"Mama jadi mau pergi hari ini ketemu sama sahabat Mama?" tanya Arthur pada mamanya yang baru selesai sarapan.
Mama Arthur melihat sekilas pada anaknya dan melanjutkan meminum airnya yang sisa sedikit di dalam gelas. "Iya, dong. Mama 'kan sudah janji ketemuan hari ini sama sahabat mama. Sudah hampir satu bulan mama tidak bertemu dengannya. Karena hari ini mama ada waktu senggang, makanya mama ngajakin dia ketemu hari ini. Mumpung kamu juga gak sibuk hari ini buat ngantar mama," jawab mama Arthur dengan semangatnya.
Hening sejenak. Tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Hanya ada monolog di antara masing-masing mereka. Arthur begitu senang, karena dengan mamanya ketemuan dengan sahabatnya, Arthur secara tidak terencana juga akan bisa menatap gadis pujaan hati.
"Sebenarnya hari ini aku ada jadwal keluar kota. Terpaksa bohong pada mama supaya bisa ketemu bidadariku ... May, aku rindu padamu. Semoga kamu juga ikut dengan ibumu, agar aku bisa menatap indahnya wajahmu dan manisnya senyumanmu. Suara merdumu yang selalu membayangiku, membuat aku selalu rindu ingin mendengarnya kembali. Semoga saja kamu benar-benar ikut dengan ibumu, agar aku bisa melepas rindu walau hanya secara diam-diam," batin Arthur penuh harap.
Tidak disadari oleh Arthur, ternyata senyuman tipis tercipta di bibirnya mengantarkan raut bahagia. Mama Arthur yang melihat anaknya berbinar bahagia seperti itu, sudah bisa menebak kalau Arthur lagi bahagia karena akan bertemu Maya.
"Kapan kamu akan menyadari kalau aku sangat mencintaimu, May. Aku benar-benar pengecut untuk mengungkapkan rasa ini. Aku sadar diri, kamu tidak akan mau dengan pria jelek sepertiku. Akan tetapi, rasa ini tidak mau pergi, selalu menyiksaku untuk terus merindukanmu. Huff ... benar-benar tersiksa dalam belenggu rasa yang terus menguasai hati ini," Arthur terus membatin, menelah rasa cintanya yang kian semakin besar untuk Maya.
"Ar, mama siap-siap dulu, ya. Ini sahabat mama mengabari kalau dia sudah sampai di tempat janjian kami," ujar mama Arthur memecah lamunan anaknya.
"Berapa orang dia, Ma? Maya ikut gak?" tanya Arthur cepat yang langsung keluar pertanyaan itu dari mulutnya.
Mendengar pertanyaan anaknya, Mama Arthur tertawa meledek. Dia sudah yakin kalau Arthur sudah tidak sabar ingin bertemu Maya karena rindu. Diam-diam, mama Arthur sering membaca buku diary anaknya yang setiap lembar buku itu berisikan curhatan rasa cinta dan kerinduannya pada Maya.
"Emm, maksud aku … karena Mama melalaikan waktu ketemuannya, kalau sahabat Mama di sana sendirian 'kan bisa bosan menunggu. Akan tetapi, kalau dia bawa anaknya 'kan bisa ngobrol atau makan bareng anaknya dulu. Mama jangan ngeledekin aku begitu," ujar Arthur beralasan karena salah tingkah di tertawakan mamanya.
"Beneran hanya gara-gara itu? Apa gak ada udang di balik bakwan? Perasaan mama tadi melihat senyuman dibalik lamunanmu," selidik mama Arthur yang langsung membuat Arthur makin salah tingkah.
"Ya, memang begitu, Ma. Memangnya kalau Mama datang ke suatu tempat dan menunggu seseorang, Mama tidak bosan menunggu dalam waktu lama tanpa ada teman ngobrol?" Arthur balik bertanya yang sebetulnya hanya untuk mengelak dari ledekan mamanya.
Anggita—mama Arthur kembali tertawa. Alasan Arthur sangat pasaran untuk membohongi orang tua yang sudah menikmati asam manis percintaan seperti dirinya. "Sahabat mama 'kan bukan hanya ibunya Maya saja. Lalu kenapa kamu nanyain Maya ikut dengannya juga. Apa kamu lagi kangen sama Maya? Bisa jadi yang ketemuan sama mama hari ini sahabat mama yang lain," ujar Anggita yang terus menggoda anaknya yang salah tingkah.
"Astaga, Mama. Mulai lagi ngeledeknya. Walaupun sahabat Mama bukan ibunya Maya saja, tetapi 'kan Mama sering ketemuan sama dia saja. Mama tidak ketemuan hampir satu bulan juga hanya dengannya. Selebihnya sahabat Mama 'kan satu kantor dengan Mama," Arthur beralibi, tetapi apa yang dia jadikan alasan memang betul adanya.
"Ya, sudah. Mama siap-siap dulu. Kamu juga dandan yang keren. Biar Maya terkesima dan mau membalas cintamu." Ujar Anggita dan berlalu pergi meninggalkan Arthur.
Mendengar ucapan mamanya, Arthur melongo menatap punggung mamanya yang semakin menjauh dari pandangannya.
Sedangkan di tempat lain, Maya tersenyum bahagia di sela aktivitasnya memilih pakaian yang mau dia pakai. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Arthur. Setiap kali ibunya bertemu dengan sahabatnya, Arthur selalu ikut mengantar Anggita. Dengan begitu, secara otomatis Maya bisa bertemu dengan Arthur.
"May, kamu sudah siap?" Tanya ibunda Maya yang tiba-tiba sudah mengetuk pintu kamar Maya.
"Belum, Bu." Jawab Maya yang segera memasukkan kembali pakaian yang berserakan di tempat tidurnya ke dalam lemari.
Maya tidak mau ibunya melihat kalau dia begitu galau memilih baju hanya karena ingin bertemu Arthur. Namun, aksi Maya terlambat. Ibunya sudah dahulu masuk ke kamarnya sebelum Maya siap memasukkan bajunya ke dalam lemari.
"Kok bajunya dikeluarin semua seperti itu, May?" tanya ibunda Maya yang melihat anaknya salah tingkah ketika dia masuk.
"I—ini, Bu. Aku bingung mau pakai baju yang mana. Soalnya aku tidak mau pakai baju yang ngepas badan ketemu sama orang tua," jawab Maya beralasan.
"Owh. Kamu tinggal pakai dress yang bulan kemarin dibelikan tante Anggita," jawab ibunda Maya memberi ide.
"Biar dia senang pemberian dia kamu hargai," imbuh ibunda Maya kembali.
"Tapi bajunya—" ucapan Maya menggantung karena ibunya sudah menyodorkan baju yang dia maksud.
"Pakai saja. Tidak baik pemberian orang diabaikan tanpa dihargai." Ibunda Maya memberikan baju yang dia pegang pada Maya. Sedikit memaksakan, tetapi dengan cara halus.
"Baik, Bu. Aku ganti baju dulu." Maya mengambil baju yang diberikan ibunya.
Saat ulang tahunnya yang kedua puluh tahun, Mama Arthur menghadiahkan dress yang begitu mewah pada Maya. Tidak hanya dress, dia juga memberikan Maya tas dan sepatu dengan warna senada dengan dressnya.
"Ibu tunggu kamu di luar, ya. Jangan lama-lama dandannya. Sekalian kamu pakai tas sama sepatu dari teman ibu kemarin juga. Biar sepaket pemberiannya dipakai, dia akan jauh lebih senang lagi," ujar ibunda Maya.
"Tapi Maya 'kan tidak suka penampilan yang berlebihan seperti itu, Bu. Sepatu yang diberi tante Anggita kemarin itu terlalu tinggi dan norak," bantah Maya yang lebih suka berpenampilan simple dan terkesan tomboy.
"Menghargai pemberian orang jauh lebih indah, Nak. Kamu menyenangkan hati orang juga berbalas pahala. Apalagi itu juga tidak yang menyulitkan kamu juga. Tinggal pakai dan kita berangkat. Ketemu sama Anggita, dia akan bahagia melihat kamu memakai pemberiannya. Coba bayangin, seandainya kamu memberikan sesuatu pada orang lain, tapi orang itu tidak menghargai pemberianmu, gimana perasaan kamu?" hasut ibunda Maya yang memaksa tapi secara halus.
Maya nampak berpikir sejenak, dia seakan membenarkan apa yang dikatakan ibunya. Sesuatu yang diberikan pada orang lain, tetapi tidak dihargai, rasanya akan lebih sakit dibanding jatuh dari tangga.
"Ya, sudah. Maya pakai bajunya, sekalian sama sepatu dan tas pemberian tante Anggita," jawab Maya yang memberi kelegaan pada sang ibu.
Selesai mengompres wajah Maya beberapa menit dengan air es. MUA yang bekerja khusus untuk bagian bedak, mengeringkan wajah mulus itu sampai benar-benar tidak ada sedikitpun air yang menempel di kulit Maya. Kemudian dia melanjutkan tahap berikutnya sampai bagian bedak selesai.
Setelah bagian bedak selesai, MUA yang bekerja khusus untuk bagian eyeshadow, dan blush on, mengambil alih kendali untuk mendandani Maya hingga selesai. Wajah yang memang sudah mempunyai kulit mulus itu, sangatlah mudah bagi para MUA profesional untuk meriasnya. Didandani oleh MUA terbaik, yang dipilihkan langsung oleh calon Anggita—mama mertuanya. Terlihat jelas, raut kebahagiaan terpancar dari wajah cantik bak bidadari yang sedang duduk di depan kaca rias itu.
"Waw… cantiknya menantu mama." Mama Arthur memandang takjub penampilan Maya yang sungguh tidak ada saingannya di mata mama Arthur.
"Terima kasih, Ma," ucap Maya tersipu mendapat pujian dari orang yang sebentar lagi akan menjadi mama mertuanya.
"Mama tidak salah pilih dalam mencari menantu. Kamu memang benar-benar sangat sempurna," puji mama Arthur dengan semangat dan rasa bangganya.
"Ah, Mama. Jangan berlebihan begitu, aku jadi malu," jawab Maya yang bersemu karena tersanjung dipuji oleh mama Arthur.
"Ya, sudah. Mama ke bawah dulu. Mama mau ngabarin ke Arthur dan Penghulu Kalau menantu mama sudah siap dandan," ucap Mama Arthur, kemudian beranjak pergi dari ruangan itu dengan senyum sumringah yang mengambang di bibirnya.
Impian Maya yang selama ini hanya berada dalam angan-angan, dalam hitungan jam semuanya akan segera menjadi nyata. Sebentar lagi, acara ijab kabul Maya dengan Arthur akan di langsungkan. Acara itu terlaksana di rumah Arthur, rumah yang sengaja dibeli oleh Arthur dua bulan lalu. Arthur membeli rumah itu untuk dia tempati bersama Maya. Dia dan Maya sengaja mengadakan acara sakral itu di rumah baru yang akan mereka tempati, nanti. Supaya, rumah yang sengaja dibeli untuk mereka tempati itu, punya sejarah dan kenangan besar untuk mereka berdua.
Dengan senyum yang terus mengambang, Maya memandang penampilannya yang sungguh sangat menawan dari pantulan cermin besar di hadapannya. Tidak bisa munafik, dia juga sangat kagum dengan pantulan bayangan yang dia lihat dalam kaca besar di hadapannya. Tubuh yang mempunyai lekuk idaman bagi seluruh insan itu, terbalut oleh gaun pengantin berwarna putih yang menambah aura keanggunannya.
Setelah puas memandang dirinya dari pantulan cermin itu, Maya mengambil ponselnya di atas meja rias, dan membawanya berjalan pelan sambil mencari nama kontak seseorang yang dia simpan di dalam benda pipih itu. Maya menghenyakkan bokongnya di atas sofa dengan ibu jarinya yang masih men-scroll layar ponselnya.
"Kemana anak itu? kenapa dari tadi dia tidak muncul kesini? Padahal kemarin sudah ku bilang kalau dia harus menemani aku disini," decak Maya kesal.
Semenjak pagi, sahabat yang biasa bersamanya setiap saat belum juga datang menemuinya. Padahal Maya mau, saat dia di dandani oleh MUA di rumah Arthur, sahabatnya itu ada menemaninya. Supaya Maya tidak merasa canggung berada di ruangan itu sendirian saat para MUA mendandaninya.
"Ada apa sih, dengan dia? sudah ku telepon berkali-kali, tetap tidak dijawab panggilan teleponnya," sungut Maya yang kesal karena panggilan teleponnya diabaikan oleh sahabat satu-satunya yang Maya punya.
Maya terus menggerutu dan mengumpati sahabatnya. Dia merasa sangat kesal kepada sahabatnya itu. Selama ini, baru kali ini dia ingkar janji kepada Maya. Dia sudah berjanji akan menemani Maya seharian penuh di hari spesial Maya. Tapi, buktinya, sampai saat ini dia belum juga menampakkan batang hidungnya. Di telepon Maya, dia juga tidak memberi respon sama sekali. Itu membuat Maya semakin kesal dan selalu menggerutu, merutuki sahabatnya.
"Sayang ... kamu cantik sekali, Nak," ucap ibunda Maya yang baru saja memasuki ruangan tempat Maya di rias. Air mata haru jatuh di pipi ibunda Maya.
"Ibu." Maya berdiri dari duduknya dan menghampiri ibunya.
"Maya, mohon Doa dari ibu! Semoga, pernikahan Maya bahagia selalu." Maya merangkul ibunya kedalam pelukan hangat seorang anak, yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.
"Iya, Sayang. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu," jawab ibunda Maya mencium pucuk kepala anaknya.
"Maafkan semua kesalahan dan kekhilafan Maya selama ini ya, Bu! Maafkan Maya yang belum bisa jadi anak baik untuk Ibu," ucap Maya yang masih memeluk ibunya.
"Iya, Sayang. Jadilah istri yang baik, dan patuh kepada suami! jangan sekali-kali menjadi istri yang durhaka!" pesan ibunda Maya kepada anaknya.
"Iya, Bu." Maya mengangguk mengerti menerima pesan dari ibunya.
"Apakah Sella sudah sampai, Bu?" Maya mengurai pelukan dari ibunya. Dia masih kesal kepada Sella karena telah mengabaikannya.
"Sepertinya belum, coba kamu telpon dia!" jawab ibunda Maya.
"Sudah aku telpon. Tapi, gak diangkat." Maya kembali duduk ke tempatnya semula dengan kecewa.
"Sudah aku telpon dan aku chat. Tapi, tidak ada balasan satupun dari dia," gerutu Maya, dia meletakkan ponselnya asal diatas sofa dekat dia duduk dengan hati yang semakin kesal kepada sahabatnya.
"Haaai... pengantin baru, sudah siap dandannya?" ucap seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan itu, membuat Maya menoleh kebelakang mendengar suara yang tidak asing bagi telinganya.
"Kamu kemana saja? aku telepon, gak diangkat. Aku chat, gak dibales," cecar Maya yang langsung berdiri, kemudian memonyongkan bibirnya merajuk seperti anak kecil yang tidak dapat minta dibelikan mainan oleh ibunya.
"Sorry, tadi aku sibuk banget. Aku ngurusin catering dan penataannya buat acara spesial kamu nanti." Sella memeluk sahabatnya yang masih duduk dengan bibir monyongnya.
"Sudah, jangan merajuk lagi! senyum donk, masa pengantin baru cemberut." Sella mencoba mengembalikan lagi mood sahabatnya yang terlihat sangat berantakan.
"Kan aku sudah bilang dari jauh-jauh hari, jangan terlalu sibuk! kamu gak usah ikut mengurus apapun. Kamu itu cukup mendampingi aku saja, yang mengurus itu semua 'kan ada orang-orangnya," ucap Maya sambil melepaskan pelukan dari Sella. Maya masih sangat kesal kepada sahabatnya itu.
"Iya, Maaf! Aku gak mau hari spesial sahabatku berantakan. Aku mau semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai dengan keinginanku. Makanya aku memastikan segala sesuatunya terlebih dahulu," ucap Sella sambil tersenyum, membuat hati Maya luluh.
Mendengar penuturan dari Sella yang menurut Maya sangat menyentuh hati seorang sahabat, Mood Maya kembali pulih. Rasa kesalnya yang tadi sudah menggunung, dengan sekejap mencair begitu saja. Dia juga ikut tersenyum membalas senyuman manis dari orang yang dia anggap sebagai sahabat baik selama ini.
"Gitu, donk. Jangan cemberut. Ntar, cantiknya hilang digondol monyet," goda Sella yang melihat Maya tidak lagi kesal kepada dirinya.
"Terima kasih ya, Sel. Selama ini kamu telah mau jadi sahabat yang selalu aku repotkan, kamu juga mau capek-capek mengurusi hari pernikahanku," ucap Maya terharu, karena merasa telah dihadiahi oleh Tuhan seorang sahabat yang begitu baik untuk dirinya.
"Gak cukup dengan terima kasih saja, kamu juga harus berkorban untuk aku," jawab Sella menatap Maya sebentar dengan licik. Lalu memanipulasi niat hatinya dengan senyum yang menipu.
"Baik, aku juga akan mengurusi acara pernikahanmu nanti. Tapi, kapan?" jawab Maya sambil menyenggol lengan sahabatnya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Sella terperangah. Dia tidak bisa menjawabnya, karena saat ini dia sedang putus asa dengan impiannya selama ini. Impiannya untuk dinikahi oleh orang yang sangat dia puja akan menjadikan dia sebagai seorang istri. Impian Sella selama ini bagaikan pungguk merindukan bulan. Sehingga dia hanya bisa menelan pil kepahitan dengan mimpi-mimpi yang terus dia rangkai.
"Yuk, keluar! Penghulu dan calon imam kamu sudah menunggu lama. Nanti calon imamnya, kawinin yang lain karena kelamaan menunggu kamu," ucap Sella mengalihkan pembicaraan yang sangat menyudutkan dirinya.