Elga tak menyukai segala hal yang ada di pesta ini.
Sebaik, semeriah, atau sebagus apapun Satya mempersiapkan segalanya, kesimpulan sang putri tetaplah sama.
"Gue pasti jadi olok-olokan semua orang!" bisik perempuan bergaun hitam selutut itu, memanyunkan bibir setelahnya.
Ia menutup wajah, menahan malu yang besar, "Yang berhasil bukan cuma gue, tapi ada puluhan orang. Kenapa Mommy dan Papi membuatnya seolah gue paling wow, sih?"
"Karena lo memang luar biasa-"
Diantara pikiran berkecamuk itu, seseorang terdengar menimpali kalimat Elga. Datang dari arah belakang, berjalan anggun mendekatinya.
"Gue Helen, mahasiswi baru yang akan jadi satu angkatan sama lo," ujar gadis itu, mengulurkan tangan. "Gue tertarik untuk jadi temen lo."
Elga bukannya tak mau membalas uluran tangan itu, hanya saja, kedua tangannya masih terlalu basah karena baru ia cuci di wastafel sesaat yang lalu.
"Gue Elga," balas si pemilik pesta. "Lo tadi bilang gue apa?"
Dengan berat hati, teman satu jurusan Elga itu menarik dan menyimpan kembali tangannya tanpa tahu alasan mengapa Elga tak menerima dan menjabat balik.
"Gue bilang lo beruntung," kata gadis yang tampil dengan sangat glamor menurut pandangan Elga begitu, menegaskan bahwa orang ini pasti ingin jadi pusat perhatian.
"Beruntung?" balas Elga, mengulangi bagian yang ia tak mengerti, "Beruntung gimana?"
"Ya, beruntung. Lo punya segalanya, dapet pesta perayaan pula. Gue sebetulnya iri sama lo." Helen berujar rendah diri.
Elga melampirkan senyum tak percaya, "Orang kaya gue harusnya nggak diiriin. Kalau lo mau, lo boleh ambil segala yang gua punya."
Malas meladeni orang yang tak bersyukur dengan hidup yang Tuhan beri membuat Elga memutuskan berlalu, pergi begitu saja.
Helen menatap gadis yang semula diajaknya berteman dengan tatapan datarnya, "Harusnya lo nggak mengucap hal semacam itu, Elga Heidee."
***
"Apa yang orang itu mau iriin dari gue, coba?" Elga masih tak percaya dengan kejadian yang menimpanya sesaat lalu.
Kehidupan yang sebetulnya selalu ia eluh-eluhkan, mendadak diinginkan oleh orang lain.
Entah karena dirinya yang kurang bersyukur, atau orang itu yang tidak tahu tentang kisah lengkap hidupnya. Elga acuh mencari tahu.
"Gue malu, banget. Mana yang dateng rame lagi! Gue harus kemana?" Mencari lokasi yang jauh dari riuhnya para tamu, tibalah Elga di pinggiran kolam.
Matanya melebar kala melihat cantiknya tempat itu. Banyak lampu, ia juga bisa melihat betapa indahnya langit di malam hari.
"Kenapa perasaan gue tetep kosong, ya?"
"Artinya lo butuh teman berbagi."
Jantung Elga terasa seperti hendak meninggalkan tubuhnya, saking terkejutnya ia. Ada yang datang, begitu tiba-tiba sampai tidak memberi kode apapun.
"Si-siapa lo?" tanya gadis itu, terbata-bata.
"Evan," jawaban singkat, hanya satu kata, dilontarkan dengan santainya.
"Lo satu angkatan sama gue juga?" tanya Elga, memastikan juga memerhatikan dengan seksama.
Cowok berkemeja itu hanya mengangkat bahunya, tak memberi jawaban spesifik. "Gua ke sini buat gantiin seseorang."
Elga menyipit, "Gitu, ya?" balasnya kemudian, tak tertarik. "Bisa tolong tinggalin gue sendiri di sini, nggak? Gue sengaja cari tempat sepi, tapi lo dateng."
Evan yang baru berkenalan dengan gadis itu justru diusir pergi.
Menggoyangkan gelas berisi jus, cowok itu mengalihkan pandangannya. "Anggep aja gua enggak ada. Kita gak saling kenal, lo bebas lakuin apa yang lo mau."
"Kalau cerita, boleh?"
"Sure."
Anehnya, Elga yang tidak terbiasa curhat pada orang lain justru tertarik untuk mengatakan kekesalan hatinya kepada orang asing itu.
"Yang lebih nggak masuk akalnya lagi, lo itu orang asing. Tapi gue merasa nyaman banget deket lo dan ngobrol kaya gini," ujar gadis bermata sipit dan berlesung pipi tersebut.
Elga mulanya tak sadar kalimat itu terlontar begitu saja dari sudut bibirnya, kejujuran mengenai apa yang ia rasa.
Yang ia tahu, kebahagiaan karena moodnya berangsur pulih adalah berkat kehadiran sosok yang disebutnya orang asing.
"Berbincang hal random sama lo membuat gue merasa jauh lebih baik!"
Pria itu mengangkat sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis yang tidak Elga mengerti maknanya.
"Justru karena gua adalah orang asing."
"Eh?"
"Karena gua orang asing, lo bisa seterbuka ini."
Yang dikatakan oleh pria itu hampir seratus persen benar.
Bahwa dengan mengutarakan apa yang dialami yang coba dipendam dalam hati kepada orang asing akan menimbulkan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Nyaman.
Karena orang tersebut tidak sepenuhnya mengenal apa yang kita lalui sejauh ini. Karena mereka tidak akan menghakimi juga memberi penilaian secara sepihak tanpa tahu yang sebenarnya terjadi.
Elga terkejut saat teman ceritanya itu mendadak bangkit, merapihkan tatanan kemejanya dan hendak berpamitan.
"Mau kemana?"
"Sorry?"
"Maksud gue, lo kelihatan mau pergi. Pestanya aja belum dimulai, lo mau pulang?"
Laki-laki berparas menawan itu membalas sekadarnya. "Gua udah bilang, gua di sini karena permintaan gantiin seseorang. Waktu disepakati udah habis."
"Tapi-" Elga ingin menahan orang itu lebih lama, hanya saja sayangnya ia tak punya alasan bertindak demikian.
Harusnya pertemuan itu cukup berakhir sampai di sana.
Harusnya tidak ada lagi yang membuat mereka terlibat antara satu sama lain. Tak ada alasan membuat perjumpaan itu spesial.
Seperti konsep orang asing pada umumnya, bertemu untuk pada akhirnya berlalu seolah tidak ada yang terjadi, berlaku juga untuk kali ini.
Terlepas dari itu, Elga merasa ada yang aneh dengannya.
Memikirkan bahwa ia tidak akan bertemu dengan orang itu lagi membuatnya merasa sedih.
Ini konyol, Elga tahu itu.
"Te-terimakasih," ucap Elga, sungguh-sungguh. "Siapapun lo, terimakasih karena sudah bersedia mendengarkan cerita gue."
Pria itu mengangguk sekilas, "Hidup adalah yang pertama kalinya buat kita semua. Buat lo, buat gua. Nggak usah terlalu dipikirin, jalanin aja."
Bersamaan dengan kalimat terakhir yang si orang asing itu lontarkan, Elga merasa ada magnet besar yang menariknya.
Membuatnya melangkah menuju tempat dimana pria itu berdiri.
Tenggelam bersamaan dengan harapan-harapan baik yang ditujukan kepadanya, satu kecupan hangat rupanya menjadi akhir dari perjumpaan asing mereka berdua.
Dua bibir ranum itu menyatu, menempel lembut.
Elga membiarkan ciuman pertamanya jatuh pada orang asing, yang tidak ia kenali sama sekali tak tahu nama maupun asal usulnya terjadi begitu saja.
'Lo gila, El. Lo kehilangan akal sehat!' umpatnya, dalam hati.
Tapi bukannya mengambil langkah mundur, Elga malah memosisikan dirinya lebih dekat, menekan kepalanya lebih dalam lagi.
Sementara sosok yang diserang Elga dengan ciumannya itu membeku, mematung di tempatnya. Awal mula terkejut, lalu saat kehangatan membaur diantara jiwa mereka berdua, barulah si lelaki mulai menuntut.
Ia membalas ciuman dadakan itu dengan memperlakukan Elga layaknya tuan putri.
Memberikan pengalaman luar biasa di pesta perayaan gadis blasteran yang akan menjadi dokter kelak di masa depan ini.
Meski menjalani kuliah dengan berat hati, Elga sampai pada titik dimana ia berhasil melewati satu tahun pertama dengan baik.
Berulang kali ia mencoba meyakinkan diri apakah ini nyata, berulang kali pula ia disadarkan bahwa memang sekuat itu ia bertahan.
"Iya, Mom."
"Elga udah sampe ke alamat yang Papi kasih," balasnya, menanggapi pernyataan yang berasal dari poselnya. "Ini lagi coba cari lantai berapa unitnya."
Sambungan telpon terputus setelah Elga berhasil menemukan apa yang ia tuju.
"Huah, kejutan dari Papi memang gak bisa ditebak. Gue minta kost yang biasa aja, tapi dikasih apartemen kaya penthouses gini," seloroh Elga, takjub.
Sebuah tempat tinggal yang berisi sepuluh kamar, dibedakan menjadi beberapa lantai. Sang pemilik gedung mengatakan bahwa tiap kamar dibuatkan sesuai uang sewa. Semakin mahal, semakin mengagumkan.
Lantai kamar Elga berada di paling atas, dengan dua kamar lainnya. Kelas dua terbaik selanjutkan berada di bawah, ada tiga kamar namun lebih sederhana. Sampai seterusnya kelas paling akhir.
Yang tentu saja, biayanya tergantung dimana letak lantai mereka berada.
Setiap kamar difasilitasi elektronik terbaik. Lemari pakaian, ranjang dengan kasur yang cukup besar, meja belajar beserta kursi, lengkap.
Bahkan ada tempat untuk menonton tv yang luasnya dua kali lipat dari ruang tidur. Dapur pribadi, kamar mandi yang terdapat bathup pribadi.
"Kalau gini mah namanya bukan kost. Sama aja kaya di rumah," komentar Elga, tersenyum puas. "Papi memang paling the best!"
Satya sebagai ayah memberi segala yang terbaik untuk Elga. Apalagi, ia tahu menjadi mahasiswi kedokteran bukan hal yang mudah.
Usai membereskan barang, Elga berniat untuk mencari udara segar sekaligus menyusuri tempat tinggal barunya.
Ia perlu tahu untuk beradaptasi. Berkenalan dengan penghuni kost yang lain karena mereka tinggal disatu gedung yang sama.
"Anak baru?"
"Astaga!" Kaget, Elga memekik tanpa sadar, "Ya Tuhan!"
Baru saja hendak melangkah keluar, ia dikejutkan dengan sosok pria yang menatapnya keheranan.
Jantung Elga seperti berlarian!
"Gue sempet denger ada suara, ternyata bener ada orang baru." Selesai berujar santai, pria itu mengulurkan tangan, berkenalan lebih dulu. "Gue Abbas, unit kita satu lantai."
"Ini unit lo, sementara yang satu ini unit gue," tunjuk pria itu, ke arah pintu yang berada tepat di depan unit milik Elga. "Mau mampir, nggak?"
Menggeleng sekilas, sejak tadi Elga bingung harus merespon apa, "Mungkin lain kali. Aku masih harus berkunjung ke tempat yang lain dan melihat-lihat."
"Okay. Kalau lo butuh apa-apa, jangan ragu buat kasih tahu gue, ya?"
Menurut pandangan Elga yang sudah menemui berbagai macam sikap dan sifat manusia di luaran sana pria yang mengapanya ini adalah pria yang baik.
Meskipun tidak bisa menghapus fakta bahwa sepertinya tetangga baru Elga ini memiliki ketertarikan pada tiap jenis wanita. Ia mudah jatuh cinta. Playboy kelas kakap.
"Kalau yang sebelah ini, unitnya siapa?" tanya gadis itu, penasaran. Tersisa satu lagi pintu yang belum Elga ketahui siapa penghuninya.
Arah pandang pria itu mengikuti ekor mata Elga, menatap ke tempat yang sama, "Yang itu?"
"Iya."
"Kamarnya si tak kasat mata."
Elga terbatuk, ia tak sengaja tersedak savilanya sendiri ketika mendengar pernyataan creppy tersebut. Tenggorokannya menjadi sangat sakit.
"Eh, kenapa?" Abbas terbahak melihat reaksi Elga, diluar dugaannya. "Kok malah keselek, toh, Mbak!" Membantu agar Elga berangsur pulih, Abbas memberi sebotol air mineral.
Setelah merasa lebih baik, keduanya melanjutkan percakapan.
"Kasat mata?" ulang Elga, "Hantu gitu maksudnya, Mas?"
Karena Abbas lebih dulu memberinya julukan 'Mbak' maka Elga menyelaraskan dengan memanggilnya pria itu menggunakan panggilan 'Mas'
Terdengar lebih sopan.
"Bukan hantu, kamar itu dihuni sama manusia kaya kita, kok. Bedanya-" Abbas menggantungkan kalimatnya beberapa saat, maju dan berbisik di sebelah telinga Elga. "Dia memang agak aneh."
Pikiran Elga menerawang jauh saat ada kata 'aneh' yang Abbas selipkan.
Seperti di film atau drakor yang seringkali ia tonton, apa gedung ini juga punya banyak misteri yang tidak ia ketahui?
"Tapi yang punya tempat kost ini bilang kalau mereka menjamin keamanan tempat ini. Masa orang aneh di sini tinggal di sini, sih?" protes Elga, mulai berpikir buruk.
Abbas melongo, "Jangan bilang lo ngebayangin kalimat gue kaya di film?"
"Iya!"
Refleksi menepuk jidat dan tertawa untuk yang kesekian kalinya, Abbas merasa ia akan sangat cocok dengan tetangga barunya, Elga.
"Ya Tuhan, lo memang selalu sepolos ini, ya?!" Nilai Abbas, "Dia aneh, karena menurut gue beda dari penghuni kost lainnya. Cenderung menolak berinteraksi."
"Menolak berinteraksi, maksudnya?"
"Ya, gitu." Abbas menggunakan kata-kata yang mengandung unsur ambigu atau dengan kata lain punya beberapa makna sebagai jawaban.
Elga sebenarnya menolak untuk terlalu ikut campur dan membiarkan tiap orang punya ruang mereka sendiri.
Sama seperti tetangga barunya. Gadis itu tidak keberatan dan selama penghuni satu lantainya tidak melakukan kejahatan apapun.
"Si pemilik kamar ini padahal dokter, lho," celetuk Abbas, lagi. Matanya menyipit, menatap penuh selidik seolah sedang berpikir keras. "Tapi heran, dia tuh cuek buanget!"
"Dokter?" ulang Elga, tertarik dengan gelar yang satu itu. "Mas-mas penghuni kamar ini seorang dokter?"
"Belum jadi, sih." Abbas mengoreksi, "Kelihatannya masih adek mahasiswa. Masih muda banget, soalnya. Enggak beda jauh sama lo."
Meski masih sangat penasaran, Elga dan Abbas terpaksa tidak melanjutkan percakapan karena pria itu harus pergi bekerja.
Elga melanjutkan tour singkatnya dengan berkunjung ke lantai paling bawah, sekaligus mencari kafe agar bisa meneguk segelas kopi dingin karena mulai lelah.
Kejutan hari itu masih belum selesai, ia melihat seseorang yang dikenalinya di kampus sedang ikut memesan kopi.
"Elga, ya?" tegur gadis dengan rambut bergelombang itu, "Kok bisa temu lo di sini, sih?"
"Oh, hai." Sapa balik Elga, seramah mungkin.
"Gue Helen, lo inget?" tanyanya.
"Inget, kok." Elga menjawab terbata-bata, "Kita satu kelas, 'kan?"
"Kali aja lo lupa. Selama di kampus, 'kan, lo menolak untuk berinteraksi dengan orang-orang kaya gue." Helen berujar sinis, tapi anehnya gadis itu melampirkan senyuman ketika menghardik lawan bicara.
Elga merasa tak nyaman.
"Gue tinggal di tempat ini. Gue harap dengan begitu kita bisa lebih saling kenal lagi," ragu-ragu tapi pasti, Elga menjawab setenang yang ia bisa.
Memutus perasaan gelisah, Elga mencari alasan dengan pergi dari sana memilih kembali ke kamar dan menyudahi kegiatan kelilingnya.
Namun ketika ia hendak memasuki lift, insiden lain tak berhenti untuk menyapanya. Ada saja kejutan lebih kejutan yang ia dapatkan di tempat ini.
"Kok kaya kenal, ya?" bisik Elga, suaranya ia buat sepelan mungkin.
Matanya melirik awas, pada seorang laki-laki yang kebetulan menekan lantai yang sama dengannya.
"Siapa, sih, El? Kok lo pelupa banget kaya gini!" umpatnya pada diri sendiri, masih terus mencoba untuk mengingat orang di sebelahnya ini.
Benar saja!
Dia mirip orang itu!
Orang yang datang ke pesta Elga, tepat satu tahun lalu.
Evan, si pemilik ciuman pertamanya.