Hari yang mendebarkan telah datang, kak Fia mendandaniku dengan sangat cantik dan anggun, Sedangkan Tia sudah berangkat sejak pagi tadi dengan kekasihnya yang bernama Irwan.
Aku begitu gugup dan takut, kak Fia berulang kali membuatku tenang dengan membelai kepalaku.
"Sudahlah Nur! Tenangkan hatimu, Aku tahu kau sangat cemas, tapi ini hanya masalah sepele sayang! Siapa tahu kau suka nantinya" ucap kak Fia lembut.
"Astaga!! Sepele katamu kakak?! Aku membohongi seorang pria yang berasal dari keluarga bangsawan, aku juga tidak menyukai tipe pria seperti dirinya, Brewok kakak!? Brewok... Di tambah lagi dia orang Arab, Astaga... Pasti itunya besar" ucapku asal.
"Itunya apa?" tanya kak Fia geli.
"Hukuman jika dia mengetahuinya kakak. Memangnya apa lagi? Dan yang lebih parahnya lagi, Aku sama sekali tidak mengetahui namanya, aku terlalu sibuk dengan ketakutanku sehingga lupa menanyakan namanya pada Tia" ucapku frustasi.
"Sssttt kau terlalu berlebihan, Jangan membuat beban pada dirimu sendiri sayang, Atau kau ingin aku mengadukanmu pada paman agar kau di nikahkan dengan anaknya pak lurah?" ucap kak Fia membuatku nyerah.
"Baiklah, Aku santai, La...la..la... Aku menerima kesalahan dari orang lain bukan? Aku harus santai" sungutku kesal.
"Um... Lucunya adik kakak..." ucap kak Fia sambil mencubit kedua pipiku gemas.
"Sudahlah kak, Apa aku sudah rapi?" tanyaku malas.
"Kau sempurna sayang! Dan lihatlah mobil mewah yang akan membawamu padanya sudah datang" ucap kak Fia membuatku menoleh ke arah jendela dan menyaksikan betapa bagus dan mewahnya mobil itu.
Aku begitu kagum dan terpaku di buatnya. Sebuah mobil mewah berwarna silver tengah menantiku dengan setianya,
Bukan....
Lebih tepatnya menanti Tia.
Seorang sopir keluar dengan gagahnya dan mengetuk pintu rumah kakakku dengan pelan.
"Selamat malam, Apa nona Tia nya sudah siap?" ucapnya ramah ketika kakakku telah membuka pintu dan menemuinya.
"Sudah pak, sebentar lagi keluar, Mohon di tunggu!" jawab kak Fia Ramah.
Kak Fia menghampiriku yang sedang berdiri terpaku karna takut dan gugup.
"Ayolah sayang! Kau harus semangat, Oke!" ucap kak Fia bersemangat.
"Oke Kak, Aku Semangat..." ucapku malas.
Aku keluar dengan mengucap berbagai Doa dalam hatiku. Aku mohon di beri kekuatan dan kesabaran, karna akan memerankan hidupku sebagai Tia.
Sungguh menggelikan.
Artis ternama saja tidak segugup diriku pastinya, karna mereka hanya menghibur dan dapat gaji. Sedangkan aku adalah pemeran dalam dunia nyata.
Ah...
Sudahlah....
Pak sopir membukakan pintu mobil dengan ramah dan sopan. Aku segera memasukinya setelah pamit pada kakakku Fia. Aku menguatkan hatiku agar bisa tenang saat bertemu dengan Mas Brewoknya Tia bila tiba saatnya sebentar lagi.
Pak sopir melajukan mobilnya dengan perlahan dan tenang. Beliau sangat ramah dan murah senyum, entah karena pekerjaannya atau memang sifatnya aku tidak tahu, yang pasti beliau sangat sabar sekali menurutku.
Setelah sekian lama berkendara, tibalah kami di sebuah rumah yang sangat besar, indah dan luas. Aku semakin gugup karenanya. Pak sopir memasukkan mobilnya kedalam setelah pak satpam membukakan pintu gerbangnya dengan cepat.
Setelah tiba di dalam, pak sopir membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan aku keluar. Aku di sambut oleh para pelayan perempuan dengan ramahnya.
"Selamat datang nona, Silahkan ikuti saya" ucap salah satu di antara mereka.
Aku mengikuti kemanapun dia pergi dengan menoleh kesana dan kemari.
Rumahnya begitu luas dan mewah, bahkan lantainya pun sangat mengkilat dan bersih.
"Silahkan duduk nona! Sebentar lagi Tuan Yusuf datang" ucap sang pelayan dengan lembutnya.
Aku hanya mengangguk dengan sopan dan duduk di sebuah ruang tamu yang sangat luas, mewah dan sejuk dengan lampu hias di atasnya.
"Astaga.... Ini rumah apa surga ya?" bathinku kagum.
"Assalamu alaikum Tia..." ucap seseorang dengan suara beratnya.
"Waalaikum salam Tuan" jawabku sambil berdiri dan memutar badanku agar menghadap dirinya.
Astaga.
Inikah si pria brewok itu??
Dia sangat gagah, tinggi dan tampan dengan setelan jas berwarna hitam yang di kenakannya.
Dia begitu kelihatan seksi dengan tatapan matanya yang menatapku penuh dengan kerinduan dan kekaguman. Meskipun dia Brewok tapi entah mengapa aku merasa semakin menambah ketampanannya.
"Bagaimana kabarmu Tia?" tanyanya lagi membuyarkan lamunanku.
"A...a....aku ba..baik baik saja tuan" ucapku gugup setengah mati.
"Hei.... Kenapa kau sangat gugup sayang? Bukankah kau telah merindukan kekasih pujaanmu ini?" tanyanya membuatku kelimpungan.
"Ten...tentu saja tuan... Aku hanya kagum saja pada ketampananmu" ucapku asal.
Aku menunduk dan meremas kesepuluh jariku dengan gemetar. Aku begitu malu dan salah tingkah meskipun aku sadar bahwa kekasih pujaannya itu adalah Tia.
"Jangan meremas jarimu seperti itu sayang, Nanti kau kesakitan" ucapnya sambil mendekat kearahku dan melapaskan tautan tanganku.
Aku benar benar merasa aneh dengan sentuhannya, tangannya ibarat sebuah setrum yang merambat keseluruh tubuhku hingga bergetar.
"Eh, Iya...." jawabku sambil sedikit menjauh darinya.
"Ayo ikut aku" ujarnya sambil menarik tanganku.
"Kemana?" tanyaku was was.
"Ke tempat yang tenang" ucapnya lembut.
Aku mengikuti dirinya dengan gelisah. Di tambah lagi cengkeraman tangannya begitu kuat, sehingga susah buatku untuk melepaskannya.
"Ini kamarku" ucapnya membuyarkan lamunanaku dan membuatku semakin gugup.
Kamarnya begitu luas dan ukuran ranjangnya begitu besar. Kamarnya sangat indah dan mempesona.
"Tia, Kau kenapa sayang?" tanyanya khawatir.
"Eh tida, Hanya... Kagum saja" ucapku malu.
Si pria tadi memegang kedua pipiku dan mengangkat wajahku agar menatap ke arahnya. Aku begitu malu dan kurasakan pipiku memanas.
"Aku benar benar merasa beruntung sayang! Kau lebih cantik dari yang aku bayangkan, Kau sangat kecil, manis dan pemalu. Kau tahu? Kau membuatku gila, Kau membuat Yusuf mu ini semakin mencintaimu! Benarkah kau seorang manusia manis? Aku merasa kau adalah bidadariku, Pujaanku, Dan aku benar benar jatuh cinta pada gadis manis seperti dirimu untuk pertama kalinya sayang" ucapnya sambil menatapku lekat dan mulai mendekatkan bibirnya ke bibirku dan
Cup....
Dia menciumku!! Astaga....
Aku benar benar merasa gelisah sekarang. Dia melumat bibirku dengan gemasnya, dia bahkan memaksaku membuka mulut dengan menggigit bagian bibir bawahku dengan perlahan. Karna geli aku terpaksa membuka mulutku dan dia melesakkan lidahnya dengan semangat serta meraihku kedalam dekapannya dan merapatkan badanku ke tubuh kekarnya itu.
"Mmpphhh.... Mmpphhh.... Lepaskan aku tuan...mmpphhh" ucapku di sela sela ciumannya.
"Jangan panggil aku tuan sayang, Kau adalah calon istriku" desahnya di atas bibirku.
"Mas Brewok" ucapku asal.
"Apa? Mas Brewok? Bagus juga, Aku tahu aku memang Brewokan sayang! Dan kau akan menyukai Brewokku ini karna akan membuatmu kegelian" desahnya sambil mengusapkan Brewoknya itu ke leherku.
Dan benar saja, aku benar benar merasakan geli sehingga membuatku mendesah tidak karuan dalam pelukannya.
"Aaacccchhhh.... Sudah cukup tuan yusuf " ucapku sambil menggeliat ingin menjauh darinya karna rasa geli yang kurasakan.
_________/////__________
Segini dulu sayang.....
Aku tunggu antusias dari kalian....
Vote and komen di tunggu...
Papay....
TBC.
Aku terpengaruh dengan ciuman yusuf. Aku membalas pelukannya tanpa sadar. Di saat aku ingin membalas ciumannya tiba tiba bayangan Tia muncul di dalam ingatanku.
Sontak saja aku mendorongnya secara halus. Dia begitu kelihatan kecewa dan terkejut. Aku membenahi pakaiannku dan mengusap bibirku dengan gugup.
"Maafkan aku Mas yusuf, Aku rasa tidak pantas jika seorang gadis terlalu lama di dalam kamar bersama pria yang bukan muhrimnya" ucapku sambil menunduk.
Yusuf menatapku dengan lekat. Dia menghela nafas dengan pelan.
"Maafkan aku sayang, Mungkin aku terlalu merindukanmu sehingga susah buat mengendalikan diriku" ucapnya lembut.
"Em, Baiklah! Apa kau tinggal seorang diri?" tanyaku salah tingkah.
"Dasar angsa, sukanya menyosor terus" bathinku tidak tenang.
"Aku tinggal bersama Umiku sayang, Ikutlah denganku, aku akan membawamu padanya" ucap Yusuf sambil menarik tanganku agar mengikutinya.
Aku berjalan di sisinya dengan gugup. Mudah mudahan uminya itu tidak curiga terhadapku. Tapi di sisi lain hatiku memberontak karna merasa berat dan tidak ingin menipu umi nya.
Dia membuka sebuah ruangan yang sangat luas dan mengagumkan. Di dalamnya terdapat seorang wanita paruh baya yang sangat cantik nan lembut sedang duduk di atas ranjang dengan kursi roda di sampingnya. Dia tersenyum ramah ke arah kami, khususnya padaku.
Aku menjadi semakin gugup dan kalut.
Yusuf meraih pinggangku kemudian mengajakku mendekat kepada umi nya.
"Assalamu alaikum umi, Ini adalah gadis yang sering aku ceritakan kepada umi" ucap yusuf lembut.
Umi menatap ke arahku dan memegang tanganku yang sedang gemetar.
"Waalaikum salam sayang! Masya ALLAH.... Dia sangat cantik nak! Aku rasa umi bakal menyukai dirinya" ucap umi nya membuatku semakin merasa bersalah.
Aku menjadi dilema, Apakah aku juga harus menipu umi nya yusuf yang sangat ramah dan lemah lembut itu??
Entahlah...
Aku masih bimbang.
"Hei, Sayang! Mengapa melamun?" ucap yusuf membuatku salah tingkah.
"Eh, Tidak. Hanya saja.... Aku belum terbiasa dengan semua ini mas Yusuf, Maafkan aku" ucapku gelisah.
"Perkenalkan sayang, Ini umi ku namanya Aisyah" ucap yusuf dan di sambut senyuman hangat oleh umi nya.
"Namamu siapa sayang?" tanya umi nya yusuf membuatku bingung harus berkata apa.
Di sisi lain aku sangat memghormatinya dan tidak ingin menipunya dan di sisi lain ada Tia sahabat karibku yang meminta pertolonganku.
Di saat sedang bingung bingungnya, kudengar HP yusuf berbunyi dan kemudian dia mengangkatnya sambil keluar kamar setelah meminta ijin pada umi nya dengan isyarat.
Sekarang hanya tinggal kami berdua di dalam ruangan ini. Aku semakin lega dan kegugupanku sedikit berkurang.
"Duduklah gadis manis" ucap umi Aisyah membuyarkan lamunanku.
Aku menurutinya sambil tersenyum ramah ke arahnya. Aku duduk di sampingnya dan menatap matanya dengan lembut.
"Namamu siapa sayang? Mengapa kau terlihat khawatir sekali?" ucapnya cemas.
"Maafkan aku umi! Aku telah melakukan kesalahan" ucapku lirih.
"Kesalahan apa sayang? Kau bisa jujur sama umi, aku tidak akan mengadukanmu pada putraku kalau kau mau" ucapnya membuatku tenang.
"Sebenarnya.... Aku bukan Tia umi, Namaku adalah Nur jannah, aku kesini karna paksaan dari sahabatku Tia agar bisa menggantikannya" ucapku dengan bibir bergetar.
Aku menceritakan segalanya dari awal hingga akhir tanpa ada yang di tutup tutupi lagi. Aku tidak mau membuat kebohongan untuk kedua kalinya, terlebih kepada uminya yusuf yang sangat ramah dan santun itu,
Aku tidak tega....
Kulihat umi Aisyah sedikit terkejut dan menatapku penuh minat.
"Lalu kenapa kau bisa jujur pada umi sayang? Dan satu lagi, Namamu sangat indah, Cahaya surga" ucapnya sambil menggengam tanganku.
"Karna aku sudah merasa terbebani dengan masalah ini umi, Aku tidak mau membuat kesalahan lagi dengan membohongi umi! Di tambah lagi, umi adalah orang yang patut Nur hormati" ucapku lirih.
Umi Aisyah tengah berpikir dan terdiam selama beberapa saat. Dia mengusap kepalaku dan menatap lekat ke arahku.
"Baiklah sayang! Umi akan rahasiakan ini dari putraku, Tapi... Umi sangat menyukaimu dan berharap yusuf benar2 bisa jatuh cinta kepadamu" ucapnya lirih.
"Nur tidak mengharapkan itu Umi, Jodoh ada di tangan tuhan, kita sebagai manusia hanya bisa pasrah saja menjalani takdirnya " ucapku lembut.
Aku merasa lega, seperti sebuah batu telah terangkat dari pundakku karna telah berkata jujur pada umi nya yusuf yang sangat cantik nan lembut itu.
"Permisi nyonya Aisyah, makan malam sudah siap" ucap salah satu pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamar kami.
"Baiklah mbok sarmi, Kami akan segera kesana" ucap umi Aisyah lembut.
Aku melihat umi Aisyah berusaha bangun dengan kesusahan, karna tidak tega, maka tanpa di suruh aku bangkit berdiri dan membantunya.
"Kamu mau apa Nur?" tanyanya sambil menatapku.
"Membantu umi bangun, Ayo!" ajakku lembut.
"Kau tidak akan kuat sayang! Biar umi sendiri saja!" ujarnya sambil tersenyum geli.
"Aku adalah wanita yang tangguh umi, Dan Jangan pernah meremehkan gadis yang sangat manis ini" jawabku sambil tertawa.
"Kurasa aku ingin membuktikannya" ucap umi Aisyah kemudian mengulurkan kedua tangannya ke arahku.
Aku menolongnya bangun dengan hati hati dan mendudukkannya di kursi roda dengan perlahan.
"Aduh! Maafkan umi ya nak, Karna telah membuat Nur kesusahan" ucapnya merasa tidak enak.
"Sssttt... Umi, Panggil namaku Tia saja! Aku tidak mau membuat Mas Brewok itu curiga" ucapku cemas.
"Mas Brewok? Kau memanggil putraku dengan sebuatan Brewok sayang! Kau memang nakal" ujarnya sambil tertawa.
Aku menunduk dengan malu. Umi Aisyah terus tertawa sambil memegangi perutnya yang rata itu dengan geli.
"Aku baru tahu Nur, Selain kau cantik ternyata kau juga lucu" ucapnya berusaha menahan tawanya.
"Umi, Janji ya! Jangan beritahu putra umi bahwa aku adalah Nur yang pura pura menjadi Tia karna paksaan dari sahabatku itu" ucapku gelisah.
"Baiklah sayang! Tapi bagaimana jika suatu saat nanti yusuf mengetahuinya??" tanya Umi Aisyah membuatku berpikir.
"Aku akan menerima apapun hukuman darinya umi, Tapi jika dia memenjarakan aku dan Tia, Nur mohon ya umi! Bebaskan kami" ucapku cemas.
"Semua akan baik baik saja sayang! Umi janji"ucap Umi Aisyah membuatku tenang.
"Apakah obrolan para wanita sudah berakhir? Boleh aku masuk dan mengajak kalian berdua buat makan malam sekarang?" ucap Yusuf secara tiba tiba mengagetkanku.
"Sudah nak, Mari kita makan" ucap umi Aisyah sambil menjalankan kursi rodanya keluar kamar.
Aku mengikutinya dan kurasakan yusuf menahan tanganku kemudian menarikku kedalam pelukannya.
"Aku lihat kau sudah begitu akrab dengan umi ku sayang" tanyanya sambil mendekap pinggangku erat serta mengangkat daguku agar aku menatapnya.
"Eh... I.. Iya... Umi Aisyah sangat baik dan cantik, Aku menyukainya" ucapku gugup.
"Dan aku menyukaimu sayang..." ucapnya dan lansung mengecup bibirku lagi tanpa ada rasa canggung.
______////_________
Yang sdh nunggu om Brewok ayoo
Kasih komen manja kalian....
Vote juga ya....
Follow juga boleh....
Gigit author jangan....
Atut....
Wkwkwkwkwkwkwk
Papay....
TBC.