dengan wajah oval, alis tebal, bibirnya sedikit tebal. Namun, terlihat seksi dengan bola mata biru yang tampak indah sera tubuh tegap di sertai otot-otot di lenganya.
Hanya saja kekurangannya memiliki kulit hitam dan bertompel.
"Iya."
Sejauh ini aku mengenal Mas Adnan. Orangnya begitu pendiam dan irit dalam berbicara.
"Neng kamar kalian di depan, kamar yang ini sempit kalo buat dua orang." ujar Ibu Ranti~lbu Puspa.
Wanita itu tersenyum bahagia melihat kedua pengantin baru itu.
"Iya, Bu."
Kami berjalan ke kamar yang di tunjukan oleh ibu. Di sana rasa canggung langsung menghampiri perasaanku, dua orang asing yang terikat oleh pernikahan berada di dalam satu kamar.
"Emm ... Aku mau ganti baju dulu," ucapku semoga saja pria itu peka.
Aku, dan Bang Adnan sudah sepakat jika di hadapan orang lain. Panggilan kami akan berubah menjadi Adek atau Abang.
Tapi jika sedang berdua saja. Aku rasa kami akan memanggil dengan aku dan kamu, karena tak mau membuat Ibu curiga.
"Ya, ganti baju aja." jawabnya santai.
"Maksudnya kamu bisa keluar dulu, tidak."
"Tidak!" Aku langsung membulatkan mataku.
"Maksudnya kamu ganti baju aja. Saya mau mandi, jadi ga perlu keluar."
Aku menghela napas lega mendengarnya. Setelah itu Bang Adnan masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamar ini.
Kamar ini memang luas dari kamarku yang dulu, di dalam sini juga sudah komplit dengan kamar mandinya.
Dulu ini adalah kamar Ibu dan almarhum Bapak. Namun, karena aku sudah menikah maka ibu menyuruhku untuk pindah kesini.
Sambil melepaskan asesoris yang berada di kepalaku. Aku terus memikirkan bagaimana nasib pernikahanku yang tidak ada cinta di antara kami.
' Apa aku harus mulai belajar mencintai Bang Adnan yang sekarang sudah menjadi suamiku. Sepertinya itu akan sulit bagiku, mengingat wajah yang ahh ... Puspa walaupun bagaimana pun dia adalah suamimu.
Lamunanku buyar, saat bang Adnan keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk kecilnya di pinggang.
"Arggggggggg!"
Aku berteriak, bukan karena melihat hantu. Tapi, melihat pria yang baru saja keluar dari kamar mandi itu, tubuh berkulit belang seperti Zebra.
'Kenapa ibu menjodohkanku dengan siluman Zebra. Kulit wajahnya hitam, tetapi tubuhnya putih dan berotot. Semoga la tak meminta haknya,' batinku bergidik ngeri saat membayangkannya.
"Puspa! Ada apa Nak? Pus, kamu baik-baik saja?" teriak Ranti ibu Puspa khawatir.
"Tidak ada apa-apa, Bu." Lirihku.
Aku lemas dan hanya bisa pasrah menerima pernikahan ini.
'Kenapa Ibu menghukum anakmu dengan cara seperti ini? Ibu bilang tidak apa-apa jelek asal hatinya baik. Tapi, gak belang kaya gini juga,' batinku.
"Kaget ya melihatku?"tanyanya.
"E-engak."
"Masa? Biasanya orang yang melihatku, akan menganggapku sebagai siluman kuda lumping," ucapnya sambil tersenyum.
Aku begitu gugup tapi juga takut saat ini.
"Saya mengantuk, mau tidur dulu." ucapku.
Aku memilih untuk tidur saja dari pada terus membayangkan hal yang tidak-tidak.
Kuharap dia tak melakukan apapun padaku.
Aku langsung merebahkan diri di atas kasur, lalu menutup seluruh tubuh dengan selimut tebal. Namun, kepalaku terus mengingat bentuk tubuh Bang Adnan yang sekarang sah menjadi suamiku.
Seperti ada yang aneh dengan dirinya. Mengingat wajah dan tubuhnya benar-benar tak singkron begitu berbeda antara muka yang hitam, tetapi kulit tubuhnya yang putih dengan otot-otot yang begitu sempurna.
'Apa benar dia siluman kuda lumping?' batinku.
____
"Ciee .... Ada pengantin barunya si buruk rupa nih!"
"Mana suami jelekmu? Panggil dong. Aku penasaran seburuk apasih wajah suamimu itu," seru Wulan~Anak dari Uwa Rosid dan Bi Ningsih.
"Eh, Puspa! Itu rambut pagi-pagi sudah basah memang semalam habis belah duren?" tanya Bi Ningsih.
'Hadeh Ibu dan anak ini, pagi-pagi sudah berkokok.
"Bersambung
"Ciee... Ada pengantin barunya si buruk rupa!"
"Mana suami jelekmu? Panggil dong, aku penasaran seburuk apasih wajah suamimu itu" Seru Wulan~Anak dari Uwa Rosid dan Bi Ningsih.
"Eh, Puspa! Itu rambut pagi-pagi sudah basah, memang semalam habis belah duren, Ya?" Ucap Bi Ningsih.
'Hadeh Ibu dan anak, pagi-pagi sudah berkokok.
"Gak jijik apa sama mukanya? Terus itu tubuh suamimu ga korengan, kan?" Tanyanya lagi.
Aku sengaja membasahi rambut hari ini. Karena tak mau ibu curiga jika pernikahan kami memang tidak baik.
"Bu, emang suami si Puspa kaya gimana sih?"
"Namanya Adnan. Wajahnya jelek, kulit nya item dakian, kaya pant*t panci, tambah di pipinya ada tompel segede t*i cicak."Jelas Bi Ningsih.
"Issss.. mau gitu kamu di perawanin sama tuh cowok, Pus. Ga akan sudi! Lebih baik ku racuni dia!" Ucap Wulan dengan wajah mengerigidik jijik.
"Ya mau lah. Si Puspa kan ga beda jauh jelek, sama suaminya" Ucap Bi Ningsih di sahut tawa oleh anaknya.
Aku memutar bola mata malas. Membuka warung sembako sepagi ini, bukanya dapat pelanggan eh malah dapat hinaan.
Dan mereka memang selalu rutin datang sepagi ini, karena tak mau sampai ada orang lain tahu, bahwa mereka selalu mengambil barang sembako di warungku.
"Pus, Bibi mau ambil itu minyak 2 liter, beras 5 liter, sama telur sekilo" Pinta Bi Ningsih.
Aku langsung membungkus yang di pinta Bibi. "Uangnya dulu" Ucapku Saat aku akan menyerahkannya.
"Apa-apaan sih kamu! Sama saudara sendiri harus bayar" Sewot Bi Ningsih
"Ya haruslah! Kan aku jualan ini pake modal, pake uang bukan pake daun, jadi harus di bayar biar uangnya muter" Ucapku.
"Halah cuma jualan warung sembako kecil kaya gini aja, gayanya selangit" Bela Wulan untuk ibunya.
"Wajarlah! Dari pada kalian udah minta, gayanya songong banget. Dasar ga tahu diri"
"Apa kamu bilang!" Sewot Wulan, tubuhnya sampai maju ke depan.
"Jangan berbelit-belit, cepat sinikan belanja, Saya." Pinta Bi Ningsih ngotot.
"Puspa, siapa di depan? pagi-pagi sudah ribut-ribut?"Tanya Ranti yang keluar karena mendengar kegaduhan di warung rumahnya.
"Eh Ranti! Ajarin sopan santun tuh anakmu, sama orang tua kok kurang ajar banget"
"Memangnya Puspa kurang ajar bagaimana, Ning?" Tanya Ibuku.
"Dia ga mau ngasih Itu belanjaan saya, eh malah nyuruh saya bayar. Aku ini kan Bibinya, masa sama saudara sendiri harus bayar."Ujar Bi Ningsih dengan percaya diri.
"Ya memang harus bayarkan, Ning?" Tanya balik ibuku.
"Kamu ini sama saja sama anak mu. Sama-sama ga punya o t a k, wong sama saudara sendiri perhitungan"Kesal Bi Ningsih.
"Dasar keluarga pelit bin medit" Seru Wulan.
Gadis ini, mulutnya memang sebelas dua belas dengan ibunya. Sama-sama pedes tingkat dewa.
"Kasih ajalah, Pus. Mungkin mereka ga ada uang, makannya ga sanggup bayar" Ujar Ibuku melirik Bi Ning lalu pergi begitu saja.
Aku hanya tersenyum, melihat wajah memerah kedua wanita itu, ibu memang bisa sekali membalas mulut Bi Ning, dengan cara yang elegan.
"Nihhh.. aku kasih, masih butuhkan?"Ujarku santai.
Tangan Wulan langsung merebut plastik hitam, yang tadi ku pegang.
"Ayo, Bu. Kita pulang!" Ajak Wulan drngan wajah misuh-misuh.
Aku tersenyum puas.
"Makanya kalo masih butuh sembako gratisan, jangan suka menghina orang. Susah sendirikan kalo kalian ga bisa makan!" Tekanku.
"Dasar sombong kamu, Puspa. Lihat saja"
Bersambung.