Bersamaan dengan semilir angin pagi, Aurora mengendarai mobilnya berwarna merah menyusuri jalan yang ramai. Kendaraan-kendaraan melintas dan banyak anak-anak berjalan kaki di trotoar hendak pergi ke sekolah. Mobil Aurora berhenti tepat di depan lampu merah. Seorang laki-laki paruh baya menyebrang tepat di depannya, melemparkan senyum padanya. Aurora membalas senyumannya.
Lampu lalu lintas kembali menyala hijau. Aurora kembali melajukan mobilnya. Kedua tangannya mencengkeram erat kemudinya tiap kali ia teringat pertemuannya dengan mantan suaminya tadi. Entah apa yang pria itu inginkan darinya? Gelagat Henry terlihat mencurigakan di depan matanya. Aurora yakin pria itu sedang merencanakan sesuatu lagi. Ia tidak boleh terjebak dalam permainan lelaki itu.
Mobil sedan berwarna merah itu masuk ke kawasan pelabuhan dimana perusahaan pelelangan ikan milik keluarganya, Blue Sea Corps berada. Aurora memarkirkan mobilnya dengan mulus tepat di samping perusahaan. Aroma laut dan garam langsung menyambutnya begitu keluar dari mobilnya. Sepatu hak merahnya menimbulkan irama di jalanan beraspal ketika Aurora berjalan. Ia langsung menuju ruangan kakaknya.
"Apa Kakakku ada di dalam?" tanya Aurora pada sekretaris kakaknya.
"Tuan Stockwell ada di dalam."
Aurora membuka pintu dan sang kakak terkejut saat melihat Aurora datang dengan wajah kesal.
"Ada apa kamu datang ke sini?"
"Tadi aku bertemu dengan Henry."
"Jadi itu yang membuatmu terlihat kesal pagi ini?"
"Itu salah satunya dan satunya lagi aku kesal padamu, karena kamu gagal mendapatkan investor. Seharusnya kamu memanfaatkan kesempatan untuk memenangkan hati Tuan Lyod untuk berinvestasi di sini." Aurora mengibaskan rambutnya yang pirang. "Dan Henry menawarkan untuk membantu perusahaan kita."
"Hei itu bukan sepenuhnya salahku. Dia mendapat penawaran lebih bagus dari perusahaan lain dan apa kamu menerima tawaran Henry?" Vernon beranjak dari kursi, lalu bersandar di pinggir meja dengan menyilangkan kakinya.
"Apa kamu sudah gila, Vernon? Aku tidak ingin ada hubungan lagi dengan pria gila kerja seperti Henry, bahkan yang selalu ada dipikirannya kerja dan kerja."
Vernon menatap adik perempuannya dengan penuh selidik. "Kalian berdua tidak mau saling mengalah sejak kalian menikah dan lebih mengutamakan ego kalian. Setahuku Henry itu pria baik dan setia. Aku sangat menyesali kalian harus bercerai hanya demi ego kalian."
"Wanita itu butuh perhatian dari pasangannya dan aku tidak mendapatkannya dari Henry. Ternyata dia bukan tipe pria romantis yang selalu ada di dalam bayanganku. Dia pria dingin yang gila kerja."
Vernon menghela napas kasar. "Jadi apa kamu masih mencintainya?"
"Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini padanya."
"Kamu nanti akan menyesalinya telah berpisah darinya?"
Vernon kembali ke kursinya dan duduk sambil memyandarkan punggungnya. Aurora menekankan kedua tangannya di meja kerja Vernon dan mencondongkan tubuhnya sehingga jarak wajah mereka begitu dekat.
"Aku tidak akan pernah menyesal telah berpisah darinya. Ingat itu!" hardiknya.
Aurora kembali menegakkan tubuhnya dan melipat tangannya di depan.
"Waktu kita sekarang tidak banyak untuk menyelamatkan perusahaan peninggalan Ayah kita. Kita sudah hampir kehabisan waktu." Aurora memijat pelipisnya, lalu duduk di kursi di dekat jendela. "Masalah ini membuatku sakit kepala."
"Kita sudah melakukan segala cara untuk menyelamatkan perusahaan ini dan harus bersiap jika perusahaan ini dinyatakan bangkrut."
"Kita masih ada waktu dan jangan menyerah. Aku yakin pasti ada jalan keluar hanya saja kita belum menemukannya."
"Sebenarnya kita sudah memiliki jalan keluar," kata Vernon membuat Aurora menegakkan tubuhnya dan sorot matanya yang tajam terarah pada kakaknya. "Sebaiknya kau terima saja tawaran Henry."
"Aku tidak akan pernah meminta bantuannya."
Vernon mendesah pelan melihat sikap adik perempuannya itu. "Kamu keras kepala sekali."
Suara ponsel Aurora berdering. Dia cepat-cepat mengambil ponselnya di dalam tas. Tertera nama Evelyn, asisten rumah tangga ibunya. Dahi Aurora mengernyit tidak biasanya Evelyn meneleponnya. Dia segera menjawabnya.
"Ada apa, Evelyn?"
"Nyonya Rosamaria jatuh di kamar mandi sekarang sudah dibawa ke rumah sakit Saint Bernard."
"Apa?!" serunya terkejut. Seketika Aurora menjadi panik. "Aku akan segera ke sana."
Aurora menutup sambungan teleponnya dan mengambil tasnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Vernon yang terlihat bingung melihat sang adik panik.
"Ibu jatuh di kamar mandi dan sekarang ada di rumah sakit," jawabnya.
Vernon ikut terkejut dan panik. "Tunggu apa lagi, kita pergi ke sana!"
Mereka berdua terburu-buru meninggalkan ruangan.
***
Di rumah sakit, Evelyn melambaikan tangan kepada Aurora dan Vernon yang baru saja tiba di depan ruang perawatan. Masih dengan napas tersengal-sengal, Aurora bertanya, "Bagaimana keadaan Ibu?"
"Kurang bagus. Nyonya terkena stroke."
Jantung Aurora seketika mencelos dan Vernon nampak sedih. Mereka berdua masuk dan melihat ibu mereka terbaring tak sadarkan diri. Tak dapat menahan kesedihannya, Aurora menangis dan Vernon memeluknya.
"Aku takut kehilangan Ibu."
"Ibu akan baik-baik saja." Vernon mengusap lembut punggung adiknya.
Aurora menguraikan pelukannya, lalu mendekati sang ibu dengan tatapan sedih. Ia membelai kepalanya.
"Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini, tapi sepertinya kita harus mengambil tawaran Henry. Kita sudah tidak memiliki uang lagi untuk biaya perawatan Ibu, jadi aku mohon padamu singkirkan egomu demi Ibu."
Aurora langsung berpaling ke arah kakaknya, tapi tidak menanggapinya hanya memandangi ibunya. Setetes air matanya terjatuh, dihapusnya dengan jari-jemarinya, lalu menghadap kakaknya.
"Aku akan menemui Henry."
Mata Vernon membelalak. "Sungguh?" tanyanya tidak percaya.
Aurora mengangguk. Kali ini dia akan mengorbankan harga dirinya demi sang ibu. Kalau bukan karena ibunya dia tidak akan pernah meminta bantuan mantan suaminya itu.
"Tolong jaga Ibu!"
Aurora mengambil tasnya yang ia letakkan di atas meja. Di dalam mobil, ia menarik napas dalam-dalam, kemudian menyalakan mesin mobil. Jantung Aurora berdetak lebih cepat seiring ia semakin mendekati tujuan menemui mantan suaminya. Ia meremas kuat-kuat setir mobil. Pikirannya seperti benang kusut yang tidak tahu lagi bagaimana mengurainya.
Sebuah gedung pencakar langit tepat di depannya. Aurora membelokkan mobilnya memasuki area gedung perkantoran tersebut. Wanita itu menyuruh seseorang untuk memarkirkan mobilnya dan langsung menemui Henry di kantornya. Sebelum masuk Aurora menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.
"Nyonya," seru sekretarisnya yang masih mengenalinya sebagai mantan istri bosnya.
"Henry ada di dalam?"
"Iya dia ada di dalam."
Aurora membuka pintu dan pandangan mata Henry lurus menatap wanita di depannya. Ruangan yang cukup luas terasa menyempit. Aurora merasakan tubuhnya menegang dan lidahnya kelu.
"Aurora?" Suara laki-laki itu pun terdengar berat dan terbata tidak kalah terkejut. Senyumannya mengembang di wajahnya yang tampan.
Aurora masih mematung. Suaranya masih tertahan di tenggorokan. Dua tahun pernikahannya dengan laki-laki itu berakhir dengan perceraian. Aurora menatap dengan sorot mata penuh amarah, kecewa, kesal, dan berbagai macam emosi yang membuat sekujur tubuhnya seakan dilumat kuat-kuat.
Aurora memperhatikan setiap detail lelaki itu. Lekuk senyumnya dihiasi rahang yang kuat. Henry Wilmington memang memiliki daya pikat yang kuat dengan hidung bertulang tinggi dan lekuk bibir yang seimbang. Tipe pekerja keras yang memiliki banyak obsesi dan menganggap sesuatu yang diinginkannya pasti menjadi miliknya. Bagi Aurora, hari-harinya dengan Henry tetap indah, meski tanpa ada tangis bayi di rumah mereka.
Kebahagiaan yang dirasakan Aurora ternyata tidak cukup dirasakannya. Henry lebih jarang memperhatikannya bukan karena lelaki itu berselingkuh, tapi selalu sibuk dengan pekerjaannya dan yang lebih parah Henry sampai melupakan hari pernikahan mereka. Itu tidak bisa dimaafkan olehnya, tapi laki-laki itu tidak pernah berusaha untuk meminta maaf.
Ternyata, Aurora memang benar-benar keliru melihat sosok suaminya selama ini. Ia dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa pernikahan mereka berada di sebuah persimpangan yang mengharuskannya mencari jalurnya sendiri. Hatinya terlanjur hancur dan harapan-harapan yang sudah dibangunnya menguap tanpa bersisa. Sakit dan nyeri merambati sekujur tubuhnya.
"Kenapa kamu diam di situ saja? Ayo mendekatlah!" pinta Henry.
Dengan ragu, Aurora berjalan mendekat.
"Aku senang akhirnya kamu mau datang ke sini menemuiku." Henry mengembangkan senyumannya.
Aurora berdeham. "Aku datang ke sini untuk...."
"Menerima tawaranku, bukan?"
"Iya," jawab Aurora dengan suara lirih.
Hati Henry bersorak senang. Rencananya berhasil. Ia menyandarkan punggungnya di kursi menatap mantan istrinya yang masih terlihat cantik seperti dulu, begitu menarik. Pinggangnya ramping, lekuk bibirnya yang tipis, dan aroma bunga begitu khas dari tubuhnya. Aurora tidak sama dengan wanita lain bukan tipe wanita yang rela menyenangkannya demi mendapatkan hal yang diinginkannya.
Kesalahan masa lalunya membuatnya kehilangan sosok Aurora dalam hidupnya. Sekarang ia hampir kehabisan akal mendapatkan Aurora lagi. Sejak bercerai darinya tidak pernah ia merasa begitu penasaran dan tergila-gila kepada seorang wanita yang membuatnya semakin tertantang memikirkan cara-cara yang mungkin bisa menaklukan hatinya lagi.
Henry ingin memilikinya lagi seperti dulu. Tidak ada wanita yang tidak bertekuk lutut kepadanya, karena ia mempunyai segala apa yang diinginkan wanita.
"Bagus. Akhirnya kamu mau menerima bantuanku juga, tapi sebelumnya ada syaratnya?"
Dahi Aurora mengernyit. Wanita itu sudah menduga Henry tidak akan mudah memberikan bantuan secara gratis.
"Apa syaratnya?"
"Aku ingin kita makan malam romantis."
"Baiklah." Aurora bernapas lega, karena lelaki itu tidak mengajukan persyaratan yang aneh-aneh.
"Sekarang kamu boleh pulang atau kembali ke kantormu nanti aku jemput. Atau kamu lebih suka menunggu di sini bersamaku?" Senyuman kecil tersungging di sudut bibir Henry.
"Lebih baik aku kembali ke kantorku saja."
Tanpa menunggu lagi, Aurora terburu-buru pergi dengan langkah-langkah lebar. Henry masih tersenyum saat memandangi punggung Aurora menghilang dibalik pintu.
***
Henry menjemput Aurora di kantornya dan senyuman lelaki itu kembali mengembang. Ia menjulurkan tangannya untuk meraih tangan Aurora. Wanita itu tidak protes saat Henry mengenggam tangannya, karena kalah dengan debaran jantungnya dan sempat melirik laki-laki itu sambil berjalan masuk ke mobil.
"Bagaimana dengan mobilku?"
"Aku akan menyuruh seseorang untuk mengambilkan mobilmu dan diantarkan ke rumahmu." Henry berkata tanpa mengalihkan perhatian pada jalanan di depan.
Akhirnya mereka tiba di sebuah villa dekat pantai setelah melakukan perjalanan kurang dari dua puluh menit. Henry turun terlebih dahulu dan membukakan pintu penumpang untuk Aurora.
"Kenapa kamu membawaku ke tempat ini?" protes Aurora. "Bukannya kita akan malam di restoran?"
"Aku kan tidak bilang akan malam di restoran. Kita akan makan malam di villa ini."
"Aku pulang saja." Bola mata Aurora berkilat menahan kekesalan.
Henry berhasil mengejarnya dan meraih sikunya.
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja. Ingat kamu sudah berjanji akan makan malam bersamaku malam ini untuk memenuhi syarat atas bantuanku." Henry kembali mengingatkan.
Aurora dengan perasaan kesal melepaskan sikunya dari tangan Henry. "Baiklah."
"Nah begitu, ayo!"
Rasa kesal di hati Aurora masih belum juga hilang dan dengan terpaksa ia mengikuti Henry masuk ke dalam villa. Mereka menuju halaman belakang yang pemandangannya ke pantai langsung. Di sana sudah disiapkan makan malam untuk mereka berdua yang dipenuhi oleh lilin-lilin yang menyala. Henry sangat puas dengan dekorasinya dan malam ini alam pun sangat bersahabat. Sejauh pandangan mata tajamnya, langit yang menaungi pantai berpasir putih ini begitu jernih bertaburan bintang memberikan harmoni tersendiri di gelapnya langit malam.
Sejenak Aurora merasa takjub dengan suasana makan malam yang disiapkan oleh Henry, tapi Aurora berpura-pura tidak terkesan dengan usaha mantan suaminya itu.
Henry mendorongkan kursi untuk Aurora dan menyuruhnya duduk. Lelaki itu menuangkan wine ke dalam masing-masing gelas mereka. Aurora duduk dengan gelisah, pikirannya benar-benar tak bisa berkonsentrasi saat berdekatan dengan lelaki itu.
Setelah selesai makan, Aurora menangih janji bantuan Henry. "Jadi apa kamu mau berinvestasi di perusahaan keluargaku?"
"Ya tentu saja. Apa yang kamu inginkan akan kupenuhi."
Henry seketika terpana. Ekspresi Aurora tampak begitu menggairahkan. Ditingkahi cahaya remang-remang dengan bibir basah setengah terbuka. Akhirnya Henry menyerah. Ia mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya sehingga jaraknya hanya sejengkal membuat Aurora tersentak kaget. Hembusan hangat napasnya membelai wajah Aurora.
"Apa kamu mau berdansa denganku?" Henry berdiri dan mengulurkan tangannya. Ragu-ragu Aurora menyambutnya dan meletakkan telapak tangannya yang dingin dan gemetar. Entah hanya perasaannya saja atau bukan, karena tangannya merasakan genggaman Henry begitu erat yang menularkan perasaan hangat yang segera menjalari seluruh tubuhnya.
"Malam ini kamu sangat cantik." Suara Henry terdengar serak.
Wajah Aurora merona mendengar pujian itu, membuat wanita itu tampak begitu menggemaskan di mata Henry. Mereka pun terdiam, menyelaraskan langkah dengan alunan musik. Tanpa bisa dicegah, suhu di antara mereka berdua meningkat menciptakan atmosfer sensual yang terasa kental di udara. Hati Henry semakin tertawan melebihi perasaannya pada Aurora dua tahun lalu dan hasratnya kembali terbangkitkan dengan kedekatan mereka saat ini.
Aurora pun tak kalah gugupnya. Ini kedekatan mereka yang pertama kali sejak mereka berpisah dan bahkan Henry tampak lebih menawan dengan kematangannya. Sementara alunan musik semakin melambat temponya, berbanding terbalik dengan aliran darah dan denyut jantung Aurora yang meningkat drastis.
Aurora menghirup udara sebanyak yang ia mampu. Namun, itu justru memperburuk kendali dirinya, karena sekarang indra penciumannya dikuasai sepenuhnya oleh aroma maskulin lelaki yang mendekapnya erat.
Aurora serasa melayang. Kombinasi kehangatan tubuh Henry yang merapat erat dengan dirinya ditambah keharuman pria matang yang sepenuhnya bergairah yang terbukti dari tumbukan hangat dari balik kain yang menempel erat di perut Aurora, benar-benar melenakannya dan tanpa sadar Aurora merapatkan diri dalam dekapan Henry.
"Aku merindukanmu." Henry berkata dengan lirih, membelai lembut daun telinga Aurora dengan aroma after shave.
Belum sempat Aurora berkata-kata ternyata tubuhnya mempunyai bahasanya sendiri. Bibirnya mendesah ketika tangan besar Henry berkelana di sepanjang kulit punggungnya yang terbuka. Panasnya begitu nyata, membangkitkan gelenyar yang tidak asing di sekujur tubuhnya.
Dengan wajah merona, Aurora mendongak dan mendapati sepasang mata yang dengan serta merta memenjarakan miliknya, memasung pandangannya dengan tatapan misterius sekaligus penuh gairah menyala-nyala.
"Aku senang kita bisa bersama lagi malam ini."
Suaranya yang penuh kerinduan membawa bibir Henry ingin menciumnya. Sementara tangannya masih menjelajah setiap lekuk tubuh Aurora, merasakan kefeminimannya.
Aurora terhenyak dan hampir menjerit ketika Henry telah mengangkatnya dan menggendongnya. Aurora mengalungkan kedua lengannya di leher lelaki itu. Ia pun merapatkan tubuh lebih erat dalam dekapannya, menyandarkan kepalanya di dada laki-laki itu, mendengarkan dengan seksama detak jantung Henry dan helaan napasnya.
Henry sengaja menghempaskan mereka berdua ke tempat tidur dan sekarang Aurora terperangkap di bawah tubuh besar Henry yang kini menatapnya penuh hasrat.
Pandangan mereka berdua terkunci satu sama lain. Bukan rasa takut yang dirasakan Aurora dalam menghadapi cengkeraman Henry, melainkan lebih pada perasaan terpesona pada wujud keindahan yang memanjakan pandangannya.
Wajah Henry bergerak mendekati wajahnya menghilangkan jarak. Kali ini hidung mancungnya berkelana di sepanjang kulit leher Aurora yang terbuka. Tangan besarnya mulai menjelajahi tubuh wanita itu, mengelus naik turun di kedua sisi pinggangnya.
Wajah Henry yang semakin gelap dan keruh, mencengkeram kedua tangannya, membelenggu keduanya di atas kepalanya dengan tangannya yang kokoh dan besar. Sementara bibirnya semakin rakus menjelajah, melumat, mengecup, dan mengigit setiap bagian yang mampu diraihnya tidak memberikan ruang untuknya bersuara bahkan untuk bernapas dan tanpa ampun Henry memenjarakan bibir Aurora.