Zahara POV:
"Jangan pernah berpikir aku akan membiarkanmu berhasil," Astrid mengulang, suaranya dipenuhi kebencian. "Kau pikir dengan melahirkan anak ini, kau akan mendapatkan Ardy sepenuhnya? Mimpi saja!"
Aku terisak. "Aku tidak peduli dengan Ardy... Aku hanya ingin bayiku selamat... Astrid, tolong, aku mohon, bawa aku ke rumah sakit!"
"Oh, tentu saja," dia mendengus. "Lalu kau bisa berakting lemah di hadapan Ardy, dan membuat dia mengasihanimu? Tidak semudah itu, Zahara."
Aku mendengar suara ponsel di tangannya. Dia sedang berbicara dengan seseorang. Aku bisa mendengar suaranya yang lebih lembut, lebih tenang.
"Ardy? Ya, aku tahu. Dia sudah bangun. Tidak, dia baik-baik saja. Hanya sedikit mengeluh." Suaranya terdengar meyakinkan, seolah semuanya terkendali.
Aku mencoba untuk tenang, mendengarkan percakapan itu.
"Dia bilang dia kesakitan? Ah, itu biasa. Wanita memang dramatis saat hamil, kan? Aku sudah memberinya teh hangat dan selimut tebal. Dia akan baik-baik saja."
Air mataku terus mengalir. Bagaimana dia bisa begitu kejam? Bagaimana dia bisa berbohong seperti itu?
"Astrid..." bisikku, berusaha menarik perhatiannya.
Dia mengabaikanku. "Tidak perlu khawatir, Ardy. Aku akan memastikan dia tidak melakukan hal aneh. Ini perintahmu, kan? Untuk menjaganya agar tidak lari."
Dia tertawa kecil. "Ya, aku tahu. Dia tidak akan bisa kemana-mana. Aku sudah menutup semua jendela dan mengunci pintu dari luar. Bahkan semut pun tidak bisa lewat."
Rasa sakit itu datang lagi, lebih intens. Aku menggigit bibirku, berusaha menahan jeritan. Tubuhku gemetaran tak terkendali.
"Astrid," aku memanggil lagi, suaraku hampir tidak terdengar.
"Sstt!" dia mendesis. "Diam! Ardy sedang menelepon!"
Aku mendengar suara Ardy di telepon. Suaranya terdengar lelah, tapi ada nada kelembutan yang tidak kukenali.
"Astrid, apa yang terjadi? Aku dengar ada keributan di sana."
Harapan kecil muncul di dadaku. Ardy. Mungkin dia akan menyelamatkanku. Mungkin dia tidak sekejam Astrid.
"Ardy! Aku di sini! Aku akan melahirkan! Tolong aku!" teriakku, mengumpulkan semua sisa tenagaku.
Suara Ardy terdiam sesaat. Lalu, aku mendengar Kamila di latar belakang, suaranya manja.
"Sayang, kenapa kau begitu khawatir? Aku di sini, menemanimu. Jangan pedulikan wanita licik itu. Dia hanya ingin menarik perhatianmu."
Aku merasakan darahku mendidih. Kamila. Dia ada di sana. Dia sedang bersamanya.
Ardy menghela napas. "Baiklah, Astrid. Pastikan dia tidak membuat masalah. Aku tidak ingin dia mengganggu Kamila."
Jantungku hancur. Dia tidak peduli. Dia sama sekali tidak peduli padaku.
"Ardy, aku mohon! Bayiku!"
"Astrid," suara Ardy terdengar lebih tegas. "Jangan biarkan dia berteriak lagi. Dia hanya ingin menarik perhatian. Aku tahu dia licik."
"Tapi Ardy, dia benar-benar terlihat kesakitan," Astrid terdengar ragu. "Mungkin kita harus membawanya ke rumah sakit?"
Ada keheningan singkat. Aku bisa mendengar napas Ardy. Ada secercah harapan.
"Sayang, jangan dengarkan Astrid," suara Kamila terdengar lagi, manis tapi mematikan. "Dia hanya ingin membuatmu merasa bersalah. Ingat, aku juga pernah merasakan sakit kontraksi palsu. Wanita hamil memang suka mendramatisir."
Aku mengepalkan tinjuku. Dia bohong. Dia tidak pernah hamil.
"Kamila benar," suara Ardy tiba-tiba menjadi dingin dan tajam. "Dia hanya akting. Jangan sampai kau tertipu, Astrid. Kau tahu dia haus perhatian. Dia hanya ingin membuatku merasa bersalah."
"Tapi, Ardy..." Astrid mencoba membantah.
"Tidak ada tapi!" Ardy membentak. "Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Biarkan dia di sana. Jangan berikan dia apapun, bahkan air sekalipun. Dia harus belajar. Kalau dia memang akan melahirkan, biarkan dia melahirkan di sana. Aku sudah memberinya kesempatan."
Jantungku berdetak kencang, lalu berhenti. Aku tidak bisa bernapas. Dia... dia membiarkanku mati?
"Mengerti?" Ardy berkata lagi. "Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan menghukummu."
"Ya, Ardy," suara Astrid terdengar pasrah. "Aku mengerti."
Panggilan terputus.
Astrid menatapku dengan mata penuh kemarahan. "Kau dengar itu, Zahara? Ardy tidak akan tertipu lagi oleh trik murahanmu."
Dia berjalan ke sudut gudang, lalu aku mendengar suara geraman. Sebuah anjing Doberman hitam besar muncul dari balik tumpukan karung. Mata merahnya memancarkan kebuasan.
"Sekarang, mari kita lihat seberapa tangguh dirimu," Astrid menyeringai.
Zahara POV:
"Sekarang, mari kita lihat seberapa tangguh dirimu," Astrid menyeringai, matanya berkilat jahat. "Ardy marah karena kau, Zahara. Karena kau, aku dimarahi. Sekarang, kau akan membayar untuk itu."
Dia menunjuk ke arahku. "Serang dia, Max! Jangan biarkan dia berteriak lagi!"
Anjing Doberman itu, Max, menggeram rendah. Suara geramannya membuat bulu kudukku berdiri. Dia melangkah maju, kakinya yang besar menghentak lantai semen dengan suara berat. Aku bisa mendengar napas beratnya, mencium bau anjing yang kuat.
Aku mencoba merangkak mundur, tapi rasa sakit di perutku semakin parah. Max melompat, kakinya yang besar menekan dadaku. Aku menjerit, rasa sakit dan ketakutan membanjiri diriku.
Di dalam perutku, bayiku menendang dengan panik, seolah ikut merasakan ancaman yang datang. Aku mencoba mendorong Max, tapi dia terlalu kuat. Cengkeramannya di dadaku membuatku sulit bernapas.
Tiba-tiba, dia menggigit tanganku. Aku menjerit lagi, rasa sakit yang menusuk membuatku meronta. Darah mengalir dari luka gigitan di tanganku, membasahi lantai.
Aku tergeletak tak berdaya di lantai yang dingin, tangan dan kakiku gemetar. Max masih menggeram di atasku, napasnya yang panas menerpa wajahku. Aku menangis, air mataku mengalir tanpa suara.
Kesadaranku mulai memudar. Aku merasa seperti melayang, kematian terasa begitu dekat. Apakah ini akhirnya? Apakah aku akan mati di sini, bersama bayiku?
Lalu, kulihat Astrid lagi. Dia menarik Max menjauh dariku.
"Zahara? Kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya sedikit ragu.
Aku tidak bisa menjawab. Tubuhku terlalu lemah, suaraku terlalu pilu. Dia mendekat, wajahnya samar dalam kegelapan gudang.
Dia mengangkat kepalaku dengan kasar. "Hei, lihat aku! Jangan pura-pura mati! Aku tahu kau masih hidup!"
Dia mendengus meremehkan, lalu membanting kepalaku kembali ke lantai. Tulang belakangku berdenyut sakit.
"Kenapa kau tidak berteriak lagi? Kau biasanya sangat pandai mendramatisir, kan?" Matanya dipenuhi rasa jijik. "Kau pikir aku akan percaya kau sudah mati? Jangan harap!"
Dia menyentuh bulu Max, lalu menarik tangannya dengan terkejut. "Apa ini?"
Dia menyalakan senter di ponselnya, mengarahkannya ke tubuh Max. Darah. Ada darah di bulu anjingnya. Dia menatapku.
"Kau melukai Max?!" teriaknya, sebelum aku sempat menjelaskan. Kakinya melayang, menendang perutku.
Aku menjerit lagi, rasa sakit itu tak tertahankan.
"Dasar jalang! Beraninya kau melukai anjingku?! Max lebih berharga daripada dirimu! Kau akan membayar untuk ini!"
Dia terengah-engah, matanya berkobar marah. "Aku akan meminta Ardy menceraikanmu! Dan anakmu itu, anak harammu itu, tidak akan pernah mendapatkan sepeser pun dari kami!"
"Kau berpikir kau bisa melahirkan lebih dulu dariku? Kau pikir itu akan membuat Ardy kembali padamu? Kau gila!"
Dia berbalik dengan marah, lalu menutup jendela kecil yang tadi terbuka sedikit.
Gudang itu menjadi gelap total, udaranya pengap. Aku mulai terengah-engah lagi, kekurangan oksigen. Tubuhku gemetaran tak terkendali.
Dalam kegelapan, aku mulai berhalusinasi. Kudengar suara tangisan bayi.
Ibu... ibu... tolong aku...
Aku menangis histeris. "Bayiku! Bayiku!"
Aku membayangkan bisa memeluk bayiku, menciumnya, merasakan kehangatan tubuhnya. Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Harapan itu terlalu jauh.
Mengapa nasibku begitu kejam? Mengapa aku harus kehilangan segalanya?
Aku membelai perutku yang semakin sakit. Air mata membasahi wajahku.
"Maafkan Ibu, Nak," bisikku. "Ibu tidak bisa melindungimu. Semoga di kehidupan selanjutnya, kita bisa bertemu lagi. Ibu akan menjagamu."
Napas terakhirku terasa begitu berat. Aku merasakan hidupku perlahan-lahan meninggalkan tubuhku.